Minggu, 27 Desember 2009

-64- Memori Si Kecil

"Neneknya Yori yang di sana kan rumahnya gede, Yuk. Ada kolam renangnya. Yori kan dikasih laptop dan PS gitu kalo Yori ke sana.", cucunya ibu kostku terus bercerita. Kalau kuhitung2, sudah sekitar lima belas menit pita suaranya tak jua berhenti bergetar.
"Terus mana laptopnya Yori, kenapa gak dibawa kesini aja?", aku menimpali.
"Gak boleh dibawa, cuma buat di sana aja. Pokoknya kalo Yori ke sana apa yang Yori mau pasti dikasih, minta dibeliin apa aja pasti boleh. Di sana juga ada pembantu.", dia bicara lagi tanpa terlihat berminat break barang sebentar saja.
"Iya?", aku mulai bosan.
"Iya, neneknya Yori kan yang punya bank yang gede itu loh, bla... bla..."

Di lain kesempatan Yori akan bertanya, "Ayuk pernah ke Bandung? Yori di Bandung makan strawberi sepuasnya, uwaknya Yori kan punya kebun stroberi, bla bla bla". Atau, "Ayuk, teman2 Yori yang cowok2 kan banyak yang naksir sama Yori, bla bla". Dan masih banyak obrolan lain yang terlalu rumit diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.

Huff, gila... rasanya aku tak ingin percaya bahwa ternyata aku kesal pada anak itu. Penting gak sih cerita A, B, C gak jelas kayak gitu, aku membatin. Pikiran tidak normalku ingin mengeluarkan sanggahan2 yang aku yakin dapat dengan mudah mematahkan semangatnya bercerita (yang tidak jarang membual). Tapi alhamdulillah Ya Allah, aku masih waras. Aku masih waras dan benar2 sadar bahwa yang sedang berada di hadapanku, menghalangi siaran berita yang sangat ingin aku tonton, hanyalah seorang anak kelas 4 SD.

###

Waktu itu aku sedang membereskan kamar, mengumpulkan barang2 dan mengelompokkan sesuai jenisnya. Hmm, ternyata selama ini aku tidak sadar bahwa koleksi alat tulisku sudah bejibun. Resiko bekerja dengan data. Oke, kubuat satu paket berisi pensil, pulpen, penghapus dan rautan. Rencananya paket itu akan kuberikan pada Yori. Lalu kubuka pintu kamar sambil memanggil, "Yooooo....". Uupsss, aku berhenti di pintu kamar tanpa menyelesaikan panggilanku.

Yori sedang bermain bekel bersama dua teman sebayanya yang juga masih familinya ibu kost dan kukenal dengan baik. Aku bengong dan bingung. Di sela2 kebengonganku, aku berpikir, apakah lebih baik tidak jadi saja paket itu kuberikan? Atau haruskah kuteruskan saja niatku untuk memberikan paket itu pada Yori? Trus, yang 2 anak lagi gimana? Ahh, bodo amat, mereka kan gak tinggal di sini, yang tinggal di sini kan cuma Yori, jadi wajar aja kalo aku cuma ngasih dia aja.

Namun tanpa sadar kebengongan yang hanya beberapa detik itu telah membawaku untuk menggali kembali memori belasan tahun yang lalu. Dulu, ketika tanteku bertandang ke rumah, aku melihat beliau memberikan sebuah buku telpon magnet kepada kakakku. Aku iri setengah mati. Kenapa cuma kakakku saja yang diberi dan aku enggak? Tante pilih kasih. Lain waktu aku mendapati uwak memberi sebuah gelang tembaga yang cantik kepada kakak perempuanku. Sumpah, aku benar2 iri. Kenapa aku gak diberi? Aku benci orang2 dewasa yang suka pilih kasih. Aku yang saat itu masih SD benar2 kesal. It's not fair. Mereka lebih sayang kakakku daripada aku.

Hmm, semua itu memang hanya pikiran anak2 pada masa pertumbuhannya. Dia tidak tahu bahwa mungkin tante hanya punya satu buku telpon untuk diberikan pada yang lebih memerlukannya. Dia tidak tahu bahwa sebenarnya uwak punya satu gelang lagi yang lupa dibawa. sekarang anak itu tidak lagi punya pikiran childish seperti itu, tapi aku sangat yakin seyakin2nya bahwa tante dan uwakku tidak pernah mengingat kejadian tersebut. Kejadian yang saat itu ternyata sanggup membuat seorang anak sakit hati. Kejadian yang masuk ke dalam memori masa kanak2nya, dan terus mengendap di sana sampai anak itu berusia 24 tahun seperti sekarang.

Begitulah wujud ciptaan Allah, memori si kecil dirancang sangat kuat. Itulah kenapa menghapal Al Quran paling baik dilakukan sedari kecil, karena hapalan2 di masa kecilnya itulah yang akan dibawa sang anak sampai dewasa. Pun setiap rekaman kejadian yang dialami pada masa itu.

