Minggu, 30 Mei 2010

-70- Jam Tangan Pun Bercerita

Bentuknya bulat dengan tali berwarna biru. Penunjuk detiknya tak berjarum, hanya sebentuk wajah dengan senyum lucu yang selalu berputar bersamaan dengan kalimat "Don't worry. Be happy". Seingatku itulah jam tangan pertamaku. Aku tidak pernah tahu merknya. Yang aku tahu hanyalah bahwa jam itu adalah jam tangan kesayanganku, pemberian Bapak ketika aku masih SD dulu.

Beranjak SMP aku dihadiahi sebuah jam tangan bulat berukuran kecil dengan tali kulit berwarna hitam. Jam tangan dengan wajah tersenyum sedikit terlupakan. Tempatnya tergantikan oleh yang lain yang auranya lebih dewasa. Lalu menjelang akhir SMA aku penasaran ingin mencoba menjadi lebih feminin dengan jam tangan stainless. Dua jam tangan sebelumnya entah sudah dimana rimbanya. Namun, ternyata usia si stainless hanya seumur jagung. Pergelangan tanganku gatal2 iritasi. Akhirnya kusingkirkan ia dan kuputuskan untuk tanpa jam tangan dulu selama beberapa waktu. Dan, ternyata rasanya aneh.

Lagi2 jam tangan hitam menjadi pilihanku di awal kuliah. Bentuknya bulat bersegi banyak dengan angka2 tercetak besar di pinggir2nya. Lucu dan keren meskipun merknya gak jelas. Aku nyaman dengan jam yang satu ini, padahal selama kuliah entah sudah berapa banyak jam tangan murah meriah yang singgah di pergelangan tanganku. Sampai kemudian, menjelang akhir kuliah aku mulai mengganti jam tanganku dengan jam yang merknya setidaknya lebih jelas. Aku beralih ke jam tangan berbentuk kotak dan lagi2 hitam dari Sophie Paris. Waktu itu aku berpikir, cukup sudah aku koleksi dan gonta ganti jam tangan keluaran negeri antah berantah. Cukuplah 1 jam tangan saja, gak perlu gonta ganti, tapi yang cuma 1 itu merknya harus jelas.

Hari2 berlalu dan ternyata seperti sebelumnya, aku tidak betah dengan hanya 1 jam tangan saja. Lagi2 aku membeli jam tangan yang menurutku unik, entah itu putih lucu, merah feminin, atau jam tangan rantai hitam yang (menurutku) elegan, juga jam tangan stainless berbentuk kotak yang berukuran sedang. Sampai sejauh ini jam itulah jam tangan gak jelas yang paling aku suka dan yang terakhir kali kumiliki.

Suatu hari saat sedang break sholat dalam suatu acara, ketika aku hendak wudhu, jam tangan itu terjatuh ke lantai. Posisi jatuhnya benar2 pas sehingga kacanya retak. Sangat disayangkan. Dan karena kejadian itu, 2 hari berikutnya aku tanpa jam tangan. Rasanya benar2 janggal dan tidak nyaman. Keinginan untuk membeli jam tangan baru kembali mencuat. Kali ini aku bertekad untuk meluruskan niat, cukup pilih 1 jam tangan saja dengan merk yang jelas.

Pilihanku jatuh pada jam tangan Ray Rucci berbentuk kotak panjang yang agak besar. Entah kenapa sejak pertama kali melihatnya aku langsung naksir. Ia kelihatan keren dan elegan pada saat nangkring di pergelangan tanganku (atau emang dasar orangnya yang keren kali yah, :D). Dan sampai detik ini aku masih setia dengannya. Kusingkirkan jauh2 semua jam tangan sebelumnya. Goodbye all, terimakasih telah senantiasa berputar sepanjang hariku.

......

Kuraba tanganku tepat di pergelangannya. Pikiranku kosong. Bahkan sebuah jam tangan pun mampu mengingatkan akan setiap detik yang kulalui. Bahkan aku tidak pernah tahu sudah berapa kali mereka berputar seiring berjalannya hidupku. Bahkan tidak jarang aku lupa bahwa sesungguhnya ia amat membantuku melihat waktu. Bahkan aku tak pernah ingat tentang mereka semua, entah sudah berapa banyak jam tangan yang pernah kumiliki, bagaimana jenisnya, juga seperti apa rupanya.

Seandainya ia manusia, hatiku pun tak yakin apakah ternyata ada banyak manusia yang telah mampir dalam hidupku, memberikan pelajaran berharga, lalu kemudian ia kulupakan. Seandainya ia pilihan hidup, otakku pun tak mampu berpikir apakah sudah terlalu banyak pilihan hidup yang tak bisa aku pilih dengan benar. Seandainya ia adalah waktu itu sendiri, akankah ia menuntutku atas kelalaian yang mungkin tak terhitung lagi.

Dan memang... sebuah jam tangan pun mampu bercerita.

Minggu, 25 April 2010

-69- Perempatan Tak Bernama

Suatu malam yang kerontang kudapati diri berdiri ragu di tengah2 perempatan. Jengah berpolah disapu pandang jiwa yang kuciptakan sendiri. Berpikir keras sembari melihat sekilas beberapa mata yang tertarik untuk melirik. Pelan kulangkahkan kaki menuju jalan pertama.

