Kamis, 20 Desember 2012

-103- Suami "Genit"

Tadi saya berjalan-jalan ke sebuah group yang isinya membahas seputar hal-hal yang menyangkut urusan emak-emak, dan anggotanya juga semua emak-emak. Saya membaca sebuah thread tentang seorang emak yang lagi galau, katanya suaminya main belakang dengan wanita lain. Banyak komentar dari emak-emak lain yang ikut berempati dan menasehati untuk benar-benar diselidiki dan dibicarakan lagi baik-baik. Ada komentar yang ikut bercerita bagaimana dulu rumah tangga orangtuanya juga pernah dilanda masalah serupa dan ternyata itu hanya adu domba dari pihak ketiga (sialnya, bapak-ibunya sudah terlanjur perang dunia). Atau komentar yang berempati karena pernah merasakan hal serupa pada dirinya sendiri. Juga ada emak lain yang ikut cerita bahwa dirinya juga sedang galau karena menemukan suaminya menginbox mantannya begini, "Lagi ngapain?". Menurut saya, malah komentar ini yang paling menarik untuk dibahas.

Saya memang hanya silent reader, tapi kemudian lagi-lagi pikiran saya kemana-mana. Saya sering sekali membaca thread serupa tapi tak sama di beberapa group lain. Keluhan para istri yang menurut mereka suaminya "genit". Hmm, saya jadi ingat ingin membuat tulisan tentang adab-adab atau tindakan sehari-hari yang pantas dan tidak pantas dilakukan oleh orang yang sudah menikah. Tentu saja menurut saya berdasarkan rule agama yang saya tau. Tapi nanti dulu lah, kita bahas tentang thread yang tadi saja lah ya... :)

Suami "genit", bagus kali ya kalo dijadikan judul. Ada kesan komersilnya. Agak-agak gimana gitu, padahal secara halus sih seperti mengadu domba, hihihi. Yang jelas banyak sekali saya menemukan curhatan para istri di forum-forum dunia maya yang mengeluhkan tingkah laku suami mereka yang menyakitkan. Kenapa saya bilang menyakitkan? Karena memang para istri itu bilang menyakitkan. Dan tahukah Anda wahai kaum adam, eh salah... wahai para suami... perempuan itu perasaannya halus, pada umumnya kepo banget, secara naluriah mudah menilai suatu tindakan, dan sangat mudah merasa tidak dicintai. Mereka fragile. Itu perempuan secara umum loh, apalagi seorang istri. Kalau perempuan lajang mungkin gak akan sesensitif itu. Kenapa pula sebegitu kepo-nya sama laki-laki, atau sebegitu merasa ingin benar-benar dicintai, lah wong belom jadi siapa-siapanya juga kok. Tapi kalau istri... pasti beda bung, wajar dong kepo, atau pengen ngerasa disayang, wong suaminya sendiri kok. Lagian suaminya juga, kalo gak mau di-kepo-in, gak mau sayang sama istri, masih mau genit-genitan gak jelas, kenapa juga nikah. Ya nggak sih? IMHO ini loh ya...

Balik lagi ke curhatan di atas. Kita bahas tentang komentar yang menurut saya paling menarik itu tadi saja ya. Ceritanya si istri galau karena menemukan suaminya menginbox mantannya begini. "Lagi ngapain?". Trus dia tanya ke suaminya, trus katanya malah suaminya marah. Aneh ya... Menurut saya, marah berarti memang ada sesuatu yang salah. Wajar dong terus istrinya galau dan menduga macem-macem. Memang suaminya keganjenan ini ceritanya. Menginbox "lagi ngapain?" duluan, entah via sms, email, atau chatting memang hanyalah sekedar basa-basi, tidak pantas dilakukan oleh laki-laki yang sudah beristri kepada perempuan yang bukan siapa-siapanya (apalagi sama mantannya)...

Tuh kan, malahan saya membahas tentang hal yang tidak pantas dilakukan oleh orang yang sudah menikah. Padahal kan, saya baru akan membahasnya di tulisan yang lain. Tapi sepertinya kalau saya lanjutkan tulisan ini, ujung-ujungnya akan sangat panjang dan tidak fokus. Baiklah, saya berhenti saja sampai di sini.

Intinya, para istri gak suka kan ya kalau suaminya menurutnya "genit" sama perempuan lain. Nah, sebaliknya suami juga pasti gak suka liat istrinya kegenitan sama laki-laki lain. Emang enak ngedapetin istrinya chat sama mantannya, trus istri mulai duluan nanyain "lagi ngapain?". Apalagi jika obrolan berlanjut semakin gak penting lagi dan gak berbobot sama sekali. Akan cemburu kah si suami? Kalau enggak ya, berarti sepertinya kurang sehat ntu suami. Vice versa... Sebagaimana kita, kira-kira begitu juga apa yang dirasakan pasangan kita. Sepanjang bukan cemburu yang berlebihan, menurut saya memang sepantasnya seorang suami atau istri itu sendiri menjaga kehormatan status yang sedang disandangnya. Tidak akan ada asap kalau tak ada api kan ya? Pasangan gak akan galau dan cemburu gak jelas juga kan kalau kita gak berbuat.

