Rabu, 28 November 2012

-99- Pantas Saja Mereka Menyebutnya Morning Sickness

Disebutlah morning sickness, keadaan dimana seorang wanita hamil merasa pusing, mual dan muntah yang biasanya terjadi pada masa 3 bulan awal kehamilan (trimester pertama). Sebenarnya menurut banyak sumber yang saya baca, rasa pusing, mual dan muntah itu tidak hanya terjadi di pagi hari, bisa kapan saja. Cumannya, berhubung pada umumnya mual-mual ini terjadi pada pagi hingga menjelang siang, makanya disebut "morning". Gak lucu dong kalo kemudian disebut anytime sickness, ealahh... kok rasa-rasanya seperti sebuah penderitaan tak berkesudahan. Lebay gitu sayanya, padahal pada dasarnya pregnancy adalah hal yang membahagiakan bagi para pasangan suami istri. Betul gak sih?

 Gambar dipinjam dari sini

Setiap wanita hamil akan merasakan tingkat derajat mual yang berbeda-beda. Ada yang tidak merasakan apa-apa, seperti kakak saya dulu di kehamilan pertamanya. Kalau dulu ketika ada orang hamil, saya gak terlalu merhatiin, cuma denger cerita doang bahwa orang hamil itu mual, muntah, lemes, ngantuk, dan sebagainya, dan sebagainya. Toh kakak saya aja gak ada muntah-muntah gitu, gagah banget hamilnya, gagah sampe lahiran malahan. Tapi ternyata banyak juga yang hamilnya kalah, mual muntah tak berkesudahan seperti adik ipar saya, sampe-sampe minum air putih aja muntah, bisa sama sekali gak ketemu nasi selama beberapa hari. Atau yang sampai memerlukan pengobatan seperti salah satu teman saya, berkali-kali bolak balik masuk rumah sakit, opname, diinfus, saking kalahnya. Haduh,,, gak kebayang deh. Kalo udah kayak gitu mungkin para ibu hamil akan "lebih" banyak berdoa semoga anak yang sedang dikandungnya menjadi anak yang baik-baik, soleh solehah, akhlaknya terpuji, soalnya kalo ternyata anaknya nakal naudzubillah, astaghfirullah alangkah besarnya dosamu nak...

Lalu saya, apa cerita saya? Hmm, saya harus banyak bersyukur karena sejauh ini belum pernah muntah-muntah. Berdasarkan riwayat kehamilan ibu dan kakak saya, memang mereka ketika hamil bukan yang tipenya kalah gitu, jadi semoga saya juga tidak berbeda. Dulu ibu saya mengandung saya ketika kakak saya belum genap 6 bulan. Selisih umur saya dan kakak saya memang hanya 14 bulan. Kebayang gak apa jadinya kalau ibu saya mual muntah tak berkesudahan. Ah, Allah memang Maha Adil.

Yang jelas, wanita hamil itu memang spesial, alhamdulillah saya merasakannya sekarang. Kata para ahli, setiap wanita hamil memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Mungkin ada banyak wanita hamil yang karakteristiknya mirip saya. Saya tidak muntah-muntah, mual sesekali memang ada, rasa pengen muntah juga ada, tapi gak sampe muntah beneran. Apalagi kalo pagi, pantas saja mereka menyebutnya morning sickness. Biasanya saya bangun pagi dalam keadaan lapar, kadang sangat lapar, tapi saya sering gak langsung makan, hanya minum susu dan setelah agak pagi sekitar jam 7 saya baru minum susu. Setelah itu... jangan ditanya, nafsu makan saya langsung lenyap ditelan bumi, ngebayangin mau makan saja rasanya saya mau muntah. Perut saya mual, biasanya disertai keliyengan gitu. Tau keliyengan kan? Kayak rasa pusing ketika kita kurang darah atau darah rendah gitu. Akhirnya saya sering bawa sarapan ke kantor, atau beli. Entah kenapa saya rasanya lebih bisa makan makanan beli daripada yang saya masak sendiri, padahal biasanya saya agak-agak anti makan makanan yang saya beli di luar (pengecualian untuk makan di restoran, hehe...). Dan nyatanya, seperti pagi ini sampai jam 10 pun sarapan saya belum saya sentuh sama sekali.

Tips 1:
Untuk wanita hamil yang bangun pagi dalam keadaan lapar, segeralah makan setelah Anda sholat subuh. Jangan ditunda-tunda karena itu nantinya hanya akan membuat Anda malah jadi enggak sarapan sama sekali.

Tips 2:
Banyak-banyak minum air putih, dan kalau Anda terlanjur mual dan belum nafsu buat sarapan, makan buah aja, biasanya kalau makan buah malah gak mual loh.

