Senin, 06 April 2009

-34- The Caffeine & My Lovely Ice

Ngebahas tentang kafein berarti ngebahas tentang kopi. Apa yang ada di benak Anda ketika pertama kali mendengar kata "kopi"? Kalo aku siy, pas denger kata "kopi", kata2 bertautan yang langsung nyangkut di kepalaku adalah "hitam", "pahit", dan "aku gak suka". Pada tingkat kesadaran berikutnya, kata yang nyangkut juga adalah "kafein". Secara umum, auranya langsung negatif (bukan Aura Kasih loh ^_^).

Setelah beberapa saat kemudian, aura negatif berangsur2 berkurang seiring kesadaranku yang mulai pulih. Aku yang dengan sendirinya menciptakan aura negatif tersebut sempat tidak sadar bahwa sebenarnya aku pun adalah konsumen kafein. Yupz, kafein ada pada kopi, dan yang namanya kopi gak mesti berwujud hitam jelek. Nama2 keren seperti Cappuchino, Moccachino, Vanilla Latte, Carrebean yang disematkan pada produk2 Good Day, Indocafe ataupun Nescafe, bukankah juga adalah kopi.

Meskipun aku pengonsumsi produk2 keren varian kopi instan tersebut, aku tetap tidak sudi mengakui bahwa aku penggemar kopi. Hehe, sok2an banged seh gw... Kadang aku merasa aneh dengan diriku sendiri, semua minuman kok kuembat aja yah, kecuali yang ber-genre sirup. Mimunam wajibku adalah air putih yang 1 galonnya bisa kuhabiskan hanya dalam beberapa hari saja. Minuman sehari2ku adalah susu dan sekali2 susu murni. Kalo lagi makan di luar, minuman fave-ku adalah teh manis yang wajib pake es batu, atau softdrink yang juga wajib pake es batu. Then, tiap hari; terutama saat santai; aku wajib mengonsumsi; lagi-lagi; es batu. Trus, gak mungkin kan kalo es batu dimakan gitu aja (mungkinjuga siy...), jadi es batu tersebut akan ditemani oleh kopi2an instan seperti di atas atau sekedar nutrisari. Berhubung aku gak bisa hidup tanpa es batu (dramatis sekalee), jadi bisa dipastikan hampir tiap hari kafein masuk ke tubuhku meskipun jumlahnya sangat kecil.

Then, what is the meaning of "addiction" exactly? Banyak orang bilang bahwa kafein pada kopi bisa bikin kecanduan. So, what about me? Yeah, dengan sepenuhnya sadar kuakui bahwa aku memang sudah kecanduan. Tapi bukan kecanduan kafein melainkan kecanduan es batu, sampai2 orang2 terdekatku bilang bahwa aku bukan peminum, melainkan pemakan es batu, dan melihatku makan es batu adalah layaknya melihat orang kebanyakan makan kerupuk. Mau hari ujan atau sedingin apapun, gak ngaruh. Cz of that, cappuchino ataupun nutrisari bukanlah pemegang peranan penting. Mereka hanya pemain pendukung agar si es batu gak sendirian.

Secara teori, seharusnya aku yang secara otomatis sudah menjadi penikmat kafein akan menjadi pecandu juga. Tapi kok enggak yah... Kalo aku disodorin kopi panas, apapun bentuknya, entah kopi item, kopi plus mocca, atau kopi apapun yang panas2, pasti kutolak, gak minat sedikitpun. Yang dingin juga gitu, kecuali kalo ada es batunya. Jadi, bisakah disimpulkan bahwa dalam kasusku, kecanduan akan kafein bisa terkalahkan oleh cintaku pada es batu?! Hohoho, I think, I hv already had d answer...

Minggu, 05 April 2009

-33- Postingan Gak Jelas

Lagi iseng pengen ngerekap produk2 yang biasa aku pakai sehari2. Ini list-nya...