Yuk ah, bikin tulisan lain yang lebih fokus deh. Ini cuma sekedar nasehat buat para suami, karena saya juga istri. Dan kalau itu saya, sekedar inbox "lagi ngapain?" seperti tadi, pasti akan melekat di memori saya sampai berpuluh-puluh tahun kemudian. Apalagi lebih dari itu. Dan saya yakin, kebanyakan istri Anda tidak berbeda dengan saya ^_^

Untuk emak yang tadi curhat, alhamdulillah kemudian dia bilang bahwa dia dan suaminya sudah baikan. Jangan ngambek lama-lama ya mak... Dan semoga emak ybs tidak seperti saya dan kebanyakan emak-emak lain, yang jika mengalaminya akan menyimpan memori seperti itu lama sekali.

Kamis, 13 Desember 2012

-102- Cerita Saya Pagi Ini, Apa Ceritamu?

Alhamdulillah... Pagi ini satu prestasi buat saya. Saya berhasil menyelesaikan sarapan pagi saya tanpa mual, dan dalam waktu yang tidak seperti biasanya. Rasanya kok bersyukur banget ya, menyenangkan sekali ketika sukses melakukan itu. Ini sih dikarenakan riwayat makan saya yang amburadul bahkan sejak jauh sebelum hasil testpack saya positif.

Memasuki bulan keempat (menurut perkiraan dsog), alhamdulillah saya belum pernah muntah sama sekali. Eh pernah ding sekali. Waktu itu saya abis makan siang, trus minum vitamin, trus minum air putih banyak banget sampe2 rasanya begah, trus saya langsung dzuhuran dan air putih yang saya minum tadi keluar lagi ke mulut. Ehm, itu bisa disebut muntah gak ya? Gak ada makanan yang keluar sih, tapi itulah satu2nya kejadian dimana saya mendekati dikatakan muntah.

Trus penting gitu buat diceritain?

Ya enggak sih. (Tapinya, perasaan memang tulisan di blog saya ini gak ada yang penting deh. Karena saya butuh suka nulis aja makanya saya tulis di blog. Tapi lagi, banyak juga loh yang baca blog saya, terutama teman2 saya... jadi... lagi2 tambah gak penting yang kamu tulis Wee, hihihi...)

Lanjut ah ceritanya. Pagi ini agak berbeda. Saya tidak terlalu merasakan morning sickness. Palingan cuma berasa agak muter kepala saya (biasanya bukan agak lagi, tapi beneran muter), yang saya yakin mungkin karena tekanan darah saya yang belum normal (ceritanya pas USG terakhir tanggal 6 Desember kemarin, tekanan darah saya cuma 90/60. Oh God...). Pagi ini saya gak berasa mual seperti biasanya. Apa karena sejak tadi malam saya mengganti susu yang biasa saya minum ya? Atau karena memang sudah masanya untuk nafsu makan saya kembali? Apapun itu, semoga seterusnya saya jadi mau makan, demi si buah hati. Amiinn...

Biasanya saya tidak selera sarapan pagi. Saya memang lapar ketika bangun tidur, dan saya langsung minum susu. Setelah itu saya akan merasa mual. Saya bawa sarapan ke kantor, sarapan yang belum tentu saya makan sampai jam 10. Kadang saya makan juga sih, tapi sering gak habis (padahal porsinya jauh lebih sedikit daripada nasi kucing). Mau gimana lagi, belum dimakan saja rasanya saya sudah mau muntah.

Pagi ini begitu sampai kantor, perut saya kriuk kriuk lapar. Lalu saya makan, dan bekal sarapan yang saya bawa langsung ludes, tanpa butuh waktu lama, gak pake acara nahan2 mual. Alhamdulillah, nikmat Allah sekali pagi ini. Malahan, sekarang (belum sampe setengah jam kemudian) saya lapar lagi. No problemo dear, anything for you... Ayok kita makan lagi :D



Iseng saya melihat2 album foto di fb saya dan saya menemukan foto di atas. Saya kangen dengan selera makan saya pada saat foto itu diambil (ya iyalah, ada rusipnya sih, hihihi...). Yup, lauknya cuma sepotong ikan goreng, sepotong tahu goreng, sedikit jamur goreng, daun singkong rebus, 2 kerupuk kulit ikan, dan tentu saja rusip. Itupun saya bisa nambah lagi nasinya, dan anehnya saya masih bisa ngemil semi berat beberapa jam kemudian. Minumnya air putih dan es capuchino favorit saya yang sudah sangat lama tidak pernah saya cicipi lagi.

