Tampilkan postingan dengan label Unimportant Opinion. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Unimportant Opinion. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Januari 2013

-105- Belajar Ikhlas Yuk!

Teman-teman pernah mendengar Survei Perilaku Anti Korupsi?
Emang itu survei apaan Wee? Maksudnya gimana ya?
Hmm, kalau teman-teman gak tau, saya tetap gak mau bahas kerjaan ah. *idih, kok saya kayak lebay gitu ya, padahal gak ada juga yang nanya*. Saya cuma pengen ngasihtau, bahwa salah satu indikator tidak anti korupsi itu adalah adanya keinginan atau harapan dari dalam diri seseorang untuk mendapatkan imbalan atas sesuatu.

Jadi misalnya begini, ketika seseorang mengikuti acara kampanye salah satu calon gubernur, ada nggak harapan yang terbersit dalam hatinya bahwa dia ingin mendapatkan imbalan, mungkin beberapa puluh ribu setelah ikut kampanye tersebut. Nah, jika ternyata ada (walaupun sedikit), berarti ini adalah salah satu indikasi bahwa sebenarnya orang tersebut tidak anti korupsi. Kira-kira begitu. Keinginan semacam itu  sebenarnya lebih berbahaya, karena hati yang seharusnya paling peka untuk menolak malahan berlaku permisif.

Sekarang saya mau sedikit cerita tentang berharap atau harapan. Rasanya wajar saja ya, harus malah, kalau dalam hidup seseorang harus mempunyai harapan. Harapan itulah yang akan menggiring kita untuk melakukan sesuatu sampai ia terwujud. Harapan itu yang membuat kita terus bergerak mendekatinya. Makanya penting sekali supaya harapan yang kita tanamkan dalam hati, atau kita wariskan kepada anak cucu kita berupa sesuatu yang positif. Tapi, kali ini kita tinggalkan dulu harapan yang dimaksud barusan. Kita cerita tentang harapan yang lain, harapan setelah kita melakukan sesuatu (untuk orang lain).

Harapan memang banyak ragamnya. Tak habis huruf menggambarkannya. Harapan yang saya ingin ceritakan di sini adalah harapan yang berupa imbalan. Sadar atau tidak, kita sering mengharapkan imbalan setelah melakukan sesuatu. Entah itu berupa materi ataupun sekedar suatu penghargaan dari orang yang kita bantu. Ketika kita mengerjakan kerjaan kantor yang lebih banyak daripada teman-teman lain misalnya, eh... secara tidak sadar kita berharap supaya mendapat honor lebih banyak juga. Atau ketika kita membantu memperbaiki komputer, kita berharap orang-orang menganggap kita 'lebih' dan berterimakasih kepada kita. Itu sekedar contoh sepele, tapi teman-teman yang sehari-harinya bekerja di lingkungan kantor pasti sangat paham. Sepertinya kita perlu sedikit wisata hati, mencermati kembali tentang ilmu ikhlas.

Saya tidak merasa jadi orang yang paling ikhlas. Hanya ingin mengajak teman-teman merenung kembali tentang ilmu ikhlas yang sudah diajarkan agama kita. Saya ingat rapat pertama kami dengan bos baru di kantor. Rapat yang benar-benar berkesan. Pak Bos bercerita tentang ikhlas, mengingatkan kembali tentang keajaiban ikhlas... dan saya ingin sekali mendokumentasikannya. Biar ceritanya tak hanya mampir ke otak saya, dan otak teman-teman lain yang ikut rapat. Biar teman-teman yang membaca blog ini juga diingatkan kembali, seperti halnya saya yang harus selalu diingatkan. Dan... semoga ini bisa menjadi amal jariah buat Pak Bos, amiinn :)

Iri-irian sama pekerjaan dan penghasilan di kantor... rasanya sudah jadi hal yang wajar ya. Apalagi menyangkut rezeki yang sayangnya seringkali hanya dimaknai dengan berapa rupiah yang bisa masuk ke kantong. Kita lupa, bahwa rezeki tak melulu urusan materi. Kita diberi kesehatan, punya anak-anak yang riang, keluarga lengkap... itu juga bagian dari rezeki. Kita juga lupa bahwa Allah sudah berjanji akan menambah nikmatNya jika kita bersyukur. Intinya, bekerja dengan ikhlas, berharap hanya kepada Allah... dan kita akan mendapatkan lebih dari yang kita bayangkan.

Belajar Ikhlas


Coba lihat ilustrasi di atas. Jika kita punya 1, lalu kita berharap mendapat 10, berapa yang kita peroleh? Ternyata hanya 0,1. Jika kita punya 1, lalu kita berharap mendapat 2, kita akan memperoleh 0,5. Bagaimana jika kita mempunyai 1 dan berharap mendapat setengah saja? Maka kita justru akan memperoleh 2, lebih banyak dari yang kita punya tadi. Dan... betapa ajaibnya jika kita punya 1, lalu kita tidak mengharapkan apapun atas apa yang kita punya tersebut (dalam hal ini berarti kita tidak mengharap imbalan apapun)... maka tak terhingga yang akan kita peroleh. Subhanallah...

Ini murni soal harapan. Sesuatu yang tidak bisa disentuh, hanya ada dalam hati manusia. Ini murni soal syukur, atas apa yang sudah kita peroleh. Kenapa kita sering ragu akan janji Allah? Bukankah Dia berfirman, "Dan jika kamu sekalian bersyukur atas nikmat yang Aku berikan, maka niscaya akan Aku tambah nikmat-Ku untukmu. Dan jika kamu sekalian kufur atas nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku itu sangat pedih." (QS. Ibrahim: 7)

Perhatikan kalimatnya... Jika kita bersyukur, Allah bilang "... maka niscaya akan Aku tambah nikmat-Ku untukmu.". Dan ketika kita kufur, tidak bersyukur, Allah gak bilang akan mengurangi nikmatNya, melainkan Allah bilang... "...azab-Ku itu sangat pedih.". Subhanallah ya... :)

Filosofi sederhananya begini... Anggap saja kita hanya punya sepotong tempe dan sepiring nasi untuk makan siang. Ketika kita bersyukur mengucap alhamdulillah masih ada lauk, maka Allah akan menambah nikmat kita. Bukan dengan cara menambah lauk kita saat itu juga, melainkan dengan perasaan yang begitu nyaman ketika nasi dan tempe masuk ke mulut menuju lambung. Perut pun terasa kenyang. Hati kita rasanya tenang. Tapi coba kalau kita tidak bersyukur. Allah juga tidak akan mengurangi lauk kita saat itu juga, melainkan kita akan makan dengan bersungut-sungut, mungkin sambil mengomel. Tempe dan nasi terasa tidak enak, ketika makan tersedak, kerongkongan sakit, dan perut tidak terasa kenyang sama sekali. Hati gak nyaman... dan itulah semua azab-Nya.

Saya sendiri sering mendapatkan betapa Allah menyayangi saya. Ketika saya benar-benar tidak mengharapkan apapun setelah melakukan suatu kebaikan, justru di lain waktu Allah melimpahi saya dengan nikmat yang membuat saya berdecak kagum, betapa besar karunia Allah. Malahan, ketika saya kufur atau ingin mendapatkan imbalan... Allah kemudian melalui suatu kejadian berhasil membuat saya sadar agar kembali bersyukur. Betapa saya merasa Dia telah menjaga saya dari kekufuran yang semakin parah. Tinggal sayanya yang harus pintar berpikir, mencerna setiap ketentuan Allah atas hidup saya.

Allah lah yang menggenggam kehidupan kita. Hanya kepadaNya kita seharusnya berharap. Tentu kita percaya bahwa Dia tidak akan meninggalkan kita, gak akan nyuekin usaha keras kita, gak akan mengacuhkan doa-doa kita. Semoga kita selalu ikhlas dalam bekerja, juga dalam menolong sesama... lalu serahkan sisanya kepada Allah.

Etapi, trus apa hubungannya sama anti korupsi yang saya tulis di awal tadi ya... Ah, cuma prolog kok ^_____^

Kamis, 03 Januari 2013

-104- Sekelumit Tentang Hantaran...

Ceritanya Minggu lalu adik sepupu suami saya sudah dilamar. Kebetulan rombongan calon suaminya yang mau ngelamar nginepnya di rumah mertua saya. Saya melihat-lihat sepintas lalu barang-barang bawaan mereka, hantaran lah namanya mungkin ya... Saya kan belum pernah benar-benar menyaksikan prosesi lamaran, jadinya kemarin saya berasa jadi orang paling kepo sejagat raya.

Jadi ingat dulu barang-barang hantaran waktu saya nikah. Barang-barang yang sebenarnya saya pilih sendiri dan saya beli sendiri... tapi tentu saja duitnya dari calon suami dong. Namanya juga hantaran. Namun entah kenapa rasa-rasanya kok ada sesuatu yang kurang nyess gitu. Kalau diibaratkan melakukan suatu kegiatan, semua jadinya terasa seperti sekedar sebuah rutinitas yang tidak meninggalkan kesan, agak hambar. Mungkin ada banyak dari kita yang melakukan itu, tanpa kita sengaja. Kita terwarnai dengan adat dan kebiasaan yang sama sekali tidak kita rasakan benar-benar hakikatnya.

Calon suami adik sepupu kami itu membawa beberapa kotak cantik berisi alat-alat kosmetik, sandal, baju tidur sejenis lingerie (ehemm... hihihihi), trus apa lagi ya... berhubung saya gak bongkar-bongkar, jadi gak terlalu jelas. Yang pasti ada sepasang cincin. Ya, mereka memang pake acara tukar cincin, buat yang perempuan cincin emas putih, dan yang laki-laki cincin dari perak.

Trus apa hubungannya sama kamu Wee?

Gak ada sih. Saya hanya jadi ingat pengalaman prosesi hantaran dalam pernikahan saya dulu. Saya ingin sekali memberitahu teman-teman yang belum pernah menjalaninya a.k.a belum pernah menikah, betapa banyak hal yang kita lakukan itu begitu tidak perlu (catat ya, ini menurut saya). Tidak lain tujuannya hanya supaya teman-teman tidak membuang-buang uang hanya untuk hal yang kurang penting dan malahan tidak praktis. Supaya kalian nanti bisa benar-benar mempersiapkan prosesi pernikahan yang lebih barokah dan terasa sakralnya. Bisa lebih bijak memilah-milah mana adat yang bisa diikuti dan mana yang sebaiknya ditinggalkan.

Kita mulai kilas balik ya... Ketika saya akan menikah, saya mulai merasa dunia berputar-putar. Saya pusing sendiri. Saya bertanya2 ke semua orang (termasuk mbah google) tentang apa-apa saja yang harus dibawa sebagai hantaran. Saya tanya kakak saya... aneh, kok bisa saya gak mau tau barang-barang apa yang didapatkan oleh kakak saya dari suaminya saat dia menikah dulu. Saya gak perhatian amat yak... Kakak saya pun mulai menyebutkan, mulai dari underwear, kosmetik, baju, makanan, trus apa lagi ya... tuh kan saya lupa... Saya tanya ibu saya, apa saja isi hantaran salah satu sepupu saya dulu, dan jawabannya hampir serupa, tapi tetap saja kurang mendetil. Saya lalu bertanya pada mbah google, sebenarnya hantaran itu untuk apa sih hakikatnya, apa saja isinya menurut adat istiadat di tempat saya. Gila... bahkan mengingatnya sekarang pun masih bisa membuat saya pusing...

Di tempat saya, kalau benar-benar mau diikuti, prosesi lamaran itu ribet loh. Barang-barang hantaran-nya banyak banget. Untungnya bapak saya bukan tipikal yang ngikut adat banget, atau yang mesti begini begitu, fleksibel saja. Tapi sayanya yang ribet, karena calon suami saya menyerahkan sepenuhnya kepada saya barang-barang apa yang akan dijadikan hantaran, dan saya sendiri yang diminta menyiapkannya. Yah, seperti kebanyakan yang sering terjadi ketika calon suami bukan orang sedaerah. Mungkin mempertimbangkan jauhnya jarak, juga bahwa toh barang-barang tersebut memang untuk saya, jadi akan lebih baik jika merupakan pilihan saya sendiri, alhasil saya nurut, dan semakin ribet lah saya... Dengan keribetan saya itu, dikombinasikan dengan kefleksibelan bapak saya, ke-gak enak-an ibu saya kalau hantaran ditiadakan, serta jauhnya domisili saya dan calon suami beserta keluarganya, setelah dipilah-pilah akhirnya saya tentukan barang-barang hantaran yang akan dibawa calon suami saya pada saat akad nikah.

Ini dia barang-barang hantarannya (siapa tau ada yang mau menjadikan referensi):
1. Songket.
2. Paket kosmetik, berupa bedak, pelembab, krim malam, body lotion, lipstik, maskara, eye shadow, blush on, dll... pokoknya alat-alat make up deh... trus ditambah parfum.
3. Paket perlengkapan mandi, berupa sabun, sponsnya, shampo, lulur, sabun muka, pasta gigi, dll... jangan lupa handuknya.
4. Bed cover set.
5. Long dress, beberapa jilbab, bahan kebaya dan bahan batik khas Bengkulu.
6. Kain panjang dan kain sarung.
7. Tas kerja, clutch, sandal, tambahin sepatu boleh juga, tapi saya gak pake sepatu.
8. Underwear (beberapa cd dan bra) juga pakaian tidur (untuk yang ini, cari lingerie aja yah... :p)
9. Jam tangan.
10. Paket buah-buahan.
11. Paket sembako, berupa gula, garam, kopi, teh, kecap, dll.
12. Paket alat sholat. ---> tapi trus malah saya jadiin mas kawin, hehehe...

