Kamis, 20 Desember 2012

-103- Suami "Genit"

Tadi saya berjalan-jalan ke sebuah group yang isinya membahas seputar hal-hal yang menyangkut urusan emak-emak, dan anggotanya juga semua emak-emak. Saya membaca sebuah thread tentang seorang emak yang lagi galau, katanya suaminya main belakang dengan wanita lain. Banyak komentar dari emak-emak lain yang ikut berempati dan menasehati untuk benar-benar diselidiki dan dibicarakan lagi baik-baik. Ada komentar yang ikut bercerita bagaimana dulu rumah tangga orangtuanya juga pernah dilanda masalah serupa dan ternyata itu hanya adu domba dari pihak ketiga (sialnya, bapak-ibunya sudah terlanjur perang dunia). Atau komentar yang berempati karena pernah merasakan hal serupa pada dirinya sendiri. Juga ada emak lain yang ikut cerita bahwa dirinya juga sedang galau karena menemukan suaminya menginbox mantannya begini, "Lagi ngapain?". Menurut saya, malah komentar ini yang paling menarik untuk dibahas.

Saya memang hanya silent reader, tapi kemudian lagi-lagi pikiran saya kemana-mana. Saya sering sekali membaca thread serupa tapi tak sama di beberapa group lain. Keluhan para istri yang menurut mereka suaminya "genit". Hmm, saya jadi ingat ingin membuat tulisan tentang adab-adab atau tindakan sehari-hari yang pantas dan tidak pantas dilakukan oleh orang yang sudah menikah. Tentu saja menurut saya berdasarkan rule agama yang saya tau. Tapi nanti dulu lah, kita bahas tentang thread yang tadi saja lah ya... :)

Suami "genit", bagus kali ya kalo dijadikan judul. Ada kesan komersilnya. Agak-agak gimana gitu, padahal secara halus sih seperti mengadu domba, hihihi. Yang jelas banyak sekali saya menemukan curhatan para istri di forum-forum dunia maya yang mengeluhkan tingkah laku suami mereka yang menyakitkan. Kenapa saya bilang menyakitkan? Karena memang para istri itu bilang menyakitkan. Dan tahukah Anda wahai kaum adam, eh salah... wahai para suami... perempuan itu perasaannya halus, pada umumnya kepo banget, secara naluriah mudah menilai suatu tindakan, dan sangat mudah merasa tidak dicintai. Mereka fragile. Itu perempuan secara umum loh, apalagi seorang istri. Kalau perempuan lajang mungkin gak akan sesensitif itu. Kenapa pula sebegitu kepo-nya sama laki-laki, atau sebegitu merasa ingin benar-benar dicintai, lah wong belom jadi siapa-siapanya juga kok. Tapi kalau istri... pasti beda bung, wajar dong kepo, atau pengen ngerasa disayang, wong suaminya sendiri kok. Lagian suaminya juga, kalo gak mau di-kepo-in, gak mau sayang sama istri, masih mau genit-genitan gak jelas, kenapa juga nikah. Ya nggak sih? IMHO ini loh ya...

Balik lagi ke curhatan di atas. Kita bahas tentang komentar yang menurut saya paling menarik itu tadi saja ya. Ceritanya si istri galau karena menemukan suaminya menginbox mantannya begini. "Lagi ngapain?". Trus dia tanya ke suaminya, trus katanya malah suaminya marah. Aneh ya... Menurut saya, marah berarti memang ada sesuatu yang salah. Wajar dong terus istrinya galau dan menduga macem-macem. Memang suaminya keganjenan ini ceritanya. Menginbox "lagi ngapain?" duluan, entah via sms, email, atau chatting memang hanyalah sekedar basa-basi, tidak pantas dilakukan oleh laki-laki yang sudah beristri kepada perempuan yang bukan siapa-siapanya (apalagi sama mantannya)...

Tuh kan, malahan saya membahas tentang hal yang tidak pantas dilakukan oleh orang yang sudah menikah. Padahal kan, saya baru akan membahasnya di tulisan yang lain. Tapi sepertinya kalau saya lanjutkan tulisan ini, ujung-ujungnya akan sangat panjang dan tidak fokus. Baiklah, saya berhenti saja sampai di sini.

Intinya, para istri gak suka kan ya kalau suaminya menurutnya "genit" sama perempuan lain. Nah, sebaliknya suami juga pasti gak suka liat istrinya kegenitan sama laki-laki lain. Emang enak ngedapetin istrinya chat sama mantannya, trus istri mulai duluan nanyain "lagi ngapain?". Apalagi jika obrolan berlanjut semakin gak penting lagi dan gak berbobot sama sekali. Akan cemburu kah si suami? Kalau enggak ya, berarti sepertinya kurang sehat ntu suami. Vice versa... Sebagaimana kita, kira-kira begitu juga apa yang dirasakan pasangan kita. Sepanjang bukan cemburu yang berlebihan, menurut saya memang sepantasnya seorang suami atau istri itu sendiri menjaga kehormatan status yang sedang disandangnya. Tidak akan ada asap kalau tak ada api kan ya? Pasangan gak akan galau dan cemburu gak jelas juga kan kalau kita gak berbuat.

Yuk ah, bikin tulisan lain yang lebih fokus deh. Ini cuma sekedar nasehat buat para suami, karena saya juga istri. Dan kalau itu saya, sekedar inbox "lagi ngapain?" seperti tadi, pasti akan melekat di memori saya sampai berpuluh-puluh tahun kemudian. Apalagi lebih dari itu. Dan saya yakin, kebanyakan istri Anda tidak berbeda dengan saya ^_^

Untuk emak yang tadi curhat, alhamdulillah kemudian dia bilang bahwa dia dan suaminya sudah baikan. Jangan ngambek lama-lama ya mak... Dan semoga emak ybs tidak seperti saya dan kebanyakan emak-emak lain, yang jika mengalaminya akan menyimpan memori seperti itu lama sekali.

Kamis, 13 Desember 2012

-102- Cerita Saya Pagi Ini, Apa Ceritamu?

Alhamdulillah... Pagi ini satu prestasi buat saya. Saya berhasil menyelesaikan sarapan pagi saya tanpa mual, dan dalam waktu yang tidak seperti biasanya. Rasanya kok bersyukur banget ya, menyenangkan sekali ketika sukses melakukan itu. Ini sih dikarenakan riwayat makan saya yang amburadul bahkan sejak jauh sebelum hasil testpack saya positif.

Memasuki bulan keempat (menurut perkiraan dsog), alhamdulillah saya belum pernah muntah sama sekali. Eh pernah ding sekali. Waktu itu saya abis makan siang, trus minum vitamin, trus minum air putih banyak banget sampe2 rasanya begah, trus saya langsung dzuhuran dan air putih yang saya minum tadi keluar lagi ke mulut. Ehm, itu bisa disebut muntah gak ya? Gak ada makanan yang keluar sih, tapi itulah satu2nya kejadian dimana saya mendekati dikatakan muntah.

Trus penting gitu buat diceritain?

Ya enggak sih. (Tapinya, perasaan memang tulisan di blog saya ini gak ada yang penting deh. Karena saya butuh suka nulis aja makanya saya tulis di blog. Tapi lagi, banyak juga loh yang baca blog saya, terutama teman2 saya... jadi... lagi2 tambah gak penting yang kamu tulis Wee, hihihi...)

Lanjut ah ceritanya. Pagi ini agak berbeda. Saya tidak terlalu merasakan morning sickness. Palingan cuma berasa agak muter kepala saya (biasanya bukan agak lagi, tapi beneran muter), yang saya yakin mungkin karena tekanan darah saya yang belum normal (ceritanya pas USG terakhir tanggal 6 Desember kemarin, tekanan darah saya cuma 90/60. Oh God...). Pagi ini saya gak berasa mual seperti biasanya. Apa karena sejak tadi malam saya mengganti susu yang biasa saya minum ya? Atau karena memang sudah masanya untuk nafsu makan saya kembali? Apapun itu, semoga seterusnya saya jadi mau makan, demi si buah hati. Amiinn...

Biasanya saya tidak selera sarapan pagi. Saya memang lapar ketika bangun tidur, dan saya langsung minum susu. Setelah itu saya akan merasa mual. Saya bawa sarapan ke kantor, sarapan yang belum tentu saya makan sampai jam 10. Kadang saya makan juga sih, tapi sering gak habis (padahal porsinya jauh lebih sedikit daripada nasi kucing). Mau gimana lagi, belum dimakan saja rasanya saya sudah mau muntah.

Pagi ini begitu sampai kantor, perut saya kriuk kriuk lapar. Lalu saya makan, dan bekal sarapan yang saya bawa langsung ludes, tanpa butuh waktu lama, gak pake acara nahan2 mual. Alhamdulillah, nikmat Allah sekali pagi ini. Malahan, sekarang (belum sampe setengah jam kemudian) saya lapar lagi. No problemo dear, anything for you... Ayok kita makan lagi :D



Iseng saya melihat2 album foto di fb saya dan saya menemukan foto di atas. Saya kangen dengan selera makan saya pada saat foto itu diambil (ya iyalah, ada rusipnya sih, hihihi...). Yup, lauknya cuma sepotong ikan goreng, sepotong tahu goreng, sedikit jamur goreng, daun singkong rebus, 2 kerupuk kulit ikan, dan tentu saja rusip. Itupun saya bisa nambah lagi nasinya, dan anehnya saya masih bisa ngemil semi berat beberapa jam kemudian. Minumnya air putih dan es capuchino favorit saya yang sudah sangat lama tidak pernah saya cicipi lagi.

Saya mengepalkan tangan, kemudian saya merasa sedih ketika saya bisa merasakan tulang yang menonjol di buku2 tangan saya, atau pergelangan tangan saya yang semakin kecil. Yup, dengan timbangan yang sama, berat saya sekarang turun drastis sampai 47 kg, padahal normalnya antara 50-52 kg, malah 54-55 kg di awal2 nikah dulu. Sedih melihat diri saya sendiri yang gak mau makan. Apalagi kalau ibu saya yang lihat ya. Sekarang aja tiap telpon pasti nanyain, udah mau makan belum? Atau saat melihat suami saya yang senang ketika saya makannya banyak. Hiks, gimana lagi, sebenarnya saya lebih sedih lagi, apalagi kalo mikirin yang ada dalam rahim. Tapi apa mau dikata, tubuh saya belum mampu berkompromi.

Makanya pagi ini mendapati diri saya seperti ini, saya girang banget. Semoga ini bisa menjadi awal yang baik untuk mengembalikan semua nafsu makan dan kesadaran akan pentingnya nutrisi bagi si adek kecil, juga tentu saja buat saya sendiri. Semangat bunda!

Senin, 10 Desember 2012

-101- Keajaiban Sang Calon Buah Hati

Saya ingin suatu saat nanti anak saya membaca blog saya ini. Tapi itu nanti, setelah setidaknya dia berusia 23 tahun. Supaya apa? Supaya apa yang dia baca memang sudah mampu dia cermati sesuai tingkat kedewasaannya. Supaya dia bisa memahami benar setiap kata yang sudah diketikkan bundanya. Supaya dia juga bisa memilah-milah setiap apa-apa yang baik dan apa-apa yang tidak baik berdasarkan apa yang sudah dialami bundanya.