Saya mengepalkan tangan, kemudian saya merasa sedih ketika saya bisa merasakan tulang yang menonjol di buku2 tangan saya, atau pergelangan tangan saya yang semakin kecil. Yup, dengan timbangan yang sama, berat saya sekarang turun drastis sampai 47 kg, padahal normalnya antara 50-52 kg, malah 54-55 kg di awal2 nikah dulu. Sedih melihat diri saya sendiri yang gak mau makan. Apalagi kalau ibu saya yang lihat ya. Sekarang aja tiap telpon pasti nanyain, udah mau makan belum? Atau saat melihat suami saya yang senang ketika saya makannya banyak. Hiks, gimana lagi, sebenarnya saya lebih sedih lagi, apalagi kalo mikirin yang ada dalam rahim. Tapi apa mau dikata, tubuh saya belum mampu berkompromi.

Makanya pagi ini mendapati diri saya seperti ini, saya girang banget. Semoga ini bisa menjadi awal yang baik untuk mengembalikan semua nafsu makan dan kesadaran akan pentingnya nutrisi bagi si adek kecil, juga tentu saja buat saya sendiri. Semangat bunda!

Senin, 10 Desember 2012

-101- Keajaiban Sang Calon Buah Hati

Saya ingin suatu saat nanti anak saya membaca blog saya ini. Tapi itu nanti, setelah setidaknya dia berusia 23 tahun. Supaya apa? Supaya apa yang dia baca memang sudah mampu dia cermati sesuai tingkat kedewasaannya. Supaya dia bisa memahami benar setiap kata yang sudah diketikkan bundanya. Supaya dia juga bisa memilah-milah setiap apa-apa yang baik dan apa-apa yang tidak baik berdasarkan apa yang sudah dialami bundanya.

Saya juga sempat berpikir supaya suatu saat nanti anak saya bisa membaca catatan harian saya yang selama ini saya simpan sendiri dengan sangat rapi. Tapi kemudian saya ragu, akankah itu berguna baginya. Saya ingin berbagi, berbagi setiap pengalaman agar dia tidak pernah mengulang dalam hidupnya setiap kesalahan serupa yang telah dilakukan bundanya. Tapi lagi-lagi saya ragu, baikkah baginya membaca setiap galau, resah, gelisah, atau kesedihan yang terungkap. Bukankah seharusnya dia hanya tau bagian-bagian yang menyenangkan supaya semangat positif dari aura bahagia yang menyergapnya mampu membuat hidupnya lebih berkualitas. Dan, supaya dia tau bahwa bundanya selalu berusaha berpikir positif, juga berusaha selalu menjalani hidup dengan positif pula.

Ah sayang... Belum juga bunda menyentuhmu. Namun tahukah kamu bahwa kehadiranmu yang belum nyata bahkan sudah membuat level semangat hidup bunda naik drastis.

Kadangkala saya takut untuk hidup lama. Ketakutan akan kedzaliman atau kemudharatan yang saya lakukan seiring bertambahnya usia saya. Semakin lama kita hidup, akan semakin besar peluang kita untuk membuat kesalahan. Walaupun juga berlaku sebaliknya, entah kenapa tetap saja kita jarang bisa berpikir positif bahwa semakin lama hidup kita, seharusnya kita merasa beruntung karena kita diberikan waktu yang lebih banyak untuk senantiasa memperbaiki diri, untuk menyiapkan bekal yang rasanya tidak akan pernah cukup untuk membuat kita percaya diri menghadap-Nya.

Ah sayang... Belum juga bunda menyentuhmu. Namun tahukah kamu bahwa wangimu yang belum nyata bahkan sudah membuat bunda ingin memperbaiki diri terus menerus. Demi kamu. Demi membentukmu menjadi baik. Demi melihatmu tanpa susah payah telah mendapati tauladan yang paling dekat. Semoga bunda bisa...

Kamu begitu ajaib. Bahkan wujudmu yang baru saja segumpal, tak lebih dari 1 centimeter sudah mampu mengusir semua krim-krim kosmetik, body lotion yang dulu laksana barang-barang wajib. Bahkan bentukmu yang semakin hari semakin berkembang sudah mampu menghadirkan kembali semangat murojaah yang sempat hilang entah kemana, begitu lama. Kamu benar-benar ajaib, sayang.

Dan benar saja jika mereka bilang bahwa orangtua juga ajaib. Mereka bilang bahwa ayah yang perokok tidak akan mau anaknya menjadi perokok juga. Atau ibu yang judes tidak akan mau anaknya juga judes. Orangtua yang paling buruk sekalipun tidak akan pernah rela anaknya menjadi buruk seperti dirinya. Ya, itulah keajaiban orangtua, yang juga sering tidak sadar bahwa semua tidak hanya butuh sebuah harapan, tapi butuh tindakan nyata yang bukan hanya teori belaka. Berawal dari kesadaran, yang hanya baru akan muncul ketika mereka juga menjadi orangtua seperti orangtuanya dulu, mostly.

Apapun itu, Allah mohon jauhkan anak-anakku dari sifat-sifat buruk ayah bundanya, dan mampukan kami menjadi ayah bunda terbaik untuk buah hati kami. Amiin...

