Tampilkan postingan dengan label My Job. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Job. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 April 2013

-107- Extra Fooding dan Berita Kematian


Extra fooding di kantor minggu ini. Kok ya kebetulan sekali, sudah beberapa hari ini saya pengen bubur kacang ijo, tapi tiap ke pasar yang sempatnya cuman sore hari, gak nemu kacang ijo yang bagus. Berhubung sudah sore, jadinya toko yang masih buka sudah terbatas...

Eh, tapi jangan salah ya. Kalo biskuit regal yang nongol dikit itu saya bawa sendiri dari rumah. Minumnya juga. Saya agak-agak gimana gitu kalo pake gelas atopun piring di kantor yang saya gak tau nyucinya gimana. Geli... Itu aja piring dan sendok buat kacang ijonya saya siram dulu pake air panas. Hihihi...

Tadinya saya pengen cerita tentang kematian. Efek sampe kantor trus orang-orang heboh bilang bahwa Uje meninggal dunia. Tadi pagi saya gak pake acara mantengin TV dulu sih, jadinya gak tau ada berita itu. Begitu tau, langsung lah saya buka mozilla dan cari informasi. Gak usah jauh-jauh, di fb aja orang-orang banyak yang posting link beritanya.

Trus kok gak jadi mau cerita tentang kematian? Hmm, saya malah jadi sedih kalo cerita tentang itu. Tahun ini saja ada dua keluarga saya yang meninggal, dan... saya gak bisa pulang kampung. Waktu ibu telpon dan bilang bahwa uwak (kakaknya bapak saya) meninggal, sambil nangis pula, praktis saya juga langsung nangis. Kaget... Juga waktu ibu telpon dan bilang bahwa nenek saya yang meninggal, pikiran saya langsung kemana-mana. Suram rasanya. Mau pulang, rasanya kok agak memaksakan diri mengingat waktu itu usia kehamilan saya masih sekian minggu dan masih agak rentan, masih sering berasa capek. Saya ingat mau membelikan nenek saya daster dan belum terealisasikan. Hiks hiks, sedihnya Ya Allah... Saya berdoa banyak sekali untuk nenek dan juga uwak. Mungkin dengan begitu akan lebih berguna buat mereka dibandingkan jika saya hanya menyesali diri, bersedih hati karena jarak yang jauh gak bisa nengok. Hiks... tuh kan saya sedih lagi. Sudah lama sekali gak ketemu nenek dan uwak, eh malah denger kabar mereka berpulang T.T

Beneran saya jadi sedih... Kita cerita tentang bubur kacang ijo saja lah kalau begitu. Bubur kacang ijo kali ini lumayan pas rasanya dibanding beberapa minggu lalu. Tapi tetap saja saya lebih suka bubur kacang ijo buatan sendiri. Saya tau gimana masaknya, dikasi apa aja, juga manisnya yang pas. Saya juga bukan penyuka santan, jadinya di rumah seringan kalo bikin bubur kacang ijo gak pake santan. Biar gak kolesterol juga :)

Cerita apa lagi ya? Kayaknya udah dulu cerita tentang bubur kacang ijonya. Emak-emak di kantor pada cerita tentang ASI. Lebih menarik, hehehe.... Dah dulu ya :)


Rabu, 09 Januari 2013

-105- Belajar Ikhlas Yuk!

Teman-teman pernah mendengar Survei Perilaku Anti Korupsi?
Emang itu survei apaan Wee? Maksudnya gimana ya?
Hmm, kalau teman-teman gak tau, saya tetap gak mau bahas kerjaan ah. *idih, kok saya kayak lebay gitu ya, padahal gak ada juga yang nanya*. Saya cuma pengen ngasihtau, bahwa salah satu indikator tidak anti korupsi itu adalah adanya keinginan atau harapan dari dalam diri seseorang untuk mendapatkan imbalan atas sesuatu.

Jadi misalnya begini, ketika seseorang mengikuti acara kampanye salah satu calon gubernur, ada nggak harapan yang terbersit dalam hatinya bahwa dia ingin mendapatkan imbalan, mungkin beberapa puluh ribu setelah ikut kampanye tersebut. Nah, jika ternyata ada (walaupun sedikit), berarti ini adalah salah satu indikasi bahwa sebenarnya orang tersebut tidak anti korupsi. Kira-kira begitu. Keinginan semacam itu  sebenarnya lebih berbahaya, karena hati yang seharusnya paling peka untuk menolak malahan berlaku permisif.