Aku kembali ke kamar. Harus bisa kubuat dua paket alat tulis lagi, begitu batinku. Untunglah alat tulis alat tulis itu jumlahnya masih cukup. Setelah jumlah paket sudah pas, baru paket2 itu kuberikan pada ketiga anak yang sedang bermain bekel tadi. Aku bahagia. Alhamdulillah Ya Allah, tak Kau biarkan aku menyakiti hati anak2 itu dan membuat mereka mengingatku sebagai orang dewasa yang pilih kasih.

###

Suatu sore ibu kost teriak2 kencang menyuruh cucunya mandi. "Yoriiiiiii, buruan mandi, dah sore!!!". Yori menimpali tak kalah kencangnya, "Entar aja Yori mandinyaaa." Aku terganggu. Anak ini memang tingkat perlawanannya terhadap orangtua tergolong sangat tinggi. Lalu dengan kalem aku bilang, "Mandilah Yori, udah sore, sebentar lagi magrib loh." Dan dia tak pernah kehilangan jawaban, "Gpp, Yori mandinya ntar malem aja. Ayuk juga kan mandinya malem..." Yaksss $$*&$#$@**#

Ampuni aku Ya Allah. Belum juga aku menjadi ibu. Pantas saja belum kau izinkan aku menikah. Karena untuk dakwah dalam lingkup sekecil ini pun ternyata aku tak becus.

Selasa, 22 Desember 2009

-63- Mother's Day 09

Sejak TK sampai kelas 3 SD, perempuan itu sekolah di Santa Agnes. Kelas 4 pindah ke madrasah yang terletak di dekat rumah. Waktu itu beliau belum bisa baca Quran, kenal huruf arab pun tidak. Tapi lucunya, beliau ikut lomba baca Quran (ayat2 pendek) dan menang. Hehe, katanya itu cuma karena dah hapal suratnya aja. Jurinya gak liat sih bahwa yang dibaca dan yang ditunjuk itu sebenarnya beda :).

Ketika duduk di kelas 3 SMA, perempuan itu sudah mulai mengajar di madrasah. Setelah lulus SMA juga masih ngajar kurang lebih 1 tahun. Kalo denger ceritanya, waktu itu jadul banget. Cewe2 pake pakaian yang atasannya kebaya dan bawahannya kain. Trus kemana2 naik sepeda. Wah, persis seperti gambaran yg ada di film2 lawas.

Setelah 1 tahun lulus SMA, beliau lanjut ke PGSLP. Menjalani pendidikan sebentar lalu diangkat menjadi guru SMP golongan IIa dengan gaji Rp.16.000,-. Dan sampai sekarang beliau tetap menjadi guru SMP bidang studi Matematika dengan masa kerja 30 tahun, dah dapet satya lencana malahan. Wow, perempuan itu memang berjiwa pengajar, makanya hepi2 aja ngajar, gak minat pusing untuk naik jabatan, jadi kepala sekolah misalnya.

Perempuan itu, perempuan yang paling kusayang sepanjang hidupku. Perempuan yang ikut berjilbab setelah terlebih dahulu kakakku dan aku memutuskan untuk berjilbab. Perempuan yg penuh semangat membaca buku Fiqih Wanita yg kubawakan, buku yang aku sendiri belum mengkhatamkannya. Perempuan yang rajin shaum sunnah dan shalat malam untuk mendoakan anak2nya. Perempuan yg hampir berusia 52 tahun namun tetap penuh ghiroh. Perempuan sederhana yang gak neko2, berperasaan halus dan tak pernah menuntut. Perempuan yg cenderung lebih mudah dinego dan diajak kompromi. Perempuan yang tak pernah sekalipun kudengar nada suaranya meninggi ketika bicara dengan suaminya.

Perempuan itu, perempuan yang ketika menyapu lantai tak pernah melewatkan seinci pun kolong tempat tidur untuk disapu. Perempuan yang tdk terlalu bisa protes dan membantah. Perempuan yang selalu repot bikin kue lebaran untuk tamu anak2nya. Perempuan yang rajin meramaikan rumah dengan tilawahnya. Perempuan yang tdk mendorong2 suaminya untuk menjadi pejabat. Perempuan yang hampir setiap hari meneleponku, sekedar bertanya, "Dwi lagi ngapain, sudah makan belum, tadi kemana aja?".

