Selasa, 16 Oktober 2012

-96- Suamimu Tipe Berapa?

"Aduuhhhh, main futsal aja terus sih, anaknya tuh diurusin!", aku ngomel panjang kali lebar kali tinggi. Gemes tingkat dewa liat tingkah suamiku. Udah siap-siap mau pergi aja dia. Padahal, emak sama anak lagi ribet banget sekarang, mana gak ada yang bantuin. Enak aja si papi mau futsal-an ninggalin aku jungkir balik sendiri di rumah ngurusin anak, mana lantai belum disapu pula...

***

Kira-kira begitulah teman saya bercerita. Tentu saja gaya ceritanya malah membuat saya tertawa lucu. Soalnya dia bercerita dengan intonasi dan mimik wajah yang sama sekali tidak mirip orang yang sedang sebel. Hihihi, dan ceritanya terus berlanjut, bertambah menggelikan.

***

Aku terus ngomel layaknya kereta api, gak pake berenti. Gak berapa lama kemudian, kulihat dia masih di rumah, gak jadi berangkat main futsal.
"Kok, papi gak jadi main futsalnya?", tanyaku.
"Iya, abisnya umi ngomel terus...", jawabnya polos.

***

Hahaha, saya ngakak. Tulisan saya di atas tadi, yang menceritakan kembali ceritanya dulu, sama sekali tidak bisa menggambarkan lucunya gaya teman saya itu ketika ngomong. Ya, saya memang suka sekali mendengarnya cerita. Seru, lucu, dan terbuka. Jadi, gak pake sok rahasia-rahasiaan gitu deh. Kita juga kan males ya kalo dengerin cerita yang kayak masih dipakein cadar. Mending dari awal aja gak usah diceritain. Ya nggak sih?

Loh? Balik lagi ahhh ke jalan yang benar...

Begitulah, teman saya kemudian bercerita tentang betapa payahnya suaminya dalam urusan mengurusi anak. Makein celana anaknya aja gak bisa (apa iya ya?). Kadang-kadang mendingan Mr.Suami gak usah bantuin megang anak deh, soalnya yang ada malah bikin tambah repot, bukannya meringankan pekerjaan. Jadi inget ada teman lain lagi yang pernah bilang bahwa laki-laki kalo ikut ngurus anak malah bikin ribet aja. Eaaaa...

Nah, teman saya yang lucu tadi, dulu juga pernah ngasih info yang entah benar entah tidak. Katanya, tipe suami itu ada dua. Pertama, kalau dia tipe yang sayang sama istrinya, romantis gitu deh, pokoknya istrinya disayang terus, maka dia pasti bisa dibilang gak terlalu bisa ngurus anak. Kedua, kalau dia tipe yang sayang banget sama anak, bisa ngurus anak, biasanya istrinya gak akan disayang. Hmm, waktu si teman bilang gitu, saya sempat membantah, masa iya sih? Dengan sangat percaya diri dia menegaskan begitu dan menyuruh saya membuktikan sendiri nanti kalau saya sudah menikah (waktu itu saya belum menikah).

Kenyataannya, dilihat dari beberapa group sharing para emak-emak, memang pada umumnya para suami tidak terlalu becus dalam urus-mengurus anak atau membantu pekerjaan rumah tangga. Sama seperti teman saya tadi mungkin ya... Tapi ada juga kok yang baik hati, bisa ngurus anak dan suka bantuin kerjaan istrinya di rumah. Ada juga suami yang udah gak mau bantuin kerjaan rumah tangga. Semua mesti istri yang ngurus, padahal istrinya juga bekerja. Istri lagi masak plus beres-beres rumah (lagi ribet pokoknya), suami megang anak dan anaknya mau BAB, eehhh istrinya yang dipanggil, disuruh ngurus anaknya BAB. Mana suaminya gak ada romantis-romantisnya lagi, gak ada sayang-sayangannya sama istri. Aiihh lengkap sudah penderitaan istri...

Akhirnya, berdasarkan  info teman saya tadi, dilanjutkan dengan melihat-lihat dikit kesana kemari, saya mengelompokkan tipe suami menjadi empat tipe, yaitu:


1. Suami yang sayang sama istri, tapi gak terlalu sayang sama anak.
2. Suami yang sayang sama istri dan sayang sama anak.
3. Suami yang kurang sayang sama istri, tapi sayang sama anak.
4. Suami yang kurang sayang sama istri dan kurang sayang sama anak.