Sepanjang jalan itu dihiasi wajah2 bertopeng putih kemerahan, menempel pada tubuh2 yang berjalan anggun. Serangkaian besi berserakan dianiaya oleh para wajah bertopeng, sekedar untuk membuang sejumput daging. Aku menikmatinya, lalu merasa muak. Sampai kemudian kutemukan perempatan lagi, perempatan yang sama.

Aku menuju jalan kedua dan langsung disambut riuhnya canda tawa. Aku tidak melihat seorangpun yang diam di sepanjang jalan itu. Ejekan2 yang secara normal menyakitkan hanya ditingkahi dengan tawa2 berderai. Mereka bertingkah seolah tak ada kesusahan. Aku ikut tersenyum. Senyum yang kusadari hanyalah sementara. Kesementaraan yang menggiringku kembali menemukan perempatan yang lagi2 sama.

Jalan ketiga pun kususuri. Kulihat kertas2 beterbangan. Huruf2 tersusun layaknya serombongan semut berbaris, rapi dan memusingkan. Bunyi mesin berderit2 kejam memaksa manusia berpikir keras. Orang2 lalu lalang tergesa seolah2 semua keluarga mereka baru saja meninggal dunia. Beberapa perempuan terlihat begitu serius sampai tak menyadari wajahnya terlihat kusam. Entah mereka punya anak dan suami atau tidak. Dan di ujung jalan terlihat beberapa orang saling mencakar, berebut segepok rupiah yang entah milik siapa. Segera kuputuskan untuk tidak akan menghabiskan waktu terlalu lama di sana.

Aku melihat perempatan lagi. Perempatan yang tetap sama. Kali ini kupilih jalan keempat. Jalan itu gelap, berkelok2 dan tak teraba. Entah mengapa belum ada lampu2 jalan yang dipasang untuk meneranginya. Aku ketakutan dan tidak tahu sudah berjalan seberapa jauh. Sesekali aku berpapasan dengan beberapa orang yang menyapa namun tak hendak kusapa, tak berani mengambil resiko. Sesekali juga terlihat cahaya dan wajah2 ramah. Aku berjalan penuh strategi ke arahnya, pelan, tak ingin tersandung batu yang berserakan. Senantiasa kuyakinkan diri bahwa aku tak akan tersesat dan terpedaya.

Begitulah perjalananku malam itu dan malam2 berikutnya. Berhadapan dengan perempatan yang selalu sama, perempatan tak bernama. Ingin rasanya kubuat sketsa pada tiap perjalananku, tapi ternyata aku tak mampu. Aku hanya mampu merangkai beberapa mozaik, menangisi beberapa kesalahan, dan tersenyum mendengar beberapa suara. Akulah perempuan, di tengah2 perempatan tak bernama.

Jumat, 16 April 2010

-68- Perempuan Bulan Maret

Sebuah SMS masuk di antara hujan kemarin malam.
"Ya Allah, curahkanlah bidadari solehah ini dengan kasihMu. Awasi ketat tiap langkahnya agar tetap istiqomah di jalanMu. Kutitipkan ia padaMu dan yakinkan ia bahwa pada saatnya nanti akan ada seorang raja soleh yang mencintainya karenaMu, yang akan menjadi penjaga dan penyempurna agamanya, yang akan membuatnya hidup dan memberi manfaat pada orang-orang di sekitarnya."

Aku membaca nama pengirimnya. Seorang teman yang belum genap 30 hari kukenal. Perkenalan tidak sengaja yang bukan tanpa kepentingan. Entahlah, apakah memang aku sudah ditakdirkan bertemu dan berinteraksi dengannya. Entahlah, apakah dia sengaja disinggungkan dengan kehidupanku untuk sedikit saja menyentakku, merangsang naluriku untuk mengira-ngira dan mengamati lebih seksama, perempuan seperti apakah dia.

Sejak pertama kali bertemu, perempuan itu sudah lumayan bisa sedikit menarik minatku. Hanya sedikit saja, tidak lebih. Lalu aku memperhatikannya dan secara otomatis merasa seperti melihat teman-teman kuliahku dulu. Rok panjang model A dengan blus panjangnya. Jilbab bahan biasa dan tidak terlalu menggunakan banyak seni dalam penyematannya. Tanpa make-up dan asesoris serta terkesan masih saklek dalam berpenampilan. Dan dia senantiasa menatapku dengan wajah berbinar.

Beberapa hari kemudian dia mulai mendekatiku, memberikan jawaban atas binar matanya setiap kali menatapku. Ouw, ternyata wajahku mengingatkannya pada seorang teman dekat yang sudah lama tidak bertemu dan hilang kontak. Sangat mirip katanya. Apalagi teman dekatnya itu juga berasal dari daerah yang sama denganku. Tak ayal lagi, karena melihatku, rindu pada temannya itu semakin bergejolak. Sampai-sampai dia pun bercerita bahwa sosok aku yang merupakan orang baru dalam kehidupannya ini bisa masuk ke dalam mimpinya dan menjalani skenario yang aneh, aku menikah dengan teman SMU-nya.

Aku tersenyum. Tak bisa kupungkiri aku juga tertarik padanya. Rasanya sudah lama sekali aku tidak pernah melihat bentuk-bentuk orang yang seperti itu di sini, entah sudah berapa lama. Aku semakin penasaran dan ingin tahu bagaimana kelanjutannya, sejauh mana dia masih bisa menarik minatku. Sebijak apa dia menyikapi poin-poin kontradiktif dalam diriku. Dan seberapa profesional dia dalam urusan pekerjaan.

