Tampilkan postingan dengan label Family. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Family. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Agustus 2013

-112- Nathifa's Born (Part 1)

WARNING! TULISAN INI BUKAN UNTUK NAKUT-NAKUTIN BUNDA YANG MAU MELAHIRKAN, CUMAN BERBAGI CERITA SUPAYA PARA BUNDA MEMBERDAYAKAN DIRI SECARA MAKSIMAL SEMASA HAMIL. KALO ADA YANG TAKUT MELAHIRKAN, JANGAN DIBACA YA! ^_^

Hari itu Rabu, 19 Juni 2013 tepat jam 11.25 waktu rumah sakit, dan 11.27 versi jam-nya ayah, adek mulai melihat dunia. Kami bahkan belum punya nama yang pasti untuk putri kami. Proses kelahiran adek terbilang kurang maksimal dan optimal menurut saya. Kurang lembut... Semoga tidak menjadi trauma buat adek juga buat saya, karena kenyataannya sampai sekarang saya masih takut hamil lagi. Alhamdulillah adek dan bunda sehat2 semua.

Sebelumnya hpl adek menurut dokter 15 Juni 2013. Tapi gak ada tanda-tanda lahir apapun sejak dari sebelumnya sampai setelahnya. Sebelumnya saya masih sangat optimis dan percaya bahwa adek pintar dan akan memilih waktunya sendiri untuk bertemu kami. Lama-kelamaan saya jadi galau kok adek gak keluar2, mana cuti saya juga sudah melampaui 1 bulan sebelum lahiran. Apalagi dibanding perkiraan bidan yang hpl-nya 29 Mei, ini sudah melenceng jauh. Akhirnya Selasa, tanggal 18 Juni 2013 saya kontrol lagi untuk melihat perkembangan adek.

Sekitar jam 11.30 siang kami ke RS. Saya USG lagi, dan ini USG ke-10 selama hamil adek. Kondisi baik semua, posisi sudah pas. Hanya saja placenta sudah pengapuran (kata dokternya), berat janin diperkirakan sekitar 2,8 kg, dan tekanan darah saya masih bertahan di 100/90. Saya dibuatkan surat pengantar ke IGD untuk diinduksi. Kami minta pulang dulu untuk siap2 sambil menimbang lagi, apakah benar2 mau diinduksi dan akan bersalin di rumah sakit disini saja. Oiya, kontrol kali ini pertama kalinya saya diperiksa dalam alias vt. Sumpah, saya gak sukaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa, pake banget *angry*. Sakit... dan saya kurang bisa nerima bagian paling sensitif saya digituin orang. Tapi katanya memang begitulah seharusnya. Oh God... (elus2 dada ngebayangin gimana para ibu yg bersalin dengan obsgyn yang mayoritas laki-laki). Untung obsgyn saya perempuan, dan semua bidan yang 'megang' saya juga perempuan.

Kami pulang, sambil galau. Apa mau ke Bengkulu cari second opinion dan lahiran disana yang menurut suami saya lebih bagus. Entahlah, suami kayaknya rada takut saya melahirkan disini, takut fasilitas kurang memadai kalau nanti harus sc. Sementara saya sendiri gak mau lahiran dimana2 selain di wilayah tempat tinggal sendiri atau di rumah orangtua di Baturaja. Pilihannya hanya 2 itu saja. Pilihan yang paling nyaman menurut saya. Saya gak mau 'merasa' repot sendiri walaupun kenyataannya saya tinggak terima beres, gak ngapa2in. Yah yang namanya perasaan kan gak bisa dipaksakan ya. Nyamannya saya ya hanya saya yang bisa ngerasain.

Setelah tanya sana sini, pikir bolak balik, akhirnya sorenya kami ke RS dalam keadaan saya yang segar bugar. Rasanya aneh, gak sakit kok malah minta opname dan nginep di RS. Kayak cari2 masalah sendiri aja. Sebelumnya prosesnya panjang loh sampai kemudian keputusan diambil. Ada yang bilang daripada diinduksi mending langsung sc. Ada lagi pertimbangan dokter lebih tau mana yang lebih baik, jadi kalo disuruh induksi ya diturutin aja, yang penting adek kan memang sudah cukup umur dan ada alasan kenapa harus induksi. Ada juga perasaan ingin ngikutin naluri, percaya bahwa adek pintar, bisa menentukan sendiri waktu launching-nya. Atau pertimbangan ke Bengkulu dan kalau ternyata sama aja (harus induksi) berarti langsung balik lagi ke Arma dan lahiran disini. Tadinya mau opsi ini yang diambil, tapi malah rasanya ribet. Toh bagaimanapun saya gak mau lahiran di Bengkulu kok, jadi ya mending gak usah nyapek2in badan sendiri bolak balik Bengkulu-Arga Makmur cuman mau periksa lagi. Ibu Bapak saya di Baturaja pas dikabarin juga bilang terserah pertimbangan kami dan percaya aja sama dokter. DEAL... saya akhirnya siap2 keperluan saya dan keperluan adek. Sehabis ashar dan suami pulang kantor kami ke RS, menunggu gelombang cinta itu datang. Gelombang cinta yang agak dipaksakan karena bukan normal spontan.

