Tuesday, January 12, 2010

SITIPHOBIA

0 comments
Grudug... grudug... brakkkkkkkkk...

Aku terkejut, refleks menengadahkan wajah menatap langit2 kamar kostku. Suara apa itu? Sebuah pertanyaan retoris, tidak butuh jawaban karena aku sendiri sebenarnya sudah tahu jawabannya. Tak ayal lagi, suara itu pasti hasil jerih payah jenis hewan yang paling menjijikkan sedunia. Musuh bebuyutan Si Kucing Tom.

Tanpa sadar aku menggeleng2kan kepala. Entah sejak kapan aku menjadi seorang pembenci tikus. Benar2 benci dan jijik. Temanku bilang aku phobia, takutku berlebihan, terlalu berlebihan. Sampai2 aku sendiri pun tidak yakin, apakah aku sekedar jijik atau memang benar2 takut. Aku tak kuasa untuk tidak menggidikkan bahu begitu teringat pengalaman2 sebelumnya yang berhubungan dengan binatang itu.

Dulu sekali, di rumahku pernah muncul seekor tikus curut kecil. Ia tersesat di ruang makan. Aku masih sangat ingat perasaanku waktu itu, benar2 was2 kalau2 ia berjalan ke arahku. Refleks kuangkat kaki, mendekam di atas kursi. Tidak sedikitpun aku berani bergerak. Tubuhku kaku, tapi tidak lidahku. Aku berteriak2 heboh dan baru berhenti setelah Bapak berhasil mengatasinya.

Aku, kakakku dan sepupuku pernah menginap di rumah salah seorang saudara jauh di Palembang. Rumahnya bermodel panggung, jadi kami hanya akan sampai di kamar mandi setelah menuruni sebuah tangga kayu di dapur. Ketika aku hendak ke kamar mandi, tanpa sengaja aku melihat seekor tikus berada di atas piring bekas makan yang diletakkan di lantai. Tikus itu layaknya hidangan yang diletakkan di dalam piring. Piringnya berukuran besar dan tikus itu memenuhinya. Aku histeris. Itulah pertama kalinya aku tahu bahwa di dunia ini ada tikus sebesar itu. Tikus itu pun tak kalah kaget. Ia segera beranjak meninggalkan makanannya.

Satu hal yang paling mengesankan tentang sebuah kota bernama Jakarta. Sepertinya di kota ini sudah terlalu banyak hal2 yang menyimpang dari kodratnya. Aku benar2 kagum, bagaimana mungkin binatang berkumis tak lagi punya taring di hadapan binatang yang seharusnya menjadi mangsanya. Tikus2 berkeliaran dengan santainya, melewati kucing2 yang terlihat mengalami kreatinisme. Yup, ketika kucing2 begitu kerdil, tikus2 sehat walafiat dengan ukuran tubuh yang WAH. Aku yakin perangkap tikus di pasaran tidak akan mampu memenjarakan tikus2 yang kelebihan hormon itu.

Kakakku dan aku menempati sebuah rumah kontrakan berlantai dua di Jakarta. Semua baik2 saja sampai bencana itu muncul. Entah dari mana tikus2 mulai berdatangan.Pernah suatu ketika aku ingin ke kamar mandi. Begitu pintunya kubuka, seekor tikus merayap cepat keluar dari kamar mandi, nyaris menyentuh kakiku. Aku membeku, ketakutan setengah hidup. Lain waktu di tengah malam aku ingin ke bawah (kebetulan rumah itu kamarnya berada di lantai dua). Saat kuinjakkan kaki pada anak tangga pertama, serta merta binatang jelek itu lari tunggang langgang entah dari mana dan mau kemana, membuatku nyaris terjatuh saking kagetnya. Aku benar2 benci. Binatang itu sukses membuatku menahan pis karena tidak berani keluar kamar di malam hari. Dan itu tidak hanya berlangsung satu, dua, atau tiga kali saja.

Rumah yang lain lagi aku tempati bersama seorang teman. Langit2nya sangat tinggi, tak berpelafon. Hanya ada tripleks yang menutupi gentengnya dari pandangan. Secara logika tidak ada celah yang memungkinkan bagi tikus2 untuk bersarang di rumah itu. Namun rupanya tikus tak mengenal logika. Entah bagaimana caranya mereka bisa membuat kegaduhan di atap rumah yang berada di lantai dua tersebut. Kegaduhan ekstrem yang mengerikan. Jika mereka terlalu asik bercinta di atas sana, aku yakin akan ada yang tidak sengaja terjatuh, tepat di situ, di kamar kami. Itulah kenapa, sangat bisa dipastikan bahwa hampir setiap malam aku tidur dinaungi rasa was2.

Saat itu hampir tengah malam. Aku sedang bersama laptopku di kamar ketika kudengar suara cit cit cit. Aku cuek, sampai kemudian aku melihat sesuatu yang kecil terjatuh dari atap. Aku diam sejenak, sebelum berlari pontang panting begitu sadar bahwa yang jatuh tadi adalah seekor bayi tikus. Kehebohan dimulai. Temanku yang sedang berada di depan komputer di ruang depan ikut heboh ketika tahu ada tikus yang terjatuh. Meskipun dia juga takut, tapi ketakutanku benar2 tak terkalahkan. Aku tidak bisa diandalkan untuk urusan ini. Aku menyingkir sejauh2nya. Temanku mencoba mengusir bayi tikus yang sepertinya belum lancar berjalan itu. Si tikus bergerak, menuju ke bawah lemari. Kejar2an tak terelakkan. Kamar itu sudah kacau balau. Lemari2, tv, kasur, semua tak luput dari sentuhan kasar. Si tikus tak kunjung bisa diusir keluar. Kami menyerah, mengesampingkan rasa malu, mengetuk pintu tetangga yang dihuni 2 orang cowok adik tingkat di kampus. Salah seorang terlihat jijik begitu mendengar bahwa permasalahan yang harus mereka selesaikan berhubungan dengan tikus. Namun sepertinya harga diri mereka sangat mahal. Mereka menyanggupi untuk membantu. Tak kalah heboh, merekapun berusaha menangkap si tikus sambil berteriak2. Kasihan sekali tikus kecil itu, nasibnya sangat tragis. Ia dibantai oleh 2 orang cowok yang sebenarnya takut. Mereka secara brutal memukulinya dengan gagang sapu sampai tewas. Lalu bangkainya dibuang entah kemana. Semua selesai, meskipun aku tidak benar2 lega. Aku dan temanku harus kerja rodi mengepel seluruh rumah di tengah malam. Benar2 keren.

Di hari yang berbeda, ketika aku bangun suatu pagi. Aku masuk kamar mandi dan berteriak... arrrrggggggghhhh. Mimpi apa aku semalam sampai2 pagi harinya aku menemukan seekor tikus remaja terjebak di dalam bak mandi yang airnya tinggal setengah. Mengerikan. Dan aku harus membagi rasa ngeri ini kepada teman serumahku. Aku membangunkan temanku itu, memberitahunya kabar yang aku yakin sangat tidak ingin ia dengar. Perdebatan tak terelakkan. Tidak seorangpun yang mau menjadi pahlawan dengan mengeluarkan si tikus dari dalam bak. Kami harus memikirkan solusi. Percuma berdebat karena pasti tidak akan selesai sampai sore. Temanku mengusulkan untuk meminta bantuan teman cowok lain yang tinggalnya tak jauh dari situ. Aku setuju2 saja. Tapi begitu dia minta supaya aku saja yang bilang, aku menolak. Malu rasanya minta tolong untuk masalah seperti itu. Tapi ternyata tetap saja, rasa jijik dan takutku masih lebih besar. Aku lalu setuju untuk menelepon teman cowok tadi, meminta bantuannya untuk mengeluarkan tikus dari bak mandi dengan perjanjian bahwa menguras bak setelahnya bukanlah bagianku. Karena bagaimanapun, semua hal yang berhubungan dengan tikus benar2 menjijikkan buatku.