Perempuan itu, perempuan yang menyetrika rok SD-ku dengan sangat teliti, sampai2 banyak yg heran, bagaimana mungkin rokku terplisket dengan sempurna. Perempuan yang repot memikirkan kebaya wisudaku padahal aku sendiri cuek bebek. Perempuan yang sibuk mendorongku pake tas cewek dan bukan ransel. Perempuan yang gak suka ngerumpi sebagaimana ibu2 pada umumnya. Perempuan yang gak pernah minta dibeliin ini itu kepada anak2nya. Perempuan yg lebih suka naik ojek cewek klo dari pasar. Perempuan yang selalu setia mendengarkan cerita2ku yang gak penting. Perempuan yang gak suka pake jilbab pendek. Perempuan yang ingin selalu kupeluk dan ingin selalu kulihat binar indah matanya. Perempuan yang aku tak rela ia tersakiti secuil apapun. She is my mom, my beloved one.

Sungguh, ribuan kata dan cerita tak kan mampu menggambarkan sempurnamu di mataku. Sungguh, rangkaian aksara tak bertepi tak kan pernah sanggup mengukur betapa besar cintaku padamu. Kuucapkan selamat hari ibu buat ibuk. You are my heaven, oh my dearest mother... ^_^

Selasa, 01 Desember 2009

-62- Kucing-Kucing Durhaka

Di rumahku sering berkeliaran makhluk2 kecil berkaki 4. Habitatnya di luar rumah, tapi ketika tuan rumah lengah, mereka akan beringsut mengamankan diri menuju ke dalam, mencari sudut2 untuk bersembunyi. Tak menemukan sudut, mereka mengintai lemari. Abnormal.

Ada 4 ekor kucing yang biasa kulihat di rumah. Yang paling tua adalah seekor induk kucing bernama Hinata. Warnanya abstrak campuran hitam, kuning dan sedikit putih. Tubuhnya kecil, tipe2 pengalah dan sepertinya selalu senang hati untuk dizolimi.

Tiga ekor kucing lainnya adalah kucing jantan yang durhaka. Yang paling tua bernama Item. Warnanya dominan putih dengan sedikit motif hitam. Item adalah anak generasi pertama dari Hinata. Dulu ibuku sempat protes kenapa kucing putih dinamai Item, tapi karena waktu itu masih ada seekor kucing lagi bernama Putih, akhirnya ibu acc deh, hehe. Oiya, meskipun Item adl anak dari Hinata, tampangnya sudah seperti kakek kucing, kumal dan tua. Kerjaannya berantem melulu sih. Dan Item ini adalah kucing durhaka yg pertama. Kebiasaannya merebut makanan induknya, meskipun makanan itu sudah berada di mulut Hinata. Ck ck ck, Hinata pun bersukacita dizolimi seperti itu.

Dua ekor kucing jantan berikutnya adalah anaknya Hinata generasi ketiga. Warnanya didominasi putih dengan sedikit aksen kuning kecoklatan. Nama mereka gak jelas. Meskipun dulu adikku menamai mereka Vini dan Vidi, toh sekarang aku lebih suka memanggil mereka Anak Hinata. Nah, 2 terakhir ini adalah yg paling durhaka. Selain suka menggeram dan merampas makanan induknya, kucing2 yg sudah remaja ini pun masih menyusu pada Hinata, padahal Hinata baru saja melahirkan lagi. Benar2 kucing durhaka, morotin gizi induknya. Gak malu sama badan yg nyaris 2x badan induknya. Tapi anehnya, Hinata lagi2 ikhlas dizolimi. Wah wah...

Sambil menunggu roda 4 yg kan membawaku menuju provinsi sebelah, selesai sudah cerita gak penting tentang makhluk berkaki 4 ini. Makhluk2 yg lucu meskipun penganut kebiasaan incest :)

*from my P1i

Minggu, 22 November 2009

-61- 24 Years Old So Far

Apa istimewanya sebuah tanggal lahir? Sering otakku menjawab, ahh... sekedar tanggal yang harus dicantumkan setiap kali aku mengisi biodata standar. Benarkah cuma itu Wee? Benarkah tak ada hal yang istimewa? Jika memang begitu adanya, maka sebenarnya apa yang sedang kau harapkan pada tanggal itu? Tanggal yang hanya berlangsung 24 jam saja dalam setahun.

Baiklah, kuakui aku sedang membohongi diri sendiri. Kenyataannya aku adalah perempuan. Makhluk yang mau tidak mau telah lebih banyak menggunakan rasa dalam mengukur sesuatu. Kenyataannya aku bahkan tak pernah lupa jika kalender sudah menunjukkan tanggal 22 November, tanggal yang menandakan bertambahnya nominal usiaku. Tanggal yang menyedihkan. Yang akan membuatku terluka jika tak ada ucapan Selamat Ulang Tahun yang sempat mampir.

