Kamis, 31 Desember 2009

-65- Menit Yang Terbuang

"Demi masa, sesunguhnya manusia kerugian, melainkan yang beriman dan yang beramal saleh." Begitulah syair lagu Raihan yang aku ingat. Kumpulan aksara penyusun syair tersebut serasa melayang2 dalam otakku, menambah rasa kesal yang memang sudah bercokol sedari tadi.

Aku duduk di sana, pada sebuah kursi biru di sebuah bank. Diam, menunggu seseorang yang harus datang menjemput suatu benda dariku. Ahh, semakin kacau balau saja kata2ku. Dalam kebosanan kucoba merangkai beberapa patah kata. Aku berpikir, jika sampai kumpulan kata asal2an tersebut berhasil kuposting pada blogku, tak terbayang sudah berapa banyak menit yang kubuang untuk sekedar menunggu.

Sepuluh, dua puluh, tiga puluh menit berlalu sudah. Terbayang2 beberapa laporan yang bisa kuselesaikan dalam waktu selama itu. Huh, kesalku menjadi2. Buang2 waktu. Tidak tahukah dia bahwa pekerjaan2ku sudah mulai melancarkan aksi teror.

Aku terus menunduk, mengetuk2kan stylus pada layar sekian inchi ini, tak peduli pada beberapa orang yang sedang bertransaksi. Aku bertransaksi dengan diriku sendiri, menghitung2 sisa waktu di hari ini, masih bisakah menyelesaikan beberapa target. Arrgh, kenapa pada saat2 seperti ini menit2 terasa begitu cepat berlalu.

Terpekur kulihat seorang bapak yang sudah sangat renta. Mata dan telinganya sudah tidak berfungsi dengan sempurna. Mungkin kelak pun aku begitu. Berapa banyak waktuku yang terbuang untuk sekedar menunggu, sampai usiaku setua itu. Menunggu, menunggu apapun.

Lalu kuterdiam. Aku kesal karena waktuku terbuang percuma saat menunggu seseorang. Apakah Allah juga kesal ketika aku lebih suka membuang menit2ku untuk nonton film daripada tilawah?!

Minggu, 27 Desember 2009

-64- Memori Si Kecil

"Neneknya Yori yang di sana kan rumahnya gede, Yuk. Ada kolam renangnya. Yori kan dikasih laptop dan PS gitu kalo Yori ke sana.", cucunya ibu kostku terus bercerita. Kalau kuhitung2, sudah sekitar lima belas menit pita suaranya tak jua berhenti bergetar.
"Terus mana laptopnya Yori, kenapa gak dibawa kesini aja?", aku menimpali.
"Gak boleh dibawa, cuma buat di sana aja. Pokoknya kalo Yori ke sana apa yang Yori mau pasti dikasih, minta dibeliin apa aja pasti boleh. Di sana juga ada pembantu.", dia bicara lagi tanpa terlihat berminat break barang sebentar saja.
"Iya?", aku mulai bosan.
"Iya, neneknya Yori kan yang punya bank yang gede itu loh, bla... bla..."

Di lain kesempatan Yori akan bertanya, "Ayuk pernah ke Bandung? Yori di Bandung makan strawberi sepuasnya, uwaknya Yori kan punya kebun stroberi, bla bla bla". Atau, "Ayuk, teman2 Yori yang cowok2 kan banyak yang naksir sama Yori, bla bla". Dan masih banyak obrolan lain yang terlalu rumit diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.

Huff, gila... rasanya aku tak ingin percaya bahwa ternyata aku kesal pada anak itu. Penting gak sih cerita A, B, C gak jelas kayak gitu, aku membatin. Pikiran tidak normalku ingin mengeluarkan sanggahan2 yang aku yakin dapat dengan mudah mematahkan semangatnya bercerita (yang tidak jarang membual). Tapi alhamdulillah Ya Allah, aku masih waras. Aku masih waras dan benar2 sadar bahwa yang sedang berada di hadapanku, menghalangi siaran berita yang sangat ingin aku tonton, hanyalah seorang anak kelas 4 SD.

###

Waktu itu aku sedang membereskan kamar, mengumpulkan barang2 dan mengelompokkan sesuai jenisnya. Hmm, ternyata selama ini aku tidak sadar bahwa koleksi alat tulisku sudah bejibun. Resiko bekerja dengan data. Oke, kubuat satu paket berisi pensil, pulpen, penghapus dan rautan. Rencananya paket itu akan kuberikan pada Yori. Lalu kubuka pintu kamar sambil memanggil, "Yooooo....". Uupsss, aku berhenti di pintu kamar tanpa menyelesaikan panggilanku.

Yori sedang bermain bekel bersama dua teman sebayanya yang juga masih familinya ibu kost dan kukenal dengan baik. Aku bengong dan bingung. Di sela2 kebengonganku, aku berpikir, apakah lebih baik tidak jadi saja paket itu kuberikan? Atau haruskah kuteruskan saja niatku untuk memberikan paket itu pada Yori? Trus, yang 2 anak lagi gimana? Ahh, bodo amat, mereka kan gak tinggal di sini, yang tinggal di sini kan cuma Yori, jadi wajar aja kalo aku cuma ngasih dia aja.

Namun tanpa sadar kebengongan yang hanya beberapa detik itu telah membawaku untuk menggali kembali memori belasan tahun yang lalu. Dulu, ketika tanteku bertandang ke rumah, aku melihat beliau memberikan sebuah buku telpon magnet kepada kakakku. Aku iri setengah mati. Kenapa cuma kakakku saja yang diberi dan aku enggak? Tante pilih kasih. Lain waktu aku mendapati uwak memberi sebuah gelang tembaga yang cantik kepada kakak perempuanku. Sumpah, aku benar2 iri. Kenapa aku gak diberi? Aku benci orang2 dewasa yang suka pilih kasih. Aku yang saat itu masih SD benar2 kesal. It's not fair. Mereka lebih sayang kakakku daripada aku.

Hmm, semua itu memang hanya pikiran anak2 pada masa pertumbuhannya. Dia tidak tahu bahwa mungkin tante hanya punya satu buku telpon untuk diberikan pada yang lebih memerlukannya. Dia tidak tahu bahwa sebenarnya uwak punya satu gelang lagi yang lupa dibawa. sekarang anak itu tidak lagi punya pikiran childish seperti itu, tapi aku sangat yakin seyakin2nya bahwa tante dan uwakku tidak pernah mengingat kejadian tersebut. Kejadian yang saat itu ternyata sanggup membuat seorang anak sakit hati. Kejadian yang masuk ke dalam memori masa kanak2nya, dan terus mengendap di sana sampai anak itu berusia 24 tahun seperti sekarang.

Begitulah wujud ciptaan Allah, memori si kecil dirancang sangat kuat. Itulah kenapa menghapal Al Quran paling baik dilakukan sedari kecil, karena hapalan2 di masa kecilnya itulah yang akan dibawa sang anak sampai dewasa. Pun setiap rekaman kejadian yang dialami pada masa itu.

Aku kembali ke kamar. Harus bisa kubuat dua paket alat tulis lagi, begitu batinku. Untunglah alat tulis alat tulis itu jumlahnya masih cukup. Setelah jumlah paket sudah pas, baru paket2 itu kuberikan pada ketiga anak yang sedang bermain bekel tadi. Aku bahagia. Alhamdulillah Ya Allah, tak Kau biarkan aku menyakiti hati anak2 itu dan membuat mereka mengingatku sebagai orang dewasa yang pilih kasih.

###

Suatu sore ibu kost teriak2 kencang menyuruh cucunya mandi. "Yoriiiiiii, buruan mandi, dah sore!!!". Yori menimpali tak kalah kencangnya, "Entar aja Yori mandinyaaa." Aku terganggu. Anak ini memang tingkat perlawanannya terhadap orangtua tergolong sangat tinggi. Lalu dengan kalem aku bilang, "Mandilah Yori, udah sore, sebentar lagi magrib loh." Dan dia tak pernah kehilangan jawaban, "Gpp, Yori mandinya ntar malem aja. Ayuk juga kan mandinya malem..." Yaksss $$*&$#$@**#

Ampuni aku Ya Allah. Belum juga aku menjadi ibu. Pantas saja belum kau izinkan aku menikah. Karena untuk dakwah dalam lingkup sekecil ini pun ternyata aku tak becus.

Selasa, 22 Desember 2009

-63- Mother's Day 09

Sejak TK sampai kelas 3 SD, perempuan itu sekolah di Santa Agnes. Kelas 4 pindah ke madrasah yang terletak di dekat rumah. Waktu itu beliau belum bisa baca Quran, kenal huruf arab pun tidak. Tapi lucunya, beliau ikut lomba baca Quran (ayat2 pendek) dan menang. Hehe, katanya itu cuma karena dah hapal suratnya aja. Jurinya gak liat sih bahwa yang dibaca dan yang ditunjuk itu sebenarnya beda :).

Ketika duduk di kelas 3 SMA, perempuan itu sudah mulai mengajar di madrasah. Setelah lulus SMA juga masih ngajar kurang lebih 1 tahun. Kalo denger ceritanya, waktu itu jadul banget. Cewe2 pake pakaian yang atasannya kebaya dan bawahannya kain. Trus kemana2 naik sepeda. Wah, persis seperti gambaran yg ada di film2 lawas.

Setelah 1 tahun lulus SMA, beliau lanjut ke PGSLP. Menjalani pendidikan sebentar lalu diangkat menjadi guru SMP golongan IIa dengan gaji Rp.16.000,-. Dan sampai sekarang beliau tetap menjadi guru SMP bidang studi Matematika dengan masa kerja 30 tahun, dah dapet satya lencana malahan. Wow, perempuan itu memang berjiwa pengajar, makanya hepi2 aja ngajar, gak minat pusing untuk naik jabatan, jadi kepala sekolah misalnya.

Perempuan itu, perempuan yang paling kusayang sepanjang hidupku. Perempuan yang ikut berjilbab setelah terlebih dahulu kakakku dan aku memutuskan untuk berjilbab. Perempuan yg penuh semangat membaca buku Fiqih Wanita yg kubawakan, buku yang aku sendiri belum mengkhatamkannya. Perempuan yang rajin shaum sunnah dan shalat malam untuk mendoakan anak2nya. Perempuan yg hampir berusia 52 tahun namun tetap penuh ghiroh. Perempuan sederhana yang gak neko2, berperasaan halus dan tak pernah menuntut. Perempuan yg cenderung lebih mudah dinego dan diajak kompromi. Perempuan yang tak pernah sekalipun kudengar nada suaranya meninggi ketika bicara dengan suaminya.

Perempuan itu, perempuan yang ketika menyapu lantai tak pernah melewatkan seinci pun kolong tempat tidur untuk disapu. Perempuan yang tdk terlalu bisa protes dan membantah. Perempuan yang selalu repot bikin kue lebaran untuk tamu anak2nya. Perempuan yang rajin meramaikan rumah dengan tilawahnya. Perempuan yang tdk mendorong2 suaminya untuk menjadi pejabat. Perempuan yang hampir setiap hari meneleponku, sekedar bertanya, "Dwi lagi ngapain, sudah makan belum, tadi kemana aja?".

Perempuan itu, perempuan yang menyetrika rok SD-ku dengan sangat teliti, sampai2 banyak yg heran, bagaimana mungkin rokku terplisket dengan sempurna. Perempuan yang repot memikirkan kebaya wisudaku padahal aku sendiri cuek bebek. Perempuan yang sibuk mendorongku pake tas cewek dan bukan ransel. Perempuan yang gak suka ngerumpi sebagaimana ibu2 pada umumnya. Perempuan yang gak pernah minta dibeliin ini itu kepada anak2nya. Perempuan yg lebih suka naik ojek cewek klo dari pasar. Perempuan yang selalu setia mendengarkan cerita2ku yang gak penting. Perempuan yang gak suka pake jilbab pendek. Perempuan yang ingin selalu kupeluk dan ingin selalu kulihat binar indah matanya. Perempuan yang aku tak rela ia tersakiti secuil apapun. She is my mom, my beloved one.

Sungguh, ribuan kata dan cerita tak kan mampu menggambarkan sempurnamu di mataku. Sungguh, rangkaian aksara tak bertepi tak kan pernah sanggup mengukur betapa besar cintaku padamu. Kuucapkan selamat hari ibu buat ibuk. You are my heaven, oh my dearest mother... ^_^

Selasa, 01 Desember 2009

-62- Kucing-Kucing Durhaka

Di rumahku sering berkeliaran makhluk2 kecil berkaki 4. Habitatnya di luar rumah, tapi ketika tuan rumah lengah, mereka akan beringsut mengamankan diri menuju ke dalam, mencari sudut2 untuk bersembunyi. Tak menemukan sudut, mereka mengintai lemari. Abnormal.

Ada 4 ekor kucing yang biasa kulihat di rumah. Yang paling tua adalah seekor induk kucing bernama Hinata. Warnanya abstrak campuran hitam, kuning dan sedikit putih. Tubuhnya kecil, tipe2 pengalah dan sepertinya selalu senang hati untuk dizolimi.

Tiga ekor kucing lainnya adalah kucing jantan yang durhaka. Yang paling tua bernama Item. Warnanya dominan putih dengan sedikit motif hitam. Item adalah anak generasi pertama dari Hinata. Dulu ibuku sempat protes kenapa kucing putih dinamai Item, tapi karena waktu itu masih ada seekor kucing lagi bernama Putih, akhirnya ibu acc deh, hehe. Oiya, meskipun Item adl anak dari Hinata, tampangnya sudah seperti kakek kucing, kumal dan tua. Kerjaannya berantem melulu sih. Dan Item ini adalah kucing durhaka yg pertama. Kebiasaannya merebut makanan induknya, meskipun makanan itu sudah berada di mulut Hinata. Ck ck ck, Hinata pun bersukacita dizolimi seperti itu.