Begitulah. Kadang aku heran kenapa tikus bisa ada dimana2. Seperti halnya di tempat kostku sekarang. Tidak jarang aku mendengar tikus2 heboh di atas sana, seolah2 sedang berkelahi. Juga pernah ada tikus yang panik dan berlari menyentuh kakiku ketika aku baru saja keluar dari kamar mandi. Dan sampai sekarang pun aku masih bisa mengingat bagaimana rasanya saat itu. Rasa yang bisa membuatku merinding ketakutan. Memang begitulah. Jika sepupu2ku yang masih kecil takut pada hantu di malam hari, maka aku takut pada segala jenis siti, si tikus, bahkan yang ukurannya jauh lebih kecil daripada tikus2 Jakarta.
Full Post...

Thursday, December 31, 2009

Menit Yang Terbuang

0 comments
."Demi masa, sesunguhnya manusia kerugian, melainkan yang beriman dan yang beramal saleh." Begitulah syair lagu Raihan yang aku ingat. Kumpulan aksara penyusun syair tersebut serasa melayang2 dalam otakku, menambah rasa kesal yang memang sudah bercokol sedari tadi.

Aku duduk di sana, pada sebuah kursi biru di sebuah bank. Diam, menunggu seseorang yang harus datang menjemput suatu benda dariku. Ahh, semakin kacau balau saja kata2ku. Dalam kebosanan kucoba merangkai beberapa patah kata. Aku berpikir, jika sampai kumpulan kata asal2an tersebut berhasil kuposting pada blogku, tak terbayang sudah berapa banyak menit yang kubuang untuk sekedar menunggu.

Sepuluh, dua puluh, tiga puluh menit berlalu sudah. Terbayang2 beberapa laporan yang bisa kuselesaikan dalam waktu selama itu. Huh, kesalku menjadi2. Buang2 waktu. Tidak tahukah dia bahwa pekerjaan2ku sudah mulai melancarkan aksi teror.

Aku terus menunduk, mengetuk2kan stylus pada layar sekian inchi ini, tak peduli pada beberapa orang yang sedang bertransaksi. Aku bertransaksi dengan diriku sendiri, menghitung2 sisa waktu di hari ini, masih bisakah menyelesaikan beberapa target. Arrgh, kenapa pada saat2 seperti ini menit2 terasa begitu cepat berlalu.

Terpekur kulihat seorang bapak yang sudah sangat renta. Mata dan telinganya sudah tidak berfungsi dengan sempurna. Mungkin kelak pun aku begitu. Berapa banyak waktuku yang terbuang untuk sekedar menunggu, sampai usiaku setua itu. Menunggu, menunggu apapun.

Lalu kuterdiam. Aku kesal karena waktuku terbuang percuma saat menunggu seseorang. Apakah Allah juga kesal ketika aku lebih suka membuang menit2ku untuk nonton film daripada tilawah?!
Full Post...

Sunday, December 27, 2009

Memori Si Kecil

0 comments
"Neneknya Yori yang di sana kan rumahnya gede, Yuk. Ada kolam renangnya. Yori kan dikasih laptop dan PS gitu kalo Yori ke sana.", cucunya ibu kostku terus bercerita. Kalau kuhitung2, sudah sekitar lima belas menit pita suaranya tak jua berhenti bergetar.
"Terus mana laptopnya Yori, kenapa gak dibawa kesini aja?", aku menimpali.
"Gak boleh dibawa, cuma buat di sana aja. Pokoknya kalo Yori ke sana apa yang Yori mau pasti dikasih, minta dibeliin apa aja pasti boleh. Di sana juga ada pembantu.", dia bicara lagi tanpa terlihat berminat break barang sebentar saja.
"Iya?", aku mulai bosan.
"Iya, neneknya Yori kan yang punya bank yang gede itu loh, bla... bla..."

Di lain kesempatan Yori akan bertanya, "Ayuk pernah ke Bandung? Yori di Bandung makan strawberi sepuasnya, uwaknya Yori kan punya kebun stroberi, bla bla bla". Atau, "Ayuk, teman2 Yori yang cowok2 kan banyak yang naksir sama Yori, bla bla". Dan masih banyak obrolan lain yang terlalu rumit diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.

Huff, gila... rasanya aku tak ingin percaya bahwa ternyata aku kesal pada anak itu. Penting gak sih cerita A, B, C gak jelas kayak gitu, aku membatin. Pikiran tidak normalku ingin mengeluarkan sanggahan2 yang aku yakin dapat dengan mudah mematahkan semangatnya bercerita (yang tidak jarang membual). Tapi alhamdulillah Ya Allah, aku masih waras. Aku masih waras dan benar2 sadar bahwa yang sedang berada di hadapanku, menghalangi siaran berita yang sangat ingin aku tonton, hanyalah seorang anak kelas 4 SD.

###

Waktu itu aku sedang membereskan kamar, mengumpulkan barang2 dan mengelompokkan sesuai jenisnya. Hmm, ternyata selama ini aku tidak sadar bahwa koleksi alat tulisku sudah bejibun. Resiko bekerja dengan data. Oke, kubuat satu paket berisi pensil, pulpen, penghapus dan rautan. Rencananya paket itu akan kuberikan pada Yori. Lalu kubuka pintu kamar sambil memanggil, "Yooooo....". Uupsss, aku berhenti di pintu kamar tanpa menyelesaikan panggilanku.

Yori sedang bermain bekel bersama dua teman sebayanya yang juga masih familinya ibu kost dan kukenal dengan baik. Aku bengong dan bingung. Di sela2 kebengonganku, aku berpikir, apakah lebih baik tidak jadi saja paket itu kuberikan? Atau haruskah kuteruskan saja niatku untuk memberikan paket itu pada Yori? Trus, yang 2 anak lagi gimana? Ahh, bodo amat, mereka kan gak tinggal di sini, yang tinggal di sini kan cuma Yori, jadi wajar aja kalo aku cuma
ngasih dia aja.

Namun tanpa sadar kebengongan yang hanya beberapa detik itu telah membawaku untuk menggali kembali memori belasan tahun yang lalu. Dulu, ketika tanteku bertandang ke rumah, aku melihat beliau memberikan sebuah buku telpon magnet kepada kakakku. Aku iri setengah mati. Kenapa cuma kakakku saja yang diberi dan aku enggak? Tante pilih kasih. Lain waktu aku mendapati uwak memberi sebuah gelang tembaga yang cantik kepada kakak perempuanku. Sumpah, aku benar2 iri. Kenapa aku gak diberi? Aku benci orang2 dewasa yang suka pilih kasih. Aku yang saat itu masih SD benar2 kesal. It's not fair. Mereka lebih sayang kakakku daripada aku.

Hmm, semua itu memang hanya pikiran anak2 pada masa pertumbuhannya. Dia tidak tahu bahwa mungkin tante hanya punya satu buku telpon untuk diberikan pada yang lebih memerlukannya. Dia tidak tahu bahwa sebenarnya uwak punya satu gelang lagi yang lupa dibawa. sekarang anak itu tidak lagi punya pikiran childish seperti itu, tapi aku sangat yakin seyakin2nya bahwa tante dan uwakku tidak pernah mengingat kejadian tersebut. Kejadian yang saat itu ternyata sanggup membuat seorang anak sakit hati. Kejadian yang masuk ke dalam memori masa kanak2nya, dan terus mengendap di sana sampai anak itu berusia 24 tahun seperti sekarang.

Begitulah wujud ciptaan Allah, memori si kecil dirancang sangat kuat. Itulah kenapa menghapal Al Quran paling baik dilakukan sedari kecil, karena hapalan2 di masa kecilnya itulah yang akan dibawa sang anak sampai dewasa. Pun setiap rekaman kejadian yang dialami pada masa itu.

Aku kembali ke kamar. Harus bisa kubuat dua paket alat tulis lagi, begitu batinku. Untunglah alat tulis alat tulis itu jumlahnya masih cukup. Setelah jumlah paket sudah pas, baru paket2 itu kuberikan pada ketiga anak yang sedang bermain bekel tadi. Aku bahagia. Alhamdulillah Ya Allah, tak Kau biarkan aku menyakiti hati anak2 itu dan membuat mereka mengingatku sebagai orang dewasa yang pilih kasih.