Kamis, 29 November 2012

-100- Tiga Pesan Pak Pembimbing

Dulu saya sempat keder ketika diputuskan bahwa pembimbing skripsi saya adalah Pak Edy. Saya langsung membayangkan betapa susahnya nanti buat minta tanda tangan si bapak demi kelancaran penyusunan skripsi saya. Mana bapaknya juga sibuk luar biasa, susah ditemui, bisa-bisa target minimal 10 kali konsultasi akan sulit terpenuhi. Kalau sudah begitu, gak bisa seminar dong, apalagi sidang. Uppss,,, orang Indonesia banget sih saya, belum dijalani tapi sudah membayangkan hal-hal yang belum tentu terjadi.

Seiring berjalannya waktu, ternyata menjadi anak bimbingan Pak Edy gak seseram yang saya bayangkan. Pak Edy enak kok. Anak bimbingannya lebih diarahkan untuk mencari solusi sendiri dalam menyelesaikan permasalahan dalam skripsinya. Kalau kita konsultasi tanpa membawa apa-apa, jangan harap dapet tanda tangan. Saya pernah takut dicela, padahal itu sama sekali tidak pernah terjadi sepanjang perjalanan penyusunan skripsi saya. Saya malah pernah mentok, tidak tau lagi apa yang harus saya lakukan untuk skripsi saya. Akhirnya lama sekali saya gak ngadep beliau buat konsultasi, karena saya gak bisa bawa apa-apa. Setelah merasa sangat khawatir dengan tanda tangan yang kurang, baru saya beranikan diri bimbingan dan memberanikan diri cerita bahwa saya sedang mentok, gak tau harus ngapain lagi. Lalu apa tanggapan beliau? I was so amazed, beliau malah bilang itulah gunanya konsultasi sama dosen pembimbing, untuk mengurai benang di kepala sendiri yang mungkin tadinya kusut masai. Subhanallah, pertolongan Allah juga ya...

Ah, Pak Edy. Sekarang beliau hanya ada dalam kenangan. Selasa, 13 November kemarin beliau dipanggil Allah karena sakit. Sejak meninggalkan kampus tahun 2007 lalu, saya belum pernah lagi bertemu beliau. Tapi beneran, jejak beliau benar-benar membekas dalam hati saya. Pak Edy termasuk salah satu dosen favorit saya. Beliau mampu memberikan inspirasi untuk selalu menjadi lebih baik lagi. Beliau mampu memotivasi banyak orang untuk selalu berpikir cerdas. Pokoknya, beliau memang hebat.

Inilah Bapak Ir. Edy Irianto, M.T, dosen saya yang hebat itu


*****

Waktu itu kami sudah lulus, tinggal menunggu wisuda. Waktunya menemui Pak Edy dan memberikan kenang-kenangan kepada beliau dalam rangka selesainya penyusunan skripsi kami. Sebagai ucapan terima kasih gitu deh. Saya, Lesi, dan Dina, kami bertiga menemui Pak Edy.

Setelah bercerita banyak tentang penempatan dan lain-lain, kami pun memberitahu Pak Edy bahwa Dina akan menikah dalam waktu dekat. Lalu keluarlah tiga pesan Pak Edy yang sampai sekarang (dan sampai nanti) selalu saya ingat. Pesan untuk para perempuan yang akan dan sudah menikah. Pesan yang saya yakin betul kebenarannya, karena memang ketiganya sangat masuk akal. Berikut kira-kira pesan beliau (dalam kalimat saya sendiri):
  1. Lakukanlah kegiatan kecil seperti membenarkan kerah baju suami, atau membenarkan posisi dasi suami.
  2. Buatlah sambal andalan, yang akan selalu diingat dan dikangeni oleh suami saat dia makan di luar atau berada di luar rumah.
  3. Jangan pernah malu untuk meminta lebih dulu dalam urusan ranjang.
Hal-hal kecil dan sederhana yang dilakukan istri seperti membenarkan kerah baju suami, atau memasangkan dasi suami tentu saja akan sangat membekas. Ini bukan hanya soal hal yang sepele, melainkan menunjukkan sebuah perhatian yang nyata, kecil, sering, dan sederhana. Tentu saja bukan hanya itu, hal-hal mudah seperti memberikan pelukan, ciuman, membelai rambut, atau mencium tangan sehabis sholat, pastinya akan terasa menyenangkan dan membuat nyaman. Jangankan bagi suami yang menerima perlakuan itu, istri yang melakukan juga akan merasa senang. Suami akan merasa disayangi, diperhatikan dan nyaman berada di rumah. Bukankah istri juga akan senang kalau merasa dirinya disayangi dan diperhatikan. Vice versa lah...