Hari ini lagi2 nominal umurku bertambah. Dua puluh empat tahun. Rela atau tidak rela harus kuakui bahwa usiaku menunjukkan bahwa aku adalah seorang perempuan dewasa, bukan ABG atau anak kemarin sore yang masih bertahan dengan prinsip sok lugu (lucu lucu dungu :D). Bukan remaja yang ketawa ketiwi di jalanan menikmati hidup di bawah tiang finansial orang tua. Bukan mahasiswa yang hendak bermain cinta di sela2 jadwal kuliah. I am an adult woman and I should live with it’s properties.

Dua puluh empat tahun, bilangan yang terlihat mengerikan di mataku. Ibarat tengah menyusuri lorong panjang yang terbentang kegelapan di hadapannya. Aku tak bisa melihat ke depan, hanya ke belakang yang aku bisa. Aku bisa melihat apa saja yang telah aku lewati tanpa aku bisa kembali untuk memunguti benda2 yang berceceran. Aku berbalik, menoleh ke belakang, lalu aku terbelalak. Ternyata lorong yang telah kulalui itu sangat panjang dan berliku. Entah berapa banyak harta benda yang tak sempat kupunguti selama aku melewatinya. Lalu aku menggigil, ngeri membayangkan sebuah pertanyaan, "Sudah kau apakan saja 24 tahun hidupmu itu?"

Empat tahun yang lalu masih kujalani hari2 dengan status mahasiswa tercetak pada KTP-ku. Delapan tahun yang lalu seragam putih abu2 masih menghiasi hari2 indahku. Sepuluh tahun yang lalu aku masih mengenakan dasi silang sebagai pelengkap kostum putih biru itu. Tiga belas tahun yang lalu aku tergila2 dengan cerita Merpati Putih-nya Enyd Blyton. Dan lima belas tahun yang lalu setiap Kamis siang aku masih setia menunggu terdengarnya lonceng sepeda Bapak Tukang Majalah yang membawakan majalah Bobo kesayanganku, berebut dengan kakak dan adikku untuk menjadi orang pertama yang membaca majalah itu. Semuanya berlangsung bertahun2 yang lalu. Bertahun2 yang seolah2 baru berlangsung kemarin saja.

Tahun ini adalah tahun ke sembilan sejak pergantian milenium yang dulu gemanya sangat hebat. Dan di tahun ini usiaku bertambah, tepat di hari ini, Minggu 22 November 2009. Selamat Ulang Tahun, Wee. Jatah hidupmu telah berkurang sebanyak 24 tahun, namun engkau tak dapat menghitung sisanya. Tinggalkan saja kemarinmu dan beranjaklah menuju esokmu...

Minggu, 01 November 2009

-60- Packaging itu PERLU – Sebuah Coretan Masa Lalu

Adalah sebuah artikel yang diceritakan oleh seorang teman. Judulnya... entahlah aku sedikit lupa. Yang jelas, artikel itu ditulis oleh seorang ikhwan. Isinya menyatakan bahwa dari sekian banyak perbincangan dengan teman-temannya sesama ikhwan, sebagian besar (bahkan hampir keseluruhan) pengen punya istri cantik. Yah, intinya yang enak dipandang mata lah. Lalu, aku dan temanku tadi membahas isi artikel itu.

Adalah seorang temanku yang notabene akhwat. Kata orang-orang seh, "akhwat tingkat tinggi". Hmm, jujur saja aku gak suka dengan klasifikasi seperti itu. Si akhwat ini menurutku kadang-kadang terlalu negative thinking. Dia bilang, semua cowo, bahkan yang labelnya ikhwan sekalipun, kalo ngeliat cewe pasti phisically banget. Akhirnya, lumayan lama juga waktuku habis buat ngebahas hal ini dan ngedengerin argumen-argumennya.

Suatu waktu, iseng mengisi waktu sambil memenuhi hobi browsing, aku chat dengan seseorang yang katanya seh ikhwan. Waktu itu kita join di suatu room islam. Baru sebentar chat, eh... tuh cowo atau ikhwan atau apalah namanya, langsung nanya gini: "Kamu cantik dan seksi gak?" Aku agak sedikit bingung dan ilfil dengan pertanyaan to the point seperti itu. Lalu aku jawab: "Ngapain loe pake nanya2 gw cantik n seksi segala gak?" Dia menjawab: "Yah, aku pengen punya cewe cantik n seksi supaya gak selingkuh sampai setelah nikah nanti." GUBRAKSSSS

Dari ketiga skenario di atas, sekarang aku ingin membahas mengenai 'penampilan', atau kalo untuk barang tuh disebut... 'packaging' kali ye. Eh, skenario sama bahasannya nyambung gak ya!? Asumsikan saja IYA.

Kesimpulan sementara adalah... kebanyakan cewe beranggapan bahwa pada umumnya cowo menyukai cewe yang packagingnya bagus, dan sebagian besar cowo memang membuat anggapan para cewe tersebut benar. Nah, yang akan aku bahas adalah lebih ke sisi cewe (secara... gw kan cewe, uups!). But, ini cuma pendapatku, alias menurutku. Mungkin gak semua cewe setuju dengan pernyataan ini. Atau bahkan, cowo pun bisa jadi tidak setuju. Whatever it is lah... Okeh, let's start aja ya!