Beberapa hari yang lalu dia pernah melontarkan sebuah pertanyaan melalui sms.
"Saat ujian aku di depan. Saat istirahat aku tidak ada. Saat ada guru aku berada di barisan 2/4. Apakah aku?" Dia bilang, dia hanya ingin tahu tentang pemikiranku. Lalu dengan cepat tanpa berpikir lama langsung saja kujawab, "Idealisme". Dia kembali membalas, "Pikir lagi, waktunya masih panjang kok." Lagi-lagi kujawab, "Otak". Aku benar-benar malas berpikir, dan hal itu juga kuutarakan padanya. Dia pun membalas sambil tersenyum bahwa tidak mungkin otak bisa hilang pada waktu istirahat, dan dia bilang bahwa dia sedikit tahu tentang pemikiranku. Ketika aku meminta penjelasan, dia hanya berkata bahwa belum waktunya aku diberitahu. Aku penasaran, tapi juga bukan tipeku untuk mengejar-ngejar seseorang agar mengatakan sesuatu yang tidak ingin dia katakan. Sudahlah, biarkan saja dia berpikir dan menilai.

Aku membuka-buka lagi inbox hapeku, melihat lagi beberapa smsnya dan tersenyum.

"Ikhlas adalah tidak merasa telah ikhlas. Barang siapa masih menyaksikan keikhlasan dalam ikhlasnya, maka keikhlasannya masih membutuhkan keikhlasan lagi. Semoga kita selalu menjadi orang yang ikhlas dalam menjalani semua amanah."

"Gunakan keikhlasan sebagai kekuatan dalam bekerja kita dan gunakan keberserahan dari penantian hasil kerja kita, lalu lihat apa yang terjadi."

"Jalan ini, jalan cinta. Jalan cinta, menyaksikannya dicinta tanpa pencinta. Nilainya pada kebersamaan. Keagungannya pada keridhaan. Seseorang itu sempurna bukan karena banyak amalan, tetapi sempurna disisiNya karena Dia meridhainya. Jalan keridhaan Tuhan bukan bergantung pada amalan tapi sejauh mana seseorang menghayati bahwa setiap amalan yang dikerjakannya adalah dari Sang Pencipta."

"Ketika wajah ini penat memikirkan dunia, maka berwudhulah. Ketika tangan ini letih menggapai cita-cita, maka bertakbirlah. Ketika pundak tak kuasa memikul amanah, maka bersujudlah. Ikhlaskan semuanya dan mendekatlah padaNya."

***

Kubaca ulang sms yang dia kirimkan kemarin. Hmm, dia tahu saja. Memang hal yang paling sering melayang-layang dalam pikiranku adalah bahwa menjadi seorang perempuan lajang di tempat ini, dalam situasi dan kondisi seperti ini, pada waktu-waktu yang juga seperti ini adalah sangat tidak menyenangkan. Jadi terimakasih banyak atas sms itu. Aku menganggapnya sebagai sebuah doa yang tiada henti-hentinya hendak aku aminkan. Amiiin, amiiin Ya Rabb ^_^

Minggu, 28 Februari 2010

-67- Orang-Orang Yang Dibenci Iblis *)

Rasulullah SAW lalu bertanya kepada Iblis, "Kalau kau benar jujur, siapakah manusia yang paling kau benci?"
Iblis segera menjawab: "Kamu, kamu dan orang sepertimu adalah mahkluk Allah yang paling aku benci."

"Siapa selanjutnya?" "Pemuda yang bertakwa yang memberikan dirinya mengabdi kepada Allah SWT." "Lalu siapa lagi?" "Orang alim dan wara’ (Loyal)" "Lalu siapa lagi?" "Orang yang selalu bersuci." "Siapa lagi?" "Seorang fakir yang sabar dan tak pernah mengeluhkan kesulitannnya kepda orang lain." "Apa tanda kesabarannya?" "Wahai Muhammad, jika ia tidak mengeluhkan kesulitannya kepada orang lain selama 3 hari, Allah akan memberi pahala orang -orang yang sabar." "Selanjutnya apa?" "Orang kaya yang bersyukur."

Amalan Yang Dapat Menyakiti Iblis

"Apa yang kau rasakan jika melihat seseorang dari umatku yang hendak sholat?" "Aku merasa panas dingin dan gemetar." "Kenapa?" "Sebab, setiap seorang hamba bersujud 1x kepada Allah, Allah mengangkatnya 1 derajat." "Jika seorang umatku berpuasa?" "Tubuhku terasa terikat hingga ia berbuka." "Jika ia berhaji?" "Aku seperti orang gila."
"Jika ia membaca al-Quran?" "Aku merasa meleleh laksana timah diatas api." "Jika ia bersedekah?" "Itu sama saja orang tersebut membelah tubuhku dengan gergaji." "Mengapa bisa begitu?" "Sebab dalam sedekah ada 4 keuntungan baginya, yaitu keberkahan dalam hartanya, hidupnya disukai, sedekah itu kelak akan menjadi hijab antara dirinya dengan api neraka dan segala macam musibah akan terhalau dari dirinya." "Apa yang dapat mematahkan pinggangmu?" "Suara kuda perang di jalan Allah." "Apa yang dapat melelehkan tubuhmu?" "Taubat orang yang bertaubat." "Apa yang dapat membakar hatimu?" "Istighfar di waktu siang dan malam.""Apa yang dapat mencoreng wajahmu?" "Sedekah yang diam-diam." "Apa yang dapat menusuk matamu?" "Shalat fajar." "Apa yang dapat memukul kepalamu?" "Shalat berjamaah." "Apa yang paling mengganggumu?" "Majelis para ulama." "Bagaimana cara makanmu?" "Dengan tangan kiri dan jariku." "Dimanakah kau menaungi anak-anakmu di musim panas?" "Di bawah kuku manusia."