Biasanya suami kan bekerja dan pada jenis pekerjaan tertentu memungkinkan suami untuk sering makan di luar atau dinas luar. Nah, kalau saja istrinya bisa membuat sambal andalan yang rasanya maknyus, tentu saja aktifitas makan di luar-nya suami akan terasa kurang, karena gak ada sambal buatan sang istri. Tentu saja berlaku analogi, maksudnya tidak harus sambal, karena akan jadi tidak berlaku bagi suami yang gak doyan pedas. Maksudnya disini adalah istri harus mempunyai 'sesuatu' yang akan selalu dikangeni oleh suami pada saat dia tidak di rumah. Biasanya memang tentang makanan, karena percayalah, urusan lidah dan perut sangat tidak bisa diabaikan. Maka beruntunglah para suami yang mendapatkan istri yang jago dan rajin masak buat keluarga. Buat para istri, ayo belajar masak! Kadang semangat kita memang pasang surut, tapi yakin saja bahwa Allah pasti melihat niat dan usaha keras kita. Semoga saja diberkahi :)

Terakhir urusan ranjang, yang juga bukan urusan sepele. Urusan ranjang bukan cuma urusan laki-laki, bukan cuma kebutuhan suami. Kata Mamah Dedeh, istri gak usah muna deh, wong sama-sama butuh juga kok. Kalau istri hanya menunggu, yang mungkin karena malu, maka suami akan merasa kurang dibutuhkan. Makanya istri jangan malu untuk minta duluan, dengan begitu suami akan merasa dibutuhkan, merasa sama, dan kepercayaan dirinya akan meningkat. Kira-kira begitu...

Nah, itulah 3 pesan Pak Edy buat perempuan yang akan menikah, untuk diaplikasikan pada saat dia menikah. Dan sekarang saya sudah menikah, jadi setidaknya lebih bisa mencerna dan memahami pesan beliau untuk saya bagi lagi kepada banyak istri. Tentu saja dengan harapan pesan ini bisa menambah keharmonisan dalam rumah tangga, lebih mengokohkan ikatan suami istri dalam rumah tangga, supaya damai, tenang, nyaman dan diberkahi rumah tangganya, serta keluarga kecil yang diciptakan. Tak lupa supaya menjadi amal jariyah bagi almarhum dosen saya atas nasehatnya yang begitu menginspirasi. Semoga...

Rabu, 28 November 2012

-99- Pantas Saja Mereka Menyebutnya Morning Sickness

Disebutlah morning sickness, keadaan dimana seorang wanita hamil merasa pusing, mual dan muntah yang biasanya terjadi pada masa 3 bulan awal kehamilan (trimester pertama). Sebenarnya menurut banyak sumber yang saya baca, rasa pusing, mual dan muntah itu tidak hanya terjadi di pagi hari, bisa kapan saja. Cumannya, berhubung pada umumnya mual-mual ini terjadi pada pagi hingga menjelang siang, makanya disebut "morning". Gak lucu dong kalo kemudian disebut anytime sickness, ealahh... kok rasa-rasanya seperti sebuah penderitaan tak berkesudahan. Lebay gitu sayanya, padahal pada dasarnya pregnancy adalah hal yang membahagiakan bagi para pasangan suami istri. Betul gak sih?

 Gambar dipinjam dari sini

Setiap wanita hamil akan merasakan tingkat derajat mual yang berbeda-beda. Ada yang tidak merasakan apa-apa, seperti kakak saya dulu di kehamilan pertamanya. Kalau dulu ketika ada orang hamil, saya gak terlalu merhatiin, cuma denger cerita doang bahwa orang hamil itu mual, muntah, lemes, ngantuk, dan sebagainya, dan sebagainya. Toh kakak saya aja gak ada muntah-muntah gitu, gagah banget hamilnya, gagah sampe lahiran malahan. Tapi ternyata banyak juga yang hamilnya kalah, mual muntah tak berkesudahan seperti adik ipar saya, sampe-sampe minum air putih aja muntah, bisa sama sekali gak ketemu nasi selama beberapa hari. Atau yang sampai memerlukan pengobatan seperti salah satu teman saya, berkali-kali bolak balik masuk rumah sakit, opname, diinfus, saking kalahnya. Haduh,,, gak kebayang deh. Kalo udah kayak gitu mungkin para ibu hamil akan "lebih" banyak berdoa semoga anak yang sedang dikandungnya menjadi anak yang baik-baik, soleh solehah, akhlaknya terpuji, soalnya kalo ternyata anaknya nakal naudzubillah, astaghfirullah alangkah besarnya dosamu nak...

Lalu saya, apa cerita saya? Hmm, saya harus banyak bersyukur karena sejauh ini belum pernah muntah-muntah. Berdasarkan riwayat kehamilan ibu dan kakak saya, memang mereka ketika hamil bukan yang tipenya kalah gitu, jadi semoga saya juga tidak berbeda. Dulu ibu saya mengandung saya ketika kakak saya belum genap 6 bulan. Selisih umur saya dan kakak saya memang hanya 14 bulan. Kebayang gak apa jadinya kalau ibu saya mual muntah tak berkesudahan. Ah, Allah memang Maha Adil.