Pengelompokan di atas cuma iseng-iseng saja loh ya, tidak ada dasar ilmiah-nya. Tapi bolehlah kalau mau dijadikan kriteria bagi yang sedang memilih calon suami. Paling enak kalo dapet suami tipe dua, x dan y positif, hehehe, tapi amit-amit dah kalo dapet suami tipe empat. Makanya milih yang selektif ya girls...

Dan... saya juga jadi ingin menentukan, suami saya masuk tipe yang mana ya?

Lalu kamu... suamimu tipe berapa? ^___^

Jumat, 12 Oktober 2012

-95- Bercerita Itu Hebat Ya, Takita (Surat Balasan Untuk Takita)

 

Bagaimana kabarmu Takita sayang?

Semoga Takita tidak pernah bosan bercerita ya. Juga selalu membagi cerita tentang mimpi-mimpi Takita kepada banyak orang. Karena percayalah, melalui cerita Takita itulah orang dewasa seperti kami sering tersadar, sudahkah anak-anak kami mendengar kami bercerita? Sudahkah anak-anak kami belajar bercerita, tentang teman mereka, tentang mainan mereka, juga tentang bau-bauan yang mereka cium... dan tentu saja kami, Ayah dan Bundanya akan menyimak dengan tekun sambil bersyukur kepada Tuhan, betapa pintarnya anak kami.

Mimpi Takita adalah mimpi kakak juga. Kakak takut sendirian, sama seperti Takita. Kakak juga takut anak kakak merasa sendirian karena kakak tidak punya waktu untuk bercerita. Padahal sekedar cerita tentang sebuah alat berat yang sedang parkir di pinggir jalan menuju ke kantor, mampu membuat anak kakak melemparkan banyak pertanyaan dan memperpanjang cerita... dengan mata berbinar tentu saja.

Saat ini kakak mungkin hanya bisa bercerita tentang hal-hal sederhana kepada anak kakak. Cerita mengalir begitu saja layaknya tulisan yang punya banyak catatan kaki, banyak tanda bintang untuk menjelaskan arti kata-kata yang masih sulit dicerna anak berusia tiga tahun. Dan tahukah dirimu, Takita, ternyata anak-anak pun bisa menjelaskan tentang kata yang ia ucapkan dengan cadel agar bisa dimengerti oleh Ayah dan Bunda.

Berapa usiamu, Takita? Perkenalkan anak kakak, namanya Zaim. Usianya sekarang 3 tahun, dan ini beberapa ceritanya di rumah...

Zaim : "Tadi temennya Om Pebi didoteng...?" (bahasanya masih cadel)
Ayah : "Apa nak, didoteng?" (berusaha mencerna)
Zaim : "...bukan, didoteng..."
Ayah : "Didoteng?"
Zaim : (sambil berpikir) "Om Pebi naik motor trus temennya duduk di belakang?"
Ayah : "Oooo... dibonceng?"
Zaim : "Iya, tadi temennya Om Pebi didoteng?"
Ayah : "Enggak, bla bla bla..... *bercerita*....." (sambil tersenyum senang, anaknya sudah bisa menjelaskan)

---

Zaim : (sedang memegang sebuah permen) "Aim tu maunya permen tantai."
Bunda : "Apa nak, permen tantai?"
Zaim : "Permen yang ada tantainya..."
Bunda : (bingung) "Tantai itu apa?"
Zaim : (berpikir, diam sesaat) "Tunjuk, tunjuk..."
Bunda : "Oooo, tangkai ya?" (sambil tersenyum senang, anaknya sudah mengerti tentang sinonim)
Zaim : "Iya..." (tersenyum juga dan melanjutkan cerita dengan semangat)
Hehehe, ini biasanya Zaim menyebut tangkai permen lolipop sebagai "tunjuk", jadi Bunda langsung paham bahwa yang dimaksud adalah kata "tangkai" :)

---

Hebat ya, Takita. Ternyata bercerita juga bisa menjadi sarana belajar buat anak-anak, tentu saja juga buat orangtuanya. Suatu saat nanti, kakak ingin sekali bercerita tentang hal-hal yang lebih rumit, cerita tentang kehidupan, cerita tentang pengalaman, sekedar untuk memperkaya pribadi-pribadi yang tadinya bersemayam dalam tubuh-tubuh yang mungil. Seperti Takita mungkin.

Dan tubuh-tubuh yang tak lagi mungil itu, nantinya akan terus bercerita, bercerita tentang Ayah Bundanya, bercerita sepanjang zaman.

Teruslah bermimpi, Takita... Lalu ceritakan kepada dunia setiap kata yang ada dalam mimpi Takita. Karena mimpi akan menghilang begitu saja ketika tidak kita bagi. Takita dan kakak tidak ingin itu terjadi bukan?