Mandi
Sabun batang Dettol, sabun cair Dettol, Dettol cair. Pasta gigi Ciptadent. Sikat gigi Oral-B. Lulur mandi Sumber Ayu.

Rambut
Shampo ganti2 neh, kalo lagi ketombean pake Shelsun ato Clear, dalam kondisi biasa pake shampo dan conditioner Sunsilk. Vitamin rambut Ellips. Advisor Anti Frizz spray dari Makarizo.

Pakaian
Deterjen Attack Easy. Pelembut dan pengharum pakaian Molto Ultra. Molto Trika buat nyetrika.

Kosmetik
Bedak Pixy. Ponds Flawless White visible lightening day cream dan re-brightening night treatment. Maskara Revlon. Lipstik Rivera. Viva milk cleanser dan face tonic lemon. Kapas Selection. Handbody Viva lotion bengkoang dan Viva sunscreen lotion.

Lain-Lain
Casablanca cologne (nyari2 parfum Zahra susah nemunya). Deodoran Rexona. Herocyn tabur buat gatal2. Antis antiseptic kalo gak bisa cuci tangan. Pengharum ruangan Air Wick. Hit matt buat ngusir nyamuk. Pembalut dan pantyliner Charm. Cutton bud gak jelas merknya. Nail Henna merk Rani, kalo gak salah (hehe, hobi ngewarnain kuku siy, kalo pake kutek kan gak kena wudhu). Dan yang gak boleh ketinggalan adalah tisu.

Obat-Obatan
Kalo luka pake Betadine. Sariawan pake Albothyl. Pusing, demam, pilek dan sejenisnya pake Paracetamol. Mata lelah pake Sagestam. Trus kalo mules ato diare pake Entrostop.

Wedew... setelah di-list ternyata banyak juga yah. Itu belum termasuk produk makanan jadi alias makanan2 instan. Ribet euy... Tapi aku manusia yang butuh produk2 tersebut, hehe...

Rabu, 01 April 2009

-32- I'm Not A Perfectionist

Berkali-kali aku berpikir, mencoba menggali lebih dalam pandangan beberapa teman tentang aku yang menurut mereka terlalu perfeksionis, berkali-kali juga aku gagal menemukan jawaban yang pas. Jawaban yang kuharap bisa membenarkan anggapan mereka. But what? Tidak terdapat satu alasan pun yang bisa membuatku menerima dengan pikiran terbuka label yang direkatkan padaku itu.

Ketika aku ingin pakaianku match, gak tabrak lari kesana kemari, aku dibilang perfeksionis. Ketika aku tidak ingin terdapat satu kesalahan pun pada tugas kuliahku, aku dicap perfeksionis. Ketika rumahku kinclong dengan barang2 yang tersusun rapi, aku juga dijuluki perfeksionis. Ketika aku ilfil pas ngerasain terdapat butiran2 pasir di atas kasurku, aku dianggap perfeksionis. Dan ketika aku bete ngeliat perabot makan yang masih berminyak, dengan serta merta aku dikategorikan terlalu perfeksionis. Jadi bingung...

Oke, aku bahas poin pertama. Kayanya yang namanya pakaian kudu match, wajar kok. Secara estetika aja lah, misalnya atasan merah menyala dipadukan dengan bawahan yang merah menyala juga, trus dipake siang bolong, aneh gak siy? Hmm, mungkin gak juga yah. Sekarang kan banyak orang2 aneh yang berkeliaran di jalanan. Kalo kaya gitu paling banter juga dikirain P*IP lagi kampanye, atau sengaja pengen jadi umpan, sapa tau ada banteng lepas, hehe.

Poin kedua tentang tugas kuliah. Wah, gak jamannya lagi dibahas neh, sekarang kan jamannya tugas kantor. Yah, namanya juga newbie di dunia perkantoran, jadi paling2 yang gak boleh ada kesalahan adalah minimal di urusan pengetikan. Apalagi kalo bikin buku alias publikasi, satu karakter aja salah atau ada spasi yang agak nyeleneh, boz-ku tahu loh. Boz-ku tipe2 editor yang baik siy... Loh Wee, katanya mbahas masalah perfeksionis, kok malah belok. Hehe, bodo’ ahh...

