Selasa, 24 April 2012

-85- Manakala Hidupmu Tampak Susah Untuk Dijalani...

Copas dari note fb-nya teman, like this banget deh...
Ini source-nya http://m.facebook.com/note.php?note_id=10150756644408360&refid=22&_rdr#10150762651273360

Seorang professor berdiri di depan kelas filsafat dan mempunyai beberapa barang di depan mejanya. Saat kelas dimulai, tanpa mengucapkan sepatah kata, dia mengambil sebuah toples mayones kosong yang besar dan mulai mengisi dengan bola-bola golf.

Kemudian dia berkata pada para muridnya, apakah toples itu sudah penuh? Mahasiswa menyetujuinya.

Kemudian professor mengambil sekotak batu koral dan menuangkannya ke dalam toples. Dia mengguncang dengan ringan. Batu-batu koral masuk, mengisi tempat yang kosong di antara bola-bola golf.

Kemudian dia bertanya pada para muridnya, Apakah toples itu sudah penuh? Mereka setuju bahwa toples itu sudah penuh.

Selanjutnya profesor mengambil sekotak pasir dan menebarkan ke dalam toples... Tentu saja pasir itu menutup segala sesuatunya. Profesor sekali lagi bertanya apakah toples sudah penuh? Para murid dengan suara bulat berkata, "Yaa!"

Profesor kemudian menyeduh dua cangkir kopi dari bawah meja dan menuangkan isinya ke dalam toples, dan secara efektif mengisi ruangan kosong di antara pasir.

Para murid tertawa...

"Sekarang," kata profesor ketika suara tawa mereda, "Saya ingin kalian memahami bahwa toples ini mewakili kehidupanmu."

"Bola-bola golf adalah hal-hal yang penting - Tuhan, keluarga, anak-anak, kesehatan, teman dan para sahabat. Jika segala sesuatu hilang dan hanya tinggal mereka, maka hidupmu masih tetap penuh."

"Batu-batu koral adalah segala hal lain, seperti pekerjaanmu, rumah dan mobil."

"Pasir adalah hal-hal yang lainnya - hal-hal yg sepele."

"Jika kalian pertama kali memasukkan pasir ke dalam toples," lanjut profesor, "Maka tidak akan tersisa ruangan untuk batu koral ataupun untuk bola-bola golf. Hal yang sama akan terjadi dalam hidupmu."

"Jika kalian menghabiskan energi untuk hal-hal sepele, kalian tidak akan mempunyai ruang untuk hal-hal yang penting buat kalian"

"Jadi..."

"Berilah perhatian untuk hal-hal yang kritis untuk kebahagiaanmu. Bermainlah dengan anak-anakmu.Luangkan waktu untuk check up kesehatan.Ajak pasanganmu untuk keluar makan malam. Akan selalu ada waktu untuk membersihkan rumah, dan memperbaiki mobil atau perabotan."

"Berikan perhatian terlebih dahulu kepada bola-bola golf - Hal-hal yang benar-benar penting. Atur prioritasmu. Baru yang terakhir, urus pasir-nya."

Salah satu murid mengangkat tangan dan bertanya, "Kalau Kopi yg dituangkan tadi mewakili apa?" Profesor tersenyum, "Saya senang kamu bertanya. Itu untuk menunjukkan kepada kalian, sekalipun hidupmu tampak sudah begitu penuh, tetap selalu tersedia tempat untuk secangkir kopi bersama sahabat." :-)

Saya suka sekali dengan tulisan ini. Kalau suami saya mengibaratkan keluarga adalah bola-bola kaca yang ketika jatuh maka ia akan pecah. Sedangkan pekerjaan, karir, dan sejenisnya merupakan bola-bola karet yang ketika jatuh  ia masih bisa melambung lagi, bahkan lebih tinggi. Bola-bola kaca, kata suami saya, atau bola-bola golf, kata tulisan di atas, memang tak ternilai harganya, tak bisa tergantikan oleh apapun.

