Selasa, 30 Juni 2009

-49- Underwear Obral

Wahhh, sudah lama banget gak posting. Saking lamanya, blog kesayangan yang tadinya dah punya pr 2, sepertinya sekarang pr-nya tidak terdefinisi. Hiks… tapi gak masalah. Kini aku datang dengan semangat baru, semangat untuk menulis. Buang semua kejenuhan dan kebosanan, uhuyy dramatis sekalleee…

Kali ini aku pengen berbagi sedikit ide, pengalaman, dan pemikiran. Jadi ceritanya beberapa hari lalu aku ke ibukota provinsi (red: aku tugasnya di kabupaten). Mumpung ke kota, sekalian ada yang mau aku beli ahh. Underwear… uppss.

Ada apa dengan underwear? Memangnya di kabupaten gak ada jual underwear? Ya ada lah… di wilayah paling pelosok Indonesia pun rasanya tetep ada yang jual. Masalahnya sekarang bukan pada ada atau tidaknya penjual pakaian dalam, melainkan pada dimana dan bagaimana benda-benda keramat tersebut dijual. Kebetulan aku termasuk tipe2 yang gak pede beli underwear di tempat2 penjualan yang terbuka. Oleh karena itu, aku lebih memilih belanja di mall atau toko2 tertentu yang tertutup (tidak terlalu banyak lalu lalang orang).

Dulu, aku pribadi gak pernah mau beli pakaian dalam (atasan dan bawahan) sendiri. Kalo mau beli, pasti sama ibu, bisa ikut ke tokonya atau sekedar nitip aja. Tapi kan gak selamanya aku ngetem di ketiak ibu. Aku kuliah, bukan satu atau dua bulan, melainkan empat tahun. Dalam kurun waktu selama itu, gak mungkin juga aku hanya beli pakaian dalam ketika sedang pulkam aja. Selain gak mandiri, juga merepotkan diri sendiri alias ribet.

Oke, balik lagi ke penjualan pakaian dalam. Aku sering menemukan pakaian dalam yang dijual layaknya barang2 obralan, dipajang begitu saja di pinggir jalan, dah gitu penjualnya cowo lagi. Benar-benar layaknya menjual sandal-sandal obral, mainan anak, ataupun promosi obat di jalanan. Wew, sempat terlintas dalam pikiranku… emang ada gitu yang mau beli? Hiii, pasti gak laku degh…

Namun, olala… ternyata anggapan selintas tersebut tidak benar sama sekali. Nyatanya, banyak kaum hawa yang mengerumuni penjual underwear murah meriah tersebut. Mereka mengobok2 tumpukan tekstil berwarna warni menarik, memilih-milih, bahkan… pernah kulihat kejadian yang mengagetkan, ketika beberapa ibu-ibu dengan cuek dan pedenya mencoba bra yang mereka rasa cocok. What? Apa aku gak salah liat? Sumpah, kaget banget pas pertama kali liat kejadian kaya gitu. Gak malu ya? Dipake? Dicobain? Dipas2in? Di antara sekian pasang mata (namanya juga pasar), dan yang paling pasti adalah di depan si penjual cowo… Bahkan, lebih parahnya si penjual juga ngasi komen. Ck ck ck… aku yang liatnya aja malu, kok bisa secuek itu yah... It’s really something new 4 me. Atau hanya aku aja yang lebay kali…

Begitulah. Sebuah fenomena yang mungkin biasa bagi beberapa orang, namun luar biasa menurutku. Kejadian yang mungkin tidak aneh bagi banyak orang, namun sempat membuatku tertegun dan geleng2 kepala sampai beberapa lama. Mereka yang terlalu pede dan cuek, atau aku yang terlalu dramatis yah… Hmm…

Kamis, 11 Juni 2009

-48- Curhat Gak Penting

Sudah lebih dari satu setengah tahun status mahasiswa tidak lagi menghuni identitasku. Pekerja, ya... status yang meski telah lebih dari 18 bulan ini kusandang, tetap saja terasa baru, sedikit asing, dan melenakan. Aku lelah wahai kawan...

Aku bosan, kebosanan yang aku sendiri tidak tahu karena apa. Aku kesal, kekesalan yang membuatku lelah mencari penyebabnya. Aku bingung,bingung menentukan what’s the problem inside of me. Aku statis, meski dunia melihat mobilitasku yang aduhai. Lalu aku khawatir, khawatir akan kondisi diri ini yang kubiarkan mengambang, tak hendak mengapung, juga tenggelam.