###

Suatu sore ibu kost teriak2 kencang menyuruh cucunya mandi. "Yoriiiiiii, buruan mandi, dah sore!!!". Yori menimpali tak kalah kencangnya, "Entar aja Yori mandinyaaa." Aku terganggu. Anak ini memang tingkat perlawanannya terhadap orangtua tergolong sangat tinggi. Lalu dengan kalem aku bilang, "Mandilah Yori, udah sore, sebentar lagi magrib loh." Dan dia tak pernah kehilangan jawaban, "Gpp, Yori mandinya ntar malem aja. Ayuk juga kan mandinya malem..." Yaksss $$*&$#$@**#

Ampuni aku Ya Allah. Belum juga aku menjadi ibu. Pantas saja belum kau izinkan aku menikah. Karena untuk dakwah dalam lingkup sekecil ini pun ternyata aku tak becus.
Full Post...

Tuesday, December 22, 2009

Mother's Day 09

0 comments
Sejak TK sampai kelas 3 SD, perempuan itu sekolah di Santa Agnes. Kelas 4 pindah ke madrasah yang terletak di dekat rumah. Waktu itu beliau belum bisa baca Quran, kenal huruf arab pun tidak. Tapi lucunya, beliau ikut lomba baca Quran (ayat2 pendek) dan menang. Hehe, katanya itu cuma karena dah hapal suratnya aja. Jurinya gak liat sih bahwa yang dibaca dan yang ditunjuk itu sebenarnya beda :).

Ketika duduk di kelas 3 SMA, perempuan itu sudah mulai mengajar di madrasah. Setelah lulus SMA juga masih ngajar kurang lebih 1 tahun. Kalo denger ceritanya, waktu itu jadul banget. Cewe2 pake pakaian yang atasannya kebaya dan bawahannya kain. Trus kemana2 naik sepeda. Wah, persis seperti gambaran yg ada di film2 lawas.

Setelah 1 tahun lulus SMA, beliau lanjut ke PGSLP. Menjalani pendidikan sebentar lalu diangkat menjadi guru SMP golongan IIa dengan gaji Rp.16.000,-. Dan sampai sekarang beliau tetap menjadi guru SMP bidang studi Matematika dengan masa kerja 30 tahun, dah dapet satya lencana malahan. Wow, perempuan itu memang berjiwa pengajar, makanya hepi2 aja ngajar, gak minat pusing untuk naik jabatan, jadi kepala sekolah misalnya.

Perempuan itu, perempuan yang paling kusayang sepanjang hidupku. Perempuan yang ikut berjilbab setelah terlebih dahulu kakakku dan aku memutuskan untuk berjilbab. Perempuan yg penuh semangat membaca buku Fiqih Wanita yg kubawakan, buku yang aku sendiri belum mengkhatamkannya. Perempuan yang rajin shaum sunnah dan shalat malam untuk mendoakan anak2nya. Perempuan yg hampir berusia 52 tahun namun tetap penuh ghiroh. Perempuan sederhana yang gak neko2, berperasaan halus dan tak pernah menuntut. Perempuan yg cenderung lebih mudah dinego dan diajak kompromi. Perempuan yang tak pernah sekalipun kudengar nada suaranya meninggi ketika bicara dengan suaminya.

Perempuan itu, perempuan yang ketika menyapu lantai tak pernah melewatkan seinci pun kolong tempat tidur untuk disapu. Perempuan yang tdk terlalu bisa protes dan membantah. Perempuan yang selalu repot bikin kue lebaran untuk tamu anak2nya. Perempuan yang rajin meramaikan rumah dengan tilawahnya. Perempuan yang tdk mendorong2 suaminya untuk menjadi pejabat. Perempuan yang hampir setiap hari meneleponku, sekedar bertanya, "Dwi lagi ngapain, sudah makan belum, tadi kemana aja?".

Perempuan itu, perempuan yang menyetrika rok SD-ku dengan sangat teliti, sampai2 banyak yg heran, bagaimana mungkin rokku terplisket dengan sempurna. Perempuan yang repot memikirkan kebaya wisudaku padahal aku sendiri cuek bebek. Perempuan yang sibuk mendorongku pake tas cewek dan bukan ransel. Perempuan yang gak suka ngerumpi sebagaimana ibu2 pada umumnya. Perempuan yang gak pernah minta dibeliin ini itu kepada anak2nya. Perempuan yg lebih suka naik ojek cewek klo dari pasar. Perempuan yang selalu setia mendengarkan cerita2ku yang gak penting. Perempuan yang gak suka pake jilbab pendek. Perempuan yang ingin selalu kupeluk dan ingin selalu kulihat binar indah matanya. Perempuan yang aku tak rela ia tersakiti secuil apapun. She is my mom, my beloved one.

Sungguh, ribuan kata dan cerita tak kan mampu menggambarkan sempurnamu di mataku. Sungguh, rangkaian aksara tak bertepi tak kan pernah sanggup mengukur betapa besar cintaku padamu. Kuucapkan selamat hari ibu buat ibuk. You are my heaven, oh my dearest mother... ^_^
Full Post...

Tuesday, December 1, 2009

Kucing-Kucing Durhaka

0 comments
Di rumahku sering berkeliaran makhluk2 kecil berkaki 4. Habitatnya di luar rumah, tapi ketika tuan rumah lengah, mereka akan beringsut mengamankan diri menuju ke dalam, mencari sudut2 untuk bersembunyi. Tak menemukan sudut, mereka mengintai lemari. Abnormal.

Ada 4 ekor kucing yang biasa kulihat di rumah. Yang paling tua adalah seekor induk kucing bernama Hinata. Warnanya abstrak campuran hitam, kuning dan sedikit putih. Tubuhnya kecil, tipe2 pengalah dan sepertinya selalu senang hati untuk dizolimi.

Tiga ekor kucing lainnya adalah kucing jantan yang durhaka. Yang paling tua bernama Item. Warnanya dominan putih dengan sedikit motif hitam. Item adalah anak generasi pertama dari Hinata. Dulu ibuku sempat protes kenapa kucing putih dinamai Item, tapi karena waktu itu masih ada seekor kucing lagi bernama Putih, akhirnya ibu acc deh, hehe. Oiya, meskipun Item adl anak dari Hinata, tampangnya sudah seperti kakek kucing, kumal dan tua. Kerjaannya berantem melulu sih. Dan Item ini adalah kucing durhaka yg pertama. Kebiasaannya merebut makanan induknya, meskipun makanan itu sudah berada di mulut Hinata. Ck ck ck, Hinata pun bersukacita dizolimi seperti itu.

Dua ekor kucing jantan berikutnya adalah anaknya Hinata generasi ketiga. Warnanya didominasi putih dengan sedikit aksen kuning kecoklatan. Nama mereka gak jelas. Meskipun dulu adikku menamai mereka Vini dan Vidi, toh sekarang aku lebih suka memanggil mereka Anak Hinata. Nah, 2 terakhir ini adalah yg paling durhaka. Selain suka menggeram dan merampas makanan induknya, kucing2 yg sudah remaja ini pun masih menyusu pada Hinata, padahal Hinata baru saja melahirkan lagi. Benar2 kucing durhaka, morotin gizi induknya. Gak malu sama badan yg nyaris 2x badan induknya. Tapi anehnya, Hinata lagi2 ikhlas dizolimi. Wah wah...

Sambil menunggu roda 4 yg kan membawaku menuju provinsi sebelah, selesai sudah cerita gak penting tentang makhluk berkaki 4 ini. Makhluk2 yg lucu meskipun penganut kebiasaan incest :)

*from my P1i
Full Post...

Sunday, November 22, 2009

24 Years Old So Far

0 comments
Apa istimewanya sebuah tanggal lahir? Sering otakku menjawab, ahh... sekedar tanggal yang harus dicantumkan setiap kali aku mengisi biodata standar. Benarkah cuma itu Wee? Benarkah tak ada hal yang istimewa? Jika memang begitu adanya, maka sebenarnya apa yang sedang kau harapkan pada tanggal itu? Tanggal yang hanya berlangsung 24 jam saja dalam setahun.

Baiklah, kuakui aku sedang membohongi diri sendiri. Kenyataannya aku adalah perempuan. Makhluk yang mau tidak mau telah lebih banyak menggunakan rasa dalam mengukur sesuatu. Kenyataannya aku bahkan tak pernah lupa jika kalender sudah menunjukkan tanggal 22 November, tanggal yang menandakan bertambahnya nominal usiaku. Tanggal yang menyedihkan. Yang akan membuatku terluka jika tak ada ucapan Selamat Ulang Tahun yang sempat mampir.