Ah, terus terang kangen saya pada ibu bapak semakin menjadi2. Allah mohon beritahu mereka bahwa saya sayang, sangat sayang, meski sekarang saya jadi jarang pulang (hiks hiks, tuh kan jadi sedih... T.T). Allah saya tau Engkau Maha Tau, bahwa saya menyayangi mereka dalam doa, dalam hela napas, dalam usaha keras membangun keluarga saya, dalam perjuangan berat untuk ikhlas menjaga setiap amanah, dalam hati ini. Allah saya tau Engkau Maha Adil, saya yakin Engkau yang akan menjaga mereka, lahir batin, jiwa raga, meski saya tak disana. Bahagiakan jiwa mereka, sehatkan raga mereka, tenteramkan hati mereka dan mohon ridhoi kami, anak-anaknya, agar senantiasa menjadi penyejuk hati dan penambah amal mereka. Amiin...

Rabu, 18 April 2012

-84- Sarapan Pagi Tadi: Bubur Ayam Sukabumi

Berawal dari request suami beberapa hari yang lalu sepulang dari Ratekda, akhirnya tadi pagi berhasil juga aku bikin bubur ayam buat sarapan. Ceritanya pas Ratekda suami makan bubur ayam, jadi pulang2 langsung request sekali2 bikin bubur ayam buat sarapan. Padahal, yang jual bubur ayam disini ada loh, kan kalo gak mau repot ya tinggal beli aja. Tapi katanya, "Ah, yg itu gak enak, bunda bikin sendiri aja, pasti lebih enak...". Kesimpulannya sudah jelas, aku diminta bikin bubur ayam. Sesuatu yang awalnya terasa amat sulit untuk ukuran orang yg gak pinter masak sepertiku.

Yup, aku suka makan, suamiku juga, kami sama2 suka makan. Masalahnya adalah aku gak pinter masak. Kalopun masak sendiri, gak tau kenapa rasanya setelah masakanku jadi alias mateng, aku sendiri gak minat makannya, sudah kenyang duluan. Atau karena sugesti dari diri sendiri bahwa masakanku itu pasti gak enak ya, hihihi... Apapun itulah, yg penting adalah aku tidak pernah merasa susah, mau masak apapun resepnya bertebaran di internet, tinggal bahannya aja yang tersedia atau tidak. Kita kan hidup di zaman yang sudah serba canggih, gak perlu koleksi buku resep banyak2, yg penting bisa internetan. Dan titik, semua selesai, sangat membantu untuk tipe yang bekerja berdasarkan instruksi sepertiku

Hmm, rasanya ada banyak hal tentang masak memasak yang ingin kubuat tulisannya. Apalagi semenjak aku menikah, kemajuanku dalam hal masak memasak sangat pesat walaupun masih sangat jauuuuhhhh dari kelasnya 'chef' bahkan yg amatiran sekalipun. Pokoknya intinya menikah membuat aku perempuan jadi 'bisa' masak :D

Balik lagi pada bahasan BUBUR AYAM SUKABUMI. Saya rekomendasikan resep ini bagi yang gak bisa masak tapi diminta suaminya bikin bubur ayam. Simpel dan gak pake ribet. Rasanya juga gak kalah sama masakan hotel bintang lima (kata suamiku, yg aku yakin itu hanya untuk menghiburku biar gak nangis bombay dan gak ngambek masak, hihihi...).

Resepnya bisa diintip disini http://inforesep.com/resep-bubur-ayam-sukabumi.html ya frens... Selamat mencoba! ^_^

Selasa, 17 April 2012

-83- He is My Father...

Repost from my fb's note...

Aku ingat beliau sering melakukan sidak pd tas sekolahku bahkan sampai aku SMU, khawatir menemukan brg2 aneh atau nilai jelek. Ah, rasa takutnya mungkin persis seperti Nobita yg kemudian menyembunyikan nilai nol dari mata ibunya. Lucu kalau diingat2 lagi sekarang. Aku juga ingat saat SMP beliau sering memprotes asesoris rambutku yg super rame saat ke sekolah dg kalimat, "Mau sekolah apa pesta?" Hahaha, dulu menyebalkan, tp skrg jd geli sendiri.