Teruslah bercerita, Takita... Karena melalui cerita Takita, Ayah dan Bunda akan selalu tersenyum. Menyadari bertambahnya perbendaharaan kosakata yang bisa Takita gunakan, atau memperbaiki susunan kalimat Takita agar bisa dimengerti tidak hanya oleh Ayah dan Bunda... sungguh tak ternilai rasanya, sayang. Dan menemukan Takita menjadi dewasa lalu memeluk anak-anak Takita dengan hangat sambil bercerita tentang anak kucing yang tidak sengaja masuk ke dalam got... ahh, rasanya mungkin seperti memeluk surga :)

Teruslah bersemangat, Takita. Dengan semangat yang tidak pernah mati Takita akan menjelajah dunia melalui cerita.

Sampaikan salam kakak buat Ayah dan Bunda ya. Ceritakan kepada mereka tentang surat kakak yang sudah Takita baca.

Salam sayang kakak untuk Takita :)


Tulisan ini saya tulis untuk membalas surat dari Takita.

Senin, 01 Oktober 2012

-94- 1'st Anniversary

Satu tahun yang lalu pada tanggal yang sama seperti hari ini, harinya adalah Sabtu, dimana sekitar jam 2 siang kami melaksanakan akad nikah. Nothing's to celebrated memang. Hanya saja, di tanggal yang sama setahun kemudian, aku ingin mengenang bahwa pernikahan kami ternyata sudah mulai menginjak hitungan tahun. Meskipun baru angka satu, penunjuk bahwa kehidupan sebenarnya baru saja dimulai. Dan mungkin saja, hanya aku satu-satunya yang mengingat tanggal ini dengan baik.

Aku memang tidak suka perayaan ulang tahun, ulang tahun apapun. Tapi aku juga tidak menentang jika ingin menjadikan momen tersebut sebagai momen memberi hadiah, misalnya, atau sekedar memanfaatkan waktu yang pas untuk mengungkapkan doa dan sayang yang mungkin biasanya hanya tersimpan rapi di sudut hati. Apapun itu, yang penting aku harus selalu bersyukur atas setiap momen bersama, atas berlalunya setiap waktu. Aku ingin menghargai setiap pertambahan bilangan usia itu, karena belum tentu ia akan lama berpihak kepadaku.

Alhamdulillah Ya Rabb... Terima kasih banyak atas satu tahun yang telah Engkau berikan. Terima kasih banyak atas setiap suka yang telah Engkau anugerahkan. Terima kasih banyak atas setiap secuil pelajaran hidup yang begitu mahal, yang tak pernah kudapatkan dari sekolah formal manapun. Terima kasih banyak atas semuanya, yang menjadikanku ibarat keran air yang tiba-tiba menjadi tertutup, tak lagi bisa mengucurkan aksara untuk menceritakannya.

Teruntuk suamiku sayang

Sudah satu tahun sayang, dan ternyata kita bisa melewatinya. Alhamdulillah ya... Satu tahun pertama yang entah kenapa terasa begitu cepat berlalu. Bulan segera berganti tanpa hendak berhenti bahkan untuk menyapa. Satu tahun untuk saling mengenal lebih dan lebih lagi. Satu tahun untuk saling memahami lebih dalam. Satu tahun untuk mengendalikan ego demi menyambung potongan kayu yang telah diikrarkan untuk direkatkan selamanya, semakin kokoh seiring waktu. Satu tahun untuk semakin menguatkan tekad meraih mimpi. Satu tahun untuk menempa diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Satu tahun untuk terus menerus menyemai benih cinta dan sayang, mengikat rasa dalam koridor yang benar, halal, dan diberkahi. Satu tahun untuk selalu belajar menyelaraskan langkah.
(Tuh kan, aku selalu gagal menahan air mata setiap kali memfokuskan perasaan ketika memaknai sebuah ulang tahun. Bagaimana bisa orang-orang itu merayakan ulang tahun dengan sukacita, tertawa senang seolah tahun berikutnya akan selalu ada. Bergembira atas berkurangnya jatah waktu untuk selalu bersama. Bagaimana bisa?)
Sudah satu tahun sayang. Aku bersyukur atas setiap waktu bersamamu, waktu yang begitu berharga, waktu yang ingin selalu kugenggam. Aku bahagia atas kasih sayang tanpa henti, yang kuyakin mampu menundukkan himalaya. Rasanya aku tidur dengan nyaman ketika engkau disampingku. Rasanya hidupku aman ketika engkau mendampingiku. (wadawww, aku kok melow amat nulisnya yak...)

And I call you, home...