Sekarang saya mau sedikit cerita tentang berharap atau harapan. Rasanya wajar saja ya, harus malah, kalau dalam hidup seseorang harus mempunyai harapan. Harapan itulah yang akan menggiring kita untuk melakukan sesuatu sampai ia terwujud. Harapan itu yang membuat kita terus bergerak mendekatinya. Makanya penting sekali supaya harapan yang kita tanamkan dalam hati, atau kita wariskan kepada anak cucu kita berupa sesuatu yang positif. Tapi, kali ini kita tinggalkan dulu harapan yang dimaksud barusan. Kita cerita tentang harapan yang lain, harapan setelah kita melakukan sesuatu (untuk orang lain).

Harapan memang banyak ragamnya. Tak habis huruf menggambarkannya. Harapan yang saya ingin ceritakan di sini adalah harapan yang berupa imbalan. Sadar atau tidak, kita sering mengharapkan imbalan setelah melakukan sesuatu. Entah itu berupa materi ataupun sekedar suatu penghargaan dari orang yang kita bantu. Ketika kita mengerjakan kerjaan kantor yang lebih banyak daripada teman-teman lain misalnya, eh... secara tidak sadar kita berharap supaya mendapat honor lebih banyak juga. Atau ketika kita membantu memperbaiki komputer, kita berharap orang-orang menganggap kita 'lebih' dan berterimakasih kepada kita. Itu sekedar contoh sepele, tapi teman-teman yang sehari-harinya bekerja di lingkungan kantor pasti sangat paham. Sepertinya kita perlu sedikit wisata hati, mencermati kembali tentang ilmu ikhlas.

Saya tidak merasa jadi orang yang paling ikhlas. Hanya ingin mengajak teman-teman merenung kembali tentang ilmu ikhlas yang sudah diajarkan agama kita. Saya ingat rapat pertama kami dengan bos baru di kantor. Rapat yang benar-benar berkesan. Pak Bos bercerita tentang ikhlas, mengingatkan kembali tentang keajaiban ikhlas... dan saya ingin sekali mendokumentasikannya. Biar ceritanya tak hanya mampir ke otak saya, dan otak teman-teman lain yang ikut rapat. Biar teman-teman yang membaca blog ini juga diingatkan kembali, seperti halnya saya yang harus selalu diingatkan. Dan... semoga ini bisa menjadi amal jariah buat Pak Bos, amiinn :)

Iri-irian sama pekerjaan dan penghasilan di kantor... rasanya sudah jadi hal yang wajar ya. Apalagi menyangkut rezeki yang sayangnya seringkali hanya dimaknai dengan berapa rupiah yang bisa masuk ke kantong. Kita lupa, bahwa rezeki tak melulu urusan materi. Kita diberi kesehatan, punya anak-anak yang riang, keluarga lengkap... itu juga bagian dari rezeki. Kita juga lupa bahwa Allah sudah berjanji akan menambah nikmatNya jika kita bersyukur. Intinya, bekerja dengan ikhlas, berharap hanya kepada Allah... dan kita akan mendapatkan lebih dari yang kita bayangkan.

Belajar Ikhlas


Coba lihat ilustrasi di atas. Jika kita punya 1, lalu kita berharap mendapat 10, berapa yang kita peroleh? Ternyata hanya 0,1. Jika kita punya 1, lalu kita berharap mendapat 2, kita akan memperoleh 0,5. Bagaimana jika kita mempunyai 1 dan berharap mendapat setengah saja? Maka kita justru akan memperoleh 2, lebih banyak dari yang kita punya tadi. Dan... betapa ajaibnya jika kita punya 1, lalu kita tidak mengharapkan apapun atas apa yang kita punya tersebut (dalam hal ini berarti kita tidak mengharap imbalan apapun)... maka tak terhingga yang akan kita peroleh. Subhanallah...