Tips 3:
Ketika bangun tidur jangan langsung bangun secara tiba-tiba supaya gak keliyengan terlalu sering.

Tips 4:
Bawa minyak angin aromaterapi kemana-mana, supaya kalau sudah mulai pusing-pusing, ada lawannya :)

Saya juga mudah sekali capek, dan tidak terlalu suka aktifitas bepergian yang memakan waktu lama. Saya kurang betah duduk di mobil terlalu lama, apalagi dengan posisi duduk yang itu-itu saja dan tidak bisa leluasa sesuka saya. Juga goncangan di perut selama dalam perjalanan, alamak, terus terang agak menyiksa. Kurang nyaman saja rasanya. Saya baca-baca di internet, posisi duduk setengah berbaring gak bagus, bagusnya duduk tegak seperti tukang jahit. Padahal kan capek ya kalo harus duduk tegak terus selama dalam perjalanan. Trus, lutut juga sebaiknya selalu lebih rendah daripada panggul, tidak menyilang kaki, ini terutama untuk wanita hamil yang bayinya sudah bisa bergerak supaya tidak membatasi ruang gerak bayi. Padahal kan kalo mobilnya sedan, posisi kaki gak diluruskan, pasti akan lebih tinggi lutut daripada panggul. Yah, kalau begitu solusinya adalah tips ke-5 berikut:

Tips 5:
Kata ibu saya, jangan terlalu banyak bepergian, apalagi kalau sedang hamil muda. Batasi dulu lah kesana kemari gitu, itu kata ibu saya loh...

Berat badan saya juga berkurang banyaaakkkk sekali, hiks hiks, terjun bebas sampe 48 kg, menuju 47 malahan. Rada shock juga sih, tapi wajar sekali karena memang makan saya super sedikit. Nafsu makan saya sudah lari. Saya gak ngidam macem-macem, cuma kadang memikirkan makanan apa yang saya mau makannya, biar saya makan gitu, jangan sampe perutnya kosong. Jadi bukan masalah pengen makan ini, pengen makan itu, ngidam ini, ngidam itu, bukan itu loh. Ini hanya sekedar mencari-cari makanan yang saya mau makan, itu pun sulit sekali T.T.

Bagaimanapun you're not alone deh. Banyak ibu-ibu hamil yang turun berat badannya di masa-masa awal kehamilan, padahal makannya biasa aja, gak ada perubahan. Jadi saya masih alhamdulillah, turun bb-nya memang karena makannya sedikit. Dan setidaknya saya masih makan nasi 3 kali sehari walaupun dengan porsi yang kecil. Trus, saya juga pernah baca artikel yang mengatakan bahwa ibu hamil harus lebih banyak istirahat, harus menambah jam tidur karena butuh tidur lebih banyak. Saya sendiri kalau berasa kurang banyak tidurnya, pasti lemas.

Tips 6:
Wanita hamil butuh tidur lebih banyak, jadi jangan diabaikan urusan tidur ini ya, karena beneran bisa bikin Anda lemas sepanjang hari kalau kurang tidur.

Udah dulu ya, segitu dulu. Besok-besok disambung lagi kalau ada tips tambahan yang saya ingat. Sekarang saya mau makan dulu, sarapan yang kesiangan... >_<

Jumat, 23 November 2012

-98- So I'm Already 27

So I'm already 27, tepatnya kemarin. Coba tebak, siapa orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya? Atau, hadiah apa yang saya terima? Atau, apa yang saya lakukan untuk merayakan hari lahir saya? Ah, saya malah ingin bertanya hal lain lagi kepada diri saya sendiri.

Bagaimana rasanya menjadi perempuan berusia 27 tahun?

Rasanya... nano nano.

Sedih iya. Lah gimana enggak, saya sedih ternyata saya sudah 27 tahun dan apakah selama ini saya sudah menjalani hidup ke arah yang lebih baik. Sejak tahun pertama hidup saya, sampai tahun ke-27 ini, apakah saya sudah benar-benar belajar dari pengalaman? Apakah saya sudah meninggalkan hal-hal buruk yang saya bahkan sudah tau itu buruk? Apakah saya bertambah baik hati dan tidak sombong hari demi hari? Apakah sholat saya sudah tegak berdiri kokoh? Apakah saya tidak lupa bersedekah? Apakah saya sudah menutup aurat dengan benar? Apakah saya telah menunaikan hak suami saya, orangtua saya? Kenapa ya, seringkali kita baru sadar bahwa ternyata kita sudah hidup lama hanya ketika kita berulang tahun :(

Senang iya (tapi tetap saja banyakan sedihnya). Senangnya kenapa ya? Kenapa ya? Menjadi semakin tua kok senang?