Ketika berangkat ke RS, di rumah belum ada siapa2, jadilah Mas Aim tinggal sama Budhe Nar di rumah. Saya bahkan masih sangat ingat bagaimana perasaan saya saat itu. Saya masih merasa aneh, wong saya gak sakit kok. Dan saya tipe yang takut dengan jarum suntik. Beneran, saya takut disuntik dan seumur hidup saya saya belum pernah diinfus. Dan lagi, saya tau bahwa saya datang ke RS ini memang 'mencari sakit', memang minta disuntik, minta diinfus. Hiks... mungkin mental saya sudah jatuh duluan sebelum berjuang kali yah. Makanya perjuangan saya rasanya kurang maksimal. Waktu diperiksa, tekanan darah saya 110/90, naik dibanding siangnya. Karena tegang kali yah :D. Bidan juga bilang ke suami untuk siap2 pendonor darah jika nanti saya harus transfusi karena hb saya rendah.

Saya mulai diinduksi. Awalnya saya kira saya akan diinfus, rupanya enggak. Saya diinduksi dengan metode prostaglandin dimana ada tablet kecil yang dimasukkan ke vagina. Obat pertama dimasukkan sekitar jam 6 sore, dan itu kedua kalinya jalan lahir adek diobok2 orang. Saya semakin benci dan sepertinya harus bisa menerima proses itu (yang katanya memang begitulah seharusnya) karena setelahnya saya digituin terus. Ya Allah, beginilah perjuangan seorang ibu. Satu jam, dua jam, tiga jam... tetap gak ada rasa akan bersalin. Semua biasa aja. Ibu mertua, kakak ipar saya dan istrinya sudah datang. Malam itu (Selasa malam) saya bersama suami dan ibu mertua tidur di RS.

Menjelang jam 11 malam saya mulai mules2, rasanya pengen BAB. Saya bolak balik ke kamar mandi buat pis dan nyoba pup, tapi mulesnya tetap ada. Saya gak nyadar bahwa itu berarti saya sudah mulai kontraksi. Jam 12 malam bidan kembali memasukkan obat ke jalan lahir. Dan setelah itu proses persalinan yang sebenarnya segera dimulai. Saya semakin mules, bahkan perut saya cenderung sakit. Malam itu saya belum tidur sama sekali. Bolak balik kanan kiri tetep gak bisa tidur. Suami saya suruh tidur aja karena gak bisa juga bantuin saya ngurangin sakit. Lagian biar istirahat karena pasti akan capek sekali kalo proses lahiran sudah mulai. Palingan kalo ada apa2 saya bangunin suami, jadilah suami saya tidur-bangun-tidur... begitu terus.

Sekitar jam 1 malam saya coba pup dan kali ini benar2 pup. Tapi setelahnya kain yang saya kenakan terasa basah dan terlihat ada darah di lantai. Saya mulai panik dan bangunin suami, kenapa ada darah. Suami memanggil bidan dan bilang bahwa memang begitulah seharusnya. Berarti sudah mulai kontraksi dan ditunggu aja sakitnya. Owalah, sakit kok ditunggu ya... Ini aja udah gak bisa ngapa2in lagi, sakit terus2an tapi masih bisa ditahan.

Sepanjang malam saya gak bisa tidur, dan sekitar jam setengah 4 pagi ketuban mulai keluar. Rupanya seperti ini yang diceritakan teman2 tentang ketuban yang pecah duluan. Rasanya seperti keluar darah menstruasi, keluar begitu saja tanpa bisa ditahan, tapi bentuknya air kayak pipis. Bidan jaga mulai meminta saya pindah ke ruang vk (ruang bersalin) sebelum saya gak sanggup lagi berjalan. Sekitar jam 4 pagi saya masuk ruang vk dan dimulailah proses 'sakit' yang luar biasa itu. Saya masih ingat sekali detilnya kawan. Jika itu sebuah film, saya masih ingat setiap frame, setiap detiknya. Kami ke ruang vk, saya masih sanggup berjalan. Sakitnya masih bisa ditahan walaupun mulai tak nyaman.

