Jumat, 30 Agustus 2013

-112- Nathifa's Born (Part 1)

WARNING! TULISAN INI BUKAN UNTUK NAKUT-NAKUTIN BUNDA YANG MAU MELAHIRKAN, CUMAN BERBAGI CERITA SUPAYA PARA BUNDA MEMBERDAYAKAN DIRI SECARA MAKSIMAL SEMASA HAMIL. KALO ADA YANG TAKUT MELAHIRKAN, JANGAN DIBACA YA! ^_^

Hari itu Rabu, 19 Juni 2013 tepat jam 11.25 waktu rumah sakit, dan 11.27 versi jam-nya ayah, adek mulai melihat dunia. Kami bahkan belum punya nama yang pasti untuk putri kami. Proses kelahiran adek terbilang kurang maksimal dan optimal menurut saya. Kurang lembut... Semoga tidak menjadi trauma buat adek juga buat saya, karena kenyataannya sampai sekarang saya masih takut hamil lagi. Alhamdulillah adek dan bunda sehat2 semua.

Sebelumnya hpl adek menurut dokter 15 Juni 2013. Tapi gak ada tanda-tanda lahir apapun sejak dari sebelumnya sampai setelahnya. Sebelumnya saya masih sangat optimis dan percaya bahwa adek pintar dan akan memilih waktunya sendiri untuk bertemu kami. Lama-kelamaan saya jadi galau kok adek gak keluar2, mana cuti saya juga sudah melampaui 1 bulan sebelum lahiran. Apalagi dibanding perkiraan bidan yang hpl-nya 29 Mei, ini sudah melenceng jauh. Akhirnya Selasa, tanggal 18 Juni 2013 saya kontrol lagi untuk melihat perkembangan adek.

Sekitar jam 11.30 siang kami ke RS. Saya USG lagi, dan ini USG ke-10 selama hamil adek. Kondisi baik semua, posisi sudah pas. Hanya saja placenta sudah pengapuran (kata dokternya), berat janin diperkirakan sekitar 2,8 kg, dan tekanan darah saya masih bertahan di 100/90. Saya dibuatkan surat pengantar ke IGD untuk diinduksi. Kami minta pulang dulu untuk siap2 sambil menimbang lagi, apakah benar2 mau diinduksi dan akan bersalin di rumah sakit disini saja. Oiya, kontrol kali ini pertama kalinya saya diperiksa dalam alias vt. Sumpah, saya gak sukaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa, pake banget *angry*. Sakit... dan saya kurang bisa nerima bagian paling sensitif saya digituin orang. Tapi katanya memang begitulah seharusnya. Oh God... (elus2 dada ngebayangin gimana para ibu yg bersalin dengan obsgyn yang mayoritas laki-laki). Untung obsgyn saya perempuan, dan semua bidan yang 'megang' saya juga perempuan.

Kami pulang, sambil galau. Apa mau ke Bengkulu cari second opinion dan lahiran disana yang menurut suami saya lebih bagus. Entahlah, suami kayaknya rada takut saya melahirkan disini, takut fasilitas kurang memadai kalau nanti harus sc. Sementara saya sendiri gak mau lahiran dimana2 selain di wilayah tempat tinggal sendiri atau di rumah orangtua di Baturaja. Pilihannya hanya 2 itu saja. Pilihan yang paling nyaman menurut saya. Saya gak mau 'merasa' repot sendiri walaupun kenyataannya saya tinggak terima beres, gak ngapa2in. Yah yang namanya perasaan kan gak bisa dipaksakan ya. Nyamannya saya ya hanya saya yang bisa ngerasain.

Setelah tanya sana sini, pikir bolak balik, akhirnya sorenya kami ke RS dalam keadaan saya yang segar bugar. Rasanya aneh, gak sakit kok malah minta opname dan nginep di RS. Kayak cari2 masalah sendiri aja. Sebelumnya prosesnya panjang loh sampai kemudian keputusan diambil. Ada yang bilang daripada diinduksi mending langsung sc. Ada lagi pertimbangan dokter lebih tau mana yang lebih baik, jadi kalo disuruh induksi ya diturutin aja, yang penting adek kan memang sudah cukup umur dan ada alasan kenapa harus induksi. Ada juga perasaan ingin ngikutin naluri, percaya bahwa adek pintar, bisa menentukan sendiri waktu launching-nya. Atau pertimbangan ke Bengkulu dan kalau ternyata sama aja (harus induksi) berarti langsung balik lagi ke Arma dan lahiran disini. Tadinya mau opsi ini yang diambil, tapi malah rasanya ribet. Toh bagaimanapun saya gak mau lahiran di Bengkulu kok, jadi ya mending gak usah nyapek2in badan sendiri bolak balik Bengkulu-Arga Makmur cuman mau periksa lagi. Ibu Bapak saya di Baturaja pas dikabarin juga bilang terserah pertimbangan kami dan percaya aja sama dokter. DEAL... saya akhirnya siap2 keperluan saya dan keperluan adek. Sehabis ashar dan suami pulang kantor kami ke RS, menunggu gelombang cinta itu datang. Gelombang cinta yang agak dipaksakan karena bukan normal spontan.

Ketika berangkat ke RS, di rumah belum ada siapa2, jadilah Mas Aim tinggal sama Budhe Nar di rumah. Saya bahkan masih sangat ingat bagaimana perasaan saya saat itu. Saya masih merasa aneh, wong saya gak sakit kok. Dan saya tipe yang takut dengan jarum suntik. Beneran, saya takut disuntik dan seumur hidup saya saya belum pernah diinfus. Dan lagi, saya tau bahwa saya datang ke RS ini memang 'mencari sakit', memang minta disuntik, minta diinfus. Hiks... mungkin mental saya sudah jatuh duluan sebelum berjuang kali yah. Makanya perjuangan saya rasanya kurang maksimal. Waktu diperiksa, tekanan darah saya 110/90, naik dibanding siangnya. Karena tegang kali yah :D. Bidan juga bilang ke suami untuk siap2 pendonor darah jika nanti saya harus transfusi karena hb saya rendah.

Saya mulai diinduksi. Awalnya saya kira saya akan diinfus, rupanya enggak. Saya diinduksi dengan metode prostaglandin dimana ada tablet kecil yang dimasukkan ke vagina. Obat pertama dimasukkan sekitar jam 6 sore, dan itu kedua kalinya jalan lahir adek diobok2 orang. Saya semakin benci dan sepertinya harus bisa menerima proses itu (yang katanya memang begitulah seharusnya) karena setelahnya saya digituin terus. Ya Allah, beginilah perjuangan seorang ibu. Satu jam, dua jam, tiga jam... tetap gak ada rasa akan bersalin. Semua biasa aja. Ibu mertua, kakak ipar saya dan istrinya sudah datang. Malam itu (Selasa malam) saya bersama suami dan ibu mertua tidur di RS.