Done! Akhirnya proses menyiapkan barang-barang tersebut selesai juga meskipun harus dengan terengah-engah. Betapa tidak, saya harus berpacu dengan waktu pulang kampung yang tidak lama untuk menyelesaikan semuanya. Setelahnya, saya hanya akan pulkam lagi pada saat acara dilangsungkan. Beberapa barang malah saya beli secara online, saking gak ada waktu buat hunting. Satu masalah selesai.

Berikutnya, saya kembali bingung, bagaimana cara mengemas barang-barang ini? Saya sama sekali tidak sempat berkreasi macam-macam. Dan saat itu pikiran saya mendadak buntu, karena saya sudah harus segera kembali ke tempat kerja saya, jauh di gunung sana. Setelah bertanya-tanya kesana kemari, akhirnya saya menemukan orang yang bisa menghias hantaran. Teman-teman tau kan maksud saya? Itu loh, orang yang bisa bikin songket jadi burung merak, mukena jadi masjid, bed cover jadi kura-kura, dan semua paket-paket barang di atas dikemas dengan cantik kelihatannya. Masalah selesai... Tapi rupanya keribetan saya dan kekurangjernihan saya dalam berpikir pada saat itu, malah mengajarkan banyak hal kepada saya, betapa seharusnya kita tidak harus direpotkan oleh hal-hal semacam itu. Kita (perempuan) hanya butuh menjalani proses menuju pernikahan dengan tenang, dengan mempersiapkan diri sebaik-baiknya.

Jadi, apa saja yang mungkin perlu diperhatikan lagi oleh teman-teman yang hendak melakukan prosesi hantaran?

1.  Hantaran itu sendiri, perlu gak sih?

Saya sempat berpikir begini, ngapain sih mesti ribet-ribet pake hantaran segala? Ya, kalau dari pihak keluarga (orangtua) perempuan setuju untuk gak pake hantaran, atau bisa dikondisikan untuk gak pake gitu-gituan... ya mending gak usah. Seperti salah satu sahabat saya. Kebetulan dia satu daerah dengan saya, satu adat juga... tapi dia bisa mengkondisikan orangtuanya supaya gakpapa gak pake hantaran. Selesai satu perkara :)

Beda halnya dengan saya. Saya pernah bertanya pada ibu saya, bagaimana kalau gak perlu pake hantaran? Yaa, ibu saya sih gak memaksa. Tapi beliau bilang, masa iya gak ada sama sekali yang dibawa walaupun sedikit. Rasanya seperti agak kurang pantas. Saya pun berpikir sama. Lagian, kasian juga orangtua saya kalau kemudian akan dinilai kurang pantas. Toh itu juga salah satu bagian dari kewajiban pihak laki-laki. Masa iya gak ada perjuangannya sama sekali dalam melamar anak orang. Ya nggak sih? Hehehe...

Saya juga sempat berpikir mendingan biar mentahnya saya pegang, trus saya beli sendiri barang-barang yang saya inginkan sebagai hantaran. Gak perlu lagi dibawa pulang kampung (ke rumah orangtua) untuk kemudian dibawa lagi ke tempat domisili saya dan suami. Bayangkan betapa tidak praktisnya ntu barang-barang dibawa bolak-balik. Tapi... kalau memang begitu bukan hantaran dong jadinya ya...

Lalu, ada gak gunanya diadakannya hantaran itu? Tentu saja ada. Tidak saya pungkiri kebanyakan orang akan menilai isi hantaran sebagai suatu bentuk gengsi. Hantaran banyak, harganya mahal-mahal pula, maka bisa diartikan gengsi si pemberi hantaran (keluarga laki-laki) dan penerima (keluarga perempuan) akan jadi naik. Aneh ya? Manusia memang seringkali senang memperhatikan penilaian manusia lain. Saya gak mau bahas ini ah, takut jadi ceramah gak jelas...

Jadi, apa gunanya hantaran itu Wee? Hmm, setidaknya ketika hantaran disampaikan kepada pihak perempuan, keluarga dan orang-orang terdekat yang berkumpul saat akad nikah akan sangat tertarik untuk ikut melihat-lihat. Lalu... setelah acara selesai dengan semangat 45 mereka ikut makan makanan isi hantaran. Katanya berkah kalau makan makanan hantaran, padahal mereka gak tau makanan itu saya sendiri yang beli, qiqiqiqiq...

2. Bijak memilih isi hantaran.

Coba lihat isi hantaran saya... Songketnya masih mentah, belum dijahit dan belum bisa dipake. Dan sampe sekarang belum pernah dipakai sama sekali karena memang saya bukan tipikal yang doyan pake songket kalo ada acara. Mungkin nanti, kalo adik saya nikah, hihihi... Alhasil, agak-agak kurang berguna deh jadinya... sekedar memenuhi kebiasaan bahwa ada songket dalam hantaran. Padahal kan harganya lumayan ya, bisa buat jajan silverqueen banyak... :(

Atau bed cover set, yang sama saja, sampai hari ini belum pernah dipake sama sekali. Wong dapet kado sprei aja banyak banget loh. Buktikan saja nanti ketika teman-teman menikah. Juga bahan batik dan bahan kebaya, sampe hari ini juga belum dijahit. Kebaya putih untuk akad nikah yang sengaja saya buat spesial aja gak kepake. Juga kebaya lain yang sengaja saya jahit buat dipake pas acara... ternyata dipake gak sampe 1 jam. Mubazir kawan... Juga sandal, clutch, benar-benar belum tersentuh. Padahal kalau dihitung semua rupiahnya, ahh... bisa ngasi  makan banyak orang yang kelaparan.

Intinya, bukan berarti saya mau bilang bahwa semua barang-barang hantaran saya gak ada gunanya. Bukan begitu. Ada banyak juga yang berguna, kayak paket kosmetik atau paket peralatan mandi, pasti dipake kan ya... Tapi gak bisa dipungkiri bahwa memang banyak yang ternyata mungkin tidak terlalu berguna. Atau mungkin itu saya aja ya, karena memilih barang dalam kondisi mepet.

Bijaklah memilih barang dan menghabiskan uang, kawan. Rasanya nyesek di dada ketika semua rangkaian acara sudah selesai, lama... lalu melihat barang-barang itu masih teronggok manis. Nyesek di dada, begitu di jalan ke kantor melihat bapak ibu renta mengais rezeki dengan kepayahan. Saya bukan sok humanis, hanya menginginkan teman-teman tidak mengulang kesalahan yang sama seperti saya. Bukan nyuruh saving uang teman-teman, hanya supaya Anda memilih barang dengan bijak.

3. Hias hantaran dengan benar.

Nah, teman-teman jangan seperti saya. Dulu saya searching di google cara menghias hantaran khas Sumatera Selatan. Bagus-bagus sekali memang, songket dijadikan merak, mukena dijadikan masjid, selimut dijadiin kura-kura, baju-baju dijadikan kucing, kebaya dijadikan putri, kain-kain dijadikan kipas... pokoknya cantik deh. Saya juga lihat foto hasilnya di tempat dimana saya menyerahkan barang-barang hantaran untuk dipercantik.

Barang-barang hantaran harus dibawa ke tempat penghiasan minimal sebulan sebelumnya, soalnya katanya mbaknya gak bisa kalo buru-buru. Mbaknya juga nanya, hantarannya mau diplastikin ato enggak? Berhubung saya tidak punya pilihan lain, dan mengingat waktu yang masih lama dan khawatir berdebu, saya pun mengiyakan untuk dikasi plastik. Alhasil, cantiknya kurang kelihatan deh... :(

 Ini nih beberapa hantaran saya. Cantiknya jadi gak kelihatan.
Maaf ya, saya gak punya foto hantaran yang terlihat jelas.


Dan yang lebih parah lagi... hiks hiks, barang-barang hantaran itu malah jadi rusak. Untuk menyulap semuanya menjadi cantik, ternyata si mbak tidak hanya menggunakan jahit jelujur, melainkan pake lem juga. Entah lem apa yang dia gunakan, ngilanginnya masya Allah susahnya euy... Dia udah bilang dari awal sih, bahwa gak mungkin barang-barang itu akan sama seperti semula, tapi juga gak akan rusak karena lem yang dia gunakan cukup dikasi air, langsung lepas. Kenyataannya? Hiks hiks, saya sedih melihat beberapa barang yang masih terdapat noda lem.

Sayang ya? Udah beli barang mahal-mahal, bayar jasa hias hantaran juga mahal, ehh... barangnya jadi cacat. Coba kalau gak perlu digitu-gituin. Cukup pake kotak-kotak hantaran yang banyak dijual saja, kotaknya cantik-cantik, tertutup jadi gak kena debu dan barang juga gak rusak.Malahan kalau mau lebih hemat, kotak-kotak itu bisa sekedar disewa, gak perlu beli. Aman kan? Ahh, seandainya waktu itu saya punya waktu luang. Maka, bijaklah kawan... jangan sampai menyesal kemudian.

Tuh, coba kalo pake kotak kayak gini, tetap cantik kan?
Gambar dipinjam dari sini.
 

4. Ternyata, masalah rasa tak bisa diabaikan...

Mungkin banyak teman-teman yang sama seperti saya. Berhubung calon suami jauh, jadinya pengantin perempuan sendiri yang menyiapkan dan memilih barang-barang hantaran. Malahan calon suami saya tidak tau sama sekali barang-barang apa yang saya beli. Tapi serius... ternyata semua jadinya kurang menggigit.

Saya sering memakai tas, atau jam tangan, atau jilbab, atau handuk, atau underwear, atau baju tidur, isi hantaran saya dulu. Tapi saya lupa, bahwa yang sebenarnya yang membelikan adalah suami saya, karena duitnya juga dari beliau. Perasaan saya bilang bahwa saya beli sendiri kok... Atau ketika saya beli long dress secara online untuk dimasukkan ke dalam barang-barang hantaran, kemudian ternyata suami saya kurang suka karena membentuk bokong katanya... rasa-rasanya malah saya lupa bahwa sebenarnya baju itu dari suami saya, hanya saja saya yang memilih.

Teman-teman mengerti kan maksud saya?

Saya ingat kakak saya dulu. Tadinya saudara-saudara perempuan suaminya kakak saya mengusulkan agar kakak saya sendiri yang memilih dan menyiapkan barang-barang hantaran. Tapi kakak ipar saya a.k.a suami kakak saya gak mau. Dia maunya memberi kejutan gitu. Jadi, masalah seperti ukuran-ukuran baju dll, cukup sodara perempuannya yang menanyakan kepada kakak saya. Kemudian, pihak laki-laki menyiapkan sendiri barang-barang hantaran. Ah, sudah terbayang betapa beda rasanya. Tau kan bagaimana rasanya menerima hadiah yang sama sekali tidak kita tau sebelumnya?

Mungkin memang semua akan ribet kalau kita bikin ribet. Masalah jarak memang seringkali menjadi penghalang. Tapi, kakak saya saja dulu bisa... Ya, mungkin juga karena faktor saudara perempuan kakak ipar saya yang banyak. Jadi, tukang ngurusin hal-hal kayak begitu juga banyak. Tapi tetap saja, memang rasa gak bisa bohong. Alangkah lebih baiknya jika pihak laki-laki bisa menghandle sendiri urusan hantaran itu. Masalah selera, tanyakan saja kepada calon pengantin perempuan, tapi yang memilih tetap pihak laki-laki. Supaya nendang gitu deh rasanya, hehehe...

Kemudian saya berpikir... Ketika nanti anak laki-laki saya akan menikah, dan Allah menganugerahi saya umur panjang, kita akan melakukan bagian kita sendiri ya nak... Kita akan mengambil porsi kita.

Kesimpulannya?

Jauhi kemubaziran!
Jalani dengan santai dan hati yang tenang, insya Allah semua akan terkendali sesuai harapan.
Jangan grasa grusu dan panik sendiri, karena percayalah... ketika kalian lebih dekat dengan pernikahan, mendadak alam bawah sadar kalian akan menjadi kacau balau :)

Kamis, 20 Desember 2012

-103- Suami "Genit"

Tadi saya berjalan-jalan ke sebuah group yang isinya membahas seputar hal-hal yang menyangkut urusan emak-emak, dan anggotanya juga semua emak-emak. Saya membaca sebuah thread tentang seorang emak yang lagi galau, katanya suaminya main belakang dengan wanita lain. Banyak komentar dari emak-emak lain yang ikut berempati dan menasehati untuk benar-benar diselidiki dan dibicarakan lagi baik-baik. Ada komentar yang ikut bercerita bagaimana dulu rumah tangga orangtuanya juga pernah dilanda masalah serupa dan ternyata itu hanya adu domba dari pihak ketiga (sialnya, bapak-ibunya sudah terlanjur perang dunia). Atau komentar yang berempati karena pernah merasakan hal serupa pada dirinya sendiri. Juga ada emak lain yang ikut cerita bahwa dirinya juga sedang galau karena menemukan suaminya menginbox mantannya begini, "Lagi ngapain?". Menurut saya, malah komentar ini yang paling menarik untuk dibahas.