Di ruang vk saya tidak diperkenankan meninggalkan tempat tidur, bahkan pipis pun harus di tempat tidur. Itu karena ketuban saya sudah pecah, rembes istilahnya. Soalnya keluarnya sedikit2 tapi terus2an. Rasanya lama kelamaan semakin sakit. Entah kenapa semua tidak sesuai dengan referensi saya. Katanya kontraksi akan berjalan awalnya dalam rentang waktu yang lama, lalu lama kelamaan jedanya semakin sebentar. Tapi kenapa saya merasa sakit terus2an dan jedanya hanya sebentar. Saya mulai diinfus dan itulah kali pertama dalam hidup saya, saya ditusuk jarum infus. Jujur saya takut. Saat itu saya ditunggui suami dan ibu mertua. Mereka gantian pas subuhan. Sekitar jam 6 Mas Eko dan Mbak Binti (kakak ipar saya dan istrinya) datang ke RS. Sejak saat itu Mbak Binti mulai ikut nungguin saya, terus sampai adek lahir.

Waktu rasanya berjalan begitu lama karena saya harus menahan sakit dan terus2an ketuban keluar setiap saya kontraksi. Sakitnya itu rasanya gimana ya... gak bisa diceritakan dengan kata2. Bukan sakit kayak sakit karena luka atau apa, tapi ah... entahlah gimana nyeritainnya. Kalau kata orang2 tua, gak ada sakit yang lebih sakit lagi selain sakitnya melahirkan, selain sakaratul maut tentunya (ya iyalah, emang ada gitu orang yg bisa nyeritain gimana rasanya sakaratul maut). Hari Rabu sekitar jam 7 pagi saya di vt dan katanya baru bukaan 1. Ya Allah, kenapa begitu lama sementara saya sudah sakit sekali. Mana ada bidan yang bilang bahwa untuk nambah 1 bukaan butuh 2 jam, berarti kalo mau sampai bukaan 10 saya butuh 20 jam. Masya Allah, rasanya saya gak sanggup kalau harus nahan sakit selama itu. Hiks... Tapi ada juga yang bikin saya senang, suami bilang kalau Nyek sama Yai (ibu dan bapak saya) mau datang, dan sudah mau sampai Bengkulu. Alhamdulillah. Tadinya ibu sama bapak memang akan datang kalau saya lahiran, tapi saya gak nyangka ternyata begitu dikabarin kemarin sore bahwa saya sudah mulai masuk RS, malamnya ibu-bapak langsung berangkat kesini. Oh I really love you, dear parents...

Saya disuruh makan supaya ada tenaga kalau harus mengejan nanti. Suami sibuk ngebujuk saya makan, nawarin susu lah, ini lah, itu lah... dan saya gak mau. Rasanya mual dan gak mood makan sama sekali. Gado-gado, semua campur aduk jadi satu. Istighfar, tasbih, tahmid, takbir... semua udah disebut terus. Lalu sekitar jam 8 pagi setelah saya berhasil makan 2 suap nasi saya mulai disuruh puasa karena ada kemungkinan akan sc. Puasa? Ayok aja, wong saya memang gak pengen makan sama sekali, hehe...

Jam 9 pagi saya di vt lagi dan katanya baru bukaan 4. Ya Allah, it's sooooo long... Sejauh itu sudah berkali2 adek didoppler, mungkin takut terjadi apa2. Bidan yang meriksa bilang kalau ketuban sudah habis dan kata dokter akan ditunggu sampai jam 11, kalau adek belum lahir juga akan di-sc. Katanya sih bayi bisa bertahan 6 jam kalau ketuban sudah habis, makanya suami juga cemas. Saya berkali-kali minta segera sc aja, gak tahan lagi rasanya. Keringat udah gak kehitung lagi berapa liter yang keluar (lebay). Entahlah... gak karuan semuanya. Saya dah gak peduli lagi dengan tubuh saya atau apapun yang terjadi di sekitar saya. Rasanya luar biasa sakit. Nunggu jam 11 kok lama sekali. Bahkan saya terus2an liat jam dan berlalunya waktu 1 menit pun terasa begitu lama akibat ngerasain kontraksi yang aduhai. Liat saya kesakitan banget gitu, juga permintaan sc terus2an juga bikin suami saya ikutan panik dan berkali2 nanyain ke bidan minta sc juga. Ah, rasanya kok saya sedang dejavu ya, saking ingatnya bagaimana perasaan saya waktu itu dan bagaimana kondisi di sekitar saya. Malahan, Mas Aim datang liat bundanya kesakitan nanya ini itu saya cuman bisa merem sambil bilang he eh, he eh gitu aja :D