Menjelang jam 11 malam saya mulai mules2, rasanya pengen BAB. Saya bolak balik ke kamar mandi buat pis dan nyoba pup, tapi mulesnya tetap ada. Saya gak nyadar bahwa itu berarti saya sudah mulai kontraksi. Jam 12 malam bidan kembali memasukkan obat ke jalan lahir. Dan setelah itu proses persalinan yang sebenarnya segera dimulai. Saya semakin mules, bahkan perut saya cenderung sakit. Malam itu saya belum tidur sama sekali. Bolak balik kanan kiri tetep gak bisa tidur. Suami saya suruh tidur aja karena gak bisa juga bantuin saya ngurangin sakit. Lagian biar istirahat karena pasti akan capek sekali kalo proses lahiran sudah mulai. Palingan kalo ada apa2 saya bangunin suami, jadilah suami saya tidur-bangun-tidur... begitu terus.

Sekitar jam 1 malam saya coba pup dan kali ini benar2 pup. Tapi setelahnya kain yang saya kenakan terasa basah dan terlihat ada darah di lantai. Saya mulai panik dan bangunin suami, kenapa ada darah. Suami memanggil bidan dan bilang bahwa memang begitulah seharusnya. Berarti sudah mulai kontraksi dan ditunggu aja sakitnya. Owalah, sakit kok ditunggu ya... Ini aja udah gak bisa ngapa2in lagi, sakit terus2an tapi masih bisa ditahan.

Sepanjang malam saya gak bisa tidur, dan sekitar jam setengah 4 pagi ketuban mulai keluar. Rupanya seperti ini yang diceritakan teman2 tentang ketuban yang pecah duluan. Rasanya seperti keluar darah menstruasi, keluar begitu saja tanpa bisa ditahan, tapi bentuknya air kayak pipis. Bidan jaga mulai meminta saya pindah ke ruang vk (ruang bersalin) sebelum saya gak sanggup lagi berjalan. Sekitar jam 4 pagi saya masuk ruang vk dan dimulailah proses 'sakit' yang luar biasa itu. Saya masih ingat sekali detilnya kawan. Jika itu sebuah film, saya masih ingat setiap frame, setiap detiknya. Kami ke ruang vk, saya masih sanggup berjalan. Sakitnya masih bisa ditahan walaupun mulai tak nyaman.

Di ruang vk saya tidak diperkenankan meninggalkan tempat tidur, bahkan pipis pun harus di tempat tidur. Itu karena ketuban saya sudah pecah, rembes istilahnya. Soalnya keluarnya sedikit2 tapi terus2an. Rasanya lama kelamaan semakin sakit. Entah kenapa semua tidak sesuai dengan referensi saya. Katanya kontraksi akan berjalan awalnya dalam rentang waktu yang lama, lalu lama kelamaan jedanya semakin sebentar. Tapi kenapa saya merasa sakit terus2an dan jedanya hanya sebentar. Saya mulai diinfus dan itulah kali pertama dalam hidup saya, saya ditusuk jarum infus. Jujur saya takut. Saat itu saya ditunggui suami dan ibu mertua. Mereka gantian pas subuhan. Sekitar jam 6 Mas Eko dan Mbak Binti (kakak ipar saya dan istrinya) datang ke RS. Sejak saat itu Mbak Binti mulai ikut nungguin saya, terus sampai adek lahir.

Waktu rasanya berjalan begitu lama karena saya harus menahan sakit dan terus2an ketuban keluar setiap saya kontraksi. Sakitnya itu rasanya gimana ya... gak bisa diceritakan dengan kata2. Bukan sakit kayak sakit karena luka atau apa, tapi ah... entahlah gimana nyeritainnya. Kalau kata orang2 tua, gak ada sakit yang lebih sakit lagi selain sakitnya melahirkan, selain sakaratul maut tentunya (ya iyalah, emang ada gitu orang yg bisa nyeritain gimana rasanya sakaratul maut). Hari Rabu sekitar jam 7 pagi saya di vt dan katanya baru bukaan 1. Ya Allah, kenapa begitu lama sementara saya sudah sakit sekali. Mana ada bidan yang bilang bahwa untuk nambah 1 bukaan butuh 2 jam, berarti kalo mau sampai bukaan 10 saya butuh 20 jam. Masya Allah, rasanya saya gak sanggup kalau harus nahan sakit selama itu. Hiks... Tapi ada juga yang bikin saya senang, suami bilang kalau Nyek sama Yai (ibu dan bapak saya) mau datang, dan sudah mau sampai Bengkulu. Alhamdulillah. Tadinya ibu sama bapak memang akan datang kalau saya lahiran, tapi saya gak nyangka ternyata begitu dikabarin kemarin sore bahwa saya sudah mulai masuk RS, malamnya ibu-bapak langsung berangkat kesini. Oh I really love you, dear parents...

Saya disuruh makan supaya ada tenaga kalau harus mengejan nanti. Suami sibuk ngebujuk saya makan, nawarin susu lah, ini lah, itu lah... dan saya gak mau. Rasanya mual dan gak mood makan sama sekali. Gado-gado, semua campur aduk jadi satu. Istighfar, tasbih, tahmid, takbir... semua udah disebut terus. Lalu sekitar jam 8 pagi setelah saya berhasil makan 2 suap nasi saya mulai disuruh puasa karena ada kemungkinan akan sc. Puasa? Ayok aja, wong saya memang gak pengen makan sama sekali, hehe...