Saya memang hanya silent reader, tapi kemudian lagi-lagi pikiran saya kemana-mana. Saya sering sekali membaca thread serupa tapi tak sama di beberapa group lain. Keluhan para istri yang menurut mereka suaminya "genit". Hmm, saya jadi ingat ingin membuat tulisan tentang adab-adab atau tindakan sehari-hari yang pantas dan tidak pantas dilakukan oleh orang yang sudah menikah. Tentu saja menurut saya berdasarkan rule agama yang saya tau. Tapi nanti dulu lah, kita bahas tentang thread yang tadi saja lah ya... :)

Suami "genit", bagus kali ya kalo dijadikan judul. Ada kesan komersilnya. Agak-agak gimana gitu, padahal secara halus sih seperti mengadu domba, hihihi. Yang jelas banyak sekali saya menemukan curhatan para istri di forum-forum dunia maya yang mengeluhkan tingkah laku suami mereka yang menyakitkan. Kenapa saya bilang menyakitkan? Karena memang para istri itu bilang menyakitkan. Dan tahukah Anda wahai kaum adam, eh salah... wahai para suami... perempuan itu perasaannya halus, pada umumnya kepo banget, secara naluriah mudah menilai suatu tindakan, dan sangat mudah merasa tidak dicintai. Mereka fragile. Itu perempuan secara umum loh, apalagi seorang istri. Kalau perempuan lajang mungkin gak akan sesensitif itu. Kenapa pula sebegitu kepo-nya sama laki-laki, atau sebegitu merasa ingin benar-benar dicintai, lah wong belom jadi siapa-siapanya juga kok. Tapi kalau istri... pasti beda bung, wajar dong kepo, atau pengen ngerasa disayang, wong suaminya sendiri kok. Lagian suaminya juga, kalo gak mau di-kepo-in, gak mau sayang sama istri, masih mau genit-genitan gak jelas, kenapa juga nikah. Ya nggak sih? IMHO ini loh ya...

Balik lagi ke curhatan di atas. Kita bahas tentang komentar yang menurut saya paling menarik itu tadi saja ya. Ceritanya si istri galau karena menemukan suaminya menginbox mantannya begini. "Lagi ngapain?". Trus dia tanya ke suaminya, trus katanya malah suaminya marah. Aneh ya... Menurut saya, marah berarti memang ada sesuatu yang salah. Wajar dong terus istrinya galau dan menduga macem-macem. Memang suaminya keganjenan ini ceritanya. Menginbox "lagi ngapain?" duluan, entah via sms, email, atau chatting memang hanyalah sekedar basa-basi, tidak pantas dilakukan oleh laki-laki yang sudah beristri kepada perempuan yang bukan siapa-siapanya (apalagi sama mantannya)...

Tuh kan, malahan saya membahas tentang hal yang tidak pantas dilakukan oleh orang yang sudah menikah. Padahal kan, saya baru akan membahasnya di tulisan yang lain. Tapi sepertinya kalau saya lanjutkan tulisan ini, ujung-ujungnya akan sangat panjang dan tidak fokus. Baiklah, saya berhenti saja sampai di sini.

Intinya, para istri gak suka kan ya kalau suaminya menurutnya "genit" sama perempuan lain. Nah, sebaliknya suami juga pasti gak suka liat istrinya kegenitan sama laki-laki lain. Emang enak ngedapetin istrinya chat sama mantannya, trus istri mulai duluan nanyain "lagi ngapain?". Apalagi jika obrolan berlanjut semakin gak penting lagi dan gak berbobot sama sekali. Akan cemburu kah si suami? Kalau enggak ya, berarti sepertinya kurang sehat ntu suami. Vice versa... Sebagaimana kita, kira-kira begitu juga apa yang dirasakan pasangan kita. Sepanjang bukan cemburu yang berlebihan, menurut saya memang sepantasnya seorang suami atau istri itu sendiri menjaga kehormatan status yang sedang disandangnya. Tidak akan ada asap kalau tak ada api kan ya? Pasangan gak akan galau dan cemburu gak jelas juga kan kalau kita gak berbuat.

Yuk ah, bikin tulisan lain yang lebih fokus deh. Ini cuma sekedar nasehat buat para suami, karena saya juga istri. Dan kalau itu saya, sekedar inbox "lagi ngapain?" seperti tadi, pasti akan melekat di memori saya sampai berpuluh-puluh tahun kemudian. Apalagi lebih dari itu. Dan saya yakin, kebanyakan istri Anda tidak berbeda dengan saya ^_^

Untuk emak yang tadi curhat, alhamdulillah kemudian dia bilang bahwa dia dan suaminya sudah baikan. Jangan ngambek lama-lama ya mak... Dan semoga emak ybs tidak seperti saya dan kebanyakan emak-emak lain, yang jika mengalaminya akan menyimpan memori seperti itu lama sekali.

Selasa, 16 Oktober 2012

-96- Suamimu Tipe Berapa?

"Aduuhhhh, main futsal aja terus sih, anaknya tuh diurusin!", aku ngomel panjang kali lebar kali tinggi. Gemes tingkat dewa liat tingkah suamiku. Udah siap-siap mau pergi aja dia. Padahal, emak sama anak lagi ribet banget sekarang, mana gak ada yang bantuin. Enak aja si papi mau futsal-an ninggalin aku jungkir balik sendiri di rumah ngurusin anak, mana lantai belum disapu pula...

***

Kira-kira begitulah teman saya bercerita. Tentu saja gaya ceritanya malah membuat saya tertawa lucu. Soalnya dia bercerita dengan intonasi dan mimik wajah yang sama sekali tidak mirip orang yang sedang sebel. Hihihi, dan ceritanya terus berlanjut, bertambah menggelikan.

***

Aku terus ngomel layaknya kereta api, gak pake berenti. Gak berapa lama kemudian, kulihat dia masih di rumah, gak jadi berangkat main futsal.
"Kok, papi gak jadi main futsalnya?", tanyaku.
"Iya, abisnya umi ngomel terus...", jawabnya polos.

***

Hahaha, saya ngakak. Tulisan saya di atas tadi, yang menceritakan kembali ceritanya dulu, sama sekali tidak bisa menggambarkan lucunya gaya teman saya itu ketika ngomong. Ya, saya memang suka sekali mendengarnya cerita. Seru, lucu, dan terbuka. Jadi, gak pake sok rahasia-rahasiaan gitu deh. Kita juga kan males ya kalo dengerin cerita yang kayak masih dipakein cadar. Mending dari awal aja gak usah diceritain. Ya nggak sih?

Loh? Balik lagi ahhh ke jalan yang benar...

Begitulah, teman saya kemudian bercerita tentang betapa payahnya suaminya dalam urusan mengurusi anak. Makein celana anaknya aja gak bisa (apa iya ya?). Kadang-kadang mendingan Mr.Suami gak usah bantuin megang anak deh, soalnya yang ada malah bikin tambah repot, bukannya meringankan pekerjaan. Jadi inget ada teman lain lagi yang pernah bilang bahwa laki-laki kalo ikut ngurus anak malah bikin ribet aja. Eaaaa...

Nah, teman saya yang lucu tadi, dulu juga pernah ngasih info yang entah benar entah tidak. Katanya, tipe suami itu ada dua. Pertama, kalau dia tipe yang sayang sama istrinya, romantis gitu deh, pokoknya istrinya disayang terus, maka dia pasti bisa dibilang gak terlalu bisa ngurus anak. Kedua, kalau dia tipe yang sayang banget sama anak, bisa ngurus anak, biasanya istrinya gak akan disayang. Hmm, waktu si teman bilang gitu, saya sempat membantah, masa iya sih? Dengan sangat percaya diri dia menegaskan begitu dan menyuruh saya membuktikan sendiri nanti kalau saya sudah menikah (waktu itu saya belum menikah).

Kenyataannya, dilihat dari beberapa group sharing para emak-emak, memang pada umumnya para suami tidak terlalu becus dalam urus-mengurus anak atau membantu pekerjaan rumah tangga. Sama seperti teman saya tadi mungkin ya... Tapi ada juga kok yang baik hati, bisa ngurus anak dan suka bantuin kerjaan istrinya di rumah. Ada juga suami yang udah gak mau bantuin kerjaan rumah tangga. Semua mesti istri yang ngurus, padahal istrinya juga bekerja. Istri lagi masak plus beres-beres rumah (lagi ribet pokoknya), suami megang anak dan anaknya mau BAB, eehhh istrinya yang dipanggil, disuruh ngurus anaknya BAB. Mana suaminya gak ada romantis-romantisnya lagi, gak ada sayang-sayangannya sama istri. Aiihh lengkap sudah penderitaan istri...

Akhirnya, berdasarkan  info teman saya tadi, dilanjutkan dengan melihat-lihat dikit kesana kemari, saya mengelompokkan tipe suami menjadi empat tipe, yaitu:


1. Suami yang sayang sama istri, tapi gak terlalu sayang sama anak.
2. Suami yang sayang sama istri dan sayang sama anak.
3. Suami yang kurang sayang sama istri, tapi sayang sama anak.
4. Suami yang kurang sayang sama istri dan kurang sayang sama anak.

Pengelompokan di atas cuma iseng-iseng saja loh ya, tidak ada dasar ilmiah-nya. Tapi bolehlah kalau mau dijadikan kriteria bagi yang sedang memilih calon suami. Paling enak kalo dapet suami tipe dua, x dan y positif, hehehe, tapi amit-amit dah kalo dapet suami tipe empat. Makanya milih yang selektif ya girls...

Dan... saya juga jadi ingin menentukan, suami saya masuk tipe yang mana ya?

Lalu kamu... suamimu tipe berapa? ^___^

Jumat, 28 September 2012

-93- Keep It Simple, Stupid!

Waktu itu kami sekeluarga sedang berada dalam perjalanan, tapi saya lupa-lupa ingat, itu perjalanan mau mudik atau malah habis mudik ya... Ah, whatever. Yang jelas ceritanya kami sedang di dalam mobil trus saya dan anak saya ngomongin tentang kereta api. Kira-kira begini:

Zaim : "Apa tadi Bunda, rel kereta api ya?"
Saya : "Bukan nak, di sini gak ada kereta api ya, kereta api itu adanya di tempat Yai (kakek)."
Zaim : "Kalau ada?"
Saya : "..... tapi gak ada kereta api di sini, nak...." (ini emaknya lagi mikir monoton)
Zaim : "Kalau ada?"
Saya : "..... adanya di tempat Yai...."
Zaim : "Kalau ada, Aim naik..."

Saya langsung merasa oon. Anak kecil aja bisa berpikir sederhana... dan benar. Lah, ini orang dewasa malah rigid dan kaku. Padahal anak hanya menginginkan jawaban yang bisa diterimanya dengan mudah. Jawaban yang positif tentu saja.

***

Di perjalanan yang lain lagi, kami sedang istirahat dan berhenti di salah satu rumah makan. Saya tidak begitu memperhatikan apa yang sedang dilakukan Ayah dan Zaim. Ayah sedang bersandar di sebuah tiang besi melintang semacam pagar. Lalu Zaim menendang pagar tersebut. Maksud hatinya ingin merobohkan pagar. Tentu saja tidak bisa, kokoh begitu. Kalau bisa? "Kalau bisa, Ayah jatuh...", katanya polos.

***

Hari beranjak malam dan kami masih berada dalam perjalanan. Catat ya, hari sudah malam, sekitar jam 19.30. Musik mengalun di dalam mobil.

Zaim : "Ayah, ini magrib?"
Ayah : "Iya, sudah magrib ya..." (ayahnya males ribet ini ceritanya, jadi jawab iya-iya aja)
Zaim : "Kok musiknya gak dimatikan?"
Ayah : ...tersadar, "Oh iya ya, Ayah salah, Ayah lupa ya, kalau magrib kan musiknya dimatikan. Makasih ya sudah diingatkan sama Aim..."

Kami sering sekali ketemu magrib di jalan pada Minggu sore ketika pulang dari rumah Mbah Uti (kalimat saya membuat seolah-olah magrib itu nama orang). Sepanjang jalan biasanya nyetel musik (harusnya nyetel ceramah ya...) dan ketika hampir magrib musik dimatikan. Kadang Zaim protes karena dia masih mau dengerin musik tronton-tronton (lagu Song for Children) favoritnya. Ayah selalu menjelaskan bahwa sudah mau magrib, musik harus dimatikan dan mulai dengerin ngaji menjelang adzan. Ternyata dia selalu ingat...

***

Ah, ini baru tentang satu anak, anak saya. Tentang satu anak ini saja tidak cukup kalimat untuk menceritakan pikiran sederhanya, yang mampu membuat orang dewasa seperti saya harus mengevaluasi diri sendiri, sudahkah saya berpikir secara sederhana dan tidak memperumit masalah?

Saya ingat lagi, ketika itu saya melarang anak saya membuang sampah di jalan melalui jendela mobil. Lain waktu saya sendiri yang melempar tisu ke luar jendela mobil dan anak saya melihatnya sambil bilang "Bunda kok buang ke luar?"