Dua ekor kucing jantan berikutnya adalah anaknya Hinata generasi ketiga. Warnanya didominasi putih dengan sedikit aksen kuning kecoklatan. Nama mereka gak jelas. Meskipun dulu adikku menamai mereka Vini dan Vidi, toh sekarang aku lebih suka memanggil mereka Anak Hinata. Nah, 2 terakhir ini adalah yg paling durhaka. Selain suka menggeram dan merampas makanan induknya, kucing2 yg sudah remaja ini pun masih menyusu pada Hinata, padahal Hinata baru saja melahirkan lagi. Benar2 kucing durhaka, morotin gizi induknya. Gak malu sama badan yg nyaris 2x badan induknya. Tapi anehnya, Hinata lagi2 ikhlas dizolimi. Wah wah...

Sambil menunggu roda 4 yg kan membawaku menuju provinsi sebelah, selesai sudah cerita gak penting tentang makhluk berkaki 4 ini. Makhluk2 yg lucu meskipun penganut kebiasaan incest :)

*from my P1i

Minggu, 22 November 2009

-61- 24 Years Old So Far

Apa istimewanya sebuah tanggal lahir? Sering otakku menjawab, ahh... sekedar tanggal yang harus dicantumkan setiap kali aku mengisi biodata standar. Benarkah cuma itu Wee? Benarkah tak ada hal yang istimewa? Jika memang begitu adanya, maka sebenarnya apa yang sedang kau harapkan pada tanggal itu? Tanggal yang hanya berlangsung 24 jam saja dalam setahun.

Baiklah, kuakui aku sedang membohongi diri sendiri. Kenyataannya aku adalah perempuan. Makhluk yang mau tidak mau telah lebih banyak menggunakan rasa dalam mengukur sesuatu. Kenyataannya aku bahkan tak pernah lupa jika kalender sudah menunjukkan tanggal 22 November, tanggal yang menandakan bertambahnya nominal usiaku. Tanggal yang menyedihkan. Yang akan membuatku terluka jika tak ada ucapan Selamat Ulang Tahun yang sempat mampir.

Hari ini lagi2 nominal umurku bertambah. Dua puluh empat tahun. Rela atau tidak rela harus kuakui bahwa usiaku menunjukkan bahwa aku adalah seorang perempuan dewasa, bukan ABG atau anak kemarin sore yang masih bertahan dengan prinsip sok lugu (lucu lucu dungu :D). Bukan remaja yang ketawa ketiwi di jalanan menikmati hidup di bawah tiang finansial orang tua. Bukan mahasiswa yang hendak bermain cinta di sela2 jadwal kuliah. I am an adult woman and I should live with it’s properties.

Dua puluh empat tahun, bilangan yang terlihat mengerikan di mataku. Ibarat tengah menyusuri lorong panjang yang terbentang kegelapan di hadapannya. Aku tak bisa melihat ke depan, hanya ke belakang yang aku bisa. Aku bisa melihat apa saja yang telah aku lewati tanpa aku bisa kembali untuk memunguti benda2 yang berceceran. Aku berbalik, menoleh ke belakang, lalu aku terbelalak. Ternyata lorong yang telah kulalui itu sangat panjang dan berliku. Entah berapa banyak harta benda yang tak sempat kupunguti selama aku melewatinya. Lalu aku menggigil, ngeri membayangkan sebuah pertanyaan, "Sudah kau apakan saja 24 tahun hidupmu itu?"

Empat tahun yang lalu masih kujalani hari2 dengan status mahasiswa tercetak pada KTP-ku. Delapan tahun yang lalu seragam putih abu2 masih menghiasi hari2 indahku. Sepuluh tahun yang lalu aku masih mengenakan dasi silang sebagai pelengkap kostum putih biru itu. Tiga belas tahun yang lalu aku tergila2 dengan cerita Merpati Putih-nya Enyd Blyton. Dan lima belas tahun yang lalu setiap Kamis siang aku masih setia menunggu terdengarnya lonceng sepeda Bapak Tukang Majalah yang membawakan majalah Bobo kesayanganku, berebut dengan kakak dan adikku untuk menjadi orang pertama yang membaca majalah itu. Semuanya berlangsung bertahun2 yang lalu. Bertahun2 yang seolah2 baru berlangsung kemarin saja.

Tahun ini adalah tahun ke sembilan sejak pergantian milenium yang dulu gemanya sangat hebat. Dan di tahun ini usiaku bertambah, tepat di hari ini, Minggu 22 November 2009. Selamat Ulang Tahun, Wee. Jatah hidupmu telah berkurang sebanyak 24 tahun, namun engkau tak dapat menghitung sisanya. Tinggalkan saja kemarinmu dan beranjaklah menuju esokmu...

Minggu, 01 November 2009

-60- Packaging itu PERLU – Sebuah Coretan Masa Lalu

Adalah sebuah artikel yang diceritakan oleh seorang teman. Judulnya... entahlah aku sedikit lupa. Yang jelas, artikel itu ditulis oleh seorang ikhwan. Isinya menyatakan bahwa dari sekian banyak perbincangan dengan teman-temannya sesama ikhwan, sebagian besar (bahkan hampir keseluruhan) pengen punya istri cantik. Yah, intinya yang enak dipandang mata lah. Lalu, aku dan temanku tadi membahas isi artikel itu.

Adalah seorang temanku yang notabene akhwat. Kata orang-orang seh, "akhwat tingkat tinggi". Hmm, jujur saja aku gak suka dengan klasifikasi seperti itu. Si akhwat ini menurutku kadang-kadang terlalu negative thinking. Dia bilang, semua cowo, bahkan yang labelnya ikhwan sekalipun, kalo ngeliat cewe pasti phisically banget. Akhirnya, lumayan lama juga waktuku habis buat ngebahas hal ini dan ngedengerin argumen-argumennya.

Suatu waktu, iseng mengisi waktu sambil memenuhi hobi browsing, aku chat dengan seseorang yang katanya seh ikhwan. Waktu itu kita join di suatu room islam. Baru sebentar chat, eh... tuh cowo atau ikhwan atau apalah namanya, langsung nanya gini: "Kamu cantik dan seksi gak?" Aku agak sedikit bingung dan ilfil dengan pertanyaan to the point seperti itu. Lalu aku jawab: "Ngapain loe pake nanya2 gw cantik n seksi segala gak?" Dia menjawab: "Yah, aku pengen punya cewe cantik n seksi supaya gak selingkuh sampai setelah nikah nanti." GUBRAKSSSS

Dari ketiga skenario di atas, sekarang aku ingin membahas mengenai 'penampilan', atau kalo untuk barang tuh disebut... 'packaging' kali ye. Eh, skenario sama bahasannya nyambung gak ya!? Asumsikan saja IYA.

Kesimpulan sementara adalah... kebanyakan cewe beranggapan bahwa pada umumnya cowo menyukai cewe yang packagingnya bagus, dan sebagian besar cowo memang membuat anggapan para cewe tersebut benar. Nah, yang akan aku bahas adalah lebih ke sisi cewe (secara... gw kan cewe, uups!). But, ini cuma pendapatku, alias menurutku. Mungkin gak semua cewe setuju dengan pernyataan ini. Atau bahkan, cowo pun bisa jadi tidak setuju. Whatever it is lah... Okeh, let's start aja ya!

Menurutku, adalah wajar jikalau cowo menyukai cewe yang phisically bagus. Terdapat keindahan di mata cowo atas diri seorang cewe. Itulah kenapa cowo bisa berpasangan dengan cewe. Kalo gak gitu berarti homo donk! - Nah, keindahan itu ada yang tampak dan ada yang tidak. Bagi cewe, keindahan itu adalah aset. Aset yang tangible dan intangible. Lalu, mana yang akan lebih terlihat, yang tampak atau yang tidak tampak? Sepertinya kita semua sepakat bahwa yang tampaklah yang akan lebih terlihat.

Cinta pada pandangan pertama memang bukan basa-basi. Menurut survey, seseorang membuat penilaian fisik tentang orang lain pada 10 detik pertama. Empat menit selanjutnya, orang akan membuat penilaian tentang hal-hal lainnya. (detik.com)

Ketika cowo dan cewe pertama kali bertemu (baik sebelumnya sudah ataupun belum kenal), maka di 10 detik pertama sang cowo akan menilai cewe secara fisik, sedang cewe menilai cowo. Selanjutnya (gak harus 4 menit), baru si cowo membuat penilaian yang lain, entah itu dari cara bicara, cara tertawa, cara duduk, cara berjalan, ataupun bagaimana isi otak dari sang cewe. Cewe juga akan melakukan hal yang sama.

Sekarang aku akan sok menelaah:

10 DETIK PERTAMA

Cowo: "Wuih... keren banget ni cewe! Cantik, modis, tinggi, putih, busananya serasi lagi. Enggak ngebosenin banget deh diliat... Nilainya 8."
Cewe: "Hmm, cowo ini cakep juga. Bodi atletis, tampang kiyut, rapi lagi... Nilainya 8 deh."

SETELAH LEWAT 10 DETIK (cowo dan cewe ngobrol)

Faktanya: cewe tersebut gak terlalu ngenakin lah (sori, aku bingung diksinya) bagi si cowo. Trus, cowo itu bagi si cewe kok sok banget ya...
Cowo: "Agak-agak gak asik juga neh cewe. Cakep seh cakep... Nilainya jadi 7 ahh."
Cewe: "Ngebetein banget seh, neh cowo. Udah sok... sombong lagi. Biar cakep gimana juga. Nilainya jadi 5."

Hehe, meskipun telaahanku belum tentu benar 100%, tapi yang ingin aku tekankan adalah: berdasarkan banyak buku psikologi yang aku baca, serta berdasarkan pengamatan pribadi, pada umumnya memang cowo lebih menekankan hal-hal yang bersifat fisik dari cewe, sedangkan cewe lebih menekankan aspek lain seperti perhatian ataupun kasih sayang dari cowo daripada hanya sekedar fisik belaka. Lalu, pada umumnya cewe lebih setia daripada cowo. Bener gak ya?!

Bagi cewe, seorang cowo yang phisically bernilai 5, bisa menjadi 8 ketika dia menunjukkan kepribadian yang baik. Wuih, kalo udah kaya gini, si cewe bakal setia banget. Sedang bagi cowo, cewe yang phisically nilainya 5, meskipun kepribadiannya baik, tidak akan mendongkrak nilainya menjadi 8. Yah, paling banter juga jadi 7. Kalopun akhirnya si cowo jadi sama si cewe, godaan selingkuh di depan mata. Peace.... :)

Sebaliknya, cowo bernilai 8 secara fisik, akan langsung turun jadi 5 ketika dia dinilai brengsek. Cewe yang phisically 8, meskipun nyebelin, paling drastis juga turun sampai nilainya 6. Dalam kasus ini, paling-paling cowonya bakal cari cewe lain sebagai teman ngobrol. Gak sopaaaan!!

----

Kok, rasanya tulisan aku malah semakin ngawur ya...

Pada intinya, aku ingin mengatakan bahwa kalo cowo suka cewe cantik, itu manusiawi. Toh cewe juga suka kan liat cowo cakep. Kenapa cewe sering complain? Itu karena si cewe gak pede akan dirinya sendiri. Dia jadi sering negative thinking, takut gak ada cowo yang suka sama dia, atau si cowo bakal ngelirik cewe lain. Seperti cerita temanku di paragraf ke-2 di atas. Ujung-ujungnya dia ngomong gini... "Kalo semua ikhwan phisically gitu, kan kasian sama akhwat yang seperti aku..." &&**$%$

Saat itu, setengah idup aku meyakinkan dia bahwa gak semua cowo kaya gitu. Banyak juga cowo yang meskipun manusiawi, tapi juga realistis. Apalagi kalo dia ngerti banget agama. Cantik atau cakep bukan jaminan masuk surga. Di akhirat juga gak bakal ditanyain. Tidak semua cowo ngeliat cewe secara fisik, meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa hal itu juga perlu. Cowo juga akan punya prioritas dalam menentukan pilihan. Ketika dia lebih memprioritaskan fisik, maka dia harus menerima kalo seandainya si cewe bukan pendidik yang baik bagi anak-anaknya. Atau jika cowo lebih memilih berdasarkan agamanya, maka dia harus menerima jika seandainya si cewe tidak terlalu menarik secara fisik. Itulah hidup... Yang ngerasa cowo, bener gak seh yg gw tulis barusan?

Aku pernah baca di sebuah buku psikologi. Ketika cowo ngeliat cewe seksi, saat itu cowok tidak akan berpikir bagaimana kepribadian si cewe, apakah dia bisa masak, atau bisa jadi ibu yang baik atau tidak. Cowo hanya akan berpikir bahwa cewe itu seksi. Mungkin sangat menarik. Tapi, hanya itu dan tidak lebih dari itu. Namun. ketika cowo memutuskan untuk menikah, maka aspek-aspek lain pasti akan turut dipertimbangkan dan justru sangat memegang peranan penting.

So, di sini aku hanya ingin berpesan buat para cewe. Jangan pernah merasa dirimu jelek. PeDe aja lagi. Ketika kamu percaya diri, orang lain akan menilaimu positif. Ketika kamu menghargai dirimu sendiri, orang lain juga akan menghargaimu. Jika kamu merasa kurang secara fisik, tonjolkanlah kelebihanmu yang lain. Percayalah, aura yang keluar dari kepribadianmu, daya tariknya lebih dahsyat daripada kecantikan lahiriyahmu. Lagian kalo cewe ngerasa jelek, ambil aja sisi positifnya. Positive thinking aja bahwa cowo yang kelak menjadi pendamping hidupmu adalah cowo yang baik, yang tidak menilaimu secara fisik, yang mencintaimu apa adanya. Dan yakinlah bahwa cowo itu pasti ada dan telah dipersiapkan untukmu.