Hari ini lagi2 nominal umurku bertambah. Dua puluh empat tahun. Rela atau tidak rela harus kuakui bahwa usiaku menunjukkan bahwa aku adalah seorang perempuan dewasa, bukan ABG atau anak kemarin sore yang masih bertahan dengan prinsip sok lugu (lucu lucu dungu :D). Bukan remaja yang ketawa ketiwi di jalanan menikmati hidup di bawah tiang finansial orang tua. Bukan mahasiswa yang hendak bermain cinta di sela2 jadwal kuliah. I am an adult woman and I should live with it’s properties.

Dua puluh empat tahun, bilangan yang terlihat mengerikan di mataku. Ibarat tengah menyusuri lorong panjang yang terbentang kegelapan di hadapannya. Aku tak bisa melihat ke depan, hanya ke belakang yang aku bisa. Aku bisa melihat apa saja yang telah aku lewati tanpa aku bisa kembali untuk memunguti benda2 yang berceceran. Aku berbalik, menoleh ke belakang, lalu aku terbelalak. Ternyata lorong yang telah kulalui itu sangat panjang dan berliku. Entah berapa banyak harta benda yang tak sempat kupunguti selama aku melewatinya. Lalu aku menggigil, ngeri membayangkan sebuah pertanyaan, "Sudah kau apakan saja 24 tahun hidupmu itu?"

Empat tahun yang lalu masih kujalani hari2 dengan status mahasiswa tercetak pada KTP-ku. Delapan tahun yang lalu seragam putih abu2 masih menghiasi hari2 indahku. Sepuluh tahun yang lalu aku masih mengenakan dasi silang sebagai pelengkap kostum putih biru itu. Tiga belas tahun yang lalu aku tergila2 dengan cerita Merpati Putih-nya Enyd Blyton. Dan lima belas tahun yang lalu setiap Kamis siang aku masih setia menunggu terdengarnya lonceng sepeda Bapak Tukang Majalah yang membawakan majalah Bobo kesayanganku, berebut dengan kakak dan adikku untuk menjadi orang pertama yang membaca majalah itu. Semuanya berlangsung bertahun2 yang lalu. Bertahun2 yang seolah2 baru berlangsung kemarin saja.

Tahun ini adalah tahun ke sembilan sejak pergantian milenium yang dulu gemanya sangat hebat. Dan di tahun ini usiaku bertambah, tepat di hari ini, Minggu 22 November 2009. Selamat Ulang Tahun, Wee. Jatah hidupmu telah berkurang sebanyak 24 tahun, namun engkau tak dapat menghitung sisanya. Tinggalkan saja kemarinmu dan beranjaklah menuju esokmu...
Full Post...

Sunday, November 1, 2009

Packaging itu PERLU – Sebuah Coretan Masa Lalu

0 comments
Adalah sebuah artikel yang diceritakan oleh seorang teman. Judulnya... entahlah aku sedikit lupa. Yang jelas, artikel itu ditulis oleh seorang ikhwan. Isinya menyatakan bahwa dari sekian banyak perbincangan dengan teman-temannya sesama ikhwan, sebagian besar (bahkan hampir keseluruhan) pengen punya istri cantik. Yah, intinya yang enak dipandang mata lah. Lalu, aku dan temanku tadi membahas isi artikel itu.

Adalah seorang temanku yang notabene akhwat. Kata orang-orang seh, "akhwat tingkat tinggi". Hmm, jujur saja aku gak suka dengan klasifikasi seperti itu. Si akhwat ini menurutku kadang-kadang terlalu negative thinking. Dia bilang, semua cowo, bahkan yang labelnya ikhwan sekalipun, kalo ngeliat cewe pasti phisically banget. Akhirnya, lumayan lama juga waktuku habis buat ngebahas hal ini dan ngedengerin argumen-argumennya.

Suatu waktu, iseng mengisi waktu sambil memenuhi hobi browsing, aku chat dengan seseorang yang katanya seh ikhwan. Waktu itu kita join di suatu room islam. Baru sebentar chat, eh... tuh cowo atau ikhwan atau apalah namanya, langsung nanya gini: "Kamu cantik dan seksi gak?" Aku agak sedikit bingung dan ilfil dengan pertanyaan to the point seperti itu. Lalu aku jawab: "Ngapain loe pake nanya2 gw cantik n seksi segala gak?" Dia menjawab: "Yah, aku pengen punya cewe cantik n seksi supaya gak selingkuh sampai setelah nikah nanti." GUBRAKSSSS

Dari ketiga skenario di atas, sekarang aku ingin membahas mengenai 'penampilan', atau kalo untuk barang tuh disebut... 'packaging' kali ye. Eh, skenario sama bahasannya nyambung gak ya!? Asumsikan saja IYA.

Kesimpulan sementara adalah... kebanyakan cewe beranggapan bahwa pada umumnya cowo menyukai cewe yang packagingnya bagus, dan sebagian besar cowo memang membuat anggapan para cewe tersebut benar. Nah, yang akan aku bahas adalah lebih ke sisi cewe (secara... gw kan cewe, uups!). But, ini cuma pendapatku, alias menurutku. Mungkin gak semua cewe setuju dengan pernyataan ini. Atau bahkan, cowo pun bisa jadi tidak setuju. Whatever it is lah... Okeh, let's start aja ya!

Menurutku, adalah wajar jikalau cowo menyukai cewe yang phisically bagus. Terdapat keindahan di mata cowo atas diri seorang cewe. Itulah kenapa cowo bisa berpasangan dengan cewe. Kalo gak gitu berarti homo donk! - Nah, keindahan itu ada yang tampak dan ada yang tidak. Bagi cewe, keindahan itu adalah aset. Aset yang tangible dan intangible. Lalu, mana yang akan lebih terlihat, yang tampak atau yang tidak tampak? Sepertinya kita semua sepakat bahwa yang tampaklah yang akan lebih terlihat.

Cinta pada pandangan pertama memang bukan basa-basi. Menurut survey, seseorang membuat penilaian fisik tentang orang lain pada 10 detik pertama. Empat menit selanjutnya, orang akan membuat penilaian tentang hal-hal lainnya. (detik.com)

Ketika cowo dan cewe pertama kali bertemu (baik sebelumnya sudah ataupun belum kenal), maka di 10 detik pertama sang cowo akan menilai cewe secara fisik, sedang cewe menilai cowo. Selanjutnya (gak harus 4 menit), baru si cowo membuat penilaian yang lain, entah itu dari cara bicara, cara tertawa, cara duduk, cara berjalan, ataupun bagaimana isi otak dari sang cewe. Cewe juga akan melakukan hal yang sama.

Sekarang aku akan sok menelaah:

10 DETIK PERTAMA

Cowo: "Wuih... keren banget ni cewe! Cantik, modis, tinggi, putih, busananya serasi lagi. Enggak ngebosenin banget deh diliat... Nilainya 8."
Cewe: "Hmm, cowo ini cakep juga. Bodi atletis, tampang kiyut, rapi lagi... Nilainya 8 deh."

SETELAH LEWAT 10 DETIK (cowo dan cewe ngobrol)

Faktanya: cewe tersebut gak terlalu ngenakin lah (sori, aku bingung diksinya) bagi si cowo. Trus, cowo itu bagi si cewe kok sok banget ya...
Cowo: "Agak-agak gak asik juga neh cewe. Cakep seh cakep... Nilainya jadi 7 ahh."
Cewe: "Ngebetein banget seh, neh cowo. Udah sok... sombong lagi. Biar cakep gimana juga. Nilainya jadi 5."

Hehe, meskipun telaahanku belum tentu benar 100%, tapi yang ingin aku tekankan adalah: berdasarkan banyak buku psikologi yang aku baca, serta berdasarkan pengamatan pribadi, pada umumnya memang cowo lebih menekankan hal-hal yang bersifat fisik dari cewe, sedangkan cewe lebih menekankan aspek lain seperti perhatian ataupun kasih sayang dari cowo daripada hanya sekedar fisik belaka. Lalu, pada umumnya cewe lebih setia daripada cowo. Bener gak ya?!