Saya juga sempat berpikir supaya suatu saat nanti anak saya bisa membaca catatan harian saya yang selama ini saya simpan sendiri dengan sangat rapi. Tapi kemudian saya ragu, akankah itu berguna baginya. Saya ingin berbagi, berbagi setiap pengalaman agar dia tidak pernah mengulang dalam hidupnya setiap kesalahan serupa yang telah dilakukan bundanya. Tapi lagi-lagi saya ragu, baikkah baginya membaca setiap galau, resah, gelisah, atau kesedihan yang terungkap. Bukankah seharusnya dia hanya tau bagian-bagian yang menyenangkan supaya semangat positif dari aura bahagia yang menyergapnya mampu membuat hidupnya lebih berkualitas. Dan, supaya dia tau bahwa bundanya selalu berusaha berpikir positif, juga berusaha selalu menjalani hidup dengan positif pula.

Ah sayang... Belum juga bunda menyentuhmu. Namun tahukah kamu bahwa kehadiranmu yang belum nyata bahkan sudah membuat level semangat hidup bunda naik drastis.

Kadangkala saya takut untuk hidup lama. Ketakutan akan kedzaliman atau kemudharatan yang saya lakukan seiring bertambahnya usia saya. Semakin lama kita hidup, akan semakin besar peluang kita untuk membuat kesalahan. Walaupun juga berlaku sebaliknya, entah kenapa tetap saja kita jarang bisa berpikir positif bahwa semakin lama hidup kita, seharusnya kita merasa beruntung karena kita diberikan waktu yang lebih banyak untuk senantiasa memperbaiki diri, untuk menyiapkan bekal yang rasanya tidak akan pernah cukup untuk membuat kita percaya diri menghadap-Nya.

Ah sayang... Belum juga bunda menyentuhmu. Namun tahukah kamu bahwa wangimu yang belum nyata bahkan sudah membuat bunda ingin memperbaiki diri terus menerus. Demi kamu. Demi membentukmu menjadi baik. Demi melihatmu tanpa susah payah telah mendapati tauladan yang paling dekat. Semoga bunda bisa...

Kamu begitu ajaib. Bahkan wujudmu yang baru saja segumpal, tak lebih dari 1 centimeter sudah mampu mengusir semua krim-krim kosmetik, body lotion yang dulu laksana barang-barang wajib. Bahkan bentukmu yang semakin hari semakin berkembang sudah mampu menghadirkan kembali semangat murojaah yang sempat hilang entah kemana, begitu lama. Kamu benar-benar ajaib, sayang.

Dan benar saja jika mereka bilang bahwa orangtua juga ajaib. Mereka bilang bahwa ayah yang perokok tidak akan mau anaknya menjadi perokok juga. Atau ibu yang judes tidak akan mau anaknya juga judes. Orangtua yang paling buruk sekalipun tidak akan pernah rela anaknya menjadi buruk seperti dirinya. Ya, itulah keajaiban orangtua, yang juga sering tidak sadar bahwa semua tidak hanya butuh sebuah harapan, tapi butuh tindakan nyata yang bukan hanya teori belaka. Berawal dari kesadaran, yang hanya baru akan muncul ketika mereka juga menjadi orangtua seperti orangtuanya dulu, mostly.

Apapun itu, Allah mohon jauhkan anak-anakku dari sifat-sifat buruk ayah bundanya, dan mampukan kami menjadi ayah bunda terbaik untuk buah hati kami. Amiin...

Kamis, 29 November 2012

-100- Tiga Pesan Pak Pembimbing

Dulu saya sempat keder ketika diputuskan bahwa pembimbing skripsi saya adalah Pak Edy. Saya langsung membayangkan betapa susahnya nanti buat minta tanda tangan si bapak demi kelancaran penyusunan skripsi saya. Mana bapaknya juga sibuk luar biasa, susah ditemui, bisa-bisa target minimal 10 kali konsultasi akan sulit terpenuhi. Kalau sudah begitu, gak bisa seminar dong, apalagi sidang. Uppss,,, orang Indonesia banget sih saya, belum dijalani tapi sudah membayangkan hal-hal yang belum tentu terjadi.

Seiring berjalannya waktu, ternyata menjadi anak bimbingan Pak Edy gak seseram yang saya bayangkan. Pak Edy enak kok. Anak bimbingannya lebih diarahkan untuk mencari solusi sendiri dalam menyelesaikan permasalahan dalam skripsinya. Kalau kita konsultasi tanpa membawa apa-apa, jangan harap dapet tanda tangan. Saya pernah takut dicela, padahal itu sama sekali tidak pernah terjadi sepanjang perjalanan penyusunan skripsi saya. Saya malah pernah mentok, tidak tau lagi apa yang harus saya lakukan untuk skripsi saya. Akhirnya lama sekali saya gak ngadep beliau buat konsultasi, karena saya gak bisa bawa apa-apa. Setelah merasa sangat khawatir dengan tanda tangan yang kurang, baru saya beranikan diri bimbingan dan memberanikan diri cerita bahwa saya sedang mentok, gak tau harus ngapain lagi. Lalu apa tanggapan beliau? I was so amazed, beliau malah bilang itulah gunanya konsultasi sama dosen pembimbing, untuk mengurai benang di kepala sendiri yang mungkin tadinya kusut masai. Subhanallah, pertolongan Allah juga ya...

Ah, Pak Edy. Sekarang beliau hanya ada dalam kenangan. Selasa, 13 November kemarin beliau dipanggil Allah karena sakit. Sejak meninggalkan kampus tahun 2007 lalu, saya belum pernah lagi bertemu beliau. Tapi beneran, jejak beliau benar-benar membekas dalam hati saya. Pak Edy termasuk salah satu dosen favorit saya. Beliau mampu memberikan inspirasi untuk selalu menjadi lebih baik lagi. Beliau mampu memotivasi banyak orang untuk selalu berpikir cerdas. Pokoknya, beliau memang hebat.

Inilah Bapak Ir. Edy Irianto, M.T, dosen saya yang hebat itu


*****

Waktu itu kami sudah lulus, tinggal menunggu wisuda. Waktunya menemui Pak Edy dan memberikan kenang-kenangan kepada beliau dalam rangka selesainya penyusunan skripsi kami. Sebagai ucapan terima kasih gitu deh. Saya, Lesi, dan Dina, kami bertiga menemui Pak Edy.

Setelah bercerita banyak tentang penempatan dan lain-lain, kami pun memberitahu Pak Edy bahwa Dina akan menikah dalam waktu dekat. Lalu keluarlah tiga pesan Pak Edy yang sampai sekarang (dan sampai nanti) selalu saya ingat. Pesan untuk para perempuan yang akan dan sudah menikah. Pesan yang saya yakin betul kebenarannya, karena memang ketiganya sangat masuk akal. Berikut kira-kira pesan beliau (dalam kalimat saya sendiri):
  1. Lakukanlah kegiatan kecil seperti membenarkan kerah baju suami, atau membenarkan posisi dasi suami.
  2. Buatlah sambal andalan, yang akan selalu diingat dan dikangeni oleh suami saat dia makan di luar atau berada di luar rumah.
  3. Jangan pernah malu untuk meminta lebih dulu dalam urusan ranjang.
Hal-hal kecil dan sederhana yang dilakukan istri seperti membenarkan kerah baju suami, atau memasangkan dasi suami tentu saja akan sangat membekas. Ini bukan hanya soal hal yang sepele, melainkan menunjukkan sebuah perhatian yang nyata, kecil, sering, dan sederhana. Tentu saja bukan hanya itu, hal-hal mudah seperti memberikan pelukan, ciuman, membelai rambut, atau mencium tangan sehabis sholat, pastinya akan terasa menyenangkan dan membuat nyaman. Jangankan bagi suami yang menerima perlakuan itu, istri yang melakukan juga akan merasa senang. Suami akan merasa disayangi, diperhatikan dan nyaman berada di rumah. Bukankah istri juga akan senang kalau merasa dirinya disayangi dan diperhatikan. Vice versa lah...

Biasanya suami kan bekerja dan pada jenis pekerjaan tertentu memungkinkan suami untuk sering makan di luar atau dinas luar. Nah, kalau saja istrinya bisa membuat sambal andalan yang rasanya maknyus, tentu saja aktifitas makan di luar-nya suami akan terasa kurang, karena gak ada sambal buatan sang istri. Tentu saja berlaku analogi, maksudnya tidak harus sambal, karena akan jadi tidak berlaku bagi suami yang gak doyan pedas. Maksudnya disini adalah istri harus mempunyai 'sesuatu' yang akan selalu dikangeni oleh suami pada saat dia tidak di rumah. Biasanya memang tentang makanan, karena percayalah, urusan lidah dan perut sangat tidak bisa diabaikan. Maka beruntunglah para suami yang mendapatkan istri yang jago dan rajin masak buat keluarga. Buat para istri, ayo belajar masak! Kadang semangat kita memang pasang surut, tapi yakin saja bahwa Allah pasti melihat niat dan usaha keras kita. Semoga saja diberkahi :)

Terakhir urusan ranjang, yang juga bukan urusan sepele. Urusan ranjang bukan cuma urusan laki-laki, bukan cuma kebutuhan suami. Kata Mamah Dedeh, istri gak usah muna deh, wong sama-sama butuh juga kok. Kalau istri hanya menunggu, yang mungkin karena malu, maka suami akan merasa kurang dibutuhkan. Makanya istri jangan malu untuk minta duluan, dengan begitu suami akan merasa dibutuhkan, merasa sama, dan kepercayaan dirinya akan meningkat. Kira-kira begitu...

Nah, itulah 3 pesan Pak Edy buat perempuan yang akan menikah, untuk diaplikasikan pada saat dia menikah. Dan sekarang saya sudah menikah, jadi setidaknya lebih bisa mencerna dan memahami pesan beliau untuk saya bagi lagi kepada banyak istri. Tentu saja dengan harapan pesan ini bisa menambah keharmonisan dalam rumah tangga, lebih mengokohkan ikatan suami istri dalam rumah tangga, supaya damai, tenang, nyaman dan diberkahi rumah tangganya, serta keluarga kecil yang diciptakan. Tak lupa supaya menjadi amal jariyah bagi almarhum dosen saya atas nasehatnya yang begitu menginspirasi. Semoga...

Rabu, 28 November 2012

-99- Pantas Saja Mereka Menyebutnya Morning Sickness

Disebutlah morning sickness, keadaan dimana seorang wanita hamil merasa pusing, mual dan muntah yang biasanya terjadi pada masa 3 bulan awal kehamilan (trimester pertama). Sebenarnya menurut banyak sumber yang saya baca, rasa pusing, mual dan muntah itu tidak hanya terjadi di pagi hari, bisa kapan saja. Cumannya, berhubung pada umumnya mual-mual ini terjadi pada pagi hingga menjelang siang, makanya disebut "morning". Gak lucu dong kalo kemudian disebut anytime sickness, ealahh... kok rasa-rasanya seperti sebuah penderitaan tak berkesudahan. Lebay gitu sayanya, padahal pada dasarnya pregnancy adalah hal yang membahagiakan bagi para pasangan suami istri. Betul gak sih?

