Jumat, 20 Juli 2012

-89- Warisan Digital

Dia berdiri
Dunia terasa berputar, bintang berjatuhan
Dia pun duduk
Bulan dan matahari menghimpit
Tapi bintang tak lagi jatuh

Semua tetap gelap
Dingin mendera tubuh
Hangat di telapak tangan

Gudang memori mengaduh
Berontak atas beban yang begitu penuh
Sesak atas sampah-sampah yang belum sempat dibuang
Carik-carik kertas yang harus dibakar di tempatnya
Agar menyisakan ruang yang tertunda
Untuk diisi kembali
Setelah dijejali beragam harum bunga

Dia tersenyum konyol
Atas running text yang berjalan santai di keningnya
Mengantarkannya ke depan pintu sebuah mesin waktu virtual
Yang dia sadari, sangat sadar, bahwa tidak nyata
Namun kakinya tetap melangkah masuk
Menyaksikan seorang tua berjalan tertatih
Juga seorang jompo penyakitan
Mungkin itu adalah dia
Jika Tuhan mengizinkan usianya sampai
Meski dia tak mau

Kakinya berbelok
Ingin berjalan ke kiri, menyampaikan sedikit pesan
Walau dia sadar jika itu terjadi
Maka takkan ada lagi dia yang belum menjelajah waktu
Dia yang bahagia
Dia yang tertekan
Dia yang menahan rasa
Dia yang me-malaikat
Dia yang selalu berusaha sekuat tenaga mengusir prasangka, menghalau pedih
Dia yang begitu disayangi

Aku kasihan padanya
Aku juga bangga padanya

Aku bersedih untuknya
Aku juga menghadiahinya selamat atas kepuasan yang tak terukur

Dualisme yang begitu kuat menerjang pertahanan logika manusia
Yang lemah di hadapan Tuhannya
Merengek-rengek memohon usia berkah yang tak panjang
Agar dapat kembali

Di saat-saat terbaik dalam hidupnya

Jika saja boleh memilih...

Semoga...


Selasa, 03 Juli 2012

-88- Intermezo

Hufffhhhhhh, leher dan punggung saya pegel banget dari tadi melototin laptop bacain curhatnya para emak2 di beberapa grup facebook. Saya takut lama2 bisa gangguang tulang kalau posisinya gini terus, sepertinya tinggi kursi dan mejanya memang kurang ideal. Saya sekarang lagi senang2nya ngegrup, apalagi grup yg isinya emak2. Bacain thread-nya satu per satu, mulai dari soal makanan, anak, suami, mertua, investasi, dan sebagainya dan sebagainya, membuat otak saya rasanya semakin kaya.

Kalau direview sedikit, semenjak menikah saya banyak berubah. Kalau dulu hobi banget foto2 trus upload di jejaring sosial, sekarang malah foto2nya banyak yang saya delete. Beberapa ada yg permintaan suami juga sih, katanya foto2 yg keliatan dada delete aja. Urusan foto memotonya tetep suka sih, apalagi anak saya Zaim suka minta difotoin dengan tampang imut dan lucunya. Ngademin deh ngeliatnya...

Sejak nikah juga saya gak lagi suka mentengin timeline facebook, saya lebih suka twitteran, perasaan lebih berkelas karena facebook saya sudah kebanyakan jualannya. Kalau dulu kan dengan tampilan fb mobile, tiap kali buka fb pasti saya selalu klik see more stories, teruuusss sampai berlembar2. Lama kelamaan yg saya liat cuma yg ada di homepage aja, alias yg halaman pertama aja, dan sialnya selalu kebanyakan gambar2 jualan entah apa. Dan sekarang, saya rada males bahkan cuma buat baca status yg ada di halaman pertama. Setiap kali saya buka fb, saya langsung meluncur ke halaman group2 favorit saya, atau ke halaman olshop yang barangnya sedang saya cari. Dengan kata lain, saya fesbukan untuk nambahin info melalui group atau untuk belanja online. Sisanya, seperti konfirmasi teman, komen status, dan sejenisnya hanyalah sekedar aksesoris. Oiya, satu lagi yg masih sering saya lakukan dg fb adalah membookmark artikel yg menurut saya menarik dg cara posting link-nya di fb karena saya pasti membuka fb setiap hari.