Manusia Yang Menjadi Teman Iblis

Nabi lalu bertanya, "Siapa temanmu wahai Iblis?" "Pemakan riba." "Siapa sahabatmu?" "Pezina." "Siapa teman tidurmu?" "Pemabuk." "Siapa tamumu?" "Pencuri." "Siapa utusanmu?" "Tukang sihir." "Apa yang membuatmu gembira?" "Bersumpah dengan cerai." "Siapa kekasihmu?" "Orang yang meninggalkan sholat jum’at." "Siapa manusia yang paling membahagiakanmu?" "Orang yang meninggalkan sholatnya dengan sengaja."

Iblis Tidak Berdaya di Hadapan Orang Yang Ikhlas

Rasulullah SAW lalu bersabda, "Segala puji bagi Allah yang telah membahagiakan umatku dan menyengsarakanmu." Iblis segera menimpali, "Tidak, tidak… tak akan ada kebahagiaan selama aku hidup hingga hari akhir. Bagaimana kau bisa berbahagia dengan umatmu, sementara aku bisa masuk ke dalam aliran darah mereka dan mereka tak bisa melihatku. Demi yang menciptakan diriku dan memberikanku kesempatan hingga hari akhir, aku akan menyesatkan mereka semua. Baik yang bodoh, atau yang pintar, yang bisa membaca dan tidak bisa membaca, yang durjana dan yang shaleh, kecuali hamba Allah yang ikhlas." "Siapa orang yang ikhlas menurutmu ?" "Tidakkah kau tahu wahai Muhammad, bahwa barang siapa yang menyukai emas dan perak, ia bukan orang yang ikhlas. Jika kau lihat seseorang yang tidak menyukai dinar dan dirham, tidak suka pujian dan sanjungan, aku bisa pastikan bahwa ia orang yang ikhlas, maka aku meninggalkannya. Selama seorang hamba masih menyukai harta dan sanjungan dan hatinya selalu terikat dengan kesenangan dunia, ia sangat patuh padaku."

Iblis Dibantu oleh 70.000 anak-anaknya

Tahukah kamu Muhammad, bahwa aku mempunyai 70.000 anak. Dan setiap anak memiliki 70.000 syaithan. Sebagian ada yang aku tugaskan untuk mengganggu ulama. Sebagian untuk menggangu anak-anak muda, sebagian untuk menganggu orang-orang tua, sebagian untuk menggangu wanita-wanita tua, sebagian anak-anakku juga aku tugaskan kepada para Zahid. Aku punya anak yang suka mengencingi telinga manusia sehingga ia tidur pada shalat berjamaah. Tanpanya, manusia tidak akan mengantuk pada waktu shalat berjamaah. Aku punya anak yang suka menaburkan sesuatu di mata orang yang sedang mendengarkan ceramah ulama hingga mereka tertidur dan pahalanya terhapus. Aku punya anak yang senang berada di lidah manusia, jika seseorang melakukan kebajikan lalu ia beberkan kepada manusia, maka 99% pahalanya akan terhapus. Pada setiap seorang wanita yang berjalan, anakku dan syaithan duduk di pinggul dan pahanya, lalu menghiasinya agar setiap orang memandanginya. Syaithon juga berkata,"Keluarkan tanganmu", lalu ia mengeluarkan tangannya lalu syaithon pun menghiasi kukunya. Mereka, anak-anakku selalu meyusup dan berubah dari satu kondisi ke kondisi lainnya, dari satu pintu ke pintu yang lainnya untuk menggoda manusia hingga mereka terhempas dari keikhlasan mereka. Akhirnya mereka menyembah Allah tanpa ikhlas, namun mereka tidak merasa. Tahukah kamu Muhammad, bahwa ada rahib yang telah beribadat kepada Allah selama 70 tahun. Setiap orang sakit yang didoakan olehnya, sembuh seketika. Aku terus menggodanya hingga ia berzina, membunuh dan kufur.

Cara Iblis Menggoda

Tahukah kau Muhammad, dusta berasal dari diriku? Akulah mahluk pertama yang berdusta. Pendusta adalah sahabatku. Barangsiapa bersumpah dengan berdusta, ia kekasihku. Tahukah kau Muhammad, aku bersumpah kepada Adam dan Hawa dengan nama Allah bahwa aku benar-benar menasihatinya. Sumpah dusta adalah kegemaranku. Ghibah (gosip) dan namimah (adu domba) kesenanganku. Kesaksian palsu kegembiraanku. Orang yang bersumpah untuk menceraikan istrinya ia berada di pinggir dosa walau hanya sekali dan walaupun ia benar, sebab barang siapa membiasakan dengan kata-kata cerai, isterinya menjadi haram baginya. Kemudian ia akan beranak cucu hingga hari kiamat. Jadi semua anak-anak zina dan ia masuk neraka hanya karena satu kalimat, CERAI.