 Gambar dipinjam dari sini

Setiap wanita hamil akan merasakan tingkat derajat mual yang berbeda-beda. Ada yang tidak merasakan apa-apa, seperti kakak saya dulu di kehamilan pertamanya. Kalau dulu ketika ada orang hamil, saya gak terlalu merhatiin, cuma denger cerita doang bahwa orang hamil itu mual, muntah, lemes, ngantuk, dan sebagainya, dan sebagainya. Toh kakak saya aja gak ada muntah-muntah gitu, gagah banget hamilnya, gagah sampe lahiran malahan. Tapi ternyata banyak juga yang hamilnya kalah, mual muntah tak berkesudahan seperti adik ipar saya, sampe-sampe minum air putih aja muntah, bisa sama sekali gak ketemu nasi selama beberapa hari. Atau yang sampai memerlukan pengobatan seperti salah satu teman saya, berkali-kali bolak balik masuk rumah sakit, opname, diinfus, saking kalahnya. Haduh,,, gak kebayang deh. Kalo udah kayak gitu mungkin para ibu hamil akan "lebih" banyak berdoa semoga anak yang sedang dikandungnya menjadi anak yang baik-baik, soleh solehah, akhlaknya terpuji, soalnya kalo ternyata anaknya nakal naudzubillah, astaghfirullah alangkah besarnya dosamu nak...

Lalu saya, apa cerita saya? Hmm, saya harus banyak bersyukur karena sejauh ini belum pernah muntah-muntah. Berdasarkan riwayat kehamilan ibu dan kakak saya, memang mereka ketika hamil bukan yang tipenya kalah gitu, jadi semoga saya juga tidak berbeda. Dulu ibu saya mengandung saya ketika kakak saya belum genap 6 bulan. Selisih umur saya dan kakak saya memang hanya 14 bulan. Kebayang gak apa jadinya kalau ibu saya mual muntah tak berkesudahan. Ah, Allah memang Maha Adil.

Yang jelas, wanita hamil itu memang spesial, alhamdulillah saya merasakannya sekarang. Kata para ahli, setiap wanita hamil memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Mungkin ada banyak wanita hamil yang karakteristiknya mirip saya. Saya tidak muntah-muntah, mual sesekali memang ada, rasa pengen muntah juga ada, tapi gak sampe muntah beneran. Apalagi kalo pagi, pantas saja mereka menyebutnya morning sickness. Biasanya saya bangun pagi dalam keadaan lapar, kadang sangat lapar, tapi saya sering gak langsung makan, hanya minum susu dan setelah agak pagi sekitar jam 7 saya baru minum susu. Setelah itu... jangan ditanya, nafsu makan saya langsung lenyap ditelan bumi, ngebayangin mau makan saja rasanya saya mau muntah. Perut saya mual, biasanya disertai keliyengan gitu. Tau keliyengan kan? Kayak rasa pusing ketika kita kurang darah atau darah rendah gitu. Akhirnya saya sering bawa sarapan ke kantor, atau beli. Entah kenapa saya rasanya lebih bisa makan makanan beli daripada yang saya masak sendiri, padahal biasanya saya agak-agak anti makan makanan yang saya beli di luar (pengecualian untuk makan di restoran, hehe...). Dan nyatanya, seperti pagi ini sampai jam 10 pun sarapan saya belum saya sentuh sama sekali.

Tips 1:
Untuk wanita hamil yang bangun pagi dalam keadaan lapar, segeralah makan setelah Anda sholat subuh. Jangan ditunda-tunda karena itu nantinya hanya akan membuat Anda malah jadi enggak sarapan sama sekali.

Tips 2:
Banyak-banyak minum air putih, dan kalau Anda terlanjur mual dan belum nafsu buat sarapan, makan buah aja, biasanya kalau makan buah malah gak mual loh.

Tips 3:
Ketika bangun tidur jangan langsung bangun secara tiba-tiba supaya gak keliyengan terlalu sering.

Tips 4:
Bawa minyak angin aromaterapi kemana-mana, supaya kalau sudah mulai pusing-pusing, ada lawannya :)

Saya juga mudah sekali capek, dan tidak terlalu suka aktifitas bepergian yang memakan waktu lama. Saya kurang betah duduk di mobil terlalu lama, apalagi dengan posisi duduk yang itu-itu saja dan tidak bisa leluasa sesuka saya. Juga goncangan di perut selama dalam perjalanan, alamak, terus terang agak menyiksa. Kurang nyaman saja rasanya. Saya baca-baca di internet, posisi duduk setengah berbaring gak bagus, bagusnya duduk tegak seperti tukang jahit. Padahal kan capek ya kalo harus duduk tegak terus selama dalam perjalanan. Trus, lutut juga sebaiknya selalu lebih rendah daripada panggul, tidak menyilang kaki, ini terutama untuk wanita hamil yang bayinya sudah bisa bergerak supaya tidak membatasi ruang gerak bayi. Padahal kan kalo mobilnya sedan, posisi kaki gak diluruskan, pasti akan lebih tinggi lutut daripada panggul. Yah, kalau begitu solusinya adalah tips ke-5 berikut:

Tips 5:
Kata ibu saya, jangan terlalu banyak bepergian, apalagi kalau sedang hamil muda. Batasi dulu lah kesana kemari gitu, itu kata ibu saya loh...

Berat badan saya juga berkurang banyaaakkkk sekali, hiks hiks, terjun bebas sampe 48 kg, menuju 47 malahan. Rada shock juga sih, tapi wajar sekali karena memang makan saya super sedikit. Nafsu makan saya sudah lari. Saya gak ngidam macem-macem, cuma kadang memikirkan makanan apa yang saya mau makannya, biar saya makan gitu, jangan sampe perutnya kosong. Jadi bukan masalah pengen makan ini, pengen makan itu, ngidam ini, ngidam itu, bukan itu loh. Ini hanya sekedar mencari-cari makanan yang saya mau makan, itu pun sulit sekali T.T.

Bagaimanapun you're not alone deh. Banyak ibu-ibu hamil yang turun berat badannya di masa-masa awal kehamilan, padahal makannya biasa aja, gak ada perubahan. Jadi saya masih alhamdulillah, turun bb-nya memang karena makannya sedikit. Dan setidaknya saya masih makan nasi 3 kali sehari walaupun dengan porsi yang kecil. Trus, saya juga pernah baca artikel yang mengatakan bahwa ibu hamil harus lebih banyak istirahat, harus menambah jam tidur karena butuh tidur lebih banyak. Saya sendiri kalau berasa kurang banyak tidurnya, pasti lemas.

Tips 6:
Wanita hamil butuh tidur lebih banyak, jadi jangan diabaikan urusan tidur ini ya, karena beneran bisa bikin Anda lemas sepanjang hari kalau kurang tidur.

Udah dulu ya, segitu dulu. Besok-besok disambung lagi kalau ada tips tambahan yang saya ingat. Sekarang saya mau makan dulu, sarapan yang kesiangan... >_<

Jumat, 23 November 2012

-98- So I'm Already 27

So I'm already 27, tepatnya kemarin. Coba tebak, siapa orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya? Atau, hadiah apa yang saya terima? Atau, apa yang saya lakukan untuk merayakan hari lahir saya? Ah, saya malah ingin bertanya hal lain lagi kepada diri saya sendiri.

Bagaimana rasanya menjadi perempuan berusia 27 tahun?

Rasanya... nano nano.

Sedih iya. Lah gimana enggak, saya sedih ternyata saya sudah 27 tahun dan apakah selama ini saya sudah menjalani hidup ke arah yang lebih baik. Sejak tahun pertama hidup saya, sampai tahun ke-27 ini, apakah saya sudah benar-benar belajar dari pengalaman? Apakah saya sudah meninggalkan hal-hal buruk yang saya bahkan sudah tau itu buruk? Apakah saya bertambah baik hati dan tidak sombong hari demi hari? Apakah sholat saya sudah tegak berdiri kokoh? Apakah saya tidak lupa bersedekah? Apakah saya sudah menutup aurat dengan benar? Apakah saya telah menunaikan hak suami saya, orangtua saya? Kenapa ya, seringkali kita baru sadar bahwa ternyata kita sudah hidup lama hanya ketika kita berulang tahun :(

Senang iya (tapi tetap saja banyakan sedihnya). Senangnya kenapa ya? Kenapa ya? Menjadi semakin tua kok senang?

Hari ulang tahun hanya akan menjadi momen paling menyedihkan dalam hidup jika saja di hari itu saya tidak ingat untuk bersyukur. Bersyukur atas nikmat yang tidak bisa saya ingkari sama sekali. Bersyukur atas setiap bukti kasih sayang Allah yang, kalau dipikir-pikir kok Allah baik banget ya... Sering kan ya kita sadar betapa jahatnya kita kepada Allah, betapa kita sering menjauh, tapi ternyata Allah Maha Pemurah, Dia mendekat dan melimpahi kita dengan nikmat yang tiada terhitung banyaknya. Saya sendiri sering merasa malu atas itu. Saya sering merasa malu, merasa kemudian tidak pantas untuk meminta, tapi lalu Allah memberi segalanya.

Alhamdulillah, atas semua limpahan nikmat yang tiada tara. Fabiayyialaairobbikumatukadzzibaan... Maka nikmat Allah yang manakah yang (mampu) saya dustakan.


And yesterday is my birthday
a moment to remember how many time I've spent to deny what God gives on my hand. 
Please forgive me God. 
I'll always try to do my best, for me, for my lovely family...

*Eitttss, rasa-rasanya tadi saya bilang rasanya nano nano menjadi 27 tahun. Ini kok malah cuma sedihnya aja yang dibahas, maaf ya...

Kamis, 22 November 2012

-97- Cantik Hatinya, Semoga...


Beberapa hari yang lalu saya membaca salah satu note di halaman facebook Darwis Tere Liye. Note ini entah kenapa bisa sangat meninggalkan jejak yang begitu jelas di pikiran saya. Berikut tulisannya:


Cerita Seekor Kambing dan Dua Remaja Yang Cantik Hatinya *)

Ada dua kakak-adik perempuan, satu namanya Puteri (usia 13 tahun, SMP), satu lagi namanya Ais (usia 16 tahun, SMA). Mereka tidak beda dengan jutaan remaja lainnya, meski tdk berlebihan, juga ikutan gelombang remaja yg menyukai budaya populer saat ini, seperti lagu2, boyband, film2, dsbgnya. Kabar baiknya, dua anak ini memiliki pemahaman yg baik, berbeda, dan itu akan menjadi bagian penting dalam cerita ini.

Suatu hari, guru agama di sekolah Puteri menyuruh murid2nya utk membuat karangan tentang berkurban. Ini jadi muasal cerita, jika murid-murid lain hanya sibuk membaca sejarah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, lantas menulis karangan, Puteri, entah apa pasal, memasukkan cerita hebat itu sungguh2 dalam hatinya. Tercengang. Dia bahkan bertanya pd orang tuanya, di meja makan, apakah keluarga mereka pernah berkurban. Setelah saling tatap sejenak, orang tua mereka menggeleng, tidak pernah. Ayah mereka buruh pabrik, Ibu mereka karyawan honorer, ibarat gentong air, jumlah rezeki yg masuk ke dalam gentong, dengan jumlah yg keluar, kurang lebih sama, jd mana kepikiran untuk berkorban.

Puteri memikirkan fakta itu semalaman, dia menatap kertas karangannya, bahwa keluarga mereka tidak pernah berkorban, padahal dulu, Nabi Ibrahim taat dan patuh mengorbankan anaknya. Bagaimana mungkin? Tidakkah pernah orang tua mereka terpikirkan untuk berkorban sekali saja di keluarga mereka? Puteri mengajak bicara kakaknya Ais. Dan seperti yg saya bilang sebelumnya, dua anak ini spesial, mereka memiliki pemahaman yg baik, bahkan lebih matang dibanding orang2 dewasa. Maka, mereka bersepakat, mereka akan melakukan sesuatu.