Menurutku, adalah wajar jikalau cowo menyukai cewe yang phisically bagus. Terdapat keindahan di mata cowo atas diri seorang cewe. Itulah kenapa cowo bisa berpasangan dengan cewe. Kalo gak gitu berarti homo donk! - Nah, keindahan itu ada yang tampak dan ada yang tidak. Bagi cewe, keindahan itu adalah aset. Aset yang tangible dan intangible. Lalu, mana yang akan lebih terlihat, yang tampak atau yang tidak tampak? Sepertinya kita semua sepakat bahwa yang tampaklah yang akan lebih terlihat.

Cinta pada pandangan pertama memang bukan basa-basi. Menurut survey, seseorang membuat penilaian fisik tentang orang lain pada 10 detik pertama. Empat menit selanjutnya, orang akan membuat penilaian tentang hal-hal lainnya. (detik.com)

Ketika cowo dan cewe pertama kali bertemu (baik sebelumnya sudah ataupun belum kenal), maka di 10 detik pertama sang cowo akan menilai cewe secara fisik, sedang cewe menilai cowo. Selanjutnya (gak harus 4 menit), baru si cowo membuat penilaian yang lain, entah itu dari cara bicara, cara tertawa, cara duduk, cara berjalan, ataupun bagaimana isi otak dari sang cewe. Cewe juga akan melakukan hal yang sama.

Sekarang aku akan sok menelaah:

10 DETIK PERTAMA

Cowo: "Wuih... keren banget ni cewe! Cantik, modis, tinggi, putih, busananya serasi lagi. Enggak ngebosenin banget deh diliat... Nilainya 8."
Cewe: "Hmm, cowo ini cakep juga. Bodi atletis, tampang kiyut, rapi lagi... Nilainya 8 deh."

SETELAH LEWAT 10 DETIK (cowo dan cewe ngobrol)

Faktanya: cewe tersebut gak terlalu ngenakin lah (sori, aku bingung diksinya) bagi si cowo. Trus, cowo itu bagi si cewe kok sok banget ya...
Cowo: "Agak-agak gak asik juga neh cewe. Cakep seh cakep... Nilainya jadi 7 ahh."
Cewe: "Ngebetein banget seh, neh cowo. Udah sok... sombong lagi. Biar cakep gimana juga. Nilainya jadi 5."

Hehe, meskipun telaahanku belum tentu benar 100%, tapi yang ingin aku tekankan adalah: berdasarkan banyak buku psikologi yang aku baca, serta berdasarkan pengamatan pribadi, pada umumnya memang cowo lebih menekankan hal-hal yang bersifat fisik dari cewe, sedangkan cewe lebih menekankan aspek lain seperti perhatian ataupun kasih sayang dari cowo daripada hanya sekedar fisik belaka. Lalu, pada umumnya cewe lebih setia daripada cowo. Bener gak ya?!

Bagi cewe, seorang cowo yang phisically bernilai 5, bisa menjadi 8 ketika dia menunjukkan kepribadian yang baik. Wuih, kalo udah kaya gini, si cewe bakal setia banget. Sedang bagi cowo, cewe yang phisically nilainya 5, meskipun kepribadiannya baik, tidak akan mendongkrak nilainya menjadi 8. Yah, paling banter juga jadi 7. Kalopun akhirnya si cowo jadi sama si cewe, godaan selingkuh di depan mata. Peace.... :)

Sebaliknya, cowo bernilai 8 secara fisik, akan langsung turun jadi 5 ketika dia dinilai brengsek. Cewe yang phisically 8, meskipun nyebelin, paling drastis juga turun sampai nilainya 6. Dalam kasus ini, paling-paling cowonya bakal cari cewe lain sebagai teman ngobrol. Gak sopaaaan!!

----

Kok, rasanya tulisan aku malah semakin ngawur ya...

Pada intinya, aku ingin mengatakan bahwa kalo cowo suka cewe cantik, itu manusiawi. Toh cewe juga suka kan liat cowo cakep. Kenapa cewe sering complain? Itu karena si cewe gak pede akan dirinya sendiri. Dia jadi sering negative thinking, takut gak ada cowo yang suka sama dia, atau si cowo bakal ngelirik cewe lain. Seperti cerita temanku di paragraf ke-2 di atas. Ujung-ujungnya dia ngomong gini... "Kalo semua ikhwan phisically gitu, kan kasian sama akhwat yang seperti aku..." &&**$%$