Ini murni soal harapan. Sesuatu yang tidak bisa disentuh, hanya ada dalam hati manusia. Ini murni soal syukur, atas apa yang sudah kita peroleh. Kenapa kita sering ragu akan janji Allah? Bukankah Dia berfirman, "Dan jika kamu sekalian bersyukur atas nikmat yang Aku berikan, maka niscaya akan Aku tambah nikmat-Ku untukmu. Dan jika kamu sekalian kufur atas nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku itu sangat pedih." (QS. Ibrahim: 7)

Perhatikan kalimatnya... Jika kita bersyukur, Allah bilang "... maka niscaya akan Aku tambah nikmat-Ku untukmu.". Dan ketika kita kufur, tidak bersyukur, Allah gak bilang akan mengurangi nikmatNya, melainkan Allah bilang... "...azab-Ku itu sangat pedih.". Subhanallah ya... :)

Filosofi sederhananya begini... Anggap saja kita hanya punya sepotong tempe dan sepiring nasi untuk makan siang. Ketika kita bersyukur mengucap alhamdulillah masih ada lauk, maka Allah akan menambah nikmat kita. Bukan dengan cara menambah lauk kita saat itu juga, melainkan dengan perasaan yang begitu nyaman ketika nasi dan tempe masuk ke mulut menuju lambung. Perut pun terasa kenyang. Hati kita rasanya tenang. Tapi coba kalau kita tidak bersyukur. Allah juga tidak akan mengurangi lauk kita saat itu juga, melainkan kita akan makan dengan bersungut-sungut, mungkin sambil mengomel. Tempe dan nasi terasa tidak enak, ketika makan tersedak, kerongkongan sakit, dan perut tidak terasa kenyang sama sekali. Hati gak nyaman... dan itulah semua azab-Nya.

Saya sendiri sering mendapatkan betapa Allah menyayangi saya. Ketika saya benar-benar tidak mengharapkan apapun setelah melakukan suatu kebaikan, justru di lain waktu Allah melimpahi saya dengan nikmat yang membuat saya berdecak kagum, betapa besar karunia Allah. Malahan, ketika saya kufur atau ingin mendapatkan imbalan... Allah kemudian melalui suatu kejadian berhasil membuat saya sadar agar kembali bersyukur. Betapa saya merasa Dia telah menjaga saya dari kekufuran yang semakin parah. Tinggal sayanya yang harus pintar berpikir, mencerna setiap ketentuan Allah atas hidup saya.

Allah lah yang menggenggam kehidupan kita. Hanya kepadaNya kita seharusnya berharap. Tentu kita percaya bahwa Dia tidak akan meninggalkan kita, gak akan nyuekin usaha keras kita, gak akan mengacuhkan doa-doa kita. Semoga kita selalu ikhlas dalam bekerja, juga dalam menolong sesama... lalu serahkan sisanya kepada Allah.

Etapi, trus apa hubungannya sama anti korupsi yang saya tulis di awal tadi ya... Ah, cuma prolog kok ^_____^

Senin, 01 Juni 2009

-47- Prosedur Yang Tidak Konsisten Itu Menyebalkan

KP*N... Kantor Pelayanan P************* Negara (edited: byk yg protes sih...). Uhh, rasanya sudah beberapa kali aku mengeluh tentang kantor yang satu ini. Kali ini akan kuabadikan keluh kesahku di rumah maya kesayanganku, sekedar untuk membuatku lega.

Kantor kami merupakan satker (satuan kerja) vertikal yang berada di tingkat kabupaten. Tiap satker dibekali DIPA (Daftar Isian Penggunaan Anggaran) setiap tahunnya. Disitu terinci jumlah dana untuk tiap2 pos pengeluaran sesuai mata anggarannya masing2. Nah, berdasarkan DIPA serta Petunjuk Operasional-nya, suatu satker mengelola keuangannya.

Pernahkah terbayang di benak Anda bagaimana suatu kantor hanya terdiri dari 5 orang (muup degh kalo lebay ^^)... Kepala Kantor, Kasubbag TU, dan 3 orang pada bagian teknis. Salah satu dari 3 orang tersebut adalah aku, yang juga merangkap sebagai bendahara pada tahun ini. Suatu jabatan (benarkah pilihan katanya?), yang sampai detik ini pun belum pernah sekalipun aku mengIYAkannya. Namun apalah daya, sudah di-SK-kan, jadi atas nama tanggungjawab, semua tugas bendahara tetap harus kukerjakan. Gak masalah, asalkan tidak dipersulit.