Aku juga ingat waktu SMU beliau tak pernah mengizinkanku mengikuti acara malam yg diadakan teman2 bahkan yg tempatnya jelas dan tak jauh dr rumah, khawatir anaknya jd nakal kali yah. Aku ingat beliau gak pernah gak protes (baca: marah) kalau melihatku keluar pake baju pendek yg panjang lengannya jauh di atas siku. Waktu itu aku menganggapnya gak gaul, anggapan yg baru kusadari kekeliruannya beberapa tahun kemudian. Aku ingat beliau selalu bertanya penuh selidik setiap ada telepon dr yg namanya laki2, mungkin khawatir anaknya keganjenan. Aku jg ingat beliau selalu menungguiku pd tiap tes masuk kuliah, sejak pagi ketika masuk ruangan sampai selesai dan aku keluar ruangan dg langsung menemukan sosoknya. Ah, rasanya semua baru terjadi kemarin saja padahal sekarang usiaku bahkan sdh seperempat abad.

Aku ingat beliau masih menggandeng tanganku ketika menyeberang jalan raya, khawatir anaknya gak liat ada motor yg ngebut. Aku ingat dlm sibuknya beliau selalu menyempatkan diri mengantarku kembali ke ibukota setelah beberapa lama liburan di rumah, khawatir anaknya sendirian dlm perjalanan, meskipun harus capek segera pulang pd hari yg sama. Aku ingat beliau memfotokopikan semua berkas2 ijazah dan teman2nya lalu dijilid rapi sbg peganganku dan membawa pulang yg asli, khawatir anaknya memerlukan semua berkas itu dan tetap berjaga2 atas keteledoran anaknya terhadap berkas2 yg asli. Aku ingat beliau gak pernah absen ke rumah Pak RT melaporkan keberadaanku di lingkungan ybs, khawatir anaknya dianggap liar dan ilegal. Aku ingat banyak hal dimana kata2 tak mampu merangkumnya, padahal saat semua itu terjadi aku sudah berstatus mahasiswa.

Aku msh ingat beliau bersama ibu sengaja datang utk menyepakati dan memastikan urusan makan sehari2ku dg ibu kostku. Aku msh ingat beliau menyempatkan bersilaturahim ke rumah atasanku sambil menitipkanku yg baru saja memasuki dunia kerja dan mgkn msh bertingkah spt anak kemarin sore. Aku msh ingat beliau jarang absen mengantarku kembali kesini setiap kali sehabis pulang ke rumah. Aku msh ingat beliau bersama ibu mengurusi brg2 rumahanku ketika kemudian kuputuskan utk gak ngekost lagi. Aku msh ingat beliau tetap membekaliku dg fotokopian berkas SK dan sejenisnya yg dijilid lengkap dan tetap mengamankan yg asli, sampai nanti katanya, setelah aku tak lagi nomaden dan sdh ada org lain yg akan menertibkannya. Aku msh ingat beliau msh tetap mjd warga yg baik, melaporkan keberadaanku pd Pak RT dan Pak RW. Aku msh ingat beliau ceramah panjang lebar ketika aku dibonceng tmn cowok kesana kemari ngukur jalan waktu lebaran. Aku msh ingat setiap kali kesini beliau selalu mengecek semua kunci drmh kontrakanku utk mengantisipasi ketidakamanan, menyoroti rumput tinggi di halaman blkg, khawatir ada ular bersarang, jg tak lupa mengecek dan membersihkan motorku, memastikan hingga nyaman dan aman dipakai. Semua terjadi saat aku bahkan sdh bekerja dan berada dlm masyarakat sbg individu tersendiri.

 He is my father. Tak cukup kalimat utk menggambarkan cinta dan tanggungjawabmu sbg seorang ayah atas seorang anak perempuan. Tak cukup paragraf utk menceritakan bagaimana dirimu menjagaku. Jika ada yg salah denganku, maka memang akulah yg salah Ya Rabb, krn beliau telah menjaga amanah itu dg sempurna. I love you father, always... walau kadang dalam debat.