Next case tentang rumah yang bersih bin rapi. Nah, kalo yang ini bener2 bukan karena perfeksionis, tapi karena kebutuhan naluriah manusia akan kenyamanan. Berhubung aku tipe2 anak rumahan, jadi yang namanya rumah memang harus bersih, barang2nya juga mesti tersusun rapi dan teratur. Lagi2 bukan masalah perfeksionis. Bukankah kalo rapi dan teratur kita sendiri yang diuntungkan. Kalo mau nyari2 barang gak bakalan grasa grusu bongkar sana bongkar sini padahal barangnya cuma sejengkal aja dari kaki. Halah, lebay... Tapi kalo lagi males n gak mood beres2, yah apa boleh buat. Terpaksa berpuas diri dulu dalam kondisi yang agak semrawut :D

Jalan2 di pantai dengan kaki telanjang memang enak, asal jangan pas matahari tepat di atas kepala ajah. Tapi kalo pasirnya terbawa ke rumah, sampai2 lantainya juga pasiran, kayanya gak enak lagi degh jatohnya. Pasti bakal cepat2 disapu ntu pasir. Trus, kalo pasirnya mampir di tempat tidur, hiiii... ilfil lah. Jadi aku rada heran juga kalo ngeliat orang yang bisa dengan nyenyaknya tidur di tempat tidur yang pasiran kaya gitu. Ada debu aja ilfil, palagi ditambah pasir. Coz of that, aku bener2 gak suka kalo tempat tidurku diinjak2, and I think it’s not because I’m a perfectionist,isn’t it?

Case terakhir adalah tentang perabot makan. Hmm, aku benar2 penilai yang baik untuk urusan yang satu ini. Hanya ada tiga hal diantara sekian banyak hal terkait yang ingin aku bahas di sini. Hal pertama adalah tentang gelas yang berminyak, wajarkah? Separah2nya lemak di gelas, paling2 karena santan, itu pun gak seberapa lah. Nah, kalau yang berminyak itu adalah piring, mangkuk, atau wajan... wajar. Namun jadi gak wajar kalau setelah dicuci lemaknya masih nempel. Uppss, jadi ngaco... oke, kembali ke jalan yang benar. Jadi idealnya, gak ada istilah yang namanya gelas itu berlemak. Masalahnya, aku sering banget liat orang yang dengan cueknya naruh gelas di dalam wajan berminyak, atau mangkuk penuh lemak, pas ngeberesin perabot makan yang kotor. Setengah idup ilfilnya liat gituan. Maklum, aku terbiasa saklek dari kecil, jadi gak ada istilahnya gelas dicampuradukkan dengan perabot makan yang lain. Gelas kan buat minum...

Hal kedua adalah tentang masalah cuci piring. Apa siy pengertian dari 'mencuci'. Gak perlu lah buka kamus, anak kecil juga tahu 'nyuci' artinya membikin bersih. Tapi anehnya, sering banget aku nemu perabot2 makan yang katanya sudah dicuci tapi kok masih adaaa aja bekas makanan yang nempel, misalnya bekas nasi yang kering dan mengeras di piring, atau bekas masak apaa gitu di dalam panci. Dalam hal ini, mood makanku akan berkurang, meskipun kalo laper ya tetep tancep gas juga...

Hal ketiga masih tentang cuci mencuci piring. Entah nyuci piringnya di wastafel atau bukan, yang penting menurutku adalah kewajiban meninggalkan tempat cuci piring dalam keadaan bersih, tanpa sedikitpun bekas makanan tersisa. Masalahnya, tidak jarang aku liat orang2 yang dengan cueknya ninggalin gitu aja tempat cuci piring padahal masih banyak banget bekas2 nasi berceceran. Ilfil gak siy...