Terima kasih sayang, atas peluk cium yang selalu kurindukan. Atas sayang dan perhatian yang tak pernah lelah. Atas seni berkehidupan yang sudah engkau bagi. Terima kasih sudah menjadi suami dan ayah terbaik bagi kami. Maafkan aku atas setiap ego yang tak mampu terkendali, atas setiap buruknya suasana hati yang tak mampu tersimpan, atas setiap kelalaian dalam mengurus urusanmu, atas semuanya... semua tugas yang mungkin belum mampu kupikul dengan benar.

Allah Engkaulah yang Maha segalanya, Engkau yang menggenggam kehidupan, Engkau sebaik-baik dalang, berkahilah kami selalu Ya Rabb. Jagalah keluarga kami, kuatkan ikatan kami, sucikan cinta kami, baikkanlah kami, jadikan kami senantiasa saling melengkapi sepanjang usia. Amiin...

Jumat, 28 September 2012

-93- Keep It Simple, Stupid!

Waktu itu kami sekeluarga sedang berada dalam perjalanan, tapi saya lupa-lupa ingat, itu perjalanan mau mudik atau malah habis mudik ya... Ah, whatever. Yang jelas ceritanya kami sedang di dalam mobil trus saya dan anak saya ngomongin tentang kereta api. Kira-kira begini:

Zaim : "Apa tadi Bunda, rel kereta api ya?"
Saya : "Bukan nak, di sini gak ada kereta api ya, kereta api itu adanya di tempat Yai (kakek)."
Zaim : "Kalau ada?"
Saya : "..... tapi gak ada kereta api di sini, nak...." (ini emaknya lagi mikir monoton)
Zaim : "Kalau ada?"
Saya : "..... adanya di tempat Yai...."
Zaim : "Kalau ada, Aim naik..."

Saya langsung merasa oon. Anak kecil aja bisa berpikir sederhana... dan benar. Lah, ini orang dewasa malah rigid dan kaku. Padahal anak hanya menginginkan jawaban yang bisa diterimanya dengan mudah. Jawaban yang positif tentu saja.

***

Di perjalanan yang lain lagi, kami sedang istirahat dan berhenti di salah satu rumah makan. Saya tidak begitu memperhatikan apa yang sedang dilakukan Ayah dan Zaim. Ayah sedang bersandar di sebuah tiang besi melintang semacam pagar. Lalu Zaim menendang pagar tersebut. Maksud hatinya ingin merobohkan pagar. Tentu saja tidak bisa, kokoh begitu. Kalau bisa? "Kalau bisa, Ayah jatuh...", katanya polos.

***

Hari beranjak malam dan kami masih berada dalam perjalanan. Catat ya, hari sudah malam, sekitar jam 19.30. Musik mengalun di dalam mobil.

Zaim : "Ayah, ini magrib?"
Ayah : "Iya, sudah magrib ya..." (ayahnya males ribet ini ceritanya, jadi jawab iya-iya aja)
Zaim : "Kok musiknya gak dimatikan?"
Ayah : ...tersadar, "Oh iya ya, Ayah salah, Ayah lupa ya, kalau magrib kan musiknya dimatikan. Makasih ya sudah diingatkan sama Aim..."

Kami sering sekali ketemu magrib di jalan pada Minggu sore ketika pulang dari rumah Mbah Uti (kalimat saya membuat seolah-olah magrib itu nama orang). Sepanjang jalan biasanya nyetel musik (harusnya nyetel ceramah ya...) dan ketika hampir magrib musik dimatikan. Kadang Zaim protes karena dia masih mau dengerin musik tronton-tronton (lagu Song for Children) favoritnya. Ayah selalu menjelaskan bahwa sudah mau magrib, musik harus dimatikan dan mulai dengerin ngaji menjelang adzan. Ternyata dia selalu ingat...

***

Ah, ini baru tentang satu anak, anak saya. Tentang satu anak ini saja tidak cukup kalimat untuk menceritakan pikiran sederhanya, yang mampu membuat orang dewasa seperti saya harus mengevaluasi diri sendiri, sudahkah saya berpikir secara sederhana dan tidak memperumit masalah?

Saya ingat lagi, ketika itu saya melarang anak saya membuang sampah di jalan melalui jendela mobil. Lain waktu saya sendiri yang melempar tisu ke luar jendela mobil dan anak saya melihatnya sambil bilang "Bunda kok buang ke luar?"

