Adalah sebuah artikel yang diceritakan oleh seorang teman. Judulnya... entahlah aku sedikit lupa. Yang jelas, artikel itu ditulis oleh seorang ikhwan. Isinya menyatakan bahwa dari sekian banyak perbincangan dengan teman-temannya sesama ikhwan, sebagian besar (bahkan hampir keseluruhan) pengen punya istri cantik. Yah, intinya yang enak dipandang mata lah. Lalu, aku dan temanku tadi membahas isi artikel itu.
Adalah seorang temanku yang notabene akhwat. Kata orang-orang seh, "akhwat tingkat tinggi". Hmm, jujur saja aku gak suka dengan klasifikasi seperti itu. Si akhwat ini menurutku kadang-kadang terlalu negative thinking. Dia bilang, semua cowo, bahkan yang labelnya ikhwan sekalipun, kalo ngeliat cewe pasti phisically banget. Akhirnya, lumayan lama juga waktuku habis buat ngebahas hal ini dan ngedengerin argumen-argumennya.
Suatu waktu, iseng mengisi waktu sambil memenuhi hobi browsing, aku chat dengan seseorang yang katanya seh ikhwan. Waktu itu kita join di suatu room islam. Baru sebentar chat, eh... tuh cowo atau ikhwan atau apalah namanya, langsung nanya gini: "Kamu cantik dan seksi gak?" Aku agak sedikit bingung dan ilfil dengan pertanyaan to the point seperti itu. Lalu aku jawab: "Ngapain loe pake nanya2 gw cantik n seksi segala gak?" Dia menjawab: "Yah, aku pengen punya cewe cantik n seksi supaya gak selingkuh sampai setelah nikah nanti." GUBRAKSSSS
Dari ketiga skenario di atas, sekarang aku ingin membahas mengenai 'penampilan', atau kalo untuk barang tuh disebut... 'packaging' kali ye. Eh, skenario sama bahasannya nyambung gak ya!? Asumsikan saja IYA.
Kesimpulan sementara adalah... kebanyakan cewe beranggapan bahwa pada umumnya cowo menyukai cewe yang packagingnya bagus, dan sebagian besar cowo memang membuat anggapan para cewe tersebut benar. Nah, yang akan aku bahas adalah lebih ke sisi cewe (secara... gw kan cewe, uups!). But, ini cuma pendapatku, alias menurutku. Mungkin gak semua cewe setuju dengan pernyataan ini. Atau bahkan, cowo pun bisa jadi tidak setuju. Whatever it is lah... Okeh, let's start aja ya!
Menurutku, adalah wajar jikalau cowo menyukai cewe yang phisically bagus. Terdapat keindahan di mata cowo atas diri seorang cewe. Itulah kenapa cowo bisa berpasangan dengan cewe. Kalo gak gitu berarti homo donk! - Nah, keindahan itu ada yang tampak dan ada yang tidak. Bagi cewe, keindahan itu adalah aset. Aset yang tangible dan intangible. Lalu, mana yang akan lebih terlihat, yang tampak atau yang tidak tampak? Sepertinya kita semua sepakat bahwa yang tampaklah yang akan lebih terlihat.
Cinta pada pandangan pertama memang bukan basa-basi. Menurut survey, seseorang membuat penilaian fisik tentang orang lain pada 10 detik pertama. Empat menit selanjutnya, orang akan membuat penilaian tentang hal-hal lainnya. (detik.com)
Ketika cowo dan cewe pertama kali bertemu (baik sebelumnya sudah ataupun belum kenal), maka di 10 detik pertama sang cowo akan menilai cewe secara fisik, sedang cewe menilai cowo. Selanjutnya (gak harus 4 menit), baru si cowo membuat penilaian yang lain, entah itu dari cara bicara, cara tertawa, cara duduk, cara berjalan, ataupun bagaimana isi otak dari sang cewe. Cewe juga akan melakukan hal yang sama.
Sekarang aku akan sok menelaah:
10 DETIK PERTAMA
Cowo: "Wuih... keren banget ni cewe! Cantik, modis, tinggi, putih, busananya serasi lagi. Enggak ngebosenin banget deh diliat... Nilainya 8."
Cewe: "Hmm, cowo ini cakep juga. Bodi atletis, tampang kiyut, rapi lagi... Nilainya 8 deh."
SETELAH LEWAT 10 DETIK (cowo dan cewe ngobrol)
Faktanya: cewe tersebut gak terlalu ngenakin lah (sori, aku bingung diksinya) bagi si cowo. Trus, cowo itu bagi si cewe kok sok banget ya...
Cowo: "Agak-agak gak asik juga neh cewe. Cakep seh cakep... Nilainya jadi 7 ahh."
Cewe: "Ngebetein banget seh, neh cowo. Udah sok... sombong lagi. Biar cakep gimana juga. Nilainya jadi 5."
Hehe, meskipun telaahanku belum tentu benar 100%, tapi yang ingin aku tekankan adalah: berdasarkan banyak buku psikologi yang aku baca, serta berdasarkan pengamatan pribadi, pada umumnya memang cowo lebih menekankan hal-hal yang bersifat fisik dari cewe, sedangkan cewe lebih menekankan aspek lain seperti perhatian ataupun kasih sayang dari cowo daripada hanya sekedar fisik belaka. Lalu, pada umumnya cewe lebih setia daripada cowo. Bener gak ya?!
Bagi cewe, seorang cowo yang phisically bernilai 5, bisa menjadi 8 ketika dia menunjukkan kepribadian yang baik. Wuih, kalo udah kaya gini, si cewe bakal setia banget. Sedang bagi cowo, cewe yang phisically nilainya 5, meskipun kepribadiannya baik, tidak akan mendongkrak nilainya menjadi 8. Yah, paling banter juga jadi 7. Kalopun akhirnya si cowo jadi sama si cewe, godaan selingkuh di depan mata. Peace.... :)
Sebaliknya, cowo bernilai 8 secara fisik, akan langsung turun jadi 5 ketika dia dinilai brengsek. Cewe yang phisically 8, meskipun nyebelin, paling drastis juga turun sampai nilainya 6. Dalam kasus ini, paling-paling cowonya bakal cari cewe lain sebagai teman ngobrol. Gak sopaaaan!!
----
Kok, rasanya tulisan aku malah semakin ngawur ya...
Pada intinya, aku ingin mengatakan bahwa kalo cowo suka cewe cantik, itu manusiawi. Toh cewe juga suka kan liat cowo cakep. Kenapa cewe sering complain? Itu karena si cewe gak pede akan dirinya sendiri. Dia jadi sering negative thinking, takut gak ada cowo yang suka sama dia, atau si cowo bakal ngelirik cewe lain. Seperti cerita temanku di paragraf ke-2 di atas. Ujung-ujungnya dia ngomong gini... "Kalo semua ikhwan phisically gitu, kan kasian sama akhwat yang seperti aku..." &&**$%$
Saat itu, setengah idup aku meyakinkan dia bahwa gak semua cowo kaya gitu. Banyak juga cowo yang meskipun manusiawi, tapi juga realistis. Apalagi kalo dia ngerti banget agama. Cantik atau cakep bukan jaminan masuk surga. Di akhirat juga gak bakal ditanyain. Tidak semua cowo ngeliat cewe secara fisik, meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa hal itu juga perlu. Cowo juga akan punya prioritas dalam menentukan pilihan. Ketika dia lebih memprioritaskan fisik, maka dia harus menerima kalo seandainya si cewe bukan pendidik yang baik bagi anak-anaknya. Atau jika cowo lebih memilih berdasarkan agamanya, maka dia harus menerima jika seandainya si cewe tidak terlalu menarik secara fisik. Itulah hidup... Yang ngerasa cowo, bener gak seh yg gw tulis barusan?
Aku pernah baca di sebuah buku psikologi. Ketika cowo ngeliat cewe seksi, saat itu cowok tidak akan berpikir bagaimana kepribadian si cewe, apakah dia bisa masak, atau bisa jadi ibu yang baik atau tidak. Cowo hanya akan berpikir bahwa cewe itu seksi. Mungkin sangat menarik. Tapi, hanya itu dan tidak lebih dari itu. Namun. ketika cowo memutuskan untuk menikah, maka aspek-aspek lain pasti akan turut dipertimbangkan dan justru sangat memegang peranan penting.