Atau saat anak saya minta susu terus menerus lalu kami katakan bahwa siang makan nasi kalau malam baru minum susu, kayak lagu pok ame ame. Ehh, pas malam dia bertanya, "Ini sudah malam?", "Iya ya, sudah gelap...", jawab saya. "Minum susu...", katanya lagi. Hehehe.... :)

***

Maha Suci Allah yang telah menyuguhkan kepolosan di depan mata, untuk diresapi lagi maknanya. Kenapa semakin bertambah usia kita, semakin kita kehilangan kejujuran dan kesederhanaan dalam berpikir. Kenapa semakin besar tubuh kita, semakin kita kehilangan konsistensi. Kenapa semakin luas interaksi kita, semakin rumit kita dalam menanggapi.

Saya hanya ingin berpikir sederhana, agar saya juga dapat memaknai semua hal yang sederhana dengan luas. Saya ingin belajar dari seorang anak kecil, yang bisa langsung tertawa setelah terjatuh, yang bisa melupakan setelah bertengkar, yang bisa terlihat biasa saja setelah menangis, yang bisa kembali mencium setelah bersalah. Siapa yang tak luluh coba?

Ya, sederhana saja, tak perlu pelik karena saya juga pasti akan berakhir dengan sederhana.

(maaf ya, judulnya gak nyambung, tadinya saya mau nulis tentang prinsip KISS, eh malah...) :)

Selasa, 28 Agustus 2012

-92- Tentang Statistik Yang Sederhana

Setiap kali saya melihat memeriksa statistik blog saya, dari dulu sampai sekarang hal pertama yang langsung saya simpulkan tidak pernah berubah. Dari sejak pertama kalinya saya ngerti gimana caranya melihat statistik blog (meskipun hanya secara sederhana), sampai sekarang ketika saya tidak lagi peduli pada berapa pagerank yang berhasil saya capai.

Kesimpulan Nomor 1. Melulu tentang SEX dan SEKS

Lihat saja baris pertama di bawah judul widget Popular Posts di samping, pasti selalu dihuni postingan yang itu. Sebenarnya sejak awal juga tidak ada ekspektasi berlebihan dengan mengharapkan akan mendapatkan kenyataan bahwa postingan yang paling banyak diminati atau dicari adalah yang lumayan berbobot (emang ada di sini gituh postingan yang berbobot? hehe...). Saya kecewa? Terus terang saja iya. Ternyata saya bisa benar-benar meyakinkan diri saya sendiri bahwa internet sehat memang hanyalah bagi sebagian kecil orang.

Terlalu besar godaan bagi orang-orang yang tidak begitu yakin untuk apa mereka menggunakan internet, padahal akses internet begitu mudahnya. Semuanya bisa muncul di depan matamu, di layar komputermu. Sekedar gambar-gambar porno, ahh rasanya semua orang tau bahkan tak ada harganya di dunia maya ini. Saya kadang merasa galau, apa jadinya anak-anak saya nanti jikalau saya tidak mampu membantu mereka membangun suatu penyaring yang harus muncul dari dalam diri mereka sendiri. Apa jadinya anak-anak saya nanti jika saya tidak mampu ikut mengokohkan sisi spiritual mereka.

Saya ingat sejarahnya dulu kenapa saya membuat tulisan yang memasukkan kata 'sex' pada judulnya. Saya lagi semangat-semangatnya ngeblog, lari-lari kesana kemari melihat-lihat blog orang. Catat ya, hanya melihat-lihat, bukan membaca isinya dengan serius. Yang benar-benar saya baca hanyalah bagaimana caranya menambahkan widget ini itu, bagaimana caranya agar blog saya terindeks oleh si mbah google, bagaimana caranya agar saya bisa menggunakan template yang tidak standar untuk blog saya,juga bagaimana menampilkan statistik blog.

Nah, katanya sih, kalau mau meningkatkan traffic blog kamu, maka kamu harus membuat blog yang isinya dicari banyak orang. Lihat saja situs-situs yang isinya porn gitu, pengunjungnya bejibun kan. Dosen web saya dulu juga pernah bilang, ada orang yang dengan ilmu sihir (maksudnya di sini saya oon tentang ilmunya gitu deh...) memasukkan banyak tag seperti "sex" atau "seksi" atau "telanjang" di situs mereka, padahal dalam situsnya sama sekali gak ada konten tentang itu. Supaya apa? Supaya ketika orang-orang mengetikkan kata itu pada mesin pencari (kebetulan orang-orang yang dimaksud jumlahnya banyak), situs mereka bisa muncul di halaman pertama. Sederhananya begitu.

Kebetulan saya mau nulis tentang pengalaman yang sempat membuat saya gamang akan masa depan generasi setelah saya, sekalian saja saya buat judulnya seolah dramatis, "Ada Sex di Depan Mata Anak 4 Tahun". Pasti banyak yang akan terkecoh dan gak sengaja mampir ke blog saya gara-gara itu. Dan kenyataannya memang begitulah. Setelah saya melihat statistiknya, postingan yang itu selalu menjadi satu titik ekstrem, ckckck...

Ini statistik pageviews dari 21 Agustus sampai 28 Agustus. Kalau dibikin chart pasti jelek jadinya.
Mungkin nanti setelah saya membuat postingan kali ini akan ada banyak juga yang terkecoh untuk mendarat di halaman ini. Hhffff, menyedihkan sekali. Saya jadi ingat cerita di blog teman saya, bahwa ada seorang yang sudah S2, beasiswa pula, tapi mindahin gambar dari satu dokumen ke dokumen lain saja tidak bisa, koleksi porn bergiga-giga. Hadehhhhh.........

Kesimpulan Nomor 2. Gak ada komentar bukan berarti gak ada yang baca. Jadi hati-hati dengan tulisanmu.

Seringkali saya kalau nulis di blog suka-suka saja, gak terlalu mikirin siapa yang baca. Apalagi kalau gak ada komentar, berarti setidaknya kan gak ada kontroversi. Toh saya nulis juga tujuannya bukan supaya ada yang baca. Saya nulis karena saya kepingin nulis, tapi bukan di atas diary yang digembok layaknya zaman sekolah dulu.

Suatu ketika saat sedang chat dengan seorang teman, dia menulis ulang kata-kata di salah satu postingan dalam blog saya. Saya agak takjub lalu bertanya, kok kayaknya saya pernah dengar kata-kata itu. Dia pun bilang bahwa itu kata-kata saya sendiri. Saya tanya lagi kok kamu bisa tau. Dia pun bilang bahwa dia sudah mensubscribe blog saya, dalam artian dia selalu mengikuti (membaca) setiap postingan yang ada di blog saya.

Saya memang terlalu menyepelekan statistik sekian readers pada blog saya, karena saya gak yakin apa memang yang subscribe benar-benar akan membaca semuanya. Tapi ketika seorang sahabat bilang bahwa dia membaca postingan saya tentang nyetrika lalu membayangkan betapa berantakannya lemari pakaian saya, saya kok jadi malu ya, hehehe. Atau ketika seorang sahabat yang ketawa karena membaca postingan saya tentang underwear. Atau ketika seorang teman ber'cie-cie' heboh ketika membaca tulisan saya yang agak romantis (maksudnya keganjenan gitu). Juga masih banyak lagi yang menyadarkan saya bahwa ada loh yang baca tulisan saya, dan itu bukan sekedar sepuluh atau dua puluh. Bukan hanya teman-teman saya sendiri, juga orang-orang tersesat yang kebetulan mampir.

Kalau begitu, kenapa tidak menulis yang lebih bermanfaat ya.

Kesimpulan Nomor 3. Teruslah menulis, ada banyak yang kangen dengan tulisanmu.

Hehehe, ini agak kegeeran dikit kan no problemo ya... :D

Soalnya teman-teman saya sering bilang kangen sama tulisan-tulisan saya ketika sudah lama saya gak posting di blog. Dan itu rasanya tidak berlebihan juga kok. Saya sendiri saja suka ngikutin blog beberapa teman yang suka ngeblog. Ketika sudah lama postingannya gak nambah-nambah, saya juga akan merasa kehilangan, merasa ada yang kurang. Saya akan bertanya-tanya, apakah teman saya itu sedang sibuk, ada cerita apa tentang dirinya, ada perkembangan apa, kemana dia... Saya mengecek blog mereka beberapa kali, sedikit kecewa ketika menemukan tulisan yang itu-itu saja gak nambah-nambah. Kalau ada tulisan baru, pasti dengan semangat 45 akan saya baca.

Mungkin begitu juga dengan teman-teman saya. Ada suatu bentuk kepedulian yang tidak bisa diwujudkan secara nyata karena jarak. Jadi ketika sudah ada kabar, ada sarana memantau perkembangan yang lebih indah untuk dinikmati (melalui tulisan), rasanya, ahh... semua terasa nyata saja :)

Apapun itu, kenyataannya saya merindukan tulisan teman-teman saya, saudara-saudara saya, orang-orang terdekat saya tentang apapun yang terjadi dalam hidup mereka, apapun opini mereka, atau apapun yang mereka gemari. Bisa jadi mereka-pun sama seperti saya.

Kamis, 16 Agustus 2012

-91- Perempuan dan Air Mata

Perempuan mana sih yang tidak pernah menangis di saat usianya sudah tergolong dewasa? Rasanya tak ada. Kalau ada malah saya ingin sekali berguru padanya. Bukankah perempuan secara umum dianugerahi perasaan yang lebih peka ketimbang laki-laki yang lebih banyak menggunakan logika dalam memutar roda hidupnya. Bukankah keluarnya air mata tak melulu urusan sedih, sakit hati, kesal ataupun galau, melainkan juga bahagia, sesal, juga syukur.

Dulu ada seorang teman perempuan yang baru saja menikah, lalu bercerita bahwa kemarin ia menangis, padahal belum juga genap sebulan usia pernikahannya. Masalahnya sepele. "Hanya" karena dia mau masak, trus ditungguin suaminya, trus suaminya komentar yang kira-kira gini, "Bukannya masak itu (itu refers to saya lupa tepatnya apa, hehehe) bukan kayak gitu, tapi diginiin..." - sori jek, gak jelas, tapi pasti yang baca pada ngerti esensinya kemana. Dikomentarin gitu langsung berkaca-kaca deh tu perempuan, lalu keluarlah air matanya. Suaminya bingung dan gelagapan minta maaf. Mungkin sambil berpikir keras, memangnya apa yang salah dengan kalimat saya? "Cuma" gitu doang loh...

Setelah diceritakan kembali mungkin para pendengar juga akan menggunakan kata "HANYA" atau "CUMA" pada komentarnya, pun pendengar perempuan. Tapi sebenarnya esensinya adalah coba pahami perasaan dan emosi yang sedang dilibatkan oleh perempuan tadi dalam dirinya, pada waktu dan kondisi yang persis sama saat cerita terjadi. Saya juga pendengar, dan sempat berpikir spontan, masa sih kayak gitu aja nangis. Dan mungkin si pencerita juga menyadari bahwa orang lain yang mendengar ceritanya pasti akan berkomentar begitu, maka tanpa diminta dia pun langsung menjelaskan kenapa dia menangis.

"Itu hal yang sangat sensitif menurut saya, pada saat-saat itu.", katanya. Coba pikir bukan dengan logika, tapi perasaan. Dia masih sangat baru menjadi istri. Itupun sebelumnya tanpa melewati prosesi pacaran, jalan bareng, atau ngobrol sepanjangan di telepon. Keintimannya dengan suaminya baru saja dimulai. Api semangatnya untuk menjelma menjadi istri paling baik sedunia baru saja dinyalakan, tapi malah api itu seolah ditutupi dengan karung basah. Harga dirinya terinjak, seolah2 suaminya berkata, "Gimana sih, masa gitu aja gak bisa, sini saya ajarin...". Kredibilitasnya seolah dipertanyakan terlalu dini. Atau mungkin secara emosi dia berpikir, "Untung saya mau nikah sama kamu, masak buat kamu, bukannya dihargai malah dicela..." - padahal suaminya bahkan gak terpikir buat mencela, malah menikah dengan istrinya itu sudah membuatnya tak henti bersyukur atas karuniaNya. Ah, perempuan...

Rasanya saya kurang bisa menggambarkan emosi dan sensitifitas si perempuan tadi. Maaf ya... Saya bisa merasakannnya, dulu, bertahun-tahun yang lalu saat mendengar ceritanya, karena saya juga perempuan. Bahkan saya masih ingat ceritanya sampai sekarang, padahal bisa jadi teman perempuan saya itu sudah tidak ingat lagi kejadian tersebut.

Begitulah perempuan. Cerita di atas hanya salah satu contoh kasus. Perempuan itu untuk dipahami perasaannya. Kalaupun tidak bisa secara spontan, cobalah untuk sejenak melibatkan hati, agar mengerti emosi yang sedang dideritanya. Perempuan itu sensitif. Tidak semua perempuan bisa marah-marah ketika kesal. Tidak semua perempuan bisa ngomel gak jelas ketika ada yang tidak sreg di hatinya. Tidak semua perempuan bisa complain ketika merasa cemburu. Tidak semua perempuan bisa meluapkan semua yang tersimpan dalam hatinya. Karena saya juga perempuan, kadang saya berpikir betapa hebatnya seorang perempuan, bisa menampung semua rasa yang tak terkatakan. Perempuan waspadalah, karena dikhawatirkan ruang hatimu tidak begitu kuat untuk menampung semuanya. Simpanlah apa yang harus disimpan, lalu keluarkan sisanya. Semoga cukup kepada Tuhanmu.


####################


Wuihh,,, pegel juga jari membuat tulisan dalam sekali duduk. Pagi ini saya ingin menulis, tapi gak tau mau nulis apa. Saya mencoba salah satu trik menulis.