Eitt, bukan berarti fisik gak penting loh. Sekali lagi, PACKAGING ITU PERLU. Okelah yang namanya keadaan lahir semisal tinggi, kulit, hidung, mata, dll itu udah dari sononya dan gak bisa diubah. Tapi, yang di-highlight adalah PACKAGING. Bagaimana kita mengemasnya. Menurutku, penampilan yang kucel, kumal, tabrak lari, berantakan... pokoknya yang bikin tidak sedap dipandang... itu tidak bisa ditolerir, apalagi untuk dijadikan trademark. Orang pertama kali ketemu kita gak bakalan bisa liat, ibadahnya gimana, kepribadiannya gimana, tapi yang bakal diliat adalah penampilan alias penampakannya. Kalo kesan pertama sudah tidak menggoda, selanjutnya... gimana bisa tergoda :-). Kalo ngeliatnya aja udah ilfil, gimana bisa menumbuhkan cinta? (Ngomong opo.....)

Penampilan bukan yang utama, tapi yang pertama. Penampilan menjadi penting karena ia jadi yang pertama. Tapi akan menjadi tidak penting jikalau yang utama justru diabaikan.

Buat para cowo, setiap pilihan ada konsekuensinya. Aku tidak pernah ingin memangkas kesukaan kalian terhadap keindahan. Tapi hendaklah semuanya berjalan seimbang dan pada jalur yang semestinya.

Buat cewe dan cowo... pilihlah pasangan kalian seperti yang telah diajarkan dalam Al Quran. Lihatlah bagaimana agamanya, niscaya kebahagiaan itu akan datang. Kalaupun ternyata dapetnya yang cakep, anggap saja itu sebagai bonus, tapi harus terima konsekuensinya kalo pas lagi jalan bareng banyak yang lirik, hehehe. Yah, setiap hadiah kan ada pajaknya...

Kalau bisa dapet yang mendekati sempurna, kenapa enggak! Namun, yg mendekati sempurna itu akan layak kita dapatkan jika kita sendiri pun mendekati sempurna. Setuju??!

----

Wee,setelah ujian Multivariate Analysis,150507,11.30pm

Sabtu, 31 Oktober 2009

-59- "Vegetarian"

Begitu mendengar kata "vegetarian", yang pertama kali terlintas dalam pikiranku adalah tentang orang yang hanya mau makan sayur. Sayur itu identik dengan daun2an segar. Daun2an segar adalah daun2 muda yang tentu saja berwarna hijau. Nah, mungkin karena dilatari oleh hal tersebut lah seorang teman, sewaktu masih kuliah dulu, memberikan gelar "vegetarian" pada cewe2 yang suka pada cowo2 lebih muda alias daun muda alias brondong. (Nyambung gak nyambung, lanjuuut ^_^)

Apa ada yang salah dengan vegetarian? Tidak, tidak sama sekali. Namun entah kenapa, jika seorang perempuan lebih tua daripada pasangannya, pasti ada sugesti negatif dari orang2 sekitarnya. Mari kita lihat sedikit contoh...

Seorang teman menikah dengan cowo yang dua tahun lebih muda darinya. Awalnya lucu, si cowo yang kuliahnya bareng sama si cewe pedekate sama si cewe, bantuin ini itu yang berhubungan dengan tugas kuliahnya. Eh ternyata ada udang dibalik bakwan. Cowo naksir meskipun cewe cuek bebek. Tapi namanya cewe lama2 luluh juga. Mereka jadian, lalu komentar pun berdatangan. Banyak teman yang heran, kenapa si cewe mau sama si cowo padahal cowonya terkenal tengil dan umurnya jauh lebih muda (dua tahun termasuk jauh ga sih?). Namun anjing menggonggong kafilah tetap berlalu. Akhirnya mereka merid juga. Dan sekarang dengan 1 anak, tampang si cewe tetap terlihat imut dan muda, sementara si cowo sudah seperti bapak2 pada umumnya. Gak ada lagi yang ‘ngeh’ bahwa mereka adalah pasangan yang wanitanya lebih tua.

Contoh lain yang lebih hot adalah pasangan Yuni Shara dan Rafi Ahmad (hihi, gossiipp banget). Liat aja tuh di infotainment, heboh. Kesannya gimana gitu, seolah2 mereka tidak terlalu waras sehingga memilih pasangan yang jomplang seperti itu. Padahal kalau dipikir2 apa sih salahnya? Bukankah mereka gak mengganggu hidup siapapun. Jadi kenapa harus dipusingkan?!

Aku pernah dengar seorang psikolog (sori, lupa siapa dan kapan bilangnya) bilang bahwa pada umumnya jika ada pasangan yang umur wanitanya lebih tua, maka yang sebenarnya tertarik adalah prianya. Kok kalimatku ribet banget sih. Intinya gini, pada umumnya pria lah yang tertarik untuk mencari pasangan yang lebih tua. Katanya sih karena ingin mendapatkan figur ibu ataupun pasangan yang lebih dewasa agar bisa mengayomi. Aku sih gak terlalu setuju dan gak terlalu percaya. Apa memang iya ya? Hmm...

Kalau aku liat dari sudut pandang teman2 wanitaku pada umumnya, mereka jarang tertarik pada pria2 yang lebih muda. Bahkan aku sendiri, gak bisa dipungkiri kalo liat cowo yang lebih muda, meskipun hanya beberapa hari lebih muda, aku tersugesti bahwa ia adalah anak kecil, masih childish dan sama sekali gak dewasa. Mau jadi apa nanti rumah tangganya. Bukankah yang cenderung manja, childish, dan gak dewasa itu cewe, kalo cowonya gitu juga bisa diem2an sepanjang hari dunk. Hehe, ekstrem banget sih Wee... Tenang... cerita belum berakhir teman2.

Jadi intinya, menurutku gak ada masalah dengan pasangan yang cowonya lebih muda. Loh kok?! Yupp, it’s not a problem at all. Cewe2 banyak yang gak berminat karena mereka mencari sosok pria dewasa yang bisa mengayomi mereka, dan pada umumnya kedewasaan seseorang akan dilihat dari usianya. So, buat para pria yang tertarik pada wanita yang lebih tua, tunjukkan saja padanya bahwa meskipun masih muda, Anda layak dan bisa diandalkan. Percaya diri atau silakan mundur teratur ^^

(ditulis setelah membaca sebuah tulisan)

Kamis, 29 Oktober 2009

-58- Apa Aku Sudah Dewasa? - Sebuah Coretan Masa Lalu

Sinar matahari pagi masih memenuhi ruang luas di sekitarku. Hangat. Nyaman. Entah sudah berapa banyak menit yang kuhabiskan duduk di belakang rumah, memperhatikan Poci dan Poli bermain-main bahagia di teras belakang. Mereka saling mencakar, menggigit, bergulat ria, kadangkala ekornya berdiri tegak tanda waspada. Ceria sekali. Iseng kulempar bola... mereka berebut saling menendang, tapi tetap waspada memperhatikan objek bulat yang bisa memantul itu.

Kejadian tadi tertulis di memoriku belasan tahun yang lalu. Saat itu aku masih SD. Aku ingat yang aku pikirkan... betapa enaknya menjadi kucing. Hidupnya santai, senantiasa bermain-main, penuh kebahagiaan, tanpa harus sekolah, gak perlu ngerjain PeEr, gak harus dapet ranking 1, juga gak pernah dipaksa untuk tidur siang. Hanya bermain. Kalau sudah bosan bermain, mereka tidur sendiri, atau sekedar menjilati bulunya (baca: mandi). Senangnya...

Dulu, seorang aku yang masih SD senantiasa manyun bin sebal kalau setiap malam sebelum tidur disuruh sikat gigi. Males. Apalagi kalau sudah sangat ngantuk. Wuih... Aku berpikir, "Perasaan, Luna gak pernah sikat gigi degh. Tapi giginya selalu putih bersih, gak ada bolong-bolong, gak pernah juga sakit gigi." Lagi-lagi aku beranggapan, betapa enaknya jadi kucing.

Sekarang, belasan tahun kemudian, di 21 tahun usiaku, aku bisa menuliskan kejadian itu. Aku tersenyum lucu. Betapa polosnya pemikiran seorang anak SD. Ibarat air, ia belum terkena polusi. Dulu, kalau aku ngomong sama ibu "Luna aja gak pernah sikat gigi", mungkin ibu akan maklum. Yah, aku kan belum dewasa. Tapi, kalo sekarang aku ngomong gitu... maka aku sendiri pun akan merasa malu. Lagian, hari gini siapa lagi yang mau ngurusin, apa aku sudah sikat gigi atau belum.

Betapa panjangnya proses pendewasaan diri. Pendewasaan dalam segala hal. Dewasa secara fisik (baca: tumbuh besar dengan tinggi),dewasa dalam bersikap, serta dewasa dalam cara berpikir. Panjang dan rumit, sampai-sampai aku tak bisa merangkai kata-kata untuk membakukan definisi 'dewasa'.

Kadangkala, kita membutuhkan waktu untuk menyadari setiap nilai di balik suatu peristiwa. Bisa jadi beberapa menit kemudian, kita sudah sadar siluet apa di baliknya. Namun tidak jarang, kita butuh beberapa jam, hari, bulan, ataupun bertahun-tahun untuk sekedar menyadari, nilai apa, hikmah apa yang menempel pada kejadian yang menimpa kita. Saat itulah semuanya akan menjadi sangat berharga. Saat itulah, pahitnya kenangan atas suatu peristiwa, akan dikalahkan oleh manisnya hikmah dan proses pendewasaan diri yang kita dapatkan setelahnya.

Lalu aku, kembali melempar tanya, "Apa sekarang aku sudah bisa disebut dewasa?". Untuk menjawab pertanyaan itu, aku setuju dengan lagunya Britney Spears... I'm not a girl, not yet a woman

Ketika aku berhadapan dengan perbedaan, aku tidak pernah 'memaksa' orang lain untuk menyetujui pendapatku. Aku hargai pendapatnya, meskipun tidak setuju. Yang aku lakukan hanya mencoba menjelaskan apa yang menurutku 'salah' dari pendapatnya itu. Tapi sekali lagi, aku sangat tidak berhak 'memaksa'. Toh, belum tentu juga aku yang benar... Saat itu, aku merasa telah menjadi dewasa.

Ketika aku pulang ke rumah, tak ada lagi Poci ataupun Poli. Yang ada hanyalah Hikaru seorang yang kuajak bermain. Aku pandangi dia sambil tersenyum dan berpikir bahwa dialah yang selama ini menemani ibuku di saat anak-anaknya jauh dari rumah. Tapi aku tidak pernah berpikir, betapa enaknya menjadi Hikaru. Karena setiap pulang ke rumah, hatiku bahagia. Saat itu, aku juga merasa telah menjadi dewasa.

Ketika aku merasa tidak melakukan apapun, tetapi bosan menyergapku dari segala arah. Skripsi belum kelar... mau ngerjain program, entah mulai dari mana. Waktuku benar-benar tidak efektif. Detik demi detik terbuang menghasilkan banyak foto 'aneh' hasil kreasi kebosananku. Aku jalankan Age of Empire, aku ciptakan banyak musuh, aku biarkan sampai semuanya canggih, lalu dengan puasnya aku hancurkan satu per satu via cheating, hehe. Tetap bosan, aku beralih ke Feeding Frenzy, sampai mentok nilai tertinggi, aku kembali bosan. Semuanya... gak penting.

Saat itu aku merenungkan pemikiranku belasan tahun yang lalu. Aku tuangkan dalam tulisan. Di sini tidak ada Hikaru, tetapi aku ingat Luna. Aku menertawakan pendapatku dulu. Namun saat ini, ketika tahun sudah beranjak dengan nominal 2007, hati kecilku malah membenarkan pendapat yang aku sendiri justru menertawakannya...

O o... baru kusadari, bahwa ternyata sebenarnya aku masih belum dewasa.

Wee 2007

Rabu, 30 September 2009

-57- Cerita Gempa Sumbar

Setelah puas ngobrol via telepon dengan Umminya Daffa, aku melirik jam, hampir magrib. Hmm, motorku masih di teras kost, mesti dibawa masuk ne, begitu pikirku. Aku keluar. Baru saja jariku menyentuh stang motor, orang2 di sekitar rumah teriak, "Gempa..gempa..". Ibu kost tergopoh2 keluar rumah. Cucunya ibu kost yang baru kelas 4 SD dan sedang mandi pun berlari keluar masih dengan berbasah2 ria. Kami bertiga menunggu dengan was2 di teras rumah.

Sejenak dua jenak berlalu, goyangan bumi tak jua berhenti. O ow, ternyata gempa lumayan lama. Bumi berayun, mampu membuatku merasa pusing. Rupanya begini rasanya gempa. Setelah satu tahun lebih aku bertugas di bumi raflesia, baru kali ini aku benar2 bisa merasakan yg namanya gempa.

Beberapa menit berlalu, bumi tak lagi berayun. Namun nyatanya, sampai tulisan ini aku buat pun aku masih merasa diayun2. Itulah sugesti, dan memang benar kata ibu kostku, ketika sudah gempa sekali, maka setelahnya akan serasa gempa berkepanjangan.

7,6 SR di Sumatera Barat. Aku benar2 gak bisa membayangkan kepanikan di pusat gempa. Bangunan hancur, rumah bak kapal pecah, sanak saudara menghilang, dan yg pasti adalah trauma. Pikiranku lalu dipenuhi andai2.