So, di sini aku hanya ingin berpesan buat para cewe. Jangan pernah merasa dirimu jelek. PeDe aja lagi. Ketika kamu percaya diri, orang lain akan menilaimu positif. Ketika kamu menghargai dirimu sendiri, orang lain juga akan menghargaimu. Jika kamu merasa kurang secara fisik, tonjolkanlah kelebihanmu yang lain. Percayalah, aura yang keluar dari kepribadianmu, daya tariknya lebih dahsyat daripada kecantikan lahiriyahmu. Lagian kalo cewe ngerasa jelek, ambil aja sisi positifnya. Positive thinking aja bahwa cowo yang kelak menjadi pendamping hidupmu adalah cowo yang baik, yang tidak menilaimu secara fisik, yang mencintaimu apa adanya. Dan yakinlah bahwa cowo itu pasti ada dan telah dipersiapkan untukmu.
Eitt, bukan berarti fisik gak penting loh. Sekali lagi, PACKAGING ITU PERLU. Okelah yang namanya keadaan lahir semisal tinggi, kulit, hidung, mata, dll itu udah dari sononya dan gak bisa diubah. Tapi, yang di-highlight adalah PACKAGING. Bagaimana kita mengemasnya. Menurutku, penampilan yang kucel, kumal, tabrak lari, berantakan... pokoknya yang bikin tidak sedap dipandang... itu tidak bisa ditolerir, apalagi untuk dijadikan trademark. Orang pertama kali ketemu kita gak bakalan bisa liat, ibadahnya gimana, kepribadiannya gimana, tapi yang bakal diliat adalah penampilan alias penampakannya. Kalo kesan pertama sudah tidak menggoda, selanjutnya... gimana bisa tergoda :-). Kalo ngeliatnya aja udah ilfil, gimana bisa menumbuhkan cinta? (Ngomong opo.....)
Penampilan bukan yang utama, tapi yang pertama. Penampilan menjadi penting karena ia jadi yang pertama. Tapi akan menjadi tidak penting jikalau yang utama justru diabaikan.
Buat para cowo, setiap pilihan ada konsekuensinya. Aku tidak pernah ingin memangkas kesukaan kalian terhadap keindahan. Tapi hendaklah semuanya berjalan seimbang dan pada jalur yang semestinya.
Buat cewe dan cowo... pilihlah pasangan kalian seperti yang telah diajarkan dalam Al Quran. Lihatlah bagaimana agamanya, niscaya kebahagiaan itu akan datang. Kalaupun ternyata dapetnya yang cakep, anggap saja itu sebagai bonus, tapi harus terima konsekuensinya kalo pas lagi jalan bareng banyak yang lirik, hehehe. Yah, setiap hadiah kan ada pajaknya...
Kalau bisa dapet yang mendekati sempurna, kenapa enggak! Namun, yg mendekati sempurna itu akan layak kita dapatkan jika kita sendiri pun mendekati sempurna. Setuju??!
----
Wee,setelah ujian Multivariate Analysis,150507,11.30pm
Full Post...
Sunday, November 1, 2009
Saturday, October 31, 2009
"Vegetarian"
Begitu mendengar kata "vegetarian", yang pertama kali terlintas dalam pikiranku adalah tentang orang yang hanya mau makan sayur. Sayur itu identik dengan daun2an segar. Daun2an segar adalah daun2 muda yang tentu saja berwarna hijau. Nah, mungkin karena dilatari oleh hal tersebut lah seorang teman, sewaktu masih kuliah dulu, memberikan gelar "vegetarian" pada cewe2 yang suka pada cowo2 lebih muda alias daun muda alias brondong. (Nyambung gak nyambung, lanjuuut ^_^)
Apa ada yang salah dengan vegetarian? Tidak, tidak sama sekali. Namun entah kenapa, jika seorang perempuan lebih tua daripada pasangannya, pasti ada sugesti negatif dari orang2 sekitarnya. Mari kita lihat sedikit contoh...
Seorang teman menikah dengan cowo yang dua tahun lebih muda darinya. Awalnya lucu, si cowo yang kuliahnya bareng sama si cewe pedekate sama si cewe, bantuin ini itu yang berhubungan dengan tugas kuliahnya. Eh ternyata ada udang dibalik bakwan. Cowo naksir meskipun cewe cuek bebek. Tapi namanya cewe lama2 luluh juga. Mereka jadian, lalu komentar pun berdatangan. Banyak teman yang heran, kenapa si cewe mau sama si cowo padahal cowonya terkenal tengil dan umurnya jauh lebih muda (dua tahun termasuk jauh ga sih?). Namun anjing menggonggong kafilah tetap berlalu. Akhirnya mereka merid juga. Dan sekarang dengan 1 anak, tampang si cewe tetap terlihat imut dan muda, sementara si cowo sudah seperti bapak2 pada umumnya. Gak ada lagi yang ‘ngeh’ bahwa mereka adalah pasangan yang wanitanya lebih tua.
Contoh lain yang lebih hot adalah pasangan Yuni Shara dan Rafi Ahmad (hihi, gossiipp banget). Liat aja tuh di infotainment, heboh. Kesannya gimana gitu, seolah2 mereka tidak terlalu waras sehingga memilih pasangan yang jomplang seperti itu. Padahal kalau dipikir2 apa sih salahnya? Bukankah mereka gak mengganggu hidup siapapun. Jadi kenapa harus dipusingkan?!
Aku pernah dengar seorang psikolog (sori, lupa siapa dan kapan bilangnya) bilang bahwa pada umumnya jika ada pasangan yang umur wanitanya lebih tua, maka yang sebenarnya tertarik adalah prianya. Kok kalimatku ribet banget sih. Intinya gini, pada umumnya pria lah yang tertarik untuk mencari pasangan yang lebih tua. Katanya sih karena ingin mendapatkan figur ibu ataupun pasangan yang lebih dewasa agar bisa mengayomi. Aku sih gak terlalu setuju dan gak terlalu percaya. Apa memang iya ya? Hmm...
Kalau aku liat dari sudut pandang teman2 wanitaku pada umumnya, mereka jarang tertarik pada pria2 yang lebih muda. Bahkan aku sendiri, gak bisa dipungkiri kalo liat cowo yang lebih muda, meskipun hanya beberapa hari lebih muda, aku tersugesti bahwa ia adalah anak kecil, masih childish dan sama sekali gak dewasa. Mau jadi apa nanti rumah tangganya. Bukankah yang cenderung manja, childish, dan gak dewasa itu cewe, kalo cowonya gitu juga bisa diem2an sepanjang hari dunk. Hehe, ekstrem banget sih Wee... Tenang... cerita belum berakhir teman2.
Jadi intinya, menurutku gak ada masalah dengan pasangan yang cowonya lebih muda. Loh kok?! Yupp, it’s not a problem at all. Cewe2 banyak yang gak berminat karena mereka mencari sosok pria dewasa yang bisa mengayomi mereka, dan pada umumnya kedewasaan seseorang akan dilihat dari usianya. So, buat para pria yang tertarik pada wanita yang lebih tua, tunjukkan saja padanya bahwa meskipun masih muda, Anda layak dan bisa diandalkan. Percaya diri atau silakan mundur teratur ^^
(ditulis setelah membaca sebuah tulisan) Full Post...
Apa ada yang salah dengan vegetarian? Tidak, tidak sama sekali. Namun entah kenapa, jika seorang perempuan lebih tua daripada pasangannya, pasti ada sugesti negatif dari orang2 sekitarnya. Mari kita lihat sedikit contoh...
Seorang teman menikah dengan cowo yang dua tahun lebih muda darinya. Awalnya lucu, si cowo yang kuliahnya bareng sama si cewe pedekate sama si cewe, bantuin ini itu yang berhubungan dengan tugas kuliahnya. Eh ternyata ada udang dibalik bakwan. Cowo naksir meskipun cewe cuek bebek. Tapi namanya cewe lama2 luluh juga. Mereka jadian, lalu komentar pun berdatangan. Banyak teman yang heran, kenapa si cewe mau sama si cowo padahal cowonya terkenal tengil dan umurnya jauh lebih muda (dua tahun termasuk jauh ga sih?). Namun anjing menggonggong kafilah tetap berlalu. Akhirnya mereka merid juga. Dan sekarang dengan 1 anak, tampang si cewe tetap terlihat imut dan muda, sementara si cowo sudah seperti bapak2 pada umumnya. Gak ada lagi yang ‘ngeh’ bahwa mereka adalah pasangan yang wanitanya lebih tua.
Contoh lain yang lebih hot adalah pasangan Yuni Shara dan Rafi Ahmad (hihi, gossiipp banget). Liat aja tuh di infotainment, heboh. Kesannya gimana gitu, seolah2 mereka tidak terlalu waras sehingga memilih pasangan yang jomplang seperti itu. Padahal kalau dipikir2 apa sih salahnya? Bukankah mereka gak mengganggu hidup siapapun. Jadi kenapa harus dipusingkan?!