Coba awali dengan menulis satu kalimat, tentang apapun yang tiba-tiba terlintas dalam pikiranmu atau tentang apapun yang tiba-tiba kamu baca.

Setelah itu lanjutkan, terus, dan terus...

Apa hasilnya? Horeeeeee TERBUKTI, hehehehe...

Saya berhasil membuat satu tulisan yang bahkan tidak saya duga sebelumnya hal apa yang akan saya ceritakan dalam tulisan saya. Kalaupun gak nyambung di awal-awal, it's ok lah... Yang penting hasrat ngeblog hari ini sudah tepenuhi :)




Kamis, 07 Juni 2012

-87- Nyetrika CS Sakit Punggung

Pekerjaan rumah tangga yang sudah dianggap oleh otakku sebagai yang paling menyebalkan adalah MENYETRIKA. Entah kenapa aku masih lebih suka bercapek2 ria nyuci pakaian (tapi pake mesin ya,,, huehehehe), atau mencuci piring ketimbang nyetrika. Apalagi kalo liat tumpukan pakaian yang sama sekali tidak rapi, amburadul di dalam lemari, semangat nyetrika yang sempat mampir sejenak langsung segera mengambil langkah seribu.

Aku menyetrika setiap hari, setiap pagi tepatnya, dan hanya menyetrika baju kantor yang akan dipakai pada hari tersebut. Ribet ya? Iya kalo pas pagi itu listrik gak mati. Iya kalo pas pagi itu aku gak bangun kesiangan. Iya kalo pas pagi itu aku sehat2 saja. Aku tau ribet dan malah tidak praktis, tapi aku sendiri malas nyetrika langsung banyak tumplek blek... Ahh, sakit punggungnya rasanya sudah bercokol duluan bahkan sebelum setrikanya dicolokin ke listrik.

Seandainya, seandainya ada yang bisa terjadi hanya dengan berkhayal dan tanpa harus melakukan sesuatu, maka pada detik ini aku sedang berkhayal tentang satu hal. Aku ingin segera mengeluarkan semua pakaian dari lemari, menumpuknya pada satu tempat di dalam rumah dimana sudah ada satu orang yang sudah siap untuk menyetrikanya. Dan orang itu harus bisa menyetrika minimal serapi diriku. Aku bayar deh... Hanya untuk sekali setrika menghabiskan semua pakaian. Boleh dicicil dalam beberapa hari, sampai semuanya rapi tersusun dalam lemari dan tidak ada pakaian kusut tersisa satu pun. Jika semuanya sudah rapi, maka setelahnya aku akan menghandle sendiri dengan senang hati. Aku bisa menyetrika seminggu sekali untuk pakaian2 yang dicuci pada minggu itu, tentu saja bebannya akan lebih sedikit kan... (kalo gak males, hehehe...)

Lalu apa masalahnya Wee? Toh khayalanmu tadi bukan sesuatu yang mustahil bukan? Benar sekali... Masalahnya yang membuatnya hampir mustahil adalah diriku sendiri, kemalasanku nyari2 orang buat nyetrika, juga kepercayaanku yang sulit dibeli. Berdasarkan pengalamanku, adalah susaaaaaah sekali menemukan orang yang bisa menyetrika dengan baik, dalam artian hasilnya rapi dan wangi sesuai standarku. Ahh, coba disini ada Yuk Mul yang biasa nyuciin dan nyetrika di rumah ibuku, aku suka sama hasil setrikaannya.

---

Jeda sejenak dari mengetik sambil mengomel dalam hati. Tiba2 aku kesal karena kenyamananku terganggu. Apalagi pengganggu nomor satu yang paling bisa sukses merusak mood secara tiba2, ASAP ROKOK. Ada orang yang tiba2 duduk tak jauh dari tempat dudukku dan merokok. Jika saja manusia dibolehkan mengumpat... %^#$@#%##$#%^$$#%%&()&&%$%@@

---

Tuh kan, jadi gak mood lagi nerusin cerita tentang setrikaan. Tapi pokoknya harus ada endingnya (idih, lagi2 ribet sendiri kamu Wee). Intinya adalah aku gak suka nyetrika, tapi aku juga lebih gak suka lagi nyuruh orang nyetrika tapi hasilnya gak rapi. Kayak pengalaman salah satu teman kantor yang biasa nyetrika sendiri tapi berhubung sedang hamil dan lemes akhirnya minta tolong orang yang nyetrikain dan hasilnya mengecewakan.

Mau minta tolong disetrikain sama Bude di rumah, kasian euy, setrikaannya banyak, pasti capek. Mungkin solusinya adalah aku harus mulai menyingkirkan rasa malas lalu mulai nyetrika sedikit demi sedikit. Tapi... pasti punggungku bakal sakit banget setelahnya (tuh kan, tapi lagi). Ahh, nyeritainnya aja udah bikin capek, apalagi kalo benar2 nyetrika.

Solusi berikutnya adalah mengganti setrika biasa dengan setrika uap, siapa tau dengan begitu pekerjaan menyetrika bisa jadi lebih ringan dan menghemat tenaga. Toh aku gak bisa selamanya nyetrika setiap pagi. Kalo aku masih single mungkin waktuku di pagi hari masih bisa dicuri, lah ini aku sudah berumahtangga, waktu pagi hariku mahal harganya untuk dibuang dengan mudahnya, apalagi untuk sesuatu yang sebenarnya bisa diefisienkan.

Jumat, 15 Oktober 2010

-72- Transaksi Berinfaq

Kemarin pagi aku akan keluar dari parkiran sebuah bank. Motorku terhalang motor-motor lain yang melintang semrawut. Kucari abang tukang parkir. Dengan ekor mataku kudapati dia tengah bertransaksi, mencari-cari kembalian untuk seorang bapak yang membayar parkir dengan uang sepuluh ribuan.

Dia merogoh-rogoh tas pinggangnya, mencari-cari dan menghitung hingga sejumlah Rp.9.500. Selesai. Tidak sampai dua menit kemudian dia sudah berdiri di depanku, membantu mengeluarkan motorku, lalu aku bayar dan langsung pergi.

Kejadian itu sangat biasa. Sebiasa kejadian-kejadian nyaris serupa lainnya yang langsung terlintas di pikiranku kala melihat si abang tukang parkir merogoh dan mencari-cari rupiah dalam tasnya. Kejadian yang beberapa kali aku temukan ketika kotak infaq tengah digeserkan di masjid. Kejadian yang (sekali lagi) adalah biasa, tapi terasa sedikit aneh di mataku.

Waktu itu aku shalat tarawih di masjid. Ketika ceramah, kotak infaq digeser melewati para jamaah. Lazimnya, orang-orang akan memasukkan infaq melalui celah kecil di atas kotak, lalu menggesernya kembali ke jamaah lain. Namun seorang ibu bertingkah lain. Dia membuka kotak tersebut, mencari-cari sejumlah nominal untuk kembalian infaq yang dia bayar dengan uang sepuluh ribuan.

Aku tersenyum melihatnya. Lalu aku teringat pada aksi serupa seorang gadis ketika acara galang dana musibah bencana alam beberapa tahun sebelumnya. Sepertinya biasa. Namun aku yakin bahwa bukan hanya aku yang akan tersenyum melihat kejadian seperti itu, lalu berpikir bahwa hal tersebut terlihat aneh.

Plis deh Bu... Apa salahnya kesemua sepuluh ribuan itu diinfaqkan. Atau memang sudah dari sebelumnya siapin aja uang receh untuk infaq. Tapi... Masih mending dia mau infaq Wee. Siapa tau memang tinggal sepuluh ribuan itulah yang dia punya, padahal dia masih harus membeli makanan untuk anaknya. Tapi lagi, sepertinya ibu itu bukan orang tak punya. Idih, infaq aja pelit banget sih. Rrrghhh, malah aku yang rese ini :(

Hmm, seharusnya aku berpikir sama halnya kejadian di tempat parkir. Bukankah bapak itu tidak punya uang receh sama sekali, tapi tetap harus bayar parkir yang cuma 500 perak. Jadi apa salahnya bayar pake sepuluh ribuan. Bikin sebel sih, soalnya jadi ribet, tapi gak salah kan? Iya sih, tapi lagi2 aku berpikir bahwa urusan infaq kan beda. Infaq adalah urusan amal dan pahala, masa pelit amat si... Uppsss...

Ah, sudahlah Wee. Yang penting kalau kamu tidak sayang menghabiskan rupiah untuk barang yang tidak terlalu perlu, kenapa kamu pelit berinfaq? Biarlah kejadian2 itu berlalu, berasa aneh dan tidak lazim. Namun jangan sampai kamu men-judge ini itu gak jelas. Urus saja dirimu sendiri ^^

***

Suatu hari sebuah kotak infaq kembali digeser. Ada lagi yang membukanya dan mencari-cari uang receh. Tapi bukan untuk kembalian, melainkan untuk menukar uangnya yang besar menjadi recehan...

(iseng2 ditemani lilin, dalam gelap malam, listrik mati, air pun mati)

Selasa, 01 Desember 2009

-62- Kucing-Kucing Durhaka

Di rumahku sering berkeliaran makhluk2 kecil berkaki 4. Habitatnya di luar rumah, tapi ketika tuan rumah lengah, mereka akan beringsut mengamankan diri menuju ke dalam, mencari sudut2 untuk bersembunyi. Tak menemukan sudut, mereka mengintai lemari. Abnormal.

Ada 4 ekor kucing yang biasa kulihat di rumah. Yang paling tua adalah seekor induk kucing bernama Hinata. Warnanya abstrak campuran hitam, kuning dan sedikit putih. Tubuhnya kecil, tipe2 pengalah dan sepertinya selalu senang hati untuk dizolimi.

Tiga ekor kucing lainnya adalah kucing jantan yang durhaka. Yang paling tua bernama Item. Warnanya dominan putih dengan sedikit motif hitam. Item adalah anak generasi pertama dari Hinata. Dulu ibuku sempat protes kenapa kucing putih dinamai Item, tapi karena waktu itu masih ada seekor kucing lagi bernama Putih, akhirnya ibu acc deh, hehe. Oiya, meskipun Item adl anak dari Hinata, tampangnya sudah seperti kakek kucing, kumal dan tua. Kerjaannya berantem melulu sih. Dan Item ini adalah kucing durhaka yg pertama. Kebiasaannya merebut makanan induknya, meskipun makanan itu sudah berada di mulut Hinata. Ck ck ck, Hinata pun bersukacita dizolimi seperti itu.

Dua ekor kucing jantan berikutnya adalah anaknya Hinata generasi ketiga. Warnanya didominasi putih dengan sedikit aksen kuning kecoklatan. Nama mereka gak jelas. Meskipun dulu adikku menamai mereka Vini dan Vidi, toh sekarang aku lebih suka memanggil mereka Anak Hinata. Nah, 2 terakhir ini adalah yg paling durhaka. Selain suka menggeram dan merampas makanan induknya, kucing2 yg sudah remaja ini pun masih menyusu pada Hinata, padahal Hinata baru saja melahirkan lagi. Benar2 kucing durhaka, morotin gizi induknya. Gak malu sama badan yg nyaris 2x badan induknya. Tapi anehnya, Hinata lagi2 ikhlas dizolimi. Wah wah...

Sambil menunggu roda 4 yg kan membawaku menuju provinsi sebelah, selesai sudah cerita gak penting tentang makhluk berkaki 4 ini. Makhluk2 yg lucu meskipun penganut kebiasaan incest :)

*from my P1i

Jumat, 14 Agustus 2009

-53- Kendaraan Plat Merah

Seorang anak kuliahan yang sedang libur berencana hendak berkeliling kampung melihat-lihat perkembangan daerah sekitarnya. Dia mencari-cari motor yang biasa digunakannya. Ternyata, motor tersebut sedang dipinjam pamannya. Dia kesal. Lalu ayahnya menganjurkan agar sang anak menggunakan motor dinas ayahnya saja. Anak itu menolak mentah-mentah. "Aku gak mau pake plat merah.", ujarnya sambil berlalu dengan wajah berlipat sepuluh.

Gadis itu berusia dua puluhan, masih mementingkan gaya dalam bergaul. Dia hobi jalan-jalan bersama beberapa temannya. Kalau konvoi menggunakan motor, ahh rasanya gak seru. Mesti pake mobil nih supaya lebih keren. Dia pun mulai belajar nyetir. Meskipun masih terbata-bata, dia mendatangi teman-temannya untuk diajak jalan. Salah seorang teman bertanya, "Kamu beneran dah bisa nyetirnya?". Lalu dengan santainya dia menjawab, "Makanya ni pake mobil dinas bokap, kalo baru belajar mending pake mobil dinas aja, jadi kalo nabrak2 dikit gpp lah. Kalo pake mobil pribadi mah sayang..."

Salah seorang teman mengeluh dan menggerutu, betapa menderitanya tidak punya kendaraan di saat pekerjaan lapangan sedang banyak-banyaknya. Aku hanya menanggapi sekilas, "Bukannya motor dinas kantor ada beberapa. Masa sih gak ada satupun yang bisa dipinjam. Ini kan juga kepentingan dinas...". Bukannya tenang, malah dia semakin dongkol. Lalu dengan ketusnya ia menimpali, "Apaan, kendaraan dinas serasa kendaraan pribadi aja. Padahal dipake juga enggak, pelit banget gak mau minjemin. Huh..."