Bagi cewe, seorang cowo yang phisically bernilai 5, bisa menjadi 8 ketika dia menunjukkan kepribadian yang baik. Wuih, kalo udah kaya gini, si cewe bakal setia banget. Sedang bagi cowo, cewe yang phisically nilainya 5, meskipun kepribadiannya baik, tidak akan mendongkrak nilainya menjadi 8. Yah, paling banter juga jadi 7. Kalopun akhirnya si cowo jadi sama si cewe, godaan selingkuh di depan mata. Peace.... :)

Sebaliknya, cowo bernilai 8 secara fisik, akan langsung turun jadi 5 ketika dia dinilai brengsek. Cewe yang phisically 8, meskipun nyebelin, paling drastis juga turun sampai nilainya 6. Dalam kasus ini, paling-paling cowonya bakal cari cewe lain sebagai teman ngobrol. Gak sopaaaan!!

----

Kok, rasanya tulisan aku malah semakin ngawur ya...

Pada intinya, aku ingin mengatakan bahwa kalo cowo suka cewe cantik, itu manusiawi. Toh cewe juga suka kan liat cowo cakep. Kenapa cewe sering complain? Itu karena si cewe gak pede akan dirinya sendiri. Dia jadi sering negative thinking, takut gak ada cowo yang suka sama dia, atau si cowo bakal ngelirik cewe lain. Seperti cerita temanku di paragraf ke-2 di atas. Ujung-ujungnya dia ngomong gini... "Kalo semua ikhwan phisically gitu, kan kasian sama akhwat yang seperti aku..." &&**$%$

Saat itu, setengah idup aku meyakinkan dia bahwa gak semua cowo kaya gitu. Banyak juga cowo yang meskipun manusiawi, tapi juga realistis. Apalagi kalo dia ngerti banget agama. Cantik atau cakep bukan jaminan masuk surga. Di akhirat juga gak bakal ditanyain. Tidak semua cowo ngeliat cewe secara fisik, meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa hal itu juga perlu. Cowo juga akan punya prioritas dalam menentukan pilihan. Ketika dia lebih memprioritaskan fisik, maka dia harus menerima kalo seandainya si cewe bukan pendidik yang baik bagi anak-anaknya. Atau jika cowo lebih memilih berdasarkan agamanya, maka dia harus menerima jika seandainya si cewe tidak terlalu menarik secara fisik. Itulah hidup... Yang ngerasa cowo, bener gak seh yg gw tulis barusan?

Aku pernah baca di sebuah buku psikologi. Ketika cowo ngeliat cewe seksi, saat itu cowok tidak akan berpikir bagaimana kepribadian si cewe, apakah dia bisa masak, atau bisa jadi ibu yang baik atau tidak. Cowo hanya akan berpikir bahwa cewe itu seksi. Mungkin sangat menarik. Tapi, hanya itu dan tidak lebih dari itu. Namun. ketika cowo memutuskan untuk menikah, maka aspek-aspek lain pasti akan turut dipertimbangkan dan justru sangat memegang peranan penting.

So, di sini aku hanya ingin berpesan buat para cewe. Jangan pernah merasa dirimu jelek. PeDe aja lagi. Ketika kamu percaya diri, orang lain akan menilaimu positif. Ketika kamu menghargai dirimu sendiri, orang lain juga akan menghargaimu. Jika kamu merasa kurang secara fisik, tonjolkanlah kelebihanmu yang lain. Percayalah, aura yang keluar dari kepribadianmu, daya tariknya lebih dahsyat daripada kecantikan lahiriyahmu. Lagian kalo cewe ngerasa jelek, ambil aja sisi positifnya. Positive thinking aja bahwa cowo yang kelak menjadi pendamping hidupmu adalah cowo yang baik, yang tidak menilaimu secara fisik, yang mencintaimu apa adanya. Dan yakinlah bahwa cowo itu pasti ada dan telah dipersiapkan untukmu.

Eitt, bukan berarti fisik gak penting loh. Sekali lagi, PACKAGING ITU PERLU. Okelah yang namanya keadaan lahir semisal tinggi, kulit, hidung, mata, dll itu udah dari sononya dan gak bisa diubah. Tapi, yang di-highlight adalah PACKAGING. Bagaimana kita mengemasnya. Menurutku, penampilan yang kucel, kumal, tabrak lari, berantakan... pokoknya yang bikin tidak sedap dipandang... itu tidak bisa ditolerir, apalagi untuk dijadikan trademark. Orang pertama kali ketemu kita gak bakalan bisa liat, ibadahnya gimana, kepribadiannya gimana, tapi yang bakal diliat adalah penampilan alias penampakannya. Kalo kesan pertama sudah tidak menggoda, selanjutnya... gimana bisa tergoda :-). Kalo ngeliatnya aja udah ilfil, gimana bisa menumbuhkan cinta? (Ngomong opo.....)

Penampilan bukan yang utama, tapi yang pertama. Penampilan menjadi penting karena ia jadi yang pertama. Tapi akan menjadi tidak penting jikalau yang utama justru diabaikan.

Buat para cowo, setiap pilihan ada konsekuensinya. Aku tidak pernah ingin memangkas kesukaan kalian terhadap keindahan. Tapi hendaklah semuanya berjalan seimbang dan pada jalur yang semestinya.

Buat cewe dan cowo... pilihlah pasangan kalian seperti yang telah diajarkan dalam Al Quran. Lihatlah bagaimana agamanya, niscaya kebahagiaan itu akan datang. Kalaupun ternyata dapetnya yang cakep, anggap saja itu sebagai bonus, tapi harus terima konsekuensinya kalo pas lagi jalan bareng banyak yang lirik, hehehe. Yah, setiap hadiah kan ada pajaknya...

Kalau bisa dapet yang mendekati sempurna, kenapa enggak! Namun, yg mendekati sempurna itu akan layak kita dapatkan jika kita sendiri pun mendekati sempurna. Setuju??!

----

Wee,setelah ujian Multivariate Analysis,150507,11.30pm
Full Post...

Saturday, October 31, 2009

"Vegetarian"

0 comments
Begitu mendengar kata "vegetarian", yang pertama kali terlintas dalam pikiranku adalah tentang orang yang hanya mau makan sayur. Sayur itu identik dengan daun2an segar. Daun2an segar adalah daun2 muda yang tentu saja berwarna hijau. Nah, mungkin karena dilatari oleh hal tersebut lah seorang teman, sewaktu masih kuliah dulu, memberikan gelar "vegetarian" pada cewe2 yang suka pada cowo2 lebih muda alias daun muda alias brondong. (Nyambung gak nyambung, lanjuuut ^_^)

Apa ada yang salah dengan vegetarian? Tidak, tidak sama sekali. Namun entah kenapa, jika seorang perempuan lebih tua daripada pasangannya, pasti ada sugesti negatif dari orang2 sekitarnya. Mari kita lihat sedikit contoh...

Seorang teman menikah dengan cowo yang dua tahun lebih muda darinya. Awalnya lucu, si cowo yang kuliahnya bareng sama si cewe pedekate sama si cewe, bantuin ini itu yang berhubungan dengan tugas kuliahnya. Eh ternyata ada udang dibalik bakwan. Cowo naksir meskipun cewe cuek bebek. Tapi namanya cewe lama2 luluh juga. Mereka jadian, lalu komentar pun berdatangan. Banyak teman yang heran, kenapa si cewe mau sama si cowo padahal cowonya terkenal tengil dan umurnya jauh lebih muda (dua tahun termasuk jauh ga sih?). Namun anjing menggonggong kafilah tetap berlalu. Akhirnya mereka merid juga. Dan sekarang dengan 1 anak, tampang si cewe tetap terlihat imut dan muda, sementara si cowo sudah seperti bapak2 pada umumnya. Gak ada lagi yang ‘ngeh’ bahwa mereka adalah pasangan yang wanitanya lebih tua.

Contoh lain yang lebih hot adalah pasangan Yuni Shara dan Rafi Ahmad (hihi, gossiipp banget). Liat aja tuh di infotainment, heboh. Kesannya gimana gitu, seolah2 mereka tidak terlalu waras sehingga memilih pasangan yang jomplang seperti itu. Padahal kalau dipikir2 apa sih salahnya? Bukankah mereka gak mengganggu hidup siapapun. Jadi kenapa harus dipusingkan?!