Jam 9 pagi saya di vt lagi dan katanya baru bukaan 4. Ya Allah, it's sooooo long... Sejauh itu sudah berkali2 adek didoppler, mungkin takut terjadi apa2. Bidan yang meriksa bilang kalau ketuban sudah habis dan kata dokter akan ditunggu sampai jam 11, kalau adek belum lahir juga akan di-sc. Katanya sih bayi bisa bertahan 6 jam kalau ketuban sudah habis, makanya suami juga cemas. Saya berkali-kali minta segera sc aja, gak tahan lagi rasanya. Keringat udah gak kehitung lagi berapa liter yang keluar (lebay). Entahlah... gak karuan semuanya. Saya dah gak peduli lagi dengan tubuh saya atau apapun yang terjadi di sekitar saya. Rasanya luar biasa sakit. Nunggu jam 11 kok lama sekali. Bahkan saya terus2an liat jam dan berlalunya waktu 1 menit pun terasa begitu lama akibat ngerasain kontraksi yang aduhai. Liat saya kesakitan banget gitu, juga permintaan sc terus2an juga bikin suami saya ikutan panik dan berkali2 nanyain ke bidan minta sc juga. Ah, rasanya kok saya sedang dejavu ya, saking ingatnya bagaimana perasaan saya waktu itu dan bagaimana kondisi di sekitar saya. Malahan, Mas Aim datang liat bundanya kesakitan nanya ini itu saya cuman bisa merem sambil bilang he eh, he eh gitu aja :D

Jam 10 pagi saya di-vt lagi dan katanya sudah bukaan 8. Ada harapan akan normal tapi rasanya tetap saja saya sulit untuk bertahan. Sakit banget banget. Saya diberi obat pengurang rasa sakit yang dimasukkan lewat infus dan gak ngefek sama sekali sampai saya sempat complain ke bidan dan dokter (saat dokter mulai menangani saya), kok obatnya gak bereaksi, rasa sakitnya tetap dahsyat. Bu dokter tertawa, katanya... ya memang begitulah kalau lagi lahiran, rasanya akan nano nano.

Jam 10.30 Bu Lingling, dsog yang menangani saya (alhamdulillah saya dapet dsog perempuan) mulai masuk ruang vk. Dimulailah waktu2 paling bersejarah dalam hidup saya. Kita lanjutkan lagi ke part berikutnya ya pembaca yang budiman, he... (terutama Adek Nathifa, nanti kalau ananda sudah besar dan mengerti). Cerita saya sudah kepanjangan. Diputus dulu untuk dilanjutkan kemudian. Daa daa... ^_^

Jumat, 09 Agustus 2013

-111- IED Tahun Kedua

Ini tahun kedua Idul Fitri saya yang bukan di rumah orang tua sendiri. Ya, semenjak menikah saya (kami) memang belum pernah mudik lebaran. Mudiknya karena kepentingan lain. Sedih loh, walaupun di satu sisi ya gakpapa juga. Konsekuensi sebuah pernikahan alias konsekuensi nikah bukan dengan orang sedaerah. Mudiknya beda2. Masih alhamdulillah disini juga rame, kumpul keluarga yang bikin hepi. Tentu saja sekaligus bikin terharu, inget bapak sama ibuk di rumah yang dah 2 tahun ini pas lebaran anaknya gak ngumpul. Insya Allah tahun depan ya Nyek, Yai, pas Dek Thifa sudah mulai besar :).

Hari ini lebaran, saatnya maaf2an. Meskipun seharusnya maaf2an gak harus nunggu lebaran, tapi momen Idul Fitri ini memang beda, spesial gitu deh. Hari khusus utk menyadari betapa kita banyak salah sama orang2 terdekat kita, keluarga kita, sanak saudara, teman2, semuanya...

Ah, saya jadi pengen posting foto keluarga yang diambil tadi pagi di rumah Mbah Kakung :D

Ini formasi lengkap keluarga Mbah Kakung dan Mbah Uti, bersama anak-anak, menantu dan cucu-cucu. Kalo gak lebaran udah susah mau ngumpul, pada punya krucil sih... Fotonya diambil segera setelah sholat ied, sebelum anak2 pada gak betah dengan kostumnya. Itu aja susyaahhhh ngaturnya euy...

Selamat Idul Fitri. Mohon dimaafkan semua salah dan khilaf. Bahkan sama Dek Thifa bunda minta maaf sering gak sabar kalo nenenin nyuruh cepet2 selesai :D

Semuanya, maafin saya yah...

Sabtu, 20 Juli 2013

-110- Tiga Puluh Hari Pertama

Kemarin, Jumat 19 Juli 2013 bayi perempuanku genap berusia 1 bulan. Rasanya begitu lama menunggu usiamu menginjak hitungan bulan nak,bukan lagi hari. Tapi begitu sampai di Jumat ini, aku masih merasa seperti di awang2, ternyata anakku sudah mulai besar.

Banyak kata yang ingin kutulis. Banyak cerita yang ingin kubagi. Tentang proses kelahiranmu, tentang namamu, tentang perkembanganmu... tentang semuanya setelah kau hadir secara nyata dalam hidupku. Nathifa Dwiputri Kaurin, buah hatiku.

Satu bulan Nathifa. Alhamdulillah sudah ditimbang dan bb-nya 4,3 kg dimana bb lahir 3 kg. Bunda senang sekali nak. Hilang sudah kekhawatiran bunda akan ketidakcukupan ASI bunda. Putri bunda sehat, gak rewel, mimiknya banyak, pipisnya banyak... semuanya adalah anugerah terindah dariNya.


Satu bulan ya nak... Sehat2 terus ya sayang. Jadi anak yang cerdas, berakhlak baik, solihah, kebanggaan ayah dan bunda. Bunda sayang Thifa dengan segenap jiwa raga.

Jumat, 14 Juni 2013

-109- The Journey of Pregnancy (Part 2)

Pengen lanjutin cerita tentang kehamilan adek. Mungkin sebentar lagi adek mau launching, jadi saya bakalan sibuk deh... ^_^

Tanggal 4 Maret 2013 saya USG lagi ke obsgyn yang sama. Ini USG yang ke-5. Diperkirakan usia kehamilan sekitar 25 minggu. Berat janin 780 gram dan berat saya sendiri 51 kg. Hmm, baru naik 3 kg nih... Tekanan darah saya 100/70, segitu-gitu aja memang tekanan darah saya, cenderung rendah. Kata dokter sih gakpapa, daripada darahnya tinggi malah bahaya. Hpl masih 15 Juni 2013. Posisi adek masih sungsang waktu itu, jadi saya diajarin sujud dan diminta sering-sering sujud selama mungkin untuk memperbaiki posisi bayi. Diharapkan bulan depan posisinya sudah bagus.

 
Ini fotonya, USG ke-5 tanggal 4 Maret 2013.

Setelah USG yang ke-5 ini, saya mulai sering sujud. Sujudnya orang hamil sama sujud sholat itu beda loh... Kalo sujud hamil posisi tangan dan dada lebih rendah daripada sujud sholat. Bahkan dada cenderung nempel lantai. Jadinya posisi badan pas sujud akan lebih rendah dan lebih panjang daripada sujud sholat.