Selain itu, setelah 3 bulan menikah saya juga langsung pindah kantor. Kalau di kantor lama isinya kabanyakan para single, gadis2 dan bujang2 yang pada umumnya masih anak2 muda (seumur saya bolehlah dikatakan muda ya...^_^). Yang diperbincangkan adalah soal fashion-lah (baca: baju, dompet, sepatu, dll), beli ini beli itu yang sifatnya masih ringan, jalan2, duduk2 ngerumpi. Nah kalau sekarang, di kantor baru, yang single cuma tinggal 1 orang. Sisanya emak2 dan bapak2. Obrolannya ya seputar masak memasak, makanan kesukaan anak, kebiasaan anak, kehamilan dan menyusui, rumah, tanah, kebun, mobil, bisnis, dll. Kalau gak ada kerjaan mending pulang main sama anak atau masak buat makan siang daripada ngabisin waktu di kantor cuma ngobrol2 aja. Apalagi cuma buat jalan2 keluar rumah tanpa keluarga, boro2 deh. Terlihat bedanya kan ya, hehehe...

Yah, mungkin semua ada waktunya ya. Kalau masih bujangan ya dinikmati aja. Percaya deh, pasti nanti ketika sudah berkeluarga kadang kita masih merindukan masa2 bujangan. Kalau sudah nikah juga ya jangan kebablasan kayak masih bujang aja. Sudah ada yang nunggu di rumah loh...

Nah nah, saya cerita apa sih. Tadinya kan mau cerita tentang curhatan para emak2 di fesbuk yang langsung membuat saya merasa sangat bersyukur punya suami seperti suami saya, punya anak seperti anak saya, punya orangtua dan mertua seperti orangtua dan mertua saya, punya kakak dan adik seperti kakak dan adik saya, juga punya saudara2 ipar seperti ipar saya. Malah melenceng ini ceritanya.

Anggap saja intermezo...

Kamis, 07 Juni 2012

-87- Nyetrika CS Sakit Punggung

Pekerjaan rumah tangga yang sudah dianggap oleh otakku sebagai yang paling menyebalkan adalah MENYETRIKA. Entah kenapa aku masih lebih suka bercapek2 ria nyuci pakaian (tapi pake mesin ya,,, huehehehe), atau mencuci piring ketimbang nyetrika. Apalagi kalo liat tumpukan pakaian yang sama sekali tidak rapi, amburadul di dalam lemari, semangat nyetrika yang sempat mampir sejenak langsung segera mengambil langkah seribu.

Aku menyetrika setiap hari, setiap pagi tepatnya, dan hanya menyetrika baju kantor yang akan dipakai pada hari tersebut. Ribet ya? Iya kalo pas pagi itu listrik gak mati. Iya kalo pas pagi itu aku gak bangun kesiangan. Iya kalo pas pagi itu aku sehat2 saja. Aku tau ribet dan malah tidak praktis, tapi aku sendiri malas nyetrika langsung banyak tumplek blek... Ahh, sakit punggungnya rasanya sudah bercokol duluan bahkan sebelum setrikanya dicolokin ke listrik.

Seandainya, seandainya ada yang bisa terjadi hanya dengan berkhayal dan tanpa harus melakukan sesuatu, maka pada detik ini aku sedang berkhayal tentang satu hal. Aku ingin segera mengeluarkan semua pakaian dari lemari, menumpuknya pada satu tempat di dalam rumah dimana sudah ada satu orang yang sudah siap untuk menyetrikanya. Dan orang itu harus bisa menyetrika minimal serapi diriku. Aku bayar deh... Hanya untuk sekali setrika menghabiskan semua pakaian. Boleh dicicil dalam beberapa hari, sampai semuanya rapi tersusun dalam lemari dan tidak ada pakaian kusut tersisa satu pun. Jika semuanya sudah rapi, maka setelahnya aku akan menghandle sendiri dengan senang hati. Aku bisa menyetrika seminggu sekali untuk pakaian2 yang dicuci pada minggu itu, tentu saja bebannya akan lebih sedikit kan... (kalo gak males, hehehe...)