Hari ulang tahun hanya akan menjadi momen paling menyedihkan dalam hidup jika saja di hari itu saya tidak ingat untuk bersyukur. Bersyukur atas nikmat yang tidak bisa saya ingkari sama sekali. Bersyukur atas setiap bukti kasih sayang Allah yang, kalau dipikir-pikir kok Allah baik banget ya... Sering kan ya kita sadar betapa jahatnya kita kepada Allah, betapa kita sering menjauh, tapi ternyata Allah Maha Pemurah, Dia mendekat dan melimpahi kita dengan nikmat yang tiada terhitung banyaknya. Saya sendiri sering merasa malu atas itu. Saya sering merasa malu, merasa kemudian tidak pantas untuk meminta, tapi lalu Allah memberi segalanya.

Alhamdulillah, atas semua limpahan nikmat yang tiada tara. Fabiayyialaairobbikumatukadzzibaan... Maka nikmat Allah yang manakah yang (mampu) saya dustakan.


And yesterday is my birthday
a moment to remember how many time I've spent to deny what God gives on my hand. 
Please forgive me God. 
I'll always try to do my best, for me, for my lovely family...

*Eitttss, rasa-rasanya tadi saya bilang rasanya nano nano menjadi 27 tahun. Ini kok malah cuma sedihnya aja yang dibahas, maaf ya...

Kamis, 22 November 2012

-97- Cantik Hatinya, Semoga...


Beberapa hari yang lalu saya membaca salah satu note di halaman facebook Darwis Tere Liye. Note ini entah kenapa bisa sangat meninggalkan jejak yang begitu jelas di pikiran saya. Berikut tulisannya:


Cerita Seekor Kambing dan Dua Remaja Yang Cantik Hatinya *)

Ada dua kakak-adik perempuan, satu namanya Puteri (usia 13 tahun, SMP), satu lagi namanya Ais (usia 16 tahun, SMA). Mereka tidak beda dengan jutaan remaja lainnya, meski tdk berlebihan, juga ikutan gelombang remaja yg menyukai budaya populer saat ini, seperti lagu2, boyband, film2, dsbgnya. Kabar baiknya, dua anak ini memiliki pemahaman yg baik, berbeda, dan itu akan menjadi bagian penting dalam cerita ini.

Suatu hari, guru agama di sekolah Puteri menyuruh murid2nya utk membuat karangan tentang berkurban. Ini jadi muasal cerita, jika murid-murid lain hanya sibuk membaca sejarah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, lantas menulis karangan, Puteri, entah apa pasal, memasukkan cerita hebat itu sungguh2 dalam hatinya. Tercengang. Dia bahkan bertanya pd orang tuanya, di meja makan, apakah keluarga mereka pernah berkurban. Setelah saling tatap sejenak, orang tua mereka menggeleng, tidak pernah. Ayah mereka buruh pabrik, Ibu mereka karyawan honorer, ibarat gentong air, jumlah rezeki yg masuk ke dalam gentong, dengan jumlah yg keluar, kurang lebih sama, jd mana kepikiran untuk berkorban.

Puteri memikirkan fakta itu semalaman, dia menatap kertas karangannya, bahwa keluarga mereka tidak pernah berkorban, padahal dulu, Nabi Ibrahim taat dan patuh mengorbankan anaknya. Bagaimana mungkin? Tidakkah pernah orang tua mereka terpikirkan untuk berkorban sekali saja di keluarga mereka? Puteri mengajak bicara kakaknya Ais. Dan seperti yg saya bilang sebelumnya, dua anak ini spesial, mereka memiliki pemahaman yg baik, bahkan lebih matang dibanding orang2 dewasa. Maka, mereka bersepakat, mereka akan melakukan sesuatu.

Uang jajan Puteri sehari 8.000 perak, dikurangi untuk naik angkot, bersisa 4.000 utk jajan dan keperluan lain. Uang jajan Ais, 10.000 perak, dikurangi untuk naik angkot, bersisa 6.000, juga utk jajan dan keperluan lain. Mereka bersepakat selama enam bulan ke depan hingga hari raya kurban, akan menyisihkan uang jajan mereka. Puteri memberikan 2.000, Ais memberikan 3.000 per hari.

Enam bulan berlalu, mereka berhasil mengumpulkan uang 1,1 juta rupiah. Menakjubkan. Sebenarnya dari uang jajan, mereka hanya berhasil menabung 600.000, mereka juga harus mengorbankan banyak kesenangan lain. Membeli buku bacaan misalnya, seingin apapun mereka memiliki novel2 baru, jatah bulanan utk membeli buku mereka sisihkan, mending pinjam, atau baca gratisan di page/blog, sama saja. Mereka juga memotong besar2an jatah pulsa dari orang tua, itu juga menambah tabungan. Juga uang hadiah ulang tahun dari tante/om/pakde/bude. Alhasil, enam bulan berlalu, dua minggu sebelum hari raya kurban, mereka punya uang 1,1 juta.