Pantesan sebelumnya saya sering ngerasa kayak nyeri gitu di bagian bawah dada, kirain saya kena maag. Rupanya kata ibu saya kalau bayi sungsang memang gitu, karena kepalanya masih di atas jadinya nyeri. Ibu saya sendiri anaknya ada 2 yang lahir sungsang tapi normal, saya dan adik saya. Ibu bilang, dulu udah sujud sering-sering juga masih tetap sungsang. Ya sudah, lahirlah kami dengan (alhamdulillah) normal, dimana yang keluar duluan adalah bokongnya, hehe... Kalau dipikir-pikir, hebat ya orang jaman dulu, gak ada tuh bayi sungsang langsung disuruh operasi kayak sekarang, padahal lahirannya sama bidan loh, bukan sama dokter.

Lanjut ya... Tanggal 6 April 2013 saya balik lagi ke obsgyn yang sama untuk kontrol plus USG. Usia kehamilan hampir 30 minggu. Berat janin 1.338 gram dan berat saya sendiri 52 kg. Tekanan darah saya masih 100/70. Alhamdulillah posisi adek sudah gak sungsang lagi. Tapi dokter menyarankan supaya saya tetap sering-sering sujud, karena sebelumnya posisi bayi sempat sungsang, takutnya ntar balik sungsang lagi. Trus, USG kali ini dokter bilang adeknya perempuan. Hehehe, ayahnya tuh yang penasaran banget sama jenis kelamin adek. Kalo bulan kemaren pas USG adek gak mau nunjukin jenis kelaminnya, pahanya ditutupin. USG yang sekarang kelihatan. Tapi kalo saya sih, laki-laki atau perempuan sama saja, yang penting adek sehat, normal, lengkap, insya Allah...

Ini foto USG tanggal 6 April 2013, USG yang ke-6. Hmm, ternyata adek udah sering banget di-USG ya... Untung saya gak galau lagi untuk USG setelah baca-baca beberapa referensi tentang USG.

Masuk bulan Mei 2013 saya mulai ancang-ancang mau cuti bersalin. Ceritanya kan kalo PNS cuti bersalinnya 3 bulan ya, dimana peraturannya adalah 1 bulan sebelum melahirkan dan 2 bulan setelah melahirkan. Kalo ada yang bisa dapet cuti 3 bulan full setelah melahirkan, itu berarti keberuntungan, alias tergantung bosnya. Kalau saya pribadi pengennya hari ini melahirkan, hari ini saya baru mulai cuti. Kalo bisa kayak gitu kan enak, bisa lebih lama full time ngurus anak setelah lahiran. Tapi apa daya, bos saya benar-benar menegakkan peraturan. Jadi rugi dong kalo yang jatah sebulan sebelum lahiran gak saya ambil.

Tanggal 1 Mei 2013 saya kontrol ke Bidan Nova lagi. Dulu menurut Bidan Nova, hpl saya tanggal 29 Mei 2013. Jadi seharusnya saya sudah bisa cuti sejak tanggal 29 April 2013. Tekanan darah saya 110/70 dan berat badan saya 55 kg. Kata bidannya, kalau hpl saya 29 Mei, seharusnya bayinya sudah turun, tapi ini kepala adek masih belum turun. Ukuran bayinya juga masih terbilang kecil, katanya belum 2 kg. Bidan lalu memberikan surat keterangan bahwa diperkirakan saya akan bersalin pada minggu pertama Juni 2013, untuk bekal mengajukan cuti. Yang saya suka kalo kontrol ke Bidan Nova ini adalah wejangannya lammmaaa... Saya dibekali ilmu tanda-tanda persalinan, juga diberikan motivasi untuk gak panikan saat persalinan nanti. Seneng deh, bidannya ibu-ibu banget. Kalo dokter kan gak bakalan lama gitu nanganin pasiennya... Oiya, saya juga dianjurkan banyak-banyak jalan pagi supaya adeknya cepet turun. Selama ini saya memang jalan paginya gak rutin sih. Jadi mulai sekarang, harus rutin! (sambil lirik ayah yang harus ikut nemenin jalan pagi-pagi).

Tanggal 3 Mei 2013 saya kembali USG ke obsgyn langganan saya (wong di sini obsgyn-nya memang cuman ada 1 kok :D). Sekaligus kontrol juga. Ini USG yang ke-7 selama kehamilan saya. Usia kehamilan sekitar 33 minggu lebih. Berat janin 2.055 gram dan berat badan saya sendiri 55 kg. Tekanan darah saya 110/70, gitu-gitu aja. Alhasil, saya menyimpulkan sendiri bahwa memang segitulah tekanan darah normal saya. Alhamdulillah gak tinggi. Waktu USG ke-7 ini posisi kepala bayi sudah berada di bawah, tapi belum benar-benar berada di tengah. Sama seperti anjuran bidan, saya diminta sering-sering jalan pagi. Dokter juga bilang bahwa ari-ari sudah mengalami pengapuran, tapi gak masalah selama bayi masih bisa menyerap nutrisi.Aih, agak waswas juga saya jadinya.

Ini foto USG yang ke-7, tanggal 3 Mei 2013. Waktu kontrol ke obsgyn-nya, saya masih diresepin Folamil Genio.

Akhir bulan Mei 2013, tepatnya tanggal 25 Mei 2013, adik saya akan melangsungkan akad nikah, dan resepsinya sendiri tanggal 26 Mei 2013. Sudah jauh-jauh hari kami merencanakan untuk mudik, terutama saya. Udah lama gak mudik euy, dah kangen banget sama ortu. Saya sadar sih, saat itu usia kehamilan saya sudah masuk bulannya a.k.a adek yang di dalam perut sudah mau lahir. Saya hanya bisa berdoa, semoga kandungan saya sehat dan kuat biar bisa menempuh perjalanan Bengkulu-Baturaja dengan lancar. Tentu saja saya dan suami tidak dengan begitu saja langsung cabut. Kami konsultasikan dulu sama obsgyn-nya, kira-kira aman gak ya kalo saya menempuh perjalanan ke Baturaja.

Tanggal 22 Mei 2013 kami datang lagi ke tempat praktek obsgyn kami yang cantik, hehe. Kami ceritakan bahwa kami berencana berangkat ke Baturaja tanggal 24 Mei 2013 sehabis subuh, dan 23 Mei sore ke Bengkulu dulu. Alhamdulillah kata dokternya sih, kalau perjalanan dengan kendaraan pribadi gak masalah. Jadi kan bisa pilih-pilih jalan yang bagus dan kalau sekiranya capek istirahat dulu. Menurut dokter, kalaupun lahir, kandungan saya sudah cukup umur, gak prematur lagi. Berat bayinya sekarang sudah 2.537 gram, sudah lewat batas minimal. Dokter meresepkan Hystalan untuk mencegah kontraksi selama di perjalanan. Dosisnya 3 x 0,5 diminum mulai malam hari sebelum melakukan perjalanan. Saya sendiri minumnya cuma beberapa kali, takut kebanyakan minum obat.