Bagaimana seandainya gempa terjadi di sini. Semuanya luluh lantak, sanggupkah aku? Bagaimana seandainya gempa terjadi sementara aku sedang berada di kamar mandi? Gak kebayang degh. Aku teringat cucu ibu kost tadi dan cerita beberapa orang dengan pakaian seadanya ketika bencana terjadi. Wah wah...

Dan gempa kali ini pun menyisakan cerita. Seorang muslimah yg panik karena bumi berayun, keluar rumah dengan hanya mengenakan baju tanpa lengan dan celana pendek. Lalu tanpa diduga2 ia bertemu laki2 teman kantornya yang dengan sangat kebetulan lewat di situ. Betapa malunya. (Hehe, ceritanya diposting gak, Fren? ^^)

Pengalaman seorang teman tersebut menjadi pelajaran nyata buatku. Aku berkaca lalu menyimpulkan. Sepertinya kebiasaan menggunakan pakaian2 serba minimalis, meskipun di kamar sendiri sekalipun harus mulai dikurangi. Bukankah bencana tak mengenal waktu dan tempat...

*Teruntuk saudara2ku di Sumbar, semoga kita termasuk hambaNya yg sabar...

Selasa, 29 September 2009

-56- Hanya Karena Selembar Jilbab

Aku belum menyerah. Kembali kubongkar satu per satu lembaran2 jilbab yang tersusun rapi pada rak pakaianku. Kali ini benar2 teliti, tidak seinci pun kulewati tanpa sorotan tajam mataku. Tetap saja ia tak kutemukan. Aneh, benar2 aneh...

Belum puas membongkar tumpukan jilbab2 segiempat itu, aku beralih menuju tumpukan2 di sebelahnya. Nihil, tetap tak ada. Kok susah sih mencari selembar jilbab saja. Selembar jilbab segiempat berbahan paris warna coklat tua dan ditaburi sedikit payet. Lalu saat itu juga aku langsung merasa bahwa jilbab itu adalah jilbab yang paling kusuka dibanding yang lain. Dasar manusia...

Aku kesal sekaligus gak habis pikir. Aku sangat yakin sebelumnya, jilbab itu ada di tumpukan bersama jilbab2 lain. Namun kenapa setelah kutinggal mudik dia gak ada lagi. Kemana dia? Dikemanakan dia? Oleh siapa?

Pikiranku dipenuhi prasangka2 buruk. Aku benci dengan prasangka ini. Namun tak bisa kupungkiri aku kecewa. Bukan jilbab yang lenyap yang aku sesalkan. Aku kecewa karena kepercayaanku untuk meninggalkan kunci kamar telah dirusak oleh oknum yang aku sendiri gak tahu siapa. Ya Allah, jauhkanlah aku dari prasangka buruk. Hanya selembar jilbab, Wee sayang...

Gak ada teman berkeluh kesah, akhirnya kuungkapkan kekesalan pada ibuku tersayang. Seperti biasa, kata2 ibu dipenuhi nasehat2. Beliau memintaku mencari lagi dengan lebih teliti dan jangan berburuk sangka. Aku kekeuh merasa sudah sangat teliti mencari. Lalu ibu bilang, "Ya sudah, klo memang gak ada ikhlasin aja. Ambil pelajarannya, lain kali lebih hati2. Insya Allah semua ada hikmahnya". Masih dengan kesal aku menimpali, "Apa hikmahnya?". Beliau menjawab, "Ya siapa tahu yg tadinya belum pake jilbab jadi tergerak untuk berjilbab". Aku terdiam.

Sigh... Hanya karena selembar jilbab aku kesal dan dipenuhi prasangka buruk. Alhamdulillah Allah menganugerahi aku seorang ibu yang bijak. I really luv u Mom...

Minggu, 30 Agustus 2009

-55- Sekedar Sajak

Kupandang langit malamku
Beberapa bintang tersenyum lembut
Kubiarkan saja, tak kusentuh, tak kuambil
Aku cukup bahagia dengan memandangnya

Esok malam bintang-bintang itu masih bersinar
Langitku tetap indah
Aku duduk menengadah
Tersenyum menunggu bintang turun menghampiri

Malam berganti
Kulihat bintang-bintangku meredup
Aku bingung dalam diam
Tetap diam sampai kudapati semua bintang itu lenyap

Kuintip langit sebelah
Hanya ada satu bintang
Seorang gadis mengambil satu-satunya bintang itu
Aku terpana
Tak ada lagi bintang di sana
Namun ada satu rembulan
Sinarnya terang dan begitu dekat

Aku tercenung
Haruskah kuambil satu bintang

Sabtu, 29 Agustus 2009

-54- Tanpa Judul

Lucu, aku tersenyum melihat tingkah mereka. Ibaratnya anak-anak di pedalaman bumi antah berantah yang boro-boro bisa menggunakan handphone, melihat bentuknyapun mereka belum pernah. Meskipun mungkin pengibaratan yang kupilih ini kurang tepat, namun begitulah kira-kira. Bisa dibilang mereka norak, tapi norak jenis ini sangat indah.

Iri, aku iri melihat mereka. Sekedar iri dan bukan dengki. Aku juga iri ketika melihat mereka bertingkah norak. Aku ingin berada di situ, dalam suasana norak itu. Aku ingin bisa mengeluhkan hal-hal yang indah, sebagaimana kulihat mereka mengeluh dengan senyum yang tetap menempel di bibirnya.

Menggemaskan, sangat menggemaskan melihat kerepotan itu. Kerepotan yang sangat, ketahanan fisik taruhannya. Tapi nyatanya tak pernah binar indah di mata mereka lenyap, bahkan ia semakin terang. Seolah hidup ini sempurna sudah. Seolah tak ada lagi yang lain yang mampu mengalihkan dunia mereka.

Kesal, aku kesal mendapati diri ini hanya bisa menjadi penonton dan bukan pemain. Aku masih berdiri di sini menatap hampa, tak berani menuju lapangan. Mereka berjalan tegak meski kadang kulihat air mata menghias langkahnya. Air mata itu justru sebagai bumbu penyedap senyuman yang merekah setelahnya.

Ahh, apa bedanya aku dengan mereka. Aku juga bisa bahagia dengan duniaku. Aku menikmati hidupku. Aku tak merasa berbeda. Egoku bilang bahwa aku lebih beruntung. Namun, jauh di dalam hatiku aku menangis. Aku bahagia tapi aku tak punya tujuan dan tak punya tempat untuk berlabuh, mengatur strategi untuk kemudian melanjutkan hidup.

Jumat, 14 Agustus 2009

-53- Kendaraan Plat Merah

Seorang anak kuliahan yang sedang libur berencana hendak berkeliling kampung melihat-lihat perkembangan daerah sekitarnya. Dia mencari-cari motor yang biasa digunakannya. Ternyata, motor tersebut sedang dipinjam pamannya. Dia kesal. Lalu ayahnya menganjurkan agar sang anak menggunakan motor dinas ayahnya saja. Anak itu menolak mentah-mentah. "Aku gak mau pake plat merah.", ujarnya sambil berlalu dengan wajah berlipat sepuluh.

Gadis itu berusia dua puluhan, masih mementingkan gaya dalam bergaul. Dia hobi jalan-jalan bersama beberapa temannya. Kalau konvoi menggunakan motor, ahh rasanya gak seru. Mesti pake mobil nih supaya lebih keren. Dia pun mulai belajar nyetir. Meskipun masih terbata-bata, dia mendatangi teman-temannya untuk diajak jalan. Salah seorang teman bertanya, "Kamu beneran dah bisa nyetirnya?". Lalu dengan santainya dia menjawab, "Makanya ni pake mobil dinas bokap, kalo baru belajar mending pake mobil dinas aja, jadi kalo nabrak2 dikit gpp lah. Kalo pake mobil pribadi mah sayang..."

Salah seorang teman mengeluh dan menggerutu, betapa menderitanya tidak punya kendaraan di saat pekerjaan lapangan sedang banyak-banyaknya. Aku hanya menanggapi sekilas, "Bukannya motor dinas kantor ada beberapa. Masa sih gak ada satupun yang bisa dipinjam. Ini kan juga kepentingan dinas...". Bukannya tenang, malah dia semakin dongkol. Lalu dengan ketusnya ia menimpali, "Apaan, kendaraan dinas serasa kendaraan pribadi aja. Padahal dipake juga enggak, pelit banget gak mau minjemin. Huh..."

Tiga paragraf di atas hanyalah menggambarkan secuil fenomena tentang kendaraan plat merah, salah satu barang milik negara yang sering terlihat melintas di jalanan. Beberapa terlihat cantik dan elegan, beberapa terlihat kusam, kotor, bising, dan tak terawat bak bus kota yang tak lagi layak jalan.

Apa sih pentingnya kendaraan dinas? Mengapa negara memberikan fasilitas berupa kendaraan kepada orang-orang tertentu saja? Orang-orang yang mengepalai dinas, kantor, bidang, atau apapun, diberikan fasilitas kendaraan dinas karena memang mobilitas mereka diperlukan. Agar mereka lancar ngantor, lancar ngawasin anak buah, lancar mesti rapat disana sini demi kepentingan negara. UNTUK KEPENTINGAN DINAS. Dalam hal ini kita memang gak bisa terlalu naif. Ada kalanya kadang-kadang ‘tak sengaja’ kendaraan dinas tersebut digunakan untuk kepentingan pribadi. Menurutku gak masalah, selama fungsi yang diharapkan dari adanya kendaraan dinas itu bisa terlaksana dengan baik.

Tidak jarang aku melihat mobil-mobil plat merah berseliweran di jalanan ketika sore hari. Yang nyetir adalah anak-anak usia sekolah yang ingin meneriakkan pada dunia bahwa ia adalah anak pejabat. Kaca jendela dibuka lebar supaya semua orang bisa melihatnya. Musik disko terdengar tidak indah sama sekali dari dalam mobil. Ia berkendara dengan cueknya, meskipun tidak mengantongi SIM. Ahh, polisi juga gak bakalan berani menilang mobil plat merah gini, mungkin begitu pikirnya. Benar-benar menggelikan. Aku sering mikir, katro banget siy ni orang. Disini aja loe berani, jago kandang. Kalau agak ke kota dikit, gak bakal ada yang melirik bro, hehehehh...

Coba Anda baca kembali paragraf kedua di atas. Fenomena ini sangat lazim. Aku sering gemes malihat kebanyakan orang rendah banget sense of belonging-nya terhadap kendaraan dinas yang nyata-nyata di atas kertas dipercayakan kepada mereka. Giliran tandatangan duit operasionalnya aja senangnya bukan main, tapi kendaraannya sendiri dicucipun tidak. Cobalah, sayangi kendaraan dinas Anda sebagaimana Anda menyayangi kendaraan pribadi, niscaya negara ini gak bakalan terlalu rugi.

Nah, untuk kasus teman saya pada paragraf ketiga di atas, bukan satu dua teman yang pernah mengeluhkan "pelitnya" pemegang kendaraan untuk meminjamkan kendaraan dinasnya kepada pegawai lain. Aneh memang. Seandainya kendaraan dipinjam untuk woro wiri gak jelas, maka pemegang kendaraan berhak menolak. Kalau untuk kepentingan dinas? Hmm, jika pemegang kendaraan juga sedang menggunakan untuk kepentingan dinas, sementara kepentingan pemegang dan peminjam tidak bisa dipenuhi sekaligus, maka wajar saja si pemegang menolak. Namun jika kendaraan nganggur, ngetem doang di rumah, apa salahnya kalau digunakan oleh pegawai lain, untuk kepentingan dinas juga kok, iya to??

Yang jelas, satu hal yang perlu diingat, kendaraan plat merah adalah BARANG MILIK NEGARA dan bukan BARANG MILIK PRIBADI. It’s general, not personal...

Kamis, 30 Juli 2009

-52- Seorang Cewek Seksi Berjalan Dengan Santainya

Seorang cewek seksi sedang melenggang menyusuri tepian jalan raya. Ia berjalan dengan santainya. Cantik, tinggi, berambut panjang. Kaos ketat lengan pendek benar2 terlihat pas di tubuh proporsionalnya. Kulit yang putih mulus dan terawat juga benar2 bebas dipandangi karena ia hanya mengenakan celana pendek sebatas paha.

Aku duduk di sana, di sebuah halte bus, menunggu seorang teman yang tak kunjung datang. Sangat membosankan, lalu dengan sendirinya aku mencari kesibukan. Sebaris kalimat di sebuah gerobak bakso pun kubaca dengan teliti. Nenek2 tua dengan celak mata yang super tebal tak luput dari perhatianku. Bahkan sehelai daun kering yang jatuh dari pohon juga terlihat menarik di mataku. Apalagi ini... ketika ada seorang cewek seksi yang berjalan dengan santainya.

Ia membawa tas mahal yang dibebankan pada bahunya, benar2 khas cewek2 moderen. Cardigan rajut berwarna putih tanpa lengan melengkapi gayanya berbusana. Sandal tinggi dengan hak yang tebal membuatnya terlihat sempurna. Rambut panjangnya sedikit diangkat, lengkap dengan kacamata hitam di kepalanya. Sangat berkelas. Tidak seharusnya ia di sana. Dimana mobil mewahnya?