Aku pernah dengar seorang psikolog (sori, lupa siapa dan kapan bilangnya) bilang bahwa pada umumnya jika ada pasangan yang umur wanitanya lebih tua, maka yang sebenarnya tertarik adalah prianya. Kok kalimatku ribet banget sih. Intinya gini, pada umumnya pria lah yang tertarik untuk mencari pasangan yang lebih tua. Katanya sih karena ingin mendapatkan figur ibu ataupun pasangan yang lebih dewasa agar bisa mengayomi. Aku sih gak terlalu setuju dan gak terlalu percaya. Apa memang iya ya? Hmm...
Kalau aku liat dari sudut pandang teman2 wanitaku pada umumnya, mereka jarang tertarik pada pria2 yang lebih muda. Bahkan aku sendiri, gak bisa dipungkiri kalo liat cowo yang lebih muda, meskipun hanya beberapa hari lebih muda, aku tersugesti bahwa ia adalah anak kecil, masih childish dan sama sekali gak dewasa. Mau jadi apa nanti rumah tangganya. Bukankah yang cenderung manja, childish, dan gak dewasa itu cewe, kalo cowonya gitu juga bisa diem2an sepanjang hari dunk. Hehe, ekstrem banget sih Wee... Tenang... cerita belum berakhir teman2.
Jadi intinya, menurutku gak ada masalah dengan pasangan yang cowonya lebih muda. Loh kok?! Yupp, it’s not a problem at all. Cewe2 banyak yang gak berminat karena mereka mencari sosok pria dewasa yang bisa mengayomi mereka, dan pada umumnya kedewasaan seseorang akan dilihat dari usianya. So, buat para pria yang tertarik pada wanita yang lebih tua, tunjukkan saja padanya bahwa meskipun masih muda, Anda layak dan bisa diandalkan. Percaya diri atau silakan mundur teratur ^^
(ditulis setelah membaca sebuah tulisan) Full Post...
Thursday, October 29, 2009
Apa Aku Sudah Dewasa? - Sebuah Coretan Masa Lalu
Sinar matahari pagi masih memenuhi ruang luas di sekitarku. Hangat. Nyaman. Entah sudah berapa banyak menit yang kuhabiskan duduk di belakang rumah, memperhatikan Poci dan Poli bermain-main bahagia di teras belakang. Mereka saling mencakar, menggigit, bergulat ria, kadangkala ekornya berdiri tegak tanda waspada. Ceria sekali. Iseng kulempar bola... mereka berebut saling menendang, tapi tetap waspada memperhatikan objek bulat yang bisa memantul itu.
Kejadian tadi tertulis di memoriku belasan tahun yang lalu. Saat itu aku masih SD. Aku ingat yang aku pikirkan... betapa enaknya menjadi kucing. Hidupnya santai, senantiasa bermain-main, penuh kebahagiaan, tanpa harus sekolah, gak perlu ngerjain PeEr, gak harus dapet ranking 1, juga gak pernah dipaksa untuk tidur siang. Hanya bermain. Kalau sudah bosan bermain, mereka tidur sendiri, atau sekedar menjilati bulunya (baca: mandi). Senangnya...
Dulu, seorang aku yang masih SD senantiasa manyun bin sebal kalau setiap malam sebelum tidur disuruh sikat gigi. Males. Apalagi kalau sudah sangat ngantuk. Wuih... Aku berpikir, "Perasaan, Luna gak pernah sikat gigi degh. Tapi giginya selalu putih bersih, gak ada bolong-bolong, gak pernah juga sakit gigi." Lagi-lagi aku beranggapan, betapa enaknya jadi kucing.
Sekarang, belasan tahun kemudian, di 21 tahun usiaku, aku bisa menuliskan kejadian itu. Aku tersenyum lucu. Betapa polosnya pemikiran seorang anak SD. Ibarat air, ia belum terkena polusi. Dulu, kalau aku ngomong sama ibu "Luna aja gak pernah sikat gigi", mungkin ibu akan maklum. Yah, aku kan belum dewasa. Tapi, kalo sekarang aku ngomong gitu... maka aku sendiri pun akan merasa malu. Lagian, hari gini siapa lagi yang mau ngurusin, apa aku sudah sikat gigi atau belum.
Betapa panjangnya proses pendewasaan diri. Pendewasaan dalam segala hal. Dewasa secara fisik (baca: tumbuh besar dengan tinggi),dewasa dalam bersikap, serta dewasa dalam cara berpikir. Panjang dan rumit, sampai-sampai aku tak bisa merangkai kata-kata untuk membakukan definisi 'dewasa'.
Kadangkala, kita membutuhkan waktu untuk menyadari setiap nilai di balik suatu peristiwa. Bisa jadi beberapa menit kemudian, kita sudah sadar siluet apa di baliknya. Namun tidak jarang, kita butuh beberapa jam, hari, bulan, ataupun bertahun-tahun untuk sekedar menyadari, nilai apa, hikmah apa yang menempel pada kejadian yang menimpa kita. Saat itulah semuanya akan menjadi sangat berharga. Saat itulah, pahitnya kenangan atas suatu peristiwa, akan dikalahkan oleh manisnya hikmah dan proses pendewasaan diri yang kita dapatkan setelahnya.
Lalu aku, kembali melempar tanya, "Apa sekarang aku sudah bisa disebut dewasa?". Untuk menjawab pertanyaan itu, aku setuju dengan lagunya Britney Spears... I'm not a girl, not yet a woman
Ketika aku berhadapan dengan perbedaan, aku tidak pernah 'memaksa' orang lain untuk menyetujui pendapatku. Aku hargai pendapatnya, meskipun tidak setuju. Yang aku lakukan hanya mencoba menjelaskan apa yang menurutku 'salah' dari pendapatnya itu. Tapi sekali lagi, aku sangat tidak berhak 'memaksa'. Toh, belum tentu juga aku yang benar... Saat itu, aku merasa telah menjadi dewasa.
Ketika aku pulang ke rumah, tak ada lagi Poci ataupun Poli. Yang ada hanyalah Hikaru seorang yang kuajak bermain. Aku pandangi dia sambil tersenyum dan berpikir bahwa dialah yang selama ini menemani ibuku di saat anak-anaknya jauh dari rumah. Tapi aku tidak pernah berpikir, betapa enaknya menjadi Hikaru. Karena setiap pulang ke rumah, hatiku bahagia. Saat itu, aku juga merasa telah menjadi dewasa.
Ketika aku merasa tidak melakukan apapun, tetapi bosan menyergapku dari segala arah. Skripsi belum kelar... mau ngerjain program, entah mulai dari mana. Waktuku benar-benar tidak efektif. Detik demi detik terbuang menghasilkan banyak foto 'aneh' hasil kreasi kebosananku. Aku jalankan Age of Empire, aku ciptakan banyak musuh, aku biarkan sampai semuanya canggih, lalu dengan puasnya aku hancurkan satu per satu via cheating, hehe. Tetap bosan, aku beralih ke Feeding Frenzy, sampai mentok nilai tertinggi, aku kembali bosan. Semuanya... gak penting.
Saat itu aku merenungkan pemikiranku belasan tahun yang lalu. Aku tuangkan dalam tulisan. Di sini tidak ada Hikaru, tetapi aku ingat Luna. Aku menertawakan pendapatku dulu. Namun saat ini, ketika tahun sudah beranjak dengan nominal 2007, hati kecilku malah membenarkan pendapat yang aku sendiri justru menertawakannya...
O o... baru kusadari, bahwa ternyata sebenarnya aku masih belum dewasa.
Wee 2007 Full Post...
Kejadian tadi tertulis di memoriku belasan tahun yang lalu. Saat itu aku masih SD. Aku ingat yang aku pikirkan... betapa enaknya menjadi kucing. Hidupnya santai, senantiasa bermain-main, penuh kebahagiaan, tanpa harus sekolah, gak perlu ngerjain PeEr, gak harus dapet ranking 1, juga gak pernah dipaksa untuk tidur siang. Hanya bermain. Kalau sudah bosan bermain, mereka tidur sendiri, atau sekedar menjilati bulunya (baca: mandi). Senangnya...
Dulu, seorang aku yang masih SD senantiasa manyun bin sebal kalau setiap malam sebelum tidur disuruh sikat gigi. Males. Apalagi kalau sudah sangat ngantuk. Wuih... Aku berpikir, "Perasaan, Luna gak pernah sikat gigi degh. Tapi giginya selalu putih bersih, gak ada bolong-bolong, gak pernah juga sakit gigi." Lagi-lagi aku beranggapan, betapa enaknya jadi kucing.