Sebelum berkeluh kesah, ada baiknya aku memberikan sedikit pengantar sederhana. Jadi, setelah DIPA diterima di awal tahun, satker akan mengajukan UP (Uang Persediaan) yang digunakan untuk keperluan kantor, misalnya sebesar RP.X. SPM (Surat Perintah Membayar) pun dibuat, lalu diajukan ke KP*N. Jika lolos di KPPN, maka KPPN akan mengeluarkan SP2D (Surat Perintah Pencairan Dana). Ini berarti, rekening kantor akan terisi sejumlah RP.X pada tanggal keluarnya SP2D tersebut. Kas mulai terisi.
UP sebesar RP.X tersebut lalu digunakan untuk bayar listrik, telpon, perjalanan dinas, beli ATK, dll sesuai pos yang dianggarkan. Jika UP habis digunakan (atau minimal 75% telah digunakan), maka satker mengajukan GU (Penggantian Uang Persediaan) sejumlah yang telah digunakan. Pengajuan GU ini harus dilengkapi dengan rincian2 pada pos2 mana saja uang tersebut dibelanjakan (sesuai dengan DIPA). Rincian2 tersebut, yang dilengkapi dengan nomor bukti serta tanggal pembayaran setiap transaksi dirinci pada SPTB (Surat Pertanggungjawaban Belanja). SPM dibuat, lalu meluncur lagi ke KP*N. Lolos seleksi, SP2D terbit, dana pun cair. Begitu seterusnya.

Selain GU, ada lagi sifat pembayaran yang disebut LS (Pembayaran Langsung) yang hanya berlaku untuk jenis2 belanja tertentu. Jika pada GU bersifat mengganti UP sehingga dibelanjakan terlebih dahulu baru dipertanggungjawabkan, maka LS sebaliknya. Pada LS, satker membuat SPM yang dilengkapi dokumen pendukung, lalu diajukan ke KP*N. Setelah KP*N menerbitkan SP2D, barulah dana bisa dibelanjakan. Begitulah singkatnya...

Lalu apa yang aku kesalkan? Ketika pertama kali akan mencairkan dana yang sifatnya LS, aku sudah dibuat kesal. Masa siy ngajuin LS, KP*N-nya minta SPTB. Di SPTB kan dirinci tiap detil pengeluaran, nomor bukti, serta tanggal lunas dibayar. Tanggal bayar dan nomor bukti tersebut diambil dari Buku Kas Umum yang mencatat setiap transaksi yang telah dilakukan. Secarraa, duitnya aja blom cair, gimana mau nulis tanggal bayar dan nomor bukti coba? Tapi ya itu, KP*N gak mau nyairin kalo gak ada SPTB, mau protes gimana juga. Alhasil,dibuatlah SPTB... dan bayangkan betapa kacau balaunya SPTB SPTB berikutnya.

Ketika mengajukan GU yang ke-2, KP*N memprotes pembayaran biaya langganan internet yang dibebankan pada "langganan daya dan jasa". Katanya gak boleh dimasukin di "langganan daya dan jasa", melainkan pada "pengadaan ATK,ARK, dll untuk keperluan sehari2". Padahal, di GU sebelumnya ntu internet dah nampang disitu, tapi kok gak diprotes. Bahkan, sudah sejak tahun sebelumnya dia ngetem di "langganan daya dan jasa", kenapa baru sekarang dipermasalahkan?

Keluhan selanjutnya adalah pada GU ke sekian, pada rincian pembayaran honor penyusun rekonsiliasi bulan April-Mei serta honor penyusun laporan form A triwulan 1. Aneh bin ajaib, KP*N menolak istilah honor karena alasan apaaa gitu (gak gitu ngeh...). Plis deh, pembayaran yang sama untuk bulan2 sebelumnya bahkan sudah pernah diajukan, dan duitnya pun sudah keluar. Gak dipermasalahkan tuh. Kenapa kali ini bermasalah? Kok kesannya kayak suka2 org KP*N aja gitu sih...