Tiga paragraf di atas hanyalah menggambarkan secuil fenomena tentang kendaraan plat merah, salah satu barang milik negara yang sering terlihat melintas di jalanan. Beberapa terlihat cantik dan elegan, beberapa terlihat kusam, kotor, bising, dan tak terawat bak bus kota yang tak lagi layak jalan.

Apa sih pentingnya kendaraan dinas? Mengapa negara memberikan fasilitas berupa kendaraan kepada orang-orang tertentu saja? Orang-orang yang mengepalai dinas, kantor, bidang, atau apapun, diberikan fasilitas kendaraan dinas karena memang mobilitas mereka diperlukan. Agar mereka lancar ngantor, lancar ngawasin anak buah, lancar mesti rapat disana sini demi kepentingan negara. UNTUK KEPENTINGAN DINAS. Dalam hal ini kita memang gak bisa terlalu naif. Ada kalanya kadang-kadang ‘tak sengaja’ kendaraan dinas tersebut digunakan untuk kepentingan pribadi. Menurutku gak masalah, selama fungsi yang diharapkan dari adanya kendaraan dinas itu bisa terlaksana dengan baik.

Tidak jarang aku melihat mobil-mobil plat merah berseliweran di jalanan ketika sore hari. Yang nyetir adalah anak-anak usia sekolah yang ingin meneriakkan pada dunia bahwa ia adalah anak pejabat. Kaca jendela dibuka lebar supaya semua orang bisa melihatnya. Musik disko terdengar tidak indah sama sekali dari dalam mobil. Ia berkendara dengan cueknya, meskipun tidak mengantongi SIM. Ahh, polisi juga gak bakalan berani menilang mobil plat merah gini, mungkin begitu pikirnya. Benar-benar menggelikan. Aku sering mikir, katro banget siy ni orang. Disini aja loe berani, jago kandang. Kalau agak ke kota dikit, gak bakal ada yang melirik bro, hehehehh...

Coba Anda baca kembali paragraf kedua di atas. Fenomena ini sangat lazim. Aku sering gemes malihat kebanyakan orang rendah banget sense of belonging-nya terhadap kendaraan dinas yang nyata-nyata di atas kertas dipercayakan kepada mereka. Giliran tandatangan duit operasionalnya aja senangnya bukan main, tapi kendaraannya sendiri dicucipun tidak. Cobalah, sayangi kendaraan dinas Anda sebagaimana Anda menyayangi kendaraan pribadi, niscaya negara ini gak bakalan terlalu rugi.

Nah, untuk kasus teman saya pada paragraf ketiga di atas, bukan satu dua teman yang pernah mengeluhkan "pelitnya" pemegang kendaraan untuk meminjamkan kendaraan dinasnya kepada pegawai lain. Aneh memang. Seandainya kendaraan dipinjam untuk woro wiri gak jelas, maka pemegang kendaraan berhak menolak. Kalau untuk kepentingan dinas? Hmm, jika pemegang kendaraan juga sedang menggunakan untuk kepentingan dinas, sementara kepentingan pemegang dan peminjam tidak bisa dipenuhi sekaligus, maka wajar saja si pemegang menolak. Namun jika kendaraan nganggur, ngetem doang di rumah, apa salahnya kalau digunakan oleh pegawai lain, untuk kepentingan dinas juga kok, iya to??

Yang jelas, satu hal yang perlu diingat, kendaraan plat merah adalah BARANG MILIK NEGARA dan bukan BARANG MILIK PRIBADI. It’s general, not personal...

Selasa, 30 Juni 2009

-49- Underwear Obral

Wahhh, sudah lama banget gak posting. Saking lamanya, blog kesayangan yang tadinya dah punya pr 2, sepertinya sekarang pr-nya tidak terdefinisi. Hiks… tapi gak masalah. Kini aku datang dengan semangat baru, semangat untuk menulis. Buang semua kejenuhan dan kebosanan, uhuyy dramatis sekalleee…

Kali ini aku pengen berbagi sedikit ide, pengalaman, dan pemikiran. Jadi ceritanya beberapa hari lalu aku ke ibukota provinsi (red: aku tugasnya di kabupaten). Mumpung ke kota, sekalian ada yang mau aku beli ahh. Underwear… uppss.

Ada apa dengan underwear? Memangnya di kabupaten gak ada jual underwear? Ya ada lah… di wilayah paling pelosok Indonesia pun rasanya tetep ada yang jual. Masalahnya sekarang bukan pada ada atau tidaknya penjual pakaian dalam, melainkan pada dimana dan bagaimana benda-benda keramat tersebut dijual. Kebetulan aku termasuk tipe2 yang gak pede beli underwear di tempat2 penjualan yang terbuka. Oleh karena itu, aku lebih memilih belanja di mall atau toko2 tertentu yang tertutup (tidak terlalu banyak lalu lalang orang).

Dulu, aku pribadi gak pernah mau beli pakaian dalam (atasan dan bawahan) sendiri. Kalo mau beli, pasti sama ibu, bisa ikut ke tokonya atau sekedar nitip aja. Tapi kan gak selamanya aku ngetem di ketiak ibu. Aku kuliah, bukan satu atau dua bulan, melainkan empat tahun. Dalam kurun waktu selama itu, gak mungkin juga aku hanya beli pakaian dalam ketika sedang pulkam aja. Selain gak mandiri, juga merepotkan diri sendiri alias ribet.

Oke, balik lagi ke penjualan pakaian dalam. Aku sering menemukan pakaian dalam yang dijual layaknya barang2 obralan, dipajang begitu saja di pinggir jalan, dah gitu penjualnya cowo lagi. Benar-benar layaknya menjual sandal-sandal obral, mainan anak, ataupun promosi obat di jalanan. Wew, sempat terlintas dalam pikiranku… emang ada gitu yang mau beli? Hiii, pasti gak laku degh…

Namun, olala… ternyata anggapan selintas tersebut tidak benar sama sekali. Nyatanya, banyak kaum hawa yang mengerumuni penjual underwear murah meriah tersebut. Mereka mengobok2 tumpukan tekstil berwarna warni menarik, memilih-milih, bahkan… pernah kulihat kejadian yang mengagetkan, ketika beberapa ibu-ibu dengan cuek dan pedenya mencoba bra yang mereka rasa cocok. What? Apa aku gak salah liat? Sumpah, kaget banget pas pertama kali liat kejadian kaya gitu. Gak malu ya? Dipake? Dicobain? Dipas2in? Di antara sekian pasang mata (namanya juga pasar), dan yang paling pasti adalah di depan si penjual cowo… Bahkan, lebih parahnya si penjual juga ngasi komen. Ck ck ck… aku yang liatnya aja malu, kok bisa secuek itu yah... It’s really something new 4 me. Atau hanya aku aja yang lebay kali…

Begitulah. Sebuah fenomena yang mungkin biasa bagi beberapa orang, namun luar biasa menurutku. Kejadian yang mungkin tidak aneh bagi banyak orang, namun sempat membuatku tertegun dan geleng2 kepala sampai beberapa lama. Mereka yang terlalu pede dan cuek, atau aku yang terlalu dramatis yah… Hmm…

Sabtu, 23 Mei 2009

-46- Irregular Character *)

HdohHH,, BetE buAngeEDd deGh, Wa kHAnN penGeN jaLan” N sYuuPiNg”, muMpuNG LiBuR, mALaH diSuRu nGanToR, huWAaaHHH...

laPeyyy BaNgeDd Niy, eNakNa mAkaN aP YaHh, bOseeEnN aHH...

BubU doLLoOO aHh, bEsoK kHann mW jaLaN” LaGeEe...

ceNdiRiaNN d rUMah, aTuUuT...

Wedew, cape banget ngetik 4 kalimat di atas. Asli... Waktu yang dibutuhkan buat ngetik 1 kalimat saja dengan rangkaian aksara seperti di atas adalah relatif lebih banyak daripada ngetik biasa. Kebayang gak sih, gimana kalau huruf2 tak beraturan tersebut mesti diketik lewat ponsel? Boro2 mesti ngetik di keypad hape pada umumnya (1 tombol 3 huruf), aku coba ngetik pake hape touchscren yang keyboard-nya onscreen aja susah banget. Benar2 memperlambat...

Begitulah... Jujur saja aku heran setiap melihat teman2 yang betah banget nulis kaya gitu. Contoh yang paling mudah adalah di facebook. Kalau aku perhatikan, tidak sedikit teman2 fb-ku yang sering mengupdate status mereka menggunakan rangkaian huruf tak beraturan tersebut. Info tentang account facebook mereka pun ditulis dengan huruf2 tersebut. Begitukah gaya tulis dan gaya bahasa yang lagi nge-trend di jaman ini? Wew, aku yang katro, yang gak ngerti makna 'keren', atau mereka yang dengan sukarela membuat susah diri sendiri. Hmm...

Aku tidak berhak men-judge, tapi aku berhak berpendapat. Jadi menurutku, irregular character yang digunakan dalam suatu kalimat adalah menyalahi kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar (ehemmm...). Rasanya cukup sudah kita (ehh, aku ding) menzolimi bahasa nenek moyang ini dengan menyingkat "yang" menjadi "yg", "dengan" menjadi "dgn", "untuk" menjadi "utk", atau "hati-hati" menjadi "hati2". Aku juga kalau ngetik sesuatu yang bukan berupa tugas atau surat resmi, pasti pake singkatan, kata2 tidak baku, juga susunan kalimat yang menyalahi kaidah yang benar. Hehe, males kalo bikin tulisan (seperti postingan ini) mesti sesuai kaidah karya ilmiah. *ngeles...

Namun, khusus untuk huruf besar dan huruf kecil... Wahh, aku inget banget guru Ekonomi-ku waktu SMU dulu pernah memarahi beberapa murid yang kalo nulis pake huruf besar dan kecil sekehendak hatinya. Ibu guru bilang, "Kayak gak pernah sekolah aja...". Padahal bukan guru Bahasa Indonesia loh, hehe. Waktu itu aku sangat setuju, masih sekolah sih, jadi masih konsisten dalam menggunakan huruf besar dan kecil. Sekarang? Masih konsisten juga, tapi hanya untuk nulis yang resmi2...

Jadi intinya apa? Bukan apa2, bacanya susyah euy... Aku heran kenapa banyak teman2ku yang ngefans banget sama irregular character tersebut. Aku yang tinggal baca doang aja susah mau baca, apalagi yang nulis. Boro2 status fb-nya mau kukomenin, bacanya aja ogah, males keluar energi lebih, xixi... Yah, apapun itu, rasanya gaul dan keren tidak harus dengan membuat susah diri sendiri, rite?! Setidaknya itu menurutku...

*) Tulisan ini tidak sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Senin, 11 Mei 2009

-43- Money Can't Buy Me Love

"Wee, ada cowo yang nanyain kamu tu…"
"Hah??" – gak pengen tau sama sekali siapa tu cowo.
"Itu… yang rumahnya di depan situ."
"Hmm…" – masih gak minat sama sekali, bahkan cenderung ilfil.
"Iya, dia tu caleg, mungkin umurnya agak jauh di atasmu, tapi kaya raya, punya ini itu, rumahnya bla bla bla……"

Begitulah percakapan selintas antara aku dan ibu kost-ku kira2 sebulan yang lalu. Hfff, mungkin gitu yah kalo ibu2 yang tidak bekerja dan sudah tua, hobinya ngomong. Apa aja diomongin. Tak tahukah beliau bahwa aku ilfil, juga malah jadi takut. Tapi bukan tentang itu yang ingin aku tulis di sini. Aku ingin menggarisbawahi kalimat terakhir ibu kost-ku di atas, yang tidak kutanggapi sama sekali, namun sebenarnya langsung masuk ke dalam pikiranku.

Penting gak sih memperkenalkan seorang cowo kepada seorang cewe dengan membacakan daftar kekayaannya? Seperti dalam kasusku ini, bentuknya tu cowo aja aku gak tau. Kenal juga enggak. Namun, daftar kekayaannya sudah lebih dulu release jauh sebelum namanya disebut. And you know what… sampai detik ini si ibu kost belum pernah sekalipun menyebut nama cowo tersebut. Ada2 saja…

Dua bulan sebelumnya:

Pagi itu aku sedang ngobrol santai dengan ibu kost sembari nungguin jemputan travel ke Bengkulu. Si ibu seperti biasa, cerita apapun yang sedang ada di pikirannya dan pengen dia ungkapkan. Dia menceritakan tentang anak pertamanya yang meninggal dunia 4 bulan yang lalu karena jantung. Bahwa anak perempuannya tersebut sering makan ati karena kelakuan menantunya yang malas, tidak pernah bekerja, de el el, de es te.

Puas cerita tentang anak pertamanya, sang ibu kost beralih cerita tentang anak bungsunya. Anak bungsunya seorang laki2, sudah menikah dan mempunyai 1 orang anak. Istri anaknya tersebut (sebut saja sebagai Sita) merupakan anak bungsu dari 2 bersaudara. Kakaknya tinggal di Kalimantan, menikah dengan seorang pengusaha kaya, dan sudah dikaruniai 1 anak. Ibu kost menceritakan betapa kaya rayanya saudara menantunya tersebut, bagaimana sang kakak sering membantu adik semata wayangnya, serta betapa sayang besannya (ibunya Sita) kepada Sita dan anaknya.