Lalu apa masalahnya Wee? Toh khayalanmu tadi bukan sesuatu yang mustahil bukan? Benar sekali... Masalahnya yang membuatnya hampir mustahil adalah diriku sendiri, kemalasanku nyari2 orang buat nyetrika, juga kepercayaanku yang sulit dibeli. Berdasarkan pengalamanku, adalah susaaaaaah sekali menemukan orang yang bisa menyetrika dengan baik, dalam artian hasilnya rapi dan wangi sesuai standarku. Ahh, coba disini ada Yuk Mul yang biasa nyuciin dan nyetrika di rumah ibuku, aku suka sama hasil setrikaannya.

---

Jeda sejenak dari mengetik sambil mengomel dalam hati. Tiba2 aku kesal karena kenyamananku terganggu. Apalagi pengganggu nomor satu yang paling bisa sukses merusak mood secara tiba2, ASAP ROKOK. Ada orang yang tiba2 duduk tak jauh dari tempat dudukku dan merokok. Jika saja manusia dibolehkan mengumpat... %^#$@#%##$#%^$$#%%&()&&%$%@@

---

Tuh kan, jadi gak mood lagi nerusin cerita tentang setrikaan. Tapi pokoknya harus ada endingnya (idih, lagi2 ribet sendiri kamu Wee). Intinya adalah aku gak suka nyetrika, tapi aku juga lebih gak suka lagi nyuruh orang nyetrika tapi hasilnya gak rapi. Kayak pengalaman salah satu teman kantor yang biasa nyetrika sendiri tapi berhubung sedang hamil dan lemes akhirnya minta tolong orang yang nyetrikain dan hasilnya mengecewakan.

Mau minta tolong disetrikain sama Bude di rumah, kasian euy, setrikaannya banyak, pasti capek. Mungkin solusinya adalah aku harus mulai menyingkirkan rasa malas lalu mulai nyetrika sedikit demi sedikit. Tapi... pasti punggungku bakal sakit banget setelahnya (tuh kan, tapi lagi). Ahh, nyeritainnya aja udah bikin capek, apalagi kalo benar2 nyetrika.

Solusi berikutnya adalah mengganti setrika biasa dengan setrika uap, siapa tau dengan begitu pekerjaan menyetrika bisa jadi lebih ringan dan menghemat tenaga. Toh aku gak bisa selamanya nyetrika setiap pagi. Kalo aku masih single mungkin waktuku di pagi hari masih bisa dicuri, lah ini aku sudah berumahtangga, waktu pagi hariku mahal harganya untuk dibuang dengan mudahnya, apalagi untuk sesuatu yang sebenarnya bisa diefisienkan.

Rabu, 09 Mei 2012

-86- Tak Sekedar Insya Allah

Beberapa hari yang lalu saya membaca artikel Mendidik Anak ala Rasulullah SAW di situs http://virouz007.wordpress.com/2010/07/11/mendidik-anak-ala-rasulullah-saw/. Banyak artikel sejenis yang mungkin dengan mudah bisa kita temukan di internet, semudah membacanya. Padahal prakteknya, ahhh kita hanya akan banyak mengelus dada, mungkin menyalahkan diri sendiri atas kekurangmampuan kita menjadi tauladan baik yang paling nyata bagi anak2 kita.

Kebetulan sekarang saya sedang tidak mood menyalahkan diri sendiri ataupun dengan sukarela menonstabilkan emosi karena membahas soal ini. Saya lalu terpaku pada satu point dalam link di atas...