Huh, udahan dulu ahh ngeluhnya, ntar malah tambah sebel. Kerjaan banyak, orangnya dikit, berarti kan dirangkap2. Jadi bukan cuma itu aja yang harus diurusin. Bukannya mempermudah malah bikin ribet. Okelah kerjaan banyak, sering dikejar deadline, tapi masih mending coz bisa direncanakan. Oke juga kalau salah, gak sesuai prosedur administrasi, memang harus dibenerin. Tapi mbok ya konsisten. Kalo kayak gitu mah tiap mau ngajuin pasti adaaaaa aja salahnya. Ke KP*N bukannya tinggal nyebrang jalan, tapi butuh 2 jam, masa mesti bolak balik hanya gara2 sesuatu yg gak konsisten. Selain itu, mbok ya ramah dikit napa. Kan gak semua orang yang berurusan dengan KP*N adalah orang lama, ada orang2 baru seperti aku yg hanya belajar dari melihat, salah ya wajar, gak perlu pake marah2 kaleee... *untung yang dimarahin yang nganter SPM, bukan aku, hihi

Hff, ibarat orang... karena aku butuh dia, maka aku harus mengikuti semua maunya, meskipun kadang aneh dan gak konsisten. Kalau bukan atas nama mengurusi hajat hidup orang banyak, sori2 aje...

*teriring syukur karena bukan aku yang harus bolak balik KP*N

Rabu, 18 Maret 2009

-28- N P W P

Sudah sebulan ini aku benar2 bersentuhan dengan tugas2 bendahara. Tadinya masih dalam tahap belajar, melihat, mencerna, lalu melakukan. Jabatan yang tadinya mampu membuatku merasa sengsara karena gak ada alasan sama sekali untuk menolaknya, lama kelamaan ternyata mempunyai nilai rasa yang spesial. Nilai rasa yang berwujud pengalaman dan pelajaran hidup.

Menjadi bendahara berarti aku harus benar2 teliti terkait setiap rupiah yang disetujui untuk dikeluarkan. Aku juga harus mempunyai catatan2 yang lengkap mengenai keadaan keuangan terkini, jika tidak ingin kelabakan belakangan. Dan yang pasti, aku mulai menyukainya. Menyukai kebingunganku ketika ngitung duit yang gak pernah klop. Menyukai tarian jariku di atas keyboard ketika menjalankan aplikasi keuangan. Juga menyukai menjadi money manager untuk keuangan pribadiku sendiri.

Thanx to Yuk Meli yang masih bersedia meng-handle aplikasi SAKPA dan Gaji. Thanx so much atas pengertiannya bahwa gak mungkin semua diserahkan padaku, sementara Statistik Distribusi dan Nerwilis pun masih ada di pundak ini. Begitulah, satker 668540 yang hanya diusung oleh 5 orang saja, memang harus gotong royong agar tetap dapat berdiri tegak.

Jadi apa hubungannya dengan 14.698.637.7.327.000? Sudah beberapa kali aku koar2 minta NPWP toko tempat belanja ATK, hotel tempat pelatihan, ataupun rekanan penyedia catering... akhirnya aku punya NPWP juga, hehe... Jadi gak khawatir lagi ketemu orang pajak dan ditanyain, "Sudah punya NPWP belum?" Kyaaaa, garink...

Inget NPWP jadi inget pajak. Sumpah, awalnya aku gak ngerti sama sekali tentang pajak. Aku gak tahu bahwa belanja di atas 1 juta itu kena pajak. Aku gak tahu bahwa besarnya PPN itu adalah nominal dibagi 11. Aku juga gak tahu apa2 soal PPh, entah itu pasal 21,22 atau 23. Yang pasti, aku gak ngeh tentang semua keribetan yang kadang terasa sangat2 njelimet tersebut.

Well, dengan begitu berarti aku punya 2 NPWP. Yang satu atas namaku, walau sampai sekarang aku masih belum tahu apa gunanya. Dan yang satunya lagi atas nama bendahara. Jabatan yang paling banyak megang duit (padahal bukan juga duit sendiri), serta jabatan yang membuatku hapal sederetan karakter 0027.0/054-01.2/VIII/2009.

