Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Juli 2012

-89- Warisan Digital

Dia berdiri
Dunia terasa berputar, bintang berjatuhan
Dia pun duduk
Bulan dan matahari menghimpit
Tapi bintang tak lagi jatuh

Semua tetap gelap
Dingin mendera tubuh
Hangat di telapak tangan

Gudang memori mengaduh
Berontak atas beban yang begitu penuh
Sesak atas sampah-sampah yang belum sempat dibuang
Carik-carik kertas yang harus dibakar di tempatnya
Agar menyisakan ruang yang tertunda
Untuk diisi kembali
Setelah dijejali beragam harum bunga

Dia tersenyum konyol
Atas running text yang berjalan santai di keningnya
Mengantarkannya ke depan pintu sebuah mesin waktu virtual
Yang dia sadari, sangat sadar, bahwa tidak nyata
Namun kakinya tetap melangkah masuk
Menyaksikan seorang tua berjalan tertatih
Juga seorang jompo penyakitan
Mungkin itu adalah dia
Jika Tuhan mengizinkan usianya sampai
Meski dia tak mau

Kakinya berbelok
Ingin berjalan ke kiri, menyampaikan sedikit pesan
Walau dia sadar jika itu terjadi
Maka takkan ada lagi dia yang belum menjelajah waktu
Dia yang bahagia
Dia yang tertekan
Dia yang menahan rasa
Dia yang me-malaikat
Dia yang selalu berusaha sekuat tenaga mengusir prasangka, menghalau pedih
Dia yang begitu disayangi

Aku kasihan padanya
Aku juga bangga padanya

Aku bersedih untuknya
Aku juga menghadiahinya selamat atas kepuasan yang tak terukur

Dualisme yang begitu kuat menerjang pertahanan logika manusia
Yang lemah di hadapan Tuhannya
Merengek-rengek memohon usia berkah yang tak panjang
Agar dapat kembali

Di saat-saat terbaik dalam hidupnya

Jika saja boleh memilih...

Semoga...


Minggu, 30 Agustus 2009

-55- Sekedar Sajak

Kupandang langit malamku
Beberapa bintang tersenyum lembut
Kubiarkan saja, tak kusentuh, tak kuambil
Aku cukup bahagia dengan memandangnya

Esok malam bintang-bintang itu masih bersinar
Langitku tetap indah
Aku duduk menengadah
Tersenyum menunggu bintang turun menghampiri

Malam berganti
Kulihat bintang-bintangku meredup
Aku bingung dalam diam
Tetap diam sampai kudapati semua bintang itu lenyap

Kuintip langit sebelah
Hanya ada satu bintang
Seorang gadis mengambil satu-satunya bintang itu
Aku terpana
Tak ada lagi bintang di sana
Namun ada satu rembulan
Sinarnya terang dan begitu dekat

Aku tercenung
Haruskah kuambil satu bintang