Enam tahun lalu kuawali semuanya berbekal semangat 45. Kuliah, bersosialisasi, belajar berbagi, mengenal lingkungan, penuh dengan idealisme mahasiswa yang masih segar bugar, menjalani hidup dengan jiwa muda nan penuh gejolak. Namun sekarang betapa aku merasa tua meskipun batinku berontak. Aku merasa layu dan terlena akan rutinitas yang kuciptakan sendiri. Sungguh aku jenuh. Sangat jenuh. Sigh... Seandainya bisa kubeli secangkir semangat...

Senin, 01 Juni 2009

-47- Prosedur Yang Tidak Konsisten Itu Menyebalkan

KP*N... Kantor Pelayanan P************* Negara (edited: byk yg protes sih...). Uhh, rasanya sudah beberapa kali aku mengeluh tentang kantor yang satu ini. Kali ini akan kuabadikan keluh kesahku di rumah maya kesayanganku, sekedar untuk membuatku lega.

Kantor kami merupakan satker (satuan kerja) vertikal yang berada di tingkat kabupaten. Tiap satker dibekali DIPA (Daftar Isian Penggunaan Anggaran) setiap tahunnya. Disitu terinci jumlah dana untuk tiap2 pos pengeluaran sesuai mata anggarannya masing2. Nah, berdasarkan DIPA serta Petunjuk Operasional-nya, suatu satker mengelola keuangannya.

Pernahkah terbayang di benak Anda bagaimana suatu kantor hanya terdiri dari 5 orang (muup degh kalo lebay ^^)... Kepala Kantor, Kasubbag TU, dan 3 orang pada bagian teknis. Salah satu dari 3 orang tersebut adalah aku, yang juga merangkap sebagai bendahara pada tahun ini. Suatu jabatan (benarkah pilihan katanya?), yang sampai detik ini pun belum pernah sekalipun aku mengIYAkannya. Namun apalah daya, sudah di-SK-kan, jadi atas nama tanggungjawab, semua tugas bendahara tetap harus kukerjakan. Gak masalah, asalkan tidak dipersulit.

Sebelum berkeluh kesah, ada baiknya aku memberikan sedikit pengantar sederhana. Jadi, setelah DIPA diterima di awal tahun, satker akan mengajukan UP (Uang Persediaan) yang digunakan untuk keperluan kantor, misalnya sebesar RP.X. SPM (Surat Perintah Membayar) pun dibuat, lalu diajukan ke KP*N. Jika lolos di KPPN, maka KPPN akan mengeluarkan SP2D (Surat Perintah Pencairan Dana). Ini berarti, rekening kantor akan terisi sejumlah RP.X pada tanggal keluarnya SP2D tersebut. Kas mulai terisi.
UP sebesar RP.X tersebut lalu digunakan untuk bayar listrik, telpon, perjalanan dinas, beli ATK, dll sesuai pos yang dianggarkan. Jika UP habis digunakan (atau minimal 75% telah digunakan), maka satker mengajukan GU (Penggantian Uang Persediaan) sejumlah yang telah digunakan. Pengajuan GU ini harus dilengkapi dengan rincian2 pada pos2 mana saja uang tersebut dibelanjakan (sesuai dengan DIPA). Rincian2 tersebut, yang dilengkapi dengan nomor bukti serta tanggal pembayaran setiap transaksi dirinci pada SPTB (Surat Pertanggungjawaban Belanja). SPM dibuat, lalu meluncur lagi ke KP*N. Lolos seleksi, SP2D terbit, dana pun cair. Begitu seterusnya.

Selain GU, ada lagi sifat pembayaran yang disebut LS (Pembayaran Langsung) yang hanya berlaku untuk jenis2 belanja tertentu. Jika pada GU bersifat mengganti UP sehingga dibelanjakan terlebih dahulu baru dipertanggungjawabkan, maka LS sebaliknya. Pada LS, satker membuat SPM yang dilengkapi dokumen pendukung, lalu diajukan ke KP*N. Setelah KP*N menerbitkan SP2D, barulah dana bisa dibelanjakan. Begitulah singkatnya...