Saya ingat dulu pada hari ulang tahun saya, ibu saya mengucapkan selamat ulang tahun trus bilang, "Kadonya nyusul ya...". Eh, cuma lewat beberapa detik bapak saya langsung ngomel. Saya lupa gimana persisnya omelan bapak. Intinya bapak ngomelin ibu dan bilang lebih baik jangan janji2 kayak gitu daripada nanti gak bisa nepatin. Kalo mau ngasih kado ya kasih aja, gak perlu bilang2 dulu alias janji duluan. Ibu pun lalu menarik kembali kata2nya tadi sambil minta maaf. Hihihi, lucu dan sederhana, tapi berbekas, dan bekasnya melekat erat dengan sempurna di sini, di kepala dan dada saya, sampai sekarang.

"Dari Abi Hurairah Radhiallahuanhu, dari Nabi s.a.w. bersabda : Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga yaitu apabila dia bercakap dia berbohong dan apabila berjanji dia ingkar dan apabila diamanahkan dia khianat."(Riwayat Al-Imam Al-Bukhari)

Hadist di atas mungkin sudah familiar sekali bagi sebagian besar muslim. Munafik... salah satu cirinya adalah ingkar janji. Kok kayaknya frase "ingkar janji" benar2 terasa kejam ya, jelek, dan agak2 gimana gitu. Seolah2 melakukannya benar2 suatu kejahatan yang tidak termaafkan, itu kalau ditinjau dari segi pembahasaan. Padahal tidak sedikit dari kita yang sangat sering melakukannya, menyepelekan janji yang menggunakan nama Allah. Sadarkah kita bahwa Insya Allah yang kita ucapkan seringkali adalah sebuah alasan untuk tidak memenuhi janji. Ya nggak, ya nggak? :p

Pernah denger gak, kalimat Insya Allah yang dibalas dengan kalimat, "Ini Insya Allah diajak makan apa Insya Allah disuruh kerja?"... Hehehe, sebegitu tidak dipercayanya sebuah kalimat Insya Allah, padahal kan sebagai muslim harusnya kita mengerti bahwa ketika sudah mengucapkan Insya Allah berarti kita akan berusaha sebisa mungkin memenuhi janji tersebut.

“Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungjawabannya.” (Al-Isra`: 34)

Jadi intinya adalah jangan pernah menyepelekan janji. Janji adalah hutang dan hutang itu harus dibayar. Dalam semua lini kehidupan janji dan hutang tidak terpisahkan. Misalkan dalam jual beli, penuhilah akadnya dan jangan diingkari. Misalkan dalam pernikahan, akadnya bukan lagi antar manusia, melainkan dengan Allah, maka kita tahu sendiri bagaimana kekuatannya. Misalkan dalam pinjam meminjam, berhutang uang dan berjanji akan dibayar, maka penuhilah janji itu sebisa mungkin. Yang banyak terjadi adalah orang lebih suka berhutang tapi tidak suka membayar, daripada mendahulukan membayar hutang, lebih baik mendahulukan kepentingan untuk bersenang2. Ah, soal ini kalau dibahas bisa sampai panjaaaannngggg... Naudzubillah deh, kadang kita sendiri yang sebenarnya sudah melabeli diri kita sebagai orang munafik.

Maka dari itu, seandainya oh seandainya semua orang di dunia ini mengerti bagaimana pentingnya memenuhi janji dalam islam, mungkin tidak akan pernah ada penipuan dalam bisnis ataupun khianat dalam pernikahan. Damai sekali dunia...

Kembali pada alur cerita yang pertama. Kita sebagai manusia normal pasti tidak akan suka pada orang yang suka ingkar janji. Maka dari itu, mari ajarkan 'menepati janji' sedini mungkin pada anak2 kita, supaya tidak muncul generasi2 tukang mungkir dari rumah kita. Jangan pernah berjanji jika kita tau bahwa kita tidak akan atau tidak mau menepati. Hati-hati kecil itu pasti akan kecewa, dan yang sangat dikhawatirkan adalah jika kekecewaan itu ternyata (tidak sengaja) mengendap dalam sanubarinya. Ujung2nya ketika besar mereka juga dengan sendirinya meniru ingkar. Mari mulai dari diri sendiri, berusaha semaksimal mungkin menjadikan diri sebagai contoh dan tauladan baik yang paling nyata. Sisanya serahkan pada Allah. Bismillah... :)

Selasa, 24 April 2012

-85- Manakala Hidupmu Tampak Susah Untuk Dijalani...