Uang jajan Puteri sehari 8.000 perak, dikurangi untuk naik angkot, bersisa 4.000 utk jajan dan keperluan lain. Uang jajan Ais, 10.000 perak, dikurangi untuk naik angkot, bersisa 6.000, juga utk jajan dan keperluan lain. Mereka bersepakat selama enam bulan ke depan hingga hari raya kurban, akan menyisihkan uang jajan mereka. Puteri memberikan 2.000, Ais memberikan 3.000 per hari.

Enam bulan berlalu, mereka berhasil mengumpulkan uang 1,1 juta rupiah. Menakjubkan. Sebenarnya dari uang jajan, mereka hanya berhasil menabung 600.000, mereka juga harus mengorbankan banyak kesenangan lain. Membeli buku bacaan misalnya, seingin apapun mereka memiliki novel2 baru, jatah bulanan utk membeli buku mereka sisihkan, mending pinjam, atau baca gratisan di page/blog, sama saja. Mereka juga memotong besar2an jatah pulsa dari orang tua, itu juga menambah tabungan. Juga uang hadiah ulang tahun dari tante/om/pakde/bude. Alhasil, enam bulan berlalu, dua minggu sebelum hari raya kurban, mereka punya uang 1,1 juta.

Aduh, ternyata, saat mereka mulai nanya2, harga kambing di tempat penjualan2 kambing itu minimal 1,3 juta. Puteri sedih sekali, uang mereka kurang 200rb. Menunduk di depan barisan kambing yg mengembik, dan Mamang penjualnya sibuk melayani orang lain. Tapi kakaknya, Ais, yg tidak kalah semangat, berbisik dia punya ide bagus, menarik tangan adiknya utk pulang. Mereka survei, cari di internet. Tidak semua harga kambing itu 1,3 juta. Di lembaga amil zakat terpercaya, dengan aliansi bersama peternakan besar, harga kambing lebih murah, persis hanya 1.099.000. Dan itu lebih praktis, tdk perlu dipotong di rumah. Dan tentu saja boleh2 saja nyari harga kambing yg lebih murah sepanjang memenuhi syarat kurban. Senang sekali Puteri dan Ais akhirnya membawa uang tabungan mereka ke counter tebar hewan kurban tsb. Uang lembaran ribuan itu menumpuk, lusuh, kusam, tapi tetap saja uang, bahkan aromanya begitu wangi jika kita bisa mencium ketulusan dua kakak-adik tsb.

Mereka berdua tdk pernah bercerita ke orang tua soal kurban itu. Mereka sepakat melupakannya, hanya tertawa setelah pulang, saling berpelukan bahagia. Dua bulan kemudian, saat laporan kurban itu dikirim lembaga amil zakat tersebut ke rumah, Ibunya yang menerima, membukanya--kedua anak mereka lagi main ke rumah tetangga, numpang menonton dvd film, Ibunya berlinang air mata, foto2, tempat berkurban, dan plang nama di leher kambing terpampang jelas, nama Ibunya.

Itu benar, dua kakak-adik itu sengaja menulis nama ibunya. Itu benar, dua kakak-adik itu ingin membahagiakan kedua orang tuanya. Tapi di atas segalanya, dua kakak-adik itu secara kongkret menunjukkan betapa cintanya mereka terhadap agama ini. Mereka bukan memberikan sisa2 utk berkorban, mereka menyisihkannya dengan niat, selama enam bulan.

Itulah kurban pertama dr keluarga mereka. Sesuatu yg terlihat mustahil, bisa diatasi oleh dua remaja yg masih belia sekali. Besok lusa, jika ada tugas mengarang lagi dari gurunya, Puteri tdk akan pernah kesulitan, karena sejak tahun itu, Ibu dan Ayah mereka meletakkan kaleng di dapur, diberi label besar2: 'Kaleng Kurban' keluarga mereka.
*) tulisan yang asli ada disini

Ceritanya mungkin sederhana, sesederhana harapan saya ketika meresapinya. Hebat ya, dua kakak adik itu. Dengan pemahaman baik yang mereka punya, mereka menjelma menjadi anak-anak yang tidak biasa, menjadi berbeda dengan jutaan anak-anak lain seusianya. Mereka istimewa. Saya bahkan tidak bisa membayangkan betapa terharunya sang ibunda menyaksikan apa yang dilakukan anak-anaknya, karena saya yang hanya membaca pun bisa langsung menangis. Saya yakin anak-anak itu akan membangunkan sebuah rumah yang indah untuk ibunda mereka di surga Allah. Seperti halnya harapan saya atas jantung yang sekarang sedang berdetak dalam rahim saya...

Gambar dipinjam dari sini

Selasa, 16 Oktober 2012

-96- Suamimu Tipe Berapa?

"Aduuhhhh, main futsal aja terus sih, anaknya tuh diurusin!", aku ngomel panjang kali lebar kali tinggi. Gemes tingkat dewa liat tingkah suamiku. Udah siap-siap mau pergi aja dia. Padahal, emak sama anak lagi ribet banget sekarang, mana gak ada yang bantuin. Enak aja si papi mau futsal-an ninggalin aku jungkir balik sendiri di rumah ngurusin anak, mana lantai belum disapu pula...

***

Kira-kira begitulah teman saya bercerita. Tentu saja gaya ceritanya malah membuat saya tertawa lucu. Soalnya dia bercerita dengan intonasi dan mimik wajah yang sama sekali tidak mirip orang yang sedang sebel. Hihihi, dan ceritanya terus berlanjut, bertambah menggelikan.

***

Aku terus ngomel layaknya kereta api, gak pake berenti. Gak berapa lama kemudian, kulihat dia masih di rumah, gak jadi berangkat main futsal.
"Kok, papi gak jadi main futsalnya?", tanyaku.
"Iya, abisnya umi ngomel terus...", jawabnya polos.

***

Hahaha, saya ngakak. Tulisan saya di atas tadi, yang menceritakan kembali ceritanya dulu, sama sekali tidak bisa menggambarkan lucunya gaya teman saya itu ketika ngomong. Ya, saya memang suka sekali mendengarnya cerita. Seru, lucu, dan terbuka. Jadi, gak pake sok rahasia-rahasiaan gitu deh. Kita juga kan males ya kalo dengerin cerita yang kayak masih dipakein cadar. Mending dari awal aja gak usah diceritain. Ya nggak sih?

Loh? Balik lagi ahhh ke jalan yang benar...

Begitulah, teman saya kemudian bercerita tentang betapa payahnya suaminya dalam urusan mengurusi anak. Makein celana anaknya aja gak bisa (apa iya ya?). Kadang-kadang mendingan Mr.Suami gak usah bantuin megang anak deh, soalnya yang ada malah bikin tambah repot, bukannya meringankan pekerjaan. Jadi inget ada teman lain lagi yang pernah bilang bahwa laki-laki kalo ikut ngurus anak malah bikin ribet aja. Eaaaa...

Nah, teman saya yang lucu tadi, dulu juga pernah ngasih info yang entah benar entah tidak. Katanya, tipe suami itu ada dua. Pertama, kalau dia tipe yang sayang sama istrinya, romantis gitu deh, pokoknya istrinya disayang terus, maka dia pasti bisa dibilang gak terlalu bisa ngurus anak. Kedua, kalau dia tipe yang sayang banget sama anak, bisa ngurus anak, biasanya istrinya gak akan disayang. Hmm, waktu si teman bilang gitu, saya sempat membantah, masa iya sih? Dengan sangat percaya diri dia menegaskan begitu dan menyuruh saya membuktikan sendiri nanti kalau saya sudah menikah (waktu itu saya belum menikah).

Kenyataannya, dilihat dari beberapa group sharing para emak-emak, memang pada umumnya para suami tidak terlalu becus dalam urus-mengurus anak atau membantu pekerjaan rumah tangga. Sama seperti teman saya tadi mungkin ya... Tapi ada juga kok yang baik hati, bisa ngurus anak dan suka bantuin kerjaan istrinya di rumah. Ada juga suami yang udah gak mau bantuin kerjaan rumah tangga. Semua mesti istri yang ngurus, padahal istrinya juga bekerja. Istri lagi masak plus beres-beres rumah (lagi ribet pokoknya), suami megang anak dan anaknya mau BAB, eehhh istrinya yang dipanggil, disuruh ngurus anaknya BAB. Mana suaminya gak ada romantis-romantisnya lagi, gak ada sayang-sayangannya sama istri. Aiihh lengkap sudah penderitaan istri...

Akhirnya, berdasarkan  info teman saya tadi, dilanjutkan dengan melihat-lihat dikit kesana kemari, saya mengelompokkan tipe suami menjadi empat tipe, yaitu:


1. Suami yang sayang sama istri, tapi gak terlalu sayang sama anak.
2. Suami yang sayang sama istri dan sayang sama anak.
3. Suami yang kurang sayang sama istri, tapi sayang sama anak.
4. Suami yang kurang sayang sama istri dan kurang sayang sama anak.

Pengelompokan di atas cuma iseng-iseng saja loh ya, tidak ada dasar ilmiah-nya. Tapi bolehlah kalau mau dijadikan kriteria bagi yang sedang memilih calon suami. Paling enak kalo dapet suami tipe dua, x dan y positif, hehehe, tapi amit-amit dah kalo dapet suami tipe empat. Makanya milih yang selektif ya girls...

Dan... saya juga jadi ingin menentukan, suami saya masuk tipe yang mana ya?

Lalu kamu... suamimu tipe berapa? ^___^

Jumat, 12 Oktober 2012

-95- Bercerita Itu Hebat Ya, Takita (Surat Balasan Untuk Takita)

 

Bagaimana kabarmu Takita sayang?

Semoga Takita tidak pernah bosan bercerita ya. Juga selalu membagi cerita tentang mimpi-mimpi Takita kepada banyak orang. Karena percayalah, melalui cerita Takita itulah orang dewasa seperti kami sering tersadar, sudahkah anak-anak kami mendengar kami bercerita? Sudahkah anak-anak kami belajar bercerita, tentang teman mereka, tentang mainan mereka, juga tentang bau-bauan yang mereka cium... dan tentu saja kami, Ayah dan Bundanya akan menyimak dengan tekun sambil bersyukur kepada Tuhan, betapa pintarnya anak kami.

Mimpi Takita adalah mimpi kakak juga. Kakak takut sendirian, sama seperti Takita. Kakak juga takut anak kakak merasa sendirian karena kakak tidak punya waktu untuk bercerita. Padahal sekedar cerita tentang sebuah alat berat yang sedang parkir di pinggir jalan menuju ke kantor, mampu membuat anak kakak melemparkan banyak pertanyaan dan memperpanjang cerita... dengan mata berbinar tentu saja.

Saat ini kakak mungkin hanya bisa bercerita tentang hal-hal sederhana kepada anak kakak. Cerita mengalir begitu saja layaknya tulisan yang punya banyak catatan kaki, banyak tanda bintang untuk menjelaskan arti kata-kata yang masih sulit dicerna anak berusia tiga tahun. Dan tahukah dirimu, Takita, ternyata anak-anak pun bisa menjelaskan tentang kata yang ia ucapkan dengan cadel agar bisa dimengerti oleh Ayah dan Bunda.