Lalu apa yang aku kesalkan? Ketika pertama kali akan mencairkan dana yang sifatnya LS, aku sudah dibuat kesal. Masa siy ngajuin LS, KP*N-nya minta SPTB. Di SPTB kan dirinci tiap detil pengeluaran, nomor bukti, serta tanggal lunas dibayar. Tanggal bayar dan nomor bukti tersebut diambil dari Buku Kas Umum yang mencatat setiap transaksi yang telah dilakukan. Secarraa, duitnya aja blom cair, gimana mau nulis tanggal bayar dan nomor bukti coba? Tapi ya itu, KP*N gak mau nyairin kalo gak ada SPTB, mau protes gimana juga. Alhasil,dibuatlah SPTB... dan bayangkan betapa kacau balaunya SPTB SPTB berikutnya.

Ketika mengajukan GU yang ke-2, KP*N memprotes pembayaran biaya langganan internet yang dibebankan pada "langganan daya dan jasa". Katanya gak boleh dimasukin di "langganan daya dan jasa", melainkan pada "pengadaan ATK,ARK, dll untuk keperluan sehari2". Padahal, di GU sebelumnya ntu internet dah nampang disitu, tapi kok gak diprotes. Bahkan, sudah sejak tahun sebelumnya dia ngetem di "langganan daya dan jasa", kenapa baru sekarang dipermasalahkan?

Keluhan selanjutnya adalah pada GU ke sekian, pada rincian pembayaran honor penyusun rekonsiliasi bulan April-Mei serta honor penyusun laporan form A triwulan 1. Aneh bin ajaib, KP*N menolak istilah honor karena alasan apaaa gitu (gak gitu ngeh...). Plis deh, pembayaran yang sama untuk bulan2 sebelumnya bahkan sudah pernah diajukan, dan duitnya pun sudah keluar. Gak dipermasalahkan tuh. Kenapa kali ini bermasalah? Kok kesannya kayak suka2 org KP*N aja gitu sih...

Huh, udahan dulu ahh ngeluhnya, ntar malah tambah sebel. Kerjaan banyak, orangnya dikit, berarti kan dirangkap2. Jadi bukan cuma itu aja yang harus diurusin. Bukannya mempermudah malah bikin ribet. Okelah kerjaan banyak, sering dikejar deadline, tapi masih mending coz bisa direncanakan. Oke juga kalau salah, gak sesuai prosedur administrasi, memang harus dibenerin. Tapi mbok ya konsisten. Kalo kayak gitu mah tiap mau ngajuin pasti adaaaaa aja salahnya. Ke KP*N bukannya tinggal nyebrang jalan, tapi butuh 2 jam, masa mesti bolak balik hanya gara2 sesuatu yg gak konsisten. Selain itu, mbok ya ramah dikit napa. Kan gak semua orang yang berurusan dengan KP*N adalah orang lama, ada orang2 baru seperti aku yg hanya belajar dari melihat, salah ya wajar, gak perlu pake marah2 kaleee... *untung yang dimarahin yang nganter SPM, bukan aku, hihi

Hff, ibarat orang... karena aku butuh dia, maka aku harus mengikuti semua maunya, meskipun kadang aneh dan gak konsisten. Kalau bukan atas nama mengurusi hajat hidup orang banyak, sori2 aje...

*teriring syukur karena bukan aku yang harus bolak balik KP*N

Sabtu, 23 Mei 2009

-46- Irregular Character *)

HdohHH,, BetE buAngeEDd deGh, Wa kHAnN penGeN jaLan” N sYuuPiNg”, muMpuNG LiBuR, mALaH diSuRu nGanToR, huWAaaHHH...

laPeyyy BaNgeDd Niy, eNakNa mAkaN aP YaHh, bOseeEnN aHH...

BubU doLLoOO aHh, bEsoK kHann mW jaLaN” LaGeEe...

ceNdiRiaNN d rUMah, aTuUuT...

Wedew, cape banget ngetik 4 kalimat di atas. Asli... Waktu yang dibutuhkan buat ngetik 1 kalimat saja dengan rangkaian aksara seperti di atas adalah relatif lebih banyak daripada ngetik biasa. Kebayang gak sih, gimana kalau huruf2 tak beraturan tersebut mesti diketik lewat ponsel? Boro2 mesti ngetik di keypad hape pada umumnya (1 tombol 3 huruf), aku coba ngetik pake hape touchscren yang keyboard-nya onscreen aja susah banget. Benar2 memperlambat...