Sekarang, belasan tahun kemudian, di 21 tahun usiaku, aku bisa menuliskan kejadian itu. Aku tersenyum lucu. Betapa polosnya pemikiran seorang anak SD. Ibarat air, ia belum terkena polusi. Dulu, kalau aku ngomong sama ibu "Luna aja gak pernah sikat gigi", mungkin ibu akan maklum. Yah, aku kan belum dewasa. Tapi, kalo sekarang aku ngomong gitu... maka aku sendiri pun akan merasa malu. Lagian, hari gini siapa lagi yang mau ngurusin, apa aku sudah sikat gigi atau belum.
Betapa panjangnya proses pendewasaan diri. Pendewasaan dalam segala hal. Dewasa secara fisik (baca: tumbuh besar dengan tinggi),dewasa dalam bersikap, serta dewasa dalam cara berpikir. Panjang dan rumit, sampai-sampai aku tak bisa merangkai kata-kata untuk membakukan definisi 'dewasa'.
Kadangkala, kita membutuhkan waktu untuk menyadari setiap nilai di balik suatu peristiwa. Bisa jadi beberapa menit kemudian, kita sudah sadar siluet apa di baliknya. Namun tidak jarang, kita butuh beberapa jam, hari, bulan, ataupun bertahun-tahun untuk sekedar menyadari, nilai apa, hikmah apa yang menempel pada kejadian yang menimpa kita. Saat itulah semuanya akan menjadi sangat berharga. Saat itulah, pahitnya kenangan atas suatu peristiwa, akan dikalahkan oleh manisnya hikmah dan proses pendewasaan diri yang kita dapatkan setelahnya.
Lalu aku, kembali melempar tanya, "Apa sekarang aku sudah bisa disebut dewasa?". Untuk menjawab pertanyaan itu, aku setuju dengan lagunya Britney Spears... I'm not a girl, not yet a woman
Ketika aku berhadapan dengan perbedaan, aku tidak pernah 'memaksa' orang lain untuk menyetujui pendapatku. Aku hargai pendapatnya, meskipun tidak setuju. Yang aku lakukan hanya mencoba menjelaskan apa yang menurutku 'salah' dari pendapatnya itu. Tapi sekali lagi, aku sangat tidak berhak 'memaksa'. Toh, belum tentu juga aku yang benar... Saat itu, aku merasa telah menjadi dewasa.
Ketika aku pulang ke rumah, tak ada lagi Poci ataupun Poli. Yang ada hanyalah Hikaru seorang yang kuajak bermain. Aku pandangi dia sambil tersenyum dan berpikir bahwa dialah yang selama ini menemani ibuku di saat anak-anaknya jauh dari rumah. Tapi aku tidak pernah berpikir, betapa enaknya menjadi Hikaru. Karena setiap pulang ke rumah, hatiku bahagia. Saat itu, aku juga merasa telah menjadi dewasa.
Ketika aku merasa tidak melakukan apapun, tetapi bosan menyergapku dari segala arah. Skripsi belum kelar... mau ngerjain program, entah mulai dari mana. Waktuku benar-benar tidak efektif. Detik demi detik terbuang menghasilkan banyak foto 'aneh' hasil kreasi kebosananku. Aku jalankan Age of Empire, aku ciptakan banyak musuh, aku biarkan sampai semuanya canggih, lalu dengan puasnya aku hancurkan satu per satu via cheating, hehe. Tetap bosan, aku beralih ke Feeding Frenzy, sampai mentok nilai tertinggi, aku kembali bosan. Semuanya... gak penting.
Saat itu aku merenungkan pemikiranku belasan tahun yang lalu. Aku tuangkan dalam tulisan. Di sini tidak ada Hikaru, tetapi aku ingat Luna. Aku menertawakan pendapatku dulu. Namun saat ini, ketika tahun sudah beranjak dengan nominal 2007, hati kecilku malah membenarkan pendapat yang aku sendiri justru menertawakannya...
O o... baru kusadari, bahwa ternyata sebenarnya aku masih belum dewasa.
Wee 2007 Full Post...
Wednesday, September 30, 2009
Cerita Gempa Sumbar
Setelah puas ngobrol via telepon dengan Umminya Daffa, aku melirik jam, hampir magrib. Hmm, motorku masih di teras kost, mesti dibawa masuk ne, begitu pikirku. Aku keluar. Baru saja jariku menyentuh stang motor, orang2 di sekitar rumah teriak, "Gempa..gempa..". Ibu kost tergopoh2 keluar rumah. Cucunya ibu kost yang baru kelas 4 SD dan sedang mandi pun berlari keluar masih dengan berbasah2 ria. Kami bertiga menunggu dengan was2 di teras rumah.
Sejenak dua jenak berlalu, goyangan bumi tak jua berhenti. O ow, ternyata gempa lumayan lama. Bumi berayun, mampu membuatku merasa pusing. Rupanya begini rasanya gempa. Setelah satu tahun lebih aku bertugas di bumi raflesia, baru kali ini aku benar2 bisa merasakan yg namanya gempa.
Beberapa menit berlalu, bumi tak lagi berayun. Namun nyatanya, sampai tulisan ini aku buat pun aku masih merasa diayun2. Itulah sugesti, dan memang benar kata ibu kostku, ketika sudah gempa sekali, maka setelahnya akan serasa gempa berkepanjangan.
7,6 SR di Sumatera Barat. Aku benar2 gak bisa membayangkan kepanikan di pusat gempa. Bangunan hancur, rumah bak kapal pecah, sanak saudara menghilang, dan yg pasti adalah trauma. Pikiranku lalu dipenuhi andai2.
Bagaimana seandainya gempa terjadi di sini. Semuanya luluh lantak, sanggupkah aku? Bagaimana seandainya gempa terjadi sementara aku sedang berada di kamar mandi? Gak kebayang degh. Aku teringat cucu ibu kost tadi dan cerita beberapa orang dengan pakaian seadanya ketika bencana terjadi. Wah wah...
Dan gempa kali ini pun menyisakan cerita. Seorang muslimah yg panik karena bumi berayun, keluar rumah dengan hanya mengenakan baju tanpa lengan dan celana pendek. Lalu tanpa diduga2 ia bertemu laki2 teman kantornya yang dengan sangat kebetulan lewat di situ. Betapa malunya. (Hehe, ceritanya diposting gak, Fren? ^^)
Pengalaman seorang teman tersebut menjadi pelajaran nyata buatku. Aku berkaca lalu menyimpulkan. Sepertinya kebiasaan menggunakan pakaian2 serba minimalis, meskipun di kamar sendiri sekalipun harus mulai dikurangi. Bukankah bencana tak mengenal waktu dan tempat...
*Teruntuk saudara2ku di Sumbar, semoga kita termasuk hambaNya yg sabar... Full Post...
Sejenak dua jenak berlalu, goyangan bumi tak jua berhenti. O ow, ternyata gempa lumayan lama. Bumi berayun, mampu membuatku merasa pusing. Rupanya begini rasanya gempa. Setelah satu tahun lebih aku bertugas di bumi raflesia, baru kali ini aku benar2 bisa merasakan yg namanya gempa.
Beberapa menit berlalu, bumi tak lagi berayun. Namun nyatanya, sampai tulisan ini aku buat pun aku masih merasa diayun2. Itulah sugesti, dan memang benar kata ibu kostku, ketika sudah gempa sekali, maka setelahnya akan serasa gempa berkepanjangan.
7,6 SR di Sumatera Barat. Aku benar2 gak bisa membayangkan kepanikan di pusat gempa. Bangunan hancur, rumah bak kapal pecah, sanak saudara menghilang, dan yg pasti adalah trauma. Pikiranku lalu dipenuhi andai2.
Bagaimana seandainya gempa terjadi di sini. Semuanya luluh lantak, sanggupkah aku? Bagaimana seandainya gempa terjadi sementara aku sedang berada di kamar mandi? Gak kebayang degh. Aku teringat cucu ibu kost tadi dan cerita beberapa orang dengan pakaian seadanya ketika bencana terjadi. Wah wah...
Dan gempa kali ini pun menyisakan cerita. Seorang muslimah yg panik karena bumi berayun, keluar rumah dengan hanya mengenakan baju tanpa lengan dan celana pendek. Lalu tanpa diduga2 ia bertemu laki2 teman kantornya yang dengan sangat kebetulan lewat di situ. Betapa malunya. (Hehe, ceritanya diposting gak, Fren? ^^)
Pengalaman seorang teman tersebut menjadi pelajaran nyata buatku. Aku berkaca lalu menyimpulkan. Sepertinya kebiasaan menggunakan pakaian2 serba minimalis, meskipun di kamar sendiri sekalipun harus mulai dikurangi. Bukankah bencana tak mengenal waktu dan tempat...