Hhh, khusus untuk case terakhir ini, benar2 baru aku sadari dan temui sejak meninggalkan rumah menjadi perantau di tahun 2003 lalu. Dan lagi2... menurutku itu bukanlah suatu bentuk dari sifat perfeksionis, melainkan hanya ingin akan sesuatu yang berjalan secara ideal dan semestinya.

CASE CLOSED. Jadi mikir... awalnya kan ingin nulis tentang ke-perfeksionis-an, tapi kok ujung2nya jadi emosi, hehe ^^

Selasa, 31 Maret 2009

-31- Independent Woman

Judul di atas aku comot dari tulisannya Septi tentang cewe mandiri. Tulisan tersebut mengingatkanku akan obrolan dengannya saat makan siang di Solaria, Mega Mall Bengkulu, sembari nungguin hujan yang makin ditunggu malah makin deras. Waktu itu Septi makan kwetiau sedangkan aku pake ayam rica2. Dan apapun makanannya, minumnya es teh manis. Hahaha, gak penting banget siy...

Aku hanya ingin sedikit beropini, opini ringan, santai, dan tidak penting tentang independent woman tersebut. Cewe mandiri... Tidak bisa dipungkiri bahwa tipe cewe yang ini bisa membuat cowo2 mundur teratur coz ngerasa gak dibutuhkan layaknya seorang superhero. Aneh memang. Beberapa cowo prefer ke tipe2 cewe yang rada2 manja. Karena lucu n ngegemesin kali yah :D Eh, balik lagi ke cowo2 yang mundur teratur tadi. Lebih spesifik lagi, tipe cewe mandiri yang dimaksud adalah mandiri secara finansial, dan didukung dengan jenjang pendidikan yang juga tinggi. Komplit dah...

Alur logikaku bilang gini, kalau seseorang itu, baik laki2 maupun perempuan bisa menempuh pendidikan yang setinggi2nya, bagus kan. Tidak secuil pun aku menemukan sesuatu yang buruk dari hal tersebut. Pun ketika seseorang itu bisa mengerjakan sesuatunya sendiri tanpa mengandalkan orang lain, burukkah itu? Tidak sama sekali.

Namun yang berlaku di sini adalah rasa, dan yang namanya rasa gak bisa diukur pake logika. Aku ingat cerita kakakku waktu masih di awal2 pernikahan dulu. Kebetulan kakakku itu termasuk tipe2 cewe mandiri. Anti banget minta tolong ma orang, kecuali kalau sudah sangat2 terpaksa. Nah, ceritanya kakak iparku kan baru tahu bahwa kakakku pembawaannya gitu. Doi maklum, secara kakakku kan anak tua, jadi dah biasa direcokin dan direpotin, terutama olehku. Akhirnya, secara verbal alias berkomunikasi langsung, kakak ipar minta pada kakakku supaya gak pake sungkan untuk mengandalkannya dalam banyak hal. Dia menjelaskan bahwa memang begitulah dalam berumah tangga, bahwa kakakku sudah tidak sendiri lagi dan sudah punya pemimpin, tempat untuk menggantungkan hidupnya. Hehe, terasa lucu... tapi menurutku begitulah seharusnya. Rasa dipercaya, dibutuhkan, diinginkan, dihormati, de el el, de es te yang gak bisa dijelaskan dengan logika, tetap bisa dikomunikasikan dengan baik bersama pasangan.

Ahh, lagi2 tulisanku ngelantur. Jadi apa kesimpulannya?

Jika wanita adalah independent variable, maka wanita adalah X. Lalu pria adalah Y alias dependent variable. Nilai X itu adalah tetap, sedangkan nilai Y adalah tergantung pada variabel X penyusunnya. Jika X itu tersusun atas X, maka Y tersusun atas X, tidak hanya satu X, melainkan bisa dua, tiga, atau empat X. Sigh.....