Berapa usiamu, Takita? Perkenalkan anak kakak, namanya Zaim. Usianya sekarang 3 tahun, dan ini beberapa ceritanya di rumah...

Zaim : "Tadi temennya Om Pebi didoteng...?" (bahasanya masih cadel)
Ayah : "Apa nak, didoteng?" (berusaha mencerna)
Zaim : "...bukan, didoteng..."
Ayah : "Didoteng?"
Zaim : (sambil berpikir) "Om Pebi naik motor trus temennya duduk di belakang?"
Ayah : "Oooo... dibonceng?"
Zaim : "Iya, tadi temennya Om Pebi didoteng?"
Ayah : "Enggak, bla bla bla..... *bercerita*....." (sambil tersenyum senang, anaknya sudah bisa menjelaskan)

---

Zaim : (sedang memegang sebuah permen) "Aim tu maunya permen tantai."
Bunda : "Apa nak, permen tantai?"
Zaim : "Permen yang ada tantainya..."
Bunda : (bingung) "Tantai itu apa?"
Zaim : (berpikir, diam sesaat) "Tunjuk, tunjuk..."
Bunda : "Oooo, tangkai ya?" (sambil tersenyum senang, anaknya sudah mengerti tentang sinonim)
Zaim : "Iya..." (tersenyum juga dan melanjutkan cerita dengan semangat)
Hehehe, ini biasanya Zaim menyebut tangkai permen lolipop sebagai "tunjuk", jadi Bunda langsung paham bahwa yang dimaksud adalah kata "tangkai" :)

---

Hebat ya, Takita. Ternyata bercerita juga bisa menjadi sarana belajar buat anak-anak, tentu saja juga buat orangtuanya. Suatu saat nanti, kakak ingin sekali bercerita tentang hal-hal yang lebih rumit, cerita tentang kehidupan, cerita tentang pengalaman, sekedar untuk memperkaya pribadi-pribadi yang tadinya bersemayam dalam tubuh-tubuh yang mungil. Seperti Takita mungkin.

Dan tubuh-tubuh yang tak lagi mungil itu, nantinya akan terus bercerita, bercerita tentang Ayah Bundanya, bercerita sepanjang zaman.

Teruslah bermimpi, Takita... Lalu ceritakan kepada dunia setiap kata yang ada dalam mimpi Takita. Karena mimpi akan menghilang begitu saja ketika tidak kita bagi. Takita dan kakak tidak ingin itu terjadi bukan?

Teruslah bercerita, Takita... Karena melalui cerita Takita, Ayah dan Bunda akan selalu tersenyum. Menyadari bertambahnya perbendaharaan kosakata yang bisa Takita gunakan, atau memperbaiki susunan kalimat Takita agar bisa dimengerti tidak hanya oleh Ayah dan Bunda... sungguh tak ternilai rasanya, sayang. Dan menemukan Takita menjadi dewasa lalu memeluk anak-anak Takita dengan hangat sambil bercerita tentang anak kucing yang tidak sengaja masuk ke dalam got... ahh, rasanya mungkin seperti memeluk surga :)

Teruslah bersemangat, Takita. Dengan semangat yang tidak pernah mati Takita akan menjelajah dunia melalui cerita.

Sampaikan salam kakak buat Ayah dan Bunda ya. Ceritakan kepada mereka tentang surat kakak yang sudah Takita baca.

Salam sayang kakak untuk Takita :)


Tulisan ini saya tulis untuk membalas surat dari Takita.

Senin, 01 Oktober 2012

-94- 1'st Anniversary

Satu tahun yang lalu pada tanggal yang sama seperti hari ini, harinya adalah Sabtu, dimana sekitar jam 2 siang kami melaksanakan akad nikah. Nothing's to celebrated memang. Hanya saja, di tanggal yang sama setahun kemudian, aku ingin mengenang bahwa pernikahan kami ternyata sudah mulai menginjak hitungan tahun. Meskipun baru angka satu, penunjuk bahwa kehidupan sebenarnya baru saja dimulai. Dan mungkin saja, hanya aku satu-satunya yang mengingat tanggal ini dengan baik.

Aku memang tidak suka perayaan ulang tahun, ulang tahun apapun. Tapi aku juga tidak menentang jika ingin menjadikan momen tersebut sebagai momen memberi hadiah, misalnya, atau sekedar memanfaatkan waktu yang pas untuk mengungkapkan doa dan sayang yang mungkin biasanya hanya tersimpan rapi di sudut hati. Apapun itu, yang penting aku harus selalu bersyukur atas setiap momen bersama, atas berlalunya setiap waktu. Aku ingin menghargai setiap pertambahan bilangan usia itu, karena belum tentu ia akan lama berpihak kepadaku.

Alhamdulillah Ya Rabb... Terima kasih banyak atas satu tahun yang telah Engkau berikan. Terima kasih banyak atas setiap suka yang telah Engkau anugerahkan. Terima kasih banyak atas setiap secuil pelajaran hidup yang begitu mahal, yang tak pernah kudapatkan dari sekolah formal manapun. Terima kasih banyak atas semuanya, yang menjadikanku ibarat keran air yang tiba-tiba menjadi tertutup, tak lagi bisa mengucurkan aksara untuk menceritakannya.

Teruntuk suamiku sayang

Sudah satu tahun sayang, dan ternyata kita bisa melewatinya. Alhamdulillah ya... Satu tahun pertama yang entah kenapa terasa begitu cepat berlalu. Bulan segera berganti tanpa hendak berhenti bahkan untuk menyapa. Satu tahun untuk saling mengenal lebih dan lebih lagi. Satu tahun untuk saling memahami lebih dalam. Satu tahun untuk mengendalikan ego demi menyambung potongan kayu yang telah diikrarkan untuk direkatkan selamanya, semakin kokoh seiring waktu. Satu tahun untuk semakin menguatkan tekad meraih mimpi. Satu tahun untuk menempa diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Satu tahun untuk terus menerus menyemai benih cinta dan sayang, mengikat rasa dalam koridor yang benar, halal, dan diberkahi. Satu tahun untuk selalu belajar menyelaraskan langkah.
(Tuh kan, aku selalu gagal menahan air mata setiap kali memfokuskan perasaan ketika memaknai sebuah ulang tahun. Bagaimana bisa orang-orang itu merayakan ulang tahun dengan sukacita, tertawa senang seolah tahun berikutnya akan selalu ada. Bergembira atas berkurangnya jatah waktu untuk selalu bersama. Bagaimana bisa?)
Sudah satu tahun sayang. Aku bersyukur atas setiap waktu bersamamu, waktu yang begitu berharga, waktu yang ingin selalu kugenggam. Aku bahagia atas kasih sayang tanpa henti, yang kuyakin mampu menundukkan himalaya. Rasanya aku tidur dengan nyaman ketika engkau disampingku. Rasanya hidupku aman ketika engkau mendampingiku. (wadawww, aku kok melow amat nulisnya yak...)

And I call you, home...

Terima kasih sayang, atas peluk cium yang selalu kurindukan. Atas sayang dan perhatian yang tak pernah lelah. Atas seni berkehidupan yang sudah engkau bagi. Terima kasih sudah menjadi suami dan ayah terbaik bagi kami. Maafkan aku atas setiap ego yang tak mampu terkendali, atas setiap buruknya suasana hati yang tak mampu tersimpan, atas setiap kelalaian dalam mengurus urusanmu, atas semuanya... semua tugas yang mungkin belum mampu kupikul dengan benar.

Allah Engkaulah yang Maha segalanya, Engkau yang menggenggam kehidupan, Engkau sebaik-baik dalang, berkahilah kami selalu Ya Rabb. Jagalah keluarga kami, kuatkan ikatan kami, sucikan cinta kami, baikkanlah kami, jadikan kami senantiasa saling melengkapi sepanjang usia. Amiin...

Jumat, 28 September 2012

-93- Keep It Simple, Stupid!

Waktu itu kami sekeluarga sedang berada dalam perjalanan, tapi saya lupa-lupa ingat, itu perjalanan mau mudik atau malah habis mudik ya... Ah, whatever. Yang jelas ceritanya kami sedang di dalam mobil trus saya dan anak saya ngomongin tentang kereta api. Kira-kira begini:

Zaim : "Apa tadi Bunda, rel kereta api ya?"
Saya : "Bukan nak, di sini gak ada kereta api ya, kereta api itu adanya di tempat Yai (kakek)."
Zaim : "Kalau ada?"
Saya : "..... tapi gak ada kereta api di sini, nak...." (ini emaknya lagi mikir monoton)
Zaim : "Kalau ada?"
Saya : "..... adanya di tempat Yai...."
Zaim : "Kalau ada, Aim naik..."

Saya langsung merasa oon. Anak kecil aja bisa berpikir sederhana... dan benar. Lah, ini orang dewasa malah rigid dan kaku. Padahal anak hanya menginginkan jawaban yang bisa diterimanya dengan mudah. Jawaban yang positif tentu saja.

***

Di perjalanan yang lain lagi, kami sedang istirahat dan berhenti di salah satu rumah makan. Saya tidak begitu memperhatikan apa yang sedang dilakukan Ayah dan Zaim. Ayah sedang bersandar di sebuah tiang besi melintang semacam pagar. Lalu Zaim menendang pagar tersebut. Maksud hatinya ingin merobohkan pagar. Tentu saja tidak bisa, kokoh begitu. Kalau bisa? "Kalau bisa, Ayah jatuh...", katanya polos.

***

Hari beranjak malam dan kami masih berada dalam perjalanan. Catat ya, hari sudah malam, sekitar jam 19.30. Musik mengalun di dalam mobil.

Zaim : "Ayah, ini magrib?"
Ayah : "Iya, sudah magrib ya..." (ayahnya males ribet ini ceritanya, jadi jawab iya-iya aja)
Zaim : "Kok musiknya gak dimatikan?"
Ayah : ...tersadar, "Oh iya ya, Ayah salah, Ayah lupa ya, kalau magrib kan musiknya dimatikan. Makasih ya sudah diingatkan sama Aim..."

Kami sering sekali ketemu magrib di jalan pada Minggu sore ketika pulang dari rumah Mbah Uti (kalimat saya membuat seolah-olah magrib itu nama orang). Sepanjang jalan biasanya nyetel musik (harusnya nyetel ceramah ya...) dan ketika hampir magrib musik dimatikan. Kadang Zaim protes karena dia masih mau dengerin musik tronton-tronton (lagu Song for Children) favoritnya. Ayah selalu menjelaskan bahwa sudah mau magrib, musik harus dimatikan dan mulai dengerin ngaji menjelang adzan. Ternyata dia selalu ingat...

***

Ah, ini baru tentang satu anak, anak saya. Tentang satu anak ini saja tidak cukup kalimat untuk menceritakan pikiran sederhanya, yang mampu membuat orang dewasa seperti saya harus mengevaluasi diri sendiri, sudahkah saya berpikir secara sederhana dan tidak memperumit masalah?

Saya ingat lagi, ketika itu saya melarang anak saya membuang sampah di jalan melalui jendela mobil. Lain waktu saya sendiri yang melempar tisu ke luar jendela mobil dan anak saya melihatnya sambil bilang "Bunda kok buang ke luar?"