*Teruntuk saudara2ku di Sumbar, semoga kita termasuk hambaNya yg sabar... Full Post...
Tuesday, September 29, 2009
Hanya Karena Selembar Jilbab
Aku belum menyerah. Kembali kubongkar satu per satu lembaran2 jilbab yang tersusun rapi pada rak pakaianku. Kali ini benar2 teliti, tidak seinci pun kulewati tanpa sorotan tajam mataku. Tetap saja ia tak kutemukan. Aneh, benar2 aneh...
Belum puas membongkar tumpukan jilbab2 segiempat itu, aku beralih menuju tumpukan2 di sebelahnya. Nihil, tetap tak ada. Kok susah sih mencari selembar jilbab saja. Selembar jilbab segiempat berbahan paris warna coklat tua dan ditaburi sedikit payet. Lalu saat itu juga aku langsung merasa bahwa jilbab itu adalah jilbab yang paling kusuka dibanding yang lain. Dasar manusia...
Aku kesal sekaligus gak habis pikir. Aku sangat yakin sebelumnya, jilbab itu ada di tumpukan bersama jilbab2 lain. Namun kenapa setelah kutinggal mudik dia gak ada lagi. Kemana dia? Dikemanakan dia? Oleh siapa?
Pikiranku dipenuhi prasangka2 buruk. Aku benci dengan prasangka ini. Namun tak bisa kupungkiri aku kecewa. Bukan jilbab yang lenyap yang aku sesalkan. Aku kecewa karena kepercayaanku untuk meninggalkan kunci kamar telah dirusak oleh oknum yang aku sendiri gak tahu siapa. Ya Allah, jauhkanlah aku dari prasangka buruk. Hanya selembar jilbab, Wee sayang...
Gak ada teman berkeluh kesah, akhirnya kuungkapkan kekesalan pada ibuku tersayang. Seperti biasa, kata2 ibu dipenuhi nasehat2. Beliau memintaku mencari lagi dengan lebih teliti dan jangan berburuk sangka. Aku kekeuh merasa sudah sangat teliti mencari. Lalu ibu bilang, "Ya sudah, klo memang gak ada ikhlasin aja. Ambil pelajarannya, lain kali lebih hati2. Insya Allah semua ada hikmahnya". Masih dengan kesal aku menimpali, "Apa hikmahnya?". Beliau menjawab, "Ya siapa tahu yg tadinya belum pake jilbab jadi tergerak untuk berjilbab". Aku terdiam.
Sigh... Hanya karena selembar jilbab aku kesal dan dipenuhi prasangka buruk. Alhamdulillah Allah menganugerahi aku seorang ibu yang bijak. I really luv u Mom... Full Post...
Belum puas membongkar tumpukan jilbab2 segiempat itu, aku beralih menuju tumpukan2 di sebelahnya. Nihil, tetap tak ada. Kok susah sih mencari selembar jilbab saja. Selembar jilbab segiempat berbahan paris warna coklat tua dan ditaburi sedikit payet. Lalu saat itu juga aku langsung merasa bahwa jilbab itu adalah jilbab yang paling kusuka dibanding yang lain. Dasar manusia...
Aku kesal sekaligus gak habis pikir. Aku sangat yakin sebelumnya, jilbab itu ada di tumpukan bersama jilbab2 lain. Namun kenapa setelah kutinggal mudik dia gak ada lagi. Kemana dia? Dikemanakan dia? Oleh siapa?
Pikiranku dipenuhi prasangka2 buruk. Aku benci dengan prasangka ini. Namun tak bisa kupungkiri aku kecewa. Bukan jilbab yang lenyap yang aku sesalkan. Aku kecewa karena kepercayaanku untuk meninggalkan kunci kamar telah dirusak oleh oknum yang aku sendiri gak tahu siapa. Ya Allah, jauhkanlah aku dari prasangka buruk. Hanya selembar jilbab, Wee sayang...
Gak ada teman berkeluh kesah, akhirnya kuungkapkan kekesalan pada ibuku tersayang. Seperti biasa, kata2 ibu dipenuhi nasehat2. Beliau memintaku mencari lagi dengan lebih teliti dan jangan berburuk sangka. Aku kekeuh merasa sudah sangat teliti mencari. Lalu ibu bilang, "Ya sudah, klo memang gak ada ikhlasin aja. Ambil pelajarannya, lain kali lebih hati2. Insya Allah semua ada hikmahnya". Masih dengan kesal aku menimpali, "Apa hikmahnya?". Beliau menjawab, "Ya siapa tahu yg tadinya belum pake jilbab jadi tergerak untuk berjilbab". Aku terdiam.
Sigh... Hanya karena selembar jilbab aku kesal dan dipenuhi prasangka buruk. Alhamdulillah Allah menganugerahi aku seorang ibu yang bijak. I really luv u Mom... Full Post...
Sunday, August 30, 2009
Sekedar Sajak
Kupandang langit malamku
Beberapa bintang tersenyum lembut
Kubiarkan saja, tak kusentuh, tak kuambil
Aku cukup bahagia dengan memandangnya
Esok malam bintang-bintang itu masih bersinar
Langitku tetap indah
Aku duduk menengadah
Tersenyum menunggu bintang turun menghampiri
Malam berganti
Kulihat bintang-bintangku meredup
Aku bingung dalam diam
Tetap diam sampai kudapati semua bintang itu lenyap
Kuintip langit sebelah
Hanya ada satu bintang
Seorang gadis mengambil satu-satunya bintang itu
Aku terpana
Tak ada lagi bintang di sana
Namun ada satu rembulan
Sinarnya terang dan begitu dekat
Aku tercenung
Haruskah kuambil satu bintang Full Post...
Beberapa bintang tersenyum lembut
Kubiarkan saja, tak kusentuh, tak kuambil
Aku cukup bahagia dengan memandangnya
Esok malam bintang-bintang itu masih bersinar
Langitku tetap indah
Aku duduk menengadah
Tersenyum menunggu bintang turun menghampiri
Malam berganti
Kulihat bintang-bintangku meredup
Aku bingung dalam diam
Tetap diam sampai kudapati semua bintang itu lenyap
Kuintip langit sebelah
Hanya ada satu bintang
Seorang gadis mengambil satu-satunya bintang itu
Aku terpana
Tak ada lagi bintang di sana
Namun ada satu rembulan
Sinarnya terang dan begitu dekat
Aku tercenung
Haruskah kuambil satu bintang Full Post...
Saturday, August 29, 2009
Tanpa Judul
Lucu, aku tersenyum melihat tingkah mereka. Ibaratnya anak-anak di pedalaman bumi antah berantah yang boro-boro bisa menggunakan handphone, melihat bentuknyapun mereka belum pernah. Meskipun mungkin pengibaratan yang kupilih ini kurang tepat, namun begitulah kira-kira. Bisa dibilang mereka norak, tapi norak jenis ini sangat indah.
Iri, aku iri melihat mereka. Sekedar iri dan bukan dengki. Aku juga iri ketika melihat mereka bertingkah norak. Aku ingin berada di situ, dalam suasana norak itu. Aku ingin bisa mengeluhkan hal-hal yang indah, sebagaimana kulihat mereka mengeluh dengan senyum yang tetap menempel di bibirnya.
Menggemaskan, sangat menggemaskan melihat kerepotan itu. Kerepotan yang sangat, ketahanan fisik taruhannya. Tapi nyatanya tak pernah binar indah di mata mereka lenyap, bahkan ia semakin terang. Seolah hidup ini sempurna sudah. Seolah tak ada lagi yang lain yang mampu mengalihkan dunia mereka.
Kesal, aku kesal mendapati diri ini hanya bisa menjadi penonton dan bukan pemain. Aku masih berdiri di sini menatap hampa, tak berani menuju lapangan. Mereka berjalan tegak meski kadang kulihat air mata menghias langkahnya. Air mata itu justru sebagai bumbu penyedap senyuman yang merekah setelahnya.
Ahh, apa bedanya aku dengan mereka. Aku juga bisa bahagia dengan duniaku. Aku menikmati hidupku. Aku tak merasa berbeda. Egoku bilang bahwa aku lebih beruntung. Namun, jauh di dalam hatiku aku menangis. Aku bahagia tapi aku tak punya tujuan dan tak punya tempat untuk berlabuh, mengatur strategi untuk kemudian melanjutkan hidup. Full Post...
Iri, aku iri melihat mereka. Sekedar iri dan bukan dengki. Aku juga iri ketika melihat mereka bertingkah norak. Aku ingin berada di situ, dalam suasana norak itu. Aku ingin bisa mengeluhkan hal-hal yang indah, sebagaimana kulihat mereka mengeluh dengan senyum yang tetap menempel di bibirnya.