Oiya, waktu itu berat badan saya masih 55 kg dan tekanan darah 100/70. Bismillah, kami pun menempuh perjalanan panjang sekitar 13 jam di jalan menuju Baturaja. Persiapannya banyak, mulai dari stok cemilan yang seabreg, juga gak ketinggalan tas adek yang berisi semua perlengkapan bayi dan persalinan. Sapa tau kan ya adeknya mau lahiran di Baturaja, hehe. Alhamdulillah, meskipun capek tapi adek kuat. Mungkin ngikutin bundanya ya... Saya sih insya Allah kuat, walaupun begitu sampai di rumah dunia serasa berputar, kepala saya puyeng. Perjalanan kembali ke Bengkulu pas Selasa subuh juga alhamdulillah lancar. Saya memang sudah memutuskan untuk lahiran di dekat suami aja biar gak repot. Kasian adeknya kalau belum 2 bulan sudah harus menempuh perjalanan 13 jam balik ke Bengkulu kalau saya lahiran di Baturaja. Insya Allah lahiran dimana aja baik ya dek... Palingan agak nelangsa dikit karena gak ada ibu yang mendampingi si newbie mom yang belum ngerti apa-apa ini, hiks...

Ini nih foto USG yang ke-8, tanggal 22 Mei 2013. Berat badan saya kok masih sama ya, gak naik-naik. Kadang jadi galau, adek di dalam perut semoga sehat selalu.

USG yang ke-9 tanggal 5 Juni 2013, sekalian kontrol gimana keadaan adek dan kira-kira kapan persalinannya. Kata dokter kondisinya bagus semua. Tekanan darah saya 110/80. Posisi sudah normal, ketuban masih banyak. Adek tinggal nunggu aja kapan mau launching. Kelahiran ditunggu sampai 15 Juni 2013, kalau belum lahir juga katanya harus induksi. Saya sih percaya bahwa adek dalam perut itu pintar, jadi tau kapan siap keluar, ketemu sama bunda dan ayah. Berat bayi 2.644 gram... hmm, adek masih kecil ya nak. Semoga sehat selalu ya dek... Berat saya sendiri masih mentok di 55 kg. Jadi total kenaikan berat badan saya sejak awal hamil sampai USG terakhir cuma 7 kg. Alhamdulillah lewat batas minimal, setidaknya saya gak galau-galau amat.

Nah, ini foto USG ke-9, tanggal 5 Juni 2013 kemarin. Sekarang saya tinggal menunggu gelombang cinta dari adek. Insya Allah adek lebih pintar dan tau kapan mau keluar. Bunda nunggu aja ya dek... sambil merasakan gerak-gerak adek yang makin kuat dalam perut bunda. Rasanya... subhanallah gak bisa dideskripsikan dengan kata-kata. Rupanya begitu... dan sekarang saya tau bagaimana rasanya menjadi ibu hamil :)

Di waktu-waktu sekarang, saya lebih banyak hanya menunggu datangnya hari itu, dimana adek siap ketemu kami semua. Perlengkapan adek bayi insya Allah sudah siap. Perlengkapan persalinan bunda juga. Saya sering mengajak ngobrol bayi saya, supaya kuat dan bisa membantu saya dalam persalinan nanti. Biar lancar jaya. Saya juga gak lupa berdoa supaya ASI saya lancar. Keinginan terbesar saya adalah bisa memberikan ASIX buat adek selama 6 bulan, dan tetap ASI sampai 2 tahun, sebagaimana hak anak dari ibunya. Amiin, semoga saya bisa!

Selasa, 30 April 2013

-108- The Journey Of Pregnancy (Part 1)

Pada posting kali ini saya ingin mendokumentasikan perjalanan kehamilan saya beserta hasil USG adek. Mengabadikan gitu deh ceritanya... Saya tulis ulang dalam bentuk postingan, berdasarkan jurnal kesehatan (pregnancy) adek yang sudah saya buat sebelumnya. Biar nanti adek bisa baca ketika sudah besar ya nak... :)


Ini hasil USG pertama tanggal 19 Oktober 2012. Saya ingat sehari sebelumnya saya jatuh dari motor pas mau nyacah SPAK. Kebetulan suami juga lagi pengawasan ke lapangan. Malamnya periksa ke dokter karena takut luka di kaki saya infeksi, badan saya juga terasa sakit semua. Dan memang saat-saat itu saya dalam posisi harus siaga, soalnya sudah terlambat haid. Beberapa kali sempat testpack tapi hasilnya selalu negatif. Entah apa karena alat testpack yang sebelumnya saya gunakan memang ecek-ecek atau karena memang ternyata saya belum hamil (sempat kecewa juga saya tiap liat garis satu, hiks). Pagi tanggal 19 Oktober saya testpack lagi dan subhanallah saya menemukan garis 2. Senang campur khawatir karena insiden jatuhnya saya dari motor kemarin. Makanya langsung USG hari itu juga di rumah sakit buat ngecek kondisi adek. Dari hasil USG, belum kelihatan apapun. Kata dsog-nya mungkin memang benar hamil, tapi saya diminta datang 2 minggu kemudian untuk melihat perkembangannya. Saat itu dokter meresepkan Folamil dan Gravynon untuk 10 hari. Sejak insiden saya jatuh dari motor itu, bertepatan dengan positif hamil, saya gak dibolehin lagi sama suami kemana-mana naik motor sendirian, kecuali terpaksa misalnya karena suami lagi gak ada.

Saya masih ingat dengan jelas perasaan saya pada saat-saat itu. Jadi ceritanya, saya selalu mencatat tanggal haid saya setiap bulan, dan menurut catatan saya, pada tanggal 25 Agustus 2012 saya mendapat haid yang normal. Maksudnya jumlah dan jenis darah yang keluar memang normal seperti orang haid. Kemudian tanggal 8 September 2012 saya haid lagi, tapi hanya semacam flek berwarna coklat dan berlangsung sekitar 7 hari. Dibilang sedikit, ya gak dikit-dikit amat fleknya, tapi dibilang banyak juga gak kayak darah haid biasanya. Waktu itu saya anggap itu sebagai haid. Alhasil ketika sekitar tanggal 25-an September saya tidak haid, saya masih anteng-anteng aja.