Copas dari note fb-nya teman, like this banget deh...
Ini source-nya http://m.facebook.com/note.php?note_id=10150756644408360&refid=22&_rdr#10150762651273360

Seorang professor berdiri di depan kelas filsafat dan mempunyai beberapa barang di depan mejanya. Saat kelas dimulai, tanpa mengucapkan sepatah kata, dia mengambil sebuah toples mayones kosong yang besar dan mulai mengisi dengan bola-bola golf.

Kemudian dia berkata pada para muridnya, apakah toples itu sudah penuh? Mahasiswa menyetujuinya.

Kemudian professor mengambil sekotak batu koral dan menuangkannya ke dalam toples. Dia mengguncang dengan ringan. Batu-batu koral masuk, mengisi tempat yang kosong di antara bola-bola golf.

Kemudian dia bertanya pada para muridnya, Apakah toples itu sudah penuh? Mereka setuju bahwa toples itu sudah penuh.

Selanjutnya profesor mengambil sekotak pasir dan menebarkan ke dalam toples... Tentu saja pasir itu menutup segala sesuatunya. Profesor sekali lagi bertanya apakah toples sudah penuh? Para murid dengan suara bulat berkata, "Yaa!"

Profesor kemudian menyeduh dua cangkir kopi dari bawah meja dan menuangkan isinya ke dalam toples, dan secara efektif mengisi ruangan kosong di antara pasir.

Para murid tertawa...

"Sekarang," kata profesor ketika suara tawa mereda, "Saya ingin kalian memahami bahwa toples ini mewakili kehidupanmu."

"Bola-bola golf adalah hal-hal yang penting - Tuhan, keluarga, anak-anak, kesehatan, teman dan para sahabat. Jika segala sesuatu hilang dan hanya tinggal mereka, maka hidupmu masih tetap penuh."

"Batu-batu koral adalah segala hal lain, seperti pekerjaanmu, rumah dan mobil."

"Pasir adalah hal-hal yang lainnya - hal-hal yg sepele."

"Jika kalian pertama kali memasukkan pasir ke dalam toples," lanjut profesor, "Maka tidak akan tersisa ruangan untuk batu koral ataupun untuk bola-bola golf. Hal yang sama akan terjadi dalam hidupmu."

"Jika kalian menghabiskan energi untuk hal-hal sepele, kalian tidak akan mempunyai ruang untuk hal-hal yang penting buat kalian"

"Jadi..."

"Berilah perhatian untuk hal-hal yang kritis untuk kebahagiaanmu. Bermainlah dengan anak-anakmu.Luangkan waktu untuk check up kesehatan.Ajak pasanganmu untuk keluar makan malam. Akan selalu ada waktu untuk membersihkan rumah, dan memperbaiki mobil atau perabotan."

"Berikan perhatian terlebih dahulu kepada bola-bola golf - Hal-hal yang benar-benar penting. Atur prioritasmu. Baru yang terakhir, urus pasir-nya."

Salah satu murid mengangkat tangan dan bertanya, "Kalau Kopi yg dituangkan tadi mewakili apa?" Profesor tersenyum, "Saya senang kamu bertanya. Itu untuk menunjukkan kepada kalian, sekalipun hidupmu tampak sudah begitu penuh, tetap selalu tersedia tempat untuk secangkir kopi bersama sahabat." :-)

Saya suka sekali dengan tulisan ini. Kalau suami saya mengibaratkan keluarga adalah bola-bola kaca yang ketika jatuh maka ia akan pecah. Sedangkan pekerjaan, karir, dan sejenisnya merupakan bola-bola karet yang ketika jatuh  ia masih bisa melambung lagi, bahkan lebih tinggi. Bola-bola kaca, kata suami saya, atau bola-bola golf, kata tulisan di atas, memang tak ternilai harganya, tak bisa tergantikan oleh apapun.