Selasa, 28 Juni 2011

-82- Catatan Akhir Silaturahim Kali Ini

Aku lebih suka menyebutnya silaturahim, dimana aku mendatangi beberapa rumah warga untuk mendapatkan data. Aku bertanya2 tentang a, b, atau c kepada sekian rumah tangga yang terpilih sebagai sampel untuk mewakili suatu populasi. Mungkin orang2 di sana lebih suka menyebutnya survei, terdengar lebih cerdas dan intelek. Dan ketika aku sedang ingin merasa intelek, aku juga akan menggunakan diksi itu.

Tema silaturahimku kali ini adalah tentang konsumsi alias pengeluaran sehari2. Akan terlalu panjang jika aku menjabarkan tentang apa saja yang ingin ditangkap disana. Dan aku pun sedang tidak ingin berpusing2 ria memikirkan banyak aspek. Cukup satu aspek saja yang akan aku ambil untuk kupikirkan sedikit, sejenak, selintas dan sekompleks mungkin. Sekedar ingin melihat dan berargumentasi secara bodoh.

Pertanyaan yang biasanya tidak pernah aku lewatkan adalah berapa rupiah yang dikeluarkan oleh rumah tangga yang bersangkutan untuk jajan anak2nya selama sehari. Jawabannya beragam, mulai dari satu anak 2000 sehari, 5000 sehari, 3000 pagi dan 3000 siang, ataupun 10.000 sehari. Terlihat biasa saja pada awalnya, tapi menjadi luar biasa menurutku ketika kemudian aku melihat hal2 lain yang rasanya menjadikannya tidak berlangsung serasi.

Sebuah rumah tangga terdiri dari seorang nenek dan seorang cucu yang duduk di kelas 4 SD. Si cucu biasa dibekali uang jajan 3000 rupiah sebelum berangkat ke sekolah. Siang sampai sore hari, biasanya si cucu lagi2 minta jajan dan biasanya menghabiskan 2000 rupiah. Berarti, dalam sehari 5000 rupiah harus dikeluarkan untuk membiayai jajan si cucu, 75.000 seminggu, dan 300.000 sebulan (hari libur tetap sama). Sementara itu, untuk membiayai hidup sehari2 sang nenek mengandalkan dana pensiun yang hanya 300.000 sebulan, ditambah beberapa rupiah hasil kiriman anaknya yang tidak rutin. O oww, ternyata hanya untuk uang jajan saja, dana pensiun untuk sebulan habis tanpa sisa. Anehnya, sang nenek kok manut aja sih...

Rumah tangga yang lain berdomisili di wilayah pasar. Sudah bisa dibayangkan betapa beranekaragamnya jajanan yang tersedia, yang kemudian berhasil menyedot perhatian tidak sedikit anak2, termasuk anak2 di rumah itu. Ada 2 anak usia TK dan SD di sana. Setiap harinya orangtuanya menghabiskan sekitar 20.000 rupiah untuk jajan mereka, baik di sekolah maupun di rumah. Kedua anak itu terbiasa beraktivitas tanpa dimulai dengan sarapan di pagi harinya, bahkan makan siang dan makan malam di rumah pun mereka malas. Mereka cuma mau jajan, jajan, dan jajan. Laparnya perut akan sangat mudah diselesaikan dengan hanya dengan jajan. Padahal jajanan yang mereka konsumsi itu jauh dari bergizi. Lagi2... anehnya orang tuanya dengan ikhlas mengamini saja.

Bergeser beberapa desa ada rumah tangga lain dengan seorang balita berumur 2 tahun di dalamnya. Aku takjub begitu melihat si balita yang sudah sangat familiar dengan rupiah. Memang dia belum mengerti kegunaan rupiah untuk membeli rumah atau mobil. Tapi si balita yang masih imut itu akrab sekali dengan warung kecil di seberang rumahnya. Setiap hari ia tidak pernah absen mengunjungi warung itu. Tidak lain dan tidak bukan adalah untuk jajan ini itu. Sang ibu yang suaminya hanya seorang buruh tani harus menghabiskan 5000 rupiah sehari untuk jajan si buah hati. Aku melihatnya sambil bertanya2, begitukah cinta wahai ibu?