Begitulah... Jujur saja aku heran setiap melihat teman2 yang betah banget nulis kaya gitu. Contoh yang paling mudah adalah di facebook. Kalau aku perhatikan, tidak sedikit teman2 fb-ku yang sering mengupdate status mereka menggunakan rangkaian huruf tak beraturan tersebut. Info tentang account facebook mereka pun ditulis dengan huruf2 tersebut. Begitukah gaya tulis dan gaya bahasa yang lagi nge-trend di jaman ini? Wew, aku yang katro, yang gak ngerti makna 'keren', atau mereka yang dengan sukarela membuat susah diri sendiri. Hmm...

Aku tidak berhak men-judge, tapi aku berhak berpendapat. Jadi menurutku, irregular character yang digunakan dalam suatu kalimat adalah menyalahi kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar (ehemmm...). Rasanya cukup sudah kita (ehh, aku ding) menzolimi bahasa nenek moyang ini dengan menyingkat "yang" menjadi "yg", "dengan" menjadi "dgn", "untuk" menjadi "utk", atau "hati-hati" menjadi "hati2". Aku juga kalau ngetik sesuatu yang bukan berupa tugas atau surat resmi, pasti pake singkatan, kata2 tidak baku, juga susunan kalimat yang menyalahi kaidah yang benar. Hehe, males kalo bikin tulisan (seperti postingan ini) mesti sesuai kaidah karya ilmiah. *ngeles...

Namun, khusus untuk huruf besar dan huruf kecil... Wahh, aku inget banget guru Ekonomi-ku waktu SMU dulu pernah memarahi beberapa murid yang kalo nulis pake huruf besar dan kecil sekehendak hatinya. Ibu guru bilang, "Kayak gak pernah sekolah aja...". Padahal bukan guru Bahasa Indonesia loh, hehe. Waktu itu aku sangat setuju, masih sekolah sih, jadi masih konsisten dalam menggunakan huruf besar dan kecil. Sekarang? Masih konsisten juga, tapi hanya untuk nulis yang resmi2...

Jadi intinya apa? Bukan apa2, bacanya susyah euy... Aku heran kenapa banyak teman2ku yang ngefans banget sama irregular character tersebut. Aku yang tinggal baca doang aja susah mau baca, apalagi yang nulis. Boro2 status fb-nya mau kukomenin, bacanya aja ogah, males keluar energi lebih, xixi... Yah, apapun itu, rasanya gaul dan keren tidak harus dengan membuat susah diri sendiri, rite?! Setidaknya itu menurutku...

*) Tulisan ini tidak sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Kamis, 21 Mei 2009

-45- Nasib Seorang Single

Pernahkah aku merasa tidak beruntung karena menjadi seorang single? Tidak... Aku tidak pernah merasa tidak beruntung menjadi seorang single sampai sebelum aku mulai tugas di Bengkulu. Sejak hari keberangkatanku ke Bengkulu sekitar 1 tahun yang lalu, sejak itulah mulai kurasakan sedikit demi sedikit ketidakberuntungan karena aku masih sorangan, single, perempuan, dan belum menikah.

Di tahun akademik 2003, aku memulai hidup jauh dari orangtua, tahun pertama kuliahku. Awalnya sedih, namun semua bisa berjalan sebagaimana mestinya sampai dengan Oktober 2007, ketika kuakhiri statusku sebagai mahasiswa dengan menambah sederet huruf di belakang namaku. Lalu apa? Yahh, sejak awal ngampus, aku sudah tahu akan konsekuensi bahwa setelah lulus kuliah akan bekerja dan ditempatkan di suatu daerah, bisa dimanapun, di bumi Indonesia ini. Gak masalah lah, itu bisa dipikirkan belakangan...

Setelah wisuda, langsung kerja. Sebelum benar2 kerja di tempat yang sesungguhnya, sampai Mei 2008 aku dan teman2 masih mondar mandir di kantor pusat. Masih hepi, bahagia bareng teman2, jalan kesana kemari juga gak masalah (secarraa... Jakarta gitu loh, jalan tengah malem juga gak yang serem2 banget), riang gembira dengan cara gaul dan berpenampilan masih sekelas anak kuliahan... cuek. Tidak ada yang salah. So, entar dulu degh mikir merid, senang2 aja dulu (itu pikiranku waktu itu...).