Ah, terus terang kangen saya pada ibu bapak semakin menjadi2. Allah mohon beritahu mereka bahwa saya sayang, sangat sayang, meski sekarang saya jadi jarang pulang (hiks hiks, tuh kan jadi sedih... T.T). Allah saya tau Engkau Maha Tau, bahwa saya menyayangi mereka dalam doa, dalam hela napas, dalam usaha keras membangun keluarga saya, dalam perjuangan berat untuk ikhlas menjaga setiap amanah, dalam hati ini. Allah saya tau Engkau Maha Adil, saya yakin Engkau yang akan menjaga mereka, lahir batin, jiwa raga, meski saya tak disana. Bahagiakan jiwa mereka, sehatkan raga mereka, tenteramkan hati mereka dan mohon ridhoi kami, anak-anaknya, agar senantiasa menjadi penyejuk hati dan penambah amal mereka. Amiin...

Rabu, 18 April 2012

-84- Sarapan Pagi Tadi: Bubur Ayam Sukabumi

Berawal dari request suami beberapa hari yang lalu sepulang dari Ratekda, akhirnya tadi pagi berhasil juga aku bikin bubur ayam buat sarapan. Ceritanya pas Ratekda suami makan bubur ayam, jadi pulang2 langsung request sekali2 bikin bubur ayam buat sarapan. Padahal, yang jual bubur ayam disini ada loh, kan kalo gak mau repot ya tinggal beli aja. Tapi katanya, "Ah, yg itu gak enak, bunda bikin sendiri aja, pasti lebih enak...". Kesimpulannya sudah jelas, aku diminta bikin bubur ayam. Sesuatu yang awalnya terasa amat sulit untuk ukuran orang yg gak pinter masak sepertiku.

Yup, aku suka makan, suamiku juga, kami sama2 suka makan. Masalahnya adalah aku gak pinter masak. Kalopun masak sendiri, gak tau kenapa rasanya setelah masakanku jadi alias mateng, aku sendiri gak minat makannya, sudah kenyang duluan. Atau karena sugesti dari diri sendiri bahwa masakanku itu pasti gak enak ya, hihihi... Apapun itulah, yg penting adalah aku tidak pernah merasa susah, mau masak apapun resepnya bertebaran di internet, tinggal bahannya aja yang tersedia atau tidak. Kita kan hidup di zaman yang sudah serba canggih, gak perlu koleksi buku resep banyak2, yg penting bisa internetan. Dan titik, semua selesai, sangat membantu untuk tipe yang bekerja berdasarkan instruksi sepertiku

Hmm, rasanya ada banyak hal tentang masak memasak yang ingin kubuat tulisannya. Apalagi semenjak aku menikah, kemajuanku dalam hal masak memasak sangat pesat walaupun masih sangat jauuuuhhhh dari kelasnya 'chef' bahkan yg amatiran sekalipun. Pokoknya intinya menikah membuat aku perempuan jadi 'bisa' masak :D

Balik lagi pada bahasan BUBUR AYAM SUKABUMI. Saya rekomendasikan resep ini bagi yang gak bisa masak tapi diminta suaminya bikin bubur ayam. Simpel dan gak pake ribet. Rasanya juga gak kalah sama masakan hotel bintang lima (kata suamiku, yg aku yakin itu hanya untuk menghiburku biar gak nangis bombay dan gak ngambek masak, hihihi...).

Resepnya bisa diintip disini http://inforesep.com/resep-bubur-ayam-sukabumi.html ya frens... Selamat mencoba! ^_^

Selasa, 17 April 2012

-83- He is My Father...

Repost from my fb's note...

Aku ingat beliau sering melakukan sidak pd tas sekolahku bahkan sampai aku SMU, khawatir menemukan brg2 aneh atau nilai jelek. Ah, rasa takutnya mungkin persis seperti Nobita yg kemudian menyembunyikan nilai nol dari mata ibunya. Lucu kalau diingat2 lagi sekarang. Aku juga ingat saat SMP beliau sering memprotes asesoris rambutku yg super rame saat ke sekolah dg kalimat, "Mau sekolah apa pesta?" Hahaha, dulu menyebalkan, tp skrg jd geli sendiri.