Yang jelas, wanita hamil itu memang spesial, alhamdulillah saya merasakannya sekarang. Kata para ahli, setiap wanita hamil memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Mungkin ada banyak wanita hamil yang karakteristiknya mirip saya. Saya tidak muntah-muntah, mual sesekali memang ada, rasa pengen muntah juga ada, tapi gak sampe muntah beneran. Apalagi kalo pagi, pantas saja mereka menyebutnya morning sickness. Biasanya saya bangun pagi dalam keadaan lapar, kadang sangat lapar, tapi saya sering gak langsung makan, hanya minum susu dan setelah agak pagi sekitar jam 7 saya baru minum susu. Setelah itu... jangan ditanya, nafsu makan saya langsung lenyap ditelan bumi, ngebayangin mau makan saja rasanya saya mau muntah. Perut saya mual, biasanya disertai keliyengan gitu. Tau keliyengan kan? Kayak rasa pusing ketika kita kurang darah atau darah rendah gitu. Akhirnya saya sering bawa sarapan ke kantor, atau beli. Entah kenapa saya rasanya lebih bisa makan makanan beli daripada yang saya masak sendiri, padahal biasanya saya agak-agak anti makan makanan yang saya beli di luar (pengecualian untuk makan di restoran, hehe...). Dan nyatanya, seperti pagi ini sampai jam 10 pun sarapan saya belum saya sentuh sama sekali.

Tips 1:
Untuk wanita hamil yang bangun pagi dalam keadaan lapar, segeralah makan setelah Anda sholat subuh. Jangan ditunda-tunda karena itu nantinya hanya akan membuat Anda malah jadi enggak sarapan sama sekali.

Tips 2:
Banyak-banyak minum air putih, dan kalau Anda terlanjur mual dan belum nafsu buat sarapan, makan buah aja, biasanya kalau makan buah malah gak mual loh.

Tips 3:
Ketika bangun tidur jangan langsung bangun secara tiba-tiba supaya gak keliyengan terlalu sering.

Tips 4:
Bawa minyak angin aromaterapi kemana-mana, supaya kalau sudah mulai pusing-pusing, ada lawannya :)

Saya juga mudah sekali capek, dan tidak terlalu suka aktifitas bepergian yang memakan waktu lama. Saya kurang betah duduk di mobil terlalu lama, apalagi dengan posisi duduk yang itu-itu saja dan tidak bisa leluasa sesuka saya. Juga goncangan di perut selama dalam perjalanan, alamak, terus terang agak menyiksa. Kurang nyaman saja rasanya. Saya baca-baca di internet, posisi duduk setengah berbaring gak bagus, bagusnya duduk tegak seperti tukang jahit. Padahal kan capek ya kalo harus duduk tegak terus selama dalam perjalanan. Trus, lutut juga sebaiknya selalu lebih rendah daripada panggul, tidak menyilang kaki, ini terutama untuk wanita hamil yang bayinya sudah bisa bergerak supaya tidak membatasi ruang gerak bayi. Padahal kan kalo mobilnya sedan, posisi kaki gak diluruskan, pasti akan lebih tinggi lutut daripada panggul. Yah, kalau begitu solusinya adalah tips ke-5 berikut:

Tips 5:
Kata ibu saya, jangan terlalu banyak bepergian, apalagi kalau sedang hamil muda. Batasi dulu lah kesana kemari gitu, itu kata ibu saya loh...

Berat badan saya juga berkurang banyaaakkkk sekali, hiks hiks, terjun bebas sampe 48 kg, menuju 47 malahan. Rada shock juga sih, tapi wajar sekali karena memang makan saya super sedikit. Nafsu makan saya sudah lari. Saya gak ngidam macem-macem, cuma kadang memikirkan makanan apa yang saya mau makannya, biar saya makan gitu, jangan sampe perutnya kosong. Jadi bukan masalah pengen makan ini, pengen makan itu, ngidam ini, ngidam itu, bukan itu loh. Ini hanya sekedar mencari-cari makanan yang saya mau makan, itu pun sulit sekali T.T.

Bagaimanapun you're not alone deh. Banyak ibu-ibu hamil yang turun berat badannya di masa-masa awal kehamilan, padahal makannya biasa aja, gak ada perubahan. Jadi saya masih alhamdulillah, turun bb-nya memang karena makannya sedikit. Dan setidaknya saya masih makan nasi 3 kali sehari walaupun dengan porsi yang kecil. Trus, saya juga pernah baca artikel yang mengatakan bahwa ibu hamil harus lebih banyak istirahat, harus menambah jam tidur karena butuh tidur lebih banyak. Saya sendiri kalau berasa kurang banyak tidurnya, pasti lemas.

Tips 6:
Wanita hamil butuh tidur lebih banyak, jadi jangan diabaikan urusan tidur ini ya, karena beneran bisa bikin Anda lemas sepanjang hari kalau kurang tidur.