Menggemaskan, sangat menggemaskan melihat kerepotan itu. Kerepotan yang sangat, ketahanan fisik taruhannya. Tapi nyatanya tak pernah binar indah di mata mereka lenyap, bahkan ia semakin terang. Seolah hidup ini sempurna sudah. Seolah tak ada lagi yang lain yang mampu mengalihkan dunia mereka.
Kesal, aku kesal mendapati diri ini hanya bisa menjadi penonton dan bukan pemain. Aku masih berdiri di sini menatap hampa, tak berani menuju lapangan. Mereka berjalan tegak meski kadang kulihat air mata menghias langkahnya. Air mata itu justru sebagai bumbu penyedap senyuman yang merekah setelahnya.
Ahh, apa bedanya aku dengan mereka. Aku juga bisa bahagia dengan duniaku. Aku menikmati hidupku. Aku tak merasa berbeda. Egoku bilang bahwa aku lebih beruntung. Namun, jauh di dalam hatiku aku menangis. Aku bahagia tapi aku tak punya tujuan dan tak punya tempat untuk berlabuh, mengatur strategi untuk kemudian melanjutkan hidup. Full Post...
Friday, August 14, 2009
Kendaraan Plat Merah
Seorang anak kuliahan yang sedang libur berencana hendak berkeliling kampung melihat-lihat perkembangan daerah sekitarnya. Dia mencari-cari motor yang biasa digunakannya. Ternyata, motor tersebut sedang dipinjam pamannya. Dia kesal. Lalu ayahnya menganjurkan agar sang anak menggunakan motor dinas ayahnya saja. Anak itu menolak mentah-mentah. "Aku gak mau pake plat merah.", ujarnya sambil berlalu dengan wajah berlipat sepuluh.
Gadis itu berusia dua puluhan, masih mementingkan gaya dalam bergaul. Dia hobi jalan-jalan bersama beberapa temannya. Kalau konvoi menggunakan motor, ahh rasanya gak seru. Mesti pake mobil nih supaya lebih keren. Dia pun mulai belajar nyetir. Meskipun masih terbata-bata, dia mendatangi teman-temannya untuk diajak jalan. Salah seorang teman bertanya, "Kamu beneran dah bisa nyetirnya?". Lalu dengan santainya dia menjawab, "Makanya ni pake mobil dinas bokap, kalo baru belajar mending pake mobil dinas aja, jadi kalo nabrak2 dikit gpp lah. Kalo pake mobil pribadi mah sayang..."
Salah seorang teman mengeluh dan menggerutu, betapa menderitanya tidak punya kendaraan di saat pekerjaan lapangan sedang banyak-banyaknya. Aku hanya menanggapi sekilas, "Bukannya motor dinas kantor ada beberapa. Masa sih gak ada satupun yang bisa dipinjam. Ini kan juga kepentingan dinas...". Bukannya tenang, malah dia semakin dongkol. Lalu dengan ketusnya ia menimpali, "Apaan, kendaraan dinas serasa kendaraan pribadi aja. Padahal dipake juga enggak, pelit banget gak mau minjemin. Huh..."
Tiga paragraf di atas hanyalah menggambarkan secuil fenomena tentang kendaraan plat merah, salah satu barang milik negara yang sering terlihat melintas di jalanan. Beberapa terlihat cantik dan elegan, beberapa terlihat kusam, kotor, bising, dan tak terawat bak bus kota yang tak lagi layak jalan.
Apa sih pentingnya kendaraan dinas? Mengapa negara memberikan fasilitas berupa kendaraan kepada orang-orang tertentu saja? Orang-orang yang mengepalai dinas, kantor, bidang, atau apapun, diberikan fasilitas kendaraan dinas karena memang mobilitas mereka diperlukan. Agar mereka lancar ngantor, lancar ngawasin anak buah, lancar mesti rapat disana sini demi kepentingan negara. UNTUK KEPENTINGAN DINAS. Dalam hal ini kita memang gak bisa terlalu naif. Ada kalanya kadang-kadang ‘tak sengaja’ kendaraan dinas tersebut digunakan untuk kepentingan pribadi. Menurutku gak masalah, selama fungsi yang diharapkan dari adanya kendaraan dinas itu bisa terlaksana dengan baik.
Tidak jarang aku melihat mobil-mobil plat merah berseliweran di jalanan ketika sore hari. Yang nyetir adalah anak-anak usia sekolah yang ingin meneriakkan pada dunia bahwa ia adalah anak pejabat. Kaca jendela dibuka lebar supaya semua orang bisa melihatnya. Musik disko terdengar tidak indah sama sekali dari dalam mobil. Ia berkendara dengan cueknya, meskipun tidak mengantongi SIM. Ahh, polisi juga gak bakalan berani menilang mobil plat merah gini, mungkin begitu pikirnya. Benar-benar menggelikan. Aku sering mikir, katro banget siy ni orang. Disini aja loe berani, jago kandang. Kalau agak ke kota dikit, gak bakal ada yang melirik bro, hehehehh...
Coba Anda baca kembali paragraf kedua di atas. Fenomena ini sangat lazim. Aku sering gemes malihat kebanyakan orang rendah banget sense of belonging-nya terhadap kendaraan dinas yang nyata-nyata di atas kertas dipercayakan kepada mereka. Giliran tandatangan duit operasionalnya aja senangnya bukan main, tapi kendaraannya sendiri dicucipun tidak. Cobalah, sayangi kendaraan dinas Anda sebagaimana Anda menyayangi kendaraan pribadi, niscaya negara ini gak bakalan terlalu rugi.
Nah, untuk kasus teman saya pada paragraf ketiga di atas, bukan satu dua teman yang pernah mengeluhkan "pelitnya" pemegang kendaraan untuk meminjamkan kendaraan dinasnya kepada pegawai lain. Aneh memang. Seandainya kendaraan dipinjam untuk woro wiri gak jelas, maka pemegang kendaraan berhak menolak. Kalau untuk kepentingan dinas? Hmm, jika pemegang kendaraan juga sedang menggunakan untuk kepentingan dinas, sementara kepentingan pemegang dan peminjam tidak bisa dipenuhi sekaligus, maka wajar saja si pemegang menolak. Namun jika kendaraan nganggur, ngetem doang di rumah, apa salahnya kalau digunakan oleh pegawai lain, untuk kepentingan dinas juga kok, iya to??
Yang jelas, satu hal yang perlu diingat, kendaraan plat merah adalah BARANG MILIK NEGARA dan bukan BARANG MILIK PRIBADI. It’s general, not personal... Full Post...
Gadis itu berusia dua puluhan, masih mementingkan gaya dalam bergaul. Dia hobi jalan-jalan bersama beberapa temannya. Kalau konvoi menggunakan motor, ahh rasanya gak seru. Mesti pake mobil nih supaya lebih keren. Dia pun mulai belajar nyetir. Meskipun masih terbata-bata, dia mendatangi teman-temannya untuk diajak jalan. Salah seorang teman bertanya, "Kamu beneran dah bisa nyetirnya?". Lalu dengan santainya dia menjawab, "Makanya ni pake mobil dinas bokap, kalo baru belajar mending pake mobil dinas aja, jadi kalo nabrak2 dikit gpp lah. Kalo pake mobil pribadi mah sayang..."
Salah seorang teman mengeluh dan menggerutu, betapa menderitanya tidak punya kendaraan di saat pekerjaan lapangan sedang banyak-banyaknya. Aku hanya menanggapi sekilas, "Bukannya motor dinas kantor ada beberapa. Masa sih gak ada satupun yang bisa dipinjam. Ini kan juga kepentingan dinas...". Bukannya tenang, malah dia semakin dongkol. Lalu dengan ketusnya ia menimpali, "Apaan, kendaraan dinas serasa kendaraan pribadi aja. Padahal dipake juga enggak, pelit banget gak mau minjemin. Huh..."
Tiga paragraf di atas hanyalah menggambarkan secuil fenomena tentang kendaraan plat merah, salah satu barang milik negara yang sering terlihat melintas di jalanan. Beberapa terlihat cantik dan elegan, beberapa terlihat kusam, kotor, bising, dan tak terawat bak bus kota yang tak lagi layak jalan.
Apa sih pentingnya kendaraan dinas? Mengapa negara memberikan fasilitas berupa kendaraan kepada orang-orang tertentu saja? Orang-orang yang mengepalai dinas, kantor, bidang, atau apapun, diberikan fasilitas kendaraan dinas karena memang mobilitas mereka diperlukan. Agar mereka lancar ngantor, lancar ngawasin anak buah, lancar mesti rapat disana sini demi kepentingan negara. UNTUK KEPENTINGAN DINAS. Dalam hal ini kita memang gak bisa terlalu naif. Ada kalanya kadang-kadang ‘tak sengaja’ kendaraan dinas tersebut digunakan untuk kepentingan pribadi. Menurutku gak masalah, selama fungsi yang diharapkan dari adanya kendaraan dinas itu bisa terlaksana dengan baik.