Atau saat anak saya minta susu terus menerus lalu kami katakan bahwa siang makan nasi kalau malam baru minum susu, kayak lagu pok ame ame. Ehh, pas malam dia bertanya, "Ini sudah malam?", "Iya ya, sudah gelap...", jawab saya. "Minum susu...", katanya lagi. Hehehe.... :)

***

Maha Suci Allah yang telah menyuguhkan kepolosan di depan mata, untuk diresapi lagi maknanya. Kenapa semakin bertambah usia kita, semakin kita kehilangan kejujuran dan kesederhanaan dalam berpikir. Kenapa semakin besar tubuh kita, semakin kita kehilangan konsistensi. Kenapa semakin luas interaksi kita, semakin rumit kita dalam menanggapi.

Saya hanya ingin berpikir sederhana, agar saya juga dapat memaknai semua hal yang sederhana dengan luas. Saya ingin belajar dari seorang anak kecil, yang bisa langsung tertawa setelah terjatuh, yang bisa melupakan setelah bertengkar, yang bisa terlihat biasa saja setelah menangis, yang bisa kembali mencium setelah bersalah. Siapa yang tak luluh coba?

Ya, sederhana saja, tak perlu pelik karena saya juga pasti akan berakhir dengan sederhana.

(maaf ya, judulnya gak nyambung, tadinya saya mau nulis tentang prinsip KISS, eh malah...) :)

Selasa, 28 Agustus 2012

-92- Tentang Statistik Yang Sederhana

Setiap kali saya melihat memeriksa statistik blog saya, dari dulu sampai sekarang hal pertama yang langsung saya simpulkan tidak pernah berubah. Dari sejak pertama kalinya saya ngerti gimana caranya melihat statistik blog (meskipun hanya secara sederhana), sampai sekarang ketika saya tidak lagi peduli pada berapa pagerank yang berhasil saya capai.

Kesimpulan Nomor 1. Melulu tentang SEX dan SEKS

Lihat saja baris pertama di bawah judul widget Popular Posts di samping, pasti selalu dihuni postingan yang itu. Sebenarnya sejak awal juga tidak ada ekspektasi berlebihan dengan mengharapkan akan mendapatkan kenyataan bahwa postingan yang paling banyak diminati atau dicari adalah yang lumayan berbobot (emang ada di sini gituh postingan yang berbobot? hehe...). Saya kecewa? Terus terang saja iya. Ternyata saya bisa benar-benar meyakinkan diri saya sendiri bahwa internet sehat memang hanyalah bagi sebagian kecil orang.

Terlalu besar godaan bagi orang-orang yang tidak begitu yakin untuk apa mereka menggunakan internet, padahal akses internet begitu mudahnya. Semuanya bisa muncul di depan matamu, di layar komputermu. Sekedar gambar-gambar porno, ahh rasanya semua orang tau bahkan tak ada harganya di dunia maya ini. Saya kadang merasa galau, apa jadinya anak-anak saya nanti jikalau saya tidak mampu membantu mereka membangun suatu penyaring yang harus muncul dari dalam diri mereka sendiri. Apa jadinya anak-anak saya nanti jika saya tidak mampu ikut mengokohkan sisi spiritual mereka.

Saya ingat sejarahnya dulu kenapa saya membuat tulisan yang memasukkan kata 'sex' pada judulnya. Saya lagi semangat-semangatnya ngeblog, lari-lari kesana kemari melihat-lihat blog orang. Catat ya, hanya melihat-lihat, bukan membaca isinya dengan serius. Yang benar-benar saya baca hanyalah bagaimana caranya menambahkan widget ini itu, bagaimana caranya agar blog saya terindeks oleh si mbah google, bagaimana caranya agar saya bisa menggunakan template yang tidak standar untuk blog saya,juga bagaimana menampilkan statistik blog.

Nah, katanya sih, kalau mau meningkatkan traffic blog kamu, maka kamu harus membuat blog yang isinya dicari banyak orang. Lihat saja situs-situs yang isinya porn gitu, pengunjungnya bejibun kan. Dosen web saya dulu juga pernah bilang, ada orang yang dengan ilmu sihir (maksudnya di sini saya oon tentang ilmunya gitu deh...) memasukkan banyak tag seperti "sex" atau "seksi" atau "telanjang" di situs mereka, padahal dalam situsnya sama sekali gak ada konten tentang itu. Supaya apa? Supaya ketika orang-orang mengetikkan kata itu pada mesin pencari (kebetulan orang-orang yang dimaksud jumlahnya banyak), situs mereka bisa muncul di halaman pertama. Sederhananya begitu.

Kebetulan saya mau nulis tentang pengalaman yang sempat membuat saya gamang akan masa depan generasi setelah saya, sekalian saja saya buat judulnya seolah dramatis, "Ada Sex di Depan Mata Anak 4 Tahun". Pasti banyak yang akan terkecoh dan gak sengaja mampir ke blog saya gara-gara itu. Dan kenyataannya memang begitulah. Setelah saya melihat statistiknya, postingan yang itu selalu menjadi satu titik ekstrem, ckckck...

Ini statistik pageviews dari 21 Agustus sampai 28 Agustus. Kalau dibikin chart pasti jelek jadinya.
Mungkin nanti setelah saya membuat postingan kali ini akan ada banyak juga yang terkecoh untuk mendarat di halaman ini. Hhffff, menyedihkan sekali. Saya jadi ingat cerita di blog teman saya, bahwa ada seorang yang sudah S2, beasiswa pula, tapi mindahin gambar dari satu dokumen ke dokumen lain saja tidak bisa, koleksi porn bergiga-giga. Hadehhhhh.........

Kesimpulan Nomor 2. Gak ada komentar bukan berarti gak ada yang baca. Jadi hati-hati dengan tulisanmu.

Seringkali saya kalau nulis di blog suka-suka saja, gak terlalu mikirin siapa yang baca. Apalagi kalau gak ada komentar, berarti setidaknya kan gak ada kontroversi. Toh saya nulis juga tujuannya bukan supaya ada yang baca. Saya nulis karena saya kepingin nulis, tapi bukan di atas diary yang digembok layaknya zaman sekolah dulu.

Suatu ketika saat sedang chat dengan seorang teman, dia menulis ulang kata-kata di salah satu postingan dalam blog saya. Saya agak takjub lalu bertanya, kok kayaknya saya pernah dengar kata-kata itu. Dia pun bilang bahwa itu kata-kata saya sendiri. Saya tanya lagi kok kamu bisa tau. Dia pun bilang bahwa dia sudah mensubscribe blog saya, dalam artian dia selalu mengikuti (membaca) setiap postingan yang ada di blog saya.

Saya memang terlalu menyepelekan statistik sekian readers pada blog saya, karena saya gak yakin apa memang yang subscribe benar-benar akan membaca semuanya. Tapi ketika seorang sahabat bilang bahwa dia membaca postingan saya tentang nyetrika lalu membayangkan betapa berantakannya lemari pakaian saya, saya kok jadi malu ya, hehehe. Atau ketika seorang sahabat yang ketawa karena membaca postingan saya tentang underwear. Atau ketika seorang teman ber'cie-cie' heboh ketika membaca tulisan saya yang agak romantis (maksudnya keganjenan gitu). Juga masih banyak lagi yang menyadarkan saya bahwa ada loh yang baca tulisan saya, dan itu bukan sekedar sepuluh atau dua puluh. Bukan hanya teman-teman saya sendiri, juga orang-orang tersesat yang kebetulan mampir.

Kalau begitu, kenapa tidak menulis yang lebih bermanfaat ya.

Kesimpulan Nomor 3. Teruslah menulis, ada banyak yang kangen dengan tulisanmu.

Hehehe, ini agak kegeeran dikit kan no problemo ya... :D

Soalnya teman-teman saya sering bilang kangen sama tulisan-tulisan saya ketika sudah lama saya gak posting di blog. Dan itu rasanya tidak berlebihan juga kok. Saya sendiri saja suka ngikutin blog beberapa teman yang suka ngeblog. Ketika sudah lama postingannya gak nambah-nambah, saya juga akan merasa kehilangan, merasa ada yang kurang. Saya akan bertanya-tanya, apakah teman saya itu sedang sibuk, ada cerita apa tentang dirinya, ada perkembangan apa, kemana dia... Saya mengecek blog mereka beberapa kali, sedikit kecewa ketika menemukan tulisan yang itu-itu saja gak nambah-nambah. Kalau ada tulisan baru, pasti dengan semangat 45 akan saya baca.

Mungkin begitu juga dengan teman-teman saya. Ada suatu bentuk kepedulian yang tidak bisa diwujudkan secara nyata karena jarak. Jadi ketika sudah ada kabar, ada sarana memantau perkembangan yang lebih indah untuk dinikmati (melalui tulisan), rasanya, ahh... semua terasa nyata saja :)

Apapun itu, kenyataannya saya merindukan tulisan teman-teman saya, saudara-saudara saya, orang-orang terdekat saya tentang apapun yang terjadi dalam hidup mereka, apapun opini mereka, atau apapun yang mereka gemari. Bisa jadi mereka-pun sama seperti saya.

Kamis, 16 Agustus 2012

-91- Perempuan dan Air Mata

Perempuan mana sih yang tidak pernah menangis di saat usianya sudah tergolong dewasa? Rasanya tak ada. Kalau ada malah saya ingin sekali berguru padanya. Bukankah perempuan secara umum dianugerahi perasaan yang lebih peka ketimbang laki-laki yang lebih banyak menggunakan logika dalam memutar roda hidupnya. Bukankah keluarnya air mata tak melulu urusan sedih, sakit hati, kesal ataupun galau, melainkan juga bahagia, sesal, juga syukur.

Dulu ada seorang teman perempuan yang baru saja menikah, lalu bercerita bahwa kemarin ia menangis, padahal belum juga genap sebulan usia pernikahannya. Masalahnya sepele. "Hanya" karena dia mau masak, trus ditungguin suaminya, trus suaminya komentar yang kira-kira gini, "Bukannya masak itu (itu refers to saya lupa tepatnya apa, hehehe) bukan kayak gitu, tapi diginiin..." - sori jek, gak jelas, tapi pasti yang baca pada ngerti esensinya kemana. Dikomentarin gitu langsung berkaca-kaca deh tu perempuan, lalu keluarlah air matanya. Suaminya bingung dan gelagapan minta maaf. Mungkin sambil berpikir keras, memangnya apa yang salah dengan kalimat saya? "Cuma" gitu doang loh...

Setelah diceritakan kembali mungkin para pendengar juga akan menggunakan kata "HANYA" atau "CUMA" pada komentarnya, pun pendengar perempuan. Tapi sebenarnya esensinya adalah coba pahami perasaan dan emosi yang sedang dilibatkan oleh perempuan tadi dalam dirinya, pada waktu dan kondisi yang persis sama saat cerita terjadi. Saya juga pendengar, dan sempat berpikir spontan, masa sih kayak gitu aja nangis. Dan mungkin si pencerita juga menyadari bahwa orang lain yang mendengar ceritanya pasti akan berkomentar begitu, maka tanpa diminta dia pun langsung menjelaskan kenapa dia menangis.