Atau saat anak saya minta susu terus menerus lalu kami katakan bahwa siang makan nasi kalau malam baru minum susu, kayak lagu pok ame ame. Ehh, pas malam dia bertanya, "Ini sudah malam?", "Iya ya, sudah gelap...", jawab saya. "Minum susu...", katanya lagi. Hehehe.... :)

***

Maha Suci Allah yang telah menyuguhkan kepolosan di depan mata, untuk diresapi lagi maknanya. Kenapa semakin bertambah usia kita, semakin kita kehilangan kejujuran dan kesederhanaan dalam berpikir. Kenapa semakin besar tubuh kita, semakin kita kehilangan konsistensi. Kenapa semakin luas interaksi kita, semakin rumit kita dalam menanggapi.

Saya hanya ingin berpikir sederhana, agar saya juga dapat memaknai semua hal yang sederhana dengan luas. Saya ingin belajar dari seorang anak kecil, yang bisa langsung tertawa setelah terjatuh, yang bisa melupakan setelah bertengkar, yang bisa terlihat biasa saja setelah menangis, yang bisa kembali mencium setelah bersalah. Siapa yang tak luluh coba?

Ya, sederhana saja, tak perlu pelik karena saya juga pasti akan berakhir dengan sederhana.

(maaf ya, judulnya gak nyambung, tadinya saya mau nulis tentang prinsip KISS, eh malah...) :)

Selasa, 28 Agustus 2012

-92- Tentang Statistik Yang Sederhana

Setiap kali saya melihat memeriksa statistik blog saya, dari dulu sampai sekarang hal pertama yang langsung saya simpulkan tidak pernah berubah. Dari sejak pertama kalinya saya ngerti gimana caranya melihat statistik blog (meskipun hanya secara sederhana), sampai sekarang ketika saya tidak lagi peduli pada berapa pagerank yang berhasil saya capai.

Kesimpulan Nomor 1. Melulu tentang SEX dan SEKS

Lihat saja baris pertama di bawah judul widget Popular Posts di samping, pasti selalu dihuni postingan yang itu. Sebenarnya sejak awal juga tidak ada ekspektasi berlebihan dengan mengharapkan akan mendapatkan kenyataan bahwa postingan yang paling banyak diminati atau dicari adalah yang lumayan berbobot (emang ada di sini gituh postingan yang berbobot? hehe...). Saya kecewa? Terus terang saja iya. Ternyata saya bisa benar-benar meyakinkan diri saya sendiri bahwa internet sehat memang hanyalah bagi sebagian kecil orang.

Terlalu besar godaan bagi orang-orang yang tidak begitu yakin untuk apa mereka menggunakan internet, padahal akses internet begitu mudahnya. Semuanya bisa muncul di depan matamu, di layar komputermu. Sekedar gambar-gambar porno, ahh rasanya semua orang tau bahkan tak ada harganya di dunia maya ini. Saya kadang merasa galau, apa jadinya anak-anak saya nanti jikalau saya tidak mampu membantu mereka membangun suatu penyaring yang harus muncul dari dalam diri mereka sendiri. Apa jadinya anak-anak saya nanti jika saya tidak mampu ikut mengokohkan sisi spiritual mereka.

Saya ingat sejarahnya dulu kenapa saya membuat tulisan yang memasukkan kata 'sex' pada judulnya. Saya lagi semangat-semangatnya ngeblog, lari-lari kesana kemari melihat-lihat blog orang. Catat ya, hanya melihat-lihat, bukan membaca isinya dengan serius. Yang benar-benar saya baca hanyalah bagaimana caranya menambahkan widget ini itu, bagaimana caranya agar blog saya terindeks oleh si mbah google, bagaimana caranya agar saya bisa menggunakan template yang tidak standar untuk blog saya,juga bagaimana menampilkan statistik blog.

Nah, katanya sih, kalau mau meningkatkan traffic blog kamu, maka kamu harus membuat blog yang isinya dicari banyak orang. Lihat saja situs-situs yang isinya porn gitu, pengunjungnya bejibun kan. Dosen web saya dulu juga pernah bilang, ada orang yang dengan ilmu sihir (maksudnya di sini saya oon tentang ilmunya gitu deh...) memasukkan banyak tag seperti "sex" atau "seksi" atau "telanjang" di situs mereka, padahal dalam situsnya sama sekali gak ada konten tentang itu. Supaya apa? Supaya ketika orang-orang mengetikkan kata itu pada mesin pencari (kebetulan orang-orang yang dimaksud jumlahnya banyak), situs mereka bisa muncul di halaman pertama. Sederhananya begitu.