Aduh, ternyata, saat mereka mulai nanya2, harga kambing di tempat penjualan2 kambing itu minimal 1,3 juta. Puteri sedih sekali, uang mereka kurang 200rb. Menunduk di depan barisan kambing yg mengembik, dan Mamang penjualnya sibuk melayani orang lain. Tapi kakaknya, Ais, yg tidak kalah semangat, berbisik dia punya ide bagus, menarik tangan adiknya utk pulang. Mereka survei, cari di internet. Tidak semua harga kambing itu 1,3 juta. Di lembaga amil zakat terpercaya, dengan aliansi bersama peternakan besar, harga kambing lebih murah, persis hanya 1.099.000. Dan itu lebih praktis, tdk perlu dipotong di rumah. Dan tentu saja boleh2 saja nyari harga kambing yg lebih murah sepanjang memenuhi syarat kurban. Senang sekali Puteri dan Ais akhirnya membawa uang tabungan mereka ke counter tebar hewan kurban tsb. Uang lembaran ribuan itu menumpuk, lusuh, kusam, tapi tetap saja uang, bahkan aromanya begitu wangi jika kita bisa mencium ketulusan dua kakak-adik tsb.

Mereka berdua tdk pernah bercerita ke orang tua soal kurban itu. Mereka sepakat melupakannya, hanya tertawa setelah pulang, saling berpelukan bahagia. Dua bulan kemudian, saat laporan kurban itu dikirim lembaga amil zakat tersebut ke rumah, Ibunya yang menerima, membukanya--kedua anak mereka lagi main ke rumah tetangga, numpang menonton dvd film, Ibunya berlinang air mata, foto2, tempat berkurban, dan plang nama di leher kambing terpampang jelas, nama Ibunya.

Itu benar, dua kakak-adik itu sengaja menulis nama ibunya. Itu benar, dua kakak-adik itu ingin membahagiakan kedua orang tuanya. Tapi di atas segalanya, dua kakak-adik itu secara kongkret menunjukkan betapa cintanya mereka terhadap agama ini. Mereka bukan memberikan sisa2 utk berkorban, mereka menyisihkannya dengan niat, selama enam bulan.

Itulah kurban pertama dr keluarga mereka. Sesuatu yg terlihat mustahil, bisa diatasi oleh dua remaja yg masih belia sekali. Besok lusa, jika ada tugas mengarang lagi dari gurunya, Puteri tdk akan pernah kesulitan, karena sejak tahun itu, Ibu dan Ayah mereka meletakkan kaleng di dapur, diberi label besar2: 'Kaleng Kurban' keluarga mereka.
*) tulisan yang asli ada disini

Ceritanya mungkin sederhana, sesederhana harapan saya ketika meresapinya. Hebat ya, dua kakak adik itu. Dengan pemahaman baik yang mereka punya, mereka menjelma menjadi anak-anak yang tidak biasa, menjadi berbeda dengan jutaan anak-anak lain seusianya. Mereka istimewa. Saya bahkan tidak bisa membayangkan betapa terharunya sang ibunda menyaksikan apa yang dilakukan anak-anaknya, karena saya yang hanya membaca pun bisa langsung menangis. Saya yakin anak-anak itu akan membangunkan sebuah rumah yang indah untuk ibunda mereka di surga Allah. Seperti halnya harapan saya atas jantung yang sekarang sedang berdetak dalam rahim saya...

Gambar dipinjam dari sini

Selasa, 16 Oktober 2012

-96- Suamimu Tipe Berapa?

"Aduuhhhh, main futsal aja terus sih, anaknya tuh diurusin!", aku ngomel panjang kali lebar kali tinggi. Gemes tingkat dewa liat tingkah suamiku. Udah siap-siap mau pergi aja dia. Padahal, emak sama anak lagi ribet banget sekarang, mana gak ada yang bantuin. Enak aja si papi mau futsal-an ninggalin aku jungkir balik sendiri di rumah ngurusin anak, mana lantai belum disapu pula...

***

Kira-kira begitulah teman saya bercerita. Tentu saja gaya ceritanya malah membuat saya tertawa lucu. Soalnya dia bercerita dengan intonasi dan mimik wajah yang sama sekali tidak mirip orang yang sedang sebel. Hihihi, dan ceritanya terus berlanjut, bertambah menggelikan.