Saat itu, setengah idup aku meyakinkan dia bahwa gak semua cowo kaya gitu. Banyak juga cowo yang meskipun manusiawi, tapi juga realistis. Apalagi kalo dia ngerti banget agama. Cantik atau cakep bukan jaminan masuk surga. Di akhirat juga gak bakal ditanyain. Tidak semua cowo ngeliat cewe secara fisik, meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa hal itu juga perlu. Cowo juga akan punya prioritas dalam menentukan pilihan. Ketika dia lebih memprioritaskan fisik, maka dia harus menerima kalo seandainya si cewe bukan pendidik yang baik bagi anak-anaknya. Atau jika cowo lebih memilih berdasarkan agamanya, maka dia harus menerima jika seandainya si cewe tidak terlalu menarik secara fisik. Itulah hidup... Yang ngerasa cowo, bener gak seh yg gw tulis barusan?

Aku pernah baca di sebuah buku psikologi. Ketika cowo ngeliat cewe seksi, saat itu cowok tidak akan berpikir bagaimana kepribadian si cewe, apakah dia bisa masak, atau bisa jadi ibu yang baik atau tidak. Cowo hanya akan berpikir bahwa cewe itu seksi. Mungkin sangat menarik. Tapi, hanya itu dan tidak lebih dari itu. Namun. ketika cowo memutuskan untuk menikah, maka aspek-aspek lain pasti akan turut dipertimbangkan dan justru sangat memegang peranan penting.

So, di sini aku hanya ingin berpesan buat para cewe. Jangan pernah merasa dirimu jelek. PeDe aja lagi. Ketika kamu percaya diri, orang lain akan menilaimu positif. Ketika kamu menghargai dirimu sendiri, orang lain juga akan menghargaimu. Jika kamu merasa kurang secara fisik, tonjolkanlah kelebihanmu yang lain. Percayalah, aura yang keluar dari kepribadianmu, daya tariknya lebih dahsyat daripada kecantikan lahiriyahmu. Lagian kalo cewe ngerasa jelek, ambil aja sisi positifnya. Positive thinking aja bahwa cowo yang kelak menjadi pendamping hidupmu adalah cowo yang baik, yang tidak menilaimu secara fisik, yang mencintaimu apa adanya. Dan yakinlah bahwa cowo itu pasti ada dan telah dipersiapkan untukmu.

Eitt, bukan berarti fisik gak penting loh. Sekali lagi, PACKAGING ITU PERLU. Okelah yang namanya keadaan lahir semisal tinggi, kulit, hidung, mata, dll itu udah dari sononya dan gak bisa diubah. Tapi, yang di-highlight adalah PACKAGING. Bagaimana kita mengemasnya. Menurutku, penampilan yang kucel, kumal, tabrak lari, berantakan... pokoknya yang bikin tidak sedap dipandang... itu tidak bisa ditolerir, apalagi untuk dijadikan trademark. Orang pertama kali ketemu kita gak bakalan bisa liat, ibadahnya gimana, kepribadiannya gimana, tapi yang bakal diliat adalah penampilan alias penampakannya. Kalo kesan pertama sudah tidak menggoda, selanjutnya... gimana bisa tergoda :-). Kalo ngeliatnya aja udah ilfil, gimana bisa menumbuhkan cinta? (Ngomong opo.....)

Penampilan bukan yang utama, tapi yang pertama. Penampilan menjadi penting karena ia jadi yang pertama. Tapi akan menjadi tidak penting jikalau yang utama justru diabaikan.

Buat para cowo, setiap pilihan ada konsekuensinya. Aku tidak pernah ingin memangkas kesukaan kalian terhadap keindahan. Tapi hendaklah semuanya berjalan seimbang dan pada jalur yang semestinya.

Buat cewe dan cowo... pilihlah pasangan kalian seperti yang telah diajarkan dalam Al Quran. Lihatlah bagaimana agamanya, niscaya kebahagiaan itu akan datang. Kalaupun ternyata dapetnya yang cakep, anggap saja itu sebagai bonus, tapi harus terima konsekuensinya kalo pas lagi jalan bareng banyak yang lirik, hehehe. Yah, setiap hadiah kan ada pajaknya...

Kalau bisa dapet yang mendekati sempurna, kenapa enggak! Namun, yg mendekati sempurna itu akan layak kita dapatkan jika kita sendiri pun mendekati sempurna. Setuju??!

----

Wee,setelah ujian Multivariate Analysis,150507,11.30pm

Sabtu, 31 Oktober 2009

-59- "Vegetarian"

Begitu mendengar kata "vegetarian", yang pertama kali terlintas dalam pikiranku adalah tentang orang yang hanya mau makan sayur. Sayur itu identik dengan daun2an segar. Daun2an segar adalah daun2 muda yang tentu saja berwarna hijau. Nah, mungkin karena dilatari oleh hal tersebut lah seorang teman, sewaktu masih kuliah dulu, memberikan gelar "vegetarian" pada cewe2 yang suka pada cowo2 lebih muda alias daun muda alias brondong. (Nyambung gak nyambung, lanjuuut ^_^)

Apa ada yang salah dengan vegetarian? Tidak, tidak sama sekali. Namun entah kenapa, jika seorang perempuan lebih tua daripada pasangannya, pasti ada sugesti negatif dari orang2 sekitarnya. Mari kita lihat sedikit contoh...