Wahai Muhammad, umatmu ada yang suka mengulur-ulur shalat. Setiap ia hendak berdiri untuk shalat, aku bisikan padanya waktu masih lama, kamu masih sibuk, lalu ia manundanya hingga ia melaksanakan shalat di luar waktu, maka shalat itu dipukulkannya kemukanya. Jika ia berhasil mengalahkanku, aku biarkan ia shalat. Namun aku bisikkan ke telinganya "Lihat kiri dan kananmu", iapun menoleh. Pada saat itu aku usap dengan tanganku dan kucium keningnya serta aku katakan "Shalatmu tidak sah." Bukankah kamu tahu Muhammad, orang yang banyak menoleh dalam shalatnya akan dipukul. Jika ia shalat sendirian, aku suruh dia untuk bergegas. Ia pun shalat seperti ayam yang mematuk beras. Jika ia berhasil mengalahkanku dan ia shalat berjamaah, aku ikat lehernya dengan tali, hingga ia mengangkat kepalanya sebelum imam, atau meletakkannya sebelum imam. Kamu tahu bahwa melakukan itu batal shalatnya dan wajahnya akan dirubah menjadi wajah keledai. Jika ia berhasil mengalahkanku, aku tiup hidungnya hingga ia menguap dalam shalat. Jika ia tidak menutup mulutnya ketika menguap, syaithan akan masuk ke dalam dirinya, dan membuatnya menjadi bertambah serakah dan gila dunia. Dan iapun semakin taat padaku. Kebahagiaan apa untukmu, sedang aku memerintahkan orang miskin agar meninggalkan sholat. Aku katakan padaknya, "Kamu tidak wajib sholat, sholat hanya wajib untuk orang yang berkecukupan dan sehat. Orang sakit dan miskin tidak. Jika kehidupanmu telah berubah baru kau shalat." Ia pun mati dalam kekafiran. Jika ia mati sambil meninggalkan sholat maka Allah akan menemuinya dalam Kemurkaan. Wahai Muhammad, jika aku berdusta Allah akan menjadikanku debu. Wahai Muhammad, apakah kau akan bergembira dengan umatmu padahal aku mengeluarkan seperenam mereka dari islam?

10 Hal Permintaan Iblis Kepada Allah SWT

"Berapa hal yang kau pinta dari Tuhanmu?" "10 macam""apa saja?"
1. Aku minta agar Allah membiarkanku berbagi dalam harta dan anak manusia, Allah mengizinkan. Allah SWT berfirman, "Berbagilah dengan manusia dalam harta dan anak. dan janjikanlah mereka, tidaklah janji setan kecuali tipuan." (QS Al-Isra :64). Harta yang tidak dizakatkan, aku makan darinya. Aku juga makan dari makanan haram dan yang bercampur dengan riba, aku juga makan dari makanan yang tidak dibacakan nama Allah.
1. Aku minta agar Allah membiarkanku ikut bersama dengan orang yang berhubungan dengan istrinya tanpa berlindung dengan Allah, maka setan ikut bersamanya dan anak yang dilahirkan akan sangat patuh kepada syaithon.
2. Aku minta agar bisa ikut bersama dengan orang yang menaiki kendaraan bukan untuk tujuan yang halal.
3. Aku minta agar Allah menjadikan kamar mandi sebagai rumahku.
4. Aku minta agar Allah menjadikan pasar sebagai masjidku.
5. Aku minta agar Allah memberikanku saudara, maka Ia jadikan orang yang membelanjakan hartanya untuk maksiat sebagai saudaraku.
6. Aku minta agar Allah menjadikan pemabuk sebagai teman tidurku.
7. Aku minta agar Allah menjadikan syair sebagai Quranku. Allah berfirman, "Orang-orang boros adalah saudara-saudara syaithan." (QS Al-Isra : 27).
8. Wahai Muhammad, aku minta agar Allah membuatku bisa melihat manusia sementara mereka tidak bisa melihatku.
9. Dan aku minta agar Allah memberiku kemampuan untuk mengalir dalam aliran darah manusia. Allah menjawab, "Silahkan", dan aku bangga dengan hal itu hingga hari kiamat. Sebagian besar manusia bersamaku di hari kiamat.

*) Repost dari pesan salah seorang member group Baturaja Facebook Users Community.

Selasa, 12 Januari 2010

-66- SITIPHOBIA

Grudug... grudug... brakkkkkkkkk...

Aku terkejut, refleks menengadahkan wajah menatap langit2 kamar kostku. Suara apa itu? Sebuah pertanyaan retoris, tidak butuh jawaban karena aku sendiri sebenarnya sudah tahu jawabannya. Tak ayal lagi, suara itu pasti hasil jerih payah jenis hewan yang paling menjijikkan sedunia. Musuh bebuyutan Si Kucing Tom.

Tanpa sadar aku menggeleng2kan kepala. Entah sejak kapan aku menjadi seorang pembenci tikus. Benar2 benci dan jijik. Temanku bilang aku phobia, takutku berlebihan, terlalu berlebihan. Sampai2 aku sendiri pun tidak yakin, apakah aku sekedar jijik atau memang benar2 takut. Aku tak kuasa untuk tidak menggidikkan bahu begitu teringat pengalaman2 sebelumnya yang berhubungan dengan binatang itu.