Tanggal 8 Oktober 2012 haid saya tak kunjung datang. Saya mulai waswas. Lewat seminggu, tetap saja saya gak haid-haid juga. Beberapa kali testpack selalu negatif. Jadinya saya tenang-tenang aja, gak yang terlalu protect gimana gitu. Makanya ketika testpack positif di tanggal 19 Oktober 2012, saya benar-benar cemas. Ya Allah, sudah berapa lama saya hamil... Kalau benar hpht saya 25 Agustus, berarti kehamilan saya hampir 2 bulan. Masya Allah... Kemana dan ngapain aja saya 2 bulan ini. Bagaimana mungkin saya tidak peka terhadap perubahan diri saya sendiri. Padahal suami saya sudah wanti wanti supaya saya lebih hati-hati, lebih menjaga diri karena peluang bahwa saya sedang hamil semakin besar. Malah suami saya yang lebih peka terhadap perubahan fisik saya, juga selera makan saya yang turun drastis. Berat badan saya saat itu hanya 48 kg, sempat 47 kg malahan. Hiks hiks... Semoga adek baik-baik saja di dalam sana. Aamiin...


Ini foto USG kedua. Sekitar 2 minggu kemudian (tanggal 5 November 2012) saya USG lagi. Lewat USG perut dokter belum bisa melihat janin saya. Akhirnya saya USG transvaginal dan kelihatanlah kantong janin yang lumayan besar, dimana janinnya sendiri hanya sebesar 1,1 cm. Ketika ditanya hpht, saya ceritakanlah kondisi saya dan kata dokter kemungkinan yang tanggal 8 September itu bukan haid. Dokter sempat bilang kok kecil sekali janinnya, tidak sesuai dengan kantongnya yang sebesar itu. Juga tidak sesuai dengan hpht. Rasanya... hancur sekali hati saya. Saya ingin nangis saat itu juga. Mungkin memang emosi saya sedang tidak stabil, saya sudah waswas sendiri sedari awal. Dokter sendiri terlihat tidak yakin apakah janin saya berkembang normal atau tidak. Ketika akhirnya dokter melihat hasil USG saya 2 minggu sebelumnya, kemudian dia berusaha membesarkan hati saya dengan mengatakan bahwa mungkin benar saya terlambat haid, tapi belum hamil. Kita lihat saja perkembangannya kemudian, ini kan kehamilannya juga masih muda, kalau janinnya berkembangnya sesuai pasti akan kelihatan bulan depan. Ah, tapi hati saya terlanjur hancur dan sedih sesedih-sedihnya. Benar-benar bercampur rasanya, khawatir, sedih dan... entah apa lagi. Di perjalanan pulang pikiran saya sudah kemana-mana, dan begitu sampai di rumah saya tak lagi sanggup menahan tangis.

Saya nangis-nangis, sedih gak ketulungan. Beneran... bahkan saya masih ingat dengan sangat jelas bagaimama detil perasaan saya waktu itu. Hehe, saya memang jago urusan flashback tentang perasaan. Beberapa hari setelah itu-pun saya kadang-kadang masih suka nangis sendiri. Tapi kemudian saya belajar banyak hal sejak hari itu.

Di rumah saya nangis, hiks hiks hiks hiks. Tentu saja di kamar, kan malu kalau kelihatan Zaim atau Budhenya. Suami memeluk saya sambil menghibur macam-macam. Bahwa kewajiban kita hanyalah berusaha semaksimal mungkin, sebaik mungkin menjaga dan memenuhi kebutuhan calon bayi. Sisanya serahkan pada Allah. Dialah yang akan menentukannya kemudian. Saya malah tambah sedih, mungkin lebih tepatnya khawatir sekali terhadap perkembangan janin saya. Besoknya saya mulai menjelajah dunia maya mengorek-ngorek info tentang kehamilan sebanyak mungkin.

Saya menemukan istilah blighted ovum a.k.a kehamilan kosong dimana ada kantong janin tapi janin tidak berkembang. Pada kasus seperti ini, biasanya dengan sendirinya janin akan luruh, keluar berupa flek atau gumpalan darah dari vagina. Mungkin sama halnya dengan keguguran gitu lah ya. Ada juga beberapa kasus yang harus dikuret, karena jika kehamilan diteruskan dikhawatirkan bayi tidak akan tumbuh sempurna. Kekhawatiran saya semakin menjadi-jadi. Saya mencari referensi dari banyak kasus kehamilan di internet sambil terus berdoa agar Allah menentukan hal terbaik bagi saya dan janin saya.

Antara tak sabar tapi juga takut, saya menanti USG selanjutnya 1 bulan kemudian. Kebetulan dalam jangka waktu 1 bulan setelah USG kedua saya tidak mengalami keluhan apapun selain nafsu makan yang menguap entah kemana. Tak sabar ingin USG lagi untuk melihat perkembangan janin saya, sekaligus takut rasanya... takut mendapati kenyataan yang tidak saya harapkan. Bismillah, yang penting saya sudah berusaha sebaik yang saya bisa.


Ini hasil USG ketiga, tanggal 6 Desember 2012. Saya harap-harap cemas mengingat bulan lalu harus USG transvaginal. Alhamdulillah janin berkembang dan perkembangannya sesuai jika dibandingkan dengan hasil USG sebelumnya. Panjang janin 5,3 cm dari kepala sampai pantat. Usia kehamilan 12w5d. Ini usia perkiraan dari dsog dengan melihat hasil USG.

Setidaknya saya bisa bernafas lebih lega. Berarti janin saya tumbuh dan pertumbuhannya normal, dalam artian sesuai penambahannya dibanding sebulan yang lalu. Sampai disini dokter menganggap hasil USG yang lebih benar. Saya mendengar denyut jantung janin saya. Subhanallah, sekecil itu jantungnya bahkan sudah berdetak. Oh I love you baby, really love... 

Saya diharuskan banyak mengkonsumsi protein untuk menopang perkembangan janin. Walaupun nafsu makan saya payah, saya harus semangat demi si kecil. Biarlah saya menjadi kurus (emang kenyataannya gitu loh T.T), atau nutrisi gak mau nempel di badan saya, yang penting anak saya sehat walafiat. Amiin Ya Allah...


USG keempat tanggal 7 Januari 2013. Hati saya sudah lebih tenang dan bersuka cita. Panjang adek sudah 11 cm dari kepala sampai pantat. Usia kehamilan 16w4d dan hpl 19 Juni 2013. Berat janin 166 gram. Denyut jantungnya OK. Perkembangan sesuai.