Seorang teman menikah dengan cowo yang dua tahun lebih muda darinya. Awalnya lucu, si cowo yang kuliahnya bareng sama si cewe pedekate sama si cewe, bantuin ini itu yang berhubungan dengan tugas kuliahnya. Eh ternyata ada udang dibalik bakwan. Cowo naksir meskipun cewe cuek bebek. Tapi namanya cewe lama2 luluh juga. Mereka jadian, lalu komentar pun berdatangan. Banyak teman yang heran, kenapa si cewe mau sama si cowo padahal cowonya terkenal tengil dan umurnya jauh lebih muda (dua tahun termasuk jauh ga sih?). Namun anjing menggonggong kafilah tetap berlalu. Akhirnya mereka merid juga. Dan sekarang dengan 1 anak, tampang si cewe tetap terlihat imut dan muda, sementara si cowo sudah seperti bapak2 pada umumnya. Gak ada lagi yang ‘ngeh’ bahwa mereka adalah pasangan yang wanitanya lebih tua.

Contoh lain yang lebih hot adalah pasangan Yuni Shara dan Rafi Ahmad (hihi, gossiipp banget). Liat aja tuh di infotainment, heboh. Kesannya gimana gitu, seolah2 mereka tidak terlalu waras sehingga memilih pasangan yang jomplang seperti itu. Padahal kalau dipikir2 apa sih salahnya? Bukankah mereka gak mengganggu hidup siapapun. Jadi kenapa harus dipusingkan?!

Aku pernah dengar seorang psikolog (sori, lupa siapa dan kapan bilangnya) bilang bahwa pada umumnya jika ada pasangan yang umur wanitanya lebih tua, maka yang sebenarnya tertarik adalah prianya. Kok kalimatku ribet banget sih. Intinya gini, pada umumnya pria lah yang tertarik untuk mencari pasangan yang lebih tua. Katanya sih karena ingin mendapatkan figur ibu ataupun pasangan yang lebih dewasa agar bisa mengayomi. Aku sih gak terlalu setuju dan gak terlalu percaya. Apa memang iya ya? Hmm...

Kalau aku liat dari sudut pandang teman2 wanitaku pada umumnya, mereka jarang tertarik pada pria2 yang lebih muda. Bahkan aku sendiri, gak bisa dipungkiri kalo liat cowo yang lebih muda, meskipun hanya beberapa hari lebih muda, aku tersugesti bahwa ia adalah anak kecil, masih childish dan sama sekali gak dewasa. Mau jadi apa nanti rumah tangganya. Bukankah yang cenderung manja, childish, dan gak dewasa itu cewe, kalo cowonya gitu juga bisa diem2an sepanjang hari dunk. Hehe, ekstrem banget sih Wee... Tenang... cerita belum berakhir teman2.

Jadi intinya, menurutku gak ada masalah dengan pasangan yang cowonya lebih muda. Loh kok?! Yupp, it’s not a problem at all. Cewe2 banyak yang gak berminat karena mereka mencari sosok pria dewasa yang bisa mengayomi mereka, dan pada umumnya kedewasaan seseorang akan dilihat dari usianya. So, buat para pria yang tertarik pada wanita yang lebih tua, tunjukkan saja padanya bahwa meskipun masih muda, Anda layak dan bisa diandalkan. Percaya diri atau silakan mundur teratur ^^

(ditulis setelah membaca sebuah tulisan)

Kamis, 29 Oktober 2009

-58- Apa Aku Sudah Dewasa? - Sebuah Coretan Masa Lalu

Sinar matahari pagi masih memenuhi ruang luas di sekitarku. Hangat. Nyaman. Entah sudah berapa banyak menit yang kuhabiskan duduk di belakang rumah, memperhatikan Poci dan Poli bermain-main bahagia di teras belakang. Mereka saling mencakar, menggigit, bergulat ria, kadangkala ekornya berdiri tegak tanda waspada. Ceria sekali. Iseng kulempar bola... mereka berebut saling menendang, tapi tetap waspada memperhatikan objek bulat yang bisa memantul itu.