Dulu sekali, di rumahku pernah muncul seekor tikus curut kecil. Ia tersesat di ruang makan. Aku masih sangat ingat perasaanku waktu itu, benar2 was2 kalau2 ia berjalan ke arahku. Refleks kuangkat kaki, mendekam di atas kursi. Tidak sedikitpun aku berani bergerak. Tubuhku kaku, tapi tidak lidahku. Aku berteriak2 heboh dan baru berhenti setelah Bapak berhasil mengatasinya.

Aku, kakakku dan sepupuku pernah menginap di rumah salah seorang saudara jauh di Palembang. Rumahnya bermodel panggung, jadi kami hanya akan sampai di kamar mandi setelah menuruni sebuah tangga kayu di dapur. Ketika aku hendak ke kamar mandi, tanpa sengaja aku melihat seekor tikus berada di atas piring bekas makan yang diletakkan di lantai. Tikus itu layaknya hidangan yang diletakkan di dalam piring. Piringnya berukuran besar dan tikus itu memenuhinya. Aku histeris. Itulah pertama kalinya aku tahu bahwa di dunia ini ada tikus sebesar itu. Tikus itu pun tak kalah kaget. Ia segera beranjak meninggalkan makanannya.

Satu hal yang paling mengesankan tentang sebuah kota bernama Jakarta. Sepertinya di kota ini sudah terlalu banyak hal2 yang menyimpang dari kodratnya. Aku benar2 kagum, bagaimana mungkin binatang berkumis tak lagi punya taring di hadapan binatang yang seharusnya menjadi mangsanya. Tikus2 berkeliaran dengan santainya, melewati kucing2 yang terlihat mengalami kreatinisme. Yup, ketika kucing2 begitu kerdil, tikus2 sehat walafiat dengan ukuran tubuh yang WAH. Aku yakin perangkap tikus di pasaran tidak akan mampu memenjarakan tikus2 yang kelebihan hormon itu.

Kakakku dan aku menempati sebuah rumah kontrakan berlantai dua di Jakarta. Semua baik2 saja sampai bencana itu muncul. Entah dari mana tikus2 mulai berdatangan.Pernah suatu ketika aku ingin ke kamar mandi. Begitu pintunya kubuka, seekor tikus merayap cepat keluar dari kamar mandi, nyaris menyentuh kakiku. Aku membeku, ketakutan setengah hidup. Lain waktu di tengah malam aku ingin ke bawah (kebetulan rumah itu kamarnya berada di lantai dua). Saat kuinjakkan kaki pada anak tangga pertama, serta merta binatang jelek itu lari tunggang langgang entah dari mana dan mau kemana, membuatku nyaris terjatuh saking kagetnya. Aku benar2 benci. Binatang itu sukses membuatku menahan pis karena tidak berani keluar kamar di malam hari. Dan itu tidak hanya berlangsung satu, dua, atau tiga kali saja.

Rumah yang lain lagi aku tempati bersama seorang teman. Langit2nya sangat tinggi, tak berpelafon. Hanya ada tripleks yang menutupi gentengnya dari pandangan. Secara logika tidak ada celah yang memungkinkan bagi tikus2 untuk bersarang di rumah itu. Namun rupanya tikus tak mengenal logika. Entah bagaimana caranya mereka bisa membuat kegaduhan di atap rumah yang berada di lantai dua tersebut. Kegaduhan ekstrem yang mengerikan. Jika mereka terlalu asik bercinta di atas sana, aku yakin akan ada yang tidak sengaja terjatuh, tepat di situ, di kamar kami. Itulah kenapa, sangat bisa dipastikan bahwa hampir setiap malam aku tidur dinaungi rasa was2.

Saat itu hampir tengah malam. Aku sedang bersama laptopku di kamar ketika kudengar suara cit cit cit. Aku cuek, sampai kemudian aku melihat sesuatu yang kecil terjatuh dari atap. Aku diam sejenak, sebelum berlari pontang panting begitu sadar bahwa yang jatuh tadi adalah seekor bayi tikus. Kehebohan dimulai. Temanku yang sedang berada di depan komputer di ruang depan ikut heboh ketika tahu ada tikus yang terjatuh. Meskipun dia juga takut, tapi ketakutanku benar2 tak terkalahkan. Aku tidak bisa diandalkan untuk urusan ini. Aku menyingkir sejauh2nya. Temanku mencoba mengusir bayi tikus yang sepertinya belum lancar berjalan itu. Si tikus bergerak, menuju ke bawah lemari. Kejar2an tak terelakkan. Kamar itu sudah kacau balau. Lemari2, tv, kasur, semua tak luput dari sentuhan kasar. Si tikus tak kunjung bisa diusir keluar. Kami menyerah, mengesampingkan rasa malu, mengetuk pintu tetangga yang dihuni 2 orang cowok adik tingkat di kampus. Salah seorang terlihat jijik begitu mendengar bahwa permasalahan yang harus mereka selesaikan berhubungan dengan tikus. Namun sepertinya harga diri mereka sangat mahal. Mereka menyanggupi untuk membantu. Tak kalah heboh, merekapun berusaha menangkap si tikus sambil berteriak2. Kasihan sekali tikus kecil itu, nasibnya sangat tragis. Ia dibantai oleh 2 orang cowok yang sebenarnya takut. Mereka secara brutal memukulinya dengan gagang sapu sampai tewas. Lalu bangkainya dibuang entah kemana. Semua selesai, meskipun aku tidak benar2 lega. Aku dan temanku harus kerja rodi mengepel seluruh rumah di tengah malam. Benar2 keren.