"Itu hal yang sangat sensitif menurut saya, pada saat-saat itu.", katanya. Coba pikir bukan dengan logika, tapi perasaan. Dia masih sangat baru menjadi istri. Itupun sebelumnya tanpa melewati prosesi pacaran, jalan bareng, atau ngobrol sepanjangan di telepon. Keintimannya dengan suaminya baru saja dimulai. Api semangatnya untuk menjelma menjadi istri paling baik sedunia baru saja dinyalakan, tapi malah api itu seolah ditutupi dengan karung basah. Harga dirinya terinjak, seolah2 suaminya berkata, "Gimana sih, masa gitu aja gak bisa, sini saya ajarin...". Kredibilitasnya seolah dipertanyakan terlalu dini. Atau mungkin secara emosi dia berpikir, "Untung saya mau nikah sama kamu, masak buat kamu, bukannya dihargai malah dicela..." - padahal suaminya bahkan gak terpikir buat mencela, malah menikah dengan istrinya itu sudah membuatnya tak henti bersyukur atas karuniaNya. Ah, perempuan...

Rasanya saya kurang bisa menggambarkan emosi dan sensitifitas si perempuan tadi. Maaf ya... Saya bisa merasakannnya, dulu, bertahun-tahun yang lalu saat mendengar ceritanya, karena saya juga perempuan. Bahkan saya masih ingat ceritanya sampai sekarang, padahal bisa jadi teman perempuan saya itu sudah tidak ingat lagi kejadian tersebut.

Begitulah perempuan. Cerita di atas hanya salah satu contoh kasus. Perempuan itu untuk dipahami perasaannya. Kalaupun tidak bisa secara spontan, cobalah untuk sejenak melibatkan hati, agar mengerti emosi yang sedang dideritanya. Perempuan itu sensitif. Tidak semua perempuan bisa marah-marah ketika kesal. Tidak semua perempuan bisa ngomel gak jelas ketika ada yang tidak sreg di hatinya. Tidak semua perempuan bisa complain ketika merasa cemburu. Tidak semua perempuan bisa meluapkan semua yang tersimpan dalam hatinya. Karena saya juga perempuan, kadang saya berpikir betapa hebatnya seorang perempuan, bisa menampung semua rasa yang tak terkatakan. Perempuan waspadalah, karena dikhawatirkan ruang hatimu tidak begitu kuat untuk menampung semuanya. Simpanlah apa yang harus disimpan, lalu keluarkan sisanya. Semoga cukup kepada Tuhanmu.


####################


Wuihh,,, pegel juga jari membuat tulisan dalam sekali duduk. Pagi ini saya ingin menulis, tapi gak tau mau nulis apa. Saya mencoba salah satu trik menulis.

Coba awali dengan menulis satu kalimat, tentang apapun yang tiba-tiba terlintas dalam pikiranmu atau tentang apapun yang tiba-tiba kamu baca.

Setelah itu lanjutkan, terus, dan terus...

Apa hasilnya? Horeeeeee TERBUKTI, hehehehe...

Saya berhasil membuat satu tulisan yang bahkan tidak saya duga sebelumnya hal apa yang akan saya ceritakan dalam tulisan saya. Kalaupun gak nyambung di awal-awal, it's ok lah... Yang penting hasrat ngeblog hari ini sudah tepenuhi :)




Rabu, 15 Agustus 2012

-90- Saat Ingin Memulai, Lagi...

Kemarin saya sudah menjelajah ke begitu banyak tempat melalui jendela. Betapa Allah sangat kaya akan hal-hal tak terduga jika Dia menghendaki. Betapa beragamnya orang-orang diciptakan, unik dalam kehidupannya sendiri-sendiri. Betapa tak ada sehelai daun pun yang jatuh dari pohon tanpa izin Allah.

Saya malu atas semua keluh kesah sepele yang saya dramatisasi sedemikian rupa, seolah saya orang paling merana sedunia. Saya malu atas perasaan ketidakberuntungan yang sering muncul di atas begitu banyak keberuntungan yang bahkan tak mampu saya hitung. Saya malu ketika saya menyalahkan orang lain karena sudah membuat saya jadi gak mood. Saya benar-benar malu.

Seperti kalimat yang saya suka dari blog seorang teman, #30: My Personal Feeling is not Important
"Karena orang-orang berubah, keadaan juga berubah, dan yang lebih penting: saya berubah."
Juga kalimat,
"Karena perasaan pribadi saya hanya sementara dan bila saya mengabadikannya lewat tulisan, saya takut suatu saat saya akan menyesalinya."
Ahh, kalimat yang terakhir ini sudah saya buktikan sendiri. Karena saya suka menulis catatan harian. Saya suka menulis semuanya, apalagi kalau sedang ada emosi yang terlibat. Entah benar-benar senang atau benar-benar galau. Pasti saya nulisnya kayak keran air PDAM di sini pas tengah malam, mengucur deras, tau-tau sudah berlembar-lembar.

Lalu, bertahun-tahun kemudian saya baca lagi. Idih, enggak banget deh, ingin rasanya langsung saya hapus. Geli bacanya, dan sama sekali tidak, apa ya, ah pokoknya kok rasanya bukan gue banget deh. Benar-benar kelihatan bahwa nulisnya melibatkan banyak emosi, agak tidak ilmiah dan encer, sama sekali gak ada kental-kentalnya. Loh? :D

Saya penyuka suatu bentuk warisan digital. Saya suka mengenang masa lalu dengan membuka kembali dokumen-dokumen jadul. Saya suka melihat-lihat foto meskipun saya sama sekali gak fotogenik. Saya suka melihat dunia melalui gambar dan rangkaian huruf-huruf yang ikut mendeksripsikannya. Terasa dunia dalam genggaman (kayak pernah denger di iklan apa gitu ya...). Informasi sedemikian gratisnya untuk dinikmati. Benua Amerika yang berada dalam mimpinya sang pemimpi yang gak bangun-bangun seolah-olah berada tak sampai satu kilometer saja dari mata saya.

Saya juga suka membaca cerita. Saya suka membaca cerita hidup orang lain, apalagi orang-orang terdekat saya. Sayang sekali mereka tidak suka menuangkan skenario kehidupannya dalam tulisan yang bisa saya nikmati. Saya suka memperkirakan karakter seseorang melalui bagaimana ia merangkai kata. Saya suka melihat tipikal seseorang melalui update statusnya di media-media sosial. Meskipun penilaian saya belum tentu benar. Tapi kemudian saya menjadi tidak nyaman atas aib yang diumbar kemana-mana atas nama curhat melapangkan hati. Ah, semoga bukan saya yang menelanjangi diri saya sendiri lalu tanpa malu-malu melenggang ke luar rumah.

Semua orang pada satu titik tertentu akan merasa dirinya benar, tidak ingin dipersalahkan. Semua orang pada satu titik tertentu sedang dilanda keegoisan tingkat dewa untuk tidak dapat menerima sedikitpun nasehat. Dan semua orang pasti akan merasa cerita hidupnya itu unik. Selama tidak saling mengusik, silakan saja. Seperti saya, dengan warisan digital yang saya pikirkan...

Jumat, 20 Juli 2012

-89- Warisan Digital

Dia berdiri
Dunia terasa berputar, bintang berjatuhan
Dia pun duduk
Bulan dan matahari menghimpit
Tapi bintang tak lagi jatuh

Semua tetap gelap
Dingin mendera tubuh
Hangat di telapak tangan

Gudang memori mengaduh
Berontak atas beban yang begitu penuh
Sesak atas sampah-sampah yang belum sempat dibuang
Carik-carik kertas yang harus dibakar di tempatnya
Agar menyisakan ruang yang tertunda
Untuk diisi kembali
Setelah dijejali beragam harum bunga

Dia tersenyum konyol
Atas running text yang berjalan santai di keningnya
Mengantarkannya ke depan pintu sebuah mesin waktu virtual
Yang dia sadari, sangat sadar, bahwa tidak nyata
Namun kakinya tetap melangkah masuk
Menyaksikan seorang tua berjalan tertatih
Juga seorang jompo penyakitan
Mungkin itu adalah dia
Jika Tuhan mengizinkan usianya sampai
Meski dia tak mau

Kakinya berbelok
Ingin berjalan ke kiri, menyampaikan sedikit pesan
Walau dia sadar jika itu terjadi
Maka takkan ada lagi dia yang belum menjelajah waktu
Dia yang bahagia
Dia yang tertekan
Dia yang menahan rasa
Dia yang me-malaikat
Dia yang selalu berusaha sekuat tenaga mengusir prasangka, menghalau pedih
Dia yang begitu disayangi

Aku kasihan padanya
Aku juga bangga padanya

Aku bersedih untuknya
Aku juga menghadiahinya selamat atas kepuasan yang tak terukur

Dualisme yang begitu kuat menerjang pertahanan logika manusia
Yang lemah di hadapan Tuhannya
Merengek-rengek memohon usia berkah yang tak panjang
Agar dapat kembali

Di saat-saat terbaik dalam hidupnya

Jika saja boleh memilih...

Semoga...


Selasa, 03 Juli 2012

-88- Intermezo

Hufffhhhhhh, leher dan punggung saya pegel banget dari tadi melototin laptop bacain curhatnya para emak2 di beberapa grup facebook. Saya takut lama2 bisa gangguang tulang kalau posisinya gini terus, sepertinya tinggi kursi dan mejanya memang kurang ideal. Saya sekarang lagi senang2nya ngegrup, apalagi grup yg isinya emak2. Bacain thread-nya satu per satu, mulai dari soal makanan, anak, suami, mertua, investasi, dan sebagainya dan sebagainya, membuat otak saya rasanya semakin kaya.

Kalau direview sedikit, semenjak menikah saya banyak berubah. Kalau dulu hobi banget foto2 trus upload di jejaring sosial, sekarang malah foto2nya banyak yang saya delete. Beberapa ada yg permintaan suami juga sih, katanya foto2 yg keliatan dada delete aja. Urusan foto memotonya tetep suka sih, apalagi anak saya Zaim suka minta difotoin dengan tampang imut dan lucunya. Ngademin deh ngeliatnya...

Sejak nikah juga saya gak lagi suka mentengin timeline facebook, saya lebih suka twitteran, perasaan lebih berkelas karena facebook saya sudah kebanyakan jualannya. Kalau dulu kan dengan tampilan fb mobile, tiap kali buka fb pasti saya selalu klik see more stories, teruuusss sampai berlembar2. Lama kelamaan yg saya liat cuma yg ada di homepage aja, alias yg halaman pertama aja, dan sialnya selalu kebanyakan gambar2 jualan entah apa. Dan sekarang, saya rada males bahkan cuma buat baca status yg ada di halaman pertama. Setiap kali saya buka fb, saya langsung meluncur ke halaman group2 favorit saya, atau ke halaman olshop yang barangnya sedang saya cari. Dengan kata lain, saya fesbukan untuk nambahin info melalui group atau untuk belanja online. Sisanya, seperti konfirmasi teman, komen status, dan sejenisnya hanyalah sekedar aksesoris. Oiya, satu lagi yg masih sering saya lakukan dg fb adalah membookmark artikel yg menurut saya menarik dg cara posting link-nya di fb karena saya pasti membuka fb setiap hari.