Kamis, 19 Maret 2009

-30- You Make Me Think*)

Akhwat A
Di balik pembawaannya yang pendiam, ia adalah seorang ambisius, penuh tekad akan sesuatu, dan senantiasa berusaha untuk mewujudkan impiannya. Terkesan individualis tapi menyimpan setiap detil perhatian akan suara2 di sekitarnya. Seolah2 tidak peduli namun ia mendengar. Tidak begitu mengkhawatirkan pandangan orang lain selama ia nyaman dengan aktivitasnya. Tidak suka menjadi pusat perhatian. Pekerja keras dan tidak mudah jatuh cinta. Terkesan tertutup padahal sebenarnya bisa terbuka. Seorang yang teguh memegang prinsip, tidak peduli meski dunia melecehkannya. Yakin akan kemampuan diri sendiri. Senantiasa merekam setiap kebaikan serta kezaliman yang menghampirinya. Mudah tersinggung meski tersimpan.

Akhwat B
Dengan gayanya yang lembut ia menggambarkan bagaimana seorang perempuan seharusnya. Kalem tetapi aktif. Suka membuat rencana serta to do list. Tipe pengayom bagi yang lebih muda, sopan terhadap yang tua, perhatian terhadap sesama. Berkepribadian keras di balik tampilan yang lembut. Rajin. Gampang ilfil pada yang tidak rapi. Agak saklek. Di luar dicap pendiam. Bijaksana. Bagus secara fisik, bagus secara ibadah. Tidak suka bergantung pada orang lain. Tidak pernah menunjukkan kemarahan. Sangat tidak menyukai sesuatu yang bertentangan dengan apa yang ia yakini. Suka membaca Al Quran dan menyukai tipe ikhwan yang bacaan Al Quran-nya bagus. Polos dan tidak mempunyai sisi bad girls.

Akhwat C
Terkesan sebagai akhwat biasa, namun ibadahnya luar biasa. Bukan aktivis di luar tapi hebat di dalam. Tipe teman yang sangat baik. Mudah dihinggapi perasaan bersalah dan sering merasa khawatir akan ketidaknyamanan orang lain terhadapnya. Tipe pesimistis dan senantiasa membutuhkan motivasi dari luar untuk mendongkrak semangatnya. Polos dan naif. Tidak terlalu memperhatikan penampilan. Perasaannya halus. Mudah tertekan. Senantiasa berusaha ada untuk teman2nya. Sangat mudah kagum dan jatuh cinta. Menyukai setiap hubungan pertemanan. Sering underestimate terhadap diri sendiri. Perhatian, sabar, dan tidak pernah bisa marah.

Akhwat D
Termasuk tipe ceriwis. AKtif. Cenderung memaksakan pendapat, pandangan, juga kehendak. Akhwat dengan semangat dakwah tinggi. Mobile. Mempunyai banyak amanah namun agak sedikit 'ember'. Sangat perhatian terhadap teman2nya. Pintar. Tidak menyukai tipe 'anak gaul'. Penasehat yang baik. Tidak menyukai aktivitas semacam 'nongkrong di kantin'. Lucu. Bijak tapi kadang egois. Menyenangkan jika sudah kenal. Sangat tidak menyukai ikhwan yang mengutamakan fisik.

Akhwat E
Kalem, lembut, termasuk pendiam (kalau di luar). Feminin dan juga dewasa. Suka mempelajari sesuatu yang baru. Tipe individualis. Jarang bersosialisasi dengan sekitarnya. Susah untuk menyatakan suatu penolakan. Agak mudah tertekan. Mudah kagum pada ikhwan yang cerdas dan mempunyai suatu keahlian. Termasuk tipe high class.

Akhwat F
Agak sedikit 'kasar' untuk ukuran sukunya. Ceriwis. Polos. Kaya ilmu agamanya. Kadang agak 'pedas' dalam berbicara. Sangat tidak menyukai ikhwah dengan ilmu tanpa amalan. Agak sedikit malas. Cenderung santai. Menyukai tipe ikhwan yang tegas. Suka menulis. Kadang tidak mempedulikan kekesalan orang lain terhadapnya. Enak diajak seru2an.