Aku pernah dengar seorang psikolog (sori, lupa siapa dan kapan bilangnya) bilang bahwa pada umumnya jika ada pasangan yang umur wanitanya lebih tua, maka yang sebenarnya tertarik adalah prianya. Kok kalimatku ribet banget sih. Intinya gini, pada umumnya pria lah yang tertarik untuk mencari pasangan yang lebih tua. Katanya sih karena ingin mendapatkan figur ibu ataupun pasangan yang lebih dewasa agar bisa mengayomi. Aku sih gak terlalu setuju dan gak terlalu percaya. Apa memang iya ya? Hmm...

Kalau aku liat dari sudut pandang teman2 wanitaku pada umumnya, mereka jarang tertarik pada pria2 yang lebih muda. Bahkan aku sendiri, gak bisa dipungkiri kalo liat cowo yang lebih muda, meskipun hanya beberapa hari lebih muda, aku tersugesti bahwa ia adalah anak kecil, masih childish dan sama sekali gak dewasa. Mau jadi apa nanti rumah tangganya. Bukankah yang cenderung manja, childish, dan gak dewasa itu cewe, kalo cowonya gitu juga bisa diem2an sepanjang hari dunk. Hehe, ekstrem banget sih Wee... Tenang... cerita belum berakhir teman2.

Jadi intinya, menurutku gak ada masalah dengan pasangan yang cowonya lebih muda. Loh kok?! Yupp, it’s not a problem at all. Cewe2 banyak yang gak berminat karena mereka mencari sosok pria dewasa yang bisa mengayomi mereka, dan pada umumnya kedewasaan seseorang akan dilihat dari usianya. So, buat para pria yang tertarik pada wanita yang lebih tua, tunjukkan saja padanya bahwa meskipun masih muda, Anda layak dan bisa diandalkan. Percaya diri atau silakan mundur teratur ^^

(ditulis setelah membaca sebuah tulisan)
Full Post...

Thursday, October 29, 2009

Apa Aku Sudah Dewasa? - Sebuah Coretan Masa Lalu

0 comments
Sinar matahari pagi masih memenuhi ruang luas di sekitarku. Hangat. Nyaman. Entah sudah berapa banyak menit yang kuhabiskan duduk di belakang rumah, memperhatikan Poci dan Poli bermain-main bahagia di teras belakang. Mereka saling mencakar, menggigit, bergulat ria, kadangkala ekornya berdiri tegak tanda waspada. Ceria sekali. Iseng kulempar bola... mereka berebut saling menendang, tapi tetap waspada memperhatikan objek bulat yang bisa memantul itu.

Kejadian tadi tertulis di memoriku belasan tahun yang lalu. Saat itu aku masih SD. Aku ingat yang aku pikirkan... betapa enaknya menjadi kucing. Hidupnya santai, senantiasa bermain-main, penuh kebahagiaan, tanpa harus sekolah, gak perlu ngerjain PeEr, gak harus dapet ranking 1, juga gak pernah dipaksa untuk tidur siang. Hanya bermain. Kalau sudah bosan bermain, mereka tidur sendiri, atau sekedar menjilati bulunya (baca: mandi). Senangnya...

Dulu, seorang aku yang masih SD senantiasa manyun bin sebal kalau setiap malam sebelum tidur disuruh sikat gigi. Males. Apalagi kalau sudah sangat ngantuk. Wuih... Aku berpikir, "Perasaan, Luna gak pernah sikat gigi degh. Tapi giginya selalu putih bersih, gak ada bolong-bolong, gak pernah juga sakit gigi." Lagi-lagi aku beranggapan, betapa enaknya jadi kucing.

Sekarang, belasan tahun kemudian, di 21 tahun usiaku, aku bisa menuliskan kejadian itu. Aku tersenyum lucu. Betapa polosnya pemikiran seorang anak SD. Ibarat air, ia belum terkena polusi. Dulu, kalau aku ngomong sama ibu "Luna aja gak pernah sikat gigi", mungkin ibu akan maklum. Yah, aku kan belum dewasa. Tapi, kalo sekarang aku ngomong gitu... maka aku sendiri pun akan merasa malu. Lagian, hari gini siapa lagi yang mau ngurusin, apa aku sudah sikat gigi atau belum.

Betapa panjangnya proses pendewasaan diri. Pendewasaan dalam segala hal. Dewasa secara fisik (baca: tumbuh besar dengan tinggi),dewasa dalam bersikap, serta dewasa dalam cara berpikir. Panjang dan rumit, sampai-sampai aku tak bisa merangkai kata-kata untuk membakukan definisi 'dewasa'.

Kadangkala, kita membutuhkan waktu untuk menyadari setiap nilai di balik suatu peristiwa. Bisa jadi beberapa menit kemudian, kita sudah sadar siluet apa di baliknya. Namun tidak jarang, kita butuh beberapa jam, hari, bulan, ataupun bertahun-tahun untuk sekedar menyadari, nilai apa, hikmah apa yang menempel pada kejadian yang menimpa kita. Saat itulah semuanya akan menjadi sangat berharga. Saat itulah, pahitnya kenangan atas suatu peristiwa, akan dikalahkan oleh manisnya hikmah dan proses pendewasaan diri yang kita dapatkan setelahnya.

Lalu aku, kembali melempar tanya, "Apa sekarang aku sudah bisa disebut dewasa?". Untuk menjawab pertanyaan itu, aku setuju dengan lagunya Britney Spears... I'm not a girl, not yet a woman

Ketika aku berhadapan dengan perbedaan, aku tidak pernah 'memaksa' orang lain untuk menyetujui pendapatku. Aku hargai pendapatnya, meskipun tidak setuju. Yang aku lakukan hanya mencoba menjelaskan apa yang menurutku 'salah' dari pendapatnya itu. Tapi sekali lagi, aku sangat tidak berhak 'memaksa'. Toh, belum tentu juga aku yang benar... Saat itu, aku merasa telah menjadi dewasa.

Ketika aku pulang ke rumah, tak ada lagi Poci ataupun Poli. Yang ada hanyalah Hikaru seorang yang kuajak bermain. Aku pandangi dia sambil tersenyum dan berpikir bahwa dialah yang selama ini menemani ibuku di saat anak-anaknya jauh dari rumah. Tapi aku tidak pernah berpikir, betapa enaknya menjadi Hikaru. Karena setiap pulang ke rumah, hatiku bahagia. Saat itu, aku juga merasa telah menjadi dewasa.

Ketika aku merasa tidak melakukan apapun, tetapi bosan menyergapku dari segala arah. Skripsi belum kelar... mau ngerjain program, entah mulai dari mana. Waktuku benar-benar tidak efektif. Detik demi detik terbuang menghasilkan banyak foto 'aneh' hasil kreasi kebosananku. Aku jalankan Age of Empire, aku ciptakan banyak musuh, aku biarkan sampai semuanya canggih, lalu dengan puasnya aku hancurkan satu per satu via cheating, hehe. Tetap bosan, aku beralih ke Feeding Frenzy, sampai mentok nilai tertinggi, aku kembali bosan. Semuanya... gak penting.

Saat itu aku merenungkan pemikiranku belasan tahun yang lalu. Aku tuangkan dalam tulisan. Di sini tidak ada Hikaru, tetapi aku ingat Luna. Aku menertawakan pendapatku dulu. Namun saat ini, ketika tahun sudah beranjak dengan nominal 2007, hati kecilku malah membenarkan pendapat yang aku sendiri justru menertawakannya...

O o... baru kusadari, bahwa ternyata sebenarnya aku masih belum dewasa.

Wee 2007
Full Post...

Wednesday, September 30, 2009

Cerita Gempa Sumbar

0 comments
Setelah puas ngobrol via telepon dengan Umminya Daffa, aku melirik jam, hampir magrib. Hmm, motorku masih di teras kost, mesti dibawa masuk ne, begitu pikirku. Aku keluar. Baru saja jariku menyentuh stang motor, orang2 di sekitar rumah teriak, "Gempa..gempa..". Ibu kost tergopoh2 keluar rumah. Cucunya ibu kost yang baru kelas 4 SD dan sedang mandi pun berlari keluar masih dengan berbasah2 ria. Kami bertiga menunggu dengan was2 di teras rumah.