Kebetulan saya mau nulis tentang pengalaman yang sempat membuat saya gamang akan masa depan generasi setelah saya, sekalian saja saya buat judulnya seolah dramatis, "Ada Sex di Depan Mata Anak 4 Tahun". Pasti banyak yang akan terkecoh dan gak sengaja mampir ke blog saya gara-gara itu. Dan kenyataannya memang begitulah. Setelah saya melihat statistiknya, postingan yang itu selalu menjadi satu titik ekstrem, ckckck...

Ini statistik pageviews dari 21 Agustus sampai 28 Agustus. Kalau dibikin chart pasti jelek jadinya.
Mungkin nanti setelah saya membuat postingan kali ini akan ada banyak juga yang terkecoh untuk mendarat di halaman ini. Hhffff, menyedihkan sekali. Saya jadi ingat cerita di blog teman saya, bahwa ada seorang yang sudah S2, beasiswa pula, tapi mindahin gambar dari satu dokumen ke dokumen lain saja tidak bisa, koleksi porn bergiga-giga. Hadehhhhh.........

Kesimpulan Nomor 2. Gak ada komentar bukan berarti gak ada yang baca. Jadi hati-hati dengan tulisanmu.

Seringkali saya kalau nulis di blog suka-suka saja, gak terlalu mikirin siapa yang baca. Apalagi kalau gak ada komentar, berarti setidaknya kan gak ada kontroversi. Toh saya nulis juga tujuannya bukan supaya ada yang baca. Saya nulis karena saya kepingin nulis, tapi bukan di atas diary yang digembok layaknya zaman sekolah dulu.

Suatu ketika saat sedang chat dengan seorang teman, dia menulis ulang kata-kata di salah satu postingan dalam blog saya. Saya agak takjub lalu bertanya, kok kayaknya saya pernah dengar kata-kata itu. Dia pun bilang bahwa itu kata-kata saya sendiri. Saya tanya lagi kok kamu bisa tau. Dia pun bilang bahwa dia sudah mensubscribe blog saya, dalam artian dia selalu mengikuti (membaca) setiap postingan yang ada di blog saya.

Saya memang terlalu menyepelekan statistik sekian readers pada blog saya, karena saya gak yakin apa memang yang subscribe benar-benar akan membaca semuanya. Tapi ketika seorang sahabat bilang bahwa dia membaca postingan saya tentang nyetrika lalu membayangkan betapa berantakannya lemari pakaian saya, saya kok jadi malu ya, hehehe. Atau ketika seorang sahabat yang ketawa karena membaca postingan saya tentang underwear. Atau ketika seorang teman ber'cie-cie' heboh ketika membaca tulisan saya yang agak romantis (maksudnya keganjenan gitu). Juga masih banyak lagi yang menyadarkan saya bahwa ada loh yang baca tulisan saya, dan itu bukan sekedar sepuluh atau dua puluh. Bukan hanya teman-teman saya sendiri, juga orang-orang tersesat yang kebetulan mampir.

Kalau begitu, kenapa tidak menulis yang lebih bermanfaat ya.

Kesimpulan Nomor 3. Teruslah menulis, ada banyak yang kangen dengan tulisanmu.

Hehehe, ini agak kegeeran dikit kan no problemo ya... :D

Soalnya teman-teman saya sering bilang kangen sama tulisan-tulisan saya ketika sudah lama saya gak posting di blog. Dan itu rasanya tidak berlebihan juga kok. Saya sendiri saja suka ngikutin blog beberapa teman yang suka ngeblog. Ketika sudah lama postingannya gak nambah-nambah, saya juga akan merasa kehilangan, merasa ada yang kurang. Saya akan bertanya-tanya, apakah teman saya itu sedang sibuk, ada cerita apa tentang dirinya, ada perkembangan apa, kemana dia... Saya mengecek blog mereka beberapa kali, sedikit kecewa ketika menemukan tulisan yang itu-itu saja gak nambah-nambah. Kalau ada tulisan baru, pasti dengan semangat 45 akan saya baca.

Mungkin begitu juga dengan teman-teman saya. Ada suatu bentuk kepedulian yang tidak bisa diwujudkan secara nyata karena jarak. Jadi ketika sudah ada kabar, ada sarana memantau perkembangan yang lebih indah untuk dinikmati (melalui tulisan), rasanya, ahh... semua terasa nyata saja :)

Apapun itu, kenyataannya saya merindukan tulisan teman-teman saya, saudara-saudara saya, orang-orang terdekat saya tentang apapun yang terjadi dalam hidup mereka, apapun opini mereka, atau apapun yang mereka gemari. Bisa jadi mereka-pun sama seperti saya.