Tidak jarang aku melihat mobil-mobil plat merah berseliweran di jalanan ketika sore hari. Yang nyetir adalah anak-anak usia sekolah yang ingin meneriakkan pada dunia bahwa ia adalah anak pejabat. Kaca jendela dibuka lebar supaya semua orang bisa melihatnya. Musik disko terdengar tidak indah sama sekali dari dalam mobil. Ia berkendara dengan cueknya, meskipun tidak mengantongi SIM. Ahh, polisi juga gak bakalan berani menilang mobil plat merah gini, mungkin begitu pikirnya. Benar-benar menggelikan. Aku sering mikir, katro banget siy ni orang. Disini aja loe berani, jago kandang. Kalau agak ke kota dikit, gak bakal ada yang melirik bro, hehehehh...
Coba Anda baca kembali paragraf kedua di atas. Fenomena ini sangat lazim. Aku sering gemes malihat kebanyakan orang rendah banget sense of belonging-nya terhadap kendaraan dinas yang nyata-nyata di atas kertas dipercayakan kepada mereka. Giliran tandatangan duit operasionalnya aja senangnya bukan main, tapi kendaraannya sendiri dicucipun tidak. Cobalah, sayangi kendaraan dinas Anda sebagaimana Anda menyayangi kendaraan pribadi, niscaya negara ini gak bakalan terlalu rugi.
Nah, untuk kasus teman saya pada paragraf ketiga di atas, bukan satu dua teman yang pernah mengeluhkan "pelitnya" pemegang kendaraan untuk meminjamkan kendaraan dinasnya kepada pegawai lain. Aneh memang. Seandainya kendaraan dipinjam untuk woro wiri gak jelas, maka pemegang kendaraan berhak menolak. Kalau untuk kepentingan dinas? Hmm, jika pemegang kendaraan juga sedang menggunakan untuk kepentingan dinas, sementara kepentingan pemegang dan peminjam tidak bisa dipenuhi sekaligus, maka wajar saja si pemegang menolak. Namun jika kendaraan nganggur, ngetem doang di rumah, apa salahnya kalau digunakan oleh pegawai lain, untuk kepentingan dinas juga kok, iya to??
Yang jelas, satu hal yang perlu diingat, kendaraan plat merah adalah BARANG MILIK NEGARA dan bukan BARANG MILIK PRIBADI. It’s general, not personal... Full Post...
Thursday, July 30, 2009
Seorang Cewek Seksi Berjalan Dengan Santainya
Seorang cewek seksi sedang melenggang menyusuri tepian jalan raya. Ia berjalan dengan santainya. Cantik, tinggi, berambut panjang. Kaos ketat lengan pendek benar2 terlihat pas di tubuh proporsionalnya. Kulit yang putih mulus dan terawat juga benar2 bebas dipandangi karena ia hanya mengenakan celana pendek sebatas paha.
Aku duduk di sana, di sebuah halte bus, menunggu seorang teman yang tak kunjung datang. Sangat membosankan, lalu dengan sendirinya aku mencari kesibukan. Sebaris kalimat di sebuah gerobak bakso pun kubaca dengan teliti. Nenek2 tua dengan celak mata yang super tebal tak luput dari perhatianku. Bahkan sehelai daun kering yang jatuh dari pohon juga terlihat menarik di mataku. Apalagi ini... ketika ada seorang cewek seksi yang berjalan dengan santainya.
Ia membawa tas mahal yang dibebankan pada bahunya, benar2 khas cewek2 moderen. Cardigan rajut berwarna putih tanpa lengan melengkapi gayanya berbusana. Sandal tinggi dengan hak yang tebal membuatnya terlihat sempurna. Rambut panjangnya sedikit diangkat, lengkap dengan kacamata hitam di kepalanya. Sangat berkelas. Tidak seharusnya ia di sana. Dimana mobil mewahnya?
Ahh, tinggalkan saja dia. Cukuplah 5 detik saja aku memperhatikannya. Detik2 berikutnya pandanganku mulai bergerilya. Abang bakso yang tengah meracik baksonya tak lupa mengangkat wajah beberapa detik, menunduk lagi untuk melihat sudahkah ia menambahkan garam pada baksonya, lalu mengangkat wajah lagi memperhatikan si cewek seksi dengan seksama. Seorang kenek bus bersiul2 nakal menggoda si cewek seksi sambil memanggil2 calon penumpang. Matanya tak lepas melahap tubuh cewek tersebut. Beberapa tukang ojek yang sedang mangkal tertawa2 bersama sambil memandangi si cewek seksi sampai ia tak tampak lagi dalam pandangan. Seorang bapak2 pengendara motor yang baru saja menjemput anak perempuannya dari sekolah tak lupa menoleh beberapa jenak. Beberapa pemuda berseragam abu2 yang sedang mengantri di sebuah fotokopi di seberang jalan juga tidak menyianyiakan pemandangan indah itu. Aku tersenyum, mencoba menerka menuju kemana sebenarnya arah pandangan mereka. Namun aku bergidik, tak berani menyimpulkan. Aku hanya yakin bahwa pasti pemilik mata2 itu berteriak dalam hati, "Gilaaa, eye catching banget siy…"
Hebat. Betapa hebat pesona seorang wanita, apalagi dengan busana minim bahannya. Benar2 memancing libido kaum adam. Lihat saja berita2 kriminal di televisi. Nenek2 tua keriput menjadi korban perkosaan tetangganya. Anak2 kecil yang bahkan bodinya belum terbentuk pun menjadi objek pelampiasan birahi orang2 yang pikirannya tidak sehat. Pekerja2 seks bertebaran dimana2, menjajakan tubuh layaknya barang obralan. Ada supply, ada demand. Jika barang banyak beredar, harga bisa semakin murah. Satu kata saja untuk semua itu… astaghfirullah…
Dunia memang fana, ia dipenuhi perhiasan. Dan sebaik2 perhiasan adalah wanita solehah, yang mampu menjaga diri dan kehormatannya. Could you be, Wee darling?! Full Post...
Aku duduk di sana, di sebuah halte bus, menunggu seorang teman yang tak kunjung datang. Sangat membosankan, lalu dengan sendirinya aku mencari kesibukan. Sebaris kalimat di sebuah gerobak bakso pun kubaca dengan teliti. Nenek2 tua dengan celak mata yang super tebal tak luput dari perhatianku. Bahkan sehelai daun kering yang jatuh dari pohon juga terlihat menarik di mataku. Apalagi ini... ketika ada seorang cewek seksi yang berjalan dengan santainya.
Ia membawa tas mahal yang dibebankan pada bahunya, benar2 khas cewek2 moderen. Cardigan rajut berwarna putih tanpa lengan melengkapi gayanya berbusana. Sandal tinggi dengan hak yang tebal membuatnya terlihat sempurna. Rambut panjangnya sedikit diangkat, lengkap dengan kacamata hitam di kepalanya. Sangat berkelas. Tidak seharusnya ia di sana. Dimana mobil mewahnya?
Ahh, tinggalkan saja dia. Cukuplah 5 detik saja aku memperhatikannya. Detik2 berikutnya pandanganku mulai bergerilya. Abang bakso yang tengah meracik baksonya tak lupa mengangkat wajah beberapa detik, menunduk lagi untuk melihat sudahkah ia menambahkan garam pada baksonya, lalu mengangkat wajah lagi memperhatikan si cewek seksi dengan seksama. Seorang kenek bus bersiul2 nakal menggoda si cewek seksi sambil memanggil2 calon penumpang. Matanya tak lepas melahap tubuh cewek tersebut. Beberapa tukang ojek yang sedang mangkal tertawa2 bersama sambil memandangi si cewek seksi sampai ia tak tampak lagi dalam pandangan. Seorang bapak2 pengendara motor yang baru saja menjemput anak perempuannya dari sekolah tak lupa menoleh beberapa jenak. Beberapa pemuda berseragam abu2 yang sedang mengantri di sebuah fotokopi di seberang jalan juga tidak menyianyiakan pemandangan indah itu. Aku tersenyum, mencoba menerka menuju kemana sebenarnya arah pandangan mereka. Namun aku bergidik, tak berani menyimpulkan. Aku hanya yakin bahwa pasti pemilik mata2 itu berteriak dalam hati, "Gilaaa, eye catching banget siy…"
Hebat. Betapa hebat pesona seorang wanita, apalagi dengan busana minim bahannya. Benar2 memancing libido kaum adam. Lihat saja berita2 kriminal di televisi. Nenek2 tua keriput menjadi korban perkosaan tetangganya. Anak2 kecil yang bahkan bodinya belum terbentuk pun menjadi objek pelampiasan birahi orang2 yang pikirannya tidak sehat. Pekerja2 seks bertebaran dimana2, menjajakan tubuh layaknya barang obralan. Ada supply, ada demand. Jika barang banyak beredar, harga bisa semakin murah. Satu kata saja untuk semua itu… astaghfirullah…
Dunia memang fana, ia dipenuhi perhiasan. Dan sebaik2 perhiasan adalah wanita solehah, yang mampu menjaga diri dan kehormatannya. Could you be, Wee darling?! Full Post...