Nah, rupanya bagian dari cerita ibu kost-ku kali ini adalah klimaksnya. Mungkin karena aku tipe2 pendengar yang baik, yang tidak terlalu banyak menimpali namun terkesan menyimak dengan serius (jujur saja… semua hanya atas dasar kesopanan), maka tidak jarang ibu kost memberikan nasihat di sela2 ceritanya. SIlakan disimak nasehat ibu kostku kali ini…

"Maka dari itu, kalo mau cari suami, janganlah cari yang banyak saudara2 dan sanak keluarganya, supaya kita tetep dapet warisan. Kalau sanak saudaranya banyak, boro2 mau dapet, malah jadi ribet sendiri…" *)

*) kalimat persisnya gak kaya gitu, aku hanya sedikit menerjemahkan.

Hahaha, meski aku tak membantah (secarrra… mw ngomong apa coba gw, takut kualat ahh sama orang tua), aku tertawa terbahak2 di dalam hati. Ouw God, plis degh buk… menyimpulkannya jangan kaya gitu dunk. Harusnya aku sebagai anak kemarin sore ini dinasihati agar jangan pernah mengandalkan dan menggantungkan diri pada harta orang tua. Kalau mau kaya raya, usaha sendiri dunk…

Lima menit yang lalu:

Aku kembali berpikir, mungkin skenario hidup yang telah dijalani sang ibu kost, serta lingkungan yang melingkupinya, dengan serta merta telah membuatnya berpikir begitu. Atas dasar rasa tanggungjawab orangtua yang ingin memberikan pelajaran kepada yang lebih muda, ia pun menasehati supaya aku tidak mengalami keadaan buruk seperti yang telah ia alami. But, don’t you know honey… it’s not so simple. Coz money can’t buy me love…

Selasa, 05 Mei 2009

-42- Kuku Kuku Cantik

Sembari ngantri nunggu giliran transaksi di bank, aku ngobrol santai dengan seorang teman kantor. Ketika sedang seru-serunya ngobrol,tanpa sengaja pandanganku tertuju pada suatu bagian tubuh tertentu dari seorang laki-laki tua di sebelah temanku. Hiii, aku langsung bergidik geli, sesuatu itu terlihat panjang meliuk-liuk, melingkar, kasar, keras, serta tidak sedap dipandang. Yeahh... kuku salah satu jempol tangan laki-laki tersebut puanjaaang banget. Kelihatan ribet dan membatasi ruang gerak bagi jari si empunya kuku sendiri.

Laki-laki tersebut duduk di kursi tunggu sambil memegang buku tabungan. Uhh, sayang aku gak punya fotonya. Menurut perkiraanku, kuku laki-laki itu panjangnya sekitar 5 cm-an. Coba bayangkan, bagaimana ribetnya dia memegang buku tabungan dengan kuku sepanjang itu. Lalu pandanganku beralih ke jari-jarinya yang lain. Ooo... ada cincin gede juga. Langsung kulihat wajahnya... hemm, dukun kali yah. *Hahaha, bagian ini gak penting sama sekali...*

Aku spontan memandangi kuku2ku, yang sebelumnya sudah kupotong. Gak yang pendek2 banget, tapi juga gak terlalu panjang. Kebetulan sekali momen ini terjadi. Momen sekian menit tersebut ternyata mampu mengembarakan ingatanku kemana2. Aku ingat akan keputusanku untuk memendekkan kuku2ku yang sebelumnya bertanggai, kaya kuku2 artis gitu degh. Kenapa?? Karena sebelumnya lagi, ketika aku pulang kampung, kakak perempuanku bilang bahwa dia ilfil liat kuku2 panjangku. Dan dia juga bilang... "Tau gak, di setiap kuku itu ada 40 setan...". Hah? Emang iya? Kok aku baru denger yah. Tapi entah kenapa aku yang sering ngeyel kalo dibilangin, waktu itu hanya terdiam, manyun, namun tak mampu berargumen.

Oke, sekarang aku tidak sedang ingin membahas dalil (secara aku gak tau dalilnya), lebih baik aku evaluasi aja. Apa sih gunanya kuku panjang? Mari kita buat daftarnya...
1. Terlihat cantik.
2. Kalo mau ngorek2 apaaa gitu, jadi gampang.
3. Apa lagi yah???

Kuku panjang terlihat cantik? Jawabannya iya... kalau panjangnya masih dalam batas normal, bentuknya oke, dan yang pasti kudu bersih. Emang lebih cantik kalo dibanding kuku yang dipotong habis? Iya menurutku... Tapiiii, tetap tergantung wajah juga sih, hehehe... Pikiran inilah yang pertama kali terlintas di benakku waktu itu, so... entar dulu deh motongnya.

Momen berikutnya adalah ketika aku harus mengiris bawang buat ditumis. Uhh, kuku2 jari yang kiri ngganggu banget siy, jadi ribet ahh. Selanjutnya adalah sewaktu makan di tempat makan lesehan yang lebih sedap kalo makannya pake tangan. Hadoh, kali ini kuku2 jari yang kanan yang bikin lamban gerakanku. Wah wah... kok kejadian kaya gini baru ada ketika aku pulkam aja yah. Ya iyalah... wong di kost-anku aku gak pernah masak dan makan pake tangan. Pantes... Yo wes lah, kukunya dipendekin dikit deh, masih sayang kalo diabisin...

Waktu berlalu, sebenarnya masih ada hal lain yang diribetkan karena kuku panjang ini. Mencoba bertahan, tapi kok kayanya bodoh banget sih Wee. Hiks, kuku panjang juga ternyata bikin susah sms-an di hape slider-ku. Mencet 3 tombol teratas jadi ribet ahh... Cukup. Cukup sudah kebodohanku selama ini. Udah tau bikin susah, tapi kok teteeeppp aja... Hhhh, kalo dipikir2, kenapa manusia itu sering membantah hati nuraninya sendiri yah. Membodohi diri sendiri. Tapi ya sutralah... yang penting sekarang kuku2ku sudah lebih pendek meski gak bisa dipotong sampai habis... sakiiit.

Jadi apa pesan moralnya: Potong. Potong kukumu... supaya kamu yakin bahwa air wudhu tidak terhalang ^_^

Minggu, 19 April 2009

-39- Siapa Yang Paling Berhak?

Gimana yah kalau seorang wanita ingin menikah? Dalam hukum Islam, dalam pernikahan harus ada wali. Wali yang dimaksud adalah wali dari pihak wanita. Lalu siapa wali ini? Yang pertama dan utama adalah ayahnya. Kenapa tidak harus ada wali dari pihak laki-laki? Itu berarti, jika ingin menikahi seorang wanita, laki-laki harus meminta wanita tersebut dari ayahnya. Karena yang paling berhak atas seorang anak perempuan adalah ayahnya... *sori, gak konsisten antara wanita dan perempuan*

Setelah laki-laki berhasil menikahi wanita tersebut, lalu bagaimana sebenarnya peranan pernikahan itu? Hmm, adanya ijab kabul berarti adanya pengesahan atas penyerahan seorang wanita dari ayahnya, kepada laki-laki yang telah sah menjadi suaminya. Apa artinya ini? Artinya wanita tersebut sudah berstatus sebagai istri, wajib menjalankan kewajibannya sebagai istri yang patuh kepada suaminya, dalam batas2 yang tidak bertentangan dengan aturan Islam. Karena yang paling berhak atas seorang istri adalah suaminya...

Rumah tangga pun terbentuk seiring berjalannya pernikahan. Suami-istri saling membutuhkan satu sama lain. Suami berhak atas istrinya, dan istri juga berhak atas suaminya. Namun sang suami masih tetap setia ngurusin keluarganya, terutama ibunya. Ehh, istrinya ngambek, merasa dinomorduakan. Sang istri pengen suaminya ada hanya untuk dirinya. Wah wah, gak boleh gitu, karena yang paling berhak atas seorang anak laki-laki adalah ibunya...

Lalu, bagaimana nasib seorang anak perempuan sekaligus istri tadi? Kapankah dia menjadi yang paling berhak atas diri seseorang? Tenang... Setelah menjadi seorang istri, Insya Allah ia akan memperoleh keturunan yang menjadi buah hatinya. Ini berarti ia telah menjadi seorang ibu, dan seorang ibu adalah yang paling berhak atas anak laki-lakinya...

Bagaimana jika seandainya ia tidak punya anak laki-laki? Berhak atas siapakah ia? Sungguh, beruntunglah Anda (dan saya) menjadi seorang wanita, karena Anda (Insya Allah) akan menjadi ibu. Ridho ibu adalah segala2nya. Karena surga berada di bawah telapak kaki ibu ^_^

Senin, 06 April 2009

-34- The Caffeine & My Lovely Ice

Ngebahas tentang kafein berarti ngebahas tentang kopi. Apa yang ada di benak Anda ketika pertama kali mendengar kata "kopi"? Kalo aku siy, pas denger kata "kopi", kata2 bertautan yang langsung nyangkut di kepalaku adalah "hitam", "pahit", dan "aku gak suka". Pada tingkat kesadaran berikutnya, kata yang nyangkut juga adalah "kafein". Secara umum, auranya langsung negatif (bukan Aura Kasih loh ^_^).

Setelah beberapa saat kemudian, aura negatif berangsur2 berkurang seiring kesadaranku yang mulai pulih. Aku yang dengan sendirinya menciptakan aura negatif tersebut sempat tidak sadar bahwa sebenarnya aku pun adalah konsumen kafein. Yupz, kafein ada pada kopi, dan yang namanya kopi gak mesti berwujud hitam jelek. Nama2 keren seperti Cappuchino, Moccachino, Vanilla Latte, Carrebean yang disematkan pada produk2 Good Day, Indocafe ataupun Nescafe, bukankah juga adalah kopi.

Meskipun aku pengonsumsi produk2 keren varian kopi instan tersebut, aku tetap tidak sudi mengakui bahwa aku penggemar kopi. Hehe, sok2an banged seh gw... Kadang aku merasa aneh dengan diriku sendiri, semua minuman kok kuembat aja yah, kecuali yang ber-genre sirup. Mimunam wajibku adalah air putih yang 1 galonnya bisa kuhabiskan hanya dalam beberapa hari saja. Minuman sehari2ku adalah susu dan sekali2 susu murni. Kalo lagi makan di luar, minuman fave-ku adalah teh manis yang wajib pake es batu, atau softdrink yang juga wajib pake es batu. Then, tiap hari; terutama saat santai; aku wajib mengonsumsi; lagi-lagi; es batu. Trus, gak mungkin kan kalo es batu dimakan gitu aja (mungkinjuga siy...), jadi es batu tersebut akan ditemani oleh kopi2an instan seperti di atas atau sekedar nutrisari. Berhubung aku gak bisa hidup tanpa es batu (dramatis sekalee), jadi bisa dipastikan hampir tiap hari kafein masuk ke tubuhku meskipun jumlahnya sangat kecil.

Then, what is the meaning of "addiction" exactly? Banyak orang bilang bahwa kafein pada kopi bisa bikin kecanduan. So, what about me? Yeah, dengan sepenuhnya sadar kuakui bahwa aku memang sudah kecanduan. Tapi bukan kecanduan kafein melainkan kecanduan es batu, sampai2 orang2 terdekatku bilang bahwa aku bukan peminum, melainkan pemakan es batu, dan melihatku makan es batu adalah layaknya melihat orang kebanyakan makan kerupuk. Mau hari ujan atau sedingin apapun, gak ngaruh. Cz of that, cappuchino ataupun nutrisari bukanlah pemegang peranan penting. Mereka hanya pemain pendukung agar si es batu gak sendirian.

Secara teori, seharusnya aku yang secara otomatis sudah menjadi penikmat kafein akan menjadi pecandu juga. Tapi kok enggak yah... Kalo aku disodorin kopi panas, apapun bentuknya, entah kopi item, kopi plus mocca, atau kopi apapun yang panas2, pasti kutolak, gak minat sedikitpun. Yang dingin juga gitu, kecuali kalo ada es batunya. Jadi, bisakah disimpulkan bahwa dalam kasusku, kecanduan akan kafein bisa terkalahkan oleh cintaku pada es batu?! Hohoho, I think, I hv already had d answer...

Rabu, 01 April 2009

-32- I'm Not A Perfectionist

Berkali-kali aku berpikir, mencoba menggali lebih dalam pandangan beberapa teman tentang aku yang menurut mereka terlalu perfeksionis, berkali-kali juga aku gagal menemukan jawaban yang pas. Jawaban yang kuharap bisa membenarkan anggapan mereka. But what? Tidak terdapat satu alasan pun yang bisa membuatku menerima dengan pikiran terbuka label yang direkatkan padaku itu.

Ketika aku ingin pakaianku match, gak tabrak lari kesana kemari, aku dibilang perfeksionis. Ketika aku tidak ingin terdapat satu kesalahan pun pada tugas kuliahku, aku dicap perfeksionis. Ketika rumahku kinclong dengan barang2 yang tersusun rapi, aku juga dijuluki perfeksionis. Ketika aku ilfil pas ngerasain terdapat butiran2 pasir di atas kasurku, aku dianggap perfeksionis. Dan ketika aku bete ngeliat perabot makan yang masih berminyak, dengan serta merta aku dikategorikan terlalu perfeksionis. Jadi bingung...