Jam 10 pagi saya di-vt lagi dan katanya sudah bukaan 8. Ada harapan akan normal tapi rasanya tetap saja saya sulit untuk bertahan. Sakit banget banget. Saya diberi obat pengurang rasa sakit yang dimasukkan lewat infus dan gak ngefek sama sekali sampai saya sempat complain ke bidan dan dokter (saat dokter mulai menangani saya), kok obatnya gak bereaksi, rasa sakitnya tetap dahsyat. Bu dokter tertawa, katanya... ya memang begitulah kalau lagi lahiran, rasanya akan nano nano.

Jam 10.30 Bu Lingling, dsog yang menangani saya (alhamdulillah saya dapet dsog perempuan) mulai masuk ruang vk. Dimulailah waktu2 paling bersejarah dalam hidup saya. Kita lanjutkan lagi ke part berikutnya ya pembaca yang budiman, he... (terutama Adek Nathifa, nanti kalau ananda sudah besar dan mengerti). Cerita saya sudah kepanjangan. Diputus dulu untuk dilanjutkan kemudian. Daa daa... ^_^

Jumat, 09 Agustus 2013

-111- IED Tahun Kedua

Ini tahun kedua Idul Fitri saya yang bukan di rumah orang tua sendiri. Ya, semenjak menikah saya (kami) memang belum pernah mudik lebaran. Mudiknya karena kepentingan lain. Sedih loh, walaupun di satu sisi ya gakpapa juga. Konsekuensi sebuah pernikahan alias konsekuensi nikah bukan dengan orang sedaerah. Mudiknya beda2. Masih alhamdulillah disini juga rame, kumpul keluarga yang bikin hepi. Tentu saja sekaligus bikin terharu, inget bapak sama ibuk di rumah yang dah 2 tahun ini pas lebaran anaknya gak ngumpul. Insya Allah tahun depan ya Nyek, Yai, pas Dek Thifa sudah mulai besar :).

Hari ini lebaran, saatnya maaf2an. Meskipun seharusnya maaf2an gak harus nunggu lebaran, tapi momen Idul Fitri ini memang beda, spesial gitu deh. Hari khusus utk menyadari betapa kita banyak salah sama orang2 terdekat kita, keluarga kita, sanak saudara, teman2, semuanya...

Ah, saya jadi pengen posting foto keluarga yang diambil tadi pagi di rumah Mbah Kakung :D

Ini formasi lengkap keluarga Mbah Kakung dan Mbah Uti, bersama anak-anak, menantu dan cucu-cucu. Kalo gak lebaran udah susah mau ngumpul, pada punya krucil sih... Fotonya diambil segera setelah sholat ied, sebelum anak2 pada gak betah dengan kostumnya. Itu aja susyaahhhh ngaturnya euy...

Selamat Idul Fitri. Mohon dimaafkan semua salah dan khilaf. Bahkan sama Dek Thifa bunda minta maaf sering gak sabar kalo nenenin nyuruh cepet2 selesai :D

Semuanya, maafin saya yah...

Senin, 01 Oktober 2012

-94- 1'st Anniversary

Satu tahun yang lalu pada tanggal yang sama seperti hari ini, harinya adalah Sabtu, dimana sekitar jam 2 siang kami melaksanakan akad nikah. Nothing's to celebrated memang. Hanya saja, di tanggal yang sama setahun kemudian, aku ingin mengenang bahwa pernikahan kami ternyata sudah mulai menginjak hitungan tahun. Meskipun baru angka satu, penunjuk bahwa kehidupan sebenarnya baru saja dimulai. Dan mungkin saja, hanya aku satu-satunya yang mengingat tanggal ini dengan baik.

Aku memang tidak suka perayaan ulang tahun, ulang tahun apapun. Tapi aku juga tidak menentang jika ingin menjadikan momen tersebut sebagai momen memberi hadiah, misalnya, atau sekedar memanfaatkan waktu yang pas untuk mengungkapkan doa dan sayang yang mungkin biasanya hanya tersimpan rapi di sudut hati. Apapun itu, yang penting aku harus selalu bersyukur atas setiap momen bersama, atas berlalunya setiap waktu. Aku ingin menghargai setiap pertambahan bilangan usia itu, karena belum tentu ia akan lama berpihak kepadaku.