Di hari yang berbeda, ketika aku bangun suatu pagi. Aku masuk kamar mandi dan berteriak... arrrrggggggghhhh. Mimpi apa aku semalam sampai2 pagi harinya aku menemukan seekor tikus remaja terjebak di dalam bak mandi yang airnya tinggal setengah. Mengerikan. Dan aku harus membagi rasa ngeri ini kepada teman serumahku. Aku membangunkan temanku itu, memberitahunya kabar yang aku yakin sangat tidak ingin ia dengar. Perdebatan tak terelakkan. Tidak seorangpun yang mau menjadi pahlawan dengan mengeluarkan si tikus dari dalam bak. Kami harus memikirkan solusi. Percuma berdebat karena pasti tidak akan selesai sampai sore. Temanku mengusulkan untuk meminta bantuan teman cowok lain yang tinggalnya tak jauh dari situ. Aku setuju2 saja. Tapi begitu dia minta supaya aku saja yang bilang, aku menolak. Malu rasanya minta tolong untuk masalah seperti itu. Tapi ternyata tetap saja, rasa jijik dan takutku masih lebih besar. Aku lalu setuju untuk menelepon teman cowok tadi, meminta bantuannya untuk mengeluarkan tikus dari bak mandi dengan perjanjian bahwa menguras bak setelahnya bukanlah bagianku. Karena bagaimanapun, semua hal yang berhubungan dengan tikus benar2 menjijikkan buatku.

Begitulah. Kadang aku heran kenapa tikus bisa ada dimana2. Seperti halnya di tempat kostku sekarang. Tidak jarang aku mendengar tikus2 heboh di atas sana, seolah2 sedang berkelahi. Juga pernah ada tikus yang panik dan berlari menyentuh kakiku ketika aku baru saja keluar dari kamar mandi. Dan sampai sekarang pun aku masih bisa mengingat bagaimana rasanya saat itu. Rasa yang bisa membuatku merinding ketakutan. Memang begitulah. Jika sepupu2ku yang masih kecil takut pada hantu di malam hari, maka aku takut pada segala jenis siti, si tikus, bahkan yang ukurannya jauh lebih kecil daripada tikus2 Jakarta.

Kamis, 31 Desember 2009

-65- Menit Yang Terbuang

"Demi masa, sesunguhnya manusia kerugian, melainkan yang beriman dan yang beramal saleh." Begitulah syair lagu Raihan yang aku ingat. Kumpulan aksara penyusun syair tersebut serasa melayang2 dalam otakku, menambah rasa kesal yang memang sudah bercokol sedari tadi.

Aku duduk di sana, pada sebuah kursi biru di sebuah bank. Diam, menunggu seseorang yang harus datang menjemput suatu benda dariku. Ahh, semakin kacau balau saja kata2ku. Dalam kebosanan kucoba merangkai beberapa patah kata. Aku berpikir, jika sampai kumpulan kata asal2an tersebut berhasil kuposting pada blogku, tak terbayang sudah berapa banyak menit yang kubuang untuk sekedar menunggu.

Sepuluh, dua puluh, tiga puluh menit berlalu sudah. Terbayang2 beberapa laporan yang bisa kuselesaikan dalam waktu selama itu. Huh, kesalku menjadi2. Buang2 waktu. Tidak tahukah dia bahwa pekerjaan2ku sudah mulai melancarkan aksi teror.

Aku terus menunduk, mengetuk2kan stylus pada layar sekian inchi ini, tak peduli pada beberapa orang yang sedang bertransaksi. Aku bertransaksi dengan diriku sendiri, menghitung2 sisa waktu di hari ini, masih bisakah menyelesaikan beberapa target. Arrgh, kenapa pada saat2 seperti ini menit2 terasa begitu cepat berlalu.

Terpekur kulihat seorang bapak yang sudah sangat renta. Mata dan telinganya sudah tidak berfungsi dengan sempurna. Mungkin kelak pun aku begitu. Berapa banyak waktuku yang terbuang untuk sekedar menunggu, sampai usiaku setua itu. Menunggu, menunggu apapun.

Lalu kuterdiam. Aku kesal karena waktuku terbuang percuma saat menunggu seseorang. Apakah Allah juga kesal ketika aku lebih suka membuang menit2ku untuk nonton film daripada tilawah?!

Minggu, 27 Desember 2009

-64- Memori Si Kecil

"Neneknya Yori yang di sana kan rumahnya gede, Yuk. Ada kolam renangnya. Yori kan dikasih laptop dan PS gitu kalo Yori ke sana.", cucunya ibu kostku terus bercerita. Kalau kuhitung2, sudah sekitar lima belas menit pita suaranya tak jua berhenti bergetar.
"Terus mana laptopnya Yori, kenapa gak dibawa kesini aja?", aku menimpali.
"Gak boleh dibawa, cuma buat di sana aja. Pokoknya kalo Yori ke sana apa yang Yori mau pasti dikasih, minta dibeliin apa aja pasti boleh. Di sana juga ada pembantu.", dia bicara lagi tanpa terlihat berminat break barang sebentar saja.
"Iya?", aku mulai bosan.
"Iya, neneknya Yori kan yang punya bank yang gede itu loh, bla... bla..."