Ahh, tinggalkan saja dia. Cukuplah 5 detik saja aku memperhatikannya. Detik2 berikutnya pandanganku mulai bergerilya. Abang bakso yang tengah meracik baksonya tak lupa mengangkat wajah beberapa detik, menunduk lagi untuk melihat sudahkah ia menambahkan garam pada baksonya, lalu mengangkat wajah lagi memperhatikan si cewek seksi dengan seksama. Seorang kenek bus bersiul2 nakal menggoda si cewek seksi sambil memanggil2 calon penumpang. Matanya tak lepas melahap tubuh cewek tersebut. Beberapa tukang ojek yang sedang mangkal tertawa2 bersama sambil memandangi si cewek seksi sampai ia tak tampak lagi dalam pandangan. Seorang bapak2 pengendara motor yang baru saja menjemput anak perempuannya dari sekolah tak lupa menoleh beberapa jenak. Beberapa pemuda berseragam abu2 yang sedang mengantri di sebuah fotokopi di seberang jalan juga tidak menyianyiakan pemandangan indah itu. Aku tersenyum, mencoba menerka menuju kemana sebenarnya arah pandangan mereka. Namun aku bergidik, tak berani menyimpulkan. Aku hanya yakin bahwa pasti pemilik mata2 itu berteriak dalam hati, "Gilaaa, eye catching banget siy…"

Hebat. Betapa hebat pesona seorang wanita, apalagi dengan busana minim bahannya. Benar2 memancing libido kaum adam. Lihat saja berita2 kriminal di televisi. Nenek2 tua keriput menjadi korban perkosaan tetangganya. Anak2 kecil yang bahkan bodinya belum terbentuk pun menjadi objek pelampiasan birahi orang2 yang pikirannya tidak sehat. Pekerja2 seks bertebaran dimana2, menjajakan tubuh layaknya barang obralan. Ada demand, ada supply. Jika barang banyak beredar, harga bisa semakin murah. Satu kata saja untuk semua itu… astaghfirullah…

Dunia memang fana, ia dipenuhi perhiasan. Dan sebaik2 perhiasan adalah wanita solehah, yang mampu menjaga diri dan kehormatannya. Could you be, Wee darling?!

Selasa, 28 Juli 2009

-51- Jangan Lebih Dari 25!!!

"… jangan lebih dari 25!"

Bukan satu atau dua orang saja yang pernah mengucapkan kata-kata itu. Aku tidak ingat persis berapa jumlahnya. Yang aku ingat hanya angka dua dan lima, 25. Seolah-olah angka tersebut akan menjadi angka keramat bagi setiap orang dengan jenis kelamin berkode 2. Hmm, berarti aku juga termasuk ne…

Scene 1

Seorang anak yang baru lulus kuliah lalu bekerja bercerita tentang pekerjaan kantor kepada orangtuanya. Ngerjain A, nulis B, ngawas C, pergi ke X, Y, Z, bla bla… Orangtua tersenyum, mendengarkan, dan memberi tanggapan dengan seksama sambil berpikir, "Hmm, anakku sudah tambah dewasa."

Seiring berjalannya waktu, tetap saja sang anak seperti disibukkan oleh pekerjaannya. Tak pernah sekalipun ia bercerita tentang calon suaminya. Orangtua pun memberi wejangan, "Sibuk boleh aja Nak, tapi jangan sampai terlena, umur itu terus bertambah, jangan lebih dari 25. Kalo dah ada yg cocok suruh sini… bla… bla…"

Scene 2

Seorang atasan sedang ngobrol ringan bersama beberapa stafnya. Kebetulan ada dua orang staf wanita yang masih lajang. Karena masih sorangan, mereka pun jadi bahan becandaan rekan-rekan dan atasannya.

Atasannya bilang, "Iya, jangan kelamaan nikah, cari aja orang sini, kan gampang…"

Si Wanita Lajang menimpali, "Yaks, gak segampang itu kali…"

Atasan kembali memberikan pernyataan, "Jangan lebih dari 25 aja, soalnya kalo lebih dari 25 sebutannya dah beda."

"Beda gimana Pak?", tanya si wanita.

"Ya kan penyebutan umur tu biasanya 17 tahun ke atas, 21 tahun ke atas, 25 tahun ke atas… setelah itu masih lama, 40 tahun ke atas…", dengan santainya Pak Bos menjawab.

Hahaha, ada-ada aja sih :D

Scene 3

Seorang wanita lajang dan sudah bekerja mengadakan perjalanan darat menuju provinsi tetangga. Perjalanan itu ia tempuh di malam hari menggunakan bus. Kebetulan teman seperjalanan yang duduk di sebelahnya adalah seorang laki-laki muda, sudah menikah, mempunyai dua orang anak, dan senang mengajaknya ngobrol sepanjang malam.

Setelah laki-laki tersebut tahu bahwa lawan bicaranya sudah bekerja dan masih sorangan, ia lalu menebak-nebak usia si wanita.

"Emang umurnya berapa mbak? 23 ya?", tanya si bapak.

"Iya Pak, kok bisa tahu sih?", wanita balik bertanya.

"Nebak aja kok dari obrolan-obrolan sebelumnya… Wah, masih muda ya, baru 23. Gpp, masih single, masih bisa lah lamaan dikit nikahnya. Pokoknya jangan lebih dari 25 aja mbak. Maksimal lah nikah umur 25."

"Loh, emang kenapa Pak?"

"Ya itu tadi, cewe kuliah dah selesai, dah kerja juga, padahal masih muda. Jangan-jangan malah dah punya jabatan ya… Ntar malah lupa nikah. Atau malah cowo-cowo malu dan gak pede mau deketin. Yang jelas ingat aja pesan saya tadi ya mbak. Jangan lebih dari 25. Gpp kan dalam perjalanan gini diingetin? Sesama muslim kan harus saling mengingatkan."

"Gpp kok Pak. Doakan saja deh…"

***

Begitulah…

Jadi wahai para wanita lajang. Jika tidak ada lagi yang menghalangimu untuk menikah, ingat-ingatlah pengalaman orang-orang di atas. Jangan lebih dari 25! ^^

-50- Special SMILE


Alhamdulillah... benar-benar surprise. Setelah sekian lama sok sibuk, kekeringan ide buat nulis, aktivitas blogging juga sedikit terlupakan. Ternyata masih ada juga yang bersedia ngasih award buat Wee. Ini ni keuntungan kalo suka blogwalking, hehe.

Special SMILE 4 My Best Friends... ^_^
Award ini aku dapat dari Mas Doyok, makasih ya Sob... Bagi yang baca postingan ini jangan lupa mampir ke rumahnya Mas Doyok sekalian berbagi senyum :)

Lalu apa pesannya? Simak nehh!!

1. sebarkan award ini ke temen2 yang lain yang blom kebagian
2. sertakan senyumanmu yang paling indah seperti ini
3. jangan lupa sebelum ambil award-nya beri komentar dulu...
4. tetap bersyukur kepada Tuhan YME
5. jujur dan tidak sombong
6. suka menabung supaya cepet kaya...

Hahaha, ada2 aja pesannya ne. Tapi gpp, bukankah memang tujuannya untuk berbagi senyum kan Sob?! Nah, sekarang giliranku berbagi senyum buat sobat2ku ini:
1. globalwarming
2. fatamorgana
3. semar
4. lala
5. reana
6. irmaniz
7. arifah
8. rizalzaf

Sebarkan senyum terindahmu pada semua orang ^_^

Selasa, 30 Juni 2009

-49- Underwear Obral

Wahhh, sudah lama banget gak posting. Saking lamanya, blog kesayangan yang tadinya dah punya pr 2, sepertinya sekarang pr-nya tidak terdefinisi. Hiks… tapi gak masalah. Kini aku datang dengan semangat baru, semangat untuk menulis. Buang semua kejenuhan dan kebosanan, uhuyy dramatis sekalleee…

Kali ini aku pengen berbagi sedikit ide, pengalaman, dan pemikiran. Jadi ceritanya beberapa hari lalu aku ke ibukota provinsi (red: aku tugasnya di kabupaten). Mumpung ke kota, sekalian ada yang mau aku beli ahh. Underwear… uppss.

Ada apa dengan underwear? Memangnya di kabupaten gak ada jual underwear? Ya ada lah… di wilayah paling pelosok Indonesia pun rasanya tetep ada yang jual. Masalahnya sekarang bukan pada ada atau tidaknya penjual pakaian dalam, melainkan pada dimana dan bagaimana benda-benda keramat tersebut dijual. Kebetulan aku termasuk tipe2 yang gak pede beli underwear di tempat2 penjualan yang terbuka. Oleh karena itu, aku lebih memilih belanja di mall atau toko2 tertentu yang tertutup (tidak terlalu banyak lalu lalang orang).

Dulu, aku pribadi gak pernah mau beli pakaian dalam (atasan dan bawahan) sendiri. Kalo mau beli, pasti sama ibu, bisa ikut ke tokonya atau sekedar nitip aja. Tapi kan gak selamanya aku ngetem di ketiak ibu. Aku kuliah, bukan satu atau dua bulan, melainkan empat tahun. Dalam kurun waktu selama itu, gak mungkin juga aku hanya beli pakaian dalam ketika sedang pulkam aja. Selain gak mandiri, juga merepotkan diri sendiri alias ribet.

Oke, balik lagi ke penjualan pakaian dalam. Aku sering menemukan pakaian dalam yang dijual layaknya barang2 obralan, dipajang begitu saja di pinggir jalan, dah gitu penjualnya cowo lagi. Benar-benar layaknya menjual sandal-sandal obral, mainan anak, ataupun promosi obat di jalanan. Wew, sempat terlintas dalam pikiranku… emang ada gitu yang mau beli? Hiii, pasti gak laku degh…

Namun, olala… ternyata anggapan selintas tersebut tidak benar sama sekali. Nyatanya, banyak kaum hawa yang mengerumuni penjual underwear murah meriah tersebut. Mereka mengobok2 tumpukan tekstil berwarna warni menarik, memilih-milih, bahkan… pernah kulihat kejadian yang mengagetkan, ketika beberapa ibu-ibu dengan cuek dan pedenya mencoba bra yang mereka rasa cocok. What? Apa aku gak salah liat? Sumpah, kaget banget pas pertama kali liat kejadian kaya gitu. Gak malu ya? Dipake? Dicobain? Dipas2in? Di antara sekian pasang mata (namanya juga pasar), dan yang paling pasti adalah di depan si penjual cowo… Bahkan, lebih parahnya si penjual juga ngasi komen. Ck ck ck… aku yang liatnya aja malu, kok bisa secuek itu yah... It’s really something new 4 me. Atau hanya aku aja yang lebay kali…

Begitulah. Sebuah fenomena yang mungkin biasa bagi beberapa orang, namun luar biasa menurutku. Kejadian yang mungkin tidak aneh bagi banyak orang, namun sempat membuatku tertegun dan geleng2 kepala sampai beberapa lama. Mereka yang terlalu pede dan cuek, atau aku yang terlalu dramatis yah… Hmm…

Kamis, 11 Juni 2009

-48- Curhat Gak Penting

Sudah lebih dari satu setengah tahun status mahasiswa tidak lagi menghuni identitasku. Pekerja, ya... status yang meski telah lebih dari 18 bulan ini kusandang, tetap saja terasa baru, sedikit asing, dan melenakan. Aku lelah wahai kawan...

Aku bosan, kebosanan yang aku sendiri tidak tahu karena apa. Aku kesal, kekesalan yang membuatku lelah mencari penyebabnya. Aku bingung,bingung menentukan what’s the problem inside of me. Aku statis, meski dunia melihat mobilitasku yang aduhai. Lalu aku khawatir, khawatir akan kondisi diri ini yang kubiarkan mengambang, tak hendak mengapung, juga tenggelam.

Enam tahun lalu kuawali semuanya berbekal semangat 45. Kuliah, bersosialisasi, belajar berbagi, mengenal lingkungan, penuh dengan idealisme mahasiswa yang masih segar bugar, menjalani hidup dengan jiwa muda nan penuh gejolak. Namun sekarang betapa aku merasa tua meskipun batinku berontak. Aku merasa layu dan terlena akan rutinitas yang kuciptakan sendiri. Sungguh aku jenuh. Sangat jenuh. Sigh... Seandainya bisa kubeli secangkir semangat...

Senin, 01 Juni 2009

-47- Prosedur Yang Tidak Konsisten Itu Menyebalkan

KP*N... Kantor Pelayanan P************* Negara (edited: byk yg protes sih...). Uhh, rasanya sudah beberapa kali aku mengeluh tentang kantor yang satu ini. Kali ini akan kuabadikan keluh kesahku di rumah maya kesayanganku, sekedar untuk membuatku lega.

Kantor kami merupakan satker (satuan kerja) vertikal yang berada di tingkat kabupaten. Tiap satker dibekali DIPA (Daftar Isian Penggunaan Anggaran) setiap tahunnya. Disitu terinci jumlah dana untuk tiap2 pos pengeluaran sesuai mata anggarannya masing2. Nah, berdasarkan DIPA serta Petunjuk Operasional-nya, suatu satker mengelola keuangannya.

Pernahkah terbayang di benak Anda bagaimana suatu kantor hanya terdiri dari 5 orang (muup degh kalo lebay ^^)... Kepala Kantor, Kasubbag TU, dan 3 orang pada bagian teknis. Salah satu dari 3 orang tersebut adalah aku, yang juga merangkap sebagai bendahara pada tahun ini. Suatu jabatan (benarkah pilihan katanya?), yang sampai detik ini pun belum pernah sekalipun aku mengIYAkannya. Namun apalah daya, sudah di-SK-kan, jadi atas nama tanggungjawab, semua tugas bendahara tetap harus kukerjakan. Gak masalah, asalkan tidak dipersulit.