Alhamdulillah Ya Rabb... Terima kasih banyak atas satu tahun yang telah Engkau berikan. Terima kasih banyak atas setiap suka yang telah Engkau anugerahkan. Terima kasih banyak atas setiap secuil pelajaran hidup yang begitu mahal, yang tak pernah kudapatkan dari sekolah formal manapun. Terima kasih banyak atas semuanya, yang menjadikanku ibarat keran air yang tiba-tiba menjadi tertutup, tak lagi bisa mengucurkan aksara untuk menceritakannya.

Teruntuk suamiku sayang

Sudah satu tahun sayang, dan ternyata kita bisa melewatinya. Alhamdulillah ya... Satu tahun pertama yang entah kenapa terasa begitu cepat berlalu. Bulan segera berganti tanpa hendak berhenti bahkan untuk menyapa. Satu tahun untuk saling mengenal lebih dan lebih lagi. Satu tahun untuk saling memahami lebih dalam. Satu tahun untuk mengendalikan ego demi menyambung potongan kayu yang telah diikrarkan untuk direkatkan selamanya, semakin kokoh seiring waktu. Satu tahun untuk semakin menguatkan tekad meraih mimpi. Satu tahun untuk menempa diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Satu tahun untuk terus menerus menyemai benih cinta dan sayang, mengikat rasa dalam koridor yang benar, halal, dan diberkahi. Satu tahun untuk selalu belajar menyelaraskan langkah.
(Tuh kan, aku selalu gagal menahan air mata setiap kali memfokuskan perasaan ketika memaknai sebuah ulang tahun. Bagaimana bisa orang-orang itu merayakan ulang tahun dengan sukacita, tertawa senang seolah tahun berikutnya akan selalu ada. Bergembira atas berkurangnya jatah waktu untuk selalu bersama. Bagaimana bisa?)
Sudah satu tahun sayang. Aku bersyukur atas setiap waktu bersamamu, waktu yang begitu berharga, waktu yang ingin selalu kugenggam. Aku bahagia atas kasih sayang tanpa henti, yang kuyakin mampu menundukkan himalaya. Rasanya aku tidur dengan nyaman ketika engkau disampingku. Rasanya hidupku aman ketika engkau mendampingiku. (wadawww, aku kok melow amat nulisnya yak...)

And I call you, home...

Terima kasih sayang, atas peluk cium yang selalu kurindukan. Atas sayang dan perhatian yang tak pernah lelah. Atas seni berkehidupan yang sudah engkau bagi. Terima kasih sudah menjadi suami dan ayah terbaik bagi kami. Maafkan aku atas setiap ego yang tak mampu terkendali, atas setiap buruknya suasana hati yang tak mampu tersimpan, atas setiap kelalaian dalam mengurus urusanmu, atas semuanya... semua tugas yang mungkin belum mampu kupikul dengan benar.

Allah Engkaulah yang Maha segalanya, Engkau yang menggenggam kehidupan, Engkau sebaik-baik dalang, berkahilah kami selalu Ya Rabb. Jagalah keluarga kami, kuatkan ikatan kami, sucikan cinta kami, baikkanlah kami, jadikan kami senantiasa saling melengkapi sepanjang usia. Amiin...

Selasa, 24 April 2012

-85- Manakala Hidupmu Tampak Susah Untuk Dijalani...

Copas dari note fb-nya teman, like this banget deh...
Ini source-nya http://m.facebook.com/note.php?note_id=10150756644408360&refid=22&_rdr#10150762651273360

Seorang professor berdiri di depan kelas filsafat dan mempunyai beberapa barang di depan mejanya. Saat kelas dimulai, tanpa mengucapkan sepatah kata, dia mengambil sebuah toples mayones kosong yang besar dan mulai mengisi dengan bola-bola golf.

Kemudian dia berkata pada para muridnya, apakah toples itu sudah penuh? Mahasiswa menyetujuinya.

Kemudian professor mengambil sekotak batu koral dan menuangkannya ke dalam toples. Dia mengguncang dengan ringan. Batu-batu koral masuk, mengisi tempat yang kosong di antara bola-bola golf.

Kemudian dia bertanya pada para muridnya, Apakah toples itu sudah penuh? Mereka setuju bahwa toples itu sudah penuh.

Selanjutnya profesor mengambil sekotak pasir dan menebarkan ke dalam toples... Tentu saja pasir itu menutup segala sesuatunya. Profesor sekali lagi bertanya apakah toples sudah penuh? Para murid dengan suara bulat berkata, "Yaa!"

Profesor kemudian menyeduh dua cangkir kopi dari bawah meja dan menuangkan isinya ke dalam toples, dan secara efektif mengisi ruangan kosong di antara pasir.

Para murid tertawa...