Alhamdulillah semuanya baik-baik saja. Saya belajar banyak hal bahwa saya harus berpikiran positif. Setiap ibu hamil itu tidak sama. Mungkin ketika saya hamil kondisinya berbeda dengan ketika kakak saya atau adik ipar saya yang hamil. Saya membaca tabel bahwa rata-rata berat janin usia 16-17 minggu adalah 110 gram, panjang totalnya 16 cm dan rata-rata pertambahan berat badan ibu adalah 2,7 kg. Semuanya yang berhubungan dengan anak saya membuat saya lega, semua normal. Hanya saja, berat badan saya sendiri saat itu hanya 48 kg, gak nambah sama sekali. Boro-boro mau nambah 2,7 kg. Agak cemas juga jadinya. Apakah makan saya benar-benar kurang ya? Badan saya sendiri memang tidak berubah, gak ada bagian-bagian yang terus membesar gitu kayak bumil lain. Pergelangan tangan saya malah berasa tambah kecil. Hiks, menyedihkan. Tapi sekali lagi, yang membuat saya lega adalah janin saya perkembangannya normal. Dokter bilang, berarti setiap yang saya makan semuanya lari ke bayinya bukan ke ibunya. Semoga memang begitu adanya.

Bulan berikutnya (Februari 2013) saya tidak menjadwalkan untuk USG. Saya membaca beberapa artikel yang mengatakan bahwa sebenarnya terlalu sering USG tidak bagus untuk perkembangan janin. Ya, secara logika memang benar. Namanya saja teknologi, pasti akan ada efeknya jika digunakan secara berlebihan. Bahkan saya juga membaca bahwa rekomendasi WHO selama hamil sebaiknya hanya USG maksimal 4 kali jika kehamilan tidak bermasalah. Waduh, jadi keder juga...

Ngobrol-ngobrol sama beberapa orang, saya disarankan untuk setidaknya pernah ke bidan selama hamil. Kakak saya malah bilang gini, "Coba deh, selama ini kamu ke dsog pernah gak dokternya megang perut kamu?". Hmm, pas saya ingat-ingat lagi, memang gak pernah sih dsog-nya megang perut saya. Paling banter cuman nempelin alat USG ke perut saya. Trus, kata mereka lagi (mereka: beberapa teman kantor, kakak saya, ibu saya) kalau sama bidan konsultasinya bisa lebih intensif. Apa iya ya?

Terus terang saja saya agak-agak gimana gitu sama bidan. Bukannya ngeremehin, saya cuma takut ketemu bidan yang gak update sama ilmu pengetahuan. Ceritanya nih, saya sudah termakan isu gentle birth yang tadinya saya telan bulat-bulat. Saya ngeri melihat begitu banyak bidan yang masih menggunakan cara lama dalam menangani ibu melahirkan. Padahal obgyn juga banyak yang gak pro normal, terlepas dari berbagai motifnya.

Tanggal 8 Februari 2013 saya kontrol ke bidan. Ini satu-satunya bidan yang membuka klinik bersalin di kota saya. Bidan yang lain gak buka klinik, tapi melayani untuk datang ke rumah bagi ibu yang memilih melahirkan di rumah sendiri. Rekomendasinya sih bagus, saya diminta banyak2 istirahat, tidur siang minimal 2 jam (haduhhh, mana bisa working mom tidur siang 2 jam), juga banyak makan kacang-kacangan. Ini karena saya terlihat capek. Tekanan darah saya 100/70, masih sama seperti 2 bulan terakhir. Saya juga dibekali tablet tambah darah dan kalsium. Tapi, ternyata saya masih kurang puas.

Menurut cerita teman-teman, bidan akan mengukur rahim, juga memeriksa denyut jantung bayi. Tapi kok pas saya ke bidan gak ada tuh diukur2 perut saya. Malahan bidannya nanya selama ini kontrol kemana. Saya jawab saja nama dsog tempat saya rutin kontrol. Bidannya juga nanya menurut dsog-nya hpl saya kapan? Saya jawab 19 Juni 2013... eh, bidannya juga nulis hpl saya pertengahan Juni. Jadi gimana gitu...

Tanggal 15 Februari 2013 saya ke bidan yang lain. Bidan ini rekomendasi teman kantor saya. Nah, di bidan ini hpl saya dibuat 29 Mei 2013. Katanya semua normal. Saya khawatir karena merasa kok perut saya kecil terus, eh bidannya malah bilang bahwa untuk ukuran anak pertama perut saya termasuk besar loh. Lega deh... Yang saya suka juga nih, bidan ini ngajarin cara pijat payudara supaya ASI bisa keluar dan lancar. Katanya sejak sekarang saya harus rajin pijat payudara sebagai persiapan menyusui. Tentu saja saya semangat 45 menyimak. Saya bertekad ingin memberikan ASIX untuk adek, lanjut ASI dan MPASI sampai 2 tahun. Amiin, semoga bunda berhasil ya dek...

Oiya, 2 kali ke bidan saya disuruh imunisasi TT. Tapi sekian kali ke dsog kok gak ada ya dsog-nya nyuruh imunisasi TT. Saya kan jadi bingung dan ragu-ragu...

Cerita saya udah kepanjangan kayaknya nih. Loadingnya mulai lama. Udahan dulu ya dek, part 2 nanti dilanjut lagi ^_^

Jumat, 26 April 2013

-107- Extra Fooding dan Berita Kematian


Extra fooding di kantor minggu ini. Kok ya kebetulan sekali, sudah beberapa hari ini saya pengen bubur kacang ijo, tapi tiap ke pasar yang sempatnya cuman sore hari, gak nemu kacang ijo yang bagus. Berhubung sudah sore, jadinya toko yang masih buka sudah terbatas...

Eh, tapi jangan salah ya. Kalo biskuit regal yang nongol dikit itu saya bawa sendiri dari rumah. Minumnya juga. Saya agak-agak gimana gitu kalo pake gelas atopun piring di kantor yang saya gak tau nyucinya gimana. Geli... Itu aja piring dan sendok buat kacang ijonya saya siram dulu pake air panas. Hihihi...

Tadinya saya pengen cerita tentang kematian. Efek sampe kantor trus orang-orang heboh bilang bahwa Uje meninggal dunia. Tadi pagi saya gak pake acara mantengin TV dulu sih, jadinya gak tau ada berita itu. Begitu tau, langsung lah saya buka mozilla dan cari informasi. Gak usah jauh-jauh, di fb aja orang-orang banyak yang posting link beritanya.