Sebelum berkeluh kesah, ada baiknya aku memberikan sedikit pengantar sederhana. Jadi, setelah DIPA diterima di awal tahun, satker akan mengajukan UP (Uang Persediaan) yang digunakan untuk keperluan kantor, misalnya sebesar RP.X. SPM (Surat Perintah Membayar) pun dibuat, lalu diajukan ke KP*N. Jika lolos di KPPN, maka KPPN akan mengeluarkan SP2D (Surat Perintah Pencairan Dana). Ini berarti, rekening kantor akan terisi sejumlah RP.X pada tanggal keluarnya SP2D tersebut. Kas mulai terisi.
UP sebesar RP.X tersebut lalu digunakan untuk bayar listrik, telpon, perjalanan dinas, beli ATK, dll sesuai pos yang dianggarkan. Jika UP habis digunakan (atau minimal 75% telah digunakan), maka satker mengajukan GU (Penggantian Uang Persediaan) sejumlah yang telah digunakan. Pengajuan GU ini harus dilengkapi dengan rincian2 pada pos2 mana saja uang tersebut dibelanjakan (sesuai dengan DIPA). Rincian2 tersebut, yang dilengkapi dengan nomor bukti serta tanggal pembayaran setiap transaksi dirinci pada SPTB (Surat Pertanggungjawaban Belanja). SPM dibuat, lalu meluncur lagi ke KP*N. Lolos seleksi, SP2D terbit, dana pun cair. Begitu seterusnya.

Selain GU, ada lagi sifat pembayaran yang disebut LS (Pembayaran Langsung) yang hanya berlaku untuk jenis2 belanja tertentu. Jika pada GU bersifat mengganti UP sehingga dibelanjakan terlebih dahulu baru dipertanggungjawabkan, maka LS sebaliknya. Pada LS, satker membuat SPM yang dilengkapi dokumen pendukung, lalu diajukan ke KP*N. Setelah KP*N menerbitkan SP2D, barulah dana bisa dibelanjakan. Begitulah singkatnya...

Lalu apa yang aku kesalkan? Ketika pertama kali akan mencairkan dana yang sifatnya LS, aku sudah dibuat kesal. Masa siy ngajuin LS, KP*N-nya minta SPTB. Di SPTB kan dirinci tiap detil pengeluaran, nomor bukti, serta tanggal lunas dibayar. Tanggal bayar dan nomor bukti tersebut diambil dari Buku Kas Umum yang mencatat setiap transaksi yang telah dilakukan. Secarraa, duitnya aja blom cair, gimana mau nulis tanggal bayar dan nomor bukti coba? Tapi ya itu, KP*N gak mau nyairin kalo gak ada SPTB, mau protes gimana juga. Alhasil,dibuatlah SPTB... dan bayangkan betapa kacau balaunya SPTB SPTB berikutnya.

Ketika mengajukan GU yang ke-2, KP*N memprotes pembayaran biaya langganan internet yang dibebankan pada "langganan daya dan jasa". Katanya gak boleh dimasukin di "langganan daya dan jasa", melainkan pada "pengadaan ATK,ARK, dll untuk keperluan sehari2". Padahal, di GU sebelumnya ntu internet dah nampang disitu, tapi kok gak diprotes. Bahkan, sudah sejak tahun sebelumnya dia ngetem di "langganan daya dan jasa", kenapa baru sekarang dipermasalahkan?

Keluhan selanjutnya adalah pada GU ke sekian, pada rincian pembayaran honor penyusun rekonsiliasi bulan April-Mei serta honor penyusun laporan form A triwulan 1. Aneh bin ajaib, KP*N menolak istilah honor karena alasan apaaa gitu (gak gitu ngeh...). Plis deh, pembayaran yang sama untuk bulan2 sebelumnya bahkan sudah pernah diajukan, dan duitnya pun sudah keluar. Gak dipermasalahkan tuh. Kenapa kali ini bermasalah? Kok kesannya kayak suka2 org KP*N aja gitu sih...

Huh, udahan dulu ahh ngeluhnya, ntar malah tambah sebel. Kerjaan banyak, orangnya dikit, berarti kan dirangkap2. Jadi bukan cuma itu aja yang harus diurusin. Bukannya mempermudah malah bikin ribet. Okelah kerjaan banyak, sering dikejar deadline, tapi masih mending coz bisa direncanakan. Oke juga kalau salah, gak sesuai prosedur administrasi, memang harus dibenerin. Tapi mbok ya konsisten. Kalo kayak gitu mah tiap mau ngajuin pasti adaaaaa aja salahnya. Ke KP*N bukannya tinggal nyebrang jalan, tapi butuh 2 jam, masa mesti bolak balik hanya gara2 sesuatu yg gak konsisten. Selain itu, mbok ya ramah dikit napa. Kan gak semua orang yang berurusan dengan KP*N adalah orang lama, ada orang2 baru seperti aku yg hanya belajar dari melihat, salah ya wajar, gak perlu pake marah2 kaleee... *untung yang dimarahin yang nganter SPM, bukan aku, hihi

Hff, ibarat orang... karena aku butuh dia, maka aku harus mengikuti semua maunya, meskipun kadang aneh dan gak konsisten. Kalau bukan atas nama mengurusi hajat hidup orang banyak, sori2 aje...

*teriring syukur karena bukan aku yang harus bolak balik KP*N

Sabtu, 23 Mei 2009

-46- Irregular Character *)

HdohHH,, BetE buAngeEDd deGh, Wa kHAnN penGeN jaLan” N sYuuPiNg”, muMpuNG LiBuR, mALaH diSuRu nGanToR, huWAaaHHH...

laPeyyy BaNgeDd Niy, eNakNa mAkaN aP YaHh, bOseeEnN aHH...

BubU doLLoOO aHh, bEsoK kHann mW jaLaN” LaGeEe...

ceNdiRiaNN d rUMah, aTuUuT...

Wedew, cape banget ngetik 4 kalimat di atas. Asli... Waktu yang dibutuhkan buat ngetik 1 kalimat saja dengan rangkaian aksara seperti di atas adalah relatif lebih banyak daripada ngetik biasa. Kebayang gak sih, gimana kalau huruf2 tak beraturan tersebut mesti diketik lewat ponsel? Boro2 mesti ngetik di keypad hape pada umumnya (1 tombol 3 huruf), aku coba ngetik pake hape touchscren yang keyboard-nya onscreen aja susah banget. Benar2 memperlambat...

Begitulah... Jujur saja aku heran setiap melihat teman2 yang betah banget nulis kaya gitu. Contoh yang paling mudah adalah di facebook. Kalau aku perhatikan, tidak sedikit teman2 fb-ku yang sering mengupdate status mereka menggunakan rangkaian huruf tak beraturan tersebut. Info tentang account facebook mereka pun ditulis dengan huruf2 tersebut. Begitukah gaya tulis dan gaya bahasa yang lagi nge-trend di jaman ini? Wew, aku yang katro, yang gak ngerti makna 'keren', atau mereka yang dengan sukarela membuat susah diri sendiri. Hmm...

Aku tidak berhak men-judge, tapi aku berhak berpendapat. Jadi menurutku, irregular character yang digunakan dalam suatu kalimat adalah menyalahi kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar (ehemmm...). Rasanya cukup sudah kita (ehh, aku ding) menzolimi bahasa nenek moyang ini dengan menyingkat "yang" menjadi "yg", "dengan" menjadi "dgn", "untuk" menjadi "utk", atau "hati-hati" menjadi "hati2". Aku juga kalau ngetik sesuatu yang bukan berupa tugas atau surat resmi, pasti pake singkatan, kata2 tidak baku, juga susunan kalimat yang menyalahi kaidah yang benar. Hehe, males kalo bikin tulisan (seperti postingan ini) mesti sesuai kaidah karya ilmiah. *ngeles...

Namun, khusus untuk huruf besar dan huruf kecil... Wahh, aku inget banget guru Ekonomi-ku waktu SMU dulu pernah memarahi beberapa murid yang kalo nulis pake huruf besar dan kecil sekehendak hatinya. Ibu guru bilang, "Kayak gak pernah sekolah aja...". Padahal bukan guru Bahasa Indonesia loh, hehe. Waktu itu aku sangat setuju, masih sekolah sih, jadi masih konsisten dalam menggunakan huruf besar dan kecil. Sekarang? Masih konsisten juga, tapi hanya untuk nulis yang resmi2...

Jadi intinya apa? Bukan apa2, bacanya susyah euy... Aku heran kenapa banyak teman2ku yang ngefans banget sama irregular character tersebut. Aku yang tinggal baca doang aja susah mau baca, apalagi yang nulis. Boro2 status fb-nya mau kukomenin, bacanya aja ogah, males keluar energi lebih, xixi... Yah, apapun itu, rasanya gaul dan keren tidak harus dengan membuat susah diri sendiri, rite?! Setidaknya itu menurutku...

*) Tulisan ini tidak sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Kamis, 21 Mei 2009

-45- Nasib Seorang Single

Pernahkah aku merasa tidak beruntung karena menjadi seorang single? Tidak... Aku tidak pernah merasa tidak beruntung menjadi seorang single sampai sebelum aku mulai tugas di Bengkulu. Sejak hari keberangkatanku ke Bengkulu sekitar 1 tahun yang lalu, sejak itulah mulai kurasakan sedikit demi sedikit ketidakberuntungan karena aku masih sorangan, single, perempuan, dan belum menikah.

Di tahun akademik 2003, aku memulai hidup jauh dari orangtua, tahun pertama kuliahku. Awalnya sedih, namun semua bisa berjalan sebagaimana mestinya sampai dengan Oktober 2007, ketika kuakhiri statusku sebagai mahasiswa dengan menambah sederet huruf di belakang namaku. Lalu apa? Yahh, sejak awal ngampus, aku sudah tahu akan konsekuensi bahwa setelah lulus kuliah akan bekerja dan ditempatkan di suatu daerah, bisa dimanapun, di bumi Indonesia ini. Gak masalah lah, itu bisa dipikirkan belakangan...

Setelah wisuda, langsung kerja. Sebelum benar2 kerja di tempat yang sesungguhnya, sampai Mei 2008 aku dan teman2 masih mondar mandir di kantor pusat. Masih hepi, bahagia bareng teman2, jalan kesana kemari juga gak masalah (secarraa... Jakarta gitu loh, jalan tengah malem juga gak yang serem2 banget), riang gembira dengan cara gaul dan berpenampilan masih sekelas anak kuliahan... cuek. Tidak ada yang salah. So, entar dulu degh mikir merid, senang2 aja dulu (itu pikiranku waktu itu...).

Tibalah saatnya aku harus memasuki kehidupanku yang sebenarnya. Saat tersebut diawali dengan keberangkatan ke Bengkulu, tempat aku ditugaskan. Waktu itu aku mulai merasa seorang diri. No friend, no family... Kloter Bengkulu berangkat belakangan, teman2 dekatku dah pada away duluan, gak ada teman yang mengantar, kecuali sesama penempatan Bengkulu. Gak ada keluarga yang nganter coz kami berangkat bareng langsung dari Jakarta. Gak ada teman yang bantuin packing seperti biasanya. Malam2 terakhir juga dihabiskan sendiri di rumah kontrakan. Uhh, what a bad time...

"Selamat Datang di Bumi Raflesia!"... Bumi tempat kami akan mengabdi (jiyyahhh, gaya banget). Kurang lebih sebulan kami masih di kantor provinsi, masih bersama, masih berjiwa anak2, hehe. Juni 2008 adalah saat untuk benar2 membuka mata, menuju jungle yang sebenarnya, berpisah menuju kabupaten masing2, menjaga diri sendiri, bertindak sendiri, dan yang pasti hidup sendiri. Menyedihkan karena semua harus dijalani sendiri. Menyedihkan karena ketidakmauanku merengek2 manja ke ortu. Gak tega bikin ortu khawatir. Menyedihkan karena aku harus berpijak pada kakiku sendiri, bergaul pada manusia lain sebagai individu yang "seharusnya" sudah dewasa. Padahal... di saat2 seperti itu aku butuh merengek, aku butuh mengeluh, aku butuh menangis. But, there’s no shoulder to cry on. Hiks...

Inilah awal dari ketidakberuntungan itu (beruntungnya juga banyak, tapi gak lagi pengen dibahas). Coba bayangkan tentang seorang perempuan muda (kan baru 23, hihi) yang sudah bekerja dan tidak tinggal dengan orangtuanya... Sungguh, betapa banyak fitnah yang mengintai. Setidaknya itulah yang kurasakan sampai sejauh ini.

Jika ketika kuliah dulu aku bisa cuek jalan bareng teman cowo A ketika harus mereparasi PC, atau jalan bareng teman cowo B untuk keperluan lain, maka sekarang tidak. Di sini bukan Jakarta, bisa2 dianggap cewe gampangan degh gw. Kalau dulu gak masalah teman cowo datang ke kontrakan untuk sekedar belajar bareng atau apapun, maka sekarang harus dihindari, ntar tiba2 malah digerebek dikira macem2. Ketika aku sebaiknya beramah tamah pada personel2 instansi lain yang bekerjasama dengan kantorku, yang notabenenya bapak2, jangan terlalu degh... bisa2 dicap penggoda suami orang. Juga kepada cowo yang iseng telpon atau datang ke kost, gak mungkin serta merta dijudesin meskipun ilfil setengah idup. Benci... Aku benci situasi seperti ini, meskipun memang begitulah resiko tinggal di lingkungan pedesaan. Tapi aku kemudian merenung, kenapa hanya saat situasinya seperti ini aku baru berpikir untuk menikah...

Karena aku perempuan dan masih single, banyak fitnah membuntutiku dan akan menyergapku dengan tiba2 ketika aku lengah. Ouw, rasanya ingin segera kuakhiri masa ini. Namun entah kenapa aku hanya mengeluh tanpa mau dan berani bertindak konkrit. Payahhh...

Sendiri memang indah, kawan... Tapi bahagia bila bersamanya ^_^

Jumat, 15 Mei 2009

-44- Award Lageee!