***

Aku terus ngomel layaknya kereta api, gak pake berenti. Gak berapa lama kemudian, kulihat dia masih di rumah, gak jadi berangkat main futsal.
"Kok, papi gak jadi main futsalnya?", tanyaku.
"Iya, abisnya umi ngomel terus...", jawabnya polos.

***

Hahaha, saya ngakak. Tulisan saya di atas tadi, yang menceritakan kembali ceritanya dulu, sama sekali tidak bisa menggambarkan lucunya gaya teman saya itu ketika ngomong. Ya, saya memang suka sekali mendengarnya cerita. Seru, lucu, dan terbuka. Jadi, gak pake sok rahasia-rahasiaan gitu deh. Kita juga kan males ya kalo dengerin cerita yang kayak masih dipakein cadar. Mending dari awal aja gak usah diceritain. Ya nggak sih?

Loh? Balik lagi ahhh ke jalan yang benar...

Begitulah, teman saya kemudian bercerita tentang betapa payahnya suaminya dalam urusan mengurusi anak. Makein celana anaknya aja gak bisa (apa iya ya?). Kadang-kadang mendingan Mr.Suami gak usah bantuin megang anak deh, soalnya yang ada malah bikin tambah repot, bukannya meringankan pekerjaan. Jadi inget ada teman lain lagi yang pernah bilang bahwa laki-laki kalo ikut ngurus anak malah bikin ribet aja. Eaaaa...

Nah, teman saya yang lucu tadi, dulu juga pernah ngasih info yang entah benar entah tidak. Katanya, tipe suami itu ada dua. Pertama, kalau dia tipe yang sayang sama istrinya, romantis gitu deh, pokoknya istrinya disayang terus, maka dia pasti bisa dibilang gak terlalu bisa ngurus anak. Kedua, kalau dia tipe yang sayang banget sama anak, bisa ngurus anak, biasanya istrinya gak akan disayang. Hmm, waktu si teman bilang gitu, saya sempat membantah, masa iya sih? Dengan sangat percaya diri dia menegaskan begitu dan menyuruh saya membuktikan sendiri nanti kalau saya sudah menikah (waktu itu saya belum menikah).

Kenyataannya, dilihat dari beberapa group sharing para emak-emak, memang pada umumnya para suami tidak terlalu becus dalam urus-mengurus anak atau membantu pekerjaan rumah tangga. Sama seperti teman saya tadi mungkin ya... Tapi ada juga kok yang baik hati, bisa ngurus anak dan suka bantuin kerjaan istrinya di rumah. Ada juga suami yang udah gak mau bantuin kerjaan rumah tangga. Semua mesti istri yang ngurus, padahal istrinya juga bekerja. Istri lagi masak plus beres-beres rumah (lagi ribet pokoknya), suami megang anak dan anaknya mau BAB, eehhh istrinya yang dipanggil, disuruh ngurus anaknya BAB. Mana suaminya gak ada romantis-romantisnya lagi, gak ada sayang-sayangannya sama istri. Aiihh lengkap sudah penderitaan istri...

Akhirnya, berdasarkan  info teman saya tadi, dilanjutkan dengan melihat-lihat dikit kesana kemari, saya mengelompokkan tipe suami menjadi empat tipe, yaitu:


1. Suami yang sayang sama istri, tapi gak terlalu sayang sama anak.
2. Suami yang sayang sama istri dan sayang sama anak.
3. Suami yang kurang sayang sama istri, tapi sayang sama anak.
4. Suami yang kurang sayang sama istri dan kurang sayang sama anak.

Pengelompokan di atas cuma iseng-iseng saja loh ya, tidak ada dasar ilmiah-nya. Tapi bolehlah kalau mau dijadikan kriteria bagi yang sedang memilih calon suami. Paling enak kalo dapet suami tipe dua, x dan y positif, hehehe, tapi amit-amit dah kalo dapet suami tipe empat. Makanya milih yang selektif ya girls...

Dan... saya juga jadi ingin menentukan, suami saya masuk tipe yang mana ya?

Lalu kamu... suamimu tipe berapa? ^___^

Jumat, 12 Oktober 2012

-95- Bercerita Itu Hebat Ya, Takita (Surat Balasan Untuk Takita)

 

Bagaimana kabarmu Takita sayang?

Semoga Takita tidak pernah bosan bercerita ya. Juga selalu membagi cerita tentang mimpi-mimpi Takita kepada banyak orang. Karena percayalah, melalui cerita Takita itulah orang dewasa seperti kami sering tersadar, sudahkah anak-anak kami mendengar kami bercerita? Sudahkah anak-anak kami belajar bercerita, tentang teman mereka, tentang mainan mereka, juga tentang bau-bauan yang mereka cium... dan tentu saja kami, Ayah dan Bundanya akan menyimak dengan tekun sambil bersyukur kepada Tuhan, betapa pintarnya anak kami.