Sejenak dua jenak berlalu, goyangan bumi tak jua berhenti. O ow, ternyata gempa lumayan lama. Bumi berayun, mampu membuatku merasa pusing. Rupanya begini rasanya gempa. Setelah satu tahun lebih aku bertugas di bumi raflesia, baru kali ini aku benar2 bisa merasakan yg namanya gempa.

Beberapa menit berlalu, bumi tak lagi berayun. Namun nyatanya, sampai tulisan ini aku buat pun aku masih merasa diayun2. Itulah sugesti, dan memang benar kata ibu kostku, ketika sudah gempa sekali, maka setelahnya akan serasa gempa berkepanjangan.

7,6 SR di Sumatera Barat. Aku benar2 gak bisa membayangkan kepanikan di pusat gempa. Bangunan hancur, rumah bak kapal pecah, sanak saudara menghilang, dan yg pasti adalah trauma. Pikiranku lalu dipenuhi andai2.

Bagaimana seandainya gempa terjadi di sini. Semuanya luluh lantak, sanggupkah aku? Bagaimana seandainya gempa terjadi sementara aku sedang berada di kamar mandi? Gak kebayang degh. Aku teringat cucu ibu kost tadi dan cerita beberapa orang dengan pakaian seadanya ketika bencana terjadi. Wah wah...

Dan gempa kali ini pun menyisakan cerita. Seorang muslimah yg panik karena bumi berayun, keluar rumah dengan hanya mengenakan baju tanpa lengan dan celana pendek. Lalu tanpa diduga2 ia bertemu laki2 teman kantornya yang dengan sangat kebetulan lewat di situ. Betapa malunya. (Hehe, ceritanya diposting gak, Fren? ^^)

Pengalaman seorang teman tersebut menjadi pelajaran nyata buatku. Aku berkaca lalu menyimpulkan. Sepertinya kebiasaan menggunakan pakaian2 serba minimalis, meskipun di kamar sendiri sekalipun harus mulai dikurangi. Bukankah bencana tak mengenal waktu dan tempat...

*Teruntuk saudara2ku di Sumbar, semoga kita termasuk hambaNya yg sabar...
Full Post...

Tuesday, September 29, 2009

Hanya Karena Selembar Jilbab

0 comments
Aku belum menyerah. Kembali kubongkar satu per satu lembaran2 jilbab yang tersusun rapi pada rak pakaianku. Kali ini benar2 teliti, tidak seinci pun kulewati tanpa sorotan tajam mataku. Tetap saja ia tak kutemukan. Aneh, benar2 aneh...

Belum puas membongkar tumpukan jilbab2 segiempat itu, aku beralih menuju tumpukan2 di sebelahnya. Nihil, tetap tak ada. Kok susah sih mencari selembar jilbab saja. Selembar jilbab segiempat berbahan paris warna coklat tua dan ditaburi sedikit payet. Lalu saat itu juga aku langsung merasa bahwa jilbab itu adalah jilbab yang paling kusuka dibanding yang lain. Dasar manusia...

Aku kesal sekaligus gak habis pikir. Aku sangat yakin sebelumnya, jilbab itu ada di tumpukan bersama jilbab2 lain. Namun kenapa setelah kutinggal mudik dia gak ada lagi. Kemana dia? Dikemanakan dia? Oleh siapa?

Pikiranku dipenuhi prasangka2 buruk. Aku benci dengan prasangka ini. Namun tak bisa kupungkiri aku kecewa. Bukan jilbab yang lenyap yang aku sesalkan. Aku kecewa karena kepercayaanku untuk meninggalkan kunci kamar telah dirusak oleh oknum yang aku sendiri gak tahu siapa. Ya Allah, jauhkanlah aku dari prasangka buruk. Hanya selembar jilbab, Wee sayang...

Gak ada teman berkeluh kesah, akhirnya kuungkapkan kekesalan pada ibuku tersayang. Seperti biasa, kata2 ibu dipenuhi nasehat2. Beliau memintaku mencari lagi dengan lebih teliti dan jangan berburuk sangka. Aku kekeuh merasa sudah sangat teliti mencari. Lalu ibu bilang, "Ya sudah, klo memang gak ada ikhlasin aja. Ambil pelajarannya, lain kali lebih hati2. Insya Allah semua ada hikmahnya". Masih dengan kesal aku menimpali, "Apa hikmahnya?". Beliau menjawab, "Ya siapa tahu yg tadinya belum pake jilbab jadi tergerak untuk berjilbab". Aku terdiam.

Sigh... Hanya karena selembar jilbab aku kesal dan dipenuhi prasangka buruk. Alhamdulillah Allah menganugerahi aku seorang ibu yang bijak. I really luv u Mom...
Full Post...

Sunday, August 30, 2009

Sekedar Sajak

0 comments
Kupandang langit malamku
Beberapa bintang tersenyum lembut
Kubiarkan saja, tak kusentuh, tak kuambil
Aku cukup bahagia dengan memandangnya

Esok malam bintang-bintang itu masih bersinar
Langitku tetap indah
Aku duduk menengadah
Tersenyum menunggu bintang turun menghampiri

Malam berganti
Kulihat bintang-bintangku meredup
Aku bingung dalam diam
Tetap diam sampai kudapati semua bintang itu lenyap

Kuintip langit sebelah
Hanya ada satu bintang
Seorang gadis mengambil satu-satunya bintang itu
Aku terpana
Tak ada lagi bintang di sana
Namun ada satu rembulan
Sinarnya terang dan begitu dekat

Aku tercenung
Haruskah kuambil satu bintang
Full Post...

Saturday, August 29, 2009

Tanpa Judul

0 comments
Lucu, aku tersenyum melihat tingkah mereka. Ibaratnya anak-anak di pedalaman bumi antah berantah yang boro-boro bisa menggunakan handphone, melihat bentuknyapun mereka belum pernah. Meskipun mungkin pengibaratan yang kupilih ini kurang tepat, namun begitulah kira-kira. Bisa dibilang mereka norak, tapi norak jenis ini sangat indah.

Iri, aku iri melihat mereka. Sekedar iri dan bukan dengki. Aku juga iri ketika melihat mereka bertingkah norak. Aku ingin berada di situ, dalam suasana norak itu. Aku ingin bisa mengeluhkan hal-hal yang indah, sebagaimana kulihat mereka mengeluh dengan senyum yang tetap menempel di bibirnya.

Menggemaskan, sangat menggemaskan melihat kerepotan itu. Kerepotan yang sangat, ketahanan fisik taruhannya. Tapi nyatanya tak pernah binar indah di mata mereka lenyap, bahkan ia semakin terang. Seolah hidup ini sempurna sudah. Seolah tak ada lagi yang lain yang mampu mengalihkan dunia mereka.

Kesal, aku kesal mendapati diri ini hanya bisa menjadi penonton dan bukan pemain. Aku masih berdiri di sini menatap hampa, tak berani menuju lapangan. Mereka berjalan tegak meski kadang kulihat air mata menghias langkahnya. Air mata itu justru sebagai bumbu penyedap senyuman yang merekah setelahnya.

Ahh, apa bedanya aku dengan mereka. Aku juga bisa bahagia dengan duniaku. Aku menikmati hidupku. Aku tak merasa berbeda. Egoku bilang bahwa aku lebih beruntung. Namun, jauh di dalam hatiku aku menangis. Aku bahagia tapi aku tak punya tujuan dan tak punya tempat untuk berlabuh, mengatur strategi untuk kemudian melanjutkan hidup.
Full Post...

Friday, August 14, 2009

Kendaraan Plat Merah

0 comments
Seorang anak kuliahan yang sedang libur berencana hendak berkeliling kampung melihat-lihat perkembangan daerah sekitarnya. Dia mencari-cari motor yang biasa digunakannya. Ternyata, motor tersebut sedang dipinjam pamannya. Dia kesal. Lalu ayahnya menganjurkan agar sang anak menggunakan motor dinas ayahnya saja. Anak itu menolak mentah-mentah. "Aku gak mau pake plat merah.", ujarnya sambil berlalu dengan wajah berlipat sepuluh.