---

Ya Allah... masih banyak manusia2 lain yang Engkau ciptakan dengan kepribadiannya masing2. Dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Dengan segala baik buruknya. Dengan warna masing2, dengan gaya masing2, juga dengan pandangan masing2.

Seandainya hidup ini adalah puzzle, maka kepingan2nya adalah penggambaran kepribadian manusia. Akan ada sudut dan akan ada yang mengisinya. Akan ada lubang dan akan ada yang menambalnya. Tidak hanya ada segiempat, melainkan ada segitiga, segilima, juga segi2 lain yang tak akan habis bentuk dan rupanya. Semua ada untuk saling melengkapi.
Aku bersyukur kepadaMu... atas aneka ragam pribadi yang telah menghiasi dan memperkaya hidupku...

*) ditulis 1,5 tahun yang lalu

Rabu, 18 Maret 2009

-29- Sisi Jalanan Seorang Anak Rumahan

Sambil geleng-geleng ingat akan salah satu komentar 'aneh' di blog-nya Arifah, tiba2 ingatanku melayang menuju akhir 2007 lalu. Lagi2 aku geleng2, kali ini sambil mengutuki diri sendiri yang waktu itu telah bersikap begitu bodohnya. Kebodohan yang baru benar2 kurasakan belakangan.

Waktu itu pengumuman penempatan. Aku merasa terlempar dan begitu merana setelah mendengar bahwa Bengkulu akan menjadi tempat tugasku nantinya. Aku benar2 syok, bahkan sampe nangis. Benar2 sesuatu yang tidak wajar menurut kebiasaan seorang aku yang senantiasa berusaha mati2an untuk tidak membiarkan orang2 terdekatku sekalipun melihatku menangis. Egoku benar2 tidak terima. Why me?

Saking penasarannya, aku bertanya pada beberapa teman yang penempatannya balik ke kandang yang tadinya juga aku tuju. Apa yang kutanyakan? Aku menanyakan IPK mereka. Sesuatu yang 'katanya' menjadi salah satu kriteria penempatan. Then what? Seandainya kriteria itu benar, aku merasa tercabik, karena bukan aku yang seharusnya terlempar. Ck ck ck... segitunya Wee.

Untunglah bodohnya gak kelamaan. Aku berenang, tidak hanya terpaku menunggu tenggelam (padahal sebenarnya gak bisa berenang dink :D). Tidak sepantasnya aku menyerah dan mengutuki keadaan, coz tidak pernah ada 'ADA' yang hanya kebetulan di dunia ini. Semua akibat ada sebabnya, dan semua akibat ada hikmahnya. Beruntung, pikiran warasku senantiasa mencari2 hikmah dalam tiap detik berikutnya dari jarum waktu yang selalu berputar.

Kupandangi diriku sekarang. Beda... pasti. Sudah terlalu banyak hal berlaku, dan rasanya terlalu sia2 jika dilewatkan begitu saja. Alhasil, ada banyak seandainya yang sekarang menari2 di benakku. Seandainya aku pulang, belum tentu situasi kerja yang nyaman bisa aku rasakan. Seandainya aku pulang, belum tentu rekan2 sekantor akan menerimaku dengan senang hati. Seandainya aku pulang, belum tentu aku bertemu boz yang gak neko2. Seandainya aku pulang, belum tentu aku bisa menginjak tanah bernama Lebong. Seandainya aku pulang, belum tentu progress bar kemandirianku senantiasa bergerak. Seandainya aku pulang, embel2 nama ortu akan selalu membuntuti setiap lakuku. Dan seandainya aku tidak di sini, belum tentu blog ini ada.