Tuesday, July 28, 2009
Jangan Lebih Dari 25!!!
"… jangan lebih dari 25!"
Bukan satu atau dua orang saja yang pernah mengucapkan kata-kata itu. Aku tidak ingat persis berapa jumlahnya. Yang aku ingat hanya angka dua dan lima, 25. Seolah-olah angka tersebut akan menjadi angka keramat bagi setiap orang dengan jenis kelamin berkode 2. Hmm, berarti aku juga termasuk ne…
Scene 1
Seorang anak yang baru lulus kuliah lalu bekerja bercerita tentang pekerjaan kantor kepada orangtuanya. Ngerjain A, nulis B, ngawas C, pergi ke X, Y, Z, bla bla… Orangtua tersenyum, mendengarkan, dan memberi tanggapan dengan seksama sambil berpikir, "Hmm, anakku sudah tambah dewasa."
Seiring berjalannya waktu, tetap saja sang anak seperti disibukkan oleh pekerjaannya. Tak pernah sekalipun ia bercerita tentang calon suaminya. Orangtua pun memberi wejangan, "Sibuk boleh aja Nak, tapi jangan sampai terlena, umur itu terus bertambah, jangan lebih dari 25. Kalo dah ada yg cocok suruh sini… bla… bla…"
Scene 2
Seorang atasan sedang ngobrol ringan bersama beberapa stafnya. Kebetulan ada dua orang staf wanita yang masih lajang. Karena masih sorangan, mereka pun jadi bahan becandaan rekan-rekan dan atasannya.
Atasannya bilang, "Iya, jangan kelamaan nikah, cari aja orang sini, kan gampang…"
Si Wanita Lajang menimpali, "Yaks, gak segampang itu kali…"
Atasan kembali memberikan pernyataan, "Jangan lebih dari 25 aja, soalnya kalo lebih dari 25 sebutannya dah beda."
"Beda gimana Pak?", tanya si wanita.
"Ya kan penyebutan umur tu biasanya 17 tahun ke atas, 21 tahun ke atas, 25 tahun ke atas… setelah itu masih lama, 40 tahun ke atas…", dengan santainya Pak Bos menjawab.
Hahaha, ada-ada aja sih :D
Scene 3
Seorang wanita lajang dan sudah bekerja mengadakan perjalanan darat menuju provinsi tetangga. Perjalanan itu ia tempuh di malam hari menggunakan bus. Kebetulan teman seperjalanan yang duduk di sebelahnya adalah seorang laki-laki muda, sudah menikah, mempunyai dua orang anak, dan senang mengajaknya ngobrol sepanjang malam.
Setelah laki-laki tersebut tahu bahwa lawan bicaranya sudah bekerja dan masih sorangan, ia lalu menebak-nebak usia si wanita.
"Emang umurnya berapa mbak? 23 ya?", tanya si bapak.
"Iya Pak, kok bisa tahu sih?", wanita balik bertanya.
"Nebak aja kok dari obrolan-obrolan sebelumnya… Wah, masih muda ya, baru 23. Gpp, masih single, masih bisa lah lamaan dikit nikahnya. Pokoknya jangan lebih dari 25 aja mbak. Maksimal lah nikah umur 25."
"Loh, emang kenapa Pak?"
"Ya itu tadi, cewe kuliah dah selesai, dah kerja juga, padahal masih muda. Jangan-jangan malah dah punya jabatan ya… Ntar malah lupa nikah. Atau malah cowo-cowo malu dan gak pede mau deketin. Yang jelas ingat aja pesan saya tadi ya mbak. Jangan lebih dari 25. Gpp kan dalam perjalanan gini diingetin? Sesama muslim kan harus saling mengingatkan."
"Gpp kok Pak. Doakan saja deh…"
***
Begitulah…
Jadi wahai para wanita lajang. Jika tidak ada lagi yang menghalangimu untuk menikah, ingat-ingatlah pengalaman orang-orang di atas. Jangan lebih dari 25! ^^ Full Post...
Bukan satu atau dua orang saja yang pernah mengucapkan kata-kata itu. Aku tidak ingat persis berapa jumlahnya. Yang aku ingat hanya angka dua dan lima, 25. Seolah-olah angka tersebut akan menjadi angka keramat bagi setiap orang dengan jenis kelamin berkode 2. Hmm, berarti aku juga termasuk ne…
Scene 1
Seorang anak yang baru lulus kuliah lalu bekerja bercerita tentang pekerjaan kantor kepada orangtuanya. Ngerjain A, nulis B, ngawas C, pergi ke X, Y, Z, bla bla… Orangtua tersenyum, mendengarkan, dan memberi tanggapan dengan seksama sambil berpikir, "Hmm, anakku sudah tambah dewasa."
Seiring berjalannya waktu, tetap saja sang anak seperti disibukkan oleh pekerjaannya. Tak pernah sekalipun ia bercerita tentang calon suaminya. Orangtua pun memberi wejangan, "Sibuk boleh aja Nak, tapi jangan sampai terlena, umur itu terus bertambah, jangan lebih dari 25. Kalo dah ada yg cocok suruh sini… bla… bla…"
Scene 2
Seorang atasan sedang ngobrol ringan bersama beberapa stafnya. Kebetulan ada dua orang staf wanita yang masih lajang. Karena masih sorangan, mereka pun jadi bahan becandaan rekan-rekan dan atasannya.
Atasannya bilang, "Iya, jangan kelamaan nikah, cari aja orang sini, kan gampang…"
Si Wanita Lajang menimpali, "Yaks, gak segampang itu kali…"
Atasan kembali memberikan pernyataan, "Jangan lebih dari 25 aja, soalnya kalo lebih dari 25 sebutannya dah beda."
"Beda gimana Pak?", tanya si wanita.
"Ya kan penyebutan umur tu biasanya 17 tahun ke atas, 21 tahun ke atas, 25 tahun ke atas… setelah itu masih lama, 40 tahun ke atas…", dengan santainya Pak Bos menjawab.
Hahaha, ada-ada aja sih :D
Scene 3
Seorang wanita lajang dan sudah bekerja mengadakan perjalanan darat menuju provinsi tetangga. Perjalanan itu ia tempuh di malam hari menggunakan bus. Kebetulan teman seperjalanan yang duduk di sebelahnya adalah seorang laki-laki muda, sudah menikah, mempunyai dua orang anak, dan senang mengajaknya ngobrol sepanjang malam.
Setelah laki-laki tersebut tahu bahwa lawan bicaranya sudah bekerja dan masih sorangan, ia lalu menebak-nebak usia si wanita.
"Emang umurnya berapa mbak? 23 ya?", tanya si bapak.
"Iya Pak, kok bisa tahu sih?", wanita balik bertanya.
"Nebak aja kok dari obrolan-obrolan sebelumnya… Wah, masih muda ya, baru 23. Gpp, masih single, masih bisa lah lamaan dikit nikahnya. Pokoknya jangan lebih dari 25 aja mbak. Maksimal lah nikah umur 25."
"Loh, emang kenapa Pak?"
"Ya itu tadi, cewe kuliah dah selesai, dah kerja juga, padahal masih muda. Jangan-jangan malah dah punya jabatan ya… Ntar malah lupa nikah. Atau malah cowo-cowo malu dan gak pede mau deketin. Yang jelas ingat aja pesan saya tadi ya mbak. Jangan lebih dari 25. Gpp kan dalam perjalanan gini diingetin? Sesama muslim kan harus saling mengingatkan."
"Gpp kok Pak. Doakan saja deh…"
***
Begitulah…
Jadi wahai para wanita lajang. Jika tidak ada lagi yang menghalangimu untuk menikah, ingat-ingatlah pengalaman orang-orang di atas. Jangan lebih dari 25! ^^ Full Post...
Subscribe to:
Posts (Atom)