Gadis itu berusia dua puluhan, masih mementingkan gaya dalam bergaul. Dia hobi jalan-jalan bersama beberapa temannya. Kalau konvoi menggunakan motor, ahh rasanya gak seru. Mesti pake mobil nih supaya lebih keren. Dia pun mulai belajar nyetir. Meskipun masih terbata-bata, dia mendatangi teman-temannya untuk diajak jalan. Salah seorang teman bertanya, "Kamu beneran dah bisa nyetirnya?". Lalu dengan santainya dia menjawab, "Makanya ni pake mobil dinas bokap, kalo baru belajar mending pake mobil dinas aja, jadi kalo nabrak2 dikit gpp lah. Kalo pake mobil pribadi mah sayang..."

Salah seorang teman mengeluh dan menggerutu, betapa menderitanya tidak punya kendaraan di saat pekerjaan lapangan sedang banyak-banyaknya. Aku hanya menanggapi sekilas, "Bukannya motor dinas kantor ada beberapa. Masa sih gak ada satupun yang bisa dipinjam. Ini kan juga kepentingan dinas...". Bukannya tenang, malah dia semakin dongkol. Lalu dengan ketusnya ia menimpali, "Apaan, kendaraan dinas serasa kendaraan pribadi aja. Padahal dipake juga enggak, pelit banget gak mau minjemin. Huh..."

Tiga paragraf di atas hanyalah menggambarkan secuil fenomena tentang kendaraan plat merah, salah satu barang milik negara yang sering terlihat melintas di jalanan. Beberapa terlihat cantik dan elegan, beberapa terlihat kusam, kotor, bising, dan tak terawat bak bus kota yang tak lagi layak jalan.

Apa sih pentingnya kendaraan dinas? Mengapa negara memberikan fasilitas berupa kendaraan kepada orang-orang tertentu saja? Orang-orang yang mengepalai dinas, kantor, bidang, atau apapun, diberikan fasilitas kendaraan dinas karena memang mobilitas mereka diperlukan. Agar mereka lancar ngantor, lancar ngawasin anak buah, lancar mesti rapat disana sini demi kepentingan negara. UNTUK KEPENTINGAN DINAS. Dalam hal ini kita memang gak bisa terlalu naif. Ada kalanya kadang-kadang ‘tak sengaja’ kendaraan dinas tersebut digunakan untuk kepentingan pribadi. Menurutku gak masalah, selama fungsi yang diharapkan dari adanya kendaraan dinas itu bisa terlaksana dengan baik.

Tidak jarang aku melihat mobil-mobil plat merah berseliweran di jalanan ketika sore hari. Yang nyetir adalah anak-anak usia sekolah yang ingin meneriakkan pada dunia bahwa ia adalah anak pejabat. Kaca jendela dibuka lebar supaya semua orang bisa melihatnya. Musik disko terdengar tidak indah sama sekali dari dalam mobil. Ia berkendara dengan cueknya, meskipun tidak mengantongi SIM. Ahh, polisi juga gak bakalan berani menilang mobil plat merah gini, mungkin begitu pikirnya. Benar-benar menggelikan. Aku sering mikir, katro banget siy ni orang. Disini aja loe berani, jago kandang. Kalau agak ke kota dikit, gak bakal ada yang melirik bro, hehehehh...

Coba Anda baca kembali paragraf kedua di atas. Fenomena ini sangat lazim. Aku sering gemes malihat kebanyakan orang rendah banget sense of belonging-nya terhadap kendaraan dinas yang nyata-nyata di atas kertas dipercayakan kepada mereka. Giliran tandatangan duit operasionalnya aja senangnya bukan main, tapi kendaraannya sendiri dicucipun tidak. Cobalah, sayangi kendaraan dinas Anda sebagaimana Anda menyayangi kendaraan pribadi, niscaya negara ini gak bakalan terlalu rugi.

Nah, untuk kasus teman saya pada paragraf ketiga di atas, bukan satu dua teman yang pernah mengeluhkan "pelitnya" pemegang kendaraan untuk meminjamkan kendaraan dinasnya kepada pegawai lain. Aneh memang. Seandainya kendaraan dipinjam untuk woro wiri gak jelas, maka pemegang kendaraan berhak menolak. Kalau untuk kepentingan dinas? Hmm, jika pemegang kendaraan juga sedang menggunakan untuk kepentingan dinas, sementara kepentingan pemegang dan peminjam tidak bisa dipenuhi sekaligus, maka wajar saja si pemegang menolak. Namun jika kendaraan nganggur, ngetem doang di rumah, apa salahnya kalau digunakan oleh pegawai lain, untuk kepentingan dinas juga kok, iya to??

Yang jelas, satu hal yang perlu diingat, kendaraan plat merah adalah BARANG MILIK NEGARA dan bukan BARANG MILIK PRIBADI. It’s general, not personal...
Full Post...

Thursday, July 30, 2009

Seorang Cewek Seksi Berjalan Dengan Santainya

0 comments
Seorang cewek seksi sedang melenggang menyusuri tepian jalan raya. Ia berjalan dengan santainya. Cantik, tinggi, berambut panjang. Kaos ketat lengan pendek benar2 terlihat pas di tubuh proporsionalnya. Kulit yang putih mulus dan terawat juga benar2 bebas dipandangi karena ia hanya mengenakan celana pendek sebatas paha.

Aku duduk di sana, di sebuah halte bus, menunggu seorang teman yang tak kunjung datang. Sangat membosankan, lalu dengan sendirinya aku mencari kesibukan. Sebaris kalimat di sebuah gerobak bakso pun kubaca dengan teliti. Nenek2 tua dengan celak mata yang super tebal tak luput dari perhatianku. Bahkan sehelai daun kering yang jatuh dari pohon juga terlihat menarik di mataku. Apalagi ini... ketika ada seorang cewek seksi yang berjalan dengan santainya.

Ia membawa tas mahal yang dibebankan pada bahunya, benar2 khas cewek2 moderen. Cardigan rajut berwarna putih tanpa lengan melengkapi gayanya berbusana. Sandal tinggi dengan hak yang tebal membuatnya terlihat sempurna. Rambut panjangnya sedikit diangkat, lengkap dengan kacamata hitam di kepalanya. Sangat berkelas. Tidak seharusnya ia di sana. Dimana mobil mewahnya?

Ahh, tinggalkan saja dia. Cukuplah 5 detik saja aku memperhatikannya. Detik2 berikutnya pandanganku mulai bergerilya. Abang bakso yang tengah meracik baksonya tak lupa mengangkat wajah beberapa detik, menunduk lagi untuk melihat sudahkah ia menambahkan garam pada baksonya, lalu mengangkat wajah lagi memperhatikan si cewek seksi dengan seksama. Seorang kenek bus bersiul2 nakal menggoda si cewek seksi sambil memanggil2 calon penumpang. Matanya tak lepas melahap tubuh cewek tersebut. Beberapa tukang ojek yang sedang mangkal tertawa2 bersama sambil memandangi si cewek seksi sampai ia tak tampak lagi dalam pandangan. Seorang bapak2 pengendara motor yang baru saja menjemput anak perempuannya dari sekolah tak lupa menoleh beberapa jenak. Beberapa pemuda berseragam abu2 yang sedang mengantri di sebuah fotokopi di seberang jalan juga tidak menyianyiakan pemandangan indah itu. Aku tersenyum, mencoba menerka menuju kemana sebenarnya arah pandangan mereka. Namun aku bergidik, tak berani menyimpulkan. Aku hanya yakin bahwa pasti pemilik mata2 itu berteriak dalam hati, "Gilaaa, eye catching banget siy…"

Hebat. Betapa hebat pesona seorang wanita, apalagi dengan busana minim bahannya. Benar2 memancing libido kaum adam. Lihat saja berita2 kriminal di televisi. Nenek2 tua keriput menjadi korban perkosaan tetangganya. Anak2 kecil yang bahkan bodinya belum terbentuk pun menjadi objek pelampiasan birahi orang2 yang pikirannya tidak sehat. Pekerja2 seks bertebaran dimana2, menjajakan tubuh layaknya barang obralan. Ada supply, ada demand. Jika barang banyak beredar, harga bisa semakin murah. Satu kata saja untuk semua itu… astaghfirullah…

Dunia memang fana, ia dipenuhi perhiasan. Dan sebaik2 perhiasan adalah wanita solehah, yang mampu menjaga diri dan kehormatannya. Could you be, Wee darling?!
Full Post...