Kejadian tadi tertulis di memoriku belasan tahun yang lalu. Saat itu aku masih SD. Aku ingat yang aku pikirkan... betapa enaknya menjadi kucing. Hidupnya santai, senantiasa bermain-main, penuh kebahagiaan, tanpa harus sekolah, gak perlu ngerjain PeEr, gak harus dapet ranking 1, juga gak pernah dipaksa untuk tidur siang. Hanya bermain. Kalau sudah bosan bermain, mereka tidur sendiri, atau sekedar menjilati bulunya (baca: mandi). Senangnya...

Dulu, seorang aku yang masih SD senantiasa manyun bin sebal kalau setiap malam sebelum tidur disuruh sikat gigi. Males. Apalagi kalau sudah sangat ngantuk. Wuih... Aku berpikir, "Perasaan, Luna gak pernah sikat gigi degh. Tapi giginya selalu putih bersih, gak ada bolong-bolong, gak pernah juga sakit gigi." Lagi-lagi aku beranggapan, betapa enaknya jadi kucing.

Sekarang, belasan tahun kemudian, di 21 tahun usiaku, aku bisa menuliskan kejadian itu. Aku tersenyum lucu. Betapa polosnya pemikiran seorang anak SD. Ibarat air, ia belum terkena polusi. Dulu, kalau aku ngomong sama ibu "Luna aja gak pernah sikat gigi", mungkin ibu akan maklum. Yah, aku kan belum dewasa. Tapi, kalo sekarang aku ngomong gitu... maka aku sendiri pun akan merasa malu. Lagian, hari gini siapa lagi yang mau ngurusin, apa aku sudah sikat gigi atau belum.

Betapa panjangnya proses pendewasaan diri. Pendewasaan dalam segala hal. Dewasa secara fisik (baca: tumbuh besar dengan tinggi),dewasa dalam bersikap, serta dewasa dalam cara berpikir. Panjang dan rumit, sampai-sampai aku tak bisa merangkai kata-kata untuk membakukan definisi 'dewasa'.

Kadangkala, kita membutuhkan waktu untuk menyadari setiap nilai di balik suatu peristiwa. Bisa jadi beberapa menit kemudian, kita sudah sadar siluet apa di baliknya. Namun tidak jarang, kita butuh beberapa jam, hari, bulan, ataupun bertahun-tahun untuk sekedar menyadari, nilai apa, hikmah apa yang menempel pada kejadian yang menimpa kita. Saat itulah semuanya akan menjadi sangat berharga. Saat itulah, pahitnya kenangan atas suatu peristiwa, akan dikalahkan oleh manisnya hikmah dan proses pendewasaan diri yang kita dapatkan setelahnya.

Lalu aku, kembali melempar tanya, "Apa sekarang aku sudah bisa disebut dewasa?". Untuk menjawab pertanyaan itu, aku setuju dengan lagunya Britney Spears... I'm not a girl, not yet a woman

Ketika aku berhadapan dengan perbedaan, aku tidak pernah 'memaksa' orang lain untuk menyetujui pendapatku. Aku hargai pendapatnya, meskipun tidak setuju. Yang aku lakukan hanya mencoba menjelaskan apa yang menurutku 'salah' dari pendapatnya itu. Tapi sekali lagi, aku sangat tidak berhak 'memaksa'. Toh, belum tentu juga aku yang benar... Saat itu, aku merasa telah menjadi dewasa.

Ketika aku pulang ke rumah, tak ada lagi Poci ataupun Poli. Yang ada hanyalah Hikaru seorang yang kuajak bermain. Aku pandangi dia sambil tersenyum dan berpikir bahwa dialah yang selama ini menemani ibuku di saat anak-anaknya jauh dari rumah. Tapi aku tidak pernah berpikir, betapa enaknya menjadi Hikaru. Karena setiap pulang ke rumah, hatiku bahagia. Saat itu, aku juga merasa telah menjadi dewasa.

Ketika aku merasa tidak melakukan apapun, tetapi bosan menyergapku dari segala arah. Skripsi belum kelar... mau ngerjain program, entah mulai dari mana. Waktuku benar-benar tidak efektif. Detik demi detik terbuang menghasilkan banyak foto 'aneh' hasil kreasi kebosananku. Aku jalankan Age of Empire, aku ciptakan banyak musuh, aku biarkan sampai semuanya canggih, lalu dengan puasnya aku hancurkan satu per satu via cheating, hehe. Tetap bosan, aku beralih ke Feeding Frenzy, sampai mentok nilai tertinggi, aku kembali bosan. Semuanya... gak penting.

Saat itu aku merenungkan pemikiranku belasan tahun yang lalu. Aku tuangkan dalam tulisan. Di sini tidak ada Hikaru, tetapi aku ingat Luna. Aku menertawakan pendapatku dulu. Namun saat ini, ketika tahun sudah beranjak dengan nominal 2007, hati kecilku malah membenarkan pendapat yang aku sendiri justru menertawakannya...

O o... baru kusadari, bahwa ternyata sebenarnya aku masih belum dewasa.

Wee 2007