Cukuplah tiga rumah tangga saja dari sekian banyak rumah tangga dengan kebiasaan jajan anak2 yang aneh menurutku. Aku tidak mempunyai hak sama sekali untuk mengatakan bahwa mereka salah. Aku hanya ingin semakin bersyukur atas hidupku melalui gambaran hidup orang lain. Aku bersyukur semenjak kecil tidak pernah dijatah dengan pasti sebesar sekian rupiah untuk jajan sehari. Aku bersyukur orangtuaku telah berhasil membentukku untuk mengawali kegiatan sehari2ku dengan sarapan. Aku bersyukur atas cara orangtuaku membiasakanku untuk benar2 makan, di rumah, tiga kali sehari, daripada jajan yang gak jelas di luar sana. Aku bersyukur untuk semuanya.

***

Tiba2 aku teringat pada keponakanku yang baru 2,5 tahun. Dia sehat, pintar, aktif, ceria, dan makannya pun banyak. Dia belum kenal istilah jajan dan jajanan. Alhamdulillah atas itu, karena memang belum waktunya untukmu sayang... Dan jika nanti aku menjadi orangtua, menjadi ibu, mohon jauhkanlah aku dari perilaku dzalim kepada anak2ku Ya Rabb, baik sengaja ataupun tidak. Karena ala bisa karena biasa. Dengan kebiasaan baik insya Allah dengan kehendakNya akan menghasilkan generasi yang baik pula.

(berhenti sejenak di tengah entri dokumen kuning)

Selasa, 05 April 2011

-81- Ketika Seorang Perfeksionis Berkendara

Date Created : 25 Agustus 2009

Sore hari menjelang ashar, bersantai sejenak setelah pulang kantor.

Lucu, ingin rasanya aku tertawa jika mengingat kembali rentetan peristiwa di hari ini. Diawali dengan bangun sahur. Meskipun ibu kost sudah membangunkan sejak jam 03.00 dini hari, jadwal sahurku tetap saja jam 04.00. Setelah sahur lanjut subuh, nyetrika, mulai merendam pakaian kotor, lalu nonton TV sambil tidur-tiduran (ujung-ujungnya tidur lagi, hehe).

Masih antara sadar dan tidak (heran, kenapa ya pagi-pagi tu bawaannya ngantuk aja), aku mendengar bunyi sedikit gemuruh. Kuintip keluar, wuaaa... ternyata hujan. Ahh, malas... Aku kan harus ke kantor, kalo hujan gini rasanya ogah banget ngantor. Kantorku kan baru pindah. Sepuluh kilo euy. Sangat jauh dibanding posisi kantor sebelumnya yang tidak sampai 1 km.

Namun sebenarnya bukan itu inti permasalahannya. Yang pertama kali terlintas dalam pikiranku ketika mendapati hujan di pagi hari ini adalah "Yaaaaaaa, motorku kan baru dicuci kemarin sore, kotor lagi dunk, hikz...". Hahaha, enggak banget deh. Kalo gak mau kotor ya jangan dipake mbak, simpen aja di rumah, bungkus pake plastik :D.

Akhirnya, meskipun agak terlambat karena menunggu hujan reda, aku tetap berangkat ke kantor. Bismillah, dalam hati aku berdoa semoga tidak terjadi apa-apa di jalan. Kulajukan motor tidak lebih dari 40 km/jam. Pelan dan sangat hati-hati, menghindari tiap inchi jalanan yang basah sebisa mungkin. Masih dengan motivasi yang sama, aku tidak sudi motorku kotor.

Sekitar 4 km sebelum kantor, ternyata hujan lagi. Huh, menyebalkan. Berhubung masih gerimis, aku pun tetap melaju pelan. Saking pelannya, ketika tiba di salah satu turunan yang agak curam, dengan kondisi jalan yang jauh dari bagus, aku kehilangan keseimbangan, oleng ke kanan, dan brakkkkkk...