"Sekarang," kata profesor ketika suara tawa mereda, "Saya ingin kalian memahami bahwa toples ini mewakili kehidupanmu."

"Bola-bola golf adalah hal-hal yang penting - Tuhan, keluarga, anak-anak, kesehatan, teman dan para sahabat. Jika segala sesuatu hilang dan hanya tinggal mereka, maka hidupmu masih tetap penuh."

"Batu-batu koral adalah segala hal lain, seperti pekerjaanmu, rumah dan mobil."

"Pasir adalah hal-hal yang lainnya - hal-hal yg sepele."

"Jika kalian pertama kali memasukkan pasir ke dalam toples," lanjut profesor, "Maka tidak akan tersisa ruangan untuk batu koral ataupun untuk bola-bola golf. Hal yang sama akan terjadi dalam hidupmu."

"Jika kalian menghabiskan energi untuk hal-hal sepele, kalian tidak akan mempunyai ruang untuk hal-hal yang penting buat kalian"

"Jadi..."

"Berilah perhatian untuk hal-hal yang kritis untuk kebahagiaanmu. Bermainlah dengan anak-anakmu.Luangkan waktu untuk check up kesehatan.Ajak pasanganmu untuk keluar makan malam. Akan selalu ada waktu untuk membersihkan rumah, dan memperbaiki mobil atau perabotan."

"Berikan perhatian terlebih dahulu kepada bola-bola golf - Hal-hal yang benar-benar penting. Atur prioritasmu. Baru yang terakhir, urus pasir-nya."

Salah satu murid mengangkat tangan dan bertanya, "Kalau Kopi yg dituangkan tadi mewakili apa?" Profesor tersenyum, "Saya senang kamu bertanya. Itu untuk menunjukkan kepada kalian, sekalipun hidupmu tampak sudah begitu penuh, tetap selalu tersedia tempat untuk secangkir kopi bersama sahabat." :-)

Saya suka sekali dengan tulisan ini. Kalau suami saya mengibaratkan keluarga adalah bola-bola kaca yang ketika jatuh maka ia akan pecah. Sedangkan pekerjaan, karir, dan sejenisnya merupakan bola-bola karet yang ketika jatuh  ia masih bisa melambung lagi, bahkan lebih tinggi. Bola-bola kaca, kata suami saya, atau bola-bola golf, kata tulisan di atas, memang tak ternilai harganya, tak bisa tergantikan oleh apapun.

Ah, terus terang kangen saya pada ibu bapak semakin menjadi2. Allah mohon beritahu mereka bahwa saya sayang, sangat sayang, meski sekarang saya jadi jarang pulang (hiks hiks, tuh kan jadi sedih... T.T). Allah saya tau Engkau Maha Tau, bahwa saya menyayangi mereka dalam doa, dalam hela napas, dalam usaha keras membangun keluarga saya, dalam perjuangan berat untuk ikhlas menjaga setiap amanah, dalam hati ini. Allah saya tau Engkau Maha Adil, saya yakin Engkau yang akan menjaga mereka, lahir batin, jiwa raga, meski saya tak disana. Bahagiakan jiwa mereka, sehatkan raga mereka, tenteramkan hati mereka dan mohon ridhoi kami, anak-anaknya, agar senantiasa menjadi penyejuk hati dan penambah amal mereka. Amiin...

Rabu, 18 April 2012

-84- Sarapan Pagi Tadi: Bubur Ayam Sukabumi

Berawal dari request suami beberapa hari yang lalu sepulang dari Ratekda, akhirnya tadi pagi berhasil juga aku bikin bubur ayam buat sarapan. Ceritanya pas Ratekda suami makan bubur ayam, jadi pulang2 langsung request sekali2 bikin bubur ayam buat sarapan. Padahal, yang jual bubur ayam disini ada loh, kan kalo gak mau repot ya tinggal beli aja. Tapi katanya, "Ah, yg itu gak enak, bunda bikin sendiri aja, pasti lebih enak...". Kesimpulannya sudah jelas, aku diminta bikin bubur ayam. Sesuatu yang awalnya terasa amat sulit untuk ukuran orang yg gak pinter masak sepertiku.