Mimpi Takita adalah mimpi kakak juga. Kakak takut sendirian, sama seperti Takita. Kakak juga takut anak kakak merasa sendirian karena kakak tidak punya waktu untuk bercerita. Padahal sekedar cerita tentang sebuah alat berat yang sedang parkir di pinggir jalan menuju ke kantor, mampu membuat anak kakak melemparkan banyak pertanyaan dan memperpanjang cerita... dengan mata berbinar tentu saja.

Saat ini kakak mungkin hanya bisa bercerita tentang hal-hal sederhana kepada anak kakak. Cerita mengalir begitu saja layaknya tulisan yang punya banyak catatan kaki, banyak tanda bintang untuk menjelaskan arti kata-kata yang masih sulit dicerna anak berusia tiga tahun. Dan tahukah dirimu, Takita, ternyata anak-anak pun bisa menjelaskan tentang kata yang ia ucapkan dengan cadel agar bisa dimengerti oleh Ayah dan Bunda.

Berapa usiamu, Takita? Perkenalkan anak kakak, namanya Zaim. Usianya sekarang 3 tahun, dan ini beberapa ceritanya di rumah...

Zaim : "Tadi temennya Om Pebi didoteng...?" (bahasanya masih cadel)
Ayah : "Apa nak, didoteng?" (berusaha mencerna)
Zaim : "...bukan, didoteng..."
Ayah : "Didoteng?"
Zaim : (sambil berpikir) "Om Pebi naik motor trus temennya duduk di belakang?"
Ayah : "Oooo... dibonceng?"
Zaim : "Iya, tadi temennya Om Pebi didoteng?"
Ayah : "Enggak, bla bla bla..... *bercerita*....." (sambil tersenyum senang, anaknya sudah bisa menjelaskan)

---

Zaim : (sedang memegang sebuah permen) "Aim tu maunya permen tantai."
Bunda : "Apa nak, permen tantai?"
Zaim : "Permen yang ada tantainya..."
Bunda : (bingung) "Tantai itu apa?"
Zaim : (berpikir, diam sesaat) "Tunjuk, tunjuk..."
Bunda : "Oooo, tangkai ya?" (sambil tersenyum senang, anaknya sudah mengerti tentang sinonim)
Zaim : "Iya..." (tersenyum juga dan melanjutkan cerita dengan semangat)
Hehehe, ini biasanya Zaim menyebut tangkai permen lolipop sebagai "tunjuk", jadi Bunda langsung paham bahwa yang dimaksud adalah kata "tangkai" :)

---

Hebat ya, Takita. Ternyata bercerita juga bisa menjadi sarana belajar buat anak-anak, tentu saja juga buat orangtuanya. Suatu saat nanti, kakak ingin sekali bercerita tentang hal-hal yang lebih rumit, cerita tentang kehidupan, cerita tentang pengalaman, sekedar untuk memperkaya pribadi-pribadi yang tadinya bersemayam dalam tubuh-tubuh yang mungil. Seperti Takita mungkin.

Dan tubuh-tubuh yang tak lagi mungil itu, nantinya akan terus bercerita, bercerita tentang Ayah Bundanya, bercerita sepanjang zaman.

Teruslah bermimpi, Takita... Lalu ceritakan kepada dunia setiap kata yang ada dalam mimpi Takita. Karena mimpi akan menghilang begitu saja ketika tidak kita bagi. Takita dan kakak tidak ingin itu terjadi bukan?

Teruslah bercerita, Takita... Karena melalui cerita Takita, Ayah dan Bunda akan selalu tersenyum. Menyadari bertambahnya perbendaharaan kosakata yang bisa Takita gunakan, atau memperbaiki susunan kalimat Takita agar bisa dimengerti tidak hanya oleh Ayah dan Bunda... sungguh tak ternilai rasanya, sayang. Dan menemukan Takita menjadi dewasa lalu memeluk anak-anak Takita dengan hangat sambil bercerita tentang anak kucing yang tidak sengaja masuk ke dalam got... ahh, rasanya mungkin seperti memeluk surga :)

Teruslah bersemangat, Takita. Dengan semangat yang tidak pernah mati Takita akan menjelajah dunia melalui cerita.

Sampaikan salam kakak buat Ayah dan Bunda ya. Ceritakan kepada mereka tentang surat kakak yang sudah Takita baca.

Salam sayang kakak untuk Takita :)


Tulisan ini saya tulis untuk membalas surat dari Takita.