Aku juga ingat waktu SMU beliau tak pernah mengizinkanku mengikuti acara malam yg diadakan teman2 bahkan yg tempatnya jelas dan tak jauh dr rumah, khawatir anaknya jd nakal kali yah. Aku ingat beliau gak pernah gak protes (baca: marah) kalau melihatku keluar pake baju pendek yg panjang lengannya jauh di atas siku. Waktu itu aku menganggapnya gak gaul, anggapan yg baru kusadari kekeliruannya beberapa tahun kemudian. Aku ingat beliau selalu bertanya penuh selidik setiap ada telepon dr yg namanya laki2, mungkin khawatir anaknya keganjenan. Aku jg ingat beliau selalu menungguiku pd tiap tes masuk kuliah, sejak pagi ketika masuk ruangan sampai selesai dan aku keluar ruangan dg langsung menemukan sosoknya. Ah, rasanya semua baru terjadi kemarin saja padahal sekarang usiaku bahkan sdh seperempat abad.

Aku ingat beliau masih menggandeng tanganku ketika menyeberang jalan raya, khawatir anaknya gak liat ada motor yg ngebut. Aku ingat dlm sibuknya beliau selalu menyempatkan diri mengantarku kembali ke ibukota setelah beberapa lama liburan di rumah, khawatir anaknya sendirian dlm perjalanan, meskipun harus capek segera pulang pd hari yg sama. Aku ingat beliau memfotokopikan semua berkas2 ijazah dan teman2nya lalu dijilid rapi sbg peganganku dan membawa pulang yg asli, khawatir anaknya memerlukan semua berkas itu dan tetap berjaga2 atas keteledoran anaknya terhadap berkas2 yg asli. Aku ingat beliau gak pernah absen ke rumah Pak RT melaporkan keberadaanku di lingkungan ybs, khawatir anaknya dianggap liar dan ilegal. Aku ingat banyak hal dimana kata2 tak mampu merangkumnya, padahal saat semua itu terjadi aku sudah berstatus mahasiswa.

Aku msh ingat beliau bersama ibu sengaja datang utk menyepakati dan memastikan urusan makan sehari2ku dg ibu kostku. Aku msh ingat beliau menyempatkan bersilaturahim ke rumah atasanku sambil menitipkanku yg baru saja memasuki dunia kerja dan mgkn msh bertingkah spt anak kemarin sore. Aku msh ingat beliau jarang absen mengantarku kembali kesini setiap kali sehabis pulang ke rumah. Aku msh ingat beliau bersama ibu mengurusi brg2 rumahanku ketika kemudian kuputuskan utk gak ngekost lagi. Aku msh ingat beliau tetap membekaliku dg fotokopian berkas SK dan sejenisnya yg dijilid lengkap dan tetap mengamankan yg asli, sampai nanti katanya, setelah aku tak lagi nomaden dan sdh ada org lain yg akan menertibkannya. Aku msh ingat beliau msh tetap mjd warga yg baik, melaporkan keberadaanku pd Pak RT dan Pak RW. Aku msh ingat beliau ceramah panjang lebar ketika aku dibonceng tmn cowok kesana kemari ngukur jalan waktu lebaran. Aku msh ingat setiap kali kesini beliau selalu mengecek semua kunci drmh kontrakanku utk mengantisipasi ketidakamanan, menyoroti rumput tinggi di halaman blkg, khawatir ada ular bersarang, jg tak lupa mengecek dan membersihkan motorku, memastikan hingga nyaman dan aman dipakai. Semua terjadi saat aku bahkan sdh bekerja dan berada dlm masyarakat sbg individu tersendiri.

 He is my father. Tak cukup kalimat utk menggambarkan cinta dan tanggungjawabmu sbg seorang ayah atas seorang anak perempuan. Tak cukup paragraf utk menceritakan bagaimana dirimu menjagaku. Jika ada yg salah denganku, maka memang akulah yg salah Ya Rabb, krn beliau telah menjaga amanah itu dg sempurna. I love you father, always... walau kadang dalam debat.