Selain itu, setelah 3 bulan menikah saya juga langsung pindah kantor. Kalau di kantor lama isinya kabanyakan para single, gadis2 dan bujang2 yang pada umumnya masih anak2 muda (seumur saya bolehlah dikatakan muda ya...^_^). Yang diperbincangkan adalah soal fashion-lah (baca: baju, dompet, sepatu, dll), beli ini beli itu yang sifatnya masih ringan, jalan2, duduk2 ngerumpi. Nah kalau sekarang, di kantor baru, yang single cuma tinggal 1 orang. Sisanya emak2 dan bapak2. Obrolannya ya seputar masak memasak, makanan kesukaan anak, kebiasaan anak, kehamilan dan menyusui, rumah, tanah, kebun, mobil, bisnis, dll. Kalau gak ada kerjaan mending pulang main sama anak atau masak buat makan siang daripada ngabisin waktu di kantor cuma ngobrol2 aja. Apalagi cuma buat jalan2 keluar rumah tanpa keluarga, boro2 deh. Terlihat bedanya kan ya, hehehe...

Yah, mungkin semua ada waktunya ya. Kalau masih bujangan ya dinikmati aja. Percaya deh, pasti nanti ketika sudah berkeluarga kadang kita masih merindukan masa2 bujangan. Kalau sudah nikah juga ya jangan kebablasan kayak masih bujang aja. Sudah ada yang nunggu di rumah loh...

Nah nah, saya cerita apa sih. Tadinya kan mau cerita tentang curhatan para emak2 di fesbuk yang langsung membuat saya merasa sangat bersyukur punya suami seperti suami saya, punya anak seperti anak saya, punya orangtua dan mertua seperti orangtua dan mertua saya, punya kakak dan adik seperti kakak dan adik saya, juga punya saudara2 ipar seperti ipar saya. Malah melenceng ini ceritanya.

Anggap saja intermezo...

Kamis, 07 Juni 2012

-87- Nyetrika CS Sakit Punggung

Pekerjaan rumah tangga yang sudah dianggap oleh otakku sebagai yang paling menyebalkan adalah MENYETRIKA. Entah kenapa aku masih lebih suka bercapek2 ria nyuci pakaian (tapi pake mesin ya,,, huehehehe), atau mencuci piring ketimbang nyetrika. Apalagi kalo liat tumpukan pakaian yang sama sekali tidak rapi, amburadul di dalam lemari, semangat nyetrika yang sempat mampir sejenak langsung segera mengambil langkah seribu.

Aku menyetrika setiap hari, setiap pagi tepatnya, dan hanya menyetrika baju kantor yang akan dipakai pada hari tersebut. Ribet ya? Iya kalo pas pagi itu listrik gak mati. Iya kalo pas pagi itu aku gak bangun kesiangan. Iya kalo pas pagi itu aku sehat2 saja. Aku tau ribet dan malah tidak praktis, tapi aku sendiri malas nyetrika langsung banyak tumplek blek... Ahh, sakit punggungnya rasanya sudah bercokol duluan bahkan sebelum setrikanya dicolokin ke listrik.

Seandainya, seandainya ada yang bisa terjadi hanya dengan berkhayal dan tanpa harus melakukan sesuatu, maka pada detik ini aku sedang berkhayal tentang satu hal. Aku ingin segera mengeluarkan semua pakaian dari lemari, menumpuknya pada satu tempat di dalam rumah dimana sudah ada satu orang yang sudah siap untuk menyetrikanya. Dan orang itu harus bisa menyetrika minimal serapi diriku. Aku bayar deh... Hanya untuk sekali setrika menghabiskan semua pakaian. Boleh dicicil dalam beberapa hari, sampai semuanya rapi tersusun dalam lemari dan tidak ada pakaian kusut tersisa satu pun. Jika semuanya sudah rapi, maka setelahnya aku akan menghandle sendiri dengan senang hati. Aku bisa menyetrika seminggu sekali untuk pakaian2 yang dicuci pada minggu itu, tentu saja bebannya akan lebih sedikit kan... (kalo gak males, hehehe...)

Lalu apa masalahnya Wee? Toh khayalanmu tadi bukan sesuatu yang mustahil bukan? Benar sekali... Masalahnya yang membuatnya hampir mustahil adalah diriku sendiri, kemalasanku nyari2 orang buat nyetrika, juga kepercayaanku yang sulit dibeli. Berdasarkan pengalamanku, adalah susaaaaaah sekali menemukan orang yang bisa menyetrika dengan baik, dalam artian hasilnya rapi dan wangi sesuai standarku. Ahh, coba disini ada Yuk Mul yang biasa nyuciin dan nyetrika di rumah ibuku, aku suka sama hasil setrikaannya.

---

Jeda sejenak dari mengetik sambil mengomel dalam hati. Tiba2 aku kesal karena kenyamananku terganggu. Apalagi pengganggu nomor satu yang paling bisa sukses merusak mood secara tiba2, ASAP ROKOK. Ada orang yang tiba2 duduk tak jauh dari tempat dudukku dan merokok. Jika saja manusia dibolehkan mengumpat... %^#$@#%##$#%^$$#%%&()&&%$%@@

---

Tuh kan, jadi gak mood lagi nerusin cerita tentang setrikaan. Tapi pokoknya harus ada endingnya (idih, lagi2 ribet sendiri kamu Wee). Intinya adalah aku gak suka nyetrika, tapi aku juga lebih gak suka lagi nyuruh orang nyetrika tapi hasilnya gak rapi. Kayak pengalaman salah satu teman kantor yang biasa nyetrika sendiri tapi berhubung sedang hamil dan lemes akhirnya minta tolong orang yang nyetrikain dan hasilnya mengecewakan.

Mau minta tolong disetrikain sama Bude di rumah, kasian euy, setrikaannya banyak, pasti capek. Mungkin solusinya adalah aku harus mulai menyingkirkan rasa malas lalu mulai nyetrika sedikit demi sedikit. Tapi... pasti punggungku bakal sakit banget setelahnya (tuh kan, tapi lagi). Ahh, nyeritainnya aja udah bikin capek, apalagi kalo benar2 nyetrika.

Solusi berikutnya adalah mengganti setrika biasa dengan setrika uap, siapa tau dengan begitu pekerjaan menyetrika bisa jadi lebih ringan dan menghemat tenaga. Toh aku gak bisa selamanya nyetrika setiap pagi. Kalo aku masih single mungkin waktuku di pagi hari masih bisa dicuri, lah ini aku sudah berumahtangga, waktu pagi hariku mahal harganya untuk dibuang dengan mudahnya, apalagi untuk sesuatu yang sebenarnya bisa diefisienkan.

Rabu, 09 Mei 2012

-86- Tak Sekedar Insya Allah

Beberapa hari yang lalu saya membaca artikel Mendidik Anak ala Rasulullah SAW di situs http://virouz007.wordpress.com/2010/07/11/mendidik-anak-ala-rasulullah-saw/. Banyak artikel sejenis yang mungkin dengan mudah bisa kita temukan di internet, semudah membacanya. Padahal prakteknya, ahhh kita hanya akan banyak mengelus dada, mungkin menyalahkan diri sendiri atas kekurangmampuan kita menjadi tauladan baik yang paling nyata bagi anak2 kita.

Kebetulan sekarang saya sedang tidak mood menyalahkan diri sendiri ataupun dengan sukarela menonstabilkan emosi karena membahas soal ini. Saya lalu terpaku pada satu point dalam link di atas...


Saya ingat dulu pada hari ulang tahun saya, ibu saya mengucapkan selamat ulang tahun trus bilang, "Kadonya nyusul ya...". Eh, cuma lewat beberapa detik bapak saya langsung ngomel. Saya lupa gimana persisnya omelan bapak. Intinya bapak ngomelin ibu dan bilang lebih baik jangan janji2 kayak gitu daripada nanti gak bisa nepatin. Kalo mau ngasih kado ya kasih aja, gak perlu bilang2 dulu alias janji duluan. Ibu pun lalu menarik kembali kata2nya tadi sambil minta maaf. Hihihi, lucu dan sederhana, tapi berbekas, dan bekasnya melekat erat dengan sempurna di sini, di kepala dan dada saya, sampai sekarang.

"Dari Abi Hurairah Radhiallahuanhu, dari Nabi s.a.w. bersabda : Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga yaitu apabila dia bercakap dia berbohong dan apabila berjanji dia ingkar dan apabila diamanahkan dia khianat."(Riwayat Al-Imam Al-Bukhari)

Hadist di atas mungkin sudah familiar sekali bagi sebagian besar muslim. Munafik... salah satu cirinya adalah ingkar janji. Kok kayaknya frase "ingkar janji" benar2 terasa kejam ya, jelek, dan agak2 gimana gitu. Seolah2 melakukannya benar2 suatu kejahatan yang tidak termaafkan, itu kalau ditinjau dari segi pembahasaan. Padahal tidak sedikit dari kita yang sangat sering melakukannya, menyepelekan janji yang menggunakan nama Allah. Sadarkah kita bahwa Insya Allah yang kita ucapkan seringkali adalah sebuah alasan untuk tidak memenuhi janji. Ya nggak, ya nggak? :p

Pernah denger gak, kalimat Insya Allah yang dibalas dengan kalimat, "Ini Insya Allah diajak makan apa Insya Allah disuruh kerja?"... Hehehe, sebegitu tidak dipercayanya sebuah kalimat Insya Allah, padahal kan sebagai muslim harusnya kita mengerti bahwa ketika sudah mengucapkan Insya Allah berarti kita akan berusaha sebisa mungkin memenuhi janji tersebut.

“Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungjawabannya.” (Al-Isra`: 34)

Jadi intinya adalah jangan pernah menyepelekan janji. Janji adalah hutang dan hutang itu harus dibayar. Dalam semua lini kehidupan janji dan hutang tidak terpisahkan. Misalkan dalam jual beli, penuhilah akadnya dan jangan diingkari. Misalkan dalam pernikahan, akadnya bukan lagi antar manusia, melainkan dengan Allah, maka kita tahu sendiri bagaimana kekuatannya. Misalkan dalam pinjam meminjam, berhutang uang dan berjanji akan dibayar, maka penuhilah janji itu sebisa mungkin. Yang banyak terjadi adalah orang lebih suka berhutang tapi tidak suka membayar, daripada mendahulukan membayar hutang, lebih baik mendahulukan kepentingan untuk bersenang2. Ah, soal ini kalau dibahas bisa sampai panjaaaannngggg... Naudzubillah deh, kadang kita sendiri yang sebenarnya sudah melabeli diri kita sebagai orang munafik.

Maka dari itu, seandainya oh seandainya semua orang di dunia ini mengerti bagaimana pentingnya memenuhi janji dalam islam, mungkin tidak akan pernah ada penipuan dalam bisnis ataupun khianat dalam pernikahan. Damai sekali dunia...

Kembali pada alur cerita yang pertama. Kita sebagai manusia normal pasti tidak akan suka pada orang yang suka ingkar janji. Maka dari itu, mari ajarkan 'menepati janji' sedini mungkin pada anak2 kita, supaya tidak muncul generasi2 tukang mungkir dari rumah kita. Jangan pernah berjanji jika kita tau bahwa kita tidak akan atau tidak mau menepati. Hati-hati kecil itu pasti akan kecewa, dan yang sangat dikhawatirkan adalah jika kekecewaan itu ternyata (tidak sengaja) mengendap dalam sanubarinya. Ujung2nya ketika besar mereka juga dengan sendirinya meniru ingkar. Mari mulai dari diri sendiri, berusaha semaksimal mungkin menjadikan diri sebagai contoh dan tauladan baik yang paling nyata. Sisanya serahkan pada Allah. Bismillah... :)