Tibalah saatnya aku harus memasuki kehidupanku yang sebenarnya. Saat tersebut diawali dengan keberangkatan ke Bengkulu, tempat aku ditugaskan. Waktu itu aku mulai merasa seorang diri. No friend, no family... Kloter Bengkulu berangkat belakangan, teman2 dekatku dah pada away duluan, gak ada teman yang mengantar, kecuali sesama penempatan Bengkulu. Gak ada keluarga yang nganter coz kami berangkat bareng langsung dari Jakarta. Gak ada teman yang bantuin packing seperti biasanya. Malam2 terakhir juga dihabiskan sendiri di rumah kontrakan. Uhh, what a bad time...

"Selamat Datang di Bumi Raflesia!"... Bumi tempat kami akan mengabdi (jiyyahhh, gaya banget). Kurang lebih sebulan kami masih di kantor provinsi, masih bersama, masih berjiwa anak2, hehe. Juni 2008 adalah saat untuk benar2 membuka mata, menuju jungle yang sebenarnya, berpisah menuju kabupaten masing2, menjaga diri sendiri, bertindak sendiri, dan yang pasti hidup sendiri. Menyedihkan karena semua harus dijalani sendiri. Menyedihkan karena ketidakmauanku merengek2 manja ke ortu. Gak tega bikin ortu khawatir. Menyedihkan karena aku harus berpijak pada kakiku sendiri, bergaul pada manusia lain sebagai individu yang "seharusnya" sudah dewasa. Padahal... di saat2 seperti itu aku butuh merengek, aku butuh mengeluh, aku butuh menangis. But, there’s no shoulder to cry on. Hiks...

Inilah awal dari ketidakberuntungan itu (beruntungnya juga banyak, tapi gak lagi pengen dibahas). Coba bayangkan tentang seorang perempuan muda (kan baru 23, hihi) yang sudah bekerja dan tidak tinggal dengan orangtuanya... Sungguh, betapa banyak fitnah yang mengintai. Setidaknya itulah yang kurasakan sampai sejauh ini.

Jika ketika kuliah dulu aku bisa cuek jalan bareng teman cowo A ketika harus mereparasi PC, atau jalan bareng teman cowo B untuk keperluan lain, maka sekarang tidak. Di sini bukan Jakarta, bisa2 dianggap cewe gampangan degh gw. Kalau dulu gak masalah teman cowo datang ke kontrakan untuk sekedar belajar bareng atau apapun, maka sekarang harus dihindari, ntar tiba2 malah digerebek dikira macem2. Ketika aku sebaiknya beramah tamah pada personel2 instansi lain yang bekerjasama dengan kantorku, yang notabenenya bapak2, jangan terlalu degh... bisa2 dicap penggoda suami orang. Juga kepada cowo yang iseng telpon atau datang ke kost, gak mungkin serta merta dijudesin meskipun ilfil setengah idup. Benci... Aku benci situasi seperti ini, meskipun memang begitulah resiko tinggal di lingkungan pedesaan. Tapi aku kemudian merenung, kenapa hanya saat situasinya seperti ini aku baru berpikir untuk menikah...

Karena aku perempuan dan masih single, banyak fitnah membuntutiku dan akan menyergapku dengan tiba2 ketika aku lengah. Ouw, rasanya ingin segera kuakhiri masa ini. Namun entah kenapa aku hanya mengeluh tanpa mau dan berani bertindak konkrit. Payahhh...

Sendiri memang indah, kawan... Tapi bahagia bila bersamanya ^_^

Jumat, 15 Mei 2009

-44- Award Lageee!

Alhamdulillah dapet award lagi. It's The Real WEE dianugerahi 5 award oleh Anjos Blog. Terimakasih banyak atas award tersebut, trus apresiasi yang besar juga aku berikan pada si pemberi award, coz 23tahun.blogspot.com ini masih termasuk kategori blog pemula. Adapun award tersebut adalah sbb:






Nah, dalam menerima award ini, rules-nya adalah:

1. Letakkan gambar awardnya di blogmu.
2. Pasang link ke pemberi award.
3. Sebarkan award ini ke blog lainnya.
4. Pasang link ke penerima award.
5. Tinggalkan pesan di shoutbox atau post comment.

