Senin, 11 Mei 2009

-43- Money Can't Buy Me Love

"Wee, ada cowo yang nanyain kamu tu…"
"Hah??" – gak pengen tau sama sekali siapa tu cowo.
"Itu… yang rumahnya di depan situ."
"Hmm…" – masih gak minat sama sekali, bahkan cenderung ilfil.
"Iya, dia tu caleg, mungkin umurnya agak jauh di atasmu, tapi kaya raya, punya ini itu, rumahnya bla bla bla……"

Begitulah percakapan selintas antara aku dan ibu kost-ku kira2 sebulan yang lalu. Hfff, mungkin gitu yah kalo ibu2 yang tidak bekerja dan sudah tua, hobinya ngomong. Apa aja diomongin. Tak tahukah beliau bahwa aku ilfil, juga malah jadi takut. Tapi bukan tentang itu yang ingin aku tulis di sini. Aku ingin menggarisbawahi kalimat terakhir ibu kost-ku di atas, yang tidak kutanggapi sama sekali, namun sebenarnya langsung masuk ke dalam pikiranku.

Penting gak sih memperkenalkan seorang cowo kepada seorang cewe dengan membacakan daftar kekayaannya? Seperti dalam kasusku ini, bentuknya tu cowo aja aku gak tau. Kenal juga enggak. Namun, daftar kekayaannya sudah lebih dulu release jauh sebelum namanya disebut. And you know what… sampai detik ini si ibu kost belum pernah sekalipun menyebut nama cowo tersebut. Ada2 saja…

Dua bulan sebelumnya:

Pagi itu aku sedang ngobrol santai dengan ibu kost sembari nungguin jemputan travel ke Bengkulu. Si ibu seperti biasa, cerita apapun yang sedang ada di pikirannya dan pengen dia ungkapkan. Dia menceritakan tentang anak pertamanya yang meninggal dunia 4 bulan yang lalu karena jantung. Bahwa anak perempuannya tersebut sering makan ati karena kelakuan menantunya yang malas, tidak pernah bekerja, de el el, de es te.

Puas cerita tentang anak pertamanya, sang ibu kost beralih cerita tentang anak bungsunya. Anak bungsunya seorang laki2, sudah menikah dan mempunyai 1 orang anak. Istri anaknya tersebut (sebut saja sebagai Sita) merupakan anak bungsu dari 2 bersaudara. Kakaknya tinggal di Kalimantan, menikah dengan seorang pengusaha kaya, dan sudah dikaruniai 1 anak. Ibu kost menceritakan betapa kaya rayanya saudara menantunya tersebut, bagaimana sang kakak sering membantu adik semata wayangnya, serta betapa sayang besannya (ibunya Sita) kepada Sita dan anaknya.

Nah, rupanya bagian dari cerita ibu kost-ku kali ini adalah klimaksnya. Mungkin karena aku tipe2 pendengar yang baik, yang tidak terlalu banyak menimpali namun terkesan menyimak dengan serius (jujur saja… semua hanya atas dasar kesopanan), maka tidak jarang ibu kost memberikan nasihat di sela2 ceritanya. SIlakan disimak nasehat ibu kostku kali ini…

"Maka dari itu, kalo mau cari suami, janganlah cari yang banyak saudara2 dan sanak keluarganya, supaya kita tetep dapet warisan. Kalau sanak saudaranya banyak, boro2 mau dapet, malah jadi ribet sendiri…" *)

*) kalimat persisnya gak kaya gitu, aku hanya sedikit menerjemahkan.

Hahaha, meski aku tak membantah (secarrra… mw ngomong apa coba gw, takut kualat ahh sama orang tua), aku tertawa terbahak2 di dalam hati. Ouw God, plis degh buk… menyimpulkannya jangan kaya gitu dunk. Harusnya aku sebagai anak kemarin sore ini dinasihati agar jangan pernah mengandalkan dan menggantungkan diri pada harta orang tua. Kalau mau kaya raya, usaha sendiri dunk…

Lima menit yang lalu:

Aku kembali berpikir, mungkin skenario hidup yang telah dijalani sang ibu kost, serta lingkungan yang melingkupinya, dengan serta merta telah membuatnya berpikir begitu. Atas dasar rasa tanggungjawab orangtua yang ingin memberikan pelajaran kepada yang lebih muda, ia pun menasehati supaya aku tidak mengalami keadaan buruk seperti yang telah ia alami. But, don’t you know honey… it’s not so simple. Coz money can’t buy me love…

15 komentar:

  1. bener tuh mba wee.jgn pernah liat orang dari luar nya aj...apalagi buat pendamping hidup harus bagus luar dalem ... :D

    BalasHapus
  2. kekayaan perlu dipertimbangkan, tapi bukan prioritas.....

    yup, kita tukeran link ya...
    linknya udah aku add Mbak....

    BalasHapus
  3. Bagus luar dalem??! Berarti gak hanya dalem, tapi luar juga yah... Siiippp lah... :)

    BalasHapus
  4. Bukan materialistis melainkan realistis, hehe...
    Makasih atas tukeran link-nya :)

    BalasHapus
  5. iya Wee..bagus luar dalem. tapi kalo suruh milih bagus luarnya aja ato bagus dalemnya aja mbak wee milih mana???

    BalasHapus
  6. maunya dua duanya aja mbak, hehe *ngarep mode ON

    BalasHapus
  7. sip dah jgn karena uang cinta kita tergadai

    BalasHapus
  8. Kalau harta tergadai karena cinta gimana tuh? Hehehe...

    BalasHapus
  9. hehehe harus pertimbangkan bobot bibit bebet kali ya?

    BalasHapus
  10. wah kalo 22nya agak susah kali ya???
    tapi berdoa aja deh he..he..
    eh perlu berusaha juga ding..

    BalasHapus
  11. siiiippp lah ^_^

    BalasHapus
  12. kalau cari suami, yang saudaranya buanyak
    yang uangnya buanyak
    yang amalnya buanya

    BalasHapus
  13. Kisah orang lain bisa kita ambil hikmahnya aja wee. Sudah pasti kita punya pedoman dan sikap sendiri. Saya senang membaca sikap wee di atas. Nice posting.

    BalasHapus
  14. akhirnya... mesti diakalin supaya ni komen muncul :D

    BalasHapus
  15. Aku juga suka baca postingan mbak. Keep posting ya mbak ^^

    BalasHapus