Oke, aku bahas poin pertama. Kayanya yang namanya pakaian kudu match, wajar kok. Secara estetika aja lah, misalnya atasan merah menyala dipadukan dengan bawahan yang merah menyala juga, trus dipake siang bolong, aneh gak siy? Hmm, mungkin gak juga yah. Sekarang kan banyak orang2 aneh yang berkeliaran di jalanan. Kalo kaya gitu paling banter juga dikirain P*IP lagi kampanye, atau sengaja pengen jadi umpan, sapa tau ada banteng lepas, hehe.

Poin kedua tentang tugas kuliah. Wah, gak jamannya lagi dibahas neh, sekarang kan jamannya tugas kantor. Yah, namanya juga newbie di dunia perkantoran, jadi paling2 yang gak boleh ada kesalahan adalah minimal di urusan pengetikan. Apalagi kalo bikin buku alias publikasi, satu karakter aja salah atau ada spasi yang agak nyeleneh, boz-ku tahu loh. Boz-ku tipe2 editor yang baik siy... Loh Wee, katanya mbahas masalah perfeksionis, kok malah belok. Hehe, bodo’ ahh...

Next case tentang rumah yang bersih bin rapi. Nah, kalo yang ini bener2 bukan karena perfeksionis, tapi karena kebutuhan naluriah manusia akan kenyamanan. Berhubung aku tipe2 anak rumahan, jadi yang namanya rumah memang harus bersih, barang2nya juga mesti tersusun rapi dan teratur. Lagi2 bukan masalah perfeksionis. Bukankah kalo rapi dan teratur kita sendiri yang diuntungkan. Kalo mau nyari2 barang gak bakalan grasa grusu bongkar sana bongkar sini padahal barangnya cuma sejengkal aja dari kaki. Halah, lebay... Tapi kalo lagi males n gak mood beres2, yah apa boleh buat. Terpaksa berpuas diri dulu dalam kondisi yang agak semrawut :D

Jalan2 di pantai dengan kaki telanjang memang enak, asal jangan pas matahari tepat di atas kepala ajah. Tapi kalo pasirnya terbawa ke rumah, sampai2 lantainya juga pasiran, kayanya gak enak lagi degh jatohnya. Pasti bakal cepat2 disapu ntu pasir. Trus, kalo pasirnya mampir di tempat tidur, hiiii... ilfil lah. Jadi aku rada heran juga kalo ngeliat orang yang bisa dengan nyenyaknya tidur di tempat tidur yang pasiran kaya gitu. Ada debu aja ilfil, palagi ditambah pasir. Coz of that, aku bener2 gak suka kalo tempat tidurku diinjak2, and I think it’s not because I’m a perfectionist,isn’t it?

Case terakhir adalah tentang perabot makan. Hmm, aku benar2 penilai yang baik untuk urusan yang satu ini. Hanya ada tiga hal diantara sekian banyak hal terkait yang ingin aku bahas di sini. Hal pertama adalah tentang gelas yang berminyak, wajarkah? Separah2nya lemak di gelas, paling2 karena santan, itu pun gak seberapa lah. Nah, kalau yang berminyak itu adalah piring, mangkuk, atau wajan... wajar. Namun jadi gak wajar kalau setelah dicuci lemaknya masih nempel. Uppss, jadi ngaco... oke, kembali ke jalan yang benar. Jadi idealnya, gak ada istilah yang namanya gelas itu berlemak. Masalahnya, aku sering banget liat orang yang dengan cueknya naruh gelas di dalam wajan berminyak, atau mangkuk penuh lemak, pas ngeberesin perabot makan yang kotor. Setengah idup ilfilnya liat gituan. Maklum, aku terbiasa saklek dari kecil, jadi gak ada istilahnya gelas dicampuradukkan dengan perabot makan yang lain. Gelas kan buat minum...

Hal kedua adalah tentang masalah cuci piring. Apa siy pengertian dari 'mencuci'. Gak perlu lah buka kamus, anak kecil juga tahu 'nyuci' artinya membikin bersih. Tapi anehnya, sering banget aku nemu perabot2 makan yang katanya sudah dicuci tapi kok masih adaaa aja bekas makanan yang nempel, misalnya bekas nasi yang kering dan mengeras di piring, atau bekas masak apaa gitu di dalam panci. Dalam hal ini, mood makanku akan berkurang, meskipun kalo laper ya tetep tancep gas juga...

Hal ketiga masih tentang cuci mencuci piring. Entah nyuci piringnya di wastafel atau bukan, yang penting menurutku adalah kewajiban meninggalkan tempat cuci piring dalam keadaan bersih, tanpa sedikitpun bekas makanan tersisa. Masalahnya, tidak jarang aku liat orang2 yang dengan cueknya ninggalin gitu aja tempat cuci piring padahal masih banyak banget bekas2 nasi berceceran. Ilfil gak siy...

Hhh, khusus untuk case terakhir ini, benar2 baru aku sadari dan temui sejak meninggalkan rumah menjadi perantau di tahun 2003 lalu. Dan lagi2... menurutku itu bukanlah suatu bentuk dari sifat perfeksionis, melainkan hanya ingin akan sesuatu yang berjalan secara ideal dan semestinya.

CASE CLOSED. Jadi mikir... awalnya kan ingin nulis tentang ke-perfeksionis-an, tapi kok ujung2nya jadi emosi, hehe ^^

Selasa, 31 Maret 2009

-31- Independent Woman

Judul di atas aku comot dari tulisannya Septi tentang cewe mandiri. Tulisan tersebut mengingatkanku akan obrolan dengannya saat makan siang di Solaria, Mega Mall Bengkulu, sembari nungguin hujan yang makin ditunggu malah makin deras. Waktu itu Septi makan kwetiau sedangkan aku pake ayam rica2. Dan apapun makanannya, minumnya es teh manis. Hahaha, gak penting banget siy...

Aku hanya ingin sedikit beropini, opini ringan, santai, dan tidak penting tentang independent woman tersebut. Cewe mandiri... Tidak bisa dipungkiri bahwa tipe cewe yang ini bisa membuat cowo2 mundur teratur coz ngerasa gak dibutuhkan layaknya seorang superhero. Aneh memang. Beberapa cowo prefer ke tipe2 cewe yang rada2 manja. Karena lucu n ngegemesin kali yah :D Eh, balik lagi ke cowo2 yang mundur teratur tadi. Lebih spesifik lagi, tipe cewe mandiri yang dimaksud adalah mandiri secara finansial, dan didukung dengan jenjang pendidikan yang juga tinggi. Komplit dah...

Alur logikaku bilang gini, kalau seseorang itu, baik laki2 maupun perempuan bisa menempuh pendidikan yang setinggi2nya, bagus kan. Tidak secuil pun aku menemukan sesuatu yang buruk dari hal tersebut. Pun ketika seseorang itu bisa mengerjakan sesuatunya sendiri tanpa mengandalkan orang lain, burukkah itu? Tidak sama sekali.

Namun yang berlaku di sini adalah rasa, dan yang namanya rasa gak bisa diukur pake logika. Aku ingat cerita kakakku waktu masih di awal2 pernikahan dulu. Kebetulan kakakku itu termasuk tipe2 cewe mandiri. Anti banget minta tolong ma orang, kecuali kalau sudah sangat2 terpaksa. Nah, ceritanya kakak iparku kan baru tahu bahwa kakakku pembawaannya gitu. Doi maklum, secara kakakku kan anak tua, jadi dah biasa direcokin dan direpotin, terutama olehku. Akhirnya, secara verbal alias berkomunikasi langsung, kakak ipar minta pada kakakku supaya gak pake sungkan untuk mengandalkannya dalam banyak hal. Dia menjelaskan bahwa memang begitulah dalam berumah tangga, bahwa kakakku sudah tidak sendiri lagi dan sudah punya pemimpin, tempat untuk menggantungkan hidupnya. Hehe, terasa lucu... tapi menurutku begitulah seharusnya. Rasa dipercaya, dibutuhkan, diinginkan, dihormati, de el el, de es te yang gak bisa dijelaskan dengan logika, tetap bisa dikomunikasikan dengan baik bersama pasangan.

Ahh, lagi2 tulisanku ngelantur. Jadi apa kesimpulannya?

Jika wanita adalah independent variable, maka wanita adalah X. Lalu pria adalah Y alias dependent variable. Nilai X itu adalah tetap, sedangkan nilai Y adalah tergantung pada variabel X penyusunnya. Jika X itu tersusun atas X, maka Y tersusun atas X, tidak hanya satu X, melainkan bisa dua, tiga, atau empat X. Sigh.....

Kamis, 19 Maret 2009

-30- You Make Me Think*)

Akhwat A
Di balik pembawaannya yang pendiam, ia adalah seorang ambisius, penuh tekad akan sesuatu, dan senantiasa berusaha untuk mewujudkan impiannya. Terkesan individualis tapi menyimpan setiap detil perhatian akan suara2 di sekitarnya. Seolah2 tidak peduli namun ia mendengar. Tidak begitu mengkhawatirkan pandangan orang lain selama ia nyaman dengan aktivitasnya. Tidak suka menjadi pusat perhatian. Pekerja keras dan tidak mudah jatuh cinta. Terkesan tertutup padahal sebenarnya bisa terbuka. Seorang yang teguh memegang prinsip, tidak peduli meski dunia melecehkannya. Yakin akan kemampuan diri sendiri. Senantiasa merekam setiap kebaikan serta kezaliman yang menghampirinya. Mudah tersinggung meski tersimpan.

Akhwat B
Dengan gayanya yang lembut ia menggambarkan bagaimana seorang perempuan seharusnya. Kalem tetapi aktif. Suka membuat rencana serta to do list. Tipe pengayom bagi yang lebih muda, sopan terhadap yang tua, perhatian terhadap sesama. Berkepribadian keras di balik tampilan yang lembut. Rajin. Gampang ilfil pada yang tidak rapi. Agak saklek. Di luar dicap pendiam. Bijaksana. Bagus secara fisik, bagus secara ibadah. Tidak suka bergantung pada orang lain. Tidak pernah menunjukkan kemarahan. Sangat tidak menyukai sesuatu yang bertentangan dengan apa yang ia yakini. Suka membaca Al Quran dan menyukai tipe ikhwan yang bacaan Al Quran-nya bagus. Polos dan tidak mempunyai sisi bad girls.

Akhwat C
Terkesan sebagai akhwat biasa, namun ibadahnya luar biasa. Bukan aktivis di luar tapi hebat di dalam. Tipe teman yang sangat baik. Mudah dihinggapi perasaan bersalah dan sering merasa khawatir akan ketidaknyamanan orang lain terhadapnya. Tipe pesimistis dan senantiasa membutuhkan motivasi dari luar untuk mendongkrak semangatnya. Polos dan naif. Tidak terlalu memperhatikan penampilan. Perasaannya halus. Mudah tertekan. Senantiasa berusaha ada untuk teman2nya. Sangat mudah kagum dan jatuh cinta. Menyukai setiap hubungan pertemanan. Sering underestimate terhadap diri sendiri. Perhatian, sabar, dan tidak pernah bisa marah.

Akhwat D
Termasuk tipe ceriwis. AKtif. Cenderung memaksakan pendapat, pandangan, juga kehendak. Akhwat dengan semangat dakwah tinggi. Mobile. Mempunyai banyak amanah namun agak sedikit 'ember'. Sangat perhatian terhadap teman2nya. Pintar. Tidak menyukai tipe 'anak gaul'. Penasehat yang baik. Tidak menyukai aktivitas semacam 'nongkrong di kantin'. Lucu. Bijak tapi kadang egois. Menyenangkan jika sudah kenal. Sangat tidak menyukai ikhwan yang mengutamakan fisik.

Akhwat E
Kalem, lembut, termasuk pendiam (kalau di luar). Feminin dan juga dewasa. Suka mempelajari sesuatu yang baru. Tipe individualis. Jarang bersosialisasi dengan sekitarnya. Susah untuk menyatakan suatu penolakan. Agak mudah tertekan. Mudah kagum pada ikhwan yang cerdas dan mempunyai suatu keahlian. Termasuk tipe high class.

Akhwat F
Agak sedikit 'kasar' untuk ukuran sukunya. Ceriwis. Polos. Kaya ilmu agamanya. Kadang agak 'pedas' dalam berbicara. Sangat tidak menyukai ikhwah dengan ilmu tanpa amalan. Agak sedikit malas. Cenderung santai. Menyukai tipe ikhwan yang tegas. Suka menulis. Kadang tidak mempedulikan kekesalan orang lain terhadapnya. Enak diajak seru2an.

---

Ya Allah... masih banyak manusia2 lain yang Engkau ciptakan dengan kepribadiannya masing2. Dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Dengan segala baik buruknya. Dengan warna masing2, dengan gaya masing2, juga dengan pandangan masing2.

Seandainya hidup ini adalah puzzle, maka kepingan2nya adalah penggambaran kepribadian manusia. Akan ada sudut dan akan ada yang mengisinya. Akan ada lubang dan akan ada yang menambalnya. Tidak hanya ada segiempat, melainkan ada segitiga, segilima, juga segi2 lain yang tak akan habis bentuk dan rupanya. Semua ada untuk saling melengkapi.
Aku bersyukur kepadaMu... atas aneka ragam pribadi yang telah menghiasi dan memperkaya hidupku...

*) ditulis 1,5 tahun yang lalu