Kamis, 16 Agustus 2012

-91- Perempuan dan Air Mata

Perempuan mana sih yang tidak pernah menangis di saat usianya sudah tergolong dewasa? Rasanya tak ada. Kalau ada malah saya ingin sekali berguru padanya. Bukankah perempuan secara umum dianugerahi perasaan yang lebih peka ketimbang laki-laki yang lebih banyak menggunakan logika dalam memutar roda hidupnya. Bukankah keluarnya air mata tak melulu urusan sedih, sakit hati, kesal ataupun galau, melainkan juga bahagia, sesal, juga syukur.

Dulu ada seorang teman perempuan yang baru saja menikah, lalu bercerita bahwa kemarin ia menangis, padahal belum juga genap sebulan usia pernikahannya. Masalahnya sepele. "Hanya" karena dia mau masak, trus ditungguin suaminya, trus suaminya komentar yang kira-kira gini, "Bukannya masak itu (itu refers to saya lupa tepatnya apa, hehehe) bukan kayak gitu, tapi diginiin..." - sori jek, gak jelas, tapi pasti yang baca pada ngerti esensinya kemana. Dikomentarin gitu langsung berkaca-kaca deh tu perempuan, lalu keluarlah air matanya. Suaminya bingung dan gelagapan minta maaf. Mungkin sambil berpikir keras, memangnya apa yang salah dengan kalimat saya? "Cuma" gitu doang loh...

Setelah diceritakan kembali mungkin para pendengar juga akan menggunakan kata "HANYA" atau "CUMA" pada komentarnya, pun pendengar perempuan. Tapi sebenarnya esensinya adalah coba pahami perasaan dan emosi yang sedang dilibatkan oleh perempuan tadi dalam dirinya, pada waktu dan kondisi yang persis sama saat cerita terjadi. Saya juga pendengar, dan sempat berpikir spontan, masa sih kayak gitu aja nangis. Dan mungkin si pencerita juga menyadari bahwa orang lain yang mendengar ceritanya pasti akan berkomentar begitu, maka tanpa diminta dia pun langsung menjelaskan kenapa dia menangis.

"Itu hal yang sangat sensitif menurut saya, pada saat-saat itu.", katanya. Coba pikir bukan dengan logika, tapi perasaan. Dia masih sangat baru menjadi istri. Itupun sebelumnya tanpa melewati prosesi pacaran, jalan bareng, atau ngobrol sepanjangan di telepon. Keintimannya dengan suaminya baru saja dimulai. Api semangatnya untuk menjelma menjadi istri paling baik sedunia baru saja dinyalakan, tapi malah api itu seolah ditutupi dengan karung basah. Harga dirinya terinjak, seolah2 suaminya berkata, "Gimana sih, masa gitu aja gak bisa, sini saya ajarin...". Kredibilitasnya seolah dipertanyakan terlalu dini. Atau mungkin secara emosi dia berpikir, "Untung saya mau nikah sama kamu, masak buat kamu, bukannya dihargai malah dicela..." - padahal suaminya bahkan gak terpikir buat mencela, malah menikah dengan istrinya itu sudah membuatnya tak henti bersyukur atas karuniaNya. Ah, perempuan...

Rasanya saya kurang bisa menggambarkan emosi dan sensitifitas si perempuan tadi. Maaf ya... Saya bisa merasakannnya, dulu, bertahun-tahun yang lalu saat mendengar ceritanya, karena saya juga perempuan. Bahkan saya masih ingat ceritanya sampai sekarang, padahal bisa jadi teman perempuan saya itu sudah tidak ingat lagi kejadian tersebut.

Begitulah perempuan. Cerita di atas hanya salah satu contoh kasus. Perempuan itu untuk dipahami perasaannya. Kalaupun tidak bisa secara spontan, cobalah untuk sejenak melibatkan hati, agar mengerti emosi yang sedang dideritanya. Perempuan itu sensitif. Tidak semua perempuan bisa marah-marah ketika kesal. Tidak semua perempuan bisa ngomel gak jelas ketika ada yang tidak sreg di hatinya. Tidak semua perempuan bisa complain ketika merasa cemburu. Tidak semua perempuan bisa meluapkan semua yang tersimpan dalam hatinya. Karena saya juga perempuan, kadang saya berpikir betapa hebatnya seorang perempuan, bisa menampung semua rasa yang tak terkatakan. Perempuan waspadalah, karena dikhawatirkan ruang hatimu tidak begitu kuat untuk menampung semuanya. Simpanlah apa yang harus disimpan, lalu keluarkan sisanya. Semoga cukup kepada Tuhanmu.


####################


Wuihh,,, pegel juga jari membuat tulisan dalam sekali duduk. Pagi ini saya ingin menulis, tapi gak tau mau nulis apa. Saya mencoba salah satu trik menulis.