Yup, aku suka makan, suamiku juga, kami sama2 suka makan. Masalahnya adalah aku gak pinter masak. Kalopun masak sendiri, gak tau kenapa rasanya setelah masakanku jadi alias mateng, aku sendiri gak minat makannya, sudah kenyang duluan. Atau karena sugesti dari diri sendiri bahwa masakanku itu pasti gak enak ya, hihihi... Apapun itulah, yg penting adalah aku tidak pernah merasa susah, mau masak apapun resepnya bertebaran di internet, tinggal bahannya aja yang tersedia atau tidak. Kita kan hidup di zaman yang sudah serba canggih, gak perlu koleksi buku resep banyak2, yg penting bisa internetan. Dan titik, semua selesai, sangat membantu untuk tipe yang bekerja berdasarkan instruksi sepertiku

Hmm, rasanya ada banyak hal tentang masak memasak yang ingin kubuat tulisannya. Apalagi semenjak aku menikah, kemajuanku dalam hal masak memasak sangat pesat walaupun masih sangat jauuuuhhhh dari kelasnya 'chef' bahkan yg amatiran sekalipun. Pokoknya intinya menikah membuat aku perempuan jadi 'bisa' masak :D

Balik lagi pada bahasan BUBUR AYAM SUKABUMI. Saya rekomendasikan resep ini bagi yang gak bisa masak tapi diminta suaminya bikin bubur ayam. Simpel dan gak pake ribet. Rasanya juga gak kalah sama masakan hotel bintang lima (kata suamiku, yg aku yakin itu hanya untuk menghiburku biar gak nangis bombay dan gak ngambek masak, hihihi...).

Resepnya bisa diintip disini http://inforesep.com/resep-bubur-ayam-sukabumi.html ya frens... Selamat mencoba! ^_^

Selasa, 22 Desember 2009

-63- Mother's Day 09

Sejak TK sampai kelas 3 SD, perempuan itu sekolah di Santa Agnes. Kelas 4 pindah ke madrasah yang terletak di dekat rumah. Waktu itu beliau belum bisa baca Quran, kenal huruf arab pun tidak. Tapi lucunya, beliau ikut lomba baca Quran (ayat2 pendek) dan menang. Hehe, katanya itu cuma karena dah hapal suratnya aja. Jurinya gak liat sih bahwa yang dibaca dan yang ditunjuk itu sebenarnya beda :).

Ketika duduk di kelas 3 SMA, perempuan itu sudah mulai mengajar di madrasah. Setelah lulus SMA juga masih ngajar kurang lebih 1 tahun. Kalo denger ceritanya, waktu itu jadul banget. Cewe2 pake pakaian yang atasannya kebaya dan bawahannya kain. Trus kemana2 naik sepeda. Wah, persis seperti gambaran yg ada di film2 lawas.

Setelah 1 tahun lulus SMA, beliau lanjut ke PGSLP. Menjalani pendidikan sebentar lalu diangkat menjadi guru SMP golongan IIa dengan gaji Rp.16.000,-. Dan sampai sekarang beliau tetap menjadi guru SMP bidang studi Matematika dengan masa kerja 30 tahun, dah dapet satya lencana malahan. Wow, perempuan itu memang berjiwa pengajar, makanya hepi2 aja ngajar, gak minat pusing untuk naik jabatan, jadi kepala sekolah misalnya.

Perempuan itu, perempuan yang paling kusayang sepanjang hidupku. Perempuan yang ikut berjilbab setelah terlebih dahulu kakakku dan aku memutuskan untuk berjilbab. Perempuan yg penuh semangat membaca buku Fiqih Wanita yg kubawakan, buku yang aku sendiri belum mengkhatamkannya. Perempuan yang rajin shaum sunnah dan shalat malam untuk mendoakan anak2nya. Perempuan yg hampir berusia 52 tahun namun tetap penuh ghiroh. Perempuan sederhana yang gak neko2, berperasaan halus dan tak pernah menuntut. Perempuan yg cenderung lebih mudah dinego dan diajak kompromi. Perempuan yang tak pernah sekalipun kudengar nada suaranya meninggi ketika bicara dengan suaminya.

Perempuan itu, perempuan yang ketika menyapu lantai tak pernah melewatkan seinci pun kolong tempat tidur untuk disapu. Perempuan yang tdk terlalu bisa protes dan membantah. Perempuan yang selalu repot bikin kue lebaran untuk tamu anak2nya. Perempuan yang rajin meramaikan rumah dengan tilawahnya. Perempuan yang tdk mendorong2 suaminya untuk menjadi pejabat. Perempuan yang hampir setiap hari meneleponku, sekedar bertanya, "Dwi lagi ngapain, sudah makan belum, tadi kemana aja?".