Pengendara motor di belakangku sontak berhenti dan membantuku berdiri. Malu banget. Aku gak peduli pada celana panjang yang robek karena tergores tanah keras. Aku juga gak peduli pada lutut yang agak sedikit nyeri. Aku hanya peduli pada rasa malu, juga... pada rasa menyesal karena motornya jadi lecet-lecet dan kotor. Hahahah, lagi-lagi :D :D

Setelah kembali mengatur posisi, aku melanjutkan perjalanan beberapa kilo lagi. Tiba di kantor, parkir, masuk ruangan, lalu duduk. Aku termenung dengan pikiran yang penuh. Hari ini cuaca dingin dan lembab. Aku asyik dalam renungan di tengah gerimis. Tak lagi kuhiraukan motor yang kuparkir tidak di bawah atap. Bodo’ amat deh.

Pikiranku berkelana kemana2. Plis deh Wee, perfeksionis boleh aja, tapi pilih2 waktu dan situasi lah... Ujung2nya kamu sendiri yang rugi kan. Lagian, itu perfeksionis atau oon sih? :D :P

-80- Don't Judge The Book From The Cover

Date Created : 25 Agustus 2009

Aku lagi gak tajir ide untuk nambah postingan di blog. Tapi daripada kelamaan vakum, lebih baik aku berbagi beberapa peristiwa sederhana yang terjadi di sekitarku akhir2 ini. Peristiwa sederhana, namun tidak berbanding lurus dengan sederhananya hidup.

Satu tahun aku di Muara Aman, kota ini mulai berubah meski tidak terlalu signifikan. Emang perubahannya apa Wee? Pertama, sektor perdagangan mulai menggeliat. Tempat2 makan baru mulai bermunculan, dan inilah yang paling ditunggu2 oleh anak kost seperti diriku. Kedua, jasa angkutan mulai bersaing. Kalau dulu ke Bengkulu harus puas dengan naik engkel, sekarang travel2 dengan mobil2 AVP, Xenia, atau Avanza-nya mulai berkeliaran. Untuk tipe2 traveller sepertiku, hal ini sangat2 membantu. Ketiga, sektor perparkiran tidak hanya menggeliat, melainkan memberontak, sampai2 parkir 5 menit di depan warung sate pun dimintai uang parkir. Hah? Sebegitu gak ada kerjaannya kah beberapa penduduk di sini, sehingga kota yang tidak seberapa ramai ini bahkan memberlakukan tarif parkir dua kali lipat daripada ibukota provinsinya sendiri? Kalo motorku trus ditutupin pake apa gitu supaya gak panas dihajar matahari, oke juga. Lah ini dianggurin aja. Huh, perubahan yang satu ini benar2 tidak menyenangkan.

Pertama kali berkendara di Kota Muara Aman satu tahun yang lalu, aku berdecak kagum. Wuahh, hebat... Jalan2 di pusat kotanya (Pasar Muara Aman) dipenuhi jalan satu jalur. Alhasil, untuk menuju tempat2 tertentu yang seharusnya bisa lurus, mesti memakan waktu yang lebih lama karena harus memutar. Buang2 waktu. Tapi gak masalah, karena ternyata kebijakan yang bikin ribet pengendara ini bisa membuat jalanan lebih teratur. Lalu satu hal lagi yang perlu diacungi jempol, pengendara sepeda motor di sini, baik yang di depan maupun yang dibonceng, WAJIB menggunakan helm standar. Kalo di kota2 besar, hal ini sangat wajar, tapi menjadi luar biasa jika dibandingkan dengan pengendara sepeda motor di Kota Baturaja yang notabene kotanya jauh lebih maju. Oh Baturaja-ku… dalam hal ini dirimu menyedihkan.