Selasa, 10 Maret 2009

-24- Night's Conversation

Agak lucu rasanya ketika mengingat2 percakapan di suatu malam antara aku dengan seorang teman yang bekerja sebagai PNS Pemda, aku memanggilnya Yuk Suzan. Waktu itu yang kami bahas adalah tentang ransel dan sepatu tanpa hak yang sering aku dan Yuk Meli (rekan sekantorku) pakai ke kantor. Yuk Suzan menertawakan kebiasaan kami yang membawa2 ransel ke kantor, juga kebiasaan menggunakan sepatu tanpa heels. Kebiasaan yang menurutku biasa, tapi menjadi lucu dan aneh menurutnya.

Yuk Suzan bilang, jika aku dan Yuk Meli adalah PNS Pemda dan berpenampilan seperti itu, maka kami akan menuai tertawaan dari banyak orang. Hmm, segitunya kah? Hu um... Menurutnya, aneh kalau berangkat ke kantor pake ransel, kaya anak sekolahan aja. Aku berkilah, "Apanya yang aneh, biasa aja kok, lagian aku kan sering bawa laptop...". Lalu Yuk Suzan kembali membantah, "Di kantorku juga ada yang bawa laptop, tapi pake tas laptop, bukan ransel, dan tas cewe juga tetep pake...". Kyaaaa, repot amat buk. Kalau dengan satu tas saja cukup, kenapa mesti repot2 bawa dua tas sekaligus.

Lalu tentang sepatu teplek. Memang siy sepatu high heels itu akan membuat pemakainya terlihat lebih elegan. Tapi kenapa kebanyakan cewe2 memakai high heels dari rumah, lalu berganti sandal ketika dah sampe kantor, atau sebaliknya. Artinya kan gak nyaman. Jadi yah, mending pake yang nyaman2 aja lah, hehe...

Pokok bahasan yang lain adalah tentang seragam. Di kantorku yang pegawainya cuma 5 orang dan notabene satker vertikal, masalah seragam tidak terlalu diperhatikan. Liat aja aku, sudah hampir setahun kerja, punya seragam cuma 1, seragam kebesaran instansiku, abu-abu. Itupun baru dipakai sekali, karena terpaksa. Hihi, kalau dipikir2 memang keterlaluan. Kalo kaya gini siy, gak heran kalau ada yang mikir bahwa kami, yang masih imut ini hanyalah anak2 yang lagi magang di kantor.

Jadi ingat cerita Yuk Meli dulu. Yuk Meli yang 1 tahun di atasku itu pernah diminta menghadiri rapat antar instansi, mewakili kepala kantor yang berhalangan. Ketika melihatnya, Si Pengundang memandang dengan wajah seolah2 berkata, "Anak kecil gini, yakin ngerti?!" Hihi...

Begitulah... Aku sebenarnya tidak pernah membenarkan kebiasaanku yang cuek dalam berpenampilan ke kantor. Meskipun kadang egoku berprinsip, selama kerjaanku beres, kenapa mesti repot... Lagian, kalo cute mah mau gimana juga tetep cute (wachaaaa.... narsis :D). Kadangkala egoku yang lain membenarkan bahwa penampilan itu penting, memang bukan yang utama, tapi yang pertama. Konsekuensi menjadi civil servant seharusnya bisa berpenampilan formal di kantor. Dan resiko menjadi PeEnEs adalah kalo mau 'dianggap', penampilan juga harus mendukung.

Hhhh... Kupandangi sepatu2 high heels yang teronggok manis jarang digunakan, juga tas cewe yang kadangkala memanggil2 minta dipake. Tenang saja, aku tidak pernah lupa akan kalian...

But wait... aku masih sering heran melihat pegawai2 cewe (di sini) yang ke kantor gak bawa apapun, atau bawa tas mungil yang hanya muat diisi dompet, hape, bedak, n lipstik. Mau kerja atau mejeng buk?!

-23- Si Miskin dan Rokok

Kerja di bidang statistik memang mengesankan. Tugas-tugas pencacahan di lapangan banyak memberikan pelajaran moral, secara langsung maupun tidak. Bertatap muka dengan responden ataupun sekedar memeriksa dokumen pencacahan, dengan sendirinya telah menorehkan pengalaman yang tidak akan pernah aku dapatkan seumur hidupku, jika secara kebetulan aku tidak berada di sini.