Udah dulu ya, segitu dulu. Besok-besok disambung lagi kalau ada tips tambahan yang saya ingat. Sekarang saya mau makan dulu, sarapan yang kesiangan... >_<

Jumat, 23 November 2012

-98- So I'm Already 27

So I'm already 27, tepatnya kemarin. Coba tebak, siapa orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya? Atau, hadiah apa yang saya terima? Atau, apa yang saya lakukan untuk merayakan hari lahir saya? Ah, saya malah ingin bertanya hal lain lagi kepada diri saya sendiri.

Bagaimana rasanya menjadi perempuan berusia 27 tahun?

Rasanya... nano nano.

Sedih iya. Lah gimana enggak, saya sedih ternyata saya sudah 27 tahun dan apakah selama ini saya sudah menjalani hidup ke arah yang lebih baik. Sejak tahun pertama hidup saya, sampai tahun ke-27 ini, apakah saya sudah benar-benar belajar dari pengalaman? Apakah saya sudah meninggalkan hal-hal buruk yang saya bahkan sudah tau itu buruk? Apakah saya bertambah baik hati dan tidak sombong hari demi hari? Apakah sholat saya sudah tegak berdiri kokoh? Apakah saya tidak lupa bersedekah? Apakah saya sudah menutup aurat dengan benar? Apakah saya telah menunaikan hak suami saya, orangtua saya? Kenapa ya, seringkali kita baru sadar bahwa ternyata kita sudah hidup lama hanya ketika kita berulang tahun :(

Senang iya (tapi tetap saja banyakan sedihnya). Senangnya kenapa ya? Kenapa ya? Menjadi semakin tua kok senang?

Hari ulang tahun hanya akan menjadi momen paling menyedihkan dalam hidup jika saja di hari itu saya tidak ingat untuk bersyukur. Bersyukur atas nikmat yang tidak bisa saya ingkari sama sekali. Bersyukur atas setiap bukti kasih sayang Allah yang, kalau dipikir-pikir kok Allah baik banget ya... Sering kan ya kita sadar betapa jahatnya kita kepada Allah, betapa kita sering menjauh, tapi ternyata Allah Maha Pemurah, Dia mendekat dan melimpahi kita dengan nikmat yang tiada terhitung banyaknya. Saya sendiri sering merasa malu atas itu. Saya sering merasa malu, merasa kemudian tidak pantas untuk meminta, tapi lalu Allah memberi segalanya.

Alhamdulillah, atas semua limpahan nikmat yang tiada tara. Fabiayyialaairobbikumatukadzzibaan... Maka nikmat Allah yang manakah yang (mampu) saya dustakan.


And yesterday is my birthday
a moment to remember how many time I've spent to deny what God gives on my hand. 
Please forgive me God. 
I'll always try to do my best, for me, for my lovely family...

*Eitttss, rasa-rasanya tadi saya bilang rasanya nano nano menjadi 27 tahun. Ini kok malah cuma sedihnya aja yang dibahas, maaf ya...

Kamis, 22 November 2012

-97- Cantik Hatinya, Semoga...


Beberapa hari yang lalu saya membaca salah satu note di halaman facebook Darwis Tere Liye. Note ini entah kenapa bisa sangat meninggalkan jejak yang begitu jelas di pikiran saya. Berikut tulisannya:


Cerita Seekor Kambing dan Dua Remaja Yang Cantik Hatinya *)

Ada dua kakak-adik perempuan, satu namanya Puteri (usia 13 tahun, SMP), satu lagi namanya Ais (usia 16 tahun, SMA). Mereka tidak beda dengan jutaan remaja lainnya, meski tdk berlebihan, juga ikutan gelombang remaja yg menyukai budaya populer saat ini, seperti lagu2, boyband, film2, dsbgnya. Kabar baiknya, dua anak ini memiliki pemahaman yg baik, berbeda, dan itu akan menjadi bagian penting dalam cerita ini.

Suatu hari, guru agama di sekolah Puteri menyuruh murid2nya utk membuat karangan tentang berkurban. Ini jadi muasal cerita, jika murid-murid lain hanya sibuk membaca sejarah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, lantas menulis karangan, Puteri, entah apa pasal, memasukkan cerita hebat itu sungguh2 dalam hatinya. Tercengang. Dia bahkan bertanya pd orang tuanya, di meja makan, apakah keluarga mereka pernah berkurban. Setelah saling tatap sejenak, orang tua mereka menggeleng, tidak pernah. Ayah mereka buruh pabrik, Ibu mereka karyawan honorer, ibarat gentong air, jumlah rezeki yg masuk ke dalam gentong, dengan jumlah yg keluar, kurang lebih sama, jd mana kepikiran untuk berkorban.

Puteri memikirkan fakta itu semalaman, dia menatap kertas karangannya, bahwa keluarga mereka tidak pernah berkorban, padahal dulu, Nabi Ibrahim taat dan patuh mengorbankan anaknya. Bagaimana mungkin? Tidakkah pernah orang tua mereka terpikirkan untuk berkorban sekali saja di keluarga mereka? Puteri mengajak bicara kakaknya Ais. Dan seperti yg saya bilang sebelumnya, dua anak ini spesial, mereka memiliki pemahaman yg baik, bahkan lebih matang dibanding orang2 dewasa. Maka, mereka bersepakat, mereka akan melakukan sesuatu.