Trus kok gak jadi mau cerita tentang kematian? Hmm, saya malah jadi sedih kalo cerita tentang itu. Tahun ini saja ada dua keluarga saya yang meninggal, dan... saya gak bisa pulang kampung. Waktu ibu telpon dan bilang bahwa uwak (kakaknya bapak saya) meninggal, sambil nangis pula, praktis saya juga langsung nangis. Kaget... Juga waktu ibu telpon dan bilang bahwa nenek saya yang meninggal, pikiran saya langsung kemana-mana. Suram rasanya. Mau pulang, rasanya kok agak memaksakan diri mengingat waktu itu usia kehamilan saya masih sekian minggu dan masih agak rentan, masih sering berasa capek. Saya ingat mau membelikan nenek saya daster dan belum terealisasikan. Hiks hiks, sedihnya Ya Allah... Saya berdoa banyak sekali untuk nenek dan juga uwak. Mungkin dengan begitu akan lebih berguna buat mereka dibandingkan jika saya hanya menyesali diri, bersedih hati karena jarak yang jauh gak bisa nengok. Hiks... tuh kan saya sedih lagi. Sudah lama sekali gak ketemu nenek dan uwak, eh malah denger kabar mereka berpulang T.T

Beneran saya jadi sedih... Kita cerita tentang bubur kacang ijo saja lah kalau begitu. Bubur kacang ijo kali ini lumayan pas rasanya dibanding beberapa minggu lalu. Tapi tetap saja saya lebih suka bubur kacang ijo buatan sendiri. Saya tau gimana masaknya, dikasi apa aja, juga manisnya yang pas. Saya juga bukan penyuka santan, jadinya di rumah seringan kalo bikin bubur kacang ijo gak pake santan. Biar gak kolesterol juga :)

Cerita apa lagi ya? Kayaknya udah dulu cerita tentang bubur kacang ijonya. Emak-emak di kantor pada cerita tentang ASI. Lebih menarik, hehehe.... Dah dulu ya :)


Jumat, 12 April 2013

-106- Semoga Tak Kembali Sungsang

Ceritanya saya udah gak sabaran pengen USG lagi bulan ini. Bulan kemarin saya USG tanggal 4 Maret, dan dikatakan usia kehamilan saya sudah memasuki minggu ke-25. Waktu itu posisi dedek (ini kata Mamas Aim, "Bunda, adek tu nanti manggilnya dedek...") masih sungsang. Posisi kepala masih di atas. Alhasil saya diajarin sujud sama dsog-nya, sesering-seringnya dan selama-lamanya yang saya sanggup. Katanya bulan depan harusnya posisi kepala adek sudah di bawah.

Hmm, pantesan sebelumnya saya sering ngerasa agak nyeri di bawah dada kanan. Saya sempat agak mengira-ngira sendiri, apa saya kena maag ya. Sering agak sesak juga rasanya. Rupanya kata ibu saya, memang begitulah kalo posisi bayi sungsang. Karena kepalanya masih di atas makanya terasa sesak kayak ada yang mengganjal.

Oiya, saya mau cerita dulu sedikit ya tentang ibu saya. Kebetulan ibu melahirkan saya dan adik saya dengan posisi sungsang. Tapi lahirnya normal loh. Kata ibu, dulu pas hamil saya, pas udah tau sungsang, ibu disuruh sujud terus, dan udah sujud terus menerus juga tetap sungsang sayanya. Mau gimana lagi, dilahirkanlah saya dalam kondisi sungsang, bokongnya (maaf) yang keluar duluan. Hehehe... Adik saya juga sama sungsangnya dan normal. Makanya kami berdua sakti mandraguna. Hahaha, kata orang-orang sih, bayi sungsang itu istimewa. Padahal setiap bayi pasti istimewa kan ya...

Okeh, balik lagi deh ke cerita saya tadi. Bulan lalu pas USG dan posisi dedek masih sungsang, jenis kelaminnya juga belum ketahuan, pahanya ditutup. Hihihi mungkin dedek malu kali ya, soalnya ayahnya penasaran sekali sama jenis kelamin dedek. Saya juga sih, tapi gak begitu, laki-laki atau perempuan sama saja buat saya, yang penting dedek sehat walafiat lahir batin, tidak kurang suatu apapun. Amiin...

Nah, bulan ini sudah sejak tanggal 3 April kemarin saya dan suami berencana USG lagi. Eh malahan dokternya gak praktek. Besoknya tanggal 4 April mati listrik. Besoknya lagi ke dokter habis magrib, eh bertepatan dengan dokternya mau pulang. Mungkin pasiennya gak banyak, soalnya sore itu hujan lumayan deras. Mau nungguin hari Senin pas dokternya praktek lagi, kok ya rasanya kelamaan. Akhirnya ngikutin saran dokter, USG di rumah sakit aja besoknya pas hari Sabtu. Hmm, saya lebih suka periksa di tempat prakteknya bu dokter daripada di rumah sakit, padahal dengan dokter yang sama loh. Nggak tau kenapa. Tapi, kalau USG-nya di rumah sakit, ya rugi dong kalo gak memanfaatkan Askes, hehe... Oiya, yang saya suka disini, walaupun dsog-nya cuman ada 1 se kabupaten ini, dsog-nya perempuan euy. Nyaman kan... Makanya saya belum bisa membayangkan kalau harus periksa hamil sama dsog yang laki-laki. Dan sampai sekarang saya belum memutuskan akan melahirkan dimana. Hiks...

Sebenarnya saya mau cerita apa sih? Nothing's specific kok.. Cuma pengen ngasitau dunia, bahwa saya lagi bahagia banget menjalani hari-hari dimana ada yang bergerak-gerak di dalam perut saya. Saya bisa hamil, merasakan janin yang tumbuh, spesial sekali rasanya. Dan setelah USG tanggal 5 April kemarin, ternyata posisi kepala dedek sudah di bawah. Alhamdulillah... Makasih ya dek, dedek pintar sekali sudah ngikutin kata-kata Bunda, Ayah dan Mas Aim yang berulang-ulang bilang sama dedek supaya muter. Jangan muter lagi ke atas ya dek, sehat-sehat terus, dan bantu Bunda biar bisa lahiran dengan normal dan lancar :)

Sekarang tanggal 12 April, dan menurut perkiraan dokter, usia kehamilan saya sudah 30 minggu. Saya sempat agak khawatir karena berat badan saya yang cuman naik sedikit, paling-paling 5 kg saja. Badan saya sendiri cenderung lebih kurus. Kata dokter, itu berarti semua yang saya makan larinya ke dedek, bukan ke bundanya. Mungkin saya juga makannya kurang banyak kali yah. Hiks, kadang sedih sendiri, takut nanti kebutuhan dedek di dalam sana kurang tercukupi. Tapi ya saya harus menjaga pikiran positif tetap berada dalam diri saya. Saya percaya itu. Yang penting kan saya tetap berusaha sebaik mungkin.

Wah, saya jadi ingat mau mengabadikan hasil USG dedek. Biar nanti dedek bisa lihat kalau sudah besar, hehe... Posting berikutnya sajalah ya :)