Coba awali dengan menulis satu kalimat, tentang apapun yang tiba-tiba terlintas dalam pikiranmu atau tentang apapun yang tiba-tiba kamu baca.

Setelah itu lanjutkan, terus, dan terus...

Apa hasilnya? Horeeeeee TERBUKTI, hehehehe...

Saya berhasil membuat satu tulisan yang bahkan tidak saya duga sebelumnya hal apa yang akan saya ceritakan dalam tulisan saya. Kalaupun gak nyambung di awal-awal, it's ok lah... Yang penting hasrat ngeblog hari ini sudah tepenuhi :)




Rabu, 15 Agustus 2012

-90- Saat Ingin Memulai, Lagi...

Kemarin saya sudah menjelajah ke begitu banyak tempat melalui jendela. Betapa Allah sangat kaya akan hal-hal tak terduga jika Dia menghendaki. Betapa beragamnya orang-orang diciptakan, unik dalam kehidupannya sendiri-sendiri. Betapa tak ada sehelai daun pun yang jatuh dari pohon tanpa izin Allah.

Saya malu atas semua keluh kesah sepele yang saya dramatisasi sedemikian rupa, seolah saya orang paling merana sedunia. Saya malu atas perasaan ketidakberuntungan yang sering muncul di atas begitu banyak keberuntungan yang bahkan tak mampu saya hitung. Saya malu ketika saya menyalahkan orang lain karena sudah membuat saya jadi gak mood. Saya benar-benar malu.

Seperti kalimat yang saya suka dari blog seorang teman, #30: My Personal Feeling is not Important
"Karena orang-orang berubah, keadaan juga berubah, dan yang lebih penting: saya berubah."
Juga kalimat,
"Karena perasaan pribadi saya hanya sementara dan bila saya mengabadikannya lewat tulisan, saya takut suatu saat saya akan menyesalinya."
Ahh, kalimat yang terakhir ini sudah saya buktikan sendiri. Karena saya suka menulis catatan harian. Saya suka menulis semuanya, apalagi kalau sedang ada emosi yang terlibat. Entah benar-benar senang atau benar-benar galau. Pasti saya nulisnya kayak keran air PDAM di sini pas tengah malam, mengucur deras, tau-tau sudah berlembar-lembar.

Lalu, bertahun-tahun kemudian saya baca lagi. Idih, enggak banget deh, ingin rasanya langsung saya hapus. Geli bacanya, dan sama sekali tidak, apa ya, ah pokoknya kok rasanya bukan gue banget deh. Benar-benar kelihatan bahwa nulisnya melibatkan banyak emosi, agak tidak ilmiah dan encer, sama sekali gak ada kental-kentalnya. Loh? :D

Saya penyuka suatu bentuk warisan digital. Saya suka mengenang masa lalu dengan membuka kembali dokumen-dokumen jadul. Saya suka melihat-lihat foto meskipun saya sama sekali gak fotogenik. Saya suka melihat dunia melalui gambar dan rangkaian huruf-huruf yang ikut mendeksripsikannya. Terasa dunia dalam genggaman (kayak pernah denger di iklan apa gitu ya...). Informasi sedemikian gratisnya untuk dinikmati. Benua Amerika yang berada dalam mimpinya sang pemimpi yang gak bangun-bangun seolah-olah berada tak sampai satu kilometer saja dari mata saya.

Saya juga suka membaca cerita. Saya suka membaca cerita hidup orang lain, apalagi orang-orang terdekat saya. Sayang sekali mereka tidak suka menuangkan skenario kehidupannya dalam tulisan yang bisa saya nikmati. Saya suka memperkirakan karakter seseorang melalui bagaimana ia merangkai kata. Saya suka melihat tipikal seseorang melalui update statusnya di media-media sosial. Meskipun penilaian saya belum tentu benar. Tapi kemudian saya menjadi tidak nyaman atas aib yang diumbar kemana-mana atas nama curhat melapangkan hati. Ah, semoga bukan saya yang menelanjangi diri saya sendiri lalu tanpa malu-malu melenggang ke luar rumah.

Semua orang pada satu titik tertentu akan merasa dirinya benar, tidak ingin dipersalahkan. Semua orang pada satu titik tertentu sedang dilanda keegoisan tingkat dewa untuk tidak dapat menerima sedikitpun nasehat. Dan semua orang pasti akan merasa cerita hidupnya itu unik. Selama tidak saling mengusik, silakan saja. Seperti saya, dengan warisan digital yang saya pikirkan...