Senin, 01 Oktober 2012

-94- 1'st Anniversary

Satu tahun yang lalu pada tanggal yang sama seperti hari ini, harinya adalah Sabtu, dimana sekitar jam 2 siang kami melaksanakan akad nikah. Nothing's to celebrated memang. Hanya saja, di tanggal yang sama setahun kemudian, aku ingin mengenang bahwa pernikahan kami ternyata sudah mulai menginjak hitungan tahun. Meskipun baru angka satu, penunjuk bahwa kehidupan sebenarnya baru saja dimulai. Dan mungkin saja, hanya aku satu-satunya yang mengingat tanggal ini dengan baik.

Aku memang tidak suka perayaan ulang tahun, ulang tahun apapun. Tapi aku juga tidak menentang jika ingin menjadikan momen tersebut sebagai momen memberi hadiah, misalnya, atau sekedar memanfaatkan waktu yang pas untuk mengungkapkan doa dan sayang yang mungkin biasanya hanya tersimpan rapi di sudut hati. Apapun itu, yang penting aku harus selalu bersyukur atas setiap momen bersama, atas berlalunya setiap waktu. Aku ingin menghargai setiap pertambahan bilangan usia itu, karena belum tentu ia akan lama berpihak kepadaku.

Alhamdulillah Ya Rabb... Terima kasih banyak atas satu tahun yang telah Engkau berikan. Terima kasih banyak atas setiap suka yang telah Engkau anugerahkan. Terima kasih banyak atas setiap secuil pelajaran hidup yang begitu mahal, yang tak pernah kudapatkan dari sekolah formal manapun. Terima kasih banyak atas semuanya, yang menjadikanku ibarat keran air yang tiba-tiba menjadi tertutup, tak lagi bisa mengucurkan aksara untuk menceritakannya.

Teruntuk suamiku sayang

Sudah satu tahun sayang, dan ternyata kita bisa melewatinya. Alhamdulillah ya... Satu tahun pertama yang entah kenapa terasa begitu cepat berlalu. Bulan segera berganti tanpa hendak berhenti bahkan untuk menyapa. Satu tahun untuk saling mengenal lebih dan lebih lagi. Satu tahun untuk saling memahami lebih dalam. Satu tahun untuk mengendalikan ego demi menyambung potongan kayu yang telah diikrarkan untuk direkatkan selamanya, semakin kokoh seiring waktu. Satu tahun untuk semakin menguatkan tekad meraih mimpi. Satu tahun untuk menempa diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Satu tahun untuk terus menerus menyemai benih cinta dan sayang, mengikat rasa dalam koridor yang benar, halal, dan diberkahi. Satu tahun untuk selalu belajar menyelaraskan langkah.
(Tuh kan, aku selalu gagal menahan air mata setiap kali memfokuskan perasaan ketika memaknai sebuah ulang tahun. Bagaimana bisa orang-orang itu merayakan ulang tahun dengan sukacita, tertawa senang seolah tahun berikutnya akan selalu ada. Bergembira atas berkurangnya jatah waktu untuk selalu bersama. Bagaimana bisa?)
Sudah satu tahun sayang. Aku bersyukur atas setiap waktu bersamamu, waktu yang begitu berharga, waktu yang ingin selalu kugenggam. Aku bahagia atas kasih sayang tanpa henti, yang kuyakin mampu menundukkan himalaya. Rasanya aku tidur dengan nyaman ketika engkau disampingku. Rasanya hidupku aman ketika engkau mendampingiku. (wadawww, aku kok melow amat nulisnya yak...)

And I call you, home...

Terima kasih sayang, atas peluk cium yang selalu kurindukan. Atas sayang dan perhatian yang tak pernah lelah. Atas seni berkehidupan yang sudah engkau bagi. Terima kasih sudah menjadi suami dan ayah terbaik bagi kami. Maafkan aku atas setiap ego yang tak mampu terkendali, atas setiap buruknya suasana hati yang tak mampu tersimpan, atas setiap kelalaian dalam mengurus urusanmu, atas semuanya... semua tugas yang mungkin belum mampu kupikul dengan benar.

Allah Engkaulah yang Maha segalanya, Engkau yang menggenggam kehidupan, Engkau sebaik-baik dalang, berkahilah kami selalu Ya Rabb. Jagalah keluarga kami, kuatkan ikatan kami, sucikan cinta kami, baikkanlah kami, jadikan kami senantiasa saling melengkapi sepanjang usia. Amiin...

Jumat, 28 September 2012

-93- Keep It Simple, Stupid!