Uang jajan Puteri sehari 8.000 perak, dikurangi untuk naik angkot, bersisa 4.000 utk jajan dan keperluan lain. Uang jajan Ais, 10.000 perak, dikurangi untuk naik angkot, bersisa 6.000, juga utk jajan dan keperluan lain. Mereka bersepakat selama enam bulan ke depan hingga hari raya kurban, akan menyisihkan uang jajan mereka. Puteri memberikan 2.000, Ais memberikan 3.000 per hari.

Enam bulan berlalu, mereka berhasil mengumpulkan uang 1,1 juta rupiah. Menakjubkan. Sebenarnya dari uang jajan, mereka hanya berhasil menabung 600.000, mereka juga harus mengorbankan banyak kesenangan lain. Membeli buku bacaan misalnya, seingin apapun mereka memiliki novel2 baru, jatah bulanan utk membeli buku mereka sisihkan, mending pinjam, atau baca gratisan di page/blog, sama saja. Mereka juga memotong besar2an jatah pulsa dari orang tua, itu juga menambah tabungan. Juga uang hadiah ulang tahun dari tante/om/pakde/bude. Alhasil, enam bulan berlalu, dua minggu sebelum hari raya kurban, mereka punya uang 1,1 juta.

Aduh, ternyata, saat mereka mulai nanya2, harga kambing di tempat penjualan2 kambing itu minimal 1,3 juta. Puteri sedih sekali, uang mereka kurang 200rb. Menunduk di depan barisan kambing yg mengembik, dan Mamang penjualnya sibuk melayani orang lain. Tapi kakaknya, Ais, yg tidak kalah semangat, berbisik dia punya ide bagus, menarik tangan adiknya utk pulang. Mereka survei, cari di internet. Tidak semua harga kambing itu 1,3 juta. Di lembaga amil zakat terpercaya, dengan aliansi bersama peternakan besar, harga kambing lebih murah, persis hanya 1.099.000. Dan itu lebih praktis, tdk perlu dipotong di rumah. Dan tentu saja boleh2 saja nyari harga kambing yg lebih murah sepanjang memenuhi syarat kurban. Senang sekali Puteri dan Ais akhirnya membawa uang tabungan mereka ke counter tebar hewan kurban tsb. Uang lembaran ribuan itu menumpuk, lusuh, kusam, tapi tetap saja uang, bahkan aromanya begitu wangi jika kita bisa mencium ketulusan dua kakak-adik tsb.

Mereka berdua tdk pernah bercerita ke orang tua soal kurban itu. Mereka sepakat melupakannya, hanya tertawa setelah pulang, saling berpelukan bahagia. Dua bulan kemudian, saat laporan kurban itu dikirim lembaga amil zakat tersebut ke rumah, Ibunya yang menerima, membukanya--kedua anak mereka lagi main ke rumah tetangga, numpang menonton dvd film, Ibunya berlinang air mata, foto2, tempat berkurban, dan plang nama di leher kambing terpampang jelas, nama Ibunya.

Itu benar, dua kakak-adik itu sengaja menulis nama ibunya. Itu benar, dua kakak-adik itu ingin membahagiakan kedua orang tuanya. Tapi di atas segalanya, dua kakak-adik itu secara kongkret menunjukkan betapa cintanya mereka terhadap agama ini. Mereka bukan memberikan sisa2 utk berkorban, mereka menyisihkannya dengan niat, selama enam bulan.

Itulah kurban pertama dr keluarga mereka. Sesuatu yg terlihat mustahil, bisa diatasi oleh dua remaja yg masih belia sekali. Besok lusa, jika ada tugas mengarang lagi dari gurunya, Puteri tdk akan pernah kesulitan, karena sejak tahun itu, Ibu dan Ayah mereka meletakkan kaleng di dapur, diberi label besar2: 'Kaleng Kurban' keluarga mereka.
*) tulisan yang asli ada disini

Ceritanya mungkin sederhana, sesederhana harapan saya ketika meresapinya. Hebat ya, dua kakak adik itu. Dengan pemahaman baik yang mereka punya, mereka menjelma menjadi anak-anak yang tidak biasa, menjadi berbeda dengan jutaan anak-anak lain seusianya. Mereka istimewa. Saya bahkan tidak bisa membayangkan betapa terharunya sang ibunda menyaksikan apa yang dilakukan anak-anaknya, karena saya yang hanya membaca pun bisa langsung menangis. Saya yakin anak-anak itu akan membangunkan sebuah rumah yang indah untuk ibunda mereka di surga Allah. Seperti halnya harapan saya atas jantung yang sekarang sedang berdetak dalam rahim saya...

Gambar dipinjam dari sini