Di lain kesempatan Yori akan bertanya, "Ayuk pernah ke Bandung? Yori di Bandung makan strawberi sepuasnya, uwaknya Yori kan punya kebun stroberi, bla bla bla". Atau, "Ayuk, teman2 Yori yang cowok2 kan banyak yang naksir sama Yori, bla bla". Dan masih banyak obrolan lain yang terlalu rumit diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.

Huff, gila... rasanya aku tak ingin percaya bahwa ternyata aku kesal pada anak itu. Penting gak sih cerita A, B, C gak jelas kayak gitu, aku membatin. Pikiran tidak normalku ingin mengeluarkan sanggahan2 yang aku yakin dapat dengan mudah mematahkan semangatnya bercerita (yang tidak jarang membual). Tapi alhamdulillah Ya Allah, aku masih waras. Aku masih waras dan benar2 sadar bahwa yang sedang berada di hadapanku, menghalangi siaran berita yang sangat ingin aku tonton, hanyalah seorang anak kelas 4 SD.

###

Waktu itu aku sedang membereskan kamar, mengumpulkan barang2 dan mengelompokkan sesuai jenisnya. Hmm, ternyata selama ini aku tidak sadar bahwa koleksi alat tulisku sudah bejibun. Resiko bekerja dengan data. Oke, kubuat satu paket berisi pensil, pulpen, penghapus dan rautan. Rencananya paket itu akan kuberikan pada Yori. Lalu kubuka pintu kamar sambil memanggil, "Yooooo....". Uupsss, aku berhenti di pintu kamar tanpa menyelesaikan panggilanku.

Yori sedang bermain bekel bersama dua teman sebayanya yang juga masih familinya ibu kost dan kukenal dengan baik. Aku bengong dan bingung. Di sela2 kebengonganku, aku berpikir, apakah lebih baik tidak jadi saja paket itu kuberikan? Atau haruskah kuteruskan saja niatku untuk memberikan paket itu pada Yori? Trus, yang 2 anak lagi gimana? Ahh, bodo amat, mereka kan gak tinggal di sini, yang tinggal di sini kan cuma Yori, jadi wajar aja kalo aku cuma ngasih dia aja.

Namun tanpa sadar kebengongan yang hanya beberapa detik itu telah membawaku untuk menggali kembali memori belasan tahun yang lalu. Dulu, ketika tanteku bertandang ke rumah, aku melihat beliau memberikan sebuah buku telpon magnet kepada kakakku. Aku iri setengah mati. Kenapa cuma kakakku saja yang diberi dan aku enggak? Tante pilih kasih. Lain waktu aku mendapati uwak memberi sebuah gelang tembaga yang cantik kepada kakak perempuanku. Sumpah, aku benar2 iri. Kenapa aku gak diberi? Aku benci orang2 dewasa yang suka pilih kasih. Aku yang saat itu masih SD benar2 kesal. It's not fair. Mereka lebih sayang kakakku daripada aku.

Hmm, semua itu memang hanya pikiran anak2 pada masa pertumbuhannya. Dia tidak tahu bahwa mungkin tante hanya punya satu buku telpon untuk diberikan pada yang lebih memerlukannya. Dia tidak tahu bahwa sebenarnya uwak punya satu gelang lagi yang lupa dibawa. sekarang anak itu tidak lagi punya pikiran childish seperti itu, tapi aku sangat yakin seyakin2nya bahwa tante dan uwakku tidak pernah mengingat kejadian tersebut. Kejadian yang saat itu ternyata sanggup membuat seorang anak sakit hati. Kejadian yang masuk ke dalam memori masa kanak2nya, dan terus mengendap di sana sampai anak itu berusia 24 tahun seperti sekarang.

Begitulah wujud ciptaan Allah, memori si kecil dirancang sangat kuat. Itulah kenapa menghapal Al Quran paling baik dilakukan sedari kecil, karena hapalan2 di masa kecilnya itulah yang akan dibawa sang anak sampai dewasa. Pun setiap rekaman kejadian yang dialami pada masa itu.

Aku kembali ke kamar. Harus bisa kubuat dua paket alat tulis lagi, begitu batinku. Untunglah alat tulis alat tulis itu jumlahnya masih cukup. Setelah jumlah paket sudah pas, baru paket2 itu kuberikan pada ketiga anak yang sedang bermain bekel tadi. Aku bahagia. Alhamdulillah Ya Allah, tak Kau biarkan aku menyakiti hati anak2 itu dan membuat mereka mengingatku sebagai orang dewasa yang pilih kasih.

###

Suatu sore ibu kost teriak2 kencang menyuruh cucunya mandi. "Yoriiiiiii, buruan mandi, dah sore!!!". Yori menimpali tak kalah kencangnya, "Entar aja Yori mandinyaaa." Aku terganggu. Anak ini memang tingkat perlawanannya terhadap orangtua tergolong sangat tinggi. Lalu dengan kalem aku bilang, "Mandilah Yori, udah sore, sebentar lagi magrib loh." Dan dia tak pernah kehilangan jawaban, "Gpp, Yori mandinya ntar malem aja. Ayuk juga kan mandinya malem..." Yaksss $$*&$#$@**#

Ampuni aku Ya Allah. Belum juga aku menjadi ibu. Pantas saja belum kau izinkan aku menikah. Karena untuk dakwah dalam lingkup sekecil ini pun ternyata aku tak becus.