Alhamdulillah dapet award lagi. It's The Real WEE dianugerahi 5 award oleh Anjos Blog. Terimakasih banyak atas award tersebut, trus apresiasi yang besar juga aku berikan pada si pemberi award, coz 23tahun.blogspot.com ini masih termasuk kategori blog pemula. Adapun award tersebut adalah sbb:






Nah, dalam menerima award ini, rules-nya adalah:

1. Letakkan gambar awardnya di blogmu.
2. Pasang link ke pemberi award.
3. Sebarkan award ini ke blog lainnya.
4. Pasang link ke penerima award.
5. Tinggalkan pesan di shoutbox atau post comment.

Berikut adalah penerima award dari Wee:

1. blognyasipemalas
2. mrblankx
3. zhatira elqisya
4. anak nelayan
5. kautsar

Keep blogging frennn! ^_^

Senin, 11 Mei 2009

-43- Money Can't Buy Me Love

"Wee, ada cowo yang nanyain kamu tu…"
"Hah??" – gak pengen tau sama sekali siapa tu cowo.
"Itu… yang rumahnya di depan situ."
"Hmm…" – masih gak minat sama sekali, bahkan cenderung ilfil.
"Iya, dia tu caleg, mungkin umurnya agak jauh di atasmu, tapi kaya raya, punya ini itu, rumahnya bla bla bla……"

Begitulah percakapan selintas antara aku dan ibu kost-ku kira2 sebulan yang lalu. Hfff, mungkin gitu yah kalo ibu2 yang tidak bekerja dan sudah tua, hobinya ngomong. Apa aja diomongin. Tak tahukah beliau bahwa aku ilfil, juga malah jadi takut. Tapi bukan tentang itu yang ingin aku tulis di sini. Aku ingin menggarisbawahi kalimat terakhir ibu kost-ku di atas, yang tidak kutanggapi sama sekali, namun sebenarnya langsung masuk ke dalam pikiranku.

Penting gak sih memperkenalkan seorang cowo kepada seorang cewe dengan membacakan daftar kekayaannya? Seperti dalam kasusku ini, bentuknya tu cowo aja aku gak tau. Kenal juga enggak. Namun, daftar kekayaannya sudah lebih dulu release jauh sebelum namanya disebut. And you know what… sampai detik ini si ibu kost belum pernah sekalipun menyebut nama cowo tersebut. Ada2 saja…

Dua bulan sebelumnya:

Pagi itu aku sedang ngobrol santai dengan ibu kost sembari nungguin jemputan travel ke Bengkulu. Si ibu seperti biasa, cerita apapun yang sedang ada di pikirannya dan pengen dia ungkapkan. Dia menceritakan tentang anak pertamanya yang meninggal dunia 4 bulan yang lalu karena jantung. Bahwa anak perempuannya tersebut sering makan ati karena kelakuan menantunya yang malas, tidak pernah bekerja, de el el, de es te.

Puas cerita tentang anak pertamanya, sang ibu kost beralih cerita tentang anak bungsunya. Anak bungsunya seorang laki2, sudah menikah dan mempunyai 1 orang anak. Istri anaknya tersebut (sebut saja sebagai Sita) merupakan anak bungsu dari 2 bersaudara. Kakaknya tinggal di Kalimantan, menikah dengan seorang pengusaha kaya, dan sudah dikaruniai 1 anak. Ibu kost menceritakan betapa kaya rayanya saudara menantunya tersebut, bagaimana sang kakak sering membantu adik semata wayangnya, serta betapa sayang besannya (ibunya Sita) kepada Sita dan anaknya.

Nah, rupanya bagian dari cerita ibu kost-ku kali ini adalah klimaksnya. Mungkin karena aku tipe2 pendengar yang baik, yang tidak terlalu banyak menimpali namun terkesan menyimak dengan serius (jujur saja… semua hanya atas dasar kesopanan), maka tidak jarang ibu kost memberikan nasihat di sela2 ceritanya. SIlakan disimak nasehat ibu kostku kali ini…

"Maka dari itu, kalo mau cari suami, janganlah cari yang banyak saudara2 dan sanak keluarganya, supaya kita tetep dapet warisan. Kalau sanak saudaranya banyak, boro2 mau dapet, malah jadi ribet sendiri…" *)

*) kalimat persisnya gak kaya gitu, aku hanya sedikit menerjemahkan.

Hahaha, meski aku tak membantah (secarrra… mw ngomong apa coba gw, takut kualat ahh sama orang tua), aku tertawa terbahak2 di dalam hati. Ouw God, plis degh buk… menyimpulkannya jangan kaya gitu dunk. Harusnya aku sebagai anak kemarin sore ini dinasihati agar jangan pernah mengandalkan dan menggantungkan diri pada harta orang tua. Kalau mau kaya raya, usaha sendiri dunk…

Lima menit yang lalu:

Aku kembali berpikir, mungkin skenario hidup yang telah dijalani sang ibu kost, serta lingkungan yang melingkupinya, dengan serta merta telah membuatnya berpikir begitu. Atas dasar rasa tanggungjawab orangtua yang ingin memberikan pelajaran kepada yang lebih muda, ia pun menasehati supaya aku tidak mengalami keadaan buruk seperti yang telah ia alami. But, don’t you know honey… it’s not so simple. Coz money can’t buy me love…

Selasa, 05 Mei 2009

-42- Kuku Kuku Cantik

Sembari ngantri nunggu giliran transaksi di bank, aku ngobrol santai dengan seorang teman kantor. Ketika sedang seru-serunya ngobrol,tanpa sengaja pandanganku tertuju pada suatu bagian tubuh tertentu dari seorang laki-laki tua di sebelah temanku. Hiii, aku langsung bergidik geli, sesuatu itu terlihat panjang meliuk-liuk, melingkar, kasar, keras, serta tidak sedap dipandang. Yeahh... kuku salah satu jempol tangan laki-laki tersebut puanjaaang banget. Kelihatan ribet dan membatasi ruang gerak bagi jari si empunya kuku sendiri.

Laki-laki tersebut duduk di kursi tunggu sambil memegang buku tabungan. Uhh, sayang aku gak punya fotonya. Menurut perkiraanku, kuku laki-laki itu panjangnya sekitar 5 cm-an. Coba bayangkan, bagaimana ribetnya dia memegang buku tabungan dengan kuku sepanjang itu. Lalu pandanganku beralih ke jari-jarinya yang lain. Ooo... ada cincin gede juga. Langsung kulihat wajahnya... hemm, dukun kali yah. *Hahaha, bagian ini gak penting sama sekali...*

Aku spontan memandangi kuku2ku, yang sebelumnya sudah kupotong. Gak yang pendek2 banget, tapi juga gak terlalu panjang. Kebetulan sekali momen ini terjadi. Momen sekian menit tersebut ternyata mampu mengembarakan ingatanku kemana2. Aku ingat akan keputusanku untuk memendekkan kuku2ku yang sebelumnya bertanggai, kaya kuku2 artis gitu degh. Kenapa?? Karena sebelumnya lagi, ketika aku pulang kampung, kakak perempuanku bilang bahwa dia ilfil liat kuku2 panjangku. Dan dia juga bilang... "Tau gak, di setiap kuku itu ada 40 setan...". Hah? Emang iya? Kok aku baru denger yah. Tapi entah kenapa aku yang sering ngeyel kalo dibilangin, waktu itu hanya terdiam, manyun, namun tak mampu berargumen.

Oke, sekarang aku tidak sedang ingin membahas dalil (secara aku gak tau dalilnya), lebih baik aku evaluasi aja. Apa sih gunanya kuku panjang? Mari kita buat daftarnya...
1. Terlihat cantik.
2. Kalo mau ngorek2 apaaa gitu, jadi gampang.
3. Apa lagi yah???

Kuku panjang terlihat cantik? Jawabannya iya... kalau panjangnya masih dalam batas normal, bentuknya oke, dan yang pasti kudu bersih. Emang lebih cantik kalo dibanding kuku yang dipotong habis? Iya menurutku... Tapiiii, tetap tergantung wajah juga sih, hehehe... Pikiran inilah yang pertama kali terlintas di benakku waktu itu, so... entar dulu deh motongnya.

Momen berikutnya adalah ketika aku harus mengiris bawang buat ditumis. Uhh, kuku2 jari yang kiri ngganggu banget siy, jadi ribet ahh. Selanjutnya adalah sewaktu makan di tempat makan lesehan yang lebih sedap kalo makannya pake tangan. Hadoh, kali ini kuku2 jari yang kanan yang bikin lamban gerakanku. Wah wah... kok kejadian kaya gini baru ada ketika aku pulkam aja yah. Ya iyalah... wong di kost-anku aku gak pernah masak dan makan pake tangan. Pantes... Yo wes lah, kukunya dipendekin dikit deh, masih sayang kalo diabisin...

Waktu berlalu, sebenarnya masih ada hal lain yang diribetkan karena kuku panjang ini. Mencoba bertahan, tapi kok kayanya bodoh banget sih Wee. Hiks, kuku panjang juga ternyata bikin susah sms-an di hape slider-ku. Mencet 3 tombol teratas jadi ribet ahh... Cukup. Cukup sudah kebodohanku selama ini. Udah tau bikin susah, tapi kok teteeeppp aja... Hhhh, kalo dipikir2, kenapa manusia itu sering membantah hati nuraninya sendiri yah. Membodohi diri sendiri. Tapi ya sutralah... yang penting sekarang kuku2ku sudah lebih pendek meski gak bisa dipotong sampai habis... sakiiit.

Jadi apa pesan moralnya: Potong. Potong kukumu... supaya kamu yakin bahwa air wudhu tidak terhalang ^_^

Jumat, 01 Mei 2009

-41- I Luv You, Sizta... *

Barusan aku telpon2an dengan seorang sahabat yang sudah lumayan lama tak bersua. Kangen... Kangen banget sama tu anak. Seneng bisa mendengar suara merdunya (kyaa, lebay). Entah kapan bisa kembali bertemu muka, padahal kadangkala rencana bertemu sudah disusun dalam angan2. Tapi yg namanya manusia (baca: aku) adaaaa aja ingkarnya, hehe...

Balik lagi ke acara telpon2an tadi... Ceritapun mengalir. Masih seperti dulu, tetap kutemukan idealismemu disana, tetap bertengger keceriaan dalam nada suaramu, dan tentu saja... bicaramu tetap dapat menyanjungku hingga aku benar2 merasa dianggap dan dibutuhkan sebagai sahabat. Ouw dear... ^_^

Hmm, apa sih sebenarnya arti sahabat? Samakah dg teman dekat? Wah wah, kok menurutku beda yah... Lalu siapakah sahabatmu? Sahabatku?

Menurutku, pertanyaan yg lebih tepat dilontarkan adalah apakah aku adalah seorang sahabat bagi seseorang dan bukan apakah seseorang itu adalah sahabatku... Pertanyaan tersebut, harus kutanyakan pada hatiku, dan memintanya menjawab tanpa sehelai tabir dusta menutupi (hiiih sok puitis bgt siy).

So??? Pertanyaan2 tersebut jawabannya sederhana. Begitu sederhananya sampai2 bisa disimpulkan bahwa aku adalah sahabatmu ketika hatiku bisa bilang... I luv you, sizta...

Cz I luv u, sizta...
Kudoakan semua yang terbaik untukmu tanpa pernah menunggu kau memintanya.
Kubela nama baikmu dalam tiap celah fitnah yang aku tahu sedang menimpamu.
Lalu dengan hati setulus2nya, aku berbahagia di atas bahagiamu, dan sama sekali tak kuinginkan secuilpun kesedihan menggoyangmu.

Teruntuk sahabat yang tadi kutelpon dan menelponku...
I luv you, sizta...

Jika memang semua itu baik baginya, aku mohon mudahkanlah urusannya Ya Rabb...
Namun jika semua itu tidak baik baginya, maka tunjukilah ia skenario terbaikMu Ya Allah, karena hanya Engkaulah sebaik2 pembuat skenario...

*melow mode ON
~ from my P1i ~

Kamis, 30 April 2009

-40- Penerimaan Mahasiswa Baru STIS 2009

Berminat kuliah di kampus kedinasan? Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) adalah pilihan yang pas. Hemm, berhubung banyak banget yang pengen tahu apa itu STIS, dan kebetulan aku lagi males jelasin, silakan pembaca melihat langsung informasi detil tentang apa itu STIS di sini. Kalo masih kurang jelas, boleh nanya padaku yang disini kapasitasnya adalah sebagai alumni ^_^

PENERIMAAN MAHASISWA BARU SEKOLAH TINGGI ILMU STATISTIK 2009

Syarat Pendaftaran:
*Sehat jasmani dan rohani, tidak buta warna dan bebas narkoba.
*Lulus SMA-IPA, Madrasah Aliyah jurusan IPA.
*Nilai Matematika dan Bahasa Inggris minimal 7 pada rapor kelas XII semester I dan II.
*Umur tidak lebih dari 22 tahun pada tanggal 1 Oktober 2009.
*Belum menikah dan bersedia tidak menikah selama mengikuti pendidikan sampai dengan diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).
*Tidak sedang menjalankan ikatan dinas dengan instansi lain.
*Bersedia mematuhi pertaturan STIS.
*Bersedia menandatangani Surat Perjanjian Ikatan Dinas (SPID).
*Bersedia ditempatkan di BPS seluruh Indonesia di tingkat kabupaten.

Wadohhhh, males ne copy paste infonya, supaya lebih gampang, silakan download brosurnya di sini, dijamin informasinya lebih lengkap. Syarat pendaftaran, cara pendaftaran, tahapan seleksi, ketentuan menjadi mahasiswa STIS, dll.

Yang penting, dimana si daftarnya?

Jakarta:
Kampus STIS Jl. Otto Iskandardinata
No. 64C Jakarta 13330, Telp (021) 8191437, 8508812
Fax (021) 8197577

Luar Jakarta:
Di tiap kantor BPS Provinsi Terdekat

Oke adik2, bagi yang berminat silakan daftar. Tapi bagi yang gak minat jadi PeEnEs jangan daftar yah, ntar nyesel lagi, hehe...