Perempuan itu, perempuan yang menyetrika rok SD-ku dengan sangat teliti, sampai2 banyak yg heran, bagaimana mungkin rokku terplisket dengan sempurna. Perempuan yang repot memikirkan kebaya wisudaku padahal aku sendiri cuek bebek. Perempuan yang sibuk mendorongku pake tas cewek dan bukan ransel. Perempuan yang gak suka ngerumpi sebagaimana ibu2 pada umumnya. Perempuan yang gak pernah minta dibeliin ini itu kepada anak2nya. Perempuan yg lebih suka naik ojek cewek klo dari pasar. Perempuan yang selalu setia mendengarkan cerita2ku yang gak penting. Perempuan yang gak suka pake jilbab pendek. Perempuan yang ingin selalu kupeluk dan ingin selalu kulihat binar indah matanya. Perempuan yang aku tak rela ia tersakiti secuil apapun. She is my mom, my beloved one.

Sungguh, ribuan kata dan cerita tak kan mampu menggambarkan sempurnamu di mataku. Sungguh, rangkaian aksara tak bertepi tak kan pernah sanggup mengukur betapa besar cintaku padamu. Kuucapkan selamat hari ibu buat ibuk. You are my heaven, oh my dearest mother... ^_^

Kamis, 16 April 2009

-37- Liburan Bareng Daffa

Alhamdulillah, liburan nyontreng kemarin aku bisa pulkam. Menatap kembali wajah orang2 tercinta dalam hidupku. Uhh, senangnya... sampai2 ketika tiba waktunya kembali ke habitat asli, aku sempat bete berat. Tapi kali ini aku gak akan cerita terlalu banyak tentang acara pulkamku kemarin. Puanjaaaang kalo diceritakan sedetil2nya, hehe sapa juga yang mau denger... Jadi, ceritaku kali ini adalah tentang sosok mungil, lucu, dan menggemaskan bernama Haidar Daffa Abdillah.

Rabu, 8 April 2009 aku berangkat dari Terminal Simpang Nangka Curup jam 4.15 pm dan tiba di rumah Kamis dini hari jam 1.30 am. Kamis, 9 April 2009 aku ikutan ngantri buat nyontreng. Kebetulan aku terdaftar, jadi daripada golput ya mending milih. Waktu itu Daffa masih di rumahnya, di Muara Dua sono, sekitar 2 jam dari Baturaja, dan baru berencana ke Baturaja keesokan harinya (Jumat). Lama amat, pikirku waktu itu... aku kan dah kangen.

Jumat pagi, 10 April 2009 Bapak, Ibuk dan aku berangkat ke Muaradua, mau jemput Daffa. Huahhh, kangen banget degh sama anak ini. Daffa adalah putra pertama kakakku, cucu pertama Bapak dan Ibuk, serta keponakan pertama bagi aku dan adikku. Aku sayaaaang banget sama Daffa si anak sholeh, ngangenin banget emang, hihihi.

Sampai di Muaradua dan ketemu Daffa, aku agak kaget. Daffa udah gede banget. Terakhir kali aku melihatnya awal Januari lalu, waktu itu Daffa baru 1,5 bulan dan sekarang sudah hampir 5 bulan, kepalanya dah bisa ditegakkan, dan Daffa juga dah bisa tengkurap. Ya ampuuun, tambah lucu aja, ndut lagi, n gak bisa diem, tangan dan kakinya senantiasa gerak2 kesana kemari dengan riangnya. Huhuhu, ingin rasanya kupeluk terus baby-nya kakakku tersebut ^^

Hari itu kami jalan2 ke Danau Ranau, sekitar 2 jam dari rumah kakakku. Bapak, Ibuk, Yuk Mita, Kak Rival, Mamah (mertuanya Yuk Mita),Daffa, dan aku. Hmm, lumayan capek juga euy, setelah menempuh 2 jam perjalanan Baturaja - Muaradua, lanjut 2 jam lagi. Tapi Si Daffa Daffa bagai kepompong (hehe, itu julukan kami buat Daffa sewaktu dia masih dibedong dulu, sekarang kan gak lagi...) gak rewel. Emang gitu kalo anak sholeh (amiiinn....).

Sepanjang perjalanan sampai kami tiba di Danau Ranau, fokusku cuma pada Daffa. Jadi, yang difoto hanya Daffa, Daffa dan Daffa. Yang laen entar dulu degh. Tuw, intip sedikit koleksi fotonya di bawah. Aku bahkan lupa untuk foto2 danau yang terkenal di SumSel tersebut. Hehe, Daffa sudah membuatku amnesia (lebay dikit gpp lah...).


Huff, sekarang aku kembali berpisah dengan Daffa. Terkadang haru menyeruak ketika memandang foto2 ponakan kecilku tersebut. Maha Suci Allah yang telah menciptakan manusia yang tumbuh dari seorang bayi mungil tak berdosa, dimana kedamaian terasa menyusup ke kalbu ketika menatap mata beningnya.