Ngomong2 tentang ranmor dan lalu lintas, aku jadi teringat sama Pak Polisi. Mohon maaf sebelumnya, gak tahu kenapa, aku dan pikiranku selalu dipenuhi sugesti negatif terhadap polisi. Aku sering mendengar beberapa teman yang dipalakin sama polisi. Dia melanggar tapi gak ditilang asalkan memberikan 'setoran' kepada polisi tersebut. Dalam kasus ini, teman2ku itu juga salah. Kemudian, aku sendiri pun pernah ditilang, sebbeel banget sama polisinya, padahal memang aku yang salah, hehe. Dasar manusia. Belum lagi banyak kasus2 kejahatan yang ditengarai oleh oknum polisi. Hmm, aku sempat berpikir, polisi mana ada yang baek siy, uuppsss... Kakakku bahkan sampai bilang gini, "Hati2, ntar kemakan omongan sendiri, malah dapet suami polisi." Hiiiii………. :D

Suatu siang di Muara Aman, aku bersama rekan2 sekantor hendak makan siang bareng boz dari provinsi. Sebelum ke rumah makan, kami mampir ke masjid dulu. Kebetulan aku sedang dikasi dispensasi, jadi gak shalat, aku pun menunggu di luar. Selagi menunggu, tampak seorang laki2 berseragam polisi masuk ke halaman masjid, lalu ia parkir motornya, melepas sepatunya, dan masuk ke masjid. Aku sempat terpana. Di kala seringnya aku melihat polisi2 yang dengan cueknya duduk2 santai di pos polisi yang terletak persis di depan sebuah masjid di siang Jumat, di saat yang lain kujumpai seorang polisi yang dengan sukarela menuju masjid di siang Senin yang terik, untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang hamba. Betapa adilnya dunia yang tak membiarkan pikiran negatif senantiasa menghantuiku.

Maka, dengan salah satu kejadian saja, aku diberitahu untuk tidak memberikan penilaian negatif secara umum. Don’t judge the book from the cover, Wee...

Sabtu, 26 Maret 2011

-79- Karena Aku Seorang Muslimah

Seketika aku terbangun di suatu pagi setelah bermimpi tentang kemarin. Bahwa segala yang terjadi bahkan bisa diperbaiki, diatur ulang, dan dijalani kembali dengan sebijak-bijaknya. Bahwa semua yang sedang berlaku bahkan bisa diganti, diperankan mulai dari prolog, lalu lihat bagaimana hasilnya. Akankah tetap sama?

Aku terdiam dalam dudukku, entah sedang mencerna episode yang mana. Yang aku tahu aku bingung, aku sedang berada pada season berapa dalam ceritaku. Yang aku tahu aku heran, bagaimana bisa suatu skenario berubah dengan sendirinya di tengah pertunjukan yang sedang berlangsung. Dan perubahannya tak bisa kutebak, akan memilih adegan penutup yang seperti apa.

Teringat aku akan suatu malam ketika aku sedang bertanya padaNya. Pertanyaan yang kemudian tidak pernah kuulang karena pada dasarnya hatiku sudah tahu jawabannya. Sampai kemudian aku terhenyak. Mungkinkah jawaban yang kuyakini dulu bukanlah jawaban yang tepat? Haruskah kuulangi lagi pertanyaan itu? Pertanyaan yang jauh di dalam sana sangat ingin aku hindari.

Sungguh aku tak pernah berpaling dan mengingkari bahwa aku hanyalah manusia yang semanusia-manusianya. Sungguh aku tak pernah berniat untuk berjalan di jalanku, lalu melenceng mencari-cari perkara dan menyakiti yang lain. Aku juga tak hendak berpikir bahwa aku bisa menjelma malaikat. Aku punya rasa, meski dalam beberapa hal akulah orang yang paling tak berperasaan. Aku menggunakan logika meski dalam beberapa hal logikaku melayang entah kemana terkalahkan oleh ego.

Tidak jarang aku kembali menggali isi pikiranku. Aku bahkan tidak peduli sama sekali dengan hidupku selama hidup yang kujalani tidak meresahkan mereka, orangtuaku. Maka bersyukurlah aku dikaruniai orang-orang bijak yang telah menyumbang kebijakan dalam jalan ceritaku. Maka bersyukurlah aku karena sejauh ini orientasi hidupku menuju kutub positif.

Keterbatasanku adalah sangat. Kedewasaanku adalah temporer. Kesempurnaanku adalah mimpi. Namun hidupku adalah kenyataan yang senyata-nyatanya membutuhkanku untuk menjadi pribadi yang harus berpikir normal, rasional, dalam bingkai agamaku. Karena aku seorang muslimah.