Minggu, 19 April 2009

-39- Siapa Yang Paling Berhak?

Gimana yah kalau seorang wanita ingin menikah? Dalam hukum Islam, dalam pernikahan harus ada wali. Wali yang dimaksud adalah wali dari pihak wanita. Lalu siapa wali ini? Yang pertama dan utama adalah ayahnya. Kenapa tidak harus ada wali dari pihak laki-laki? Itu berarti, jika ingin menikahi seorang wanita, laki-laki harus meminta wanita tersebut dari ayahnya. Karena yang paling berhak atas seorang anak perempuan adalah ayahnya... *sori, gak konsisten antara wanita dan perempuan*

Setelah laki-laki berhasil menikahi wanita tersebut, lalu bagaimana sebenarnya peranan pernikahan itu? Hmm, adanya ijab kabul berarti adanya pengesahan atas penyerahan seorang wanita dari ayahnya, kepada laki-laki yang telah sah menjadi suaminya. Apa artinya ini? Artinya wanita tersebut sudah berstatus sebagai istri, wajib menjalankan kewajibannya sebagai istri yang patuh kepada suaminya, dalam batas2 yang tidak bertentangan dengan aturan Islam. Karena yang paling berhak atas seorang istri adalah suaminya...

Rumah tangga pun terbentuk seiring berjalannya pernikahan. Suami-istri saling membutuhkan satu sama lain. Suami berhak atas istrinya, dan istri juga berhak atas suaminya. Namun sang suami masih tetap setia ngurusin keluarganya, terutama ibunya. Ehh, istrinya ngambek, merasa dinomorduakan. Sang istri pengen suaminya ada hanya untuk dirinya. Wah wah, gak boleh gitu, karena yang paling berhak atas seorang anak laki-laki adalah ibunya...

Lalu, bagaimana nasib seorang anak perempuan sekaligus istri tadi? Kapankah dia menjadi yang paling berhak atas diri seseorang? Tenang... Setelah menjadi seorang istri, Insya Allah ia akan memperoleh keturunan yang menjadi buah hatinya. Ini berarti ia telah menjadi seorang ibu, dan seorang ibu adalah yang paling berhak atas anak laki-lakinya...

Bagaimana jika seandainya ia tidak punya anak laki-laki? Berhak atas siapakah ia? Sungguh, beruntunglah Anda (dan saya) menjadi seorang wanita, karena Anda (Insya Allah) akan menjadi ibu. Ridho ibu adalah segala2nya. Karena surga berada di bawah telapak kaki ibu ^_^

Sabtu, 18 April 2009

-38- Koleksi Perangko (Part 1: Perangko Luar Negeri)


Postingan ini terinspirasi dari blog seorang sahabat Stamps For Sale, sebuah blog tentang seni perangko yang gak sengaja nemu pas blogwalking. Buat teman2 yang hobi koleksi perangko, pengen tahu lebih banyak tentang perangko, blog tersebut sangat direkomendasikan (hehe, aku dapet dana sponsor gak yah ^^).

Dulu banget, tepatnya waktu aku masih duduk di bangku SMP kelas 1, aku mulai hobi filateli alias koleksi perangko. Ini gara2 waktu itu di sekolahku ada klub filateli gitu. Berhubung secara kebetulan sejak SD aku hobi korespondensi (surat menyurat), nah... alhasil kan aku punya banyak perangko bekas tuw, jadi dikoleksi degh.

Aku dulu ngoleksi perangkonya gak yang maniak2 banget. Maklum, dulu kan masih kere (emang sekarang enggak??), jadi rasanya berat kalo mesti beli tiap ada perangko seri terbaru yang keluar. Jadilah, hasil koleksi perangkoku adalah perangko2 yang kukumpulkan dari hobi surat menyurat, plus nodong temen2 yang punya banyak perangko tapi gak tertarik sama barang tersebut.

Hmm, disini aku pengen berbagi tentang hobi masa kecil yang terlupakan ini, sekaligus mengabadikan rupa2 perangko yang pernah kukoleksi. Dan pada postingan kali ini aku tampilkan beberapa perangko luar negeri yang ada dalam album perangkoku. Tunggu postingan2 selanjutnya tentang koleksi2 perangko yang lain... ^_^

Kamis, 16 April 2009

-37- Liburan Bareng Daffa

Alhamdulillah, liburan nyontreng kemarin aku bisa pulkam. Menatap kembali wajah orang2 tercinta dalam hidupku. Uhh, senangnya... sampai2 ketika tiba waktunya kembali ke habitat asli, aku sempat bete berat. Tapi kali ini aku gak akan cerita terlalu banyak tentang acara pulkamku kemarin. Puanjaaaang kalo diceritakan sedetil2nya, hehe sapa juga yang mau denger... Jadi, ceritaku kali ini adalah tentang sosok mungil, lucu, dan menggemaskan bernama Haidar Daffa Abdillah.

Rabu, 8 April 2009 aku berangkat dari Terminal Simpang Nangka Curup jam 4.15 pm dan tiba di rumah Kamis dini hari jam 1.30 am. Kamis, 9 April 2009 aku ikutan ngantri buat nyontreng. Kebetulan aku terdaftar, jadi daripada golput ya mending milih. Waktu itu Daffa masih di rumahnya, di Muara Dua sono, sekitar 2 jam dari Baturaja, dan baru berencana ke Baturaja keesokan harinya (Jumat). Lama amat, pikirku waktu itu... aku kan dah kangen.

Jumat pagi, 10 April 2009 Bapak, Ibuk dan aku berangkat ke Muaradua, mau jemput Daffa. Huahhh, kangen banget degh sama anak ini. Daffa adalah putra pertama kakakku, cucu pertama Bapak dan Ibuk, serta keponakan pertama bagi aku dan adikku. Aku sayaaaang banget sama Daffa si anak sholeh, ngangenin banget emang, hihihi.

Sampai di Muaradua dan ketemu Daffa, aku agak kaget. Daffa udah gede banget. Terakhir kali aku melihatnya awal Januari lalu, waktu itu Daffa baru 1,5 bulan dan sekarang sudah hampir 5 bulan, kepalanya dah bisa ditegakkan, dan Daffa juga dah bisa tengkurap. Ya ampuuun, tambah lucu aja, ndut lagi, n gak bisa diem, tangan dan kakinya senantiasa gerak2 kesana kemari dengan riangnya. Huhuhu, ingin rasanya kupeluk terus baby-nya kakakku tersebut ^^

Hari itu kami jalan2 ke Danau Ranau, sekitar 2 jam dari rumah kakakku. Bapak, Ibuk, Yuk Mita, Kak Rival, Mamah (mertuanya Yuk Mita),Daffa, dan aku. Hmm, lumayan capek juga euy, setelah menempuh 2 jam perjalanan Baturaja - Muaradua, lanjut 2 jam lagi. Tapi Si Daffa Daffa bagai kepompong (hehe, itu julukan kami buat Daffa sewaktu dia masih dibedong dulu, sekarang kan gak lagi...) gak rewel. Emang gitu kalo anak sholeh (amiiinn....).

Sepanjang perjalanan sampai kami tiba di Danau Ranau, fokusku cuma pada Daffa. Jadi, yang difoto hanya Daffa, Daffa dan Daffa. Yang laen entar dulu degh. Tuw, intip sedikit koleksi fotonya di bawah. Aku bahkan lupa untuk foto2 danau yang terkenal di SumSel tersebut. Hehe, Daffa sudah membuatku amnesia (lebay dikit gpp lah...).


Huff, sekarang aku kembali berpisah dengan Daffa. Terkadang haru menyeruak ketika memandang foto2 ponakan kecilku tersebut. Maha Suci Allah yang telah menciptakan manusia yang tumbuh dari seorang bayi mungil tak berdosa, dimana kedamaian terasa menyusup ke kalbu ketika menatap mata beningnya.

Minggu, 12 April 2009

-36- Super Follower Award

Wah wah, It's Juzt Wee's Opened Diary dapet award ni... Sebenarnya dah lama siy, tapi berhubung akhir2 ini koneksi lagi ngos2an, baru sempat diambil sekarang degh award-nya. Nama award-nya Super Follower Award, bentuknya yang cantik bisa dilihat di bawah. Award ini diberikan oleh Fatamorgana yang diteruskan dari pembuatnya Good Girl Bad Blog (GGBB). Makasiy banyak atas penghargaannya...



Nah, sesuai instruksi dari penganugerah, maka diharapkan supaya penerima:
*bisa menampilkan/memajang logo award di blognya masing-masing,
*menyampaikan award kepada para follower dan menyampaikan pesan kepada si penerima,
*membuat link blog pemberi award,
*memberikan pesan kepada si penerima untuk bisa diteruskan kepada blog pengikutnya.

Oke, kalo gitu, Wee mau meneruskan award ini kepada: Seni Perangko, Selebriti Internet, dan N.A. Times. Selamat dan makasih banyak dah sudi jadi follower. Keep blogging!!! ^^

-35- Friendly Blogger Award

Nah, ini neh award pertamaku. Asli, awalnya gak ngerti sama sekali bahwa ada award2 gt, maklum newbie di kancah blog. Award pertama ini namanya Friendly Blogger Award, dianugerahkan oleh Coretan Harian Anak BJM. Liat di bawah bentuk awardnya. Lucu kan? ^^



Hmm, aku mau ambil awardnya ahh, tapi ada syaratnya. Ini dia syaratnya:
*Ambil foto terbarumu atau foto sekarang juga.
*Jangan ganti baju, jangan rapikan rambut, pokoknya ambil foto aja.
*Post instruksinya barengan ama fotomu.
*Tag 10 orang buat ngelakuin ini.

Trus, sekarang aku mesti memenuhi syaratnya neh. Oke, ini dia fotonya...


Dan yang beruntung mendapatkan award ini selanjutnya adalah:
1. Mbak Lala
2. Cangkruk
3. Sibangor
Berhubung aku bingung nyari2 10 orang, so... 3 cukup degh, hehe. Selamat kepada penerima award, semoga berkenan ^^

Senin, 06 April 2009

-34- The Caffeine & My Lovely Ice

Ngebahas tentang kafein berarti ngebahas tentang kopi. Apa yang ada di benak Anda ketika pertama kali mendengar kata "kopi"? Kalo aku siy, pas denger kata "kopi", kata2 bertautan yang langsung nyangkut di kepalaku adalah "hitam", "pahit", dan "aku gak suka". Pada tingkat kesadaran berikutnya, kata yang nyangkut juga adalah "kafein". Secara umum, auranya langsung negatif (bukan Aura Kasih loh ^_^).

Setelah beberapa saat kemudian, aura negatif berangsur2 berkurang seiring kesadaranku yang mulai pulih. Aku yang dengan sendirinya menciptakan aura negatif tersebut sempat tidak sadar bahwa sebenarnya aku pun adalah konsumen kafein. Yupz, kafein ada pada kopi, dan yang namanya kopi gak mesti berwujud hitam jelek. Nama2 keren seperti Cappuchino, Moccachino, Vanilla Latte, Carrebean yang disematkan pada produk2 Good Day, Indocafe ataupun Nescafe, bukankah juga adalah kopi.

Meskipun aku pengonsumsi produk2 keren varian kopi instan tersebut, aku tetap tidak sudi mengakui bahwa aku penggemar kopi. Hehe, sok2an banged seh gw... Kadang aku merasa aneh dengan diriku sendiri, semua minuman kok kuembat aja yah, kecuali yang ber-genre sirup. Mimunam wajibku adalah air putih yang 1 galonnya bisa kuhabiskan hanya dalam beberapa hari saja. Minuman sehari2ku adalah susu dan sekali2 susu murni. Kalo lagi makan di luar, minuman fave-ku adalah teh manis yang wajib pake es batu, atau softdrink yang juga wajib pake es batu. Then, tiap hari; terutama saat santai; aku wajib mengonsumsi; lagi-lagi; es batu. Trus, gak mungkin kan kalo es batu dimakan gitu aja (mungkinjuga siy...), jadi es batu tersebut akan ditemani oleh kopi2an instan seperti di atas atau sekedar nutrisari. Berhubung aku gak bisa hidup tanpa es batu (dramatis sekalee), jadi bisa dipastikan hampir tiap hari kafein masuk ke tubuhku meskipun jumlahnya sangat kecil.

Then, what is the meaning of "addiction" exactly? Banyak orang bilang bahwa kafein pada kopi bisa bikin kecanduan. So, what about me? Yeah, dengan sepenuhnya sadar kuakui bahwa aku memang sudah kecanduan. Tapi bukan kecanduan kafein melainkan kecanduan es batu, sampai2 orang2 terdekatku bilang bahwa aku bukan peminum, melainkan pemakan es batu, dan melihatku makan es batu adalah layaknya melihat orang kebanyakan makan kerupuk. Mau hari ujan atau sedingin apapun, gak ngaruh. Cz of that, cappuchino ataupun nutrisari bukanlah pemegang peranan penting. Mereka hanya pemain pendukung agar si es batu gak sendirian.

Secara teori, seharusnya aku yang secara otomatis sudah menjadi penikmat kafein akan menjadi pecandu juga. Tapi kok enggak yah... Kalo aku disodorin kopi panas, apapun bentuknya, entah kopi item, kopi plus mocca, atau kopi apapun yang panas2, pasti kutolak, gak minat sedikitpun. Yang dingin juga gitu, kecuali kalo ada es batunya. Jadi, bisakah disimpulkan bahwa dalam kasusku, kecanduan akan kafein bisa terkalahkan oleh cintaku pada es batu?! Hohoho, I think, I hv already had d answer...