Waktu itu kami sekeluarga sedang berada dalam perjalanan, tapi saya lupa-lupa ingat, itu perjalanan mau mudik atau malah habis mudik ya... Ah, whatever. Yang jelas ceritanya kami sedang di dalam mobil trus saya dan anak saya ngomongin tentang kereta api. Kira-kira begini:

Zaim : "Apa tadi Bunda, rel kereta api ya?"
Saya : "Bukan nak, di sini gak ada kereta api ya, kereta api itu adanya di tempat Yai (kakek)."
Zaim : "Kalau ada?"
Saya : "..... tapi gak ada kereta api di sini, nak...." (ini emaknya lagi mikir monoton)
Zaim : "Kalau ada?"
Saya : "..... adanya di tempat Yai...."
Zaim : "Kalau ada, Aim naik..."

Saya langsung merasa oon. Anak kecil aja bisa berpikir sederhana... dan benar. Lah, ini orang dewasa malah rigid dan kaku. Padahal anak hanya menginginkan jawaban yang bisa diterimanya dengan mudah. Jawaban yang positif tentu saja.

***

Di perjalanan yang lain lagi, kami sedang istirahat dan berhenti di salah satu rumah makan. Saya tidak begitu memperhatikan apa yang sedang dilakukan Ayah dan Zaim. Ayah sedang bersandar di sebuah tiang besi melintang semacam pagar. Lalu Zaim menendang pagar tersebut. Maksud hatinya ingin merobohkan pagar. Tentu saja tidak bisa, kokoh begitu. Kalau bisa? "Kalau bisa, Ayah jatuh...", katanya polos.

***

Hari beranjak malam dan kami masih berada dalam perjalanan. Catat ya, hari sudah malam, sekitar jam 19.30. Musik mengalun di dalam mobil.

Zaim : "Ayah, ini magrib?"
Ayah : "Iya, sudah magrib ya..." (ayahnya males ribet ini ceritanya, jadi jawab iya-iya aja)
Zaim : "Kok musiknya gak dimatikan?"
Ayah : ...tersadar, "Oh iya ya, Ayah salah, Ayah lupa ya, kalau magrib kan musiknya dimatikan. Makasih ya sudah diingatkan sama Aim..."

Kami sering sekali ketemu magrib di jalan pada Minggu sore ketika pulang dari rumah Mbah Uti (kalimat saya membuat seolah-olah magrib itu nama orang). Sepanjang jalan biasanya nyetel musik (harusnya nyetel ceramah ya...) dan ketika hampir magrib musik dimatikan. Kadang Zaim protes karena dia masih mau dengerin musik tronton-tronton (lagu Song for Children) favoritnya. Ayah selalu menjelaskan bahwa sudah mau magrib, musik harus dimatikan dan mulai dengerin ngaji menjelang adzan. Ternyata dia selalu ingat...

***

Ah, ini baru tentang satu anak, anak saya. Tentang satu anak ini saja tidak cukup kalimat untuk menceritakan pikiran sederhanya, yang mampu membuat orang dewasa seperti saya harus mengevaluasi diri sendiri, sudahkah saya berpikir secara sederhana dan tidak memperumit masalah?

Saya ingat lagi, ketika itu saya melarang anak saya membuang sampah di jalan melalui jendela mobil. Lain waktu saya sendiri yang melempar tisu ke luar jendela mobil dan anak saya melihatnya sambil bilang "Bunda kok buang ke luar?"

Atau saat anak saya minta susu terus menerus lalu kami katakan bahwa siang makan nasi kalau malam baru minum susu, kayak lagu pok ame ame. Ehh, pas malam dia bertanya, "Ini sudah malam?", "Iya ya, sudah gelap...", jawab saya. "Minum susu...", katanya lagi. Hehehe.... :)

***

Maha Suci Allah yang telah menyuguhkan kepolosan di depan mata, untuk diresapi lagi maknanya. Kenapa semakin bertambah usia kita, semakin kita kehilangan kejujuran dan kesederhanaan dalam berpikir. Kenapa semakin besar tubuh kita, semakin kita kehilangan konsistensi. Kenapa semakin luas interaksi kita, semakin rumit kita dalam menanggapi.

Saya hanya ingin berpikir sederhana, agar saya juga dapat memaknai semua hal yang sederhana dengan luas. Saya ingin belajar dari seorang anak kecil, yang bisa langsung tertawa setelah terjatuh, yang bisa melupakan setelah bertengkar, yang bisa terlihat biasa saja setelah menangis, yang bisa kembali mencium setelah bersalah. Siapa yang tak luluh coba?

Ya, sederhana saja, tak perlu pelik karena saya juga pasti akan berakhir dengan sederhana.

(maaf ya, judulnya gak nyambung, tadinya saya mau nulis tentang prinsip KISS, eh malah...) :)