Aku yang dulu adalah aku yang gak berani naek motor gara2 sedikit trauma pernah nabrak trotoar waktu SMU. Sekarang, berpuluh2 kilo juga ayuuukss (yakin?)... Coba kalo aku balik kandang, jangan2 trauma itu bukannya ilang malah semakin menjadi2.
Aku yang dulu adalah aku yang tidak pernah berani menempuh perjalanan sendiri. Bahkan, selama 4 tahun kuliah, baru di tahun terakhir kuliah saja ortu gak nganter balik lagi ke Jakarta kalo aku lagi pulkam dan akan kembali kuliah. Ke Pasar Jatinegara yang hanya sekian menit dari Otista pun, aku gak berani sendiri. Hmm, sebenarnya bukan gak berani siy, cuma gak nyaman aja kalo sorangan, mati gaya euy... Lah sekarang... aku yang notabene anak rumahan malah menjelma anak jalanan. Gak maen antar jemput lagi kalo kemana2. Dan pastinya, bisa lebih taft karena ditempa keadaan.

Itulah... ketika aku meminta pulang, Allah tidak memberiku jawaban "Ya". Dia membuatkan skenario lain untukku. Skenario yang sudah pasti jauh lebih baik daripada sekedar mengiyakan pintaku.


Coz Allah will always answer my requests, not always with a YES, but always with THE BEST.

-28- N P W P

Sudah sebulan ini aku benar2 bersentuhan dengan tugas2 bendahara. Tadinya masih dalam tahap belajar, melihat, mencerna, lalu melakukan. Jabatan yang tadinya mampu membuatku merasa sengsara karena gak ada alasan sama sekali untuk menolaknya, lama kelamaan ternyata mempunyai nilai rasa yang spesial. Nilai rasa yang berwujud pengalaman dan pelajaran hidup.

Menjadi bendahara berarti aku harus benar2 teliti terkait setiap rupiah yang disetujui untuk dikeluarkan. Aku juga harus mempunyai catatan2 yang lengkap mengenai keadaan keuangan terkini, jika tidak ingin kelabakan belakangan. Dan yang pasti, aku mulai menyukainya. Menyukai kebingunganku ketika ngitung duit yang gak pernah klop. Menyukai tarian jariku di atas keyboard ketika menjalankan aplikasi keuangan. Juga menyukai menjadi money manager untuk keuangan pribadiku sendiri.

Thanx to Yuk Meli yang masih bersedia meng-handle aplikasi SAKPA dan Gaji. Thanx so much atas pengertiannya bahwa gak mungkin semua diserahkan padaku, sementara Statistik Distribusi dan Nerwilis pun masih ada di pundak ini. Begitulah, satker 668540 yang hanya diusung oleh 5 orang saja, memang harus gotong royong agar tetap dapat berdiri tegak.

Jadi apa hubungannya dengan 14.698.637.7.327.000? Sudah beberapa kali aku koar2 minta NPWP toko tempat belanja ATK, hotel tempat pelatihan, ataupun rekanan penyedia catering... akhirnya aku punya NPWP juga, hehe... Jadi gak khawatir lagi ketemu orang pajak dan ditanyain, "Sudah punya NPWP belum?" Kyaaaa, garink...

Inget NPWP jadi inget pajak. Sumpah, awalnya aku gak ngerti sama sekali tentang pajak. Aku gak tahu bahwa belanja di atas 1 juta itu kena pajak. Aku gak tahu bahwa besarnya PPN itu adalah nominal dibagi 11. Aku juga gak tahu apa2 soal PPh, entah itu pasal 21,22 atau 23. Yang pasti, aku gak ngeh tentang semua keribetan yang kadang terasa sangat2 njelimet tersebut.

Well, dengan begitu berarti aku punya 2 NPWP. Yang satu atas namaku, walau sampai sekarang aku masih belum tahu apa gunanya. Dan yang satunya lagi atas nama bendahara. Jabatan yang paling banyak megang duit (padahal bukan juga duit sendiri), serta jabatan yang membuatku hapal sederetan karakter 0027.0/054-01.2/VIII/2009.