Salah satu survei paling mengesankan tapi juga menyebalkan adalah SUSENAS (Survei Sosial Ekonomi Nasional) Modul Konsumsi. Sumpe degh, rasanya bener2 mau muntah kalo dah tiba waktunya ngedit ni dokumen. Kayanya untuk modul konsumsi, mendingan jadi PCL daripada PML. Kalo jadi PML mending ke laut aja degh, hehe gak segitunya ding :D.

Oke, berhenti ngebahas soal modul konsumsinya SUSENAS. Bisa bikin bete berkelanjutan kalo dibahas. Mending bahas yang lain aja, yg lebih penting daripada sekedar capeknya nanya2in berapa banyak beras, gula, garam, ikan, sayur, de el el, de es te yang habis dikonsumsi responden selama seminggu yang lalu. Hmm, seandainya aku yang jadi responden, dengan senang hati akan kuusir tuw pencacahnya. Pegel euy, 3 jam ditanya2in gituan...

Beberapa hari lalu aku membaca sebuah artikel di detiknews yang ngebahas tentang Si Miskin Lebih Banyak Merokok Daripada Si Kaya. Di situ disebutkan bahwa perokok alias konsumen rokok kebanyakan berasal dari golongan ekonomi bawah, alias kelompok orang miskin. Nah, setelah baca ntu artikel, aku langsung inget SUSENAS. Dalam Modul Konsumsi, ada item pertanyaan berapa batang rokok yang habis dikonsumsi dalam suatu rumah tangga selama seminggu yang lalu.

Di daerah Lebong, pada umumnya responden SUSENAS adalah rumah tangga dengan tingkatan ekonomi menengah ke bawah. Oleh karena itu, kalo dicacah, mereka kebanyakan berharap lebih bahwa bakal dapet bantuan. Mental orang Indonesia kebanyakan memang gitu. Lebih suka tangan di bawah ketimbang tangan di atas. Upppss, fokus Wee, fokus....

Minggu lalu aku supervisi SUSENAS ke salah satu responden yang rumahnya di balik bukit sono. Sebuah rumah tangga dengan anggota rumah tangga berjumlah 5 orang. Ayah, Ibu, dan 3 orang anaknya (2 laki-laki dan 1 perempuan). Rumah tangga ini notabene nya petani yang hidup pas pasan, dan dari 3 laki-laki dalam rumah tersebut, 2 diantaranya merokok, masing2nya menghabiskan rata-rata 2 bungkus rokok sehari. 2 bungkus x 16 batang x 2 orang = 64 batang per hari = 448 batang seminggu = 28 bungkus seminggu = 112 bungkus sebulan = 1.344 bungkus setahun. Bayangkan berapa rupiah yang telah dikeluarkan oleh keluarga tersebut untuk memenuhi kebutuhan rokoknya. Jika harga sebungkus rokok Rp 8.000, maka dalam sehari keluarga tersebut mengeluarkan Rp 32.000, dalam seminggu Rp 224.000, dalam sebulan Rp 896.000, dan dalam setahun Rp 10.752.000.

Rp 32.000 terbuang sia-sia setiap harinya. Uang sebanyak Rp 224.000 lebih dari cukup jika dibelikan susu, ikan, dan daging untuk 5 jiwa. Rp 896.000 sebulan tidak sedikit jika digunakan untuk biaya sekolah anak-anak. Dan dengan Rp. 10.752.000, tidak semestinya seorang anak tidak kuliah. Lalu kenapa kebanyakan anak-anak tersebut hanya lulus SD? Atau paling banter juga SMU. Lalu kenapa rumah tangga tersebut tanpa malu-malu merasa berhak menerima BLT?

Jika suatu rumah tangga berpenghasilan puluhan juta rupiah tiap bulannya, dengan anak2 yang semuanya berpendidikam minimal S1, lalu tiap2 anggota rumah tangga mengkonsumsi rokok minimal 1 bungkus sehari, fine... Setidaknya mereka tidak menyandang gelar "besar pasak daripada tiang". Paling2 mereka hanyalah menjadi salah satu dari sedikit orang2 kaya yang bodoh. Namun suatu keluarga yang menghabiskan Rp 896.000 sebulan untuk rokok, dengan mengorbankan kecukupan gizi serta kelayakan pendidikan, adalah salah satu dari sekian banyak orang2 miskin yang bodoh. Miris memang, tapi begitulah adanya...