Berikut adalah penerima award dari Wee:

1. blognyasipemalas
2. mrblankx
3. zhatira elqisya
4. anak nelayan
5. kautsar

Keep blogging frennn! ^_^

Senin, 11 Mei 2009

-43- Money Can't Buy Me Love

"Wee, ada cowo yang nanyain kamu tu…"
"Hah??" – gak pengen tau sama sekali siapa tu cowo.
"Itu… yang rumahnya di depan situ."
"Hmm…" – masih gak minat sama sekali, bahkan cenderung ilfil.
"Iya, dia tu caleg, mungkin umurnya agak jauh di atasmu, tapi kaya raya, punya ini itu, rumahnya bla bla bla……"

Begitulah percakapan selintas antara aku dan ibu kost-ku kira2 sebulan yang lalu. Hfff, mungkin gitu yah kalo ibu2 yang tidak bekerja dan sudah tua, hobinya ngomong. Apa aja diomongin. Tak tahukah beliau bahwa aku ilfil, juga malah jadi takut. Tapi bukan tentang itu yang ingin aku tulis di sini. Aku ingin menggarisbawahi kalimat terakhir ibu kost-ku di atas, yang tidak kutanggapi sama sekali, namun sebenarnya langsung masuk ke dalam pikiranku.

Penting gak sih memperkenalkan seorang cowo kepada seorang cewe dengan membacakan daftar kekayaannya? Seperti dalam kasusku ini, bentuknya tu cowo aja aku gak tau. Kenal juga enggak. Namun, daftar kekayaannya sudah lebih dulu release jauh sebelum namanya disebut. And you know what… sampai detik ini si ibu kost belum pernah sekalipun menyebut nama cowo tersebut. Ada2 saja…

Dua bulan sebelumnya:

Pagi itu aku sedang ngobrol santai dengan ibu kost sembari nungguin jemputan travel ke Bengkulu. Si ibu seperti biasa, cerita apapun yang sedang ada di pikirannya dan pengen dia ungkapkan. Dia menceritakan tentang anak pertamanya yang meninggal dunia 4 bulan yang lalu karena jantung. Bahwa anak perempuannya tersebut sering makan ati karena kelakuan menantunya yang malas, tidak pernah bekerja, de el el, de es te.

Puas cerita tentang anak pertamanya, sang ibu kost beralih cerita tentang anak bungsunya. Anak bungsunya seorang laki2, sudah menikah dan mempunyai 1 orang anak. Istri anaknya tersebut (sebut saja sebagai Sita) merupakan anak bungsu dari 2 bersaudara. Kakaknya tinggal di Kalimantan, menikah dengan seorang pengusaha kaya, dan sudah dikaruniai 1 anak. Ibu kost menceritakan betapa kaya rayanya saudara menantunya tersebut, bagaimana sang kakak sering membantu adik semata wayangnya, serta betapa sayang besannya (ibunya Sita) kepada Sita dan anaknya.

Nah, rupanya bagian dari cerita ibu kost-ku kali ini adalah klimaksnya. Mungkin karena aku tipe2 pendengar yang baik, yang tidak terlalu banyak menimpali namun terkesan menyimak dengan serius (jujur saja… semua hanya atas dasar kesopanan), maka tidak jarang ibu kost memberikan nasihat di sela2 ceritanya. SIlakan disimak nasehat ibu kostku kali ini…

"Maka dari itu, kalo mau cari suami, janganlah cari yang banyak saudara2 dan sanak keluarganya, supaya kita tetep dapet warisan. Kalau sanak saudaranya banyak, boro2 mau dapet, malah jadi ribet sendiri…" *)

*) kalimat persisnya gak kaya gitu, aku hanya sedikit menerjemahkan.

Hahaha, meski aku tak membantah (secarrra… mw ngomong apa coba gw, takut kualat ahh sama orang tua), aku tertawa terbahak2 di dalam hati. Ouw God, plis degh buk… menyimpulkannya jangan kaya gitu dunk. Harusnya aku sebagai anak kemarin sore ini dinasihati agar jangan pernah mengandalkan dan menggantungkan diri pada harta orang tua. Kalau mau kaya raya, usaha sendiri dunk…

Lima menit yang lalu:

Aku kembali berpikir, mungkin skenario hidup yang telah dijalani sang ibu kost, serta lingkungan yang melingkupinya, dengan serta merta telah membuatnya berpikir begitu. Atas dasar rasa tanggungjawab orangtua yang ingin memberikan pelajaran kepada yang lebih muda, ia pun menasehati supaya aku tidak mengalami keadaan buruk seperti yang telah ia alami. But, don’t you know honey… it’s